QS. Al Qalam (Pena) – surah 68 ayat 51 [QS. 68:51]

وَ اِنۡ یَّکَادُ الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا لَیُزۡلِقُوۡنَکَ بِاَبۡصَارِہِمۡ لَمَّا سَمِعُوا الذِّکۡرَ وَ یَقُوۡلُوۡنَ اِنَّہٗ لَمَجۡنُوۡنٌ
Wa-in yakaadul-ladziina kafaruu layuzliquunaka biabshaarihim lammaa sami’uudz-dzikra wayaquuluuna innahu lamajnuunun;

Dan sesungguhnya orang-orang kafir itu benar-benar hampir menggelincirkan kamu dengan pandangan mereka, tatkala mereka mendengar Al Quran dan mereka berkata:
“Sesungguhnya ia (Muhammad) benar-benar orang yang gila”.
―QS. 68:51
Topik ▪ Sifat surga dan kenikmatannya
68:51, 68 51, 68-51, Al Qalam 51, AlQalam 51, Al-Qalam 51

Tafsir surah Al Qalam (68) ayat 51

Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. Al Qalam (68) : 51. Oleh Kementrian Agama RI

Allah menyatakan kepada Nabi Muhammad ﷺ bahwa karena orang-orang musyrik sangat marah dan benci kepada beliau, mereka memandang Nabi dari sudut matanya dengan pandangan yang penuh kemarahan dan kebencian.
Hal ini terutama setiap kali mereka mendengar bacaan ayat-ayat Al-Qur’an.
Menurut sebagian ahli tafsir, yang dimaksudkan dengan “orang-orang yang hampir-hampir menggelincirkan Nabi dengan pandangan matanya” ialah Bani Asad, salah satu kabilah di negeri Arab waktu itu.
Diriwayatkan bahwa orang-orang dari Bani Asad mempunyai semacam ilmu yang dapat mempengaruhi orang lain dengan menggunakan ketajaman sorotan matanya.
Maka sebahagian mereka bermaksud mencobakan ilmunya itu kepada Nabi Muhammad, karena menurut mereka seandainya Muhammad itu benar-benar seorang rasul yang diutus Allah, tentu ia tidak akan terpengaruh oleh ilmu mereka itu.
Kenyataannya bahwa ilmu itu memang tidak mempan terhadap Rasulullah ﷺ Dari riwayat di atas ayat ini dipahami bahwa segala macam ilmu gaib apa pun tidak akan dapat mengenai atau mempengaruhi seseorang jika ia beriman kepada Allah, kecuali ilmu-ilmu yang sesuai dengan sunatullah, seperti menyakiti seseorang dengan cara mempengaruhi jiwanya sesuai dengan dalil dan ketetapan ilmu jiwa, menganiaya seseorang dengan aliran listrik, dan sebagainya.
Ilmu-ilmu yang demikian itu dapat mempengaruhi seseorang.
Karena orang-orang musyrik itu tidak dapat mempengaruhi Rasulullah dengan ilmu-ilmu yang ada pada mereka, seperti sorotan ketajaman mata, dan karena tidak dapat menandingi ayat-ayat Al-Qur’an, maka mereka mengatakan bahwa sesungguhnya ia (Muhammad) itu benar-benar orang yang gila.

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Orang-orang kafir itu benar-benar hampir mengenyahkanmu dari tempatmu dengan pandangan marah dan bermusuhan tatkala mereka mendengar Al Quran seraya mengatakan, “Sesungguhnya kamu benar- benar gila.”

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(Dan sesungguhnya orang-orang kafir itu benar-benar hampir menggelincirkan kamu) dapat dibaca layuzliquunaka dan layazliquunaka (dengan pandangan mereka) mereka memandangmu dengan pandangan yang sangat tajam, sehingga pandangannya hampir-hampir membuatmu pingsan dan menjatuhkanmu dari tempat atau kedudukanmu (tatkala mereka mendengar peringatan) yakni Alquran (dan mereka berkata) karena dengki, (“Sesungguhnya ia benar-benar orang gila.”) Mereka dengki karena Alquran yang diturunkan kepadanya itu.

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

Dan sesungguhnya orang-orang kafir itu benar-benar hampir menggelincirkan kamu dengan pandangan mereka.
(Q.S. Al-Qalam [68]: 51)

Ibnu Abbas dan Mujahid serta selain keduanya mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: benar-benar hampir menggelincirkan kamu.
(Q.S. Al-Qalam [68]: 51) Yakni mereka benar-benar hampir menembus dirimu.

dengan pandangan mereka.
(Q.S. Al-Qalam [68]: 51)

Yaitu mereka hampir saja menimpakan penyakit ‘ain terhadapmu melalui mata mereka.

Dengan kata lain, mereka dengki terhadapmu disebabkan kebencian mereka terhadapmu.
Seandainya tidak ada pemeliharaan dari Allah terhadap dirimu dari kebencian mereka, tentulah penyakit ain yang ditimpakan oleh mereka akan mengenai dan menembus dirimu.

Di dalam makna ayat ini terkandung dalil yang menunjukkan bahwa penyakit ‘ain itu ada dan pengaruhnya ada, tetapi dengan seizin Allah subhanahu wa ta’ala Banyak hadis yang menerangkan masalah ini diriwayatkan melalui berbagai jalur yang cukup banyak.

Hadis Anas ibnu Malik r.a.

Imam Abu Daud mengatakan, telah menceritakan kepada kami Sulaiman ibnu Daud Al-Ataki, telah menceritakan kepada kami Syuraih dan telah menceritakan kepada kami Al-Abbas Al-Anbari, telah menceritakan kepada kami Yazid ibnu Harun, telah menceritakan kepada kami Syarik, dari Al-Abbas ibnu Zarih, dari Asy-Sya’bi, yang menurut Al-Abbas Al-Anbari, dari Anas yang mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ telah bersabda: Tiada ruqyah kecuali karena penyakit ‘ain, atau demam atau pendarahan yang tidak pernah kering.

Tetapi lafaz al- ‘abbas tidak menyebutkan adanya ‘ain, dan apa yang disebutkan di atas berdasarkan lafaz sulaiman.

Hadis Buraidah ibnul Hasib r.a.

Abu Abdullah ibnu Majah mengatakan bahwa telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Abdullah ibnu “Namir, telah menceritakan kepada kami Ishaq ibnu Sulaiman, dari Abu Ja’far Ar-Razi, dari Husain, dari Asy-Sya’bi, dari Buraidah ibnul Hasib yang mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda: Tiada pengobatan dengan ruqyah kecuali karena penyakit ‘ain atau demam.

Demikianlah menurut apa yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah.
Imam Muslim telah mengetengahkan hadis ini di dalam kitab sahihnya, dari Sa’id ibnu Mansur, dari Hasyim, dari Husain ibnu Abdur Rahman ibnu Amir Asy-Sya’bi, dari Buraidah secara mauquf, yang di dalamnya terdapat kisah.

Menurut Imam Turmuzi, Syu’bah telah meriwayatkan hadis ini dari Al-Husain, dari Asy-Sya’bi, dari Buraidah.
Imam Bukhari telah meriwayatkan hadis ini melalui Muhammad ibnu Fudail, dan Abu Daud melalui Malik ibnu Magui, sedangkan Imam Turmuzi dari Sufyan ibnu Uyaynah; ketiga-tiganya dari Husain, dari Amir Asy-Sya’bi, dari Imran ibnu Husain secara mauquf, yaitu:

Tiada pengobatan dengan ruqyah kecuali karena penyakit ‘ain atau penyakit demam.

Hadis Abu Zar alias Jundub ibnu Junadah r.a.

Al-Hafiz Abu Ya’la Al-Mausuli mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ibrahim ibnu Muhammad ibnu Ur’urah ibnul Yazid As-Sami, telah menceritakan kepada kami Dailam ibnu Gazwan, telah menceritakan kepada kami Wahb ibnu AbuZar, dari Ibnu Harb, dari AbuZar yang mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda: Sesungguhnya ‘ain itu benar-benar dapat meringankan tubuh seseorang dengan seizin Allah, maka ia naik meninggi, kemudian terjatuh darinya (ketinggian).

Sanad hadis ini garib, mereka tidak ada yang mengetengahkannya.

Hadis Habis At-Tamimi.

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abdus Samad, telah menceritakan kepada kami Harb, telah menceritakan kepada kami Yahya ibnu Abu Kasir, telah menceritakan kepadaku Hayyah ibnu Habis At-Tamimi, bahwa ayahnya pernah menceritakan kepadanya bahwa ia pernah mendengar Rasulullah ﷺ bersabda: Tidak mengapa berobat karena terkena racun, dan ‘ain itu adalah hak (benar ada), dan tiyarah yang paling benar adalah rasa optimis.

Imam Turmuzi telah meriwayatkannya dari Amr ibnu Ali, dari Abu Gassan alias Yahya ibnu Kasir, dari Ali ibnul Mubarak, dari Yahya ibnu Abu Kasir dengan sanad yang sama.
Kemudian Imam Turmuzi mengatakan bahwa hadis ini garib.

Imam Turmuzi mengatakan pula bahwa Sinan telah meriwayatkannya dari Yahya ibnu Abu Kasir, dari Hayyah ibnu Habis, dari ayahnya, dari Abu Hurairah, dari Nabi ﷺ

Menurut hemat kami, Imam Ahmad telah meriwayatkannya pula dari Husain ibnu Musa dan Husain ibnu Muhammad, dari Syaiban ibnu Abu Hayyah yang menceritakannya dari ayahnya, dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah ﷺ telah bersabda:

Tiada mengapa berobat karena terkena racun, dan penyakit ‘ain itu benar, dan tiyarah yang paling benar ialah rasa optimis.

Hadis Ibnu Abbas r.a.

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abdullah ibnul Walid, dari Sufyan, dari Duraid, telah menceritakan kepadaku Ismail ibnuSauban, dari Jabir ibnu Yazid, dari Ibnu Abbas yang mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ telah bersabda: ‘Ain itu adalah hak (benar), ‘ain itu adalah hak, ia dapat menurunkan orang yang mengapung (di udara).
(Hadis berpredikat garib).

Jalur lain.

Imam Muslim mengatakan di dalam kitab sahihnya, bahwa:

telah menceritakan kepada kami Abdullah ibnu Abdur Rahman Ad-Darimi, telah menceritakan kepada kami Muslim ibnu Ibrahim, telah menceritakan kepada kami Wahib, dari Ibnu Tawus, dari ayahnya, dari Ibnu Abbas, dari Nabi ﷺ yang telah bersabda: Ain adalah hak (benar), seandainya ada sesuatu yang dapat mendahului takdir, maka tentulah ia adalah ‘ain; dan apabila kalian diminta untuk mandi (sebagai pengobatannya), maka mandilah.

Imam Muslim meriwayatkan hadis ini secara tunggal, tanpa Imam Bukhari.

Abdur Razzaq telah meriwayatkan dari Sufyan As-Sauri, dari Mansur, dari Al-Minhal ibnu Amr, dari Sa’id ibnu Jubair, dari Ibnu Abbas yang mengatakan bahwa dahulu Rasulullah ﷺ sering membaca ta’awwuz untuk Al-Hasan dan Al-Husain seraya mengucapkan: Aku memohon perlindungan untukmu berdua (kepada Allah) dengan kalimat-kalimat-Nya yang sempurna dari gangguan semua setan dan binatang yang berbisa serta dari setiap pandangan mata (‘ain) yang tercela.
Nabi ﷺ bersabda pula: Demikian pula yang dilakukan oleh Ibrahim dahulu bila berta’awwuz (menjampi) untuk Ishaq dan Ismail ‘alaihis salam

Imam Bukhari dan para pemilik kitab Sunan mengetengahkan hadis ini melalui Al-Minhal dengan sanad yang sama.

Hadis Abu Umamah alias As’ad ibnu Sahl ibnu Hanif r.a.

Ibnu Majah mengatakan, telah menceritakan kepada kami Hisyarn ibnu Ammar, telah menceritakan kepada kami Sufyan, dari Az-Zuhri, dari Abu Umamah alias As’ad ibnu Hanif yang mengatakan bahwa Amir ibnu Rabi’ah menjumpai Sahl ibnu Hanif sedang mandi.
Maka Amir ibnu Rabi’ah berkata, “Aku belum pernah menyaksikan pemandangan seperti hari ini, kulit tubuhnya kelihatan sangat bagus, tiada selembar pakaian pun yang menutupinya.” Maka tidak lama kemudian Sahl jatuh pingsan, lalu ia dibawa menghadap kepada Rasulullah ﷺ dan dikatakan kepada beliau bahwa ia menjumpai Sahl dalam keadaan tidak sadarkan diri.
Rasulullah ﷺ bertanya, “Siapakah orang yang kalian curigai sebagai sumbernya?”
Mereka menjawab, “Amir ibnu Rabi’ah.” Lalu Rasulullah ﷺ bersabda: Teganya seseorang dari kalian membunuh (menyakiti) saudaranya.
Apabila seseorang dari kalian melihai hal yang ia kagumi dari saudaranya, hendaklah ia mendoakan keberkatan baginya.
Kemudian Rasulullah ﷺ meminta air dan memerintahkan kepada Amir untuk berwudu.
Maka Amir membasuh mukanya dan kedua tangannya sampai kedua sikunya, dan membasuh kedua kakinya sampai kedua lututnya dan bagian dalam kain sarungnya, lalu Nabi ﷺ memerintahkan agar sisa air disiramkan pada sekujur tubuhnya.

Sufyan menceritakan bahwa Ma’mar telah meriwayatkan dari Az-Zuhri, bahwa lalu Rasulullah ﷺ memerintahkan agar air yang tersisa di wadah itu disiramkan kepada Amir dari arah belakangnya.

Imam Nasai telah meriwayatkan hadis ini melalui Sufyan ibnu Uyaynah dan Malik ibnu Anas, keduanya dari Az-Zuhri dengan sanad yang sama.

Disebutkan pula melalui hadis Sufyan ibnu Uyaynah, dari Ma’mar, dari Az-Zuhri, dari Abu Umamah r.a., bahwa sisa air yang ada di wadah itu dituangkan ke tubuh Amir dari arah belakangnya.

Disebutkan pula hal yang sama dalam hadis Ibnu Abu Zi-b, dari Az-Zuhri, dari Abu Umamah alias As’ad ibnu Sahl ibnu Hanif, dari ayahnya dengan sanad yang sama.
Juga di dalam hadis Malik, dari Muhammad ibnu Abu Umamah ibnu Sahl, dari ayahnya dengan sanad yang sama.

Hadis Abu Sa’id ‘Al-Khudri.

Ibnu Majah mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abu Bakar ibnu Abu Syaibah, telah menceritakan kepada kami Sa’id ibnu Sulaiman, telah menceritakan kepada kami Abbad, dari Al-Jariri, dari Abu Nadrah, dari Abu Sa’id Al-Khudri yang mengatakan: Dahulu Rasulullah ﷺ sering membaca ta’awwuz (memohon perlindungan kepada Allah) dari gangguan pandangan mata jin dan manusia.
Dan ketika diturunkan surat Mu’awwizatain (Q.S. Al-Falaq dan An-Nas), maka beliau meninggalkan semua bacaan ta’awwuz selain kedua surat itu.

Imam Turmuzi dan Imam Nasai telah meriwayatkan hadis ini melalui Sa’id ibnu Abu Iyas, dari Abu Mas’ud Al-Jariri dengan sanad yang sama, dan Imam Turmuzi mengatakan bahwa hadis ini hasan.

Hadis lain.

Imam Ahmad mengatakan bahwa telah menceritakan kepada kami Abdus Samad ibnu Abdul Waris, telah menceritakan kepadaku ayahku, telah menceritakan kepadaku Abdul Aziz ibnu Suhaib, telah menceritakan kepadaku Abu Nadrah, dari Abu Sa’id, bahwa Malaikat Jibril datang kepada Nabi ﷺ, lalu bertanya, “Hai Muhammad, apakah engkau sakit?”
Nabi ﷺ menjawab, “Ya.” Jibril menjampinya dengan doa berikut: Dengan nama Allah aku meruqyahmu (mengobatimu) dari semua penyakit yang mengganggumu, dari kejahatan setiap diri, dan dari pandangan mata yang dengki kepadamu, semoga Allah menyembuhkamu.
Dengan nama Allah aku meruqyahmu.

Imam Ahmad telah meriwayatkannya pula dari Affan, dari Abdul Waris dengan lafaz yang semisal.
Imam Muslim dan para pemilik kitab sunan kecuali Abu Daud meriwayatkannya melalui hadis Abdul Waris dengan sanad yang sama.

Imam Ahmad mengatakan pula, telah menceritakan kepada kami Affan, telah menceritakan kepada kami Wahib, telah menceritakan kepada kami Daud, dari Abu Nadrah, dari Abu Sa’id atau Jabir ibnu Abdullah, bahwa Rasulullah ﷺ sakit, lalu didatangi oleh Malaikat Jibril.
Maka Jibril menjampinya dengan doa berikut: Dengan menyebut nama Allah aku meruqyahmu dari segala penyakit yang mengganggumu dan dari setiap orang yang dengki serta dari pandangan mata (yang jahat), semoga Allah menyembuhkamu.

Imam Ahmad telah meriwayatkannya pula dari Muhammad ibnu Abdur Rahman At-Tafawi, dari Daud, dari Abu Nadrah, dari Abdul Aziz, dari Anas dengan lafaz yang semakna.
Keduanya berpredikat sahih.

Hadis Abu Hurairah r.a.

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abdur Razzaq, telah menceritakan kepada kami Ma’mar, dari Hammam ibnu Munabbih yang mengatakan bahwa berikut ini adalah apa yang diceritakan kepada kami oleh Abu Hurairah, dari Rasulullah ﷺ yang telah bersabda: Sesungguhnya ‘ain itu adalah hak (benar).

Imam Bukhari dan Imam Muslim mengetengahkannya melalui hadis Abdur Razzaq.

Ibnu Majah mengatakan bahwa telah menceritakan kepada kami Abu Bakar ibnu Syaibah, telah menceritakan kepada kami Ismail ibnu Aliyyah, dari Al-Jariri, dari Mudarib ibnu Hazn, dari Abu Hurairah yang mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ telah bersabda: Sesungguhnya (penyakit) ‘ain itu adalah hak (benar).

Imam Ibnu Majah meriwayatkannya secara tunggal, dan Imam Ahmad meriwayatkannya dari Ismail ibnu Aliyyah, dari Sa’id Al-Jariri dengan sanad yang sama.

Imam Ahmad berkata, telah menceritakan kepada kami ibnu Namir telah menceritakan kepada kami Saur (yakni Ibnu Zaid), dari Mak-hul, dari Abu Hurairah yang mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ telah bersabda: Ain adalah benar dan ia dibarengi oleh setan dan kedengkian anak adam.

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Khalaf ibnul Walid, telah menceritakan kepada kami Abu Ma’syar, dari Muhammad ibnu Qais, bahwa Abu Hurairah pernah ditanya, “Apakah engkau pernah mendengar Rasulullah ﷺ bersabda bahwa tiyarah (kesialan) terdapat pada tiga perkara, yaitu tempat tinggal (rumah), kuda (kendaraan), dan istri?”
Maka Abu Hurairah menjawab bahwa jika aku katakan ya, berarti aku mengatakan terhadap Rasulullah ﷺ Apa yang tidak dikatakannya.
Tetapi aku pernah mendengar Rasulullah ﷺ bersabda: Tiyarah yang paling benar ialah rasa optimis, dan ‘ain itu adalah benar.

Hadis Asma binti Umais.

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Sufyan, dari Amr ibnu Dinar, dari Urwah ibnu Amir, dari Ubaid ibnu Rifa’ah Az-Zurqi yang menceritakan bahwa Asma pernah bertanya, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya Bani Ja’far terkena penyakit ‘ain, maka bolehkah aku meminta pengobatan secara ruqyah buat mereka?”
Rasulullah ﷺ menjawab: Ya, seandainya ada sesuatu yang dapat mendahului takdir, niscaya ‘ain dapat mendahuluinya.

Hal yang sama telah diriwayatkan oleh Imam Turmuzi dan Ibnu Majah melalui hadis Sufyan ibnu Uyaynah dengan sanad yang sama.
Imam Turmuzi telah meriwayatkannya pula —-juga Imam Nasai— melalui hadis Abdur Razzaq, dari Ma’mar, dari Ayyub, dari Amr ibnu Dinar, dari Urwah ibnu Amir, dari Ubaid ibnu Rifa’ah, dari Asma binti Umais dengan sanad yang sama, dan Imam Turmuzi mengatakan bahwa hadis ini hasan sahih.

Hadis Aisyah r.a.

Ibnu Majah mengatakan bahwa telah menceritakan kepada kami Ali ibnu Abul Khasib, telah menceritakan kepada kami Waki’, dari Sufyan dan Mis’ar, dari Ma’bad ibnu Khalid, dari Abdullah ibnu Syaddad, dari Aisyah r.a., bahwa Rasulullah ﷺ pernah menyuruhnya mencari ruqyah karena penyakit ‘ain.

Imam Bukhari meriwayatkannya melalui Muhammad ibnu Kasir, dari Sufyan, dari Ma’bad ibnu Khalid dengan sanad yang sama.
Imam Muslim mengetengahkannya melalui hadis Sufyan dan Mis’ar, keduanya dari Ma’bad dengan sanad yang sama.

Kemudian Ibnu Majah mengatakan, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Basysyar, telah menceritakan kepada kami Abu Hisyam Al-Makhzumi, telah menceritakan kepada kami Wahib, dari Abu Waqid, dari Abu Salamah ibnu Abdur Rahman, dari Aisyah yang mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda: Mohonlah perlindungan kepada Allah karena sesungguhnya penyakit jiwa itu benar.

Imam Ibnu Majah meriwayatkan hadis ini secara tunggal.

Abu Daud berkata: bahwa telah menceritakan kepada kami Usman ibnu Abu Syaibah, telah menceritakan kepada kami Jarir, dari Al-A’masy, dari Ibrahim, dari Musa dan Husain ibnu Muhammad ibnu Sinan, bahwa Ibnu Hasanah pernah menceritakan kepadanya dari ayahnya, dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda:

Tiada mengapa (berobat karena) binatang beracun, dan ‘ain itu adalah benar, dan tiyarah yang paling benar adalah rasa optimis.

Hadis Sahl ibnu Hanif.

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Husain ibnu Muhammad, telah menceritakan kepada kami Abu Uwais, telah menceritakan kepada kami Az-Zuhri, dari Abu Umamah ibnu Sahl ibnu Hanif, ayahnya pernah menceritakan kepadanya bahwa Rasulullah ﷺ keluar melakukan perjalanan bersama para sahabatnya menuju Mekah.
Ketika sampai di Lereng Al-Khazzar di Juhfah, Sahl ibnu Hanif mandi.
Dia adalah seorang lelaki yang berkulit putih dan memiliki tubuh dan warna kulit yang bagus.
Maka Amir ibnu Rabi’ah saudara Bani Addi ibnu Ka’b memergokinya ketika ia mandi, lalu Amir berkata, “Aku belum pernah melihat pemandangan seperti hari ini, tiada selembar kain pun yang menutupi kulitnya yang bagus itu.” Maka saat itu juga Sahl jatuh pingsan, lalu dibawa ke hadapan Rasulullah ﷺ dan dikatakan kepada beliau, “Wahai Rasulullah, maukah engkau mengobati Sahl.
Dia, demi Allah, tidak sadarkan dirinya dan masih dalam keadaan pingsan.” Rasulullah ﷺ bertanya, “Apakah kalian mencurigai seseorang yang menjadi penyebabnya?”
Mereka menjawab, “‘Ini karena Amir memandangnya saat ia lagi mandi.” Maka Rasulullah ﷺ memanggil Amir dan memarahinya seraya bersabda: Teganya seseorang dari kalian mengganggu saudaranya.
Mengapa engkau tidak mendoakan keberkatan baginya jika engkau lihat darinya hal yang manakjubkan dirimu?.
Kemudian Rasulullah ﷺ bersabda, memerintahkan kepada Amir, “Mandilah kamu untuknya.” Maka Amir membasuh mukanya, kedua tangannya, kedua sikunya, kedua lututnya dan ujung-ujung jari kedua kakinya serta bagian dalam kainnya dari setimba air, kemudian sisanya disiramkan oleh seseorang ke kepalanya dan punggungnya dari arah belakangnya, yaitu dengan menumpahkan sisa air timba itu.
Setelah hal tersebut dilakukan, maka Sahl sadar kembali dan bergabung bersama orang-orang tanpa mengalami sedikit gangguan pun dan sehat wal afiat seperti sediakala.

Hadis Amir ibnu Rabi ‘ah.

Imam Ahmad mengatakan di dalam kitab musnadnya, telah menceritakan kepada kami Waki’, telah menceritakan kepada kami ayahku, telah menceritakan kepada kami Abdullah ibnu Isa, dari Umayyah ibnu Hindun, dari Sahl ibnu Hanif, dari Ubaidillah ibnu Amir yang mengatakan bahwa Amir ibnu Rabi’ah dan Sahl ibnu Hanif pergi dengan tujuan akan mandi.
Lalu keduanya berangkat mencari kain penutup, dan Sahl menanggalkan kain jubahnya yang terbuat dari bulu domba.
Maka aku memandangnya, dan ternyata pandangan mataku mengenainya, lalu Sahl turun ke air untuk mandi.
Kemudian kudengar suara air seakan-akan dia terjatuh ke dalamnya, maka kudekati tempat mandinya dan kupanggil-panggil dia sebanyak tiga kali, tetapi dia tidak menjawab.
Setelah itu aku datang kepada Nabi ﷺ dan menceritakan hal tersebut kepada beliau ﷺ Maka Rasulullah ﷺ datang dengan jalan kaki dan memasuki air untuk menolongnya, dan aku sempat melihat kedua betisnya yang putih.
Lalu Rasulullah ﷺ memukul dada Sahl seraya berdoa: Ya Allah, lenyapkanlah darinya pengaruh panas, dingin, dan penyakit ‘ain yang menimpanya.
Maka dengan serta merta Sahl bangkit berdiri dalam keadaan sehat, lalu Rasulullah ﷺ bersabda: Apabila seseorang dari kamu melihat pada diri saudaranya atau pada harta bendanya hal-hal yang mengagumkannya, hendaklah ia mendoakan keberkatan baginya, karena sesungguhnya ‘ain (pandangan) itu hak (benar).

Hadis Jabir.

Al-Hafiz Abu Bakar Al-Bazzar mengatakan di dalam kitab musnadnya bahwa telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Ma’mar, telah menceritakan kepada kami Abu Daud, telah menceritakan kepada kami Talib ibnu Habib ibnu Amr ibnu Sahl Al-Ansari yang dikenal dengan sebutan Ibnud Daji’, yaitu Daji’ (teman sejawat dengan) Hamzah r.a., telah menceritakan kepadaku Abdur Rahman ibnu Jabir ibnu Abdullah, dari ayahnya yang mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda: Kebanyakan orang yang mati dari kalangan umatku sesudah karena ketentuan Allah, ketetapan, dan takdir-Nya ialah karena ‘ain.

Al-Bazzar mengatakan bahwa lafaz al-anfus dalam hadis ini bermakna “ain (pandangan mata yang jahat).
Selanjutnya Al-Bazzar mengatakan bahwa ia tidak mengetahui hadis ini diriwayatkan dari Nabi ﷺ kecuali melalui sanad ini.

Menurut hemat kami, bahkan telah diriwayatkan pula hadis ini melalui jalur lain dari Jabir.

Al-Hafiz Abu Abdur Rahman alias Muhammad ibnul Munzir Al-Harawi yang dikenal dengan Basyukr telah mengatakan di dalam Kitabul ‘Ajaib yang di dalamnya terkandung banyak pembahasan yang besar faedahnya lagi menyendiri tiada pada kitab lainnya, bahwa:

telah menceritakan kepada kami Ar-Rahawi, telah menceritakan kepada kami Ya’qub ibnu Muhammad, telah menceritakan kepada kami Ali ibnu Abu Ali Al-Hasyimi, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnul Munkadir, dari Jabir ibnu Abdullah, bahwa Rasulullah ﷺ telah bersabda: ‘Ain itu hak (benar), sesungguhnya ia dapat menghantarkan seseorang ke kuburnya dan juga unta kepada takdirnya.
Dan sesungguhnya kebanyakan binasanya umatku karena ‘ain.

Kemudian Abu Abdur Rahman alias Muhammad ibnul Munzir Al-Harawi meriwayatkannya dari Syu’aib ibnu Ayyub, dari Mu’awiyah ibnu Hisyam, dari Sufyan, dari Muhammad ibnul Munkadir, dari Jabir yang mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ telah bersabda:

Adakalanya ‘ain itu dapat memasukkan seseorang ke dalam kuburnya dan juga memasukkan unta ke dalam takdir (yang telah ditetapkan bagi)nya.

Musnad hadis ini semua perawinya berpredikat.
tsiqat, tetapi para ahli hadis tiada yang mengetengahkannya.

Hadis Abdullah ibnu Amr.

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Qutaibah, telah menceritakan kepada kami Rasyidin ibnu Sa’d, dari Al-Hasan ibnu Sauban, dari Hisyam ibnu Abu Ruqyah, dari Abdullah ibnu Amr yang mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda: Tiada penyakit, tiada tiyarah, tiada bisa, dan tiada kedengkian (yang membahayakan), tetapi ‘ain itu adalah hak (benar).

Hadis yang diriwayatkan dari Ali.

Al-Hafiz ibnu Asakir telah meriwayatkan melalui jalur Khaisamah ibnu Sulaiman Al-Hafiz, bahwa telah menceritakan kepada kami Ubaid ibnu Muhammad Al-Kisywari, telah menceritakan kepada kami Abdullah ibnu Abdullah ibnu Abdu Rabbihi (anak hamba Tuhannya) Al-Basri, dari Abu Raja, dari Syu’bah, dari Abu Ishaq, dari Al-Haris, dari Ali r.a.
bahwa Malaikat Jibril datang kepada Nabi ﷺ yang ia jumpai sedang dalam keadaan berduka cita.
Lalu Malaikat Jibril bertanya, “Hai Muhammad, apakah yang engkau risaukan sehingga aku melihat kesedihan itu pada roman mukamu?”
Rasulullah ﷺ menjawab, “Al-Hasan dan Al-Husain terkena penyakit ‘ain.” Jibril menjawab, “Percayalah dengan penyakit ‘ain itu.” Jibril melanjutkan, “Karena sesungguhnya penyakit ‘ain itu benar berpengaruh.
Maukah engkau bila aku menjampinya dengan doa berikut?”
Nabi ﷺ bertanya, “Hai Jibril, bagaimanakah doanya?”
Jibril berkata: Katakanlah, “Ya Allah, Yang memiliki Kekuasaan yang besar, anugerah yang kekal, Yang memiliki Zat Yang Mahamulia, Pemilik kalimat-kalimat yang sempurna dan doa-doa yang mustajab, sembuhkanlah Al-Hasan dan Al-Husain dari tiupan jin dan pandangan jahat manusia.” Maka Nabi ﷺ membaca doa-doa tersebut, lalu dengan serta merta Al-Hasan dan Al-Husain bangkit dan bermain-main di hadapan Nabi ﷺ Setelah itu Nabi ﷺ bersabda: Bacakanlah doa penangkal ini kepada diri kalian, wanita-wanita kalian, dan anak-anak kalian.
Karena sesungguhnya doa penangkal ini tiada tandingannya.

Al-Khatib Al-Bagdadi mengatakan bahwa hadis ini diriwayatkan secara tunggal (menyendiri) oleh Abu Raja alias Muhammad ibnu Ubaidillah Al-Hanati, dari ahli bait yang disembunyikan namanya oleh Ibnu Asakir dalam biografi Tarrad ibnul Husain, bagian dari kitab Tarikh-nya.

Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

dan mereka berkata, “Sesungguhnya ia (Muhammad) benar-benar orang yang gila.” (Q.S. Al-Qalam [68]: 51)

Mereka memandang remeh dan hina kepada Nabi Muhammad ﷺ dan menyakitinya dengan lisan (ucapan) mereka, yaitu dengan mengatakan bahwa Muhammad benar-benar orang gila karena dia telah mendatangkan Al-Qur’an.
Maka Allah subhanahu wa ta’ala membantah ucapan mereka melalui firman berikutnya:

Dan Al-Qur’an itu tidak lain hanyalah peringatan bagi seluruh umat.
(Q.S. Al-Qalam [68]: 52)

Demikianlah akhir dari tafsir surat Al-Qalam, segala puji dan karunia adalah milik Allah semata.


Informasi Surah Al Qalam (القلم)
Surat ini terdiri atas 52 ayat, termasuk golongan surat-surat Makkiyyah, diturunkan sesudah surat Al’Alaq.

Nama “Al Qalam” diambil dari kata Al Qalam yang terdapat pada ayat pertama surat ini yang artinya “pena”.

Surat ini dinamai pula dengan surat “Nun” (huruf “nun”).

Keimanan:

Nabi Muhammad ﷺ bukanlah orang yang gila melainkan manusia yang berbudi pekerti yang agung
larangan bertoleransi di bidang kepercayaan
larangan mengikuti orang-orang yang mempunyai sifat-sifat yang dicela Allah
nasib yang dialami pemilik-pemilik kebun sebagai contoh orang-orang yang tidak bersyukur terhadap ni’mat Allah
kecaman-kecaman Allah kepada mereka yang ingkar dan azab yang akan menimpa mereka
Al Qur’an adalah peringatan bagi seluruh umat

Ayat-ayat dalam Surah Al Qalam (52 ayat)

Audio

Qari Internasional

Q.S. Al-Qalam (68) ayat 51 - Oleh Syekh Mishari Alafasy
Q.S. Al-Qalam (68) ayat 51 - Oleh Syekh Sa'ad Al-Ghamidi
Q.S. Al-Qalam (68) ayat 51 - Oleh Syekh Muhammad Ayyub

Murottal al-Qur'an & Terjemahan Indonesia
Q.S. Al-Qalam - Oleh Syekh Misyari Rasyid Alafasy
Full ayat 1 sampai 52 & Terjemahan


Gambar



Statistik Q.S. 68:51
  • Rating RisalahMuslim

Ayat ini terdapat dalam surah Al Qalam.

Surah Al-Qalam (Arab: القلم ,"Kalam") adalah surah ke-68 dalam al-Qur'an.
Surah ini tergolong surah Makkiyah, yang terdiri atas 52 ayat.
Dinamakan Al Qalam’ yang berarti pena di ambil dari kata Al Qalam yang terdapat pada ayat pertama surat ini.
Surat ini dinamai pula dengan surat Nun (huruf nun) diambil dari perkataan ’’Nun’’ yang terdapat pada ayat 1 surat ini.

Nomor Surah 68
Nama Surah Al Qalam
Arab القلم
Arti Pena
Nama lain Nun
Tempat Turun Mekkah
Urutan Wahyu 2
Juz Juz 28
Jumlah ruku' 2 ruku'
Jumlah ayat 52
Jumlah kata 301
Jumlah huruf 1288
Surah sebelumnya Surah Al-Mulk
Surah selanjutnya Surah Al-Haqqah
4.9
Ratingmu: 4.3 (9 orang)
Sending







Pembahasan ▪ alquran 68:51 indonesia

Iklan

Video

Panggil Video Lainnya


Ikuti RisalahMuslim
               





Copied!

Masukan & saran kirim ke email:
[email protected]

Made with in Yogyakarta