Search
Generic filters
Cari Kategori
🙏 Pilih semua
Quran
Hadits
Kamus
Podcast
Soal Agama
Artikel, Doa, dll.

Keluarga Anda ada yang belum mahir membaca Alquran? Ingin segera bisa? Klik di sini sekarang!

QS. Al Zalzalah (Kegoncangan) – surah 99 ayat 7 [QS. 99:7]

فَمَنۡ یَّعۡمَلۡ مِثۡقَالَ ذَرَّۃٍ خَیۡرًا یَّرَہٗ ؕ
Faman ya’mal mitsqaala dzarratin khairai(n) yarah(u);
Maka barangsiapa mengerjakan kebaikan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat (balasan)nya,
―QS. Al Zalzalah [99]: 7

Daftar isi

So whoever does an atom’s weight of good will see it,
― Chapter 99. Surah Al Zalzalah [verse 7]

فَمَن maka barang siapa

So whoever
يَعْمَلْ dia mengerjakan/beramal

does
مِثْقَالَ seberat

(equal to the) weight
ذَرَّةٍ zarrah/atom

(of) an atom
خَيْرًا kebaikan

good,
يَرَهُۥ dia melihatnya

will see it,

Tafsir

Alquran

Surah Al Zalzalah
99:7

Tafsir QS. Al Zalzalah (99) : 7. Oleh Kementrian Agama RI


Dalam ayat-ayat ini, Allah merincikan balasan amal masing-masing.
Barang siapa beramal baik, walaupun hanya seberat atom niscaya akan diterima balasannya, dan begitu pula yang beramal jahat walaupun hanya seberat atom akan merasakan balasannya.

Amal kebajikan orang-orang kafir tidak dapat menolong dan melepaskannya dari siksa karena kekafirannya.
Mereka akan tetap sengsara selama-lamanya di dalam neraka.

Tafsir QS. Al Zalzalah (99) : 7. Oleh Muhammad Quraish Shihab:


Kemudian, barangsiapa berbuat suatu kebaikan, walaupun hanya sebesar butir debu, ia akan melihatnya dalam lembaran catatan amal perbuatan (shahifah) dan mendapatkan balasannya.

Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:


Barangsiapa mengerjakan kebaikan walaupun seberat semut kecil, ia pasti akan melihat pahalanya di akhirat.
Barangsiapa mengerjakan keburukan walaupun seberat semut kecil, ia pasti akan melihat akibatnya di akhirat.

Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:



(Maka barang siapa yang mengerjakan seberat zarah) atau seberat semut yang paling kecil


(kebaikan, niscaya dia akan melihatnya) melihat pahalanya.

Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:


Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

Pada hari itu manusia keluar dari kuburnya dalam keadaan yang bermacam-macam.
(QS. Az-Zalzalah [99]: 6)

Mereka kembali dari mauqif hisab (tempat penghisaban) dalam keadaan bercerai-berai dan bermacam-macam, ada yang celaka dan ada yang berbahagia.
Para malaikat diperintahkan untuk membawa mereka yang berbahagia ke dalam surga, dan membawa mereka yang celaka ke dalam neraka.


Menurut Ibnu Juraij, mereka bercerai-berai terpisah-pisah dan tidak dapat berkumpul sama sekali.


As-Saddi mengatakan bahwa makna asytatan ialah bergolong-golongan.


Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

supaya diperlihatkan kepada mereka (balasan) pekerjaan mereka.
(QS. Az-Zalzalah [99]: 6)

Yaitu agar mereka mengetahui dan mendapat balasan dari apa yang telah mereka perbuat di dunia, yang baiknya dan yang buruknya.
Karena itulah disebutkan dalam firman berikutnya:

Barang siapa yang mengerjakan kebaikan seberat zarrah pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya Dan barang siapa yang mengerjakan kejahatan seberat zarrah pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula.
(QS. Az-Zalzalah [99]: 7-8)

Imam Bukhari mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ismail ibnu Abdullah, telah menceritakan kepadaku Malik, dari Zaid ibnu Aslam, dari Abu Saleh As-Samman, dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda:
Kuda itu bagi tiga macam orang lelaki;
yaitu bagi seseorang menghasilkan pahala, dan bagi seseorang yang lain menjadi penutup;
dan bagi seorang yang lainnya lagi menghasilkan dosa.
Adapun orang yang mendapatkan pahala dari kudanya ialah seorang lelaki yang menambatkan kudanya dijalan Allah, lalu kuda itu diikat di padang rumput atau di taman.
Maka apa yang dimakannya sepanjang tali penambatnya di padang rumput atau taman itu akan menjadi pahala kebaikan bagi pemiliknya.
Dan sekiranya kudanya itu memutuskan tali penambatnya, lalu berlari sejauh satu syaraf atau dua syaraf, maka semua jejaknya dan tahi kotoran yang dikeluarkannya menjadi pahala kebaikan bagi pemiliknya.
Dan sekiranya kudanya itu melalui sebuah sungai (mata air), lalu minum air darinya, padahal pemiliknya tidak menginginkan kudanya itu minum, maka hal itu akan menjadi pahala baginya.
Dan semuanya itu akan membawa pahala bagi lelaki yang memilikinya.
Dan seorang lelaki yang menambatkannya dengan niat untuk mencukupi kebutuhannya sendiri dan menjaga kehormatannya (agar tidak minta tumpangan dari orang lain), sedangkan ia tidak melupakan hak Allah yang ada pada leher kudanya dan tidak pula pada punggungnya, maka kudanya itu menjadi penutup baginya.
Dan seorang lelaki yang menambatkannya karena berbangga diri, pamer, dan ingin terkenal, maka kudanya itu akan membawa dosa baginya.
Lalu Rasulullah ﷺ Ditanya tentang keledai, maka beliau ﷺ menjawab bahwa Allah subhanahu wa ta’ala tidak menurunkan sesuatu pun mengenainya kecuali hanya ayat yang tegas lagi mencakup ini, yaitu firman-Nya:
Barang siapa yang mengerjakan kebaikan seberat zarrah pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya.
Dan barang siapa yang mengerjakan kejahatan seberat zarrah pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula.
(QS. Az-Zalzalah [99]: 7-8)

Imam Muslim meriwayatkannya melalui hadis Zaid ibnu Aslam dengan sanad yang sama.

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Yazid ibnu Harun, telah menceritakan kepada kami Jarir ibnu Hazim, telah menceritakan kepada kami Al-Hasan, dari Sa’sa’ah ibnu Mu’awiyah pamannya Farazdaq, bahwa ia datang menghadap kepada Nabi ﷺ, maka beliau ﷺ membacakan kepadanya firman Allah subhanahu wa ta’ala-:
Barang siapa yang mengerjakan kebaikan seberat zarrah pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya.
Dan barang siapa yang mengerjakan kejahatan seberat zarrah pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula.
(QS. Az-Zalzalah [99]: 7-8)
Lalu ia berkata,
"Sudah cukup bagiku ayat ini, aku tidak peduli bila tidak mendengarkan yang lainnya."

Hal yang sama telah diriwayatkan oleh Imam Nasai di dalam kitab tafsir, dari Ibrahim ibnu Muhammad ibnu Yunus Al-Mu-addib, dari ayahnya, dari Jarir ibnu Hazim, dari Al-Hasan Al-Basri yang mengatakan bahwa telah menceritakan kepada kami Sa’sa’ah pamannya Farazdaq, kemudian disebutkan hal yang semisal.

Di dalam kitab Sahih Bukhari disebutkan bahwa telah diriwayatkan dari Adiy secara marfu‘:

Hindarilah neraka, sekalipun dengan (menyedekahkan) separo buah kurma, dan sekalipun dengan kalimat yang baik.

Juga dari Adiy disebutkan di dalam kitab sahih:

Jangan sekali-kali kamu meremehkan sesuatu pun dari kebajikan, sekalipun dalam bentuk engkau menuangkan sebagian air dari timbamu ke wadah orang yang meminta minum, dan sekalipun dalam rupa engkau sambut saudaramu dengan wajah yang berseri-seri.

Di dalam hadis sahih disebutkan pula:

Hai kaum wanita yang beriman, jangan sekali-kali seseorang meremehkan tetangganya sekalipun dengan mengirimkan kikil kambing.

Di dalam hadis yang lain disebutkan:

Berikanlah kepada peminta-minta sekalipun berupa kikil yang dibakar.

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Abdullah Al-Ansari, telah menceritakan kepada kami Kasir ibnu Zaid, dari Al-Mutttalib ibnu Abdullah, dari Aisyah, bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda:
Hai Aisyah, lindungilah dirimu dari api neraka, sekalipun dengan menyedekahkan separo biji kurma, karena sesungguhnya separo biji kurma dapat mengisi perut orang yang lapar sebagaimana ia pun dapat mengisi perut orang yang kenyang.

Hadis diriwayatkan oleh Imam Ahmad secara munfarid.


Telah diriwayatkan pula dari Aisyah, bahwa ia pernah menyedekahkan sebiji buah anggur, lalu berkata,
"Berapa banyak sebiji buah anggur itu mengandung zarrah."

Dan Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abu Amir, telah menceritakan kepada kami Sa’id ibnu Muslim, bahwa ia pernah mendengar Amir ibnu Abdullah ibnuz Zubair mengatakan bahwa telah menceritakan kepadaku Auf ibnul Haris ibnut Tufail, bahwa Aisyah pernah menceritakan kepadanya bahwa
"Nabi ﷺ telah bersabda kepadanya:
Hai Aisyah, jauhilah dosa-dosa kecil yang remeh, karena sesungguhnya kelak Allah akan menuntutnya.

Imam Nasai dan Imam Ibnu Majah meriwayatkannya melalui hadis Sa’id ibnu Muslim ibnu Banik dengan sanad yang sama.

Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepadaku Abul Khattab Al-Hassani, telah menceritakan kepada kami Al-Haisam ibnur Rabi’, telah menceritakan kepada kami Sammak ibnu Atiyyah, dari Ayyub, dari Abu Qilabah, dari Anas yang telah menceritakan bahwa Abu Bakar sedang makan bersama Nabi ﷺ, lalu turunlah firman Allah subhanahu wa ta’ala Barang siapa yang mengerjakan kebaikan seberat zarrah pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya.
Dan barang siapa yang mengerjakan kejahatan seberat zarrah pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula.
(QS. Az-Zalzalah [99]: 7-8)
Maka Abu Bakar menghentikan tangannya dan bertanya,
"Wahai Rasulullah, apakah benar aku akan dibalas karena melakukan perbuatan buruk walaupun hanya sebesar zarrah?"
Rasulullah ﷺ menjawab:
Hai Abu Bakar, apa saja yang kamu alami di dunia ini yang tidak kamu senangi, maka itu disebabkan beban keburukan yang sekecil-kecilnya, tetapi Allah telah menyediakan bagimu pahala kebaikan yang sama hingga engkau menjumpainya kelak di hari kiamat.

Ibnu Abu Hatim meriwayatkan hadis ini dari ayahnya alias Abul Khattab dengan sanad yang sama.
Kemudian Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ibnu Basysyar, telah menceritakan kepada kami Abdul Wahhab, telah menceritakan kepada kami Ayyub yang mengatakan di dalam kitab Abu Qilabah, dari Abu Idris, bahwa Abu Bakar makan bersama Nabi ﷺ, selanjutnya disebutkan hal yang semisal dengan hadis di atas.
Ibnu Jarir telah meriwayatkannya pula dari Ya’qub, dari Ibnu Aliyyah, dari Ayyub, dari Abu Qilabah, bahwa Abu Bakar r.a. dan selanjutnya disebutkan hal yang sama.

Jalur lain.


Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepadaku Yunus ibnu Abdul A’la, telah menceritakan kepada kami Ibnu Wahb, telah menceritakan kepadaku Huyay ibnu Abdullah, dari Abu Abdur Rahman Al-Habli, dari Abdullah ibnu Amr ibnul As, bahwa ia telah mengatakan ketika diturunkan firman-Nya:
Apabila bumi diguncangkan dengan guncangannya (yang dahsyat).
(QS. Az-Zalzalah [99]: 1)
Saat ibnu Abu Bakar As-Siddiq sedang duduk, lalu ia menangis, maka Rasulullah ﷺ bertanya kepadanya,
"Apakah yang menyebabkan engkau menangis, hai Abu Bakar?"
Maka Abu Bakar menjawab,
"Surat inilah yang membuatku menangis."
Rasulullah ﷺ bersabda:
Seandainya kalian tidak pernah berbuat kesalahan dan dosa hingga Allah tidak perlu memberikan ampunan bagi kalian, tentulah Dia akan menciptakan umat yang berbuat kesalahan dan melakukan perbuatan dosa, lalu Dia memberikan ampunan bagi mereka.

Hadis lain.

Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abu Zar‘ah dan Ali ibnu Abdur Rahman ibnul Mugirah yang dikenal dengan julukan Allan Al-Masri, keduanya mengatakan bahwa telah menceritakan kepada kami Amr ibnu Khalid Al-Harrani, telah menceritakan kepada kami Ibnu Lahi’ah, telah menceritakan kepadaku Hisyam ibnu Sa’d, dari Zaid ibnu Aslam, dari Ata ibnu Yasar, dari Abu Sa’id Al-Khudri yang mengatakan bahwa ketika firman Allah diturunkan, yaitu:
Barang siapa yang mengerjakan kebaikan seberat zarrah pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya.
Dan barang siapa yang mengerjakan kejahatan seberat zarrah pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula.
(QS. Az-Zalzalah [99]: 7-8)
Maka aku bertanya,
"Wahai Rasulullah, apakah sungguh aku akan melihat semua amal perbuatanku?’"
Rasulullah ﷺ menjawab,
"Ya."
Aku bertanya lagi,
"Semua yang besar-besar."
Rasulullah ﷺ menjawab,
"Ya."
Aku bertanya lagi,
"Dan semua yang kecil-kecil?"
Rasulullah ﷺ menjawab,
"Ya."
Aku berkata,
"Aduhai, celakalah diriku."
Rasulullah ﷺ bersabda:
Bergembiralah, hai Abu Sa’id, karena sesungguhnya kebaikan itu diberi imbalan sepuluh kali lipatnya —yakni sampai tujuh ratus kali lipat— dan Allah melipatgandakan (pahala-Nya) bagi siapa yang dikehendaki-Nya, sedangkan keburukan itu hanya dibalas dengan hal yang semisal, atau Allah memaafkan;
tiada seorang pun dari kalian yang selamat karena amal perbuatannya.
Aku bertanya,
"Dan juga termasuk engkau, wahai Rasulullah?"
Rasulullah ﷺ menjawab:
Dan tidakpula diriku, terkecuali bila Allah melimpahkan rahmat kepadaku dari sisi-Nya.

Abu Zar‘ah mengatakan bahwa tiada seorang pun yang meriwayatkan ini selain dari Ibnu Lahi’ah.

Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abu Zar‘ah, telah menceritakan kepada kami Yahya ibnu Abdullah ibnu Bukair, telah menceritakan kepadaku Ibnu Lahi’ah, telah menceritakan kepadaku Ata ibnu Dinar, dari Sa’id ibnu Jubair sehubungan dengan makna firman Allah subhanahu wa ta’ala:
Barang siapa yang mengerjakan kebaikan seberat zarrah pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya.
Dan barang siapa yang mengerjakan kejahatan seberat zarrah pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula.
(QS. Az-Zalzalah [99]: 7-8)
Demikian itu ketika diturunkan ayat berikut, yaitu firman-Nya:
Dan mereka memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim, dan orang yang ditawan.
(Al-Insan:
8)
Maka kaum muslim berpandangan bahwa mereka tidak akan mendapat imbalan pahala dari sesuatu yang sedikit jumlahnya bila mereka menyedekahkannya.
Maka bilamana datang kepada pintu rumah-rumah mereka orang miskin yang meminta-minta, mereka merasa keberatan untuk memberinya sebiji buah kurma atau sepotong roti atau sesuap makanan dan lain sebagainya yang tiada artinya, pada akhirnya mereka menolak orang miskin itu seraya berkata dalam diri mereka,
"Ini bukan berarti apa-apa, sesungguhnya kami hanya diberi pahala karena menyedekahkan apa yang kami sukai."

Sedangkan kaum muslim lainnya ada yang mempunyai pemandangan bahwa diri mereka tidak dicela karena melakukan perbuatan dosa kecil, seperti dusta, memandang wanita lain, mengumpat, dan lain sebagainya yang serupa.
Mereka menganggap bahwa Allah subhanahu wa ta’ala hanya mengancam dengan neraka bagi para pelaku dosa besar.

Maka Allah memacu semangat mereka untuk mengerjakan kebaikan sekalipun sedikit, karena sesungguhnya amal kebaikan yang sedikit itu lama-kelamaan akan menjadi banyak.
Sekaligus Allah memperingatkan mereka terhadap perbuatan jahat walaupun kecil, karena sesungguhnya kejahatan yang sedikit itu lama-kelamaan akan menjadi besar.
Oleh karena itulah maka turunlah firman Allah subhanahu wa ta’ala:
Barang siapa yang mengerjakan barang seberat zarrah.
(QS. Az-Zalzalah [99]: 7)
Zarrah artinya semut yang terkecil, yakni seberat semut kecil.
dari kebaikan, niscaya dia akan melihat (balasan)nya.
(QS. Az-Zalzalah [99]:8)
Yakni dalam buku catatan amal perbuatannya, dan dimudahkan baginya dalam hal tersebut.


Disebutkan bahwa dicatatkan bagi setiap orang yang bertakwa dan orang yang durhaka untuk setiap keburukan satu amal keburukan, dan untuk setiap amal kebaikan dicatat sepuluh amal kebaikan yang semisal.

Apabila hari kiamat tiba, maka Allah memperlipatgandakan kebaikan-kebaikan orang-orang mukmin, untuk setiap kebaikannya dilipatgandakan menjadi sepuluh kali lipat dan dihapuskan darinya karena tiap satu kebaikan sebanyak sepuluh keburukannya.
Maka barang siapa yang kebaikan-kebaikannya melebihi keburukan-keburukannya, walaupun hanya beda seberat zarrah, niscaya ia masuk surga.

Imam Ahmad mengatakan bahwa telah menceritakan kepada kami Sulaiman ibnu Daid, telah menceritakan kepada karhi Imran, dari Qatadah, dari Abdu Rabbihi, dari Abu Iyad, dari Abdullah ibnu Mas’ud yang mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda:
Hindarilah oleh kalian dosa-dosa kecil, karena sesungguhnya dosa-dosa kecil itu bila menumpuk pada diri seseorang, niscaya akan membinasakannya.

Dan sesungguhnya Rasulullah ﷺ telah membuat suatu perumpamaan bagi dosa-dosa kecil yang terkumpulkan ini dengan suatu kaum yang turun beristirahat di suatu tanah lapang, lalu para juru masak mereka datang, dan masing-masing orang dari mereka pergi dan datang dengan membawa sepotong kayu bakar, hingga pada akhirnya terkumpulkanlah setumpuk kayu yang banyak jumlahnya.
Lalu mereka menyalakan api dan membuat masak semua makanan yang dilemparkan ke dalamnya

Sebab-Sebab Diturunkannya Surah Al Zalzalah (99) Ayat 7

Ibnu Abu Hatim meriwayatkan dari Said bin Jubair yang berkata,
“Tatkala turun ayat, ‘Dan mereka memberikan makanan yang disukainya…’ kaum muslimin berfikiran bahwa mereka tidak akan diberi pahala jika melakukan kebaikan yang kecil, sementara yang lain berpandangan bahwa mereka tidak akan mendapatkan siksaan jika melakukan dosa-dosa kecil, seperti berbohong, melihat kepada yang haram, menggunjing dan hal-hal sejenisnya.

Mereka antara lain berkata,
‘Sesungguhnya Allah hanya menyiksa orang-orang yang melakukan dosa besar.’ Allah menurunkan ayat, ‘Maka barang siapa yang mengerjakan kebaikan seberat zarra, niscaya dia akan melihat (balasan)nya.
Dan barang siapa mengerjakan kejahatan seberat zarrah, nizcaya dia akan melihat (balasan)nya.’ ”

Sumber : Asbabun Nuzul – Jalaluddin As-Suyuthi.

Hadits Shahih Yang Berhubungan Dengan Surah Al Zalzalah (99) ayat 7

Telah bercerita kepada kami Abdullah bin Maslamah dari Malik dari Zaid bin Aslam dari Abu Shalih As-Samman dari Abu Hurairah ra. bahwasanya Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:
Kuda itu ada tiga jenis. Yang pertama kuda yang bagi seorang pemiliknya menjadi pahala, yang kedua menjadi sarana untuk memenuhi kebutuhan dan yang ketiga mendatangkan dosa. Adapun orang yang mendapatkan pahala adalah orang yang menambat kudanya untuk kepentingan fii sabilillah dimana dia mengikatnya di ladang hijau penuh rerumputan atau taman. Apa saja yang didapatkan kuda itu selama berada dalam pengembalaan di ladang penuh rerumputan hijau atau taman maka semua akan menjadi kebaikan bagi orang itu. Seandainya talinya putus lalu kuda itu berlari sekali atau dua kali maka jejak-jejak dan kotorannya akan menjadi kebaikan bagi pemiliknya. Dan seandainya kuda itu melewati sungai lalu minum darinya sedangkan dia tidak hendak memberinya minum maka semua itu baginya adalah kebaikan. Yang kedua adalah seseorang yang menambatkan kudanya dengan kesombongan, pamer dan permusuhan terhadap Kaum Muslimin maka baginya adalah dosa disebabkan perbuatannya itu. Dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ditanya tentang keledai, maka Beliau menjawab:
Tidak ada wahyu yang diturunkan kepadaku tentang itu kecuali ayat 7 – 8 Surah Al Zalzalah, yang mencakup banyak faedah (yang artinya): (Maka barangsiapa yang beramal kebaikan seberat biji sawi maka dia akan melihat balasannya dan barang siapa yang beramal keburukan seberat biji sawi maka dia akan melihat balasannya.

Shahih Bukhari, Kitab Jihad dan Penjelajahan – Nomor Hadits: 2648

Unsur Pokok Surah Al Zalzalah (الزلزلة‎‎)

Surat ini terdiri atas 8 ayat, termasuk golongan surat-surat Madaniyyah diturunkan sesudah surat An Nisaa‘.

Nama "Az Zalzalah" diambil dari kata "Zilzaal" yang terdapat pada ayat pertama surat ini yang berarti goncangan.

Keimanan:

▪ Kegoncangan bumi yang amat hebat pada hari kiamat dan kebingungan manusia ketika itu.
▪ Manusia pada hari kiamat itu dikumpulkan untuk dihisab segala amal perbuatan mereka.

Ayat-ayat dalam Surah Al Zalzalah (8 ayat)

1 2 3 4 5 6 7 8

Lihat surah lainnya

Audio

QS. Al-Zalzalah (99) : 1-8 ⊸ Misyari Rasyid Alafasy
Ayat 1 sampai 8 + Terjemahan Indonesia

QS. Al-Zalzalah (99) : 1-8 ⊸ Nabil ar-Rifa’i
Ayat 1 sampai 8

Gambar Kutipan Ayat

Surah Al Zalzalah ayat 7 - Gambar 1 Surah Al Zalzalah ayat 7 - Gambar 2
Statistik QS. 99:7
  • Rating RisalahMuslim
4.4

Ayat ini terdapat dalam surah Al Zalzalah.

Surah Az-Zalzalah (bahasa Arab:الزلزلة) adalah surat ke-99 dalam Alquran.
Surat ini terdiri atas 8 ayat dan tergolong pada surat Madaniyah.
Surat ini diturunkan setelah surah An-Nisa’.
Nama Az-Zalzalah diambil dari kata Zilzaal yang berarti ‘goncangan’ dan terdapat pada ayat pertama surat ini.

Nomor Surah 99
Nama Surah Al Zalzalah
Arab الزلزلة‎‎
Arti Kegoncangan
Nama lain Al-Zilzal
Tempat Turun Madinah
Urutan Wahyu 93
Juz Juz 30
Jumlah ruku’ 1 ruku’
Jumlah ayat 8
Jumlah kata 36
Jumlah huruf 158
Surah sebelumnya Surah Al-Bayyinah
Surah selanjutnya Surah Al-‘Adiyat
Sending
User Review
4.2 (20 suara)
Bagikan ke FB
Bagikan ke TW
Bagikan ke WA
Tags:

99:7, 99 7, 99-7, Surah Al Zalzalah 7, Tafsir surat AlZalzalah 7, Quran Al-Zalzalah 7, Surah Al Zalzalah ayat 7

Keluarga Anda ada yang belum mahir membaca Alquran? Ingin segera bisa?
Klik di sini sekarang!

Video


Panggil Video Lainnya

Kandungan Surah Al Zalzalah

۞ QS. 99:1 • Kedahsyatan hari kiamat • Sifat hari penghitungan

۞ QS. 99:2 • Manusia dibangkitkan dari kubur • Sifat hari penghitungan

۞ QS. 99:3 • Kedahsyatan hari kiamat • Sifat hari penghitungan

۞ QS. 99:4 • Kedahsyatan hari kiamat • Sifat hari penghitungan

۞ QS. 99:5 • Kepatuhan segala sesuatu pada Allah Ta’alaAr Rabb (Tuhan) • Kedahsyatan hari kiamat • Sifat hari penghitungan •

۞ QS. 99:6 • Manusia dibangkitkan dari kubur • Penghimpunan manusia dan keadaan mereka • Sifat hari penghitungan • Menghitung amal kebaikan •

۞ QS. 99:7 • Penimbangan amal perbuatan • Keadilan Allah dalam menghakimi • Amal shaleh sebagai pintu kebaikan • Kebutuhan muslim terhadap amal saleh • Larangan menghina perbuatan baik

۞ QS. 99:8 • Penimbangan amal perbuatan • Keadilan Allah dalam menghakimi • Menghitung amal kebaikan

Ayat Pilihan

Orang yang lampaui batas & lebih utamakan kehidupan dunia, maka sungguh nerakalah tempat tinggalnya. Dan yang takut kepada kebesaran Tuhannya & menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sesungguhnya surgalah tempat tinggalnya
QS. An-Nazi’at [79]: 37-41

Jangan mengolok-olok, boleh jadi mereka lebih baik di sisi Allah.
Jangan mencela yang lain, dan jangan memanggil dengan panggilan yang tak disuka.
Seburuk-buruk panggilan ialah bila mereka dipanggil dengan kata-kata fasik setelah mereka beriman.
QS. Al-Hujurat [49]: 11

Demi waktu Matahari sepenggalahan naik,
dan demi malam apabila telah sunyi,
Tuhanmu tiada meninggalkan kamu & tiada benci kepadamu,
Dan sesungguhnya hari kemudian itu lebih baik bagimu daripada yang sekarang.
QS. Ad-Duha [93]: 1-4

Hadits Shahih

Podcast

Doa

Soal & Pertanyaan

Hukum yang berkaitan dengan perilaku moral manusia dalam kehidupan disebut hukum ...

Benar! Kurang tepat!

Penjelasan:
Hukum Khuluqiyah ini adalah hukum yang berkenaan dengan akhlak juga budi pekerti manusia. Hukum ini mencakup semua sifat-sifat terpuji yang wajib ada dalam diri manusia sebagai hamba Allah Subhanahu Wa Ta`ala terkait hakikat dirinya sebagai makhluk sosial.

Adapun cakupan hukuk khuluqiyah ini seperti moral, adab dan sopan santun, budi pekerti dan perilaku-perilaku yang jauh dari unsur tercela lainnya.

Hukum Khuluqiyah ini adalah salah satu jenis hukum dalam Alquran, adapun jenis hukum lainnya adalah Itiqodiyah dan Amaliyah.

Hadits adalah Mubayyin untuk Alquran. Arti dari Mubayyin adalah ..

Benar! Kurang tepat!

Penjelasan:
Arti mubayyin itu menjelaskan, mencerahkan, menerangkan, menjernihkan.

Alquran adalah keterangan yang jelas untuk semua manusia, dan menjadi petunjuk serta pelajaran bagi orang-orang yang bertakwa. Penjelasan tersebut terdapat dalam surah ...

Benar! Kurang tepat!

Penjelasan:
u06c1u0670u0630u064eu0627 u0628u064eu06ccu064eu0627u0646u064c u0644u0651u0650u0644u0646u0651u064eu0627u0633u0650 u0648u064e u06c1u064fu062fu064bu06cc u0648u0651u064e u0645u064eu0648u06e1u0639u0650u0638u064eu06c3u064c u0644u0651u0650u0644u06e1u0645u064fu062au0651u064eu0642u0650u06ccu06e1u0646u064e

Inilah (Alquran) suatu keterangan yang jelas untuk semua manusia, dan menjadi petunjuk serta pelajaran bagi orang-orang yang bertakwa.
--QS. 3:138

+

Array

Hukum yang mengatur hubungan manusia dengan Tuhan secara lahiriah, manusia dengan sesama manusia dan orang-orang dengan lingkungannya disebut hukum ...

Benar! Kurang tepat!

Penjelasan:
Hukum Amaliah, yakni hukum yang mengatur secara lahiriah hubungan manusia dengan Allah Subhanahu Wa Ta`ala, antara sesama manusia, serta manusia dengan lingkungannya. Ilmu yang mempelajarinya disebut ilmu fiqih.

Sumber hukum tertinggi dalam Islam adalah ..

Benar! Kurang tepat!

Pendidikan Agama Islam #7
Ingatan kamu cukup bagus untuk menjawab soal-soal ujian sekolah ini.

Pendidikan Agama Islam #7 1

Mantab!! Pertahankan yaa..
Jawaban kamu masih ada yang salah tuh.

Pendidikan Agama Islam #7 2

Belajar lagi yaa...

Bagikan Prestasimu:

Soal Lainnya

Pendidikan Agama Islam #1

Arti fana adalah … Tuhan memiliki sifat Al Karim, yang berarti bahwa Allah Subhanahu Wa Ta`ala merupakan zat Yang ..Allah memiliki sifat Al Kariim yang tercantum dalam Alquran surah … Tuhan memiliki sifat Al Matiin, yang berarti bahwa Allah Subhanahu Wa Ta`ala adalah zat Yang … Dalam Asmaul Husna, Allah memiliki sifat Al Matiin yang tercantum dalam Alquran surah …

Pendidikan Agama Islam #5

Berikut ini, yang tidak mengandung moral terpuji, adalah … Orang yang jujur akan senantiasa mengatakan … Lawan kata dari jujur ??adalah … Orang yang suka berbohong adalah orang … Bekerja tepat waktu adalah salah satu ciri orang yang …

Pendidikan Agama Islam #7

Alquran adalah keterangan yang jelas untuk semua manusia, dan menjadi petunjuk serta pelajaran bagi orang-orang yang bertakwa. Penjelasan tersebut terdapat dalam surah … Hukum yang mengatur hubungan manusia dengan Tuhan secara lahiriah, manusia dengan sesama manusia dan orang-orang dengan lingkungannya disebut hukum … Hukum yang berkaitan dengan perilaku moral manusia dalam kehidupan disebut hukum … Sumber hukum tertinggi dalam Islam adalah ..Hadits adalah Mubayyin untuk Alquran. Arti dari Mubayyin adalah ..

Kamus

taklid

Apa itu taklid? tak.lid keyakinan atau kepercayaan kepada suatu paham (pendapat) ahli hukum yang sudah-sudah tanpa mengetahui dasar atau alasannya; peniruan ۞ Variasi nama: taqlid … • taqli...

Khunais bin Hudhaifa

Siapa itu Khunais bin Hudhaifa? Khunais bin Hudhaifa (dalam bahasa Arab: خنيس ابن حذيفة‎ adalah putra Hudhafa ibn Qays dari kabilah Sahm, bagian Quraisy sebuah suku di Mekkah.Ibunya, Da&...

ibadah sunah

Apa itu ibadah sunah? ibadah yang tidak diwajibkan, jika dikerjakan mendapat pahala dan jika tidak dikerjakan tidak berdosa, seperti puasa pada hari Senin dan Kamis … •