QS. Al Qashash (Kisah) – surah 28 ayat 56 [QS. 28:56]

اِنَّکَ لَا تَہۡدِیۡ مَنۡ اَحۡبَبۡتَ وَ لٰکِنَّ اللّٰہَ یَہۡدِیۡ مَنۡ یَّشَآءُ ۚ وَ ہُوَ اَعۡلَمُ بِالۡمُہۡتَدِیۡنَ
Innaka laa tahdii man ahbabta walakinnallaha yahdii man yasyaa-u wahuwa a’lamu bil muhtadiin(a);

Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya, dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk.
―QS. 28:56
Topik ▪ Iman ▪ Hidayah (petunjuk) dari Allah ▪ Allah memiliki Sifat Iradah (berkeinginan)
28:56, 28 56, 28-56, Al Qashash 56, AlQashash 56, AlQasas 56, Al Qasas 56, AlQasas 56, Al-Qasas 56

Tafsir surah Al Qashash (28) ayat 56

Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. Al Qashash (28) : 56. Oleh Kementrian Agama RI

Pada ayat-ayat ini Allah menerangkan bahwa Muhammad ﷺ tidak dapat menjadikan kaumnya sampai mereka taat dan menganut agama yang dibawanya sekalipun ia berusaha sekuat tenaga dan kemampuannya.
la hanya berkewajiban menyampaikan dan Allah-lah yang akan memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya.
Dia-lah yang mempunyai kebijaksanaan yang mendalam dan alasan yang cukup.
Hal tersebut di atas ditegaskan pula pada ayat lain di dalam Alquran sebagaimana firman-Nya:

Bukanlah kewajibanmu (Muhammad) menjadikan mereka mendapat petunjuk, akan tetapi Allah-lah yang memberi petunjuk (memberi taufik) siapa yang dikehendaki-Nya.

(Q.S. Al-Baqarah [2]: 272)

Dan firman-Nya:

Dan sebagian besar manusia tidak akan beriman walaupun kamu sangat menginginkannya.
(Q.S. Yusuf [12]: 103)

Berkata Abu Ishak Az Zajjaj : “Para ahli tafsir telah sepakat mengatakan bahwa ayat 56 ini diturunkan mengenai diri Abu Talib.
Diriwayatkan oleh Abd bin Hamid, Muslim, Tirmizi dan Baihaqi dari Abu Hurairah bahwa ketika Abu Talib (paman Nabi ﷺ) didalam keadaan sakaratulmaut, Nabi ﷺ mendatanginya dan berkata: “Wahai paman ucapkanlah : “La ilaha illallah” saya akan menjadi saksi bagimu di Hari Kiamat nanti di sisi Allah”.
Abu Talib menjawab: “Andaikata, saya tidak akan dicemoohkan oleh kaum Quraisy yang akan mengatakan: “Tidak ada yang membawanya (menurut kemauan kemenakannya) kecuali karena keluh kesah dan penderitaannya menghadapi maut itu, niscaya saya akan menyambut baik ajakanmu itu”,
maka diturunkanlah ayat ini oleh Allah subhanahu wa ta’ala Pada akhir ayat ini Allah menegaskan bahwa Dia lebih mengetahui orang-orang yang bersedia menerima hidayah itu, maka Ia berikanlah kepada mereka itu.
Di antara mereka itu ialah orang-orang Ahli Kitab yang pernah dikisahkan peristiwanya, sebaliknya orang-orang yang tidak mempunyai kesediaan seperti sebagian kaum dan kerabat Nabi ﷺ, tidak akan diberikan hidayah kepadanya.

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Wahai Rasul, sesungguhnya kamu sangat berhasrat untuk memberi petunjuk kepada kaummu, tetapi kamu tidak memiliki kemampuan untuk memasukkan semua orang yang kamu cintai ke dalam agama Islam.
Allahlah yang memberi petunjuk keimanan kepada orang yang dapat menerima dan memilih petunjuk di antara mereka.
Dialah yang mengetahui, dengan ilmu yang tiada bandingannya, tentang orang-orang yang akan masuk ke dalam barisan orang-orang yang diberi petunjuk.

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

Ayat berikut ini diturunkan berkenaan dengan keinginan Nabi ﷺ akan keimanan pamannya yaitu Abu Thalib.

(Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi) supaya ia mendapat hidayah (tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya dan Allah lebih mengetahui) yakni mengetahui (orang-orang yang mau menerima petunjuk).

Tafsir al-Muyassar
Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:

Sesungguhnya kamu wahai Rasul tidak akan mampu memberi hidayah taufik kepada siapa yang kamu inginkan hidayahnya, karena hal itu ada di tangan Allah.
Dia memberi petunjuk siapa yang Dia kehendaki kepada iman dan memberi taufik kepadanya, dan Dia lebih mengetahui siapa yan patut mendapatkan hidayah sehingga Dia pun memberinya hidayah.

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman kepada Rasul-Nya, bahwa sesungguhnya kamu, hai Muhammad:

tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi.
(Q.S. Al-Qashash [28]: 56)

Yakni masalah petunjuk bukanlah merupakan urusan kamu.
Sesungguhnya tugasmu hanyalah menyampaikan, sedangkan Allah-lah yang akan memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya.
Bagi-Nya hikmah yang tak terperikan dan hujah yang mengalahkan, sebagaimana yang disebutkan di dalam ayat lain melalui firman-Nya:

Bukanlah kewajibanmu menjadikan mereka mendapat petunjuk, akan tetapi Allah-lah yang memberi petunjuk (memberi taufik) siapa yang dikehendaki-Nya.
(Q.S. Al-Baqarah [2]: 272)

Dan firman Allah subhanahu wa ta’ala:

Dan sebagian besar manusia tidak akan beriman, walaupun kamu sangat menginginkannya.
(Q.S. Yusuf [12]: 103)

Tetapi ayat dalam surat Al-Qashash ini lebih khusus daripada ayat lainnya yang semakna, karena sesungguhnya disebutkan di dalamnya:

Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya, dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk.
(Q.S. Al-Qashash [28]: 56)

Artinya, Dia lebih mengetahui siapa yang berhak mendapat hidayah dan siapa yang berhak mendapat kesesatan.

Di dalam kitab Sahihain telah disebutkan bahwa ayat ini diturunkan berkenaan dengan Abu Talib, paman Rasulullah ﷺ Padahal Abu Talib adalah orang yang melindunginya, membantunya dan berdiri di pihaknya, serta mencintainya dengan kecintaan yang sangat secara naluri, bukan secara syar’i.
Tatkala ajal menjelang dan sudah tiba saat ajalnya, Rasulullah ﷺ menyerunya untuk beriman dan masuk Islam.
Tetapi takdir telah mendahuluinya dan nyawanya telah meregang, sedangkan ia masih tetap berada di dalam kekafirannya.
Hanya bagi Allah-lah hikmah yang sempurna.

Az-Zuhri mengatakan, telah menceritakan kepadaku Sa’id ibnul Musayyab, dari ayahnya Al-Musayyab ibnu Hazn Al-Makhzumi r.a.
yang menceritakan bahwa ketika Abu Talib menjelang ajalnya, Rasulullah ﷺ datang.
Beliau ﷺ menjumpai Abu Jahal ibnu Hisyam dan Abdullah ibnu Abu Umayyah ibnul Mugirah ada di sisi Abu Talib.
Maka Rasulullah ﷺ bersabda: Wahai paman(ku), ucapkanlah, “Tidak ada Tuhan selain Allah, ” yaitu suatu kalimat yang dengannya kelak aku akan membelamu di hadapan Allah! Maka Abu Jahal dan Abdullah ibnu Abu Umayyah berkata, “Hai Abu Talib, apakah kamu tidak suka dengan agama Abdul Muttalib?”
Rasulullah ﷺ terus-menerus menawarkan hal itu kepada Abu Talib, tetapi keduanya selalu menentangnya dengan kalimat itu terhadap Abu Talib.
Sehingga di akhir kalimat yang diucapkan Abu Talib menyatakan bahwa dirinya tetap berada pada agama Abdul Muttalib, dan menolak untuk mengucapkan kalimat “Tidak ada Tuhan selain Allah.” Maka Rasulullah ﷺ bersabda: Demi Allah, sungguh aku akan memohonkan ampun buatmu (kepada Allah) selama aku tidak dilarang memohonkannya buatmu.
Maka Allah menurunkan firman-Nya: Tiadalah sepatutnya bagi nabi dan orang-orang yang beriman memintakan ampun (kepada Allah) bagi orang-orang musyrik, walaupun orang-orang musyrik itu adalah kaum kerabat(nya).
(Q.S. At-Taubah [9]: 113) Dan sehubungan dengan Abu Talib itu Allah subhanahu wa ta’ala menurunkan firman-Nya: Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya.
(Q.S. Al-Qashash [28]: 56)

Imam Bukhari dan Imam Muslim mengetengahkannya melalui hadis Az-Zuhri.

Hal yang sama telah diriwayatkan oleh Imam Muslim di dalam kitab sahihnya dan Imam Turmuzi:

melalui hadis Yazid ibnu Kaisan, dari Abu Hazim, dari Abu Hurairah yang mengatakan bahwa ketika Abu Talib menjelang ajalnya, Rasulullah ﷺ datang kepadanya, lalu bersabda: Wahai paman(ku), ucapkanlah, “Tidak ada Tuhan selain Allah,” maka aku akan membelamu dengannya kelak di hari kiamat.
Abu Talib menjawab (dengan bahasa diplomasi), “Seandainya aku tidak merasa khawatir nanti akan dicela oleh orang-orang Quraisy karena kalimat tersebut, yang akan ditanggapi oleh mereka, bahwa tiada yang mendorongku mengatakannya melainkan karena takut mati, tentulah aku akan membuat hatimu senang, padahal aku tidak mengatakannya melainkan hanyalah untuk membuat hatimu senang.” Maka Allah subhanahu wa ta’ala menurunkan firman-Nya: Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya, dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk.
(Q.S. Al-Qashash [28]: 56)

Imam Turmuzi menilai hadis ini hasan garib, bahwa ia tidak mengenalnya melainkan hanya melalui hadis Yazid ibnu Kaisan.
Imam Ahmad meriwayatkannya melalui Yahya ibnu Sa’id Al-Qattan, dari Yazid ibnu Kaisan, bahwa telah menceritakan kepadanya Abu Hazim, dari Abu Hurairah, lalu disebutkan hadis yang semisal.

Hal yang sama dikatakan oleh Ibnu Abbas, Ibnu Umar, Mujahid, Asy-Sya’bi, dan Qatadah, bahwa ayat ini diturunkan berkenaan dengan Abu Talib ketika Rasulullah ﷺ menawarkan kepadanya untuk mengucap­kan kalimah “Tidak ada Tuhan selain Allah.” Abu Talib menolaknya dan mengatakan, “Wahai keponakanku, saya tetap berada pada agama orang-orang tua,” dan perkataan terakhir yang diucapkan Abu Talib ialah bahwa dirinya berada pada agama Abdul Muttalib.

Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami ayahku, telah menceritakan kepada kami Abu Salamah, telah menceritakan kepada kami Hammad ibnu Salamah, telah menceritakan kepada kami Abdullah ibnu Usman ibnu Khaisam, dari Sa’id ibnu Abu Rasyid yang mengatakan, “Utusan Kaisar Romawi datang kepadaku, lalu mengatakan, ‘Kaisar telah menulis sepucuk surat untuk Rasulullah ﷺ melaluiku.’ Maka aku datang menghadap kepada Rasulullah ﷺ dan kuserahkan surat itu kepadanya, lalu beliau meletakkannya di pangkuannya.
Kemudian beliau bertanya, ‘Dari manakah lelaki itu?’ Aku menjawab, ‘Dari kabilah Tanukh (kabilah Arab yang berpihak kepada Romawi).’ Beliau bertanya, ‘Apakah kamu memeluk agama bapak moyangmu Nabi Ibrahim yang hanif?’ Aku menjawab, ‘Sesungguhnya aku adalah utusan suatu kaum dan aku memeluk agama mereka, hingga aku kembali kepada mereka.’ Maka Rasulullah ﷺ berseri dan memandang kepada para sahabatnya seraya bersabda: ‘Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya.’ (Q.S. Al-Qashash [28]: 56).”


Hadits Shahih Yang Berhubungan Dengan Surah Al Qashash (28) ayat 56
Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Hatim bin Maimun telah menceritakan kepada kami Yahya bin Sa’id telah menceritakan kepada kami Yazid bin Kaisan dari Abu Hazim Al Asyja’i dari Abu Hurairah dia berkata,
“Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda kepada pamannya ketika dia menjelang wafat: ‘Katakanlah, “Tidak ada tuhan (yang berhak disembah selian Allah” niscaya aku akan bersaksi untukmu dengan kalimat tersebut pada hari kiamat.” Dia menjawab,
‘Kalau seandainya bukan karena kaum Quraisy mencelaku dengan perkataan mereka, “Dia melakukan hal tersebut karena cemas”, niscaya aku menyetujui kalimat tersebut dengan matamu.’ Lalu Allah menurunkan: Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi akan tetapi aku memberi petunjuk kepada orang yang Dia kehendaki (Qs. Al Qashash: 56).

Shahih Muslim, Kitab Iman – Nomor Hadits: 37

Asbabun Nuzul
Sebab-Sebab Diturunkannya Surah Al Qashash (28) Ayat 56

Diriwayatkan oleh Muslim dll yang bersumber dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah ﷺ Bersabda kepada pamannya: “Ucapkanlah laa ilaaha illallaah (tidak ada tuhan selain Allah), kelak aku akan menjadi saksi pada hari kiamat bahwa engkau telah beriman.” Abu Thalib (pamannya) menjawab:
“Sekiranya aku tidak takut wanita-wanita Quraisy mencelaku dan mencelaku dengan menyatakan bahwa aku beriman karena terpaksa, tentu aku akan mengucapkannya dengan kesaksianmu.” Maka turunlah ayat ini (al-Qashash: 56) yang menegaskan bahwa hanya Allah yang bisa memberikan hidayah.

Diriwayatkan oleh an-Nasa-I dan Ibnu ‘Asakir di dalam kitab Raariih Dimasyqa, dengan sanad jayyid (baik) yang bersumber dari Abu Sa’id bin Rafi’ bahwa Abu Sa’id din Rafi’ bertanya kepada Ibnu ‘Umar tentang ayat, innaka laa tahdii man ahbabta..
(sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi…) (al-Qashash: 56), apakah turunya berkenaan dengan Abu Jahl dan Abu Thalib ?
Ibnu ‘Umar membenarkannya.

Sumber : Asbabun Nuzul-K.H.Q.Shaleh – H.A.A Dahlan dkk.

Informasi Surah Al Qashash (القصص)
Surat Al Qashash terdiri atas 88 ayat termasuk golongan surat-surat Makkiyyah.

Dinamai dengan “Al Qashash”,
karena pada ayat 25 surat ini terdapat kata “Al Qashash” yang berarti “cerita”.

Ayat ini menerangkan bahwa setelah Nabi Musa ‘alaihis salam bertemu dengan Nabi Syu’aib ‘alaihis salam ia menceritakan cerita yang berhubungan dengan dirinya sendiri, ya’ni pengalaman­nya dengan Fir’aun, sampai waktu ia diburu oleh Fir’aun karena membunuh seseorang dari bangsa Qibthi tanpa disengaja, Syu’aib ‘alaihis salam menjawab bahwa Musa ‘alaihis salam telah selamat dari pengejar­an orang-orang zalim.

Turunnya ayat 25 surat ini amat besar artinya bagi Nabi Muhammad ﷺ dan bagi sahabat­ sahabat yang melakukan hijrah ke Madinah, yang menambah keyakinan mereka, bahwa akhirnya orang-orang Islamlah yang menang, sebab ayat ini menunjukkan bahwa barangsiapa yang berhijrah dari tempat musuh untuk mempertahankan keimanan, pasti akan berhasil dalam per­juangannya menghadapi musuh-musuh agama.
Kepastian kemenangan bagi kaum muslimin itu, ditegaskan pada bagian akhir surat ini yang mengandung bahwa setelah hijrah ke Madinah kaum muslimin akan kembali ke Mekah sebagai pemenang dan penegak agama Allah.
Surat Al Qashash ini adalah surat yang paling lengkap memuat cerita Nabi Musa ‘alaihis salam sehingga menurut suatu riwayat, surat ini dinamai juga surat Musa.

Keimanan:

Allah Yang menentukan segala sesuatu dan manusia harus ridha dengan ketentu­an itu
alam adalah fana hanyalah Allah saja Yang Kekal dan semuanya akan kem­bali kepada Allah
Allah mengetahui isi hati manusia baik yang dilahirkan ataupun yang disembunyikannya.

Hukum:

Tidak ada pembahasan hukum yang spesifik dalam surat ini.

Kisah:

Kekejaman Fir’aun dan pertolongan serta karunia Allah kepada Bani Israil
Musa a.s. dilemparkan ke sungai Nil
seorang Qibthi terbunuh oleh Musa a.s.
Musa a.s. di Mad-yan
Musa a.s. menerima perintah Allah menyeru Fir’aun di bukit Thur
kisah Karun.

Lain-lain:

Al Qur’an menerangkan kisah nabi-nabi dan umat-umat dahulu sebagai bukti kerasulan Muhammad ﷺ
akhli kitab yang beriman dengan Nabi Muhammad ﷺ diberi pahala dua kali lipat
hikmah Al Qur’an diturunkan secara berangsur­ angsur
hanya Allah-lah yang memberi taufik kepada hamba-Nya untuk beriman
Allah menghancurkan penduduk sesuatu negeri adalah karena kezaliman penduduknya sendiri
Allah tidak mengazab sesuatu umat sebelum diutus rasul kepadanya
keadaan orang-orang kafir dan sekutu-sekutu mereka dihari kiamat
pergantian siang dan malam adalah rahmat dari Allah bagi manusia
Allah membalas kebaikan dengan berlipat ganda, sedang balasan kejahatan adalah seimbang dengan apa yang telah dilakukan
janji Allah akan kemenangan Nabi Muhammad s.a.w

Ayat-ayat dalam Surah Al Qashash (88 ayat)

Audio

Qari Internasional

Q.S. Al-Qashash (28) ayat 56 - Oleh Syekh Mishari Alafasy
Q.S. Al-Qashash (28) ayat 56 - Oleh Syekh Sa'ad Al-Ghamidi
Q.S. Al-Qashash (28) ayat 56 - Oleh Syekh Muhammad Ayyub

Murottal al-Qur'an & Terjemahan Indonesia
Q.S. Al-Qashash - Oleh Syekh Misyari Rasyid Alafasy
Full ayat 1 sampai 88 & Terjemahan


Gambar



Statistik Q.S. 28:56
  • Rating RisalahMuslim

Ayat ini terdapat dalam surah Al Qashash.

Surah Al-Qasas (Arab: القصص ,"Cerita-Cerita") adalah surah ke-28 dalam al-Qur'an.
Surah ini diturunkan di Makkah setelah Surah An-Naml dan terdiri dari 88 ayat.
Surah ini diberi nama surah Al-Qasas karena mengambil kata dari ayat 25 yang berarti:

"Kemudian salah seorang dari perempuan dua beradik itu datang mendapatkannya dengan berjalan dalam keadaan tersipu-sipu sambil berkata: Sebenarnya ayahku menjemputmu untuk membalas budimu memberi minum binatang ternak kami.
Maka ketika Musa datang mendapatkannya dan menceritakan kepadanya kisah-kisah kejadian yang berlaku (mengenai dirinya) berkatalah orang tua itu kepadanya: 'Janganlah engkau bimbang, engkau telah selamat dari kaum yang zalim itu.'"

Surah ini diturunkan ketika kaum muslimin masih dalam keadaan lemah ketika mereka masih dibelenggu kekejaman kaum Musyrikin Makkah sebagai kuasa besar, mewah dan kuat.
Maka, Allah menurunkan surah ini sebagai perbandingan dengan riwayat hidup Nabi Musa dengan kekejaman Fir'aun dan akibat dari kemewahan Qarun serta memberikan janji akan kemenangan Nabi Muhammad kelak.

Nomor Surah 28
Nama Surah Al Qashash
Arab القصص
Arti Kisah
Nama lain Musa dan Fir’aun
Tempat Turun Mekkah
Urutan Wahyu 49
Juz Juz 20
Jumlah ruku' 9 ruku'
Jumlah ayat 88
Jumlah kata 1443
Jumlah huruf 5933
Surah sebelumnya Surah An-Naml
Surah selanjutnya Surah Al-'Ankabut
4.5
Ratingmu: 4.5 (11 orang)
Sending







Pembahasan ▪ innaka la tahdi man ahbabta ▪ Innaka la ▪ qs al qoshosh 56 ▪ (QS Al-Qashash [28]: 56) ▪ al qasas 56 ▪ hidayah allah innaka lan tahdi ▪ la tahdi ▪ qs al qashash 56

Iklan

Video

Panggil Video Lainnya


Podcast

Ikuti RisalahMuslim
               





Copied!

Masukan & saran kirim ke email:
[email protected]

Made with in Yogyakarta