Search
Generic filters
Cari Kategori
🙏 Pilih semua
Quran
Hadits
Kamus
Podcast
Soal Agama
Artikel, Doa, dll.

Keluarga Anda ada yang belum mahir membaca Alquran? Ingin segera bisa? Klik di sini sekarang!

QS. Al Qiyaamah (Kiamat) – surah 75 ayat 37 [QS. 75:37]

اَلَمۡ یَکُ نُطۡفَۃً مِّنۡ مَّنِیٍّ یُّمۡنٰی
Alam yaku nuthfatan min manii-yin yumn(a);
Bukankah dia mulanya hanya setetes mani yang ditumpahkan (ke dalam rahim),
―QS. Al Qiyaamah [75]: 37

Daftar isi

Had he not been a sperm from semen emitted?
― Chapter 75. Surah Al Qiyaamah [verse 37]

أَلَمْ bukankah
Was not
يَكُ ia adalah
he
نُطْفَةً setetes
a semen-drop
مِّن dari
of
مَّنِىٍّ air mani
semen
يُمْنَىٰ ditumpahkan
emitted?

Tafsir Al-Quran

Surah Al Qiyaamah
75:37

Tafsir QS. Al Qiyaamah (75) : 37. Oleh Kementrian Agama RI


Dalam ayat-ayat ini, Allah mengingatkan kembali tentang asal mula penciptaan manusia, yaitu ia diciptakan dari setetes air mani yang ditumpahkan (ke dalam rahim) Kemudian mani itu menjadi segumpal darah, lalu Allah menciptakan, dan menyempurnakannya.
Allah juga menjadikan dari padanya sepasang laki-laki dan perempuan.


Ayat ini mengingatkan manusia yang ingkar bagaimana air mani itu diciptakan Allah menjadi daging yang dengannya manusia diciptakan dengan sempurna melalui proses kehamilan.
Adalah hal yang mudah juga bagi Allah menghidupkan manusia, kemudian mematikan dan menghidupkannya kembali.


Sperma laki-laki dan sel telur perempuan bercampur menjadi satu sehingga tercipta manusia yang sempurna, lengkap dengan penglihatan dan pendengaran, baik dari jenis laki-laki maupun perempuan.
Maka apakah manusia tidak pernah memikirkan bahwa sang Pencipta dari segala proses kejadian itu mampu pula menghancurkan dunia ini kemudian menciptakan hari Kiamat serta manusia yang telah mati dibangkitkan hidup kembali?


Ini suatu penegasan bagi manusia yang mau berpikir andaikata masih ragu-ragu tentang kekuasaan Allah untuk menghidupkan kembali manusia yang telah mati.

Tafsir QS. Al Qiyaamah (75) : 37. Oleh Muhammad Quraish Shihab:


Bukankah manusia berasal dari setetes air mani yang dikokohkan untuk dibentuk di dalam rahim, lalu menjadi ‘alaqah (segumpal darah kental) dan akhirnya diciptakan dan disempurnakan oleh Allah dalam bentuk yang sebaik-baiknya?

Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:


Apakah manusia yang mengingkari kebangkitan ini mengira bahwa ia akan dibiarkan begitu saja, tidak diperintah dan tidak dilarang, tidak dihisab dan tidak disiksa?
Bukankah manusia ini dahulu hanya setetes air mani yang hina yang ditumpahkan ke dalam rahim, kemudian air mani itu menjadi segumpal darah, lalu dengan kekuasaan Allah diciptakanlah dan disempurnakanlah ia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.
Dia menjadikannya sepasang, yaitu laki-laki dan perempuan.


Bukankah Tuhan yang menciptakan yang demikian ini berkuasa pula mengembalikan ciptaan setelah hancur?
Tentu, sesungguhnya Allah subhanahu wa ta’ala Mahakuasa atas hal itu.

Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:



(Bukankah dia dahulu) sebelum itu


(setetes mani yang ditumpahkan) ke dalam rahim, lafal Yumnaa dapat pula dibaca Tumnaa.

Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:


Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

Apakah manusia mengira bahwa ia akan dibiarkan begitu saja (tanpa pertanggungjawaban)?
(QS. Al-Qiyaamah [75]: 36)

As-Saddi mengatakan, makna yang dimaksud ialah apakah manusia mengira bahwa dirinya tidak dibangkitkan hidup kembali?
Menurut Mujahid, Imam Syafii, dan Abdur Rahman ibnu Zaid ibnu Aslam, maknanya apakah manusia mengira bahwa dia tidak dikenakan perintah dan larangan?
Tetapi makna lahiriah ayat menunjukkan pengertian umum yang mencakup kedua keadaan tersebut.
Dengan kata Lain, dapat disebutkan bahwa tidaklah ia dibiarkan begitu saja di dunia ini tanpa dikenakan perintah dan larangan, dan tidak dibiarkan pula di dalam kuburnya dengan sia-sia tanpa dibangkitkan kembali;
bahkan dia dikenai perintah dan larangan di dunia ini, lalu digiring kembali kepada Allah di hari kemudian setelah dibangkitkan.

Makna yang dimaksud ialah menguatkan adanya hari berbangkit dan sekaligus menyanggah pendapat orang yang mengingkarinya dari kalangan orang-orang yang sesat, bodoh, lagi pengingkar kebenaran.
Karena itulah dalam firman selanjutnya disebutkan hal yang menunjukkan adanya hari berbangkit itu melalui penciptaan manusia dari permulaannya:

Bukankah dia dahulu setetes mani (nutfah) yang ditumpahkan (ke dalam rahim)?
(QS. Al-Qiyaamah [75]: 37)

Artinya, tidakkah manusia ingat bahwa asal dirinya adalah nutfah yang lemah berupa air mani yang dipancarkan dari sulbi ke dalam rahim.

kemudian nutfah itu menjadi ‘alaqah, lalu Allah menciptakannya dan menyempurnakannya.
(QS. Al-Qiyaamah [75]: 38)

Yakni lalu jadilah ia ‘alaqah, kemudian diberi bentuk, lalu ditiupkan roh ke dalam tubuhnya sehingga jadilah ia makhluk lain yang sempurna dan memiliki anggota tubuh yang lengkap, apakah dia laki-laki atau perempuan dengan seizin Allah dan takdirnya.
Karena itulah disebutkan dalam firman berikutnya:

lalu Allah menjadikan darinya sepasang laki-laki dan perempuan.
(QS. Al-Qiyaamah [75]: 39)

Lalu disebutkan pula dalam firman berikutnya:

Bukankah (Allah yang berbuat) demikian berkuasa (pula) menghidupkan orang mati?
(QS. Al-Qiyaamah [75]: 40)

Yaitu bukankah Tuhan yang menciptakan makhluk yang sempurna ini dari nutfah yang lemah berkuasa pula untuk mengembalikannya hidup seperti semula ketika Dia menciptakannya?

Kekuasaan mengembalikan hidup seperti semula ini adakalanya tersimpulkan melalui analogi prima bila dikaitkan dengan permuiaan penciptaan, atau adakalanya melalui analogi sepadan.
Ada dua pendapat mengenainya, yang tersimpulkan dari makna firman-Nya:

Dan Dialah yang menciptakan (manusia) dari permulaan, kemudian mengembalikannya (menghidupkannya) kembali, dan menghidupkan kembali itu adalah lebih mudah bagi-Nya.
(Ar-Rum:
27)

Tetapi pendapat pertamalah yang lebih terkenal, sebagaimana yang telah disebutkan di dalam tafsir surat Ar-Rum keterangannya dengan lengkap;
hanya Allah-lah Yang Maha Mengetahui.

Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Al-Hasan ibnu Muhammad ibnus Sabah, telah menceritakan kepada kami Syababah, dari Syu’bah, dari Musa ibnu Abu Aisyah, dari seseorang, bahwa dia berada di atas puncak rumah membaca Alquran dengan suara yang keras.
Manakala bacaannya sampai pada firman Allah subhanahu wa ta’ala:
Bukankah (Allah yang berbuat) demikian berkuasa (pula) menghidupkan orang mati?
(QS. Al-Qiyaamah [75]: 40)
Maka ia mengucapkan,
"Mahasuci Engkau, ya Allah, bukan demikian."
Ketika ia ditanya mengenai hal itu, maka ia menjawab bahwa dirinya pernah mendengar Rasulullah ﷺ mengucapkan demikian.

Abu Daud rahimahullah mengatakan, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnul Musanna, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Ja’far, telah menceritakan kepada kami Syu’bah, dari Musa ibnu Abu Aisyah yang menceritakan bahwa pernah ada seorang lelaki salat di atas rumahnya, dan manakala ia membaca firman-Nya:
Bukankah (Allah yang berbuat) demikian berkuasa (pula) menghidupkan orang mati?
(QS. Al-Qiyaamah [75]: 40)
Lalu ia berkata,
"Mahasuci Engkau, bukan demikian."
Kemudian mereka bertanya kepadanya tentang hal tersebut.
Ia menjawab, bahwa dirinya telah mendengar Rasulullah ﷺ mengatakannya.


Hadis ini diriwayatkan secara tunggal oleh Imam Abu Daud, dan mengenai nama sahabat yang tidak disebutkan tidak menjadi masalah bagi hadis ini (sebab semua sahabat dinilai adil).

Imam Abu Daud mengatakan pula:


telah menceritakan kepada kami Abdullah Ibnu Muhammad Az-Zuhri, telah menceritakan kepada kami Sufyan, telah menceritakan kepadaku Ismail ibnu Umayyah;
bahwa ia mendengar seorang Badui mengatakan bahwa ia pernah mendengar Abu Hurairah r.a. mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda,
"Barang siapa dari kamu membaca surat At-Tin, lalu bacaannya sampai pada firman Allah subhanahu wa ta’ala:
‘Bukankah Allah adalah Hakim yang seadil-adilnya?
‘ (QS. At-Tin [95]: 8)
Hendaklah ia menjawab:
‘Bukan demikian yang sebenarnya, dan aku termasuk orang-orang yang menyaksikan hal tersebut.’ Dan barang siapa yang membaca firman-Nya:
‘Aku bersumpah dengan hari kiamat (QS. Al-Qiyaamah [75]: 1).
Lalu bacaannya sampai pada firman-Nya:
‘Bukankah (Allah yang berbuat) demikian berkuasa (pula) menghidupkan orang mati?’ (QS. Al-Qiyaamah [75]: 40)
Hendaklah ia mengucapkan, ‘Bukan demikian sebenarnya.’ Dan barang siapa yang membaca surat Al-Mursalat, lalu bacaannya sampai pada firman Allah subhanahu wa ta’ala:
‘Maka kepada perkataan apakah selain Alquran ini mereka beriman?’ (QS. Al-Mursalat [77]: 50)
Hendaklah iamengucapkan:
‘Kami beriman kepada Allah’."

Imam Ahmad meriwayatkan ini dari Sufyan ibnu Uyaynah, dan Imam Turmuzi meriwayatkannya dari Ibnu Abu Umar ibnu Sufyan ibnu Uyaynah dengan sanad yang sama.
Syu’bah telah meriwayatkannya dari Ismail ibnu Umayyah yang mengatakan bahwa aku bertanya kepada Ismail,
"Siapakah yang menceritakan ini kepadamu?"
Ia menjawab,
"Seorang lelaki yang jujur, dari Abu Hurairah."

Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepada kami Bisyr, telah menceritakan kepada kami Yazid, telah menceritakan kepada kami Sa’id, dari Qatadah sehubungan dengan makna firman-Nya:
Bukankah (Allah yang berbuat) demikian berkuasa (pula) menghidupkan orang mati?
(QS. Al-Qiyaamah [75]: 40)
Telah diceritakan kepada kami, bahwa Rasulullah ﷺ apabila membaca ayat ini selalu mengucapkan:
Bukan demikian sebenarnya, Mahasuci Engkau.

Kemudian Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ahmad ibnu Sinan Al-Wasiti, telah menceritakan kepada kami Abu Ahmad Az-Zubairi, telah menceritakan kepada kami Sufyan, dari Abu Ishaq, dari Muslim Al-Batin.
dari Sa’id ibnu Jubair, dari Ibnu Abbas, bahwa bacaannya pernah sampai pada firman-Nya:
Bukankah (Allah yang berbuat) demikian
"berkuasa (pula) menghidupkan orang mati?
(QS. Al-Qiyaamah [75]: 40)
Lalu Ibnu Abbas mengucapkan,
"Mahasuci Engkau, hal yang sebenarnya bukan demikian."

Unsur Pokok Surah Al Qiyaamah (القيامة)

Surat Al Qiyaamah terdiri atas 40 ayat, termasuk golongan surat-surat Makkiyyah, diturunkan sesudah surat Al-Alquran dalam dada Nabi sehingga Nabi tidak lupa tentang urutan arti dan pembacaannya.
▪ Celaan Allah kepada orang-orang musyrik yang lebih mencintai dunia dan meninggalkan akhirat.
▪ Keadaan manusia di waktu sakaratul maut.

Ayat-ayat dalam Surah Al Qiyaamah (40 ayat)

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40

Lihat surah lainnya

Audio Murottal

QS. Al-Qiyaamah (75) : 1-40 ⊸ Misyari Rasyid Alafasy Ayat 1 sampai 40 + Terjemahan Indonesia
QS. Al-Qiyaamah (75) : 1-40 ⊸ Nabil ar-Rifa’i Ayat 1 sampai 40

Gambar Kutipan Ayat

Surah Al Qiyaamah ayat 37 - Gambar 1 Surah Al Qiyaamah ayat 37 - Gambar 2
Statistik QS. 75:37
  • Rating RisalahMuslim
4.5

Ayat ini terdapat dalam surah Al Qiyaamah.

Surah Al-Qiyamah (Arab: القيمة , “Hari Kiamat”) adalah surah ke-75 dalam Alquran.
Surah ini terdiri atas 40 ayat, termasuk golongan surah Makkiyah serta diturunkan sesudah surah Al-Qari’ah.
Kata Al-Qiyamah (hari kiamat) diambil dari perkataan Al-Qiyamah yang terdapat pada ayat pertama surat ini.

Nomor Surah 75
Nama Surah Al Qiyaamah
Arab القيامة
Arti Kiamat
Nama lain La uqsimu bi yaumil qiyamah
Tempat Turun Mekkah
Urutan Wahyu 31
Juz Juz 29
Jumlah ruku’ 2 ruku’
Jumlah ayat 40
Jumlah kata 144
Jumlah huruf 676
Surah sebelumnya Surah Al-Muddassir
Surah selanjutnya Surah Al-Insan
Sending
User Review
4.5 (9 suara)
Bagikan ke FB
Bagikan ke TW
Bagikan ke WA
Tags:
75:37, 75 37, 75-37, Surah Al Qiyaamah 37, Tafsir surat AlQiyaamah 37, Quran Al Qiyamah 37, Al-Qiyamah 37, Surah Al Qiyamah ayat 37
Keluarga Anda ada yang belum mahir membaca Alquran? Ingin segera bisa?
Klik di sini sekarang!

Video Surah 75:37

More Videos

Kandungan Surah Al Qiyaamah

۞ QS. 75:3 • Cobaan kubur • Mengingkari hari kebangkitan • Manusia dibangkitkan dari kubur

۞ QS. 75:4 • Kekuasaan Allah • Al Qaadir (Maha Kuasa)

۞ QS. 75:5 • Mengingkari hari kebangkitan • Keingkaran dan kedurhakaan orang kafir

۞ QS. 75:6 • Mengingkari hari kebangkitan • Keingkaran dan kedurhakaan orang kafir

۞ QS. 75:7 • Kedahsyatan hari kiamat

۞ QS. 75:8 • Kedahsyatan hari kiamat

۞ QS. 75:9 • Kedahsyatan hari kiamat

۞ QS. 75:10 • Kedahsyatan hari kiamat • Penghimpunan manusia dan keadaan mereka

۞ QS. 75:11 • Kedahsyatan hari kiamat

۞ QS. 75:12 Ar Rabb (Tuhan) • Kebenaran hari penghimpunan

۞ QS. 75:13 • Sifat hari penghitungan • Menghitung amal kebaikan

۞ QS. 75:14 • Manusia bersaksi atas dirinya • Sifat hari penghitungan

۞ QS. 75:15 • Manusia bersaksi atas dirinya • Sifat hari penghitungan

۞ QS. 75:19 Al Qur’an terpelihara dari penyelewengan

۞ QS. 75:21 • Mempersiapkan diri menghadapi hari kiamat • Mengingkari hari kebangkitan

۞ QS. 75:22 • Penghimpunan manusia dan keadaan mereka • Sifat ahli surga

۞ QS. 75:23 • Melihat Allah di surga • Ar Rabb (Tuhan)

۞ QS. 75:24 • Keadaan orang kafir pada hari penghimpunan • Sifat ahli neraka dan kejahatan mereka

۞ QS. 75:25 • Keadaan orang kafir pada hari penghimpunan

۞ QS. 75:26 • Kematian pasti terjadi pada setiap makhluk hidup • Saat kematian seorang mukmin • Saat kematian orang kafir

۞ QS. 75:27 • Kematian pasti terjadi pada setiap makhluk hidup • Saat kematian seorang mukmin • Saat kematian orang kafir

۞ QS. 75:28 • Kematian pasti terjadi pada setiap makhluk hidup • Saat kematian seorang mukmin • Saat kematian orang kafir

۞ QS. 75:29 • Kematian pasti terjadi pada setiap makhluk hidup • Saat kematian seorang mukmin • Saat kematian orang kafir

۞ QS. 75:30 Ar Rabb (Tuhan) • Kematian pasti terjadi pada setiap makhluk hidup • Masa cepat berlalu

۞ QS. 75:31 • Keingkaran dan kedurhakaan orang kafir

۞ QS. 75:32 • Keingkaran dan kedurhakaan orang kafir

۞ QS. 75:33 • Keingkaran dan kedurhakaan orang kafir

۞ QS. 75:34 • Maksiat dan dosa

۞ QS. 75:35 • Maksiat dan dosa

۞ QS. 75:36 • Mengingkari hari kebangkitan

۞ QS. 75:40 • Kekuasaan Allah • Al MuhyiAl Mumiit (Maha Menghidupkan dan Mematikan) • Beberapa ayat yang menjelaskan tentang hari kebangkitan

Ayat Pilihan

Jika Allah menghendaki untuk membinasakan kalian,
niscaya Dia–karena kemahasempurnaan kekuasaan-Nya–akan melakukannya.
Lalu Dia menciptakan makhluk baru yang sesuai dengan kebijakan-Nya.
QS. Fatir [35]: 16

Teman-teman akrab pada hari itu sebagiannya menjadi musuh bagi sebagian yang lain kecuali orang-orang yang bertakwa.
QS. Az-Zukhruf [43]: 67

Tiada Tuhan selain Dia, Raja, Yang Maha Suci, Yang Maha Sejahtera,
Yang Mengaruniakan Keamanan, Yang Maha Memelihara,
Yang Maha Perkasa, Yang Maha Kuasa, Yang Memiliki segala Keagungan,
Maha Suci Allah dari apa yang mereka persekutukan
QS. Al-Hasyr [59]: 23

Dan barang siapa mengerjakan amal-amal yang saleh & ia dalam keadaan beriman,
maka ia tidak khawatir akan perlakuan yang tidak adil (terhadapnya)
dan tidak (pula) akan pengurangan haknya.
QS. Ta Ha [20]: 112

Hadits Shahih

Podcast

Doa Sehari-hari

Soal & Pertanyaan Agama

Pengertian ijtihad menurut istilah adalah ...

Correct! Wrong!

Orang yang memiliki kemampuan untuk melakukan infefensi hukum-hukum syariat dari sumber-sumber yang terpercaya disebut dengan ...

Correct! Wrong!

Penjelasan:
Mujtahid (bahasa Arab: u0627u0644u0645u062cu062au0647u062f) atau fakih (u0627u0644u0641u0642u064au0647) adalah seseorang yang dalam ilmu fikih sudah mencapai derajat ijtihad dan memiliki kemampuan istinbath (inferensi) hukum-hukum syariat dari sumber-sumber muktabar dan diandalkan.

Berdasarkan bahasa, ijma artinya adalah ...

Correct! Wrong!

+

Array

Arti hadits maudhu' adalah ...

Correct! Wrong!

Era ketidaktahuan juga disebut zaman ...

Correct! Wrong!

Pendidikan Agama Islam #9
Ingatan kamu cukup bagus untuk menjawab soal-soal ujian sekolah ini.

Pendidikan Agama Islam #9 1

Mantab!! Pertahankan yaa..
Jawaban kamu masih ada yang salah tuh.

Pendidikan Agama Islam #9 2

Belajar lagi yaa...

Share your Results:

Soal Agama Islam

Pendidikan Agama Islam #3

Pembatasan aurat wanita adalah … Berikut ini yang bukan termasuk orang-orang pertama yang menyambut ajakan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah … Dalam Islam, pakaian harus … Sebelum berpakaian, kita harus … Bagian tubuh yang tidak ditampakkan sesuai dengan ajaran Islam disebut …

Pendidikan Agama Islam #21

Pembukuan Alquran dilakukan pada masa khalifah … Setiap bencana dan musibah yang menimpa manusia di bumi sudah tertulis dalam kitab … Bu Nindi mempersiapkan pakaian bayi, karena bu Nindi tidak lama lagi akan melahirkan bayinya, perilaku bu Nindi termasuk meyakini … Allah Subhanahu Wa Ta`ala.Allah Subhanahu Wa Ta`ala tidak akan merubah nasib suatu kaum , sebelum kaum itu sendiri yang merubahnya, arti ayat tersebut terdapat dalam Alquran surah ar-Rad ayat … Salah satu contoh hikmah beriman kepada qada bagi siswa adalah …

Pendidikan Agama Islam #7

Alquran adalah keterangan yang jelas untuk semua manusia, dan menjadi petunjuk serta pelajaran bagi orang-orang yang bertakwa. Penjelasan tersebut terdapat dalam surah … Hukum yang mengatur hubungan manusia dengan Tuhan secara lahiriah, manusia dengan sesama manusia dan orang-orang dengan lingkungannya disebut hukum … Hukum yang berkaitan dengan perilaku moral manusia dalam kehidupan disebut hukum … Sumber hukum tertinggi dalam Islam adalah ..Hadits adalah Mubayyin untuk Alquran. Arti dari Mubayyin adalah ..

Kamus Istilah Islam

tadarus

Apa itu tadarus? ta.da.rus pembacaan Alquran secara bersama-sama (dalam bulan puasa) … •

Al-Mujadilah

Apa itu Al-Mujadilah? Surah Al-Mujadilah (Arab: المجادلة, “Wanita Yang Mengajukan Gugatan”) adalah surah ke-58 dalam Alquran. Surah ini tergolong surah Madaniyah dan terdiri atas 2...

Al-Qari’ah

Apa itu Al-Qari’ah? Surah Al-Qari’ah (bahasa Arab:القارعة) adalah surah ke-101 dalam Alquran. Surah ini terdiri atas 11 ayat, termasuk golongan surah-surah Makkiyyah, diturunkan ses...