Search
Exact matches only
Cari di judul
Cari di Arti & Tafsir
Search in comments
Search in excerpt
Filter by Custom Post Type
Filter berdasar surah
Pilih atau Semua
Abasa
Ad Dukhaan
Adh Dhuhaaa
Adz Dzaariyaat
Al 'Alaq
Al 'Ashr
Al A'laa
Al A'raaf
Al Aadiyaat
Al Ahqaaf
Al Ahzab
Al An 'aam
Al Anbiyaa
Al Anfaal
Al Ankabut
Al Balad
Al Baqarah
Al Bayyinah
Al Buruuj
Al Fajr
Al Falaq
Al Fath
Al Fatihah
Al Fiil
Al Furqaan
Al Ghaasyiyah
Al Haaqqah
Al Hadid
Al Hajj
Al Hasyr
Al Hijr
Al Hujurat
Al Humazah
Al Ikhlas
Al Infithar
Al Insaan
Al Insyiqaaq
Al Israa
Al Jaatsiyah
Al Jinn
Al Jumu'ah
Al Kaafiruun
Al Kahfi
Al Kautsar
Al Lahab
Al Lail
Al Ma'aarij
Al Maa'idah
Al Maa'un
Al Mu'min
Al Mu'minuun
Al Muddatstsir
Al Mujaadilah
Al Mulk
Al Mumtahanah
Al Munafiquun
Al Mursalat
Al Muthaffifin
Al Muzzammil
Al Qaari'ah
Al Qadr
Al Qalam
Al Qamar
Al Qashash
Al Qiyaamah
Al Waaqi'ah
Al Zalzalah
Alam Nasyrah
Ali Imran
An Naazi'at
An Nabaa
An Nahl
An Najm
An Naml
An Nas
An Nashr
An Nisaa'
An Nuur
Ar Ra'd
Ar Rahmaan
Ar Rum
As Sajdah
Ash Shaff
Ash Shaffaat
Asy Shyuura
Asy Syams
Asy Syu'araa
At Taghaabun
At Tahrim
At Takaatsur
At Takwir
At Taubah
At Tin
Ath Thaariq
Ath Thalaaq
Ath Thuur
Az Zukhruf
Az Zumar
Faathir
Fushshilat
Hud
Ibrahim
Luqman
Maryam
Muhammad
Nuh
Qaaf
Quraisy
Saba
Shaad
Thaa Haa
Yaa Siin
Yunus
Yusuf

💡 Ketik [nomer surah]-[nomer ayat], contoh: 2-255 atau albaqarah 255 atau ke www.risalahmuslim.id/2-255

Al Qashash

Al Qashash (Kisah) surah 28 ayat 29


فَلَمَّا قَضٰی مُوۡسَی الۡاَجَلَ وَ سَارَ بِاَہۡلِہٖۤ اٰنَسَ مِنۡ جَانِبِ الطُّوۡرِ نَارًا ۚ قَالَ لِاَہۡلِہِ امۡکُثُوۡۤا اِنِّیۡۤ اٰنَسۡتُ نَارًا لَّعَلِّیۡۤ اٰتِیۡکُمۡ مِّنۡہَا بِخَبَرٍ اَوۡ جَذۡوَۃٍ مِّنَ النَّارِ لَعَلَّکُمۡ تَصۡطَلُوۡنَ
Falammaa qadha muusal ajala wasaara biahlihi aanasa min jaanibith-thuuri naaran qaala ahlihiimkutsuu innii aanastu naaran la’allii aatiikum minhaa bikhabarin au jadzwatin minannaari la’allakum tashthaluun(a);

Maka tatkala Musa telah menyelesaikan waktu yang ditentukan dan dia berangkat dengan keluarganya, dilihatnyalah api di lereng gunung ia berkata kepada keluarganya:
“Tunggulah (di sini), sesungguhnya aku melihat api, mudah-mudahan aku dapat membawa suatu berita kepadamu dari (tempat) api itu atau (membawa) sesuluh api, agar kamu dapat menghangatkan badan”.
―QS. 28:29
Topik ▪ Keadilan Allah dalam menghakimi
28:29, 28 29, 28-29, Al Qashash 29, AlQashash 29, AlQasas 29, Al Qasas 29, AlQasas 29, Al-Qasas 29
Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. Al Qashash (28) : 29. Oleh Kementrian Agama RI

Pada ayat ini Allah subhanahu wa ta'ala menerangkan bahwa setelah Musa menunaikan tugasnya selama sepuluh tahun dengan sebaik-baiknya, diapun pamit kepada mertuanya untuk kembali ke Mesir, kampung halamannya, bersama dengan istrinya.
Tentu saja tidak ada alasan lagi bagi mertuanya untuk menahannya, karena semua ketentuan yang telah ditetapkan untuk mengawini anaknya sudah terpenuhi semuanya.
Hanya saja sebagai seorang yang telah tua.
tidak akan sampai hati melepaskan anak menantunya begitu saja, tanpa memberikan sekadar bekal di jalan.
Mertuanya membekali secukupnya dan memberikan pula kepadanya beberapa ekor kambing.
Maka berangkatlah Musa bersama istrinya menempuh jalan yang pernah ditempuhnya dahulu sewaktu dia lari dari Mesir.
Di tengah jalan dia berhenti di suatu tempat melepaskan lelahnya.
Malam itu adalah malam gelap gulita, karena itu ia mencoba menyalakan api dengan batu cetusnya, tetapi rabuknya tidak mau menyala sehingga hilanglah akalnya, karena ia tidak dapat mengerjakan sesuatu dalam gelap gulita itu.
Udarapun sangat dingin tentu dia dan keluarganya tidak akan dapat bertahan lama, tanpa ada api untuk berdiang.
Dalam keadaan demikian dari jauh dia melihat nyala api, di sebelah kanan bukit Tur, lalu dia berkata kepada istrinya, tunggulah aku di sini, aka akan pergi ke tempat api itu, semoga orang-orang di sana dapat memberikan berita kepada kita atau aku dapat membawa kemari sepotong kayu yang menyala supaya kita dapat menghangatkan badan kita terhadap dingin yang tak tertahan ini.

Al Qashash (28) ayat 29 - dibacakan oleh Shaykh Mishari Alafasy Al Qashash (28) ayat 29 - dibacakan oleh Syaikh Sa'ad Al-Ghamidi Al Qashash (28) ayat 29 - dibacakan oleh Syaikh Muhammad Ayyub

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Setelah menyelesaikan pekerjaan sesuai masa yang telah dijanjikan, dan secara sah menjadi suami putri Syu'ayb, Musa membawa istrinya kembali ke negeri Mesir.
Di tengah perjalanan, dari arah bukit Sinai Musa melihat api.
Ia berkata kepada orang-orang yang mengikutinya, "Tetaplah kalian di sini.
Aku melihat cahaya di tengah kegelapan.
Aku akan mendatangi api itu agar aku mendapat keterangan mengenai jalan yang akan kita tempuh, atau membawa sebongkah apinya untuk menghangatkan badan kalian."

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(Maka tatkala Musa telah menyelesaikan waktu yang ditentukan) yakni masa penggembalaan itu, yaitu delapan atau sepuluh tahun.
Masa sepuluh tahun inilah yang diduga kuat dilakukan oleh Nabi Musa (dan dia berangkat dengan keluarganya) dengan istrinya menuju ke negeri Mesir dengan seizin bapaknya (dilihatnyalah) yakni, Nabi Musa melihat dari jarak jauh (dari arah lereng gunung Thur) Thur adalah nama sebuah gunung (api, Ia berkata kepada keluarganya, "Tunggulah) di sini (sesungguhnya aku melihat api, mudah-mudahan aku dapat membawa suatu berita kepadamu dari tempat api itu) tentang jalan yang sebenarnya, karena pada saat itu Nabi Musa tersesat (atau membawa sesuluh) dapat dibaca Jadzwatin, Judzwatin, dan Jidzwatin, yakni sebuah obor (api agar kamu dapat menghangatkan badan") maksudnya, berdiang dengan api itu.
Huruf Tha yang ada pada lafal Tashthaluna merupakan pergantian dari huruf Ta wazan Ifti'al, karena berasal dari kata Shala bin nari atau Shaliya bin nari artinya berdiang dekat api untuk menghangatkan badan.

Tafsir al-Muyassar
Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:

Manakala Nabiyullah Musa telah memenuhi janjinya menyertainya selama sepuluh tahun, yaitu masa yang paling sempurna dari keduanya, dia pun membawa keluarganya kembali ke Mesir.
Di kaki gunung Thur dia melihat api.
Musa berkata kepada keluarganya :
Berhentilah dan tunggulah, aku melihat api, semoga aku bisa membawa berita darinya, atau membawa secuil api untuk kalian gunakan sebagai penghangat tubuh dari hawa yang dingin.

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Dalam tafsir ayat sebelumnya telah disebutkan bahwa Musa 'alaihis salam telah menunaikan masa yang paling banyak, paling baik, paling sempurna, dan paling bersih dari kedua masa itu.
Hal tersebut dapat disimpulkan pula dari kelompok ayat ini yang pada permulaannya disebutkan oleh firman-Nya:

Maka tatkala Musa telah menyelesaikan waktu yang ditentukan.
(Al Qashash:29)

Yakni yang paling sempurna dari kedua masa itu.

Ibnu Juraij mengatakan dari Mujahid, bahwa Musa menyelesaikan masa sepuluh tahun dan juga sepuluh tahun berikutnya.
Tetapi pendapat ini menurut hemat saya tiada yang mengatakannya selain pendapat ini, dan Ibnu Abu Hatim serta Ibnu Jarir telah meriwayatkannya pula, hanya Allah-lah Yang Maha Mengetahui.

Firman Allah subhanahu wa ta'ala:

dan dia berangkat bersama keluarganya.
(Al Qashash:29)

Mereka mengatakan bahwa Musa merasa rindu dengan tanah tempat kelahirannya dan juga sanak keluarganya, maka ia bertekad untuk mengunjungi mereka dengan sembunyi-sembunyi tanpa sepengetahuan Fir'aun dan kaumnya.
Ia berangkat bersama istrinya dan ternak kambing yang hasil pemberian mertuanya, lalu menempuh jalan di malam yang gelap lagi hujan deras dan cuaca yang dingin.
Maka ia turun istirahat di suatu tempat, dan setiap kali ia menyalakan pemantik apinya, ternyata tidak mau juga menyala.
Hal ini membuatnya terheran-heran.
Ketika ia dalam keadaan demikian,

dilihatnyalah api di lereng gunung.
(Al Qashash:29)

Yaitu ia melihat nyala api yang terang dari kejauhan.

ia berkata kepada keluarganya, "Tunggulah (di sini), sesungguhnya aku melihat api.” (Al Qashash:29)

Yakni aku akan berangkat menuju ke tempat api itu.

mudah-mudahan aku dapat membawa suatu berita kepadamu.
(Al Qashash:29)

Demikian itu karena pada saat itu Musa sesat jalan.

atau membawa sesuluh api.
(Al Qashash:29)

Yakni sebagian dari nyala api itu,

agar kamu dapat menghangatkan badan.” (Al Qashash:29)

Maksudnya, untuk berdiang kamu agar jangan kedinginan oleh cuaca yang sangat dingin ini.

Firman Allah subhanahu wa ta'ala:

Maka tatkala Musa sampai ke (tempat) api itu, diserulah dia dari (arah) pinggir lembah sebelah kanannya.
(Al Qashash:30)

Yaitu dari pinggir lembah yang ada di sebelah bukit itu yang berada di sebelah kanannya dari arah barat, seperti yang disebutkan oleh Allah subhanahu wa ta'ala dalam ayat yang lain melalui firman-Nya:

Dan tidaklah kamu (Muhammad) berada di sisi yang sebelah barat ketika Kami menyampaikan perintah kepada Musa.
(Al Qashash:44)

Hal ini menunjukkan kepada kita bahwa Nabi Musa menuju ke arah tempat api itu yang mengarah ke kiblat, sedangkan bukit yang ada di barat berada di sebelah kanannya.
Ia menjumpai api itu menyala besar pada sebuah pohon hijau di lereng bukit yang bersebelahan dengan lembah itu.
Musa berdiri tertegun keheranan menyaksikan pemandangan tersebut.
Maka Tuhannya menyerunya:

dari (arah) pinggir lembah sebelah kanannya yang diberkati dari sebatang pohon kayu.
(Al Qashash:30)

Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ibnu Waki', telah menceritakan kepada kami Abu Mu'awiyah, dari Al-A'masy, dari 'Amr ibnu Murrah, dari Abu Ubaidah, dari Abdullah yang mengatakan bahwa ia pernah menyaksikan pohon yang Musa diseru darinya.
Pohon itu adalah pohon samurah yang hijau berdaun lebat.

Sanad hadis di atas berpredikat muqarib.

Muhammad ibnu Ishaq telah meriwayatkan dari salah seorang yang tidak diragukan, dari Wahb ibnu Munabbih yang mengatakan bahwa pohon tersebut adalah pohon 'aliq.
Sebagian Ahli Kitab mengatakan bahwa pohon itu adalah pohon 'ausaj.
Qatadah mengatakan, pohon itu adalah pohon 'ausaj, dan tongkat Musa 'alaihis salam terbuat dari kayu pohon 'ausaj.

Kata Pilihan Dalam Surah Al Qashash (28) Ayat 29

JADZWAH
جَذْوَة

Arti lafaz jadzwah ialah saki baki kayu setelah terbakar atau biasa disebut dengan bara api. Bentuk jamaknya adalah jidzdziy, judzdza dan jidzdza. Sedangkan Abu Ubaid mengatakan arti jadzwah ialah potongan kayu yang besar baik itu di ujungnya ada api ataupun tidak.

Kata jadzwah hanya disebut sekali saja di dalam Al Qur'an yaitu dalam surah Al Qashash (28), ayat 29 dalam rangkaian kata jadzwatam minan naar.

Imam Mujahid mengartikannya dengan potongan bara api.

Imam Ibnu Katsir men­afsirkannya dengan bara api yang menyala ada kibaran api. Ayat itu menceritakan kisah Nabi Musa hidup bersama Nabi Syuaib dan be­ kerja dengannya selama sepuluh tahun di Madyan, beliau merasa rindu kepada keluarga dan negerinya Mesir. Kemudian beliau me­mutuskan menemui keluarganya secara sembunyi supaya tidak diketahui oleh Fir'aun dan kaumnya. Dalam perjalanan itu, beliau membawa keluarga dan harta benda seperti kambing yang dihadiahkan oleh mertuanya Nabi Syuaib.

Pada satu malam dalam perjalanan, hujan turun. Beliau dan keluarganya berhenti di satu tempat. Ketika beliau hendak me­nyalakan api, ia tidak menyala. Beliau heran dengan kejadian ini. Tiba-tiba, kelihatan dari arah tepi gunung seperti ada api yang ber­sinar dari jauh. Nabi Musa berkata kepada keluarganya, "Kalian diam dan tunggulah di sini. Saya lihat ada api dan saya akan ke sana. Semoga saya mendapat kabar gembira atau saya akan mengambil sepotong bara api ("jadzwatam minan naar") supaya kalian dapat memanaskan badan.

Sumber : Kamus Al Qur'an, PTS Islamika SDN. BHD.Hal:131-132

Informasi Surah Al Qashash (القصص)
Surat Al Qashash terdiri atas 88 ayat termasuk golongan surat-surat Makkiyyah.

Dinamai dengan "Al Qashash",
karena pada ayat 25 surat ini terdapat kata "Al Qashash" yang berarti "cerita".

Ayat ini menerangkan bahwa setelah Nabi Musa 'alaihis salam bertemu dengan Nabi Syu'aib 'alaihis salam ia menceritakan cerita yang berhubungan dengan dirinya sendiri, ya'ni pengalaman­nya dengan Fir'aun, sampai waktu ia diburu oleh Fir'aun karena membunuh seseorang dari bangsa Qibthi tanpa disengaja, Syu'aib 'alaihis salam menjawab bahwa Musa 'alaihis salam telah selamat dari pengejar­an orang-orang zalim.

Turunnya ayat 25 surat ini amat besar artinya bagi Nabi Muhammad ﷺ dan bagi sahabat­ sahabat yang melakukan hijrah ke Madinah, yang menambah keyakinan mereka, bahwa akhirnya orang-orang Islamlah yang menang, sebab ayat ini menunjukkan bahwa barangsiapa yang berhijrah dari tempat musuh untuk mempertahankan keimanan, pasti akan berhasil dalam per­juangannya menghadapi musuh-musuh agama.
Kepastian kemenangan bagi kaum muslimin itu, ditegaskan pada bagian akhir surat ini yang mengandung bahwa setelah hijrah ke Madinah kaum muslimin akan kembali ke Mekah sebagai pemenang dan penegak agama Allah.
Surat Al Qashash ini adalah surat yang paling lengkap memuat cerita Nabi Musa 'alaihis salam sehingga menurut suatu riwayat, surat ini dinamai juga surat Musa.

Keimanan:

Allah Yang menentukan segala sesuatu dan manusia harus ridha dengan ketentu­an itu
alam adalah fana hanyalah Allah saja Yang Kekal dan semuanya akan kem­bali kepada Allah
Allah mengetahui isi hati manusia baik yang dilahirkan ataupun yang disembunyikannya.

Hukum:

Tidak ada pembahasan hukum yang spesifik dalam surat ini.

Kisah:

Kekejaman Fir'aun dan pertolongan serta karunia Allah kepada Bani Israil
Musa a.s. dilemparkan ke sungai Nil
seorang Qibthi terbunuh oleh Musa a.s.
Musa a.s. di Mad-yan
Musa a.s. menerima perintah Allah menyeru Fir'aun di bukit Thur
kisah Karun.

Lain-lain:

Al Qur'an menerangkan kisah nabi-nabi dan umat-umat dahulu sebagai bukti kerasulan Muhammad ﷺ
akhli kitab yang beriman dengan Nabi Muhammad ﷺ diberi pahala dua kali lipat
hikmah Al Qur'an diturunkan secara berangsur­ angsur
hanya Allah-lah yang memberi taufik kepada hamba-Nya untuk beriman
Allah menghancurkan penduduk sesuatu negeri adalah karena kezaliman penduduknya sendiri
Allah tidak mengazab sesuatu umat sebelum diutus rasul kepadanya
keadaan orang-orang kafir dan sekutu-sekutu mereka dihari kiamat
pergantian siang dan malam adalah rahmat dari Allah bagi manusia
Allah membalas kebaikan dengan berlipat ganda, sedang balasan kejahatan adalah seimbang dengan apa yang telah dilakukan
janji Allah akan kemenangan Nabi Muhammad s.a.w


Gambar Kutipan Surah Al Qashash Ayat 29 *beta

Surah Al Qashash Ayat 29



Statistik
  • Rating RisalahMuslim

Surah Al Qashash

Surah Al-Qasas (Arab: القصص ,"Cerita-Cerita") adalah surah ke-28 dalam al-Qur'an.
Surah ini diturunkan di Makkah setelah Surah An-Naml dan terdiri dari 88 ayat.
Surah ini diberi nama surah Al-Qasas karena mengambil kata dari ayat 25 yang berarti:

"Kemudian salah seorang dari perempuan dua beradik itu datang mendapatkannya dengan berjalan dalam keadaan tersipu-sipu sambil berkata: Sebenarnya ayahku menjemputmu untuk membalas budimu memberi minum binatang ternak kami.
Maka ketika Musa datang mendapatkannya dan menceritakan kepadanya kisah-kisah kejadian yang berlaku (mengenai dirinya) berkatalah orang tua itu kepadanya: 'Janganlah engkau bimbang, engkau telah selamat dari kaum yang zalim itu.'"

Surah ini diturunkan ketika kaum muslimin masih dalam keadaan lemah ketika mereka masih dibelenggu kekejaman kaum Musyrikin Makkah sebagai kuasa besar, mewah dan kuat.
Maka, Allah menurunkan surah ini sebagai perbandingan dengan riwayat hidup Nabi Musa dengan kekejaman Fir'aun dan akibat dari kemewahan Qarun serta memberikan janji akan kemenangan Nabi Muhammad kelak.

Nomor Surah 28
Nama Surah Al Qashash
Arab القصص
Arti Kisah
Nama lain Musa dan Fir’aun
Tempat Turun Mekkah
Urutan Wahyu 49
Juz Juz 20
Jumlah ruku' 9 ruku'
Jumlah ayat 88
Jumlah kata 1443
Jumlah huruf 5933
Surah sebelumnya Surah An-Naml
Surah selanjutnya Surah Al-'Ankabut
4.8
Rating Pembaca: 4.2 (12 votes)
Sending







✔ surah al qasas 29s/d 99

Anda perlu login mengelola Bookmark.

📖 Lihat Semua Bookmark-ku