QS. Al Qalam (Pena) – surah 68 ayat 1 [QS. 68:1]

نٓ وَ الۡقَلَمِ وَ مَا یَسۡطُرُوۡنَ ۙ
Nuun wal qalami wamaa yasthuruun(a);

Nun, demi kalam dan apa yang mereka tulis,
―QS. 68:1
Topik ▪ Mempersiapkan diri menghadapi hari kiamat
68:1, 68 1, 68-1, Al Qalam 1, AlQalam 1, Al-Qalam 1

Tafsir surah Al Qalam (68) ayat 1

Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. Al Qalam (68) : 1. Oleh Kementrian Agama RI

Para mufasir berbeda pendapat tentang arti huruf “nun” yang terdapat dalam ayat ini.
(Selanjutnya lihat jilid I dalam keterangan tentang huruf-huruf hijaiah yang terdapat pada permulaan surah dalam Al-Qur’an).

Dalam ayat ini Allah bersumpah dengan al-qalam (pena) dan segala macam yang ditulis dengannya.
Suatu sumpah dilakukan adalah untuk meyakinkan pendengar atau orang yang diajak berbicara bahwa ucapan atau perkataan yang disampaikan itu adalah benar, tidak diragukan sedikit pun.
Akan tetapi, sumpah itu kadang-kadang mempunyai arti yang lain, yaitu untuk mengingatkan orang yang diajak berbicara atau pendengar bahwa yang dipakai untuk bersumpah itu adalah suatu yang mulia, bernilai, bermanfaat, dan berharga.
Oleh karena itu, perlu dipikirkan dan direnungkan agar dapat menjadi iktibar dan pengajaran dalam kehidupan dunia yang fana ini.
Sumpah dalam arti kedua ini adalah sumpah-sumpah Allah yang terdapat dalam surah-surah Al-Qur’an, seperti wal-‘asr (demi masa), was-sama’ (demi langit), wal-fajr (demi fajar), dan sebagainya.
Seakan-akan dengan sumpah itu, Allah mengingatkan kepada manusia agar memperhatikan masa, langit, fajar, dan sebagainya.
Segala sesuatu yang berhubungan dengan yang disebutkan itu perlu diperhatikan karena ada kaitannya dengan hidup dan kehidupan manusia dalam mencapai kebahagiaan di dunia dan di akhirat.

Dalam ayat ini, Allah bersumpah dengan qalam (pena) dan segala sesuatu yang ditulis dengannya.
Hal itu untuk menyatakan bahwa qalam itu termasuk nikmat besar yang dianugerahkan Allah kepada manusia, di samping nikmat pandai berbicara dan menjelaskan sesuatu kepada orang lain.
Dengan qalam, orang dapat mencatat ajaran agama Allah yang disampaikan kepada para rasul-Nya, dan mencatat pengetahuan-pengetahuan Allah yang baru ditemukannya.
Dengan surat yang ditulis dengan qalam, orang dapat menyampaikan berita gembira dan berita duka kepada keluarga dan teman akrabnya.
Dengan qalam, orang dapat mencerdaskan dan mendidik bangsanya, dan banyak lagi nikmat yang diperoleh manusia dengan qalam itu.

Pada masa Rasulullah ﷺ, masyarakat Arab telah mengenal qalam dan kegunaannya, yaitu untuk menulis segala sesuatu yang terasa, yang terpikir, dan yang akan disampaikan kepada orang lain.
Sekalipun demikian, belum banyak di antara mereka yang mempergunakannya karena masih banyak yang buta huruf dan ilmu pengetahuan belum berkembang.
Pada masa itu, kegunaan qalam sebagai sarana menyampaikan agama Allah sangat dirasakan.
Dengan qalam, ayat-ayat Al-Qur’an ditulis di pelepah-pelepah kurma dan tulang-tulang binatang atas perintah Rasulullah.
Beliau sendiri sangat menghargai orang-orang yang pandai menulis dan membaca.
Hal ini tampak pada keputusan Nabi Muhammad ﷺ pada Perang Badar, yaitu seorang kafir yang ditawan kaum Muslimin dapat dibebaskan dengan cara membayar uang tebusan atau mengajar kaum Muslimin menulis dan membaca.

Dengan ayat ini, seakan-akan Allah mengisyaratkan kepada kaum Muslimin bahwa ilmu-Nya sangat luas, tiada batas dan tiada terhingga.
Oleh karena itu, cari dan tuntutlah ilmu-Nya yang sangat luas itu agar dapat dimanfaatkan untuk kepentingan duniawi.
Untuk mencatat dan menyampaikan ilmu kepada orang lain dan agar tidak hilang karena lupa atau orang yang memilikinya meninggal dunia, diperlukan qalam sebagai alat untuk menuliskannya.
Oleh karena itu, qalam erat hubungannya dan tidak dapat dipisahkan dengan perkembangan ilmu, kesejahteraan, dan kemaslahatan umat manusia.
Masa turun ayat ini dekat dengan ayat Al-Qur’an yang pertama kali diturunkan Allah kepada Nabi Muhammad ﷺ, yaitu lima ayat pertama Surah al-‘Alaq.
Setelah Nabi menerima ayat 1-5 Surah al-‘Alaq itu, beliau pulang ke rumahnya dalam keadaan gemetar dan ketakutan.
Setelah hilang rasa gentar dan takutnya, Nabi ﷺ dibawa Khadijah, istri beliau, ke rumah Waraqah bin Naufal, anak dari saudara ayahnya (saudara sepupu).
Semua yang terjadi atas diri Rasulullah di gua Hira itu disampaikan kepada Waraqah, dan menanggapi hal itu, ia berkata, “Yang datang kepada Muhammad ﷺ itu adalah seperti yang pernah datang kepada nabi-nabi sebelumnya.
Oleh karena itu, yang disampaikan malaikat Jibril itu adalah agama yang benar-benar berasal dari Allah.” Kemudian Waraqah mengatakan bahwa ia akan mengikuti agama yang dibawa Muhammad itu.

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Nun adalah salah satu huruf fonemis yang digunakan untuk memulai sebagian surat-surat Al Quran sebagai tantangan kepada orang-orang yang mendustakannya dan gugahan terhadap orang-orang yang mempercayainya.

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(Nun) adalah salah satu dari huruf hijaiah, hanya Allahlah yang mengetahui arti dan maksudnya (demi qalam) yang dipakai untuk menulis nasib semua makhluk di Lohmahfuz (dan apa yang mereka tulis) apa yang ditulis oleh para malaikat berupa kebaikan dan kesalehan.

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Dalam pembahasan terdahulu telah disebutkan keterangan tentang huruf-huruf hijaiyah yang mengawali surat-surat Al-Qur’an, yaitu dalam tafsir surat Al-Baqarah, dan bahwa firman Allah subhanahu wa ta’ala, “Nun, ” sama dengan Shad.
Qaf, dan lain sebagainya dari huruf-huruf terpisah yang mengawali surat-surat Al-Qur’an.
Dan mengenai penjelasan tentang hal ini sudah cukup dikemukakan dalam tafsir surat Al-Baqarah, hingga tidak perlu diulangi lagi.

Menurut suatu pendapat, nun adalah nama seekor ikan yang amat besar berada di atas lautan air yang sangat luas, dialah yang menyangga tujuh lapis bumi, sebagaimana yang disebutkan oleh Imam Abu Ja’far ibnu Jarir yang mengatakan bahwa telah menceritakan kepada kami Ibnu Basysyar, telah menceritakan kepada kami Yahya, telah menceritakan kepada kami Sufyan As-Sauri, telah menceritakan kepada kami Sulaiman alias Al-A’masy, dari Abu Zabyan, dari Ibnu Abbas yang mengatakan bahwa yang mula-mula diciptakan oleh Allah adalah Al-Qalam.
Allah berfirman, “Tulislah!” Qalam bertanya, “Apakah yang harus aku tulis?”
Allah subhanahu wa ta’ala berfirman, “Tulislah takdir.” Maka Qalam mencatat semua yang akan terjadi sejak hari itu sampai hari kiamat..Kemudian Allah menciptakan nun dan menaikkan uap air; maka terciptalah darinya langit, dan terhamparlah bumi di atas nun.
Lalu nun bergetar, maka bumi pun terhampar dengan luasnya, lalu dikukuhkan dengan gunung-gunung.
Sesungguhnya nun itu benar-benar merasa bangga terhadap bumi.

Hal yang sama telah diriwayatkan oleh Ibnu Abu Hatim, dari Ahmad ibnu Sinan, dari Abu Mu’awiyah, dari Al-A’masy dengan sanad yang sama.
Hal yang sama telah diriwayatkan oleh Syu’bah, Muhammad ibnu Fudail dan Waki’, dari Al-A’masy dengan sanad yang sama.
Dan Syu’bah dalam salah satu riwayatnya menambahkan bahwa lalu Ibnu Abbas membaca firman-Nya: Nun, demi qalam dan apa yang mereka tulis.
(Q.S. Al-Qalam [68]: 1)

Syarik telah meriwayatkannya dari Al-A’masy ibnu Abu Zabyan atau Mujahid, dari Ibnu Abbas, lalu disebutkan hal yang semisal.
Ma’mar meriwayatkannya dari Al-A’masy, bahwa Ibnu Abbas pernah mengatakannya, kemudian ia membaca firman-Nya: Nun, demi qalam dan apa yang mereka tulis.
(Q.S. Al-Qalam [68]: 1)

Kemudian Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ibnu Humaid, telah menceritakan kepada kami Jarir, dari Ata, dari AbudDuha, dari Ibnu Abbas yang mengatakan bahwa sesungguhnya sesuatu yang mula-mula diciptakan oleh Tuhanku adalah Al-Qalam.
Kemudian Allah berfirman kepadanya, ‘Tulislah” Maka qalam menulis segala sesuatu yang akan terjadi sampai hari kiamat.
Kemudian Allah menciptakan nun di atas air, lalu meletakkan bumi di atasnya.

Imam Tabrani telah meriwayatkan hal ini secara marfu’.
Untuk itu ia mengatakan:

telah menceritakan kepada kami Abu Habib alias Zaid ibnul Mahdi Al-Marwazi, telah menceritakan kepada kami Sa’id ibnu Ya’qub At-Taliqani, telah menceritakan kepada kami Mu’ammal ibnu Ismail, telah menceritakan kepada kaini Hammad ibnu Zaid, dari Ata ibnus Sa-ib, dari AbudDuha alias Muslim ibnu Sabih, dari Ibnu Abbas yang mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ telah bersabda: Sesungguhnya makhluk yang mula-mula diciptakan oleh Allah adalah Al-Qalam dan al-hut (ikan yang sangat besar).
Allah berfirman kepada qalam, “Tulislah!” Qalam bertanya, “Apakah yang harus aku tulis?” Allah berfirman, “Segala sesuatu yang akan terjadi sampai hari kiamat.” Kemudian Nabi ﷺ membaca firman-Nya: Nun, demi qalam dan apa yang mereka tulis.
(Q.S. Al-Qalam; 1) Nun adalah ikan yang sangat besar, sedangkan al-qalam adalah qalam (pena).

Hadis lain diriwayatkan oleh Ibnu Asakir, dari Abu Abdullah maula Bani Umayyah, dari Abu Saleh, dari Abu Hurairah, bahwa ia pernah mendenaar Rasulullah ﷺ bersabda:

Sesungguhnya sesuatu yang mula-mula diciptakan oleh Allah adalah al-qalam, kemudian Allah menciptakan nun yaitu tinta, lalu Allah berfirman kepada al-qalam, “Tulislah!” Al-qalam bertanya, “Apa yang harus aku tulis?”
Allah berfirman, “Tulislah segala sesuatu yang akan terjadi, atau segala sesuatu yang akan ada, dari amal perbuatan, atau rezeki atau jejak atau ajal.” Maka al-qalam menulis semuanya itu sampai hari kiamat.
Itulah yang dimaksud oleh firman Allah subhanahu wa ta’ala, “Nun, demi qalam dan apa yang mereka tulis, (Q.S. Al-Qalam [68]: 1).” Kemudian al-qalam dikunci, maka ia tidak berbicara sampai hari kiamat.
Kemudian Allah menciptakan akal, lalu Allah berfirman, “Demi keagungan-Ku, sungguh Aku benar-benar akan menyempurnakanmu terhadap orang yang Aku sukai, dan sungguh Aku benar-benar akan mengurangimu terhadap orang yang Aku murkai.”

Ibnu Abu Najih telah mengatakan bahwa sesungguhnya Ibrahim ibnu Abu Bakar pernah menceritakan kepadanya dari .Mujahid yang telah mengatakan bahwa nun pernah disebutkan bahwa ia adalah ikan yang amat besar yang berada di bawah lapisan bumi yang ketujuh.
Al-Bagawi dan sejumlah ulama tafsir telah menyebutkan bahwa di atas punggung ikan yang besar ini terdapat sebuah batu besar yang ketebalannya sama dengan jarak antara langit dan bumi.
Dan di atas batu besar itu terdapat seekor banteng yang memiliki empat puluh ribu tanduk, sedangkan di atas punggung banteng ini terdapat bumi yang berlapis tujuh dan segala sesuatu yang terdapat di dalamnya dan segala sesuatu yang ada di antara tiap lapisnya.
Hanya Allah-lah Yang Maha Mengetahui.

Tetapi herannya ada sebagian ulama yang menakwilkan dengan makna ini hadis yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad.
Ia mengatakan:

telah menceritakan kepada kami Ismail, telah menceritakan kepada kami Humaid, dari Anas, bahwa Abdullah ibnu Salam ketika mendengar berita kedatangan Rasulullah ﷺ di Madinah, ia datang menemuinya dan bertanya kepadanya tentang berbagai hal.
Ia mengatakan, “Sesungguhnya aku akan bertanya kepadamu tentang berbagai hal yang tiada seorang pun mengetahuinya kecuali seorang nabi.” Abdullah ibnu Salam bertanya, “Apakah pertanda awal hari kiamat.
Dan makanan apakah yang disajikan kepada ahli surga sebagai suguhan pertamanya.
Dan sebutkan mengapa seorang anak mirip dengan ayahnya, dan mengapa seorang anak mirip ibunya?”
Rasulullah ﷺ menjawab, “Jibril baru saja memberitahukannya kepadaku.” Abdullah ibnu Salam berkata, “Dia adalah malaikat yang dibenci oleh orang-orang Yahudi.” Nabi ﷺ melanjutkan jawabannya: Pertanda yang mengawali hari kiamat ialah munculnya api yang menggiring manusia dari masyriq ke magrib.
Dan makanan yang mula-mula disajikan kepada penghuni surga ialah lebihan hatinya ikan paus.
Adapun mengenai anak, maka apabila air mani lelaki mendahului air mani perempuan, maka anaknya mirip dengan ayahnya.
Dan apabila air mani perempuan mendahului air mani laki-laki, maka anaknya mirip dengan ibunya.

Imam Bukhari meriwayatkan hadis ini melalui berbagai jalur dari Humaid, dan Imam Muslim serta Imam Bukliari telah rneriwayatkannya pula melalui hadis Sauban maula Rasulullah ﷺ dengan lafaz yang semisal.

Dan disebutkan di dalam kitab Sahih Muslim melalui hadis Abu Asma Ar-Rahbi, dari Sauban, bahwa seorang rahib pernah bertanya kepada Rasulullah ﷺ tentang berbagai masalah.
antara lain disebutkan bahwa apakah sajian pertama bagi ahli surga saat mereka masuk surga, maka Rasulullah ﷺ menjawab:

Lebihan hatinya ikan paus.
Rahib itu bertanya lagi, “Lalu makanan apakah yang disuguhkan kepada mereka sesudahnya?”
Rasulullah ﷺ menjawab: Disembelihkan untuk mereka seekor banteng surga yang makan dari pinggiran taman-taman surga.
Rahib itu bertanya lagi, “Lalu apakah suguhan minuman mereka sehabis menyantap makanan itu?”
Rasulullah ﷺ menjawab: Dari mata air yang ada di dalam surga yang dikenal dengan nama Salsabila.

Menurut suatu pendapat, yang dimaksud dengan nun adalah lauh (lembaran) dari nur (cahaya).

Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepada kami Al-Hasan ibnu Syabib Al-Maktab, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Ziad Al-Jazari, dari Furat ibnu Abul Furat, dari Mu’awiyah ibnu Qurrah, dari ayahnya yang mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ membaca firman-Nya: Nun, demi qalam dan apa yang mereka tulis.
(Q.S. Al-Qalam [68]: 1) Bahwa al-qalam adalah lembaran dari cahaya dan pena dari cahaya yang bergerak mencatat segala sesuatu yang akan ada sampai hari kiamat.

Hadis ini berpredikat mursal lagi garib.

Ibnu Juraij mengatakan bahwa ia pernah mendapat berita bahwa qalam tersebut dari nur yang panjangnya sama dengan jarak perjalanan seratus tahun.

Menurut pendapat yang lainnya lagi, yang dimaksud dengan nun adalah tinta, dan yang dimaksud dengan qalam adalah pena.

Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abdul A’la, telah menceritakan kepada kami Abu Saur, dari Ma’mar, dari Al-Hasan dan Qatadah sehubungan dengan makna firman-Nya, “Nun.” keduanya mengatakan bahwa yang dimaksud dengan nun ialah tinta.

Hal yang semisal telah diriwayatkan dalam hadis marfu’, tetapi predikatnya garib sekali.

Untuk itu Ibnu Abu Hatim mengatakan:

telah menceritakan kepada kami ayahku, telah menceritakan kepada kami Hisyam ibnu Khalid, telah menceritakan kepada kami Al-Hasan ibnu Yahya, telah menceritakan kepada kami Abu Abdullah mania Bani Umayyah, dari Abu Saleh, dan Abu Hurairah yang mengatakan bahwa ia pernah mendengar Rasulullah ﷺ bersabda: Allah telah menciptakan nun, yaitu tinta.

ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ibnu Humaid.
telah menceritakan kepada kami Ya’qub, telah menceritakan kepada kami saudara lelakinya yang bernama Isa ibnu Abdullah, telah menceritakan kepada kami Sabit As-Samali, dari Ibnu Abbas yang mengatakan bahwa sesungguhnya Allah menciptakan nun yaitu tinta dan menciptakan al-qalam.
Lalu Allah berfirman, “Tulislah!” Qalam bertanya, “Apa yang harus kutulis?”
Allah subhanahu wa ta’ala berfirman, “Tulislah segala sesuatu yang akan terjadi sampai hari kiamat, berupa amal perbuatan yang dikerjakan, baik amal ketaatan atau amal kedurhakaan, baik rezeki halal yang diberikan atau rezeki haram.” Kemudian ditetapkan pula segala sesuatu dari hal tersebut menyangkut nasibnya, yaitu masuknya ke dunia, dan masa tinggalnya di dunia, dan usia berapa saat keluarnya dari dunia dan bagaimana cara matinya.
Kemudian Allah subhanahu wa ta’ala menugaskan para malaikat penjaga untuk menjaga hamba-hamba-Nya dan para malaikat pencatat amal perbuatan untuk menghimpun catatan amal perbuatan mereka.
Para malaikat penjaga setiap harinya menyalin dari para malaikat pencatat amal perbuatan, amal perbuatan yang dikerjakan setiap harinya.
Apabila rezeki seseorang telah habis, dan jejak langkahnya telah berakhir serta ajalnya telah tiba, maka malaikat penjaga datang menjumpai malaikat pencatat amal perbuatan untuk meminta arsip catatan amal yang dikerjakan di hari itu.
Maka malaikat pencatat amal berkata kepada malaikat penjaga, “Kami tidak menjumpai amal apa pun bagi teman kamu ini.” Lalu malaikat penjaga kembali dan menjumpai orang yang dijaganya telah meninggai dunia.
Lalu Ibnu Abbas mengatakan bahwa bukankah kalian adalah orang-orang Arab, tentunya kalian pernah mendengar ucapan para malaikat pencatat amal perbuatan yang disitir oleh firman-Nya: Sesungguhnya Kami telah menyuruh mencatat apa yang telah kamu kerjakan.
(Q.S. Al-Jatsiyah: 29) Dan tiada lain makna istinsakh (menyalin) itu kecuali dari kitab induknya.

Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

demi qalam.
(Q.S. Al-Qalam [68]: 1)

Makna lahiriah menunjukkan jenis qalam (pena) alias sarana yang dipakai untuk menulis, semakna dengan pengertian yang terdapat di dalam firman-Nya:

Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah, Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan qalam.
Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.
(Q.S. Al-‘Alaq: 3-5)

Ini merupakan sumpah dari Allah subhanahu wa ta’ala dengan menyebut qalam, untuk mengingatkan makhluk-Nya akan nikmat yang telah Dia berikan kepada mereka, yaitu Dia telah mengajarkan kepada mereka menulis yang dengan melaluinya ilmu pengetahuan dapat diraih.
Karena itulah maka disebutkan dalam firman berikutnya:

dan apa yang mereka tulis.
(Q.S. Al-Qalam [68]: 1)

Ibnu Abbas, Mujahid, dan Qatadah mengatakan bahwa makna yang dimaksud ialah dan apa yang mereka tulis.

Abud Duha telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas, bahwa makna yang dimaksud ialah dan apa yang mereka kerjakan.’

As-Saddi mengatakan, yang dimaksud dengan mereka adalah para malaikat dan segala sesuatu yang mereka catat tentang amal perbuatan semua hamba.

Ulama lainnya mengatakan bahwa bahkan makna yang dimaksud dengan al-qalam dalam ayat ini ialah pena yang diperintahkan oleh Allah untuk mencatat takdir, yakni ketika Allah memerintahkan kepadanya mencatat semua takdir yang telah Dia tetapkan atas semua makhluk-Nya, yang hal ini terjadi sebelum Dia menciptakan langit dan bumi dalam jarak masa lima puluh ribu tahun.

Sehubungan dengan hal ini para ulama mengetengahkan hadis-hadis yang menerangkan masalah al-qalam ini.

Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abu Sa’id alias Yahya ibnu Sa’id Al-Qattan dan Yunus ibnu Habib; keduanya mengatakan bahwa telah menceritakan kepada kami Abu Daud At-Tayalisi, telah menceritakan kepada kami Abdul Wahid ibnu Sulaim As-Sulami, dari Ata ibnu Abu Rabah, telah menceritakan kepadaku Al-Walid ibnu Ubadah ibnus Samit yang mengatakan bahwa ayahnya memanggilnya saat ia menjelang kematiannya, lalu ayahnya yang sedang sakit keras itu mengatakan kepadanya bahwa sesungguhnya ia pernah mendengar Rasulullah ﷺ bersabda: Sesungguhnya makhluk yang mula-mula diciptakan oleh Allah adalah al-qalam, lalu Allah berfirman kepadanya, “Tulislah!” Al-qalam bertanya, “Ya Tuhanku apakah yang harus kutulis?
Allah berfirman, “Tulislah takdir dan semua yang akan ada sampai selama-lamanya, “

Hadis ini telah diriwayatkan oleh Imam Ahmad melalui berbagai jalur dari Al-Walid ibnu Ubadah, dari ayahnya dengan sanad yang sama.
Imam Turmuzi mengetengahkannya melalui hadis Abu Daud At-Tayalisi dengan sanad yang sama, dan ia mengatakan bahwa hadis ini hasan, sahih, garib.
Imam Abu Daud telah meriwayatkannya di dalam kitab sunannya dalam pembahasan As-Sunnah, dari Ja’far ibnu Musafir, dari Yahya ibnu Hassan, dari Ibnu Rabah, dari Ibrahim ibnu Abu Ablah, dari Abu Hafsah alias Hubaisy ibnu Syuraili Al-Habsyi Asy-Syabi, dari Ubadah, lalu disebutkan hal yang semisal.

Ibnu Abu Najih telah meriwayatkan dari Mujahid sehubungan dengan makna firman-Nya, “Al-Qalam, ” bahwa makna yang dimaksud ialah pena yang digunakan untuk menulis zikir (peringatan).

Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

dan apa yang mereka tulis.
(Q.S. Al-Qalam [68]: 1)

Yakni segala sesuatu yang mereka tulis; sama dengan tafsir yang sebelumnya.


Informasi Surah Al Qalam (القلم)
Surat ini terdiri atas 52 ayat, termasuk golongan surat-surat Makkiyyah, diturunkan sesudah surat Al’Alaq.

Nama “Al Qalam” diambil dari kata Al Qalam yang terdapat pada ayat pertama surat ini yang artinya “pena”.

Surat ini dinamai pula dengan surat “Nun” (huruf “nun”).

Keimanan:

Nabi Muhammad ﷺ bukanlah orang yang gila melainkan manusia yang berbudi pekerti yang agung
larangan bertoleransi di bidang kepercayaan
larangan mengikuti orang-orang yang mempunyai sifat-sifat yang dicela Allah
nasib yang dialami pemilik-pemilik kebun sebagai contoh orang-orang yang tidak bersyukur terhadap ni’mat Allah
kecaman-kecaman Allah kepada mereka yang ingkar dan azab yang akan menimpa mereka
Al Qur’an adalah peringatan bagi seluruh umat

Ayat-ayat dalam Surah Al Qalam (52 ayat)

Audio

Qari Internasional

Q.S. Al-Qalam (68) ayat 1 - Oleh Syekh Mishari Alafasy
Q.S. Al-Qalam (68) ayat 1 - Oleh Syekh Sa'ad Al-Ghamidi
Q.S. Al-Qalam (68) ayat 1 - Oleh Syekh Muhammad Ayyub

Murottal al-Qur'an & Terjemahan Indonesia
Q.S. Al-Qalam - Oleh Syekh Misyari Rasyid Alafasy
Full ayat 1 sampai 52 & Terjemahan


Gambar



Statistik Q.S. 68:1
  • Rating RisalahMuslim

Ayat ini terdapat dalam surah Al Qalam.

Surah Al-Qalam (Arab: القلم ,"Kalam") adalah surah ke-68 dalam al-Qur'an.
Surah ini tergolong surah Makkiyah, yang terdiri atas 52 ayat.
Dinamakan Al Qalam’ yang berarti pena di ambil dari kata Al Qalam yang terdapat pada ayat pertama surat ini.
Surat ini dinamai pula dengan surat Nun (huruf nun) diambil dari perkataan ’’Nun’’ yang terdapat pada ayat 1 surat ini.

Nomor Surah 68
Nama Surah Al Qalam
Arab القلم
Arti Pena
Nama lain Nun
Tempat Turun Mekkah
Urutan Wahyu 2
Juz Juz 28
Jumlah ruku' 2 ruku'
Jumlah ayat 52
Jumlah kata 301
Jumlah huruf 1288
Surah sebelumnya Surah Al-Mulk
Surah selanjutnya Surah Al-Haqqah
4.7
Ratingmu: 4.9 (15 orang)
Sending

URL singkat: risalahmuslim.id/68-1







Pembahasan ▪ QS 68 1 ▪ qs 68:91 ▪ ayat/hadits pertama pena

Iklan

Video

Panggil Video Lainnya


Podcast

Ikuti RisalahMuslim
               





Copied!

Masukan & saran kirim ke email:
[email protected]

Made with in Yogyakarta