Keluarga Anda ada yang belum mahir membaca Alquran? Ingin segera bisa? Klik di sini sekarang!

QS. Al Waaqi’ah (Hari Kiamat) – surah 56 ayat 10 [QS. 56:10]

And the forerunners, the forerunners –
― Chapter 56. Surah Al Waaqi’ah [verse 10]

وَٱلسَّٰبِقُونَ dan orang-orang terdahulu

And the foremost
ٱلسَّٰبِقُونَ orang-orang terdahulu

(are) the foremost,

Tafsir

Alquran

Surah Al Waaqi’ah
56:10

Tafsir QS. Al Waaqi’ah (56) : 10. Oleh Kementrian Agama RI


Ayat ini menjelaskan bahwa orang-orang yang paling dahulu beriman kepada Allah tidak asing lagi bagi kita pribadi hal ini tampak karena kebesarannya serta perbuatan-perbuatan mereka yang mengagumkan.
Dapat pula diartikan bahwa orang-orang yang paling dahulu mematuhi perintah Allah, mereka pulalah yang paling dahulu menerima rahmat Allah.

Barang siapa yang lebih awal membuat kebaikan di dunia ini, maka ia adalah orang yang lebih awal pula mendapat ganjaran di akhirat nanti.


Ayat ini menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan
"as-sabiqun",
ialah mereka yang disebut dalam hadisAisyah sebagai Nabi Muhammad ﷺ telah bersabda,
"Apakah kamu sekalian tahu siapa yang paling dahulu mendapat perlindungan dari Allah pada hari Kiamat nanti?"
Mereka (para sahabat) berkata,
"Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui.
"
Rasulullah bersabda,
"Mereka itu adalah orang yang apabila diberi haknya menerimanya, apabila diminta, memberikannya dan apabila menjatuhkan hukuman terhadap orang lain sama seperti mereka menjatuhkan hukuman terhadap diri mereka sendiri."
(Riwayat Ahmad dari ‘Aisyah)

Tafsir QS. Al Waaqi’ah (56) : 10. Oleh Muhammad Quraish Shihab:


Ketiga, orang-orang yang berbuat kebaikan di dunia di garis terdepan.
Mereka itulah orang-orang yang terlebih dahulu akan memperoleh derajat yang tinggi di akhirat.


Mereka adalah orang-orang yang didekatkan kepada Allah.
Allah akan memasukkan mereka ke dalam surga-surga yang penuh kenikmatan.

Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:


Golongan ketiga adalah mereka yang paling dahulu melakukan kebaikan di dunia, mereka yang paling dahulu menempati derajat utama di akhirat.
Mereka adalah orang-orang yang didekatkan di sisi Allah.


Tuhan memasukkan mereka ke dalam surga yang penuh kenikmatan.

Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:



(Dan orang-orang yang paling dahulu) dalam kebaikan, mereka adalah para nabi, ayat ini berkedudukan menjadi Mubtada


(yaitu orang-orang yang paling dahulu) lafal ayat ini mengukuhkan makna ayat pertama, dimaksud sebagai ungkapan tentang keagungan kedudukan mereka.

Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:


Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

dan kamu menjadi tiga golongan.
(QS. Al-Waqi’ah [56]: 7)

Yakni kelak di hari kiamat manusia terbagi menjadi tiga golongan, suatu golongan berada di sebelah kanan ‘Arasy.
Mereka adalah orang-orang yang dahulu keluar dari lambung kanan Adam, dan buku catatan amal mereka diberikan kepada mereka dari arah kanan mereka, lalu mereka digiring ke sebelah kanan.
Menurut As-Saddi, golongan ini seluruhnya adalah ahli surga.
Sedangkan golongan lainnya berada di sebelah kiri Arasy, mereka adalah orang-orang yang dahulunya keluar dari lambung kiri Adam;
buku catatan amal mereka diberikan kepada mereka dari arah kirinya, lalu mereka digiring ke arah kiri.
Mereka adalah seluruh penduduk neraka, semoga Allah melindungi kita dari perbuatan mereka.
Segolongan lainnya adalah orang-orang yang paling dahulu berada di hadapan Allah subhanahu wa ta’ala Mereka merupakan golongan yang lebih khusus, lebih beruntung dan lebih dekat kepada-Nya daripada Ashabul yamin, mereka adalah para pemimpin Ashabul yamin.
Di kalangan mereka terdapat para rasul, para nabi, para siddiqin, dan para syuhada;
jumlah mereka sedikit bila dibandingkan dengan jumlah Ashabul yamin.
Karena itulah disebutkan oleh firman-Nya:

Yaitu golongan kanan.
Alangkah mulianya golongan kanan itu.
Dan golongan kiri.
Alangkah sengsaranya golongan kiri itu.
Dan orang-orang yang paling dahulu beriman, merekalah yang paling dahulu (masuk surga).
(QS. Al-Waqi’ah [56]: 8-10)

Pembagian mereka dalam tiga klasifikasi disebutkan pula di akhir surat ini, yaitu di saat mereka dihadirkan di hari kiamat.
Hal yang semisal disebutkan juga di dalam firman-Nya:

Kemudian Kitab itu Kami wariskan kepada orang-orang yang Kami pilih di antara hamba-hamba Kami, lalu di antara mereka ada yang menganiaya diri mereka sendiri, dan di antara mereka ada yang pertengahan, dan di antara mereka ada (pula) yang lebih dahulu berbuat kebaikan dengan izin Allah.
(QS. Faathir [35]: 32), hingga akhir ayat.

Pengertian ini berdasarkan-salah satu di antara dua pendapat sehubungan dengan golongan orang-orang yang menganiaya diri mereka sendiri, seperti yang telah dijelaskan sebelumnya.

Sufyan As-Sauri telah meriwayatkan dari Jabir Al-Ju’fi, dari Mujahid, dari Ibnu Abbas sehubungan dengan makna firman-Nya:
dan kamu menjadi tiga golongan.
(QS. Al-Waqi’ah [56]: 7)
Bahwa makna yang dimaksud adalah seperti yang disebutkan di dalam firman-Nya:
Kemudian Kitab itu Kami wariskan kepada orang-orang yang Kami pilih di antara hamba-hamba Kami, lalu di antara mereka ada yang menganiaya diri mereka sendiri, dan di antara mereka ada yang pertengahan, dan di antara mereka ada (pula) yang lebih dahulu berbuat kebaikan.
(QS. Faathir [35]: 32)

Ibnu Juraij telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas, bahwa tiga golongan ini adalah orang-orang yang disebutkan di dalam akhir surat ini dan surat Fathir.


Yazid Ar-Raqqasyi mengatakan bahwa ia pernah bertanya kepada Ibnu Abbas tentang makna firman-Nya:
dan kamu menjadi tiga golongan.
(QS. Al-Waqi’ah [56]: 7)
Ibnu Abbas menjawab bahwa azwajan ialah golongan.

Mujahid mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya:
dan kamu menjadi tiga golongan.
(QS. Al-Waqi’ah [56]: 7)
Yakni tiga golongan, katanya.


Menurut Maimun ibnu Mahran, tiga gelombang.


Ubaidillah Al-Ataki telah meriwayatkan dari Usman ibnu Suraqah (anak lelaki bibinya Umar ibnul Khattab) tentang makna firman-Nya:
dan kamu menjadi tiga golongan.
(QS. Al-Waqi’ah [56]: 7)
Bahwa yang dua golongan masuk surga, sedangkan yang satu golongan masuk neraka.

Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami ayahku, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnus Sabah, telah menceritakan kepada kami Al-Walid ibnu Abu Saur, dari Sammak, dari An-Nu’man ibnu Basyir yang mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ membaca firman-Nya:
dan apabila roh-roh dipertemukan (dengan tubuh).
(QS. At-Takwir [81]: 7)
Lalu beliau ﷺ bersabda bahwa mereka adalah orang-orang yang bersekutu;
tiap-tiap orang dari setiap kaum (golongan) mengerjakan amal perbuatan yang semisal dengan golongannya.
Demikian itu karena di dalam firman Allah subhanahu wa ta’ala telah disebutkan:
dan kamu menjadi tiga golongan.
Yaitu golongan kanan.
Alangkah mulianya golongan kanan itu.
Dan golongan kiri.
Alangkah sengsaranya golongan kiri itu.
Dan orang-orang yang dahulu beriman, merekalah yang paling dulu (masuk surga).
(QS. Al-Waqi’ah [56]: 7-10)
Bahwa mereka adalah para duraba (sekutu).

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Abdullah ibnul Musanna, telah menceritakan kepada kami Al-Barra Al-Ganawi, telah menceritakan kepada kami Al-Hasan, dari Mu’az ibnu Jabal, bahwa Rasulullah ﷺ membaca firman-Nya:
Yaitu golongan kanan.
Alangkah mulianya golongan kanan itu.
Dan golongan kiri.
Alangkah sengsaranya golongan kiri itu.
(QS. Al-Waqi’ah [56]: 8-9)
Lalu beliau ﷺ melakukan genggaman sebanyak dua kali seraya bersabda:
Golongan ini untuk surga dan aku tidak peduli, dan golongan ini untuk neraka dan aku tidak peduli.

Imam Ahmad mengatakan pula, telah menceritakan kepada kami Hasan, telah menceritakan kepada kami Ibnu Lahi’ah, telah menceritakan kepada kami Khalid ibnu Abu Imran, dari Al-Qasim ibnu Muhammad ibnu Aisyah, dari Rasulullah ﷺ yang telah bersabda:
Tahukah kalian, siapakah orang-orang yang paling terdahulu menuju naungan Allah di hari kiamat?
Para sahabat menjawab,
"Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui."
Rasulullah ﷺ bersabda:
Yaitu orang-orang yang apabila diberi hak, menerimanya;
dan apabila diminta hak, memberinya;
dan mereka memutuskan hukum bagi orang lain sebagaimana hukum yang mereka berlakukan terhadap diri mereka sendiri.

Muhammad ibnu Ka’b dan Abu Hirzah alias Ya’qub ibnu Mujahid telah mengatakan sehubungan dengan firman-Nya:
Dan orang-orang yang paling dahulu beriman, merekalah yang paling dulu (masuk surga).
(QS. Al-Waqi’ah [56]: 10)
Bahwa mereka adalah para nabi.

As-Saddi mengatakan bahwa mereka adalah orang-orang yang menghuni surga yang tertinggi.
Ibnu Abu Najih telah meriwayatkan dari Mujahid, dari Ibnu Abbas sehubungan dengan makna firman-Nya:
Dan orang-orang yang paling dahulu beriman, merekalah yang paling dulu(masuk surga).
(A)-Waqi’ah:
10)
Bahwa Yusya’ ibnu Nun adalah orang yang paling dahulu beriman kepada Musa dan orang yang beriman dari keluarga Yasin lebih dahulu beriman kepada Isa, serta Ali ibnu Abu Talib adalah orang yang paling dahulu beriman kepada Muhammad Rasulullah ﷺ

Ibnu Abu Hatim meriwayat­kannya dari Muhammad ibnu Harun Al-Fallas, dari Abdullah ibnu Ismail Al-Madaini Al-Bazzar, dari Sufyan ibnud Dahhak Al-Madaini, dari Sufyan ibnu Uyaynah, dari Ibnu Abu Nujaih dengan sanad yang sama.

Ibnu Abu Hatim telah meriwayatkan dari Muhammad ibnu Abu Hammad, bahwa telah menceritakan kepada kami Mahran, dari Kharijah, dari Qurrah, dari Ibnu Sirin sehubungan dengan makna firman-Nya:
Orang-orang yang paling dahulu beriman, merekalah yang paling dulu (masuk surga).
(QS. Al-Waqi’ah [56]: 10)
Yang dimaksud adalah orang-orang yang pernah salah menghadap ke arah dua kiblat.

Ibnu Jarir telah meriwayatkannya melalui hadis Kharijah.
Al-Hasan dan Qatadah mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya:
Orang-orang yang paling dahulu beriman, merekalah yang paling dulu (masuk surga).
(QS. Al-Waqi’ah [56]: 10)
Yakni dari tiap-tiap umat.


Al-Auza’i telah meriwayatkan dari Us’man ibnu Abu Saudah, bahwa ia membaca firman-Nya:
Dan orang-orang yang paling dahulu beriman, merekalah yang paling dahulu (masuk surga).
Mereka itulah orang yang didekatkan (kepada Allah).
(QS. Al-Waqi’ah [56]: 10-11)
Kemudian ia mengatakan bahwa mereka adalah orang-orang yang paling dahulu berangkat ke masjid dan orang-orang yang paling dahulu keluar untuk berjihad di jalan Allah.

Semua pendapat di atas sahih, karena sesungguhnya yang dimaksud dengan sabiqin ialah orang-orang yang paling bersegera dalam mengerjakan kebaikan sebagaimana yang diperintahkan kepada mereka, seperti yang disebutkan dalam ayat lain melalui firman-Nya:

Dan bersegeralah kamu menuju ampunan dari Tuhanmu dan surga yang luasnya seluas langit dan bumi.
(QS. Ali ‘Imran [3]: 133)

Dan firman Allah subhanahu wa ta’ala:

Berlomba-lombalah kamu untuk meraih ampunan dari Tuhanmu dan surga yang luasnya seluas langit dan bumi.
(QS. Al-Hadid:
21)

Barang siapa yang paling dahulu berbuat kebajikan di dunia ini, maka di akhirat ia termasuk orang-orang yang paling dahulu mendapatkan kemuliaan, yaitu surga, karena sesungguhnya balasan itu sesuai dengan jenis amal perbuatannya;
dan sebagaimana engkau berbuat, maka engkau mendapat balasannya.

Kata Pilihan Dalam Surah Al Waaqi’ah (56) Ayat 10

SAABIQ
سَابِق

Lafaz ini adalah ism fa’il dari kata kerja sabaqa. Asal makna lafaz ini ialah maju kehadapan dalam perjalanan.

Menurut Al Fayruz, as sabq dalam Al Qur’an mengandung beberapa makna yaitu:
(1) Wajib
(2) Berburu,
(3) Maju ke hadapan dengan niat melarikan diri;
(4) Mendahului atau meninggalkan;
(5) Mendahului dalam mukjizat dan kehinaan bagi musuh-musuh para nabi;
(6) Mendahului dalam tauhid dan iman.

Sedangkan lafaz saabiq bermakna yang mendahului dalam kebaikan.

Lafaz ini disebut dua kali di dalam Al Qur’an yaitu dalam surah:
Faathir (35), ayat 32;
Yasin (36), ayat 40.
Lafaz saabiq dalam surah Faathir dikaitkan dengan al khairaat atau kebaikan dan ia mengandung makna:

1. Yang mendahului dalam ketakwaan secara mutlak sebagaimana pendapat Ikrimah, Ad Dahhak dan Al Farra’.

2. Yang mendahului manusia keseluruhannya dalam kebaikan sebagaimana pendapat yang dikemukakan oleh Mujahid.

3. Yang alim, ini pendapat Sahl bin ‘Abdullah.

4. Dzun Nun Al Masri berpendapat, ia bermakna orang yang tidak pernah lalai dari mengingati Allah.

5. Ibn ‘Ata berpendapat, ia bermakna orang yang menjatuhkan keinginannya kepada keinginan kebenaran.

6. As Sabiq bermakna yang membaca Al Qur’an, beramal dengannya dan tahu makna-maknanya

7. As Sabiq bermakna yang mencintai Tuhannya.

8. ‘Aisyah berkata,
"As Saabiq adalah orang yang beriman sebelum hijrah"

9. Diriwayatkan dari Ibn Abbas, Ibn Mas’ud dan Abl Al Darda’, makna sabiq bi Al khairat ialah orang yang memasuki syurga tanpa hisab."

10. Ibn Katsir memberikan makna lafaz ini dengan orang yang menunaikan perkara-perkara yang wajib dan sunnah, meninggalkan yang haram dan makruh serta sebahagian yang harus.

Kesimpulannya, makna as saabiq disini mencakup semua makna diatas dan lebih dekatnya orang yang memasuki syurga tanpa hisab sebagaimana yang diriwayatkan oleh Ibn Abbas, Ibn Mas’ud dan Abi Al Darda.

Dalam surah Yasin, lafaz saabiq dikaitkan dengan malam dan siang.
Allah berfirman yang artinya, "Dan malam tidak mendahului siang karena tiap-tiap satunya beredar terapung di tempat edarannya masing-rnasing,"

Az Zamakhsyari berkata,
"Maknanya tanda-tanda malam tidak akan mendahului tanda-tanda siang dan keduanya adalah dua cahaya di mana siang tandanya terbitnya matahari dan malam munculnya bulan.

Apabila ditanya orang, "Mengapa matahari dijadikan tidak mudah mengejar (idrak) dan bulan tidak mendahului ?" Saya menjawab, "karena matahari tidak melintasi edarannya hingga satu tahun sedangkan bulan melintasi edarannya dalam satu bulan.
Oleh karena itu, matahari sudah tentu bersifat tidak mudah mengejar (alidrak), karena perjalanannya lambat dari perjalanan bulan dan bulan disifatkan dengan As sabq karena cepat perjalanannya.

Muhammad ‘Abdus Salam Syahin berkata,
"Maknanya di sini, setiap dari keduanya tidak memasuki yang lain dalam kekuasaannya sehingga cahayanya bercampur, tetapi keduanya saling bergantian di bawah pengaturan Allah."

Jamak mudzakkar dari kata saabiq ialah sabiquun atau sabiqiin.

Lafaz sabiquun disebut empat kali di dalam Al Qur’an yaitu dalam surah:
-Al Taubah (9), ayat 100;
-Al Mu’minuun (23), ayat 61;
-Al Waaqi’ah (56), ayat 10.
Dalam surah At Taubah, lafaz ini dihubungkan dengan al awwaaluun minal muhaajiriina wal anshaar artinya orang yang awal memeluk Islam dari golongan Muhajirin dan Anshar.
Dalam surah ini, lafaz ini mengandung beberapa penafsiran yaitu:

1. Mereka adalah orang yang membai’at Rasulullah pada Bai’ah Ridwan atau yang hadir dan menyaksikan pada bai’at itu.
Ini adalah pendapat ‘Amir dan Asy Sya’bi.

2. Mereka adalah orang yang shalat dengan Rasulullah di dua kiblat dari kalangan Muhajirin.
Ini adalah pendapat Abu Musa Al Asy’ari dan Sa’id bin Al Musayyab.

3. At Tabari menafsirkannya dengan orang yang mendahului manusia dengan menyatakan iman mereka kepada Allah dan rasul Nya dari kalangan Muhajirin yang berhijrah meninggalkan kaum dan keluarga mereka, memisahkan rumah dan negeri mereka serta kalangan Anshar yang membela dan menolong Rasulullah menghadapi musuh-musuhnya dari kalangan orang-orang kafir.

Dalam surah yang lain, Ar Raghib Al Isfahani berkata,
makna as sasbiquun adalah orang yang lebih dahulu mendapat ganjaran dari Allah dan syurga dengan amalan amalan yang shaleh.

Diriwayatkan oleh Ibn Jarir, Ibn Al Mundzir dan Ibn Abi Hatim dari Ibn Abbas, mereka adalah orang yang lebih dahulu mendapat kebahagiaan dari Allah.

Sa’ld Hawwa berkata,
"Lafaz ini bermakna mereka yang mendahului dalam berbuat kebaikan dan lebih dahulu memasuki syurga."

Muhammad bin Ka’ab dan Abu Hirzah Ya’qub bin Mujahid berpendapat, mereka adalah para nabi.

Menurut riwayat dari Ibn Abi Najih dari Mujahid dari Ibn Abbas berkata,
"Mereka ialah Yusya’ bin Nun yang lebih dahulu beriman kepada Musa, seorang mu’min dari keluarga Yasin yang lebih dahulu beriman kepada (Isa, dan ‘Ali bin Abi Talib yang lebih dahulu beriman kepada Nabi Muhammad."

As Suddi berkata,
"Mereka ialah yang mempunyai darjat yang tinggi."

Al Awza’i melaporkan dari Abi Saudah, mereka ialah orang yang lebih dahulu pergi ke masjid dan lebih dahulu keluar di jalan Allah.

Ibn Katsir berkata,
"Kesemua makna di atas bagi lafaz as saabiquun adalah benar karena makna umum bagi lafaz itu adalah orang yang bersegera melakukan kebaikan sebagaimana yang diperintahkan kepada mereka."

Kesimpulannya, makna as saabiquun terbahagi kepada dua, khusus dan umum.

Makna yang khusus terdapat dalam surah At Taubah yaitu mereka adalah orang Muhajirin dan Anshar.

Sedangkan yang umum terdapat dalam surah lain yang bermakna orang yang bersegera melakukan kebaikan sebagaimana yang diseru Allah kepadanya.

Sedangkan lafaz saabiqiin disebut sekali saja di dalam Al Qur’an yaitu dalam surah Al Ankabut (29), ayat 39.
Al Raghlb dan Al Fayruz berkata,
"Lafaz ini mengandung makna peringatan dan penjelasan, mereka tidak akan mendahuluinya dan melepaskannya."

Dalam sebuah hadis sahih, Rasulullah berkata,
"Berjalanlahl pasti orang yang menyendiri akan mendahului" Lalu beliau ditanya, "Siapa mereka, ya Rasulullah ?" Beliau menjawab, "Mereka adalah orang yang bergoyang dan bergetar hati mereka dengan zikrullah (berzikir kepada Allah)."

At Tabari juga menafsirkan ayat ini, "Ingatlah, wahai Muhammad! Tentang Qarun, Firaun dan Haman, di mana Nabi Musa mendatangkan kepada mereka bukti-bukti dan ayat-ayat yang terang, tetapi mereka takbur di muka bumi dengan tidak mempercayai ayat-ayat itu dan tidak mahu mengikuti Musa, maka diri mereka tidak dapat mendahului kami sehingga melepaskan diri mereka dari kami, malah kami akan mengatasi mereka dengan menjatuhkan azab kepada mereka."

Dalam Tafsir Al Jalalain disebutkan, "Makna saabiqiin ialah mereka tidak dapat terlepas dari azab kami."

Kesimpulannya, lafaz sabiqiin dalam ayat ini bermakna mereka yaitu Qarun, Firaun dan Haman yang tidak terlepas dari azab Allah.

Sumber : Kamus Al Qur’an, PTS Islamika SDN BHD, Hal: 287-289

Unsur Pokok Surah Al Waaqi’ah (الواقعة)

Surat Al Waaqi’ah terdiri atas 96 ayat, termasuk golongan-golongan surat-surat Makkiyyah, diturunkan sesudah surat Thaa Haa.

Dinamai "Al Waaqi’ah" (Harl kiamat), diambil dari perkataan Al Waaqi’ah yang terdapat pada ayat pertama surat ini.

Keimanan:

▪ Huru hara di waktu terjadinya hari kiamat.
▪ Manusia di waktu berhisab terbagi atas tiga golongan, yaitu golongan yang bersegera menjalankan kebaikan, golongan kanan dan golongan yang celaka serta balasan yang diperoleh oleh masing-masing golongan.
▪ Bantahan Allah terhadap keingkaran orang yang mengingkari adanya Tuhan, hari berbangkit, dan adanya hisab.
Alquran berasal dari Lauh Mahfuuzh.

Lain-lain:

▪ Gambaran tentang surga dan neraka

Audio

QS. Al-Waaqi'ah (56) : 1-96 ⊸ Misyari Rasyid Alafasy
Ayat 1 sampai 96 + Terjemahan Indonesia

QS. Al-Waaqi'ah (56) : 1-96 ⊸ Nabil ar-Rifa’i
Ayat 1 sampai 96

Gambar Kutipan Ayat

Surah Al Waaqi'ah ayat 10 - Gambar 1 Surah Al Waaqi'ah ayat 10 - Gambar 2
Statistik QS. 56:10
  • Rating RisalahMuslim
4.6

Ayat ini terdapat dalam surah Al Waaqi’ah.

Surah Al-Waqi’ah (Arab: الواقعه, “Hari Kiamat”) adalah surah ke-56 dalam Alquran.
Surah ini terdiri atas 96 ayat dan termasuk golongan surah Makkiyah.
Surah ini dinamai dengan Al Waaqi’ah (Hari Kiamat), diambil dari perkataan Al Waaqi’ah yang terdapat pada ayat pertama.

Nomor Surah56
Nama SurahAl Waaqi’ah
Arabالواقعة
ArtiHari Kiamat
Nama lainIdza waqa’at
Tempat TurunMekkah
Urutan Wahyu46
JuzJuz 27
Jumlah ruku’3 ruku’
Jumlah ayat96
Jumlah kata370
Jumlah huruf1756
Surah sebelumnyaSurah Ar-Rahman
Surah selanjutnyaSurah Al-Hadid
Sending
User Review
4.6 (12 votes)
Tags:

56:10, 56 10, 56-10, Surah Al Waaqi'ah 10, Tafsir surat AlWaaqiah 10, Quran Al Waqiah 10, AlWaqiah 10, Al-Waqi'ah 10, Surah Al Waqiah ayat 10

Keluarga Anda ada yang belum mahir membaca Alquran? Ingin segera bisa?
Klik di sini sekarang!

Video


Panggil Video Lainnya

Ayat Lainnya

QS. Al Haaqqah (Hari kiamat) – surah 69 ayat 1 [QS. 69:1]

1- 3. Pada surah sebelumnya disinggung sekilas tentang hari Kiamat, pada awal surah ini dimulai dengan kata al-Hàqqah yang secara kebahasaan berarti yang pasti kehadirannya yaitu hari Kiamat, apakah h … 69:1, 69 1, 69-1, Surah Al Haaqqah 1, Tafsir surat AlHaaqqah 1, Quran Al Haqqah 1, AlHaqqah 1, Al-Haqqah 1, Surah Al Haqah ayat 1

QS. Al Maa’idah (Jamuan (hidangan makanan)) – surah 5 ayat 8 [QS. 5:8]

Ayat selanjutnya memberikan tuntunan agar umat Islam berlaku adil, tidak hanya kepada sesama umat Islam, tetapi juga kepada siapa saja walaupun kepada orang-orang yang tidak disukai. Wahai orangorang … 5:8, 5 8, 5-8, Surah Al Maa’idah 8, Tafsir surat AlMaaidah 8, Quran Al Maidah 8, AlMaidah 8, Al-Ma’idah 8, Surah Al Maidah ayat 8

Hadits Shahih

Podcast

Hadits & Doa

Soal & Pertanyaan Agama

وَالَّيْلِ اِذَا سَجٰىۙ

Dalam surah Ad-Duha, terjemahan dari lafal di atas adalah ...

Benar! Kurang tepat!

Penjelasan:
وَالَّيْلِ اِذَا سَجٰىۙ
'dan demi malam apabila telah sunyi,'
--QS. As-Duha [93] : 2

Kata berikut yang mempunyai arti orang yang meminta-minta adalah ...

Benar! Kurang tepat!

Surah Ad-Dhuha termasuk kategori surah ...

Benar! Kurang tepat!

Penjelasan:
Surah Ad-Duha (الضحى) adalah surah ke-93 dalam Alquran dan terdiri atas 11 ayat. Surah ini termasuk golongan surah Makkiyah dan diturunkan sesudah surah Al-Fajr.
Nama Adh Dhuhaa diambil dari kata yang terdapat pada ayat pertama, yang artinya 'waktu matahari sepenggalahan naik'.

+

Array

اَلَمْ يَجِدْكَ يَتِيْمًا فَاٰوٰىۖ

lafal tersebut adalah surah Ad-Dhuha ayat ke- ...

Benar! Kurang tepat!

Penjelasan:
Alquran Surah Ad-Dhuha Ayat 6:
أَلَمْ يَجِدْكَ يَتِيمًا فَـَٔاوَىٰ

Arti:
Bukankah Dia mendapatimu sebagai seorang yatim, lalu Dia melindungimu?

Dalam Alquran, surah Ad-Dhuha turun setelah surah ...

Benar! Kurang tepat!

Pendidikan Agama Islam #17
Ingatan kamu cukup bagus untuk menjawab soal-soal ujian sekolah ini.

Pendidikan Agama Islam #17 1

Mantab!! Pertahankan yaa..
Jawaban kamu masih ada yang salah tuh.

Pendidikan Agama Islam #17 2

Belajar lagi yaa...

Bagikan Prestasimu:

Soal Lainnya

Pendidikan Agama Islam #24

Dalam memutuskan suatu perkara, Dinda sangat adil karena Dinda meneladani sifat Allah … الرحيم العظيم البصير الرحمن العدل Benar! Kurang

Pendidikan Agama Islam #21

Pembukuan Alquran dilakukan pada masa khalifah … Abu Bakar Abu Hurairah Umar bin Khattab Ali bin Abi Thalib Usman bin

Pendidikan Agama Islam #16

Yang berarti “menggabungkan sesuatu dengan yang lain” adalah lafaz … الجمع ن قرن قرأ القرأ Benar! Kurang tepat! Al-Lihyaniy berpendapat

Instagram