Keluarga Anda ada yang belum mahir membaca Alquran? Ingin segera bisa? Klik di sini sekarang!

QS. Al Waaqi’ah (Hari Kiamat) – surah 56 ayat 75 [QS. 56:75]

فَلَاۤ اُقۡسِمُ بِمَوٰقِعِ النُّجُوۡمِ
Falaa uqsimu bimawaaqi’innujuum(i);
Lalu Aku bersumpah dengan tempat beredarnya bintang-bintang.
―QS. Al Waaqi’ah [56]: 75

Then I swear by the setting of the stars,
― Chapter 56. Surah Al Waaqi’ah [verse 75]

فَلَآ maka tidak

But nay,
أُقْسِمُ aku bersumpah

I swear
بِمَوَٰقِعِ dengan tempat turun

by setting
ٱلنُّجُومِ bintang-bintang

(of) the stars,

Tafsir

Alquran

Surah Al Waaqi’ah
56:75

Tafsir QS. Al Waaqi’ah (56) : 75. Oleh Kementrian Agama RI


Sebagian ahli tafsir menjelaskan ayat ini, bahwa Allah bersumpah dengan masa turunnya bagian-bagian Alquran guna menunjukkan betapa pentingnya hal tersebut.
Alquran diturunkan sekaligus dari Lauh Mahfudz ke langit paling dekat pada malam Lailatul Qadar (malam yang sangat mulia).

Kemudian, diturunkan lagi secara berangsur-angsur menurut keperluannya dari langit dunia kepada Nabi Muhammad ﷺ hingga selesai seluruhnya dalam masa 22 tahun 2 bulan 22 hari.
Masa turunnya bagian-bagian Alquran tersebut mengandung arti penting, kebijaksanaan turunnya sebagian-sebagian yaitu tiap surah atau tiap ayat antara lain ialah agar tiap surah atau ayat itu dapat dimengerti secara lebih luas dan lebih mendalam.

Allah menegaskan bahwa sumpah dalam bagian-bagian Alquran tersebut sangat besar artinya karena hal itu mengandung isyarat terhadap agungnya kekuasaan Allah dan kesempurnaan kebijaksanaan-Nya dan keluasan rahmat-Nya dan tidak menyianyiakan hamba-Nya.
Dalam ayat 75, Allah bersumpah untuk meyakinkan terhadap hamba-hamba-Nya dengan sesuatu yang menggambarkan kemahakuasaan-Nya terhadap alam jagat raya ini, yakni suatu
"tempat beredarnya bintang-bintang.
"
Andaikan ketika manusia mampu melihat bagaimana teraturnya bintang-bintang yang selalu bergerak pada orbitnya masing-masing dengan aman dan serasi, tentulah mereka akan berpendapat lain.
Dengan semakin berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi barulah diketahui betapa banyaknya kumpulan bintang-bintang di angkasa raya yang tidak terhitung jumlahnya.

Para pakar astrofisika dan astronomi menjelaskan bahwa mata telanjang tidak akan mungkin mampu melihat isi jagat yang luas tidak berbatas.
Sistem Tata Surya yang terdiri dari jutaan bintang bahkan mungkin lebih (termasuk di dalamnya bumi kita ini) hanyalah menjadi bagian kecil dari Galaksi Bimasakti yang memuat lebih dari 100 milyar bintang.

Bimasakti pun itu hanyalah satu dari 500 milyar lebih galaksi dalam jagat raya yang diketahui, subhanallah! Semua bintang-bintang itu beredar pada orbitnya, termasuk matahari kita.
Sebagaimana disebutkan dalam firman Allah:


وَالشَّمْسُ تَجْرِيْ لِمُسْتَقَرٍّ لَّهَا ذٰلِكَ تَقْدِيْرُ الْعَزِيْزِ الْعَلِيْمِ

Dan matahari beredar di tempat peredarannya.

Demikianlah ketetapan yang Mahaperkasa dan Maha Mengetahui. (Yasin [36]: 38)


Berdasarkan pengamatan para pakar, matahari bergerak dalam kecepatan yang tinggi kira-kira 720, 000 km per jam mengarah ke bintang Vega dalam satu orbit tertentu dalam sistem Solar Apex.
Bersama-sama dengan matahari, dan semua planet dan satelit yang berada dalam lingkungan sistem Tata Surya (sistem solar) juga turut bergerak pada jarak yang sama.
Semua benda-benda langit ini bergerak menempati orbit-orbit yang telah dihisab (diperhitungkan).
Untuk berapa juta tahun, semuanya ‘berenang’ melintasi orbit masing-masing dalam keseimbangan dan susunan yang sempurna bersama-sama dengan yang lain.
Orbit-orbit dalam alam semesta juga dimiliki oleh galaksi-galaksi yang bergerak pada kecepatan yang besar dalam orbit-orbit yang telah ditetapkan.
Ketika bergerak, tidak ada satupun benda-benda langit ini yang memotong orbit atau bertabrakan dengan benda langit lainnya.
Bagaimanapun, hal ini secara jelas diterangkan kepada manusia dalam Alquran yang diwahyukan ketika itu, karena Alquran sebenarnya adalah kalam dari Sang Penguasa, Yang Maha Menjaga dan Memelihara Kestabilan Alam Semesta ini.

Tafsir QS. Al Waaqi’ah (56) : 75. Oleh Muhammad Quraish Shihab:


Aku benar-benar bersumpah demi tempat-tempat tenggelamnya bintang-bintang di penghujung malam, yaitu waktu-waktu untuk salat tahajud dan istigfar.
Sumpah itu–bila kalian pikirkan kandungannya–sangat penting dan mempunyai pengaruh yang amat dalam.
[1]


[1] Dua ayat ini menjelaskan betapa pentingnya sumpah yang diucapkan itu.
Bintang merupakan benda langit yang bersinar sendiri.


Di antara bintang-bintang itu, yang paling dekat dengan planet kita adalah matahari dengan jarak ± 500 tahun cahaya.
Sedang bintang yang terdekat berikutnya berjarak ± 4 tahun cahaya.


Energi yang kita dapatkan dari matahari merupakan komponen utama kehidupan.
Seandainya jarak antara matahari dan bumi lebih jauh atau lebih dekat dari yang ada sekarang, kehidupan ini akan menjadi demikian sulit dan bahkan hampir mustahil.


Di samping itu, besar-kecilnya bintang-bintang itu pun beragam pula.
Ada yang berukuran besar dan ada pula yang berukuran lebih kecil.


Di antara yang berukuran besar itu adalah matahari yang jaraknya dengan bumi seperti yang ada sekarang.
Selain itu, terdapat pula gugusan bintang yang disebut tandan, beredar di luar angkasa dan sesekali melintasi galaksi Bimasakti.


Pada saat melintasi Bimasakti itu, apabila secara kebetulan gugusan itu menabrak tata surya kita, maka akan terjadi kehancuran.
Begitu juga bila terjadi, umpamanya, suatu bintang mendekati matahari, maka akan merusak keseimbangan dan akhirnya membawa kepada kehancuran juga.
Dari itu, tanda-tanda kebesaran Allah yang dapat dijadikan pelajaran tampak pada alam semesta yang Dia ciptakan dan Dia atur.

Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:


Allah bersumpah dengan tempat beredarnya bintang-bintang di langit.
Sesungguhnya, sumpah itu adalah sumpah yang besar kadarnya kalau kamu mengetahui.

Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:



(Maka Aku bersumpah) huruf Laa di sini adalah Zaidah


(dengan nama tempat-tempat terbenamnya bintang-bintang) tempat-tempat bintang-bintang tenggelam.

Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:


Juwaibir telah meriwayatkan dari Ad-Dahhak, bahwa sesungguhnya Allah subhanahu wa ta’ala tidak sekali-kali bersumpah dengan menyebut nama sesuatu dari makhluk-Nya, melainkan hal ini hanyalah sebagai pembukaan belaka yang digunakan oleh-Nya untuk membuka kalam-Nya.
Tetapi pendapat ini lemah, dan yang dikatakan oleh jumhur ulama menyebutkan bahwa ungkapan ini memang sumpah dari Allah subhanahu wa ta’ala Dia bersumpah dengan menyebut nama apa pun yang dikehendaki-Nya dari makhluk-Nya, yang hal ini menunjukkan kebesaran dari nama makhluk yang disebu.t-Nya.

Kemudian sebagian ulama tafsir mengatakan bahwa huruf la di sini merupakan zaidah.
Maka makna yang dimaksud ialah
"Aku bersumpah dengan tempat beredarnya bintang-bintang."
Hal yang sama telah diriwayatkan oleh Ibnu Jarir melalui Sa’id ibnu Jubair, dan yang menjadi objek sumpah ialah firman-Nya:
sesungguhnya Alquran ini adalah bacaan yang sangat mulia.
(QS. Al-Waqi’ah [56]: 77)

Ulama lainnya mengatakan bahwa la di sini bukanlah zaidah yang tidak bermakna, bahkan ia didatangkan pada permulaan qasam (sumpah), apabila objek sumpahnya dinafikan, seperti perkataan Siti Aisyah r.a.."Tidak, demi Allah, tangan Rasulullah ﷺ sama sekali belum pernah menyentuh tangan wanita lain."
Maka demikian pula halnya di sini, yang berarti bentuk lengkapnya ialah
"Tidak, Aku bersumpah dengan tempat beredarnya bintang-bintang, duduk perkaranya tidaklah seperti dugaan mereka terhadap Alquran, bahwa Alquran itu sihir atau tenung, bahkan Alquran ini adalah bacaan yang mulia."

Ibnu Jarir mengatakan bahwa sebagian ulama bahasa Arab mengatakan sehubungan dengan firman-Nya:
Maka Aku bersumpah.
(QS. Al-Waqi’ah [56]: 75)
Bahwa urusan ini tidaklah seperti apa yang kalian katakan, kemudian sesudah itu dimulai lagi sumpah, lalu diucapkan Aku bersumpah.

Ulama tafsir berbeda pendapat sehubungan dengan makna firman-Nya:
tempat beredarnya bintang-bintang.
(QS. Al-Waqi’ah [56]: 75)
Menurut Hakim ibnu Jubair, dari Sa’id ibnu Jubair, dari Ibnu Abbas, makna yang dimaksud ialah angsuran turunnya Alquran, karena sesungguhnya Alquran itu diturunkan sekaligus di malam Lailatul Qadar dari langit yang tertinggi ke langit yang paling dekat, kemudian baru diturunkan ke bumi secara berangsur-angsur selama bertahun-tahun.
Kemudian Ibnu Abbas membaca ayat ini.


Ad-Dahhak telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas, bahwa Alquran diturunkan sekaligus dari sisi Allah —yaitu Lauh Mahfuz— kepada para malaikat pencatat yang mulia di langit yang terdekat.
Lalu para malaikat juru tulis menyampaikannya kepada Malaikat Jibril secara berangsur-angsur dalam dua puluh malam, lalu Malaikat Jibril menurunkannya kepada Muhammad ﷺ secara berangsur-angsur pula selama dua puluh tahun.
Hal inilah yang dimaksud olah firman-Nya:
Maka Aku bersumpah dengan penurunan Alquran secara berangsur-angsur.
(QS. Al-Waqi’ah [56]: 75)

Hal yang sama telah dikatakan oleh Ikrimah, Mujahid, As-Saddi, dan Abu Hirzah.

Mujahid mengatakan pula bahwa yang dimaksud dengan mawaqi’in nujum ialah tempat beredarnya bintang-bintang di langit.
Dikatakan bahwa mawaqi’ ialah tempat terbitnya bintang-bintang.
Hal yang sama dikatakan oleh Qatadah, Al-Hasan, dan inilah yang dipilih oleh Ibnu Jarir.


Diriwayatkan dari Qatadah bahwa makna yang dimaksud ialah tempat beredarnya bintang-bintang.


Diriwayatkan pula dari Al-Hasan, bahwa makna yang dimaksud ialah berhamburannya bintang-bintang kelak di hari kiamat.

Ad-Dahhak telah mengatakan sehubungan dengan firman-Nya:
Maka Aku bersumpah dengan tempat beredarnya bintang-bintang.
(QS. Al-Waqi’ah [56]: 75)
Yakni bintang-bintang yang dikatakan oleh orang-orang Jahiliah apabila mereka diberi hujan, mereka mengatakan,
"Kami diberi hujan oleh bintang anu dan anu."

Sebab-Sebab Diturunkannya Surah Al Waaqi’ah (56) Ayat 75

Diriwayatkan oleh Muslim yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas bahwa ketika turun hujan pada masa Rasulullah ﷺ, Rasulullah ﷺ bersabda: “Di antara manusia ada yang bersyukur dan ada yang kafir karena turun hujan.” Di antara yang hadir berkata: “Ini adalah rahmat yang diberikan Allah.” Sedang yang lainnya berkata: “Sungguh tepat benar ramalan si anu.” Maka turunlah ayat ini (al-Waqi’ah: 75-82) untuk mengingatkan bahwa semua kejadian adalah ketetapan Allah.

Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim yang bersumber dari Abu Hazrah bahwa ayat ini (al-Waqi’ah: 75-82) turun berkenaan dengan serombongan kaum Anshor, waktu perang Tabuk, yang beristirahat di Hijr (peninggalan kaum Nabi Shalih as.) mereka dilarang menggunakankan air yang ada di situ.
Kemudian mereka pindah dari tempat itu, tapi tidak mendapatkan air sama sekali.
Mereka mengadukan hal itu kepada Rasulullah ﷺ Rasulullah shalat dua rakaat dan berdoa.
Maka langit menjadi berawan dan terus turun hujan atas perintah dan karunia Allah subhanahu wa ta’ala, sehingga merekapun dapat minum sepuas-puasnya.
Seorang Anshar berkata kepada seseorang yang dituduh munafik: “Bagaimana pendapatmu setelah Nabi ﷺ berdoa dan turun hujan untuk kepentingan kita ?” Orang itu menjawab:
“Kita diberi hujan tidak lain karena ramalan orang.” Ayat ini (al-Waqi’ah 75-82) turun untuk mengingatkan umat Islam bahwa segala sesuatu itu ditetapkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala

Sumber : Asbabun Nuzul – K.H.Q Shaleh – H.A.A Dahlan dkk.

Unsur Pokok Surah Al Waaqi’ah (الواقعة)

Surat Al Waaqi’ah terdiri atas 96 ayat, termasuk golongan-golongan surat-surat Makkiyyah, diturunkan sesudah surat Thaa Haa.

Dinamai "Al Waaqi’ah" (Harl kiamat), diambil dari perkataan Al Waaqi’ah yang terdapat pada ayat pertama surat ini.

Keimanan:

▪ Huru hara di waktu terjadinya hari kiamat.
▪ Manusia di waktu berhisab terbagi atas tiga golongan, yaitu golongan yang bersegera menjalankan kebaikan, golongan kanan dan golongan yang celaka serta balasan yang diperoleh oleh masing-masing golongan.
▪ Bantahan Allah terhadap keingkaran orang yang mengingkari adanya Tuhan, hari berbangkit, dan adanya hisab.
Alquran berasal dari Lauh Mahfuuzh.

Lain-lain:

▪ Gambaran tentang surga dan neraka

Audio

QS. Al-Waaqi'ah (56) : 1-96 ⊸ Misyari Rasyid Alafasy
Ayat 1 sampai 96 + Terjemahan Indonesia

QS. Al-Waaqi'ah (56) : 1-96 ⊸ Nabil ar-Rifa’i
Ayat 1 sampai 96

Gambar Kutipan Ayat

Surah Al Waaqi'ah ayat 75 - Gambar 1 Surah Al Waaqi'ah ayat 75 - Gambar 2
Statistik QS. 56:75
  • Rating RisalahMuslim
4.5

Ayat ini terdapat dalam surah Al Waaqi’ah.

Surah Al-Waqi’ah (Arab: الواقعه, “Hari Kiamat”) adalah surah ke-56 dalam Alquran.
Surah ini terdiri atas 96 ayat dan termasuk golongan surah Makkiyah.
Surah ini dinamai dengan Al Waaqi’ah (Hari Kiamat), diambil dari perkataan Al Waaqi’ah yang terdapat pada ayat pertama.

Nomor Surah56
Nama SurahAl Waaqi’ah
Arabالواقعة
ArtiHari Kiamat
Nama lainIdza waqa’at
Tempat TurunMekkah
Urutan Wahyu46
JuzJuz 27
Jumlah ruku’3 ruku’
Jumlah ayat96
Jumlah kata370
Jumlah huruf1756
Surah sebelumnyaSurah Ar-Rahman
Surah selanjutnyaSurah Al-Hadid
Sending
User Review
4.7 (21 votes)
Tags:

56:75, 56 75, 56-75, Surah Al Waaqi'ah 75, Tafsir surat AlWaaqiah 75, Quran Al Waqiah 75, AlWaqiah 75, Al-Waqi'ah 75, Surah Al Waqiah ayat 75

Keluarga Anda ada yang belum mahir membaca Alquran? Ingin segera bisa?
Klik di sini sekarang!

Video


Panggil Video Lainnya

Ayat Lainnya

QS. An Nisaa’ (Wanita) – surah 4 ayat 23 [QS. 4:23]

Selain haram menikahi ibu tiri sebagaimana dijelaskan di atas, diharamkan pula menikahi beberapa perempuan berikut ini. Diharamkan atas kamu menikahi ibu-ibumu termasuk juga nenekmu, anak-anakmu yang … 4:23, 4 23, 4-23, Surah An Nisaa’ 23, Tafsir surat AnNisaa 23, Quran AnNisa 23, An-Nisa’ 23, Surah An Nisa ayat 23

QS. Ash Shaffaat (Barisan-barisan) – surah 37 ayat 104 [QS. 37:104]

103-106. Maka ketika keduanya telah berserah diri, patuh, dan bertawakal kepada Allah, dia pun membaringkan anaknya atas pelipis-nya ke tanah agar tidak melihat wajah anaknya saat dia menyembelihnya. … 37:104, 37 104, 37-104, Surah Ash Shaffaat 104, Tafsir surat AshShaffaat 104, Quran Al-Shaffat 104, AshShaffat 104, Ash Shafat 104, Ash Shaffat 104, Surah Ash Shaffat ayat 104

Hadits Shahih

Podcast

Hadits & Doa

Soal & Pertanyaan Agama

Selain berisi kisah-kisah umat terdahulu, dalam Alquran juga terdapat tamsil sebagai peringatan bagi manusia. Tamsil artinya ...

Benar! Kurang tepat!

Yang berarti “menggabungkan sesuatu dengan yang lain” adalah lafaz ...

Benar! Kurang tepat!

Al-Lihyaniy berpendapat bahwa Alquran secara etimologi memiliki arti ...

Benar! Kurang tepat!

+

Array

Fungsi utama kandungan Alquran yang menjelaskan kisah umat terdahulu adalah sebagai ...

Benar! Kurang tepat!

Alquran adalah mukjizat terbesar bagi Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam. Di bawah ini merupakan bukti bahwa Alquran adalah mukjizat yang terbesar adalah ...

Benar! Kurang tepat!

Pendidikan Agama Islam #16
Ingatan kamu cukup bagus untuk menjawab soal-soal ujian sekolah ini.

Pendidikan Agama Islam #16 1

Mantab!! Pertahankan yaa..
Jawaban kamu masih ada yang salah tuh.

Pendidikan Agama Islam #16 2

Belajar lagi yaa...

Bagikan Prestasimu:

Soal Lainnya

Pendidikan Agama Islam #19

Salah satu hikmah mempercayai datangnya hari akhir, yaitu … berlomba-lomba mengerjakan PR memuaskan keinginan makan tambah yakin dengan kebesaran Allah

Pendidikan Agama Islam #7

Hukum yang mengatur hubungan manusia dengan Tuhan secara lahiriah, manusia dengan sesama manusia dan orang-orang dengan lingkungannya disebut hukum …

Pendidikan Agama Islam #6

Sifat dasar hukum Alquran adalah keseimbangan dalam hal aspek material dan psikologis, yang disebut sebagai … harakah wasatiyyah takamul khuludiyah

Instagram