Search
Generic filters
Cari Kategori
🙏 Pilih semua
Quran
Hadits
Kamus
Podcast
Soal Agama
Artikel, Doa, dll.

QS. Al Qiyaamah (Kiamat) – surah 75 ayat 22 [QS. 75:22]

وُجُوۡہٌ یَّوۡمَئِذٍ نَّاضِرَۃٌ
Wujuuhun yauma-idzin naadhiratun;
Wajah-wajah (orang mukmin) pada hari itu berseri-seri,
―QS. Al Qiyaamah [75]: 22

Daftar isi

(Some) faces, that Day, will be radiant,
― Chapter 75. Surah Al Qiyaamah [verse 22]

وُجُوهٌ wajah-wajah

Faces
يَوْمَئِذٍ pada hari itu

that Day
نَّاضِرَةٌ berseri-seri

(will be) radiant,

Tafsir Quran

Surah Al Qiyaamah
75:22

Tafsir QS. Al-Qiyamah (75) : 22. Oleh Kementrian Agama RI

Ayat ini menerangkan sebagian hal ihwal manusia pada hari kebangkitan saat wajah-wajah orang beriman pada waktu itu berseri-seri.
Golongan yang gembira dan berwajah ceria inilah calon penghuni surga.

Merekalah yang berwajah cerah yang mengharapkan perjumpaan dengan Tuhannya.

Di mana pun mereka dapat melihat-Nya.

Artinya mereka langsung memandang kepada Allah tanpa dinding pembatas (hijab).
Demikian kesimpulan pendapat ulama ahli sunnah berdasarkan hadis-hadis sahih yang menerangkan lebih lanjut tentang makna melihat Tuhan yang disebutkan dalam ayat ini.

Dikatakan bahwa orang yang beriman yang beruntung melihat Allah dengan mata kepalanya sendiri pada hari akhirat sebagaimana mereka melihat bulan purnama yang bersinar terang benderang yang tidak ada awan di bawahnya.
Hadis Bukhari yang menyebutkan hal itu berbunyi:

Sesungguhnya kamu akan melihat Tuhanmu dengan mata kepalamu sendiri (terang-terang) sebagaimana kamu melihat bulan (purnama), kamu tidak berdesak-desakan dalam melihat-Nya.

Jika kamu mampu tidak meninggalkan salat sebelum terbit matahari dan terbenam matahari maka lakukanlah.
(Riwayat Bukhari dan Muslim dari Jarir bin ‘Abdillah)

Sekalipun ada keterangan yang jelas dari ayat 22 ini yang diperkuat dengan beberapa hadis di atas yang menegaskan bahwa manusia mukmin nanti melihat sendiri wajah Allah itu, namun sebagian dari ulama salaf mencoba mentakwilkan (memalingkan) pengertian ayat dan hadis-hadis tersebut.

Mujahid (seorang tabiin yang terkenal) berpendapat bahwa arti melihat Allah di dalam surga adalah
"melihat pahala yang ada di sisi Allah".
Namun hal demikian dianggap tidak berdasarkan alasan yang kuat, sebab kata-kata
"nadhara"
(melihat) dalam bahasa Arab betul-betul berarti melihat dengan mata kepala sendiri bukan melihat dengan mata hati dan sebagainya.

Permasalahan tentang
"apakah manusia nanti melihat Allah pada hari Kiamat atau tidak?"
menjadi persoalan yang diperselisihkan (khilafiah) sejak dari dahulu.
Ulama ahli sunnah tetap berpendirian bahwa orang mukmin pasti melihat Allah berdasarkan ayat di atas, ditambah keterangan dari berbagai hadis sahih.
Sebaliknya ulama-ulama Mu’tazilah menegaskan tidak mungkin sama sekali manusia melihat wajah dan zat Allah berdasarkan bunyi ayat ke 103 Surah Al-An’am:
Dia tidak dapat dicapai oleh penglihatan mata, sedang Dia dapat melihat segala penglihatan itu.

Ayat ini, menurut Mu’tazilah, terbatas pengertiannya pada melihat nikmat, keridaan, dan pahala yang disediakan Allah.
Persoalan akhirat adalah persoalan gaib, tidak dapat kita ukur dalam perbandingan dengan apa yang ada sekarang.

Jalan yang ringkas dan selamat serta tidak terlibat dalam pertikaian yang berlarut-larut itu adalah
"mengimani sepenuhnya apa yang diberikan ayat tanpa membahasnya lagi.
Bagaimana pengertian yang sesungguhnya, kita serahkan kepada Allah saja.
Masih banyak lapangan ijtihad (pemikiran) yang lain bila seseorang ingin mendalami maksud ayat-ayat suci Alquran."

Berikut ini kita kutip beberapa hadis tentang melihat Allah di akhirat:

Orang-orang bertanya kepada Rasulullah ﷺ,
"Wahai Rasulullah apakah kami dapat melihat Tuhan kami di hari Kiamat kelak?"
Beliau menjawab,
"Apakah sulit bagi kalian melihat matahari dan bulan yang tidak dihalangi oleh awan?"
Mereka menjawab,
"Tidak."
Beliau bersabda lagi,
"Demikian pula kamu melihat Tuhanmu."
(Riwayat Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah)

Diriwayatkan dari suhaib dari Nabi ﷺ bahwa beliau bersabda,
"Bila penduduk surga telah masuk ke dalam surga, Allah ﷻ berfirman, ‘Apakah engkau ingin lagi sesuatu yang hendak Aku tambahkan?
Mereka menjawab, ‘Bukankah Engkau sudah cerahkan wajah kami, bukankah telah Engkau masukkan kami ke dalam surga.
Dan telah Engkau lepaskan kami dari api neraka?
Allah menjawab dan kemudian hijab pun tersingkap, maka tiadalah sesuatu pemberian yang lebih mereka senangi selain daripada melihat Tuhan mereka."
Kemudian beliau membaca ayat ini (Yunus [10]: 26):
lilladhina ahsanu Al-husna wa ziyadah (Riwayat Muslim)

Tafsir QS. Al Qiyaamah (75) : 22. Oleh Muhammad Quraish Shihab:


Pada hari itu, wajah orang-orang Mukmin nampak berseri-seri melihat Tuhannya, tanpa ditentukan bagaimana cara melihat-Nya, dari arah mana dan dari jarak berapa.

Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:


Wajah-wajah para peghuni kebahagiaan (surga) pada hari itu berseri-seri, indah dilihat.
Mereka melihat Sang Pencipta dan Pemilik mereka kemudian bersenang-senang dengan hal itu.

Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:



(Wajah-wajah pada hari itu) pada hari kiamat


(ada yang berseri-seri) tampak cerah dan bercahaya.

Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

Sekali-kali janganlah demikian.
Sebenarnya kamu (hai manusia) mencintai kehidupan dunia dan meninggalkan (kehidupan) akhirat.
(QS. Al-Qiyamah [75]: 20-21)

Sesungguhnya yang mendorong mereka mendustakan hari kiamat, menentang wahyu kebenaran dan Alquran yang mulia yang diturunkan Allah kepada Rasul-Nya tiada lain karena tujuan mereka hanyalah kehidupan dunia yang segera dan mereka sama sekali melupakan kehidupan akhirat.


Kemudian Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

Wajah-wajah (orang-orang mukmin) pada hari itu berseri-seri.
(QS. Al-Qiyamah [75]: 22)

Berakar dari kata an-nadarah artinya cerah, berseri, dan riang gembira.

Kepada Tuhannyalah mereka melihat.
(QS. Al-Qiyamah [75]: 23)

Yakni melihat Tuhannya dengan terang-terangan, sebagaimana yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari rahimahullah di dalam kitab sahihnya:

Sesungguhnya kamu kelak akan melihat Tuhanmu dengan terang-terangan.

Dan sesungguhnya mengenai masalah melihatnya kaum mukmin kepada Allah subhanahu wa ta’ala di negeri akhirat (di surga) telah dikuatkan oleh adanya hadis-hadis sahih yang diriwayatkan melalui berbagai jalur yang mutawatir, yang telah dinukil oleh para imam ahli hadis, sehingga tidak mungkin ditolak atau dicegah lagi kebenarannya.


Hadis yang bersumber dari Abu Sa’id dan Abu Hurairah yang keduanya ada di dalam kitab Sahihain disebutkan bahwa sejumlah orang bertanya,
"Wahai Rasulullah, apakah kita dapat melihat Tuhan kita di hari kiamat nanti?"
Rasulullah ﷺ balik bertanya:


"Apakah kamu berdesak-desakan saat melihat matahari dan bulan di hari yang tak berawan?"
Mereka menjawab,
"Tidak."
Rasulullah ﷺ bersabda,
"Sesungguhnya kalian akan melihat Tuhan kalian seperti itu."

Di dalam kitab Sahihain dari Jarir, disebutkan bahwa Rasulullah ﷺ memandang rembulan di malam purnama, lalu bersabda:

Sesungguhnya kamu akan melihat Tuhanmu sebagaimana kamu melihat rembulan ini;
jika kamu mampu untuk meluangkan waktumu guna mengerjakan salat sebelum matahari terbit dan sebelum tenggelamnya, maka lakukanlah.

Di dalam kitab Sahihain disebutkan melalui Abu Musa yang mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda:

Ada dua surga yang semua wadahnya dan segala isinya dari emas, dan ada pula dua surga yang semua wadahnya dan segala isinya dari perak.
sedangkan tiada penghalang antara kaum (penghuni surga) dan kesempatan mereka untuk melihat Allah subhanahu wa ta’ala, melainkan hanya selendang Keagungan-(Nya) yang menghijab Zat-Nya di dalam surga Adn.

Di dalam hadis ifrad Imam Muslim disebutkan melalui Suhaib, dari Nabi ﷺ Yang telah bersabda:

Apabila ahli surga telah masuk surga—Nabi ﷺ melanjutkan—Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,
"Apakah kamu menginginkan sesuatu tambahan yang Aku akan berikan kepadamu?"
Mereka menjawab,
"Bukankah Engkau telah menjadikan wajah kami putih (bercahaya), dan bukankah Engkau telah memasukkan kami ke dalam surga dan menyelamatkan kami dari neraka?"Nabi Saw, melanjutkan, bahwa lalu Allah membuka tirai hijab-(Nya), maka tiada sesuatu nikmat pun yang diberikan kepada mereka lebih disukai oleh mereka selain memandang kepada Zat Tuhan mereka;
inilah yang dimaksud dengan tambahan.

Kemudian Nabi ﷺ membaca firman-Nya:

Bagi orang-orang yang berbuat baik, ada pahala yang terbaik (surga) dan tambahannya.
(QS. Yunus [10]: 26)

Di dalam hadis ifrad Imam Muslim disebutkan sebuah hadis dari Jabir yang menyebutkan bahwa Allah subhanahu wa ta’ala menampakkan diri-Nya dengan penampilan yang penuh dengan keridaan kepada orang-orang mukmin.
Semua hadis di atas menunjukkan bahwa orang-orang mukmin dapat melihat Tuhan mereka di tempat pemberhentian hari kiamat dan juga di taman-taman surga.


Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abu Mu’awiyah, telah menceritakan kepada kami Abdul Malik ibnu Abjar, telah menceritakan kepada kami Yazid ibnu Abu Fakhitah, dari Ibnu Umar yang mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda:

Sesungguhnya ahli surga yang paling rendah kedudukannya benar-benar perlu waktu dua ribu tahun untuk melihat semua kerajaannya;
bagian yang terjauhnya dapat ia lihat sebagaimana ia melihat bagian yang terdekatnya;
ia melihat semua istri dan pelayannya.
Dan sesungguhnya ahli surga yang paling utama kedudukannya benar-benar dapat melihat Zat Allah setiap harinya sebanyak dua kali.

Imam Turmuzi meriwayatkannyadari Abdu ibnu Humaid, dari Syababah, dari Israil, dari Nuwayyir yang mengatakan bahwa ia pernah mendengar Ibnu Umar r.a., lalu disebutkan hal yang semisal.
Imam Turmuzi mengatakan bahwa Abdul Malik ibnu Abjar telah meriwayatkan hadis ini dari Mujahid, dari Ibnu Umar.
Demikian pula As-Sauri, dia meriwayatkannya dari Nuwayyir, dari Mujahid, dari Ibnu Umar, tetapi tidak marfu’.

Seandainya tidak khawatir akan menjadikan pembahasan bertele-tele, tentulah kami akan mengemukakan hadis-hadis mengenai hal ini berikut semua jalur periwayatan dan lafaz-lafaznya, baik dari kitab Sahih, kitab Hisan, kitab Masanid, maupun kitab Sunan.
Dan kami hanya dapat mengetengahkannya secara terpisah-pisah di berbagai tempat dalam tafsir ini, dan hanya kepada Allah-lah kita memohon taufik.


Masalah ini Alhamdulillah telah menjadi kesepakatan di antara para sahabat dan para tabi’in serta kaum Salaf dari umat ini (yakni orang-orang mukmin dapat melihat Zat Tuhannya di hari kemudian).
Sebagaimana hal ini telah disepakati pula di kalangan para imam Islam dan para ulama pemberi petunjuk manusia.


Mengenai pendapat orang yang menakwilkan lafaz ila dalam ayat ini sebagai bentuk tunggal dari ala yang artinya nikmat-nikmat, seperti yang dikatakan oleh As-Sauri, dari Mansur, dari Mujahid sehubungan dengan makna firman-Nya:
Kepada Tuhannyalah mereka melihat.
(QS. Al-Qiyamah [75]: 23)

Bahwa makna yang dimaksud menjadi seperti berikut,
"Orang-orang mukmin di hari itu menunggu pahala dari Tuhan mereka."
Ibnu Jarir telah meriwayatkan pendapat ini melalui berbagai jalur dari Mujahid.
Hal yang sama dikatakan pula oleh Abu Saleh.
Maka sesungguhnya pendapat ini jauh panggang dari api.
Lalu bagaimanakah jawaban orang yang berpendapat demikian dengan adanya firman Allah subhanahu wa ta’ala yang mengatakan:

Sekali-kali tidak, sesungguhnya mereka pada hari itu benar-benar terhalang dari (melihat) Tuhan mereka.
(QS. Al-Mutaffifin [83]: 15)

Imam Syafii mengatakan bahwa tidaklah orang-orang durhaka dihalangi dari melihat Tuhan mereka, melainkan karena telah diketahui bahwa orang-orang yang bertakwa dapat melihat Tuhan mereka.
Telah banyak pula hadis-hadis dari Rasulullah ﷺ secara mutawatir menunjukkan pengertian yang sama dengan konteks ayat yang mulia, yaitu firman-Nya:
Kepada Tuhannyalah mereka melihat.
(QS. Al-Qiyamah [75]: 23)

Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Ismail Al-Bukhari, telah menceritakan kepada kami Adam, telah menceritakan kepada kami Al-Mubarak, dari Al-Hasan sehubungan dengan makna firman Allah subhanahu wa ta’ala:
Wajah-wajah (orang-orang mukmin) pada hari itu berseri-seri.
(QS. Al-Qiyamah [75]: 22)
Yakni tampak indah berseri-seri dan ceria.
Kepada Tuhannyalah mereka melihat.
(QS. Al-Qiyamah [75]: 23)
Bahwa mereka memandang kepada Khaliq, dan sudah sepantasnya bagi mereka berseri-seri karena melihat kepada Zat Khaliqnya.

Unsur Pokok Surah Al Qiyaamah (القيامة)

Surat Al Qiyaamah terdiri atas 40 ayat, termasuk golongan surat-surat Makkiyyah, diturunkan sesudah surat Al-Qari’ah.

Dinamai "Al Qiyaamah" (hari kiamat) diambil dari perkataan "Al Qiyaamah" yang terdapat pada ayat pertama surat ini.

Keimanan:

▪ Kepastian terjadinya hari kiamat dan huru-hara yang terjadi padanya.
▪ Jaminan Allah terhadap ayat-ayat Alquran dalam dada Nabi sehingga Nabi tidak lupa tentang urutan arti dan pembacaannya.
▪ Celaan Allah kepada orang-orang musyrik yang lebih mencintai dunia dan meninggalkan akhirat.
▪ Keadaan manusia di waktu sakaratul maut.

Ayat-ayat dalam Surah Al Qiyaamah (40 ayat)

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40

Lihat surah lainnya

Audio Murottal

QS. Al-Qiyaamah (75) : 1-40 ⊸ Misyari Rasyid Alafasy
Ayat 1 sampai 40 + Terjemahan Indonesia



QS. Al-Qiyaamah (75) : 1-40 ⊸ Nabil ar-Rifa’i
Ayat 1 sampai 40

Gambar Kutipan Ayat

Surah Al Qiyaamah ayat 22 - Gambar 1 Surah Al Qiyaamah ayat 22 - Gambar 2
Statistik QS. 75:22
  • Rating RisalahMuslim
4.8

Ayat ini terdapat dalam surah Al Qiyaamah.

Surah Al-Qiyamah (Arab: القيمة , “Hari Kiamat”) adalah surah ke-75 dalam Alquran.
Surah ini terdiri atas 40 ayat, termasuk golongan surah Makkiyah serta diturunkan sesudah surah Al-Qari’ah.
Kata Al-Qiyamah (hari kiamat) diambil dari perkataan Al-Qiyamah yang terdapat pada ayat pertama surat ini.

Nomor Surah 75
Nama Surah Al Qiyaamah
Arab القيامة
Arti Kiamat
Nama lain La uqsimu bi yaumil qiyamah
Tempat Turun Mekkah
Urutan Wahyu 31
Juz Juz 29
Jumlah ruku’ 2 ruku’
Jumlah ayat 40
Jumlah kata 144
Jumlah huruf 676
Surah sebelumnya Surah Al-Muddassir
Surah selanjutnya Surah Al-Insan
Sending
User Review
4.6 (8 suara)
Bagi ke FB
Bagi ke TW
Bagi ke WA
Tags:

75:22, 75 22, 75-22, Surah Al Qiyaamah 22, Tafsir surat AlQiyaamah 22, Quran Al Qiyamah 22, Al-Qiyamah 22, Surah Al Qiyamah ayat 22

Video Surah

75:22


Load More

Kandungan Surah Al Qiyaamah

۞ QS. 75:3 • Cobaan kubur • Mengingkari hari kebangkitan • Manusia dibangkitkan dari kubur

۞ QS. 75:4 • Kekuasaan Allah • Al Qaadir (Maha Kuasa)

۞ QS. 75:5 • Mengingkari hari kebangkitan • Keingkaran dan kedurhakaan orang kafir

۞ QS. 75:6 • Mengingkari hari kebangkitan • Keingkaran dan kedurhakaan orang kafir

۞ QS. 75:7 • Kedahsyatan hari kiamat

۞ QS. 75:8 • Kedahsyatan hari kiamat

۞ QS. 75:9 • Kedahsyatan hari kiamat

۞ QS. 75:10 • Kedahsyatan hari kiamat • Penghimpunan manusia dan keadaan mereka

۞ QS. 75:11 • Kedahsyatan hari kiamat

۞ QS. 75:12 Ar Rabb (Tuhan) • Kebenaran hari penghimpunan

۞ QS. 75:13 • Sifat hari penghitungan • Menghitung amal kebaikan

۞ QS. 75:14 • Manusia bersaksi atas dirinya • Sifat hari penghitungan

۞ QS. 75:15 • Manusia bersaksi atas dirinya • Sifat hari penghitungan

۞ QS. 75:19 Al Qur’an terpelihara dari penyelewengan

۞ QS. 75:21 • Mempersiapkan diri menghadapi hari kiamat • Mengingkari hari kebangkitan

۞ QS. 75:22 • Penghimpunan manusia dan keadaan mereka • Sifat ahli surga

۞ QS. 75:23 • Melihat Allah di surga • Ar Rabb (Tuhan)

۞ QS. 75:24 • Keadaan orang kafir pada hari penghimpunan • Sifat ahli neraka dan kejahatan mereka

۞ QS. 75:25 • Keadaan orang kafir pada hari penghimpunan

۞ QS. 75:26 • Kematian pasti terjadi pada setiap makhluk hidup • Saat kematian seorang mukmin • Saat kematian orang kafir

۞ QS. 75:27 • Kematian pasti terjadi pada setiap makhluk hidup • Saat kematian seorang mukmin • Saat kematian orang kafir

۞ QS. 75:28 • Kematian pasti terjadi pada setiap makhluk hidup • Saat kematian seorang mukmin • Saat kematian orang kafir

۞ QS. 75:29 • Kematian pasti terjadi pada setiap makhluk hidup • Saat kematian seorang mukmin • Saat kematian orang kafir

۞ QS. 75:30 Ar Rabb (Tuhan) • Kematian pasti terjadi pada setiap makhluk hidup • Masa cepat berlalu

۞ QS. 75:31 • Keingkaran dan kedurhakaan orang kafir

۞ QS. 75:32 • Keingkaran dan kedurhakaan orang kafir

۞ QS. 75:33 • Keingkaran dan kedurhakaan orang kafir

۞ QS. 75:34 • Maksiat dan dosa

۞ QS. 75:35 • Maksiat dan dosa

۞ QS. 75:36 • Mengingkari hari kebangkitan

۞ QS. 75:40 • Kekuasaan Allah • Al Muhyi – Al Mumiit (Maha Menghidupkan dan Mematikan) • Beberapa ayat yang menjelaskan tentang hari kebangkitan

Ayat Pilihan

Tetapi jika mereka (musuh-musuhmu) condong kepada perdamaian, maka terimalah dan bertawakallah kepada Allah.
Sungguh, Dia Maha Mendengar, Maha Mengetahui.
QS. Al-Anfal [8]: 61

maka berkatalah orang-orang yang zalim:

“Ya Tuhan kami,
beri tangguhlah kami (kembalikanlah kami ke dunia) walaupun dalam waktu yang sedikit,
niscaya kami akan mematuhi seruan Engkau & akan mengikuti rasul-rasul”
QS. Ibrahim [14]: 44

Maka berlomba-lombalah (dalam membuat) kebaikan.
Di mana saja kamu berada pasti Allah akan mengumpulkan kamu sekalian (pada hari kiamat).
Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.
QS. Al-Baqarah [2]: 148

Bersabarlah bersama orang yang menyeru Tuhannya di pagi & senja hari dengan mengharap keridaan-Nya,
jangan matamu berpaling dari mereka (karena) mengharap perhiasan dunia,
jangan ikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingati Kami
QS. Al-Kahf [18]: 28

Hadits Shahih

Podcast

Doa Sehari-hari

Soal & Pertanyaan Agama

Arti dari lafal

لَكُمْ دِينُكُمْ

yaitu ...

Correct! Wrong!

Penjelasan:
Surah Al-Kafirun [109] ayat 6.

لَكُمْ دِينُكُمْ وَلِيَ دِينِ

'Untukmu agamamu, dan untukkulah, agamaku.'

Turunnya surah Ad-Dhuha menunjukkan.....kepada Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam.

Correct! Wrong!

Arti al-Kaafirun adalah ...

Correct! Wrong!

+

Array

Berikut ini yang bukan kandungan surah Ad-Dhuha adalah..... Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam.

Correct! Wrong!

Surah Ad-Dhuha ayat ke-enam menunjukkan salah satu masa Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam yaitu sebagai ...

Correct! Wrong!

Penjelasan:
اَلَمۡ یَجِدۡکَ یَتِیۡمًا فَاٰوٰی

Bukankah Dia mendapatimu sebagai seorang yatim, lalu Dia melindungi(mu),
--QS. Adh Dhuhaaa [93] : 6

Pendidikan Agama Islam #18
Ingatan kamu cukup bagus untuk menjawab soal-soal ujian sekolah ini.

Pendidikan Agama Islam #18 1

Mantab!! Pertahankan yaa..
Jawaban kamu masih ada yang salah tuh.

Pendidikan Agama Islam #18 2

Belajar lagi yaa...

Share your Results:

Soal Agama Islam

Pendidikan Agama Islam #14

Ketika Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam masih remaja, baginda telah bekerja mengambil upah sebagai pengembala binatang ternak. Apakah binatang tersebut? … Dalam Islam, teladan yang baik disebut juga dengan istilah … Dalam Islam, pengendalian diri atau kontrol terhadap diri, disebut juga dengan … Pengertian Mujahadah An-Nafs adalah … Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda bahwa berjihad (berjuang) yang paling utama adalah melawan …

Pendidikan Agama Islam #6

Sifat dasar hukum Alquran adalah keseimbangan dalam hal aspek material dan psikologis, yang disebut sebagai … Alquran dimulai dengan surah Al Fatihah (pembukaan) dan berakhir dengan surah … Alquran adalah panduan dan pedoman manusia bagi mereka yang beriman. Ini dikonfirmasikan oleh Allah dalam surah … Alquran bertindak sebagai Hudan, yang artinya adalah … Dalam Surah Al-Baqarah ayat 2, Allah berfirman bahwa Alquran adalah pedoman untuk orang …

Pendidikan Agama Islam #27

Surah yang terpendek dalam Alquran adalah … Surah yang tidak diawali basmalah adalah … Surah yang pertama kali turun secara lengkap adalah … Proses turunnya wahyu berlangsung selama … tahun.Basmalah tertulis atau disebutkan sebanyak dua kali pada surah …

Kamus Istilah Islam

Sedekah

Apa itu Sedekah? Sedekah adalah pemberian seorang Muslim kepada orang lain secara sukarela dan ikhlas tanpa dibatasi oleh waktu dan jumlah tertentu. Sedekah lebih luas dari sekadar zakat maupun infak. Karena sedekah tidak hanya berarti mengeluarkan atau menyumbangkan harta. Namun sedekah mencakup segala amal atau perbuatan baik. Dalam sebuah hadis d … •

Amar makruf nahi mungkar

Apa itu Amar makruf nahi mungkar? Amar makruf nahi mungkar adalah sebuah frasa dalam bahasa Arab yang berisi perintah menegakkan yang benar dan melarang yang salah. Dalam ilmu fikih klasik, perintah ini dianggap wajib bagi kaum Muslim. “Amar makruf nahi mungkar” telah dilembagakan di beberapa negara, con … • Amar makruf, nahi mungkar

Ar Rahman

Apa itu Ar Rahman? Allah itu Ar-Rahman ◀ Allah memiliki gelar Ar-Rahman, yang berarti Maha Pemurah/Penyayang . Allah adalah Tuhan Yang Maha Pemurah kepada semua makhluk ciptaan-Nya, baik yang gaib maupun yang terlihat oleh mata kita. Allah memberikan rezeki kepada makhluk-makhluk-Nya tanpa pilih kasih. Kita juga bisa meneladani sifat Ar Rahm … • Ar-Rahman, Al Rahman