[wpdreams_ajaxsearchpro id=1]
Al Qashash

Al Qashash (Kisah) surah 28 ayat 81


فَخَسَفۡنَا بِہٖ وَ بِدَارِہِ الۡاَرۡضَ ۟ فَمَا کَانَ لَہٗ مِنۡ فِئَۃٍ یَّنۡصُرُوۡنَہٗ مِنۡ دُوۡنِ اللّٰہِ ٭ وَ مَا کَانَ مِنَ الۡمُنۡتَصِرِیۡنَ
Fakhasafnaa bihi wabidaarihil ardha famaa kaana lahu min fi-atin yanshuruunahu min duunillahi wamaa kaana minal muntashiriin(a);

Maka Kami benamkanlah Karun beserta rumahnya ke dalam bumi.
Maka tidak ada baginya suatu golonganpun yang menolongnya terhadap azab Allah.
Dan tiadalah ia termasuk orang-orang (yang dapat) membela (dirinya).
―QS. 28:81
Topik ▪ Kisah-kisah ▪ Hikmah dari kisah umat-umat terdahulu ▪ Kebutuhan tumbuhan akan air
28:81, 28 81, 28-81, Al Qashash 81, AlQashash 81, AlQasas 81, Al Qasas 81, AlQasas 81, Al-Qasas 81
Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. Al Qashash (28) : 81. Oleh Kementrian Agama RI

Pada ayat ini, Allah menerangkan akibat kesombongan dan keangkuhan Karun.
Ia beserta rumah dan segala kemegahan dan kekayaannya dibenamkan ke dalam bumi.
Tidak ada yang dapat menyelamatkannya dari azab Allah itu, baik perorangan maupun secara bersama-sama.
Karun sendiri tidak dapat membela dirinya.
Tidak sedikit orang yang sesat jalan, dan keliru paham tentang harta yang diberikan kepadanya.
Mereka menyangka harta itu hanya untuk kemegahan dan kesenangan sehingga mereka tidak menyalurkan penggunaannya ke jalan yang diridai Allah.
Oleh karena itu, Allah menimpakan azab-Nya kepada mereka.

Al Qashash (28) ayat 81 - dibacakan oleh Shaykh Mishari Alafasy Al Qashash (28) ayat 81 - dibacakan oleh Syaikh Sa'ad Al-Ghamidi Al Qashash (28) ayat 81 - dibacakan oleh Syaikh Muhammad Ayyub

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Kami kemudian melongsorkan tanah bersama Qarun.
Qarun dan rumahnya pun tertelan, berikut harta benda dan perhiasannya.
Tidak ada penolong yang dapat menghindarkannya dari azab Allah, dan ia pun tidak dapat menolong dirinya sendiri.

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(Maka Kami benamkan dia) Karun (beserta rumahnya ke dalam bumi.
Maka tidak ada lagi baginya suatu golongan pun yang menolongnya terhadap azab Allah) seumpamanya penolong itu dapat mencegah kebinasaan dari diri Karun.
(Dan tiadalah ia termasuk orang-orang yang dapat membela dirinya) dari azab Allah.

Tafsir al-Muyassar
Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:

Maka Kami membenamkan Qarun dan hartanya ke dalam perut bumi, maka tiada bala tantara yang bisa menolongnya selain Allah.
Dia juga tidak bisa melindungi diri dari Allah bila murka-Nya menimpanya.

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Setelah menceritakan keangkuhan Qarun dengan perhiasan yang dikenakannya dan bangga dirinya terhadap kaumnya serta sikapnya yang kelewat batas terhadap mereka, maka Allah menyebutkan bahwa sesudah itu Dia membenamkan Qarun berikut rumahnya ke dalam bumi.
Hal ini diterangkan di dalam hadis sahih yang ada pada Imam Bukhari melalui riwayat Az-Zuhri, dari Salim, ayahnya pernah menceritakan kepadanya bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda:

Tatkala seorang lelaki sedang menyeret kainnya (dengan penuh kesombongan), tiba-tiba ia dibenamkan (ke dalam bumi), maka dia terus amblas ke dalam bumi sampai hari kiamat.

Kemudian Imam Bukhari meriwayatkannya pula melalui hadis Jarir ibnu Zaid, dari Salim, dari Abu Hurairah r.a., dari Nabi ﷺ dengan teks yang semisal.

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami An-Nadr ibnu Ismail Abul Mugirah Al-Qas, telah menceritakan kepada kami Al-A'masy, dari Atiyyah, dari Abu Sa'id yang menceritakan bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda: Ketika seorang lelaki dari kalangan orang yang terdahulu sebelum kalian keluar dengan memakai dua lapis kain burdah berwarna hijau dengan langkah yang angkuh, maka Allah memerintahkan kepada bumi (untuk membenamkannya).
Lalu bumi menelannya dan ia terus terbenam ke dalam bumi sampai hari kiamat.

Hadis diriwayatkan secara tunggal oleh Imam Ahmad dengan predikat yang hasan.

Al-Hafiz Abu Ya'la Al-Mausuli mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abu Khaisamah, telah menceritakan kepada kami Ya'la ibnu Mansur, telah menceritakan kepadaku Muhammad ibnu Muslim, bahwa ia pernah mendengar Ziad An-Numairi menceritakan hadis berikut dari sahabat Anas ibnu Malik r.a.
yang mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda: Ketika seorang lelaki dari kalangan umat sebelum kalian keluar dengan memakai kain burdah dua lapis dan melangkah dengan penuh keangkuhan, maka Allah memerintahkan kepada bumi (untuk membenamkannya), lalu bumi menelannya dan ia terbenam ke dalam bumi sampai hari kiamat.

Al-Hafiz Muhammad ibnul Munzir menyebutkan di dalam kitabnya yang berjudul Al-Aja'ibul Garibah berikut sanadnya dari Naufal ibnu Masahiq yang menceritakan bahwa ia pernah melihat seorang pemuda di dalam masjid Najran.
Maka ia memandang pemuda itu dengan pandangan yang kagum karena tubuh pemuda itu tinggi, perawakannya tegap lagi tampan.
Pemuda itu menanyainya, "Mengapa engkau selalu memandangku." Naufal ibnu Masahiq menjawab, "Aku kagum dengan ketampanan dan penampilanmu yang menarik." Lalu pemuda itu berkata, "Sesungguhnya Allah benar-benar kagum kepadaku." Naufal ibnu Masahiq mengatakan bahwa ia melihat pemuda itu kian kecil sehingga tingginya tinggal sejengkal.
Maka salah seorang kerabatnya menangkapnya dan memasukkannya ke dalam saku bajunya, lalu membawanya pergi.

Disebutkan dalam suatu kisah bahwa penyebab kebinasaan Qarun adalah karena doa Nabi Musa 'alaihis salam Akan tetapi, latar belakangnya masih diperselisihkan.

Diriwayatkan dari Ibnu Abbas dan As-Saddi, bahwa Qarun mengupah seorang wanita tuna susila dengan imbalan harta yang banyak agar wanita itu membuat suatu kedustaan terhadap Musa a.s di hadapan para pemuka kaum Bani Israil, saat Nabi Musa 'alaihis salam sedang berdiri di kalangan mereka membacakan Kitabullah kepada mereka.
Lalu wanita tuna susila itu berkata, "Hai Musa, sesungguhnya kamu pernah berbuat anu dan anu (mesum) dengan diriku."

Setelah wanita itu mengucapkan pernyataan tersebut di hadapan para pemuka Bani Israil, tubuh Musa 'alaihis salam bergetar karena takut, lalu ia mendatangi wanita itu sesudah salat dua rakaat, dan bertanya kepadanya, "Aku meminta kepadamu dengan nama Allah yang telah membelah laut dan menyelamatkan kalian dari Fir'aun serta yang telah melakukan banyak mukjizat, sudilah kiranya engkau menjelaskan kepadaku tentang penyebab yang mendorongmu berani mengucapkan hal tersebut terhadap diriku."

Wanita itu menjawab, "Karena engkau telah meminta kepadaku dengan mendesak, maka aku jelaskan bahwa sesungguhnya Qarunlah yang telah memberi aku upah agar aku mengatakan hal tersebut kepadamu, dan sekarang aku memohon ampun kepada Allah dan bertobat kepada-Nya."

Saat itu juga Musa menyungkur bersujud kepada Allah subhanahu wa ta'ala dan memohon kepada-Nya sehubungan dengan fitnah yang dilancarkan oleh Qarun.
Maka Allah menurunkan wahyu-Nya yang menyatakan, "Aku telah memerintahkan kepada bumi agar ia tunduk kepada perintahmu." Lalu Musa memerintahkan kepada bumi untuk menelan Qarun berikut rumah dan harta bendanya, maka semuanya amblas ke dalam bumi.

Menurut pendapat yang lain, sesungguhnya ketika Qarun keluar memamerkan dirinya di mata kaumnya dengan segala perhiasan yang dipakainya seraya menunggang begal merahnya, sedangkan semua pelayannya memakai pakaian yang sama dengannya, yaitu pakaian yang mewah di masa itu.
Lalu ia dan iringannya itu melalui majelis Nabi Musa 'alaihis salam yang saat itu sedang memberikan peringatan kepada kaum Bani Israil akan kekuasaan-kekuasaan Allah.

Tatkala orang-orang Bani Israil melihat Qarun, maka wajah mereka berpaling ke arahnya dan pandangan mereka tertuju kepada Qarun dan kemewahannya.
Maka Musa memanggil Qarun dan bertanya kepadanya, "Apakah yang mendorongmu berbuat demikian?"
Qarun menjawab, "Hai Musa, ingatlah jika engkau diberi keutamaan di atasku berkat kenabian, maka sesungguhnya aku pun mempunyai kelebihan atas dirimu berkat harta yang kumiliki.
Dan sesungguhnya jika kamu suka, marilah kita keluar dan marilah engkau berdoa untuk kebinasaanku dan aku pun berdoa (pula) untuk kebinasaanmu."

Maka Musa dan Qarun berangkat keluar dari kalangan kaumnya, lalu Musa a.s berkata, "Apakah engkau dahulu yang berdoa ataukah aku?"
Qarun menjawab, "Tidak, akulah yang lebih dahulu berdoa." Maka Qarun berdoa tetapi tidak diperkenankan.

Musa berkata, "Sekarang giliranku." Qarun menjawab, "Ya." Lalu Musa berdoa, "Ya Allah, perintahkanlah kepada bumi agar taat kepada perintahku hari ini." Selanjutnya Musa berkata, "Hai bumi, benamkanlah mereka (Qarun dan para pelayannya)." Maka bumi membenamkannya sampai sebatas telapak kaki mereka.
Musa berkata lagi, "Benamkanlah mereka," maka bumi membenamkannya sampai sebatas lutut mereka.
Musa berkata, "Benamkanlah mereka," maka bumi membenamkannya sampai batas pundak mereka.
Kemudian Musa berkata, "Bawakanlah perbendaharaan harta mereka," maka bumi membawakan semua harta benda mereka sehingga mereka dapat melihatnya.
Lalu Musa 'alaihis salam berisyarat dengan tangannya dan berkata, "Pergilah kamu semua, hai Bani Levi," maka bumi menelan mereka semuanya.

Diriwayatkan dari Ibnu Abbas, bahwa bumi menelan mereka sampai hari kiamat.
Qatadah mengatakan, telah diceritakan kepada kami bahwa bumi membenamkan mereka setiap harinya sedalam tinggi tubuh mereka, maka mereka terus-menerus tenggelam ke dalam bumi sampai hari kiamat.
Sehubungan dengan kisah ini banyak riwayat yang bersumber dari kisah israiliyat yang aneh-aneh, tetapi kami tidak menganggapnya.

Firman Allah subhanahu wa ta'ala:

Maka tidak ada baginya suatu golongan pun yang menolongnya terhadap azab Allah, dan tiadalah ia termasuk orang-orang (yang dapat) membela (dirinya).
(Al Qashash:81)

Artinya, harta benda yang mereka kumpulkan itu —juga pelayan-pelayannya serta para pembantunya— tidak dapat memberi pertolongan kepadanya, tidak dapat pula membelanya dari siksa dan azab Allah serta pembalasan-Nya.
Qarun pun tidak dapat membela dirinya sendiri, serta tidak ada seorang pun yang dapat menolongnya.

Kata Pilihan Dalam Surah Al Qashash (28) Ayat 81

FI'AH
فِئَة

Arti kata fi'ah adalah sekelompok manusia yang menunjukkan kebolehannya dan mereka saling membantu di antara satu dengan yang lainnya.

Bentuk tunggal fi'ah diulang sebanyak delapan kali dalam Al Qur'an, yaitu dalam surah:
-Al Baqarah (2), ayat 249 (dua kali);
-Ali Imran (3), ayat 13;
-Al Anfaal (8), ayat 16, 19, 45;
-Al Kahfi (18), ayat 43;
-Al Qashash (28), ayat 81.

Sedangkan bentuk mutsanna (ganda)-nya fi'atayn dan fi'ataan diulang sebanyak tiga kali, yaitu dalam surah:
-Ali Imran (3), ayat 13;
-An Nisaa (4), ayat 88;
-Al Anfaal (8), ayat 48.

Pada surah Al Qashash (28), ayat 81 diceritakan bahawa ketika Allah menimbun Qarun bersama-sama dengan rumahnya di dalam tanah, maka ia tidak mendapat sebarang golongan (fi'ah) yang bisa menolongnya, baik fi'ah tersebut berupa kawan-kawan sekutu, pembantu-pembantu mahupun tentara. Hanya Allah lah yang dapat menyelamatkan hamba dari azab dan siksa.

Penggunaan kata fi'ah pada surah Al Kahfi (18), ayat 43 juga hampir sama dengan penggunaannya pada surah Al Qashash (28), ayat 81 di atas.

Pada surah Al Kahfi (18), ayat 43 ini, Allah menceritakan tentang nasib orang kaya pemilik kebun luas yang sombong dengan kekayaan dan anak-anaknya, dia tidak percaya hari kiamat dan tidak mau mensyukuri nikmat Allah. Kebunnya yang luas itu akhirnya rusak binasa dan tidak dapat menghasilkan buah apa pun. Allah menegaskan bahawa orang tersebut tidak mendapat sebarang golongan (fi'ah) yang bisa menolongnya, selain daripada Allah; dan ia pula tidak dapat membela dirinya sendiri.

Pada selain dua ayat tersebut kata fi'ah atau fi'atayn digunakan untuk menunjukkan golongan yang bersengketa dengan golongan yang lain, baik itu golongan-golongan tersebut berada dalam satu kelompok tertentu maupun kedua-duanya memang sekumpulan tentara yang siap berhadapan dalam peperangan.

Pada surah An Nisaa (4), ayat 88 Allah melarang orang beriman terpecah menjadi dua golongan (fi'atayn) yang saling berselisih ketika menghadapi orang-orang munafik, yaitu orang-orang yang menampakkan keislaman pada sisi lahiriahnya namun mereka tidak mau ikut hijrah ke Madinah karena memang hati mereka masih kafir. Pada mulanya umat Islam berbeda pendapat mengenai mereka, ada yang menganggapnya sebagai orang beriman sehingga tidak boleh diperangi dan ada yang menganggapnya sebagai orang kafir. Kemudian Allah menegaskan bahawa orang-orang munafik tersebut adalah orang kafir, sehingga tidak boleh dikasihani atau dijadikan penolong, oleh karena itu umat Islam tidak perlu terpecah menjadi dua golongan yang saling berbantahan dalam masalah ini.

Dalam surah Al Baqarah (2), ayat 249 kata fi'ah dikaitkan dengan perkataan sebahagian tentara perang raja Thalut (termasuk juga Nabi Dawud (a.s.) yang jumlahnya sedikit ketika melawan tentara raja Jalut yang jumlahnya banyak. Sebahagian pasukan raja Thalut tersebut dengan penuh semangat dan dengan keimanan yang kuat berkata: "Berapa banyak (yang pernah terjadi), golongan yang sedikit (fi'atin qaliilah) berhasil menewaskan golongan yang banyak (fi'atan katsiirah) dengan izin Allah. Dan akhirnya mereka memperoleh kemenangan dalam perang tersebut. Perkataan pasukan raja Thalut tersebut juga bersesuaian dengan apa yang terjadi pada perang Badr, di mana jumlah tentara muslim sedikit sedangkan tentara musyrikin sangat banyak. Meskipun demikian dalam surah Al Anfaal (8), ayat 19 Allah menegaskan bahawa Dia akan selalu menolong orang-orang yang beriman dan golongan angkatan perang kaum musyrikin tidak akan mendapatkan selamat sekalipun mereka sangat banyak.

Kata fi'atayn dan fi'ataan "dua golongan" dalam surah Ali Imran (3), ayat 13 dan Al Anfaal (8), ayat 48 juga masih berkaitan dengan kejadian perang Badr.

Dua golongan yang disebut dalam kedua ayat tersebut adalah tentara muslim yang jumlahnya sedikit dan tentara musyrikin yang jumlahnya banyak semasa perang Badr. Allah menegaskan bahawa tentara muslim fi'ah berperang di jalan Allah bersama para malaikat, sedangkan tentara musyrikin fi'ah berperang memperjuangkan kekafiran bersama setan yang membujuk dan menyokong mereka, namun kemudian setan berkhianat dan lari dari peperangan setelah melihat para malaikat yang membantu tentara muslimin dalam perang tersebut.

Hampir sama dengan yang di atas, kata fi'ah yang terdapat dalam surah Al Anfaal (8), ayat 16 dan 45 mempunyai arti sekelompok tentara perang, namun ianya disebut untuk menerangkan aturan perang yang harus dipatuhi oleh umat Islam, supaya mereka mendapat kejayaan.

Pada ayat 45 Allah menetapkan aturan-aturan yang mesti dilakukan oleh tentara muslim semasa mereka bertemu dengan sesuatu pasukan musuh (fi'ah), yaitu:
(1). Hendaklah tetap teguh menghadapinya;
(2). Hendaklah banyak menyebut serta ingat kepada Allah;
(3). Hendaklah taat kepada Allah dan Rasul-Nya;
(4). Jangan berbantahbantahan dan bertelingkah;
(5). Bersabar menghadapi segala kesukaran.

Tujuan ditetapkannya aturan ini adalah supaya tentara muslim tidak menjadi lemah semangat dan hilang kekuatan, dengan itu maka mereka akan mendapatkan kemenangan

Sedangkan ayat ke 16 menceritakan tentang strategi perang yang boleh dilakukan oleh tentara muslim. Tentara muslim sama sekali tidak boleh menghindar dari menghadapi musuh kecuali apabila bermaksud untuk melakukan tipu muslihat perang, yaitu lari ke arah atau ke tempat lain yang lebih strategis dan kemudian menyerang musuh kembali, atau mereka lari dengan maksud bergabung dengan kelompok pasukan muslim yang lain (fi'ah) untuk kemudian menyerang musuh dengan kekuatan pasukan yang lebih besar. Tindakan seperti itu dibolehkan, karena ianya tidak termasuk melarikan diri dari perang, melainkan maksud tindakan itu adalah untuk mengungguli musuh dan menyusun kekuatan kembali dengan cara menyerang musuh semula dari tempat yang lebih tepat atau bergabung dengan kekuatan kelompok tentara muslim yang lain. Dengan strategi seperti ini maka kejayaan perang akan terwujud.

Sumber : Kamus Al Qur'an, PTS Islamika SDN. BHD.Hal:431-433

Informasi Surah Al Qashash (القصص)
Surat Al Qashash terdiri atas 88 ayat termasuk golongan surat-surat Makkiyyah.

Dinamai dengan "Al Qashash",
karena pada ayat 25 surat ini terdapat kata "Al Qashash" yang berarti "cerita".

Ayat ini menerangkan bahwa setelah Nabi Musa 'alaihis salam bertemu dengan Nabi Syu'aib 'alaihis salam ia menceritakan cerita yang berhubungan dengan dirinya sendiri, ya'ni pengalaman­nya dengan Fir'aun, sampai waktu ia diburu oleh Fir'aun karena membunuh seseorang dari bangsa Qibthi tanpa disengaja, Syu'aib 'alaihis salam menjawab bahwa Musa 'alaihis salam telah selamat dari pengejar­an orang-orang zalim.

Turunnya ayat 25 surat ini amat besar artinya bagi Nabi Muhammad ﷺ dan bagi sahabat­ sahabat yang melakukan hijrah ke Madinah, yang menambah keyakinan mereka, bahwa akhirnya orang-orang Islamlah yang menang, sebab ayat ini menunjukkan bahwa barangsiapa yang berhijrah dari tempat musuh untuk mempertahankan keimanan, pasti akan berhasil dalam per­juangannya menghadapi musuh-musuh agama.
Kepastian kemenangan bagi kaum muslimin itu, ditegaskan pada bagian akhir surat ini yang mengandung bahwa setelah hijrah ke Madinah kaum muslimin akan kembali ke Mekah sebagai pemenang dan penegak agama Allah.
Surat Al Qashash ini adalah surat yang paling lengkap memuat cerita Nabi Musa 'alaihis salam sehingga menurut suatu riwayat, surat ini dinamai juga surat Musa.

Keimanan:

Allah Yang menentukan segala sesuatu dan manusia harus ridha dengan ketentu­an itu
alam adalah fana hanyalah Allah saja Yang Kekal dan semuanya akan kem­bali kepada Allah
Allah mengetahui isi hati manusia baik yang dilahirkan ataupun yang disembunyikannya.

Hukum:

Tidak ada pembahasan hukum yang spesifik dalam surat ini.

Kisah:

Kekejaman Fir'aun dan pertolongan serta karunia Allah kepada Bani Israil
Musa a.s. dilemparkan ke sungai Nil
seorang Qibthi terbunuh oleh Musa a.s.
Musa a.s. di Mad-yan
Musa a.s. menerima perintah Allah menyeru Fir'aun di bukit Thur
kisah Karun.

Lain-lain:

Al Qur'an menerangkan kisah nabi-nabi dan umat-umat dahulu sebagai bukti kerasulan Muhammad ﷺ
akhli kitab yang beriman dengan Nabi Muhammad ﷺ diberi pahala dua kali lipat
hikmah Al Qur'an diturunkan secara berangsur­ angsur
hanya Allah-lah yang memberi taufik kepada hamba-Nya untuk beriman
Allah menghancurkan penduduk sesuatu negeri adalah karena kezaliman penduduknya sendiri
Allah tidak mengazab sesuatu umat sebelum diutus rasul kepadanya
keadaan orang-orang kafir dan sekutu-sekutu mereka dihari kiamat
pergantian siang dan malam adalah rahmat dari Allah bagi manusia
Allah membalas kebaikan dengan berlipat ganda, sedang balasan kejahatan adalah seimbang dengan apa yang telah dilakukan
janji Allah akan kemenangan Nabi Muhammad s.a.w


Gambar Kutipan Surah Al Qashash Ayat 81 *beta

Surah Al Qashash Ayat 81



Statistik
  • Rating RisalahMuslim

Surah Al Qashash

Surah Al-Qasas (Arab: القصص ,"Cerita-Cerita") adalah surah ke-28 dalam al-Qur'an.
Surah ini diturunkan di Makkah setelah Surah An-Naml dan terdiri dari 88 ayat.
Surah ini diberi nama surah Al-Qasas karena mengambil kata dari ayat 25 yang berarti:

"Kemudian salah seorang dari perempuan dua beradik itu datang mendapatkannya dengan berjalan dalam keadaan tersipu-sipu sambil berkata: Sebenarnya ayahku menjemputmu untuk membalas budimu memberi minum binatang ternak kami.
Maka ketika Musa datang mendapatkannya dan menceritakan kepadanya kisah-kisah kejadian yang berlaku (mengenai dirinya) berkatalah orang tua itu kepadanya: 'Janganlah engkau bimbang, engkau telah selamat dari kaum yang zalim itu.'"

Surah ini diturunkan ketika kaum muslimin masih dalam keadaan lemah ketika mereka masih dibelenggu kekejaman kaum Musyrikin Makkah sebagai kuasa besar, mewah dan kuat.
Maka, Allah menurunkan surah ini sebagai perbandingan dengan riwayat hidup Nabi Musa dengan kekejaman Fir'aun dan akibat dari kemewahan Qarun serta memberikan janji akan kemenangan Nabi Muhammad kelak.

Nomor Surah 28
Nama Surah Al Qashash
Arab القصص
Arti Kisah
Nama lain Musa dan Fir’aun
Tempat Turun Mekkah
Urutan Wahyu 49
Juz Juz 20
Jumlah ruku' 9 ruku'
Jumlah ayat 88
Jumlah kata 1443
Jumlah huruf 5933
Surah sebelumnya Surah An-Naml
Surah selanjutnya Surah Al-'Ankabut
4.6
Rating Pembaca: 4.6 (8 votes)
Sending







✔ Jelaskan akibat yang menimpa Qarun sesuai dengan Q S Al-Qashash : 81!, Surat alQash

[apsl-login-lite login_text='❤ Bookmark ayat ini?'] [bookmark] 📖 Lihat Semua Bookmark-ku