Al Qashash (Kisah) – surah 28 ayat 7 [QS. 28:7]

وَ اَوۡحَیۡنَاۤ اِلٰۤی اُمِّ مُوۡسٰۤی اَنۡ اَرۡضِعِیۡہِ ۚ فَاِذَا خِفۡتِ عَلَیۡہِ فَاَلۡقِیۡہِ فِی الۡیَمِّ وَ لَا تَخَافِیۡ وَ لَا تَحۡزَنِیۡ ۚ اِنَّا رَآدُّوۡہُ اِلَیۡکِ وَ جَاعِلُوۡہُ مِنَ الۡمُرۡسَلِیۡنَ
Wa-a-uhainaa ila ummi muusa an ardhi’iihi fa-idzaa khifti ‘alaihi fa-alqiihi fiil yammi walaa takhaafii walaa tahzanii innaa raadduuhu ilaiki wajaa’iluuhu minal mursaliin(a);

Dan kami ilhamkan kepada ibu Musa, “Susuilah dia, dan apabila kamu khawatir terhadapnya maka jatuhkanlah dia ke sungai (Nil).
Dan janganlah kamu khawatir dan janganlah (pula) bersedih hati, karena sesungguhnya Kami akan mengembalikannya kepadamu, dan menjadikannya (salah seorang) dari para rasul.
―QS. 28:7
Topik ▪ Iman ▪ Orang mukmin selalu dalam lindungan Allah Ta’ala ▪ Allah memiliki kunci alam ghaib
28:7, 28 7, 28-7, Al Qashash 7, AlQashash 7, AlQasas 7, Al Qasas 7, AlQasas 7, Al-Qasas 7

Tafsir surah Al Qashash (28) ayat 7

Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. Al Qashash (28) : 7. Oleh Kementrian Agama RI

Adalah suatu hal yang sangat mengerikan dan mencemaskan setiap ibu yang akan melahirkan anaknya dan mengetahui bahwa anak itu akan direnggutkan dari pangkuannya kemudian dibunuh tanpa rasa iba dan belas kasihan.
Demikianlah halnya ibu Musa ketika melahirkannya.
Walaupun kelahiran Musa dapat di sembunyikan tetapi lama kelamaan pasti akan diketahui pula oleh tukang jagal anak-anak.
Yang banyak bertebaran di segala pelosok negeri, dan akhirnya nasib bayinya itu akan sama saja dengan nasib bayi-bayi Bani Israil lainnya yaitu : direnggut dari ibunya dan dipenggal kepalanya.
Inilah yang selalu ditakuti dan dicemaskan oleh ibu Musa setelah ia melahirkannya.
Ia selalu dalam keadaan gelisah dan khawatir memikirkan nasib anaknya yang telah dikandungnya dengan susah payah selama sembilan bulan yang menjadi harapan setelah bayi itu besar, karena itu ia selalu memohon doa kepada Tuhan agar anaknya itu diselamatkan dan terlepas dari bahaya maut yang selalu mengancamnya.
Dalam keadaan gelisah dan cemas itulah Allah mengilhamkan kepada ibunya bahwa dia tidak perlu khawatir dan cemas.
Hendaklah dia tetap menyusukannya dan menjaganya dengan sebaik-baiknya.
Bila dia merasa takut juga karena ada tanda-tanda bahwa anaknya itu akan diketahui juga, maka hendaklah melemparkan anak itu ke sungai Nil dan janganlah sekali-kali merasa ragu dan khawatir, karena Allah akan menjaga dan membelanya dan akan -mengembalikannya kepada pangkuannya, dia pula yang akan menyusuinya dan nanti anak itu akan menjadi Rasul Allah yang akan menyampaikan dakwah kepada Firaun sendiri.

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Pada saat ibunda Musa merasa takut akan kehilangan putranya karena dibunuh Fir’aun, seperti yang biasa terjadi pada setiap bayi yang baru lahir dari kalangan Bani Israil, Allah menurunkan ilham pada sang ibu agar menyusui bayinya dengan tenang, tanpa rasa khawatir akan kekejaman Fir’aun.
Juga, agar ihwal kehahiran bayinya tetap dirahasiakan.
Ia lalu meletakkan bayinya dalam sebuah kotak dan menghanyutkannya ke tengah sungai Nil tanpa rasa cemas dan duka, karena Allah telah berjanji akan menjaga dan menyerahkan Musa kembali ke pangkuannya.
Kelak Allah akan mengutusnya sebagai rasul kepada Bani Israil.

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(Dan kami ilhamkan) wahyu berupa ilham atau ilham melalui mimpi (kepada ibu Musa) Musa adalah bayi yang dimaksud oleh peramal Firaun, dan tidak ada seorang pun mengetahui kelahirannya selain saudara perempuannya sendiri.
(“Susukanlah dia! Apabila kamu khawatir terhadapnya maka hanyutkanlah dia ke dalam sungai) yakni sungai Nil (dan janganlah kamu khawatir) ia akan tenggelam (dan janganlah bersedih hati) karena berpisah dengan bayimu itu (karena sesungguhnya Kami akan mengembalikannya kepadamu, dan menjadikannya salah seorang dari para Rasul.”) maka ibu Musa menyusukan Musa selama tiga bulan, selama itu Musa tidak pernah menangis.
Akhirnya ibu Musa merasa khawatir akan keselamatan Musa, lalu ia menaruh Musa yang masih bayi itu ke dalam sebuah peti dilapisi dengan ter/aspal sebelah dalamnya, supaya air jangan masuk lalu dihanyutkan ke sungai Nil, di waktu malam hari.

Tafsir al-Muyassar
Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:

Dan Kami mengilhamkan kepada ibu Musa saat melahirkannya dan dia takut anaknya akan disembelih oleh Fir’aun sebagaimana dia menyembelih anak-anak lelaki Bani Israil :
Susuilah dia dengan tenang.
Bila kamu khawatir perkaranya diketahui, maka letakkanlah dia di dalam sebuah peti dan buanglah ke Nil, tanpa perlu takut kepada Fir’aun dan kaumnya bahwa mereka akan membunuhnya dan juga tidak perlu berduka karena berpisah dengannya, karena Kami akan memulangkan anakmu kepadamu dan menjadikannya sebagai seorang Rasul.
Maka ibu Musa meletakkan Musa dalam sebuah peti dan meletakkannya di Nil, para pembantu Fir’aun pun menemukannya dan mengambilnya.

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Para ulama menyebutkan bahwa setelah Fir’aun banyak membunuh bayi laki-laki kaum Bani Israil, maka orang-orang Qibti (Egypt) merasa khawatir akan kebinasaan bangsa Bani Israil, yang akibatnya mereka sendirilah yang akan menangani pekerjaan-pekerjaan berat yang selama itu ditangani oleh kaum Bani Israil.

Karena itu, mereka berkata kepada Fir’aun, “Sesungguhnya jika keadaan ini terus berlangsung, pastilah orang tua-orang tua laki-laki mereka mati dan bayi laki-laki mereka dihabisi, sedangkan yang tertinggal hanyalah kaum wanita mereka saja, dan kaum wanita mereka tidak mungkin dapat menggantikan pekerjaan-pekerjaan berat yang ditangani oleh kaum lelaki mereka, dan akibatnya pekerjaan-pekerjaan berat itu sudah dipastikan akan ditangani seluruhnya oleh kami.” Maka Fir’aun memutuskan untuk membunuhi anak-anak lelaki kaum Bani Israil selama satu tahun dan membiarkan mereka satu tahun (agar kaum lelaki Bani Israil tidak musnah).

Harun ‘alaihis salam dilahirkan pada tahun mereka membiarkan hidup bayi laki-laki yang lahir di tahun itu, sedangkan Musa dilahirkan di tahun mereka membunuhi semua bayi laki-laki yang lahir di tahun itu.
Fir’aun menugaskan orang-orang tertentu untuk mengawasi hal tersebut, juga menugaskan bidan-bidan yang memeriksa semua wanita Bani Israil.
Barang siapa yang terlihat oleh mereka sedang hamil, maka mereka mencatat namanya.
Apabila telah tiba masa kelahirannya, tidak boleh ada yang membidaninya kecuali wanita dari bangsa Egypt.
Dan jika wanita yang dimaksud melahirkan bayi perempuan, maka mereka membiarkannya, lalu mereka berlalu meninggalkannya.
Tetapi jika yang dilahirkannya adalah bayi laki-laki, maka para algojo mereka masuk dengan membawa pisau yang sangat tajam, lalu menyembelihnya.
Semoga Allah melaknat mereka.

Ketika ibu Musa mengandungnya, tidak tampak padanya pertanda kehamilan yang biasa dialami oleh wanita lainnya.
Karena itu, mata-mata perempuan Fir’aun tidak mengetahuinya.
Tetapi setelah ia mengetahui bahwa bayi yang dilahirkannya adalah laki-laki, terasa sempitlah dadanya dan hatinya dicekam rasa takut yang sangat akan keselamatan bayinya, sedangkan ia sangat mencintainya.
Disebutkan bahwa Musa ketika masih bayi, tiada seorang pun yang melihatnya melainkan pastilah ia mencintainya, dan orang yang ditakdirkan bahagia adalah orang yang mencintainya, juga mencintai syariat yang dibawanya.
Allah subhanahu wa ta’ala telah berfirman:

Dan Aku telah melimpahkan kepadamu kasih sayang yang datang dari-Ku.
(Taha: 39)

Setelah hati ibu Musa merasa sempit karena mengkhawatirkan keselamatan putranya, maka ia menerima ilham dari Allah, seperti yang disebutkan di dalam firman-Nya:

Dan Kami ilhamkan kepada ibu Musa, “Susuilah dia, dan apabila kamu khawatir terhadapnya, maka jatuhkanlah dia ke sungai (Nil).
Dan janganlah kamu khawatir dan janganlah (pula) bersedih hati, karena sesungguhnya Kami akan mengembalikannya kepadamu, dan menjadikannya (salah seorang) dari para rasul.
(Al Qashash:7)

Demikian itu karena rumah ibu Musa berada di tepi Sungai Nil.
Maka ia membuat sebuah peti dan dipersiapkannya sedemikian rupa, lalu ia menyusui bayinya dengan tenang.
Apabila masuk ke dalam rumahnya seseorang yang ia takuti, maka ia pergi dan menaruh bayinya di dalam peti itu, lalu ia hanyutkan ke Sungai Nil, tetapi peti itu diikatnya dengan tali yang berhubungan dengannya.

Pada suatu hari datanglah kepadanya seseorang yang ia takuti masuk ke dalam rumahnya, maka ia pergi dan meletakkan bayinya ke dalam peti itu, lalu ia hanyutkan ke Sungai Nil.
Tetapi karena terburu-buru, ia lupa mengikatnya dengan tali.
Maka peti itu terbawa hanyut oleh aliran Sungai Nil sehingga melewati istana Raja Fir’aun.
Maka dipungutlah peti itu oleh dayang-dayangnya, dan para dayang membawa peti itu kepada istri Fir’aun.
Para dayang tidak mengetahui isi peti itu dan mereka merasa takut untuk membukanya tanpa sepengetahuan istri Fir’aun, karena itulah mereka menyerahkannya kepada istri Fir’aun.


Kata Pilihan Dalam Surah Al Qashash (28) Ayat 7

YAMM
يَمّ

Arti lafaz yamm ialah lautan berair tawar maupun berair asin.Lafaz yamm diulang delapan kali di dalam Al Qur’an yaitu dalam surah:
-Al A’raaf (7), ayat 136;
-Tha Ha (20), ayat 39 (dua kali), 78, 97;
-Al Qashash (28), ayat 7, 40;
-Adz Dzaariyaat (51), ayat 40.

Ada tiga kejadian dalam Al Qur’an yang dikaitkan dengan kata yamm yaitu:

1. Ditenggelamkan Fir’aun dan tentaranya di laut. Kisah ini diriwayatkan dalam surah Al A’raaf (7), ayat 136; Tha Ha (20), ayat 78; Al Qashash (28), ayat 40; dan Adz Dzariyaat (51), ayat 40. Oleh karena Fir’aun dan pengikutnya tidak mau beriman kepada Nabi Musa, Allah mengazab mereka semua dengan ditenggelamkan di lautan.

2. Nabi Musa semasa bayi diletakkan di dalam peti dan dilepaskan oleh ibunya ke laut yaitu sungai yang lebar. Kisah ini diriwayatkan dalam surah Tha Ha (20), ayat 39 sebanyak dua kali dan Al Qashash (28), ayat 7.

Ibu Nabi Musa melakukan itu karena ilham Allah supaya Nabi Musa selamat dari tentara Fir’aun yang diperintahkan untuk membunuh setiap bayi lelaki yang lahir.

3. Patung anak sapi yang dibuat oleh Samiri dan disembah oleh Bani lsra’il dihancurkan dan serpihan abunya di buang ke laut. Dalam surah Tha Ha (20), ayat 97 diterangkan, anak sapi yang dibuat oleh Samiri dan disembah oleh Bani Israel akhirnya dibakar oleh Nabi Musa, kemudian serpihan abunya dihamburkan ke dalam laut. Apa yang dilakukan oleh Nabi Musa ini adalah untuk membuktikan sapi itu bukan Tuhan karena dia tidak dapat berbuat apa-apa untuk melindungi dirinya sendiri.

Sumber : Kamus Al Qur’an, PTS Islamika SDN. BHD.Hal:650

Informasi Surah Al Qashash (القصص)
Surat Al Qashash terdiri atas 88 ayat termasuk golongan surat-surat Makkiyyah.

Dinamai dengan “Al Qashash”,
karena pada ayat 25 surat ini terdapat kata “Al Qashash” yang berarti “cerita”.

Ayat ini menerangkan bahwa setelah Nabi Musa ‘alaihis salam bertemu dengan Nabi Syu’aib ‘alaihis salam ia menceritakan cerita yang berhubungan dengan dirinya sendiri, ya’ni pengalaman­nya dengan Fir’aun, sampai waktu ia diburu oleh Fir’aun karena membunuh seseorang dari bangsa Qibthi tanpa disengaja, Syu’aib ‘alaihis salam menjawab bahwa Musa ‘alaihis salam telah selamat dari pengejar­an orang-orang zalim.

Turunnya ayat 25 surat ini amat besar artinya bagi Nabi Muhammad ﷺ dan bagi sahabat­ sahabat yang melakukan hijrah ke Madinah, yang menambah keyakinan mereka, bahwa akhirnya orang-orang Islamlah yang menang, sebab ayat ini menunjukkan bahwa barangsiapa yang berhijrah dari tempat musuh untuk mempertahankan keimanan, pasti akan berhasil dalam per­juangannya menghadapi musuh-musuh agama.
Kepastian kemenangan bagi kaum muslimin itu, ditegaskan pada bagian akhir surat ini yang mengandung bahwa setelah hijrah ke Madinah kaum muslimin akan kembali ke Mekah sebagai pemenang dan penegak agama Allah.
Surat Al Qashash ini adalah surat yang paling lengkap memuat cerita Nabi Musa ‘alaihis salam sehingga menurut suatu riwayat, surat ini dinamai juga surat Musa.

Keimanan:

Allah Yang menentukan segala sesuatu dan manusia harus ridha dengan ketentu­an itu
alam adalah fana hanyalah Allah saja Yang Kekal dan semuanya akan kem­bali kepada Allah
Allah mengetahui isi hati manusia baik yang dilahirkan ataupun yang disembunyikannya.

Hukum:

Tidak ada pembahasan hukum yang spesifik dalam surat ini.

Kisah:

Kekejaman Fir’aun dan pertolongan serta karunia Allah kepada Bani Israil
Musa a.s. dilemparkan ke sungai Nil
seorang Qibthi terbunuh oleh Musa a.s.
Musa a.s. di Mad-yan
Musa a.s. menerima perintah Allah menyeru Fir’aun di bukit Thur
kisah Karun.

Lain-lain:

Al Qur’an menerangkan kisah nabi-nabi dan umat-umat dahulu sebagai bukti kerasulan Muhammad ﷺ
akhli kitab yang beriman dengan Nabi Muhammad ﷺ diberi pahala dua kali lipat
hikmah Al Qur’an diturunkan secara berangsur­ angsur
hanya Allah-lah yang memberi taufik kepada hamba-Nya untuk beriman
Allah menghancurkan penduduk sesuatu negeri adalah karena kezaliman penduduknya sendiri
Allah tidak mengazab sesuatu umat sebelum diutus rasul kepadanya
keadaan orang-orang kafir dan sekutu-sekutu mereka dihari kiamat
pergantian siang dan malam adalah rahmat dari Allah bagi manusia
Allah membalas kebaikan dengan berlipat ganda, sedang balasan kejahatan adalah seimbang dengan apa yang telah dilakukan
janji Allah akan kemenangan Nabi Muhammad s.a.w

Ayat-ayat dalam Surah Al Qashash (88 ayat)

Audio

Qari Internasional

Al Qashash (28) ayat 7 - Oleh Syekh Mishari Alafasy
Al Qashash (28) ayat 7 - Oleh Syekh Sa'ad Al-Ghamidi
Al Qashash (28) ayat 7 - Oleh Syekh Muhammad Ayyub

Murottal al-Qur'an & Terjemahan Indonesia
Q.S. Al Qashash - Oleh Syekh Misyari Rasyid Alafasy
Full 88 Ayat & Terjemahan


Gambar



Statistik
  • Rating RisalahMuslim

Surah Al Baqarah

Surah Al-Qasas (Arab: القصص ,"Cerita-Cerita") adalah surah ke-28 dalam al-Qur'an.
Surah ini diturunkan di Makkah setelah Surah An-Naml dan terdiri dari 88 ayat.
Surah ini diberi nama surah Al-Qasas karena mengambil kata dari ayat 25 yang berarti:

"Kemudian salah seorang dari perempuan dua beradik itu datang mendapatkannya dengan berjalan dalam keadaan tersipu-sipu sambil berkata: Sebenarnya ayahku menjemputmu untuk membalas budimu memberi minum binatang ternak kami.
Maka ketika Musa datang mendapatkannya dan menceritakan kepadanya kisah-kisah kejadian yang berlaku (mengenai dirinya) berkatalah orang tua itu kepadanya: 'Janganlah engkau bimbang, engkau telah selamat dari kaum yang zalim itu.'"

Surah ini diturunkan ketika kaum muslimin masih dalam keadaan lemah ketika mereka masih dibelenggu kekejaman kaum Musyrikin Makkah sebagai kuasa besar, mewah dan kuat.
Maka, Allah menurunkan surah ini sebagai perbandingan dengan riwayat hidup Nabi Musa dengan kekejaman Fir'aun dan akibat dari kemewahan Qarun serta memberikan janji akan kemenangan Nabi Muhammad kelak.

Nomor Surah28
Nama SurahAl Qashash
Arabالقصص
ArtiKisah
Nama lainMusa dan Fir’aun
Tempat TurunMekkah
Urutan Wahyu49
JuzJuz 20
Jumlah ruku'9 ruku'
Jumlah ayat88
Jumlah kata1443
Jumlah huruf5933
Surah sebelumnyaSurah An-Naml
Surah selanjutnyaSurah Al-'Ankabut
4.4
Ratingmu: 4.4 (28 orang)
Sending

✅ URL singkat halaman ini: https://risalahmuslim.id/28-7







Pembahasan ▪ kandungan surah al qasas ayat 7 ▪ Makna Surah Al Qashash ayat 7

Video

Panggil Video Lainnya

RisalahMuslim di  







Email: [email protected]
Made with in Yogyakarta