QS. Al Qiyaamah (Kiamat) – surah 75 ayat 37 [QS. 75:37]

اَلَمۡ یَکُ نُطۡفَۃً مِّنۡ مَّنِیٍّ یُّمۡنٰی
Alam yaku nuthfatan min manii-yin yumn(a);

Bukankah dia dahulu setetes mani yang ditumpahkan (ke dalam rahim),
―QS. 75:37
Topik ▪ Setiap nabi menerima ujian
75:37, 75 37, 75-37, Al Qiyaamah 37, AlQiyaamah 37, Al Qiyamah 37, Al-Qiyamah 37

Tafsir surah Al Qiyaamah (75) ayat 37

Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. Al Qiyaamah (75) : 37. Oleh Kementrian Agama RI

Dalam ayat-ayat ini, Allah mengingatkan kembali tentang asal mula penciptaan manusia, yaitu ia diciptakan dari setetes air mani yang ditumpahkan (ke dalam rahim) Kemudian mani itu menjadi segumpal darah, lalu Allah menciptakan, dan menyempurnakannya.
Allah juga menjadikan dari padanya sepasang laki-laki dan perempuan.

Ayat ini mengingatkan manusia yang ingkar bagaimana air mani itu diciptakan Allah menjadi daging yang dengannya manusia diciptakan dengan sempurna melalui proses kehamilan.
Adalah hal yang mudah juga bagi Allah menghidupkan manusia, kemudian mematikan dan menghidupkannya kembali.
Sperma laki-laki dan sel telur perempuan bercampur menjadi satu sehingga tercipta manusia yang sempurna, lengkap dengan penglihatan dan pendengaran, baik dari jenis laki-laki maupun perempuan.
Maka apakah manusia tidak pernah memikirkan bahwa sang Pencipta dari segala proses kejadian itu mampu pula menghancurkan dunia ini kemudian menciptakan hari Kiamat serta manusia yang telah mati dibangkitkan hidup kembali?
Ini suatu penegasan bagi manusia yang mau berpikir andaikata masih ragu-ragu tentang kekuasaan Allah untuk menghidupkan kembali manusia yang telah mati.

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Bukankah manusia berasal dari setetes air mani yang dikokohkan untuk dibentuk di dalam rahim, lalu menjadi ‘alaqah (segumpal darah kental) dan akhirnya diciptakan dan disempurnakan oleh Allah dalam bentuk yang sebaik-baiknya?

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(Bukankah dia dahulu) sebelum itu (setetes mani yang ditumpahkan) ke dalam rahim, lafal Yumnaa dapat pula dibaca Tumnaa.

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

Apakah manusia mengira bahwa ia akan dibiarkan begitu saja (tanpa pertanggungjawaban)?
(Q.S. Al-Qiyaamah [75]: 36)

As-Saddi mengatakan, makna yang dimaksud ialah apakah manusia mengira bahwa dirinya tidak dibangkitkan hidup kembali?
Menurut Mujahid, Imam Syafii, dan Abdur Rahman ibnu Zaid ibnu Aslam, maknanya apakah manusia mengira bahwa dia tidak dikenakan perintah dan larangan?
Tetapi makna lahiriah ayat menunjukkan pengertian umum yang mencakup kedua keadaan tersebut.
Dengan kata Lain, dapat disebutkan bahwa tidaklah ia dibiarkan begitu saja di dunia ini tanpa dikenakan perintah dan larangan, dan tidak dibiarkan pula di dalam kuburnya dengan sia-sia tanpa dibangkitkan kembali; bahkan dia dikenai perintah dan larangan di dunia ini, lalu digiring kembali kepada Allah di hari kemudian setelah dibangkitkan.

Makna yang dimaksud ialah menguatkan adanya hari berbangkit dan sekaligus menyanggah pendapat orang yang mengingkarinya dari kalangan orang-orang yang sesat, bodoh, lagi pengingkar kebenaran.
Karena itulah dalam firman selanjutnya disebutkan hal yang menunjukkan adanya hari berbangkit itu melalui penciptaan manusia dari permulaannya:

Bukankah dia dahulu setetes mani (nutfah) yang ditumpahkan (ke dalam rahim)?
(Q.S. Al-Qiyaamah [75]: 37)

Artinya, tidakkah manusia ingat bahwa asal dirinya adalah nutfah yang lemah berupa air mani yang dipancarkan dari sulbi ke dalam rahim.

kemudian nutfah itu menjadi ‘alaqah, lalu Allah menciptakannya dan menyempurnakannya.
(Q.S. Al-Qiyaamah [75]: 38)

Yakni lalu jadilah ia ‘alaqah, kemudian diberi bentuk, lalu ditiupkan roh ke dalam tubuhnya sehingga jadilah ia makhluk lain yang sempurna dan memiliki anggota tubuh yang lengkap, apakah dia laki-laki atau perempuan dengan seizin Allah dan takdirnya.
Karena itulah disebutkan dalam firman berikutnya:

lalu Allah menjadikan darinya sepasang laki-laki dan perempuan.
(Q.S. Al-Qiyaamah [75]: 39)

Lalu disebutkan pula dalam firman berikutnya:

Bukankah (Allah yang berbuat) demikian berkuasa (pula) menghidupkan orang mati?
(Q.S. Al-Qiyaamah [75]: 40)

Yaitu bukankah Tuhan yang menciptakan makhluk yang sempurna ini dari nutfah yang lemah berkuasa pula untuk mengembalikannya hidup seperti semula ketika Dia menciptakannya?

Kekuasaan mengembalikan hidup seperti semula ini adakalanya tersimpulkan melalui analogi prima bila dikaitkan dengan permuiaan penciptaan, atau adakalanya melalui analogi sepadan.
Ada dua pendapat mengenainya, yang tersimpulkan dari makna firman-Nya:

Dan Dialah yang menciptakan (manusia) dari permulaan, kemudian mengembalikannya (menghidupkannya) kembali, dan menghidupkan kembali itu adalah lebih mudah bagi-Nya.
(Ar-Rum: 27)

Tetapi pendapat pertamalah yang lebih terkenal, sebagaimana yang telah disebutkan di dalam tafsir surat Ar-Rum keterangannya dengan lengkap; hanya Allah-lah Yang Maha Mengetahui.

Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Al-Hasan ibnu Muhammad ibnus Sabah, telah menceritakan kepada kami Syababah, dari Syu’bah, dari Musa ibnu Abu Aisyah, dari seseorang, bahwa dia berada di atas puncak rumah membaca Al-Qur’an dengan suara yang keras.
Manakala bacaannya sampai pada firman Allah subhanahu wa ta’ala: Bukankah (Allah yang berbuat) demikian berkuasa (pula) menghidupkan orang mati?
(Q.S. Al-Qiyaamah [75]: 40) Maka ia mengucapkan, “Mahasuci Engkau, ya Allah, bukan demikian.” Ketika ia ditanya mengenai hal itu, maka ia menjawab bahwa dirinya pernah mendengar Rasulullah ﷺ mengucapkan demikian.

Abu Daud rahimahullah mengatakan, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnul Musanna, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Ja’far, telah menceritakan kepada kami Syu’bah, dari Musa ibnu Abu Aisyah yang menceritakan bahwa pernah ada seorang lelaki salat di atas rumahnya, dan manakala ia membaca firman-Nya: Bukankah (Allah yang berbuat) demikian berkuasa (pula) menghidupkan orang mati?
(Q.S. Al-Qiyaamah [75]: 40) Lalu ia berkata, “Mahasuci Engkau, bukan demikian.” Kemudian mereka bertanya kepadanya tentang hal tersebut.
Ia menjawab, bahwa dirinya telah mendengar Rasulullah ﷺ mengatakannya.

Hadis ini diriwayatkan secara tunggal oleh Imam Abu Daud, dan mengenai nama sahabat yang tidak disebutkan tidak menjadi masalah bagi hadis ini (sebab semua sahabat dinilai adil).

Imam Abu Daud mengatakan pula:

telah menceritakan kepada kami Abdullah Ibnu Muhammad Az-Zuhri, telah menceritakan kepada kami Sufyan, telah menceritakan kepadaku Ismail ibnu Umayyah; bahwa ia mendengar seorang Badui mengatakan bahwa ia pernah mendengar Abu Hurairah r.a.
mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda, “Barang siapa dari kamu membaca surat At-Tin, lalu bacaannya sampai pada firman Allah subhanahu wa ta’ala: ‘Bukankah Allah adalah Hakim yang seadil-adilnya?
‘ (Q.S. At-Tin [95]: 8) Hendaklah ia menjawab: ‘Bukan demikian yang sebenarnya, dan aku termasuk orang-orang yang menyaksikan hal tersebut.’ Dan barang siapa yang membaca firman-Nya: ‘Aku bersumpah dengan hari kiamat (Q.S. Al-Qiyaamah [75]: 1).
Lalu bacaannya sampai pada firman-Nya: ‘Bukankah (Allah yang berbuat) demikian berkuasa (pula) menghidupkan orang mati?’ (Q.S. Al-Qiyaamah [75]: 40) Hendaklah ia mengucapkan, ‘Bukan demikian sebenarnya.’ Dan barang siapa yang membaca surat Al-Mursalat, lalu bacaannya sampai pada firman Allah subhanahu wa ta’ala: ‘Maka kepada perkataan apakah selain Al-Qur’an ini mereka beriman?’ (Q.S. Al-Mursalat [77]: 50) Hendaklah iamengucapkan: ‘Kami beriman kepada Allah’.”

Imam Ahmad meriwayatkan ini dari Sufyan ibnu Uyaynah, dan Imam Turmuzi meriwayatkannya dari Ibnu Abu Umar ibnu Sufyan ibnu Uyaynah dengan sanad yang sama.
Syu’bah telah meriwayatkannya dari Ismail ibnu Umayyah yang mengatakan bahwa aku bertanya kepada Ismail, “Siapakah yang menceritakan ini kepadamu?”
Ia menjawab, “Seorang lelaki yang jujur, dari Abu Hurairah.”

Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepada kami Bisyr, telah menceritakan kepada kami Yazid, telah menceritakan kepada kami Sa’id, dari Qatadah sehubungan dengan makna firman-Nya: Bukankah (Allah yang berbuat) demikian berkuasa (pula) menghidupkan orang mati?
(Q.S. Al-Qiyaamah [75]: 40) Telah diceritakan kepada kami, bahwa Rasulullah ﷺ apabila membaca ayat ini selalu mengucapkan: Bukan demikian sebenarnya, Mahasuci Engkau.

Kemudian Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ahmad ibnu Sinan Al-Wasiti, telah menceritakan kepada kami Abu Ahmad Az-Zubairi, telah menceritakan kepada kami Sufyan, dari Abu Ishaq, dari Muslim Al-Batin.
dari Sa’id ibnu Jubair, dari Ibnu Abbas, bahwa bacaannya pernah sampai pada firman-Nya: Bukankah (Allah yang berbuat) demikian “berkuasa (pula) menghidupkan orang mati?
(Q.S. Al-Qiyaamah [75]: 40) Lalu Ibnu Abbas mengucapkan, “Mahasuci Engkau, hal yang sebenarnya bukan demikian.”


Informasi Surah Al Qiyaamah (القيامة)
Surat Al Qiyaamah terdiri atas 40 ayat, termasuk golongan surat-surat Makkiyyah, diturunkan sesudah surat Al Qaari’ah.

Dinamai “Al Qiyaamah” (hari kiamat) diambil dari perkataan “Al Qiyaamah” yang terdapat pada ayat pertama surat ini.

Keimanan:

Kepastian terjadinya hari kiamat dan huru-hara yang terjadi padanya
jaminan Allah terhadap ayat-ayat Al Qur’an dalam dada Nabi sehingga Nabi tidak lupa tentang urutan arti dan pembacaannya
celaan Allah kepada orang-orang musyrik yang lebih mencintai dunia dan meninggalkan akhirat
keadaan manusia di waktu sakaratul maut.

Ayat-ayat dalam Surah Al Qiyaamah (40 ayat)

Audio

Qari Internasional

Q.S. Al-Qiyaamah (75) ayat 37 - Oleh Syekh Mishari Alafasy
Q.S. Al-Qiyaamah (75) ayat 37 - Oleh Syekh Sa'ad Al-Ghamidi
Q.S. Al-Qiyaamah (75) ayat 37 - Oleh Syekh Muhammad Ayyub

Q.S. Al-Qiyamah (75) ayat 1-40 - Barsena Bestandhi (Bahasa Indonesia)
Q.S. Al-Qiyamah (75) ayat 1-40 - Barsena Bestandhi (Bahasa Arab)

Murottal al-Qur'an & Terjemahan Indonesia
Q.S. Al-Qiyaamah - Oleh Syekh Misyari Rasyid Alafasy
Full ayat 1 sampai 40 & Terjemahan


Gambar



Statistik Q.S. 75:37
  • Rating RisalahMuslim

Ayat ini terdapat dalam surah Al Qiyaamah.

Surah Al-Qiyamah (Arab: القيمة , "Hari Kiamat") adalah surah ke-75 dalam al-Qur'an.
Surah ini terdiri atas 40 ayat, termasuk golongan surah Makkiyah serta diturunkan sesudah surah Al-Qari'ah.
Kata Al-Qiyamah (hari kiamat) diambil dari perkataan Al-Qiyamah yang terdapat pada ayat pertama surat ini.

Nomor Surah 75
Nama Surah Al Qiyaamah
Arab القيامة
Arti Kiamat
Nama lain La uqsimu bi yaumil qiyamah
Tempat Turun Mekkah
Urutan Wahyu 31
Juz Juz 29
Jumlah ruku' 2 ruku'
Jumlah ayat 40
Jumlah kata 144
Jumlah huruf 676
Surah sebelumnya Surah Al-Muddassir
Surah selanjutnya Surah Al-Insan
4.5
Ratingmu: 4.5 (9 orang)
Sending









Iklan

Video

Panggil Video Lainnya


Podcast

Ikuti RisalahMuslim
               





Copied!

Masukan & saran kirim ke email:
[email protected]

Made with in Yogyakarta