QS. Al Qiyaamah (Kiamat) – surah 75 ayat 20 [QS. 75:20]

کَلَّا بَلۡ تُحِبُّوۡنَ الۡعَاجِلَۃَ
Kalaa bal tuhibbuunal ‘aajilat(a);

Sekali-kali janganlah demikian.
Sebenarnya kamu (hai manusia) mencintai kehidupan dunia,
―QS. 75:20
Topik ▪ Zuhud ▪ Perhatian terhadap dunia ▪ Ayat yang berhubungan dengan Al ‘Ash bin Wail
75:20, 75 20, 75-20, Al Qiyaamah 20, AlQiyaamah 20, Al Qiyamah 20, Al-Qiyamah 20

Tafsir surah Al Qiyaamah (75) ayat 20

Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. Al Qiyaamah (75) : 20. Oleh Kementrian Agama RI

Dalam ayat ini, Allah mencela kehidupan orang musyrik yang sangat mencintai dunia.
Allah menyerukan, “Sekali-kali jangan.
Sesungguhnya kamu (hai manusia) mencintai kehidupan dunia dan meninggalkan kehidupan akhirat.” Dengan ayat ini terdapat suatu kesimpulan umum bahwa mencintai kehidupan adalah salah satu watak manusia seluruhnya.
Memang ada sebagian yang mengharapkan kebahagiaan akhirat, namun yang mencintai hidup dunia serta mendustai adanya hari kebangkitan jauh lebih besar jumlahnya.

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Tertolaklah kalian karena telah mengingkari kebenaran hari kebangkitan.
Bahkan kalian adalah orang-orang yang mencintai dunia dengan kegemerlapannya dan mengabaikan akhirat dengan segala kenikmatannya.

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(Sekali-kali jangan) lafal Kallaa menunjukkan makna Istiftah, yakni ingatlah (sebenarnya kalian mencintai kehidupan dunia) dapat dibaca Tuhibbuuna dan Yuhibbuuna, kalau dibaca Yuhibbuuna artinya, mereka mencintai kehidupan dunia.

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

Sekali-kali janganlah demikian.
Sebenarnya kamu (hai manusia) mencintai kehidupan dunia dan meninggalkan (kehidupan) akhirat.
(Q.S. Al-Qiyaamah [75]: 20-21)

Sesungguhnya yang mendorong mereka mendustakan hari kiamat, menentang wahyu kebenaran dan Al-Qur’an yang mulia yang diturunkan Allah kepada Rasul-Nya tiada lain karena tujuan mereka hanyalah kehidupan dunia yang segera dan mereka sama sekali melupakan kehidupan akhirat.

Kemudian Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

Wajah-wajah (orang-orang mukmin) pada hari itu berseri-seri.
(Q.S. Al-Qiyaamah [75]: 22)

Berakar dari kata an-nadarah artinya cerah, berseri, dan riang gembira.

Kepada Tuhannyalah mereka melihat.
(Q.S. Al-Qiyaamah [75]: 23)

Yakni melihat Tuhannya dengan terang-terangan, sebagaimana yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari rahimahullah di dalam kitab sahihnya:

Sesungguhnya kamu kelak akan melihat Tuhanmu dengan terang-terangan.

Dan sesungguhnya mengenai masalah melihatnya kaum mukmin kepada Allah subhanahu wa ta’ala di negeri akhirat (di surga) telah dikuatkan oleh adanya hadis-hadis sahih yang diriwayatkan melalui berbagai jalur yang mutawatir, yang telah dinukil oleh para imam ahli hadis, sehingga tidak mungkin ditolak atau dicegah lagi kebenarannya.

Hadis yang bersumber dari Abu Sa’id dan Abu Hurairah yang keduanya ada di dalam kitab Sahihain disebutkan bahwa sejumlah orang bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah kita dapat melihat Tuhan kita di hari kiamat nanti?”
Rasulullah ﷺ balik bertanya:

“Apakah kamu berdesak-desakan saat melihat matahari dan bulan di hari yang tak berawan?” Mereka menjawab, “Tidak.” Rasulullah ﷺ bersabda, “Sesungguhnya kalian akan melihat Tuhan kalian seperti itu.”

Di dalam kitab Sahihain dari Jarir, disebutkan bahwa Rasulullah ﷺ memandang rembulan di malam purnama, lalu bersabda:

Sesungguhnya kamu akan melihat Tuhanmu sebagaimana kamu melihat rembulan ini; jika kamu mampu untuk meluangkan waktumu guna mengerjakan salat sebelum matahari terbit dan sebelum tenggelamnya, maka lakukanlah.

Di dalam kitab Sahihain disebutkan melalui Abu Musa yang mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda:

Ada dua surga yang semua wadahnya dan segala isinya dari emas, dan ada pula dua surga yang semua wadahnya dan segala isinya dari perak.
sedangkan tiada penghalang antara kaum (penghuni surga) dan kesempatan mereka untuk melihat Allah subhanahu wa ta’ala, melainkan hanya selendang Keagungan-(Nya) yang menghijab Zat-Nya di dalam surga Adn.

Di dalam hadis ifrad Imam Muslim disebutkan melalui Suhaib, dari Nabi ﷺ Yang telah bersabda:

Apabila ahli surga telah masuk surga—Nabi ﷺ melanjutkan—Allah subhanahu wa ta’ala berfirman, “Apakah kamu menginginkan sesuatu tambahan yang Aku akan berikan kepadamu?” Mereka menjawab, “Bukankah Engkau telah menjadikan wajah kami putih (bercahaya), dan bukankah Engkau telah memasukkan kami ke dalam surga dan menyelamatkan kami dari neraka?”Nabi Saw, melanjutkan, bahwa lalu Allah membuka tirai hijab-(Nya), maka tiada sesuatu nikmat pun yang diberikan kepada mereka lebih disukai oleh mereka selain memandang kepada Zat Tuhan mereka; inilah yang dimaksud dengan tambahan.

Kemudian Nabi ﷺ membaca firman-Nya:

Bagi orang-orang yang berbuat baik, ada pahala yang terbaik (surga) dan tambahannya.
(Q.S. Yunus [10]: 26)

Di dalam hadis ifrad Imam Muslim disebutkan sebuah hadis dari Jabir yang menyebutkan bahwa Allah subhanahu wa ta’ala menampakkan diri-Nya dengan penampilan yang penuh dengan keridaan kepada orang-orang mukmin.
Semua hadis di atas menunjukkan bahwa orang-orang mukmin dapat melihat Tuhan mereka di tempat pemberhentian hari kiamat dan juga di taman-taman surga.

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abu Mu’awiyah, telah menceritakan kepada kami Abdul Malik ibnu Abjar, telah menceritakan kepada kami Yazid ibnu Abu Fakhitah, dari Ibnu Umar yang mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda:

Sesungguhnya ahli surga yang paling rendah kedudukannya benar-benar perlu waktu dua ribu tahun untuk melihat semua kerajaannya; bagian yang terjauhnya dapat ia lihat sebagaimana ia melihat bagian yang terdekatnya; ia melihat semua istri dan pelayannya.
Dan sesungguhnya ahli surga yang paling utama kedudukannya benar-benar dapat melihat Zat Allah setiap harinya sebanyak dua kali.

Imam Turmuzi meriwayatkannyadari Abdu ibnu Humaid, dari Syababah, dari Israil, dari Nuwayyir yang mengatakan bahwa ia pernah mendengar Ibnu Umar r.a., lalu disebutkan hal yang semisal.
Imam Turmuzi mengatakan bahwa Abdul Malik ibnu Abjar telah meriwayatkan hadis ini dari Mujahid, dari Ibnu Umar.
Demikian pula As-Sauri, dia meriwayatkannya dari Nuwayyir, dari Mujahid, dari Ibnu Umar, tetapi tidak marfu’.

Seandainya tidak khawatir akan menjadikan pembahasan bertele-tele, tentulah kami akan mengemukakan hadis-hadis mengenai hal ini berikut semua jalur periwayatan dan lafaz-lafaznya, baik dari kitab Sahih, kitab Hisan, kitab Masanid, maupun kitab Sunan.
Dan kami hanya dapat mengetengahkannya secara terpisah-pisah di berbagai tempat dalam tafsir ini, dan hanya kepada Allah-lah kita memohon taufik.

Masalah ini Alhamdulillah telah menjadi kesepakatan di antara para sahabat dan para tabi’in serta kaum Salaf dari umat ini (yakni orang-orang mukmin dapat melihat Zat Tuhannya di hari kemudian).
Sebagaimana hal ini telah disepakati pula di kalangan para imam Islam dan para ulama pemberi petunjuk manusia.

Mengenai pendapat orang yang menakwilkan lafaz ila dalam ayat ini sebagai bentuk tunggal dari ala yang artinya nikmat-nikmat, seperti yang dikatakan oleh As-Sauri, dari Mansur, dari Mujahid sehubungan dengan makna firman-Nya: Kepada Tuhannyalah mereka melihat.
(Q.S. Al-Qiyaamah [75]: 23)

Bahwa makna yang dimaksud menjadi seperti berikut, “Orang-orang mukmin di hari itu menunggu pahala dari Tuhan mereka.” Ibnu Jarir telah meriwayatkan pendapat ini melalui berbagai jalur dari Mujahid.
Hal yang sama dikatakan pula oleh Abu Saleh.
Maka sesungguhnya pendapat ini jauh panggang dari api.
Lalu bagaimanakah jawaban orang yang berpendapat demikian dengan adanya firman Allah subhanahu wa ta’ala yang mengatakan:

Sekali-kali tidak, sesungguhnya mereka pada hari itu benar-benar terhalang dari (melihat) Tuhan mereka.
(Q.S. Al-Muthaffifin: 15)

Imam Syafii mengatakan bahwa tidaklah orang-orang durhaka dihalangi dari melihat Tuhan mereka, melainkan karena telah diketahui bahwa orang-orang yang bertakwa dapat melihat Tuhan mereka.
Telah banyak pula hadis-hadis dari Rasulullah ﷺ secara mutawatir menunjukkan pengertian yang sama dengan konteks ayat yang mulia, yaitu firman-Nya: Kepada Tuhannyalah mereka melihat.
(Q.S. Al-Qiyaamah [75]: 23)

Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Ismail Al-Bukhari, telah menceritakan kepada kami Adam, telah menceritakan kepada kami Al-Mubarak, dari Al-Hasan sehubungan dengan makna firman Allah subhanahu wa ta’ala: Wajah-wajah (orang-orang mukmin) pada hari itu berseri-seri.
(Q.S. Al-Qiyaamah [75]: 22) Yakni tampak indah berseri-seri dan ceria.
Kepada Tuhannyalah mereka melihat.
(Q.S. Al-Qiyaamah [75]: 23) Bahwa mereka memandang kepada Khaliq, dan sudah sepantasnya bagi mereka berseri-seri karena melihat kepada Zat Khaliqnya.


Informasi Surah Al Qiyaamah (القيامة)
Surat Al Qiyaamah terdiri atas 40 ayat, termasuk golongan surat-surat Makkiyyah, diturunkan sesudah surat Al Qaari’ah.

Dinamai “Al Qiyaamah” (hari kiamat) diambil dari perkataan “Al Qiyaamah” yang terdapat pada ayat pertama surat ini.

Keimanan:

Kepastian terjadinya hari kiamat dan huru-hara yang terjadi padanya
jaminan Allah terhadap ayat-ayat Al Qur’an dalam dada Nabi sehingga Nabi tidak lupa tentang urutan arti dan pembacaannya
celaan Allah kepada orang-orang musyrik yang lebih mencintai dunia dan meninggalkan akhirat
keadaan manusia di waktu sakaratul maut.

Ayat-ayat dalam Surah Al Qiyaamah (40 ayat)

Audio

Qari Internasional

Q.S. Al-Qiyaamah (75) ayat 20 - Oleh Syekh Mishari Alafasy
Q.S. Al-Qiyaamah (75) ayat 20 - Oleh Syekh Sa'ad Al-Ghamidi
Q.S. Al-Qiyaamah (75) ayat 20 - Oleh Syekh Muhammad Ayyub

Q.S. Al-Qiyamah (75) ayat 1-40 - Barsena Bestandhi (Bahasa Indonesia)
Q.S. Al-Qiyamah (75) ayat 1-40 - Barsena Bestandhi (Bahasa Arab)

Murottal al-Qur'an & Terjemahan Indonesia
Q.S. Al-Qiyaamah - Oleh Syekh Misyari Rasyid Alafasy
Full ayat 1 sampai 40 & Terjemahan


Gambar



Statistik Q.S. 75:20
  • Rating RisalahMuslim

Ayat ini terdapat dalam surah Al Qiyaamah.

Surah Al-Qiyamah (Arab: القيمة , "Hari Kiamat") adalah surah ke-75 dalam al-Qur'an.
Surah ini terdiri atas 40 ayat, termasuk golongan surah Makkiyah serta diturunkan sesudah surah Al-Qari'ah.
Kata Al-Qiyamah (hari kiamat) diambil dari perkataan Al-Qiyamah yang terdapat pada ayat pertama surat ini.

Nomor Surah 75
Nama Surah Al Qiyaamah
Arab القيامة
Arti Kiamat
Nama lain La uqsimu bi yaumil qiyamah
Tempat Turun Mekkah
Urutan Wahyu 31
Juz Juz 29
Jumlah ruku' 2 ruku'
Jumlah ayat 40
Jumlah kata 144
Jumlah huruf 676
Surah sebelumnya Surah Al-Muddassir
Surah selanjutnya Surah Al-Insan
4.6
Ratingmu: 4.4 (20 orang)
Sending









Iklan

Video

Panggil Video Lainnya


Ikuti RisalahMuslim
               





Copied!

Masukan & saran kirim ke email:
[email protected]

Made with in Yogyakarta