Keluarga Anda ada yang belum mahir membaca Alquran? Ingin segera bisa? Klik di sini sekarang!

QS. Al Qadr (Kemuliaan) – surah 97 ayat 5 [QS. 97:5]

سَلٰمٌ ۟ۛ ہِیَ حَتّٰی مَطۡلَعِ الۡفَجۡرِ
Salaamun hiya hatta mathla’il fajr(i);
Sejahteralah (malam itu) sampai terbit fajar.
―QS. Al Qadr [97]: 5

Peace it is until the emergence of dawn.
― Chapter 97. Surah Al Qadr [verse 5]

سَلَٰمٌ sejahtera

Peace
هِىَ ia/malam itu

it (is)
حَتَّىٰ hingga

until
مَطْلَعِ terbit

(the) emergence
ٱلْفَجْرِ fajar

(of) the dawn.

Tafsir

Alquran

Surah Al Qadr
97:5

Tafsir QS. Al Qadr (97) : 5. Oleh Kementrian Agama RI


Dalam ayat ini, Allah menyatakan bahwa malam tersebut dipenuhi kebajikan dan keberkahan dari permulaan sampai terbit fajar, karena turunnya Alquran yang disaksikan oleh para malaikat ketika Allah melapangkan dada Nabi-Nya dan memudahkan jalan untuk menyampaikan petunjuk serta bimbingan kepada umatnya.

Tafsir QS. Al Qadr (97) : 5. Oleh Muhammad Quraish Shihab:


Keselamatan dari kejahatan, dan begitulah sehingga terbitnya fajar.

Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:


Malam itu penuh kedamaian, tidak ada keburukan di dalamnya hingga terbit fajar.

Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:



(Malam itu penuh dengan kesejahteraan) lafal ayat ini sebagai Khabar Muqaddam atau Khabar yang didahulukan, sedangkan Mubtadanya ialah


(sampai terbit fajar) dapat dibaca Mathla’al Fajri dan Mathla’il Fajri, artinya hingga waktu fajar.
Malam itu dinamakan sebagai malam yang penuh dengan kesejahteraan, karena para malaikat banyak mengucapkan salam, yaitu setiap kali melewati seorang mukmin baik laki-laki maupun perempuan mereka selalu mengucapkan salam kepadanya.

Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:


Adapun firman Allah subhanahu wa ta’ala:

Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar.
(QS. Al-Qadr [97]: 5)

Sa’id ibnu Mansur mengatakan bahwa telah menceritakan kepada kami Hisyam, dari Abu Ishaq, dari Asy-Sya’bi sehubungan dengan makna firman-Nya:
untuk mengatur segala urusan.
Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar.
(QS. Al-Qadr [97]: 4-5)
Makna yang dimaksud ialah salamnya para malaikat di malam Lailatul Qadar kepada orang-orang yang ada di dalam masjid sampai fajar terbit.


Dan Ibnu Jarir telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas, bahwa ia membaca ayat ini dengan bacaan berikut:
Min kulli imri’in, yang artinya menjadi seperti berikut:
Kepada setiap orang (malaikat memberi salam) di malam Lailatul Qadar sampai terbit fajar, yang dimaksud adalah ahli masjid.

Imam Baihaqi telah meriwayatkan sebuah asar yang garib yang menceritakan turunnya para malaikat dan lewatnya mereka kepada orang-orang yang sedang salat di malam itu (malam kemuliaan) sehingga orang-orang yang salat mendapat berkah karenanya.

Ibnu Abu Hatim telah meriwayatkan sebuah asar yang garib dari Ka’bul Ahbar cukup panjang menceritakan turunnya para malaikat dari Sidratul Muntaha dipimpin oleh Malaikat Jibrilalaihis salam ke bumi di malam kemuliaan dan doa mereka bagi orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan.

Abu Daud At-Tayalisi mengatakan, telah menceritakan kepada kami Imran Al-Qattan, dari Qatadah, dari Abu Maimunah, dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda sehubungan dengan malam kemuliaan (Lailatul Qadar):
Sesungguhnya malam kemuliaan itu jatuh pada malam dua puluh tujuh atau dua puluh sembilan (Ramadan), dan sesungguhnya para malaikat di bumi pada malam itu jumlahnya lebih banyak daripada bilangan batu kerikil.

Al-A’masy telah meriwayatkan dari Al-Minhal, dari Abdur Rahman ibnu Abu Laila sehubungan dengan makna firman-Nya:
untuk mengatur segala urusan, yang (penuh) kesejahteraan.
(QS. Al-Qadr [97]: 4-5)
Yakni tiada suatu urusan pun yang terjadi di malam itu.

Qatadah dan Ibnu Zaid mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya:
malam itu (penuh) kesejahteraan.
(QS. Al-Qadr [97]: 5)
Yaitu semuanya baik belaka, tiada suatu keburukan pun yang terjadi di malam itu sampai matahari terbit.


Pengertian ini didukung oleh apa yang telah diriwayatkan oleh Imam Ahmad,

telah menceritakan kepada kami Haiwah ibnu Syuraih, telah menceritakan kepada kami Baqiyyah.
telah menceritakan kepadaku Bujair ibnu Sa’d dan Khalid ibnu Ma’dan:
dari Ubadah ibnus Samit, bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda:
Lailatul Qadar terdapat di malam sepuluh yang terakhir (dari bulan Ramadan);
barang siapa yang melakukan qiyam padanya karena mengharapkan pahala di malam-malam tersebut, maka Allah memberi ampunan baginya atas semua dosanyayang terdahulu dan yang kemudian.
Malam Lailatul Qadar adalah malam yang ganjil, yang jatuh pada malam dua puluh sembilan, atau dua puluh tujuh, atau dua puluh lima, atau dua puluh tiga, atau malam yang terakhir.
Rasulullah ﷺ telah bersabda pula:
Sesungguhnya pertanda Lailatul Qadar ialah cuacanya bersih lagi terang seakan-akan ada rembulannya, tenang, lagi hening;
suhunya tidak dingin dan tidak pula panas, dan tiada suatu bintang pun yang dilemparkan pada malam itu sampai pagi hari.
Dan sesungguhnya pertanda Lailatul Qadar itu dipagi harinya matahari terbit dalam keadaan sempurna, tetapi tidak bercahaya seperti biasanya melainkan seperti rembulan di malam purnama, dan tidak diperbolehkan bagi setan ikut muncul bersamaan dengan terbitnya matahari di hari itu.

Sanad hadis ini hasan dan di dalam matannya terdapat garabah, dan pada sebagian lafaznya terdapat yang hal munkar.

Abu Daud At-Tayalisi mengatakan, telah menceritakan kepada kami Zam’ah, dari Salamah ibnu Wahram, dari Ikrimah, dari Ibnu Abbas, bahwa Rasulullah ﷺ telah bersabda sehubungan dengan malam Lailatul Qadar:
(Yaitu) malam yang sedang lagi terang, tidak panas dan tidak dingin, dan pada keesokan harinya cahaya mataharinya lemah kemerah-merahan.

Ibnu Abu Asim An-Nabil telah meriwayatkan berikut sanadnya dari Jabir ibnu Abdullah, bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda:

Sesungguhnya aku telah melihat malam Lailatul Qadar, lalu aku dijadikan lupa kepadanya;
malam Lailatul Qadar itu ada pada sepuluh terakhir (bulan Ramadan), pertandanya ialah cerah dan terang, suhunya tidak panas dan tidak pula dingin, seakan-akan padanya terdapat rembulan;
setan tidak dapat keluar di malam itu hingga pagi harinya.

Para ulama berbeda pendapat, apakah di kalangan umat-umat terdahulu ada Lailatul Qadar, ataukah memang Lailatul Qadar hanya khusus bagi umat ini?
Ada dua pendapat di kalangan mereka mengenainya.

Abu Mus’ab alias Ahmad ibnu Abu Bakar Az-Zuhri mengatakan, telah menceritakan kepada kami Malik, telah sampai kepadanya bahwa Rasulullah ﷺ diperlihatkan kepadanya usia-usia manusia yang sebelumnya dari kalangan umat terdahulu, atau sebagian dari hal tersebut menurut apa yang dikehendaki oleh Allah.
Maka Rasulullah ﷺ seakan-akan menganggap pendek usia umatnya bila dibandingkan dengan mereka yang berusia sedemikian panjangnya dalam hal beramal, dan beliau merasa khawatir bila amal umatnya tidak dapat mencapai tingkatan mereka.
Maka Allah subhanahu wa ta’ala memberinya Lailatul Qadar yang lebih baik daripada seribu bulan.

Hadis ini telah disandarkan melalui jalur lain, dan apa yang dikatakan oleh Malik ini memberikan pengertian bahwa Lailatul Qadar hanya dikhususkan bagi umat ini.
Dan pendapat ini telah dinukil oleh penulis kitab Al-Iddah, salah seorang ulama dari kalangan mazhab Syafii dari jumhur ulama;
hanya Allah-lah Yang Maha Mengetahui.


Al-Khattabi telah meriwayatkan adanya kesepakatan dalam hal ini, dan’Al-mazhab Syafii.
Akan tetapi, pengertian yang ditunjukkan oleh hadis memberikan pengertian bahwa Lailatul Qadar terdapat pula di kalangan umat-umat terdahulu sebagaimana terdapat di kalangan umat kita sekarang.

Imam Ahmad Ibnu Hambal mengatakan, telah menceritakan kepada kami Yahya ibnu Sa’id, dari Ikrimah ibnu Ammar, telah menceritakan kepadaku Abu Zamil alias Sammak Al-Hanafi, telah menceritakan kepadaku Malik ibnu Marsad ibnu Abdullah, telah menceritakan kepadaku Marsad yang telah mengatakan bahwa aku bertanya kepada Abu Zar,
"Apakah yang pernah engkau tanyakan kepada Rasulullah ﷺ tentang Lailatul Qadar?"
Abu Zar menjawab, bahwa dirinyalah orang yang paling gencar menanyakan tentang Lailatul Qadar kepada Rasulullah ﷺ Aku bertanya,
"Wahai Rasulullah, ceritakanlah kepadaku tentang Lailatul Qadar, apakah terdapat di dalam bulan Ramadan ataukah di bulan yang lain?"
Rasulullah ﷺ menjawab,
"Tidak, bahkan ia terdapat di dalam bulan Ramadan."
Aku bertanya lagi,
"Apakah Lailatul Qadar itu hanya ada di masa para nabi saja?
Apabila mereka telah tiada, maka Lailatul Qadar dihapuskan, ataukah masih tetap ada sampai hari kiamat?"
Rasulullah ﷺ menjawab,
"Tidak, bahkan Lailatul Qadar tetap ada sampai hari kiamat."
Aku bertanya lagi,
"Di bagian manakah Lailatul Qadar terdapat dalam bulan Ramadan?"
Rasulullah ﷺ menjawab:
Carilah Lailatul Qadar dalam sepuluh malam terakhirnya, jangan kamu bertanya lagi mengenai apapun sesudah ini.
Kemudian Rasulullah ﷺ melanjutkan perbincangannya, dan beliau terus berbincang-bincang, lalu aku memotong pembicaraannya dan bertanya,
"Di malam dua puluh berapakah Lailatul Qadar itu?"
Rasulullah ﷺ menjawab:
Carilah ia di malam-malam sepuluh terakhir, dan jangan engkan bertanya lagi mengenainya sesudah ini.
Rasulullah ﷺ melanjutkan pembicaraannya, kemudian aku memotong lagi pembicaraannya dan kukatakan kepadanya,
"Wahai Rasulullah, aku bersumpah kepada engkau demi hakku atas dirimu setelah engkau menceritakannya kepadaku, di malam dua puluh berapakah Lailatul Qadar itu?"
Maka beliau ﷺ kelihatan marah, dan aku belum pernah melihat beliau marah seperti itu sejak aku menjadi sahabatnya, lalu beliau bersabda:
Carilah ia di malam-malam tujuh terakhir, dan jangan lagi engkau menanyakannya kepadaku sesudah ini.

Imam Nasai meriwayatkannya dari Al-Fallas, dari Yahya ibnu Sa’id Al-Qattan dengan sanad yang sama.


Di dalam hadis ini terkandung makna yang menunjukkan seperti apa yang telah kami sebutkan di atas, yaitu bahwa Lailatul Qadar masih tetap ada sampai hari kiamat, tiap tahunnya sesudah Nabi ﷺ tiada.
Tidak sebagaimana yang disangka oleh sebagian golongan Syi’ah yang mengatakan bahwa Lailatul Qadar telah diangkat secara keseluruhan, sesuai dengan pemahaman mereka terhadap hadis yang akan kami kemukakan sehubungan dengan sabda Nabi ﷺ yang mengatakan:

Maka diangkatlah (dihapuskanlah) LailatuI Qadar dan mudah-mudahan hal ini baik bagi kalian.

Karena sesungguhnya makna yang dimaksud ialah hanya penghapusan mengenai pengetahuan malamnya secara tertentu.

Juga dalam hadis di atas menunjukkan bahwa LailatuI Qadar itu hanya khusus terjadi di dalam bulan Ramadan, bukan bulan-bulan lainnya.
Tidak sebagaimana yang diriwayatkan dari Ibnu Mas’ud dan ulama ahli Kufah yang mengikutinya, mereka mengatakan bahwa LailatuI Qadar itu terdapat di sepanjang tahun dan diharapkan terdapat di setiap bulannya secara merata.

Imam Abu Daud di dalam kitab sunannya telah menukil hadis ini dalam Bab
"Penjelasan LailatuI Qadar"
terdapat di semua Ramadan, untuk itu ia mengatakan bahwa:


telah menceritakan kepada kami Humaid ibnu Zanjawaih As-Sami, telah menceritakan kepada kami Sa’id ibnu Abu Maryam, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Ja’far ibnu Abu Kasir, telah menceritakan kepadaku Musa ibnu Uqbah, dari Abu Ishaq, dari Sa’id ibnu Jubair, dari Abdullah ibnu Umar yang mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ pernah ditanya mengenai LailatuI Qadar, sedangkan ia mendengarkannya.
Maka beliau ﷺ menjawab:
LailatuI Qadar terdapat di semua Ramadan.

Sanad ini semua perawinya berpredikat siqah;
hanya saja Abu Daud mengatakan bahwa Syu’bah dan Sufyan telah meriwayatkan hadis ini dari Abu Ishaq, dan keduanya me-mauquf-kan hadis ini hanya sampai kepadanya.
Dan telah diriwayatkan dari Abu Hanifah rahimahullah, bahwa LailatuI Qadar itu diharapkan terdapat di setiap bulan Ramadan.
Ini merupakan suatu pendapat yang diriwayatkan oleh Al-Gazali dan dinilai garib sekali oleh Ar-Rafi‘i.

Kemudian dikatakan bahwa LailatuI Qadar itu terdapat di malam pertama bulan Ramadan, pendapat ini diriwayatkan dari Abu Razin.

Menurut pendapat yang lain, LailatuI Qadar terdapat pada malam tujuh belas Ramadan.
Sehubungan dengan hal ini Abu Daud telah meriwayatkan sebuah hadis marfu‘ dari Ibnu Mas’ud.
Sebagaimana telah diriwayatkan pula hal yang sama secara mauquf hanya sampai pada Ibnu Mas’ud, Zaid ibnu Arqam, dan Usman ibnu Abul As.
Dan hal ini merupakan suatu pendapat yang bersumber dari Muhammad ibnu Idris Asy-Syafii, dan diriwayatkan dari Al-Hasan Al-Basri.
Mereka mengemukakan alasannya, bahwa LailatuI Qadar terjadi di malam Perang Badar, yang jatuh pada hari Jumat tanggal tujuh belas Ramadan.
Dan di pagi harinya terjadi Perang Badar, yaitu hari yang disebut oleh Allah subhanahu wa ta’ala melalui firman-Nya dengan sebutan Yaumul Furqan, alias hari pembeda antara perkara yang hak dan perkara yang batil.

Menurut pendapat lain, LailatuI Qadar jatuh pada tanggal sembilan belas bulan Ramadan;
pendapat ini bersumber dari Ali dan juga Ibnu Mas’ud.
Menurut pendapat yang lainnya lagi, LailatuI Qadar jatuh pada tanggal dua puluh satu berdasarkan hadis Abu Sa’id Al-Khudri yang mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ melakukan i’tikaf di malam-malam sepuluh pertama bulan Ramadan, dan kami pun ikut i’tikaf bersamanya.
Lalu datanglah Jibril dan mengatakan kepadanya,
"Sesungguhnya yang engkau cari berada di depanmu."
MakaNabi ﷺ melakukan i’tikaf pada malam-malam pertengahan (sepuluh kedua) bulan Ramadan, dan kami ikut beri’tikaf bersamanya.

Dan Jibril datang lagi kepadanya, lalu berkata,
"Yang engkau cari berada di depanmu."
Kemudian Nabi ﷺ berdiri dan berkhotbah di pagi hari tanggal dua puluh Ramadan, antara lain beliau bersabda:

Barang siapa yang telah melakukan i’tikaf bersamaku, hendaklah ia pulang, karena sesungguhnya aku telah melihat malam kemuliaan itu.
Dan sesungguhnya aku telah dibuat lupa terhadapnya, sesungguhnya malam kemuliaan itu berada di sepuluh terakhir bulan Ramadan pada malam-malam ganjilnya, dan sesungguhnya aku telah bermimpi seakan-akan diriku sedang sujud di tanah dan air (karena cuacanya hujan).

Sedangkan atap masjid terbuat dari pelepah daun kurma, pada mulanya kami tidak melihat sepotong awan pun di langit.
Lalu tiba-tiba terjadilah pelangi, dan terjadilah hujan, dan Nabi ﷺ membawa kami salat sehingga aku melihat bekas tanah dan air menempel di kening beliau, hal ini membuktikan kebenaran dari mimpi yang dilihatnya.

Menurut riwayat yang lain, kejadian itu terjadi pada pagi hari tanggal dua puluh satu Ramadan;
diketengahkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim di dalam kitab sahihnya masing-masing.
Imam Syafii mengatakan bahwa hadis ini merupakan hadis yang sanadnya paling sahih.

Menurut pendapat lainnya, malam kemuliaan terjadi pada tanggal dua puluh tiga Ramadan berdasarkan hadis Abdullah ibnu Unais dalam kitab Sahih Muslim, dan hadis ini konteksnya mendekati hadisnya Abu Sa’id;
hanya Allah-lah Yang Maha Mengetahui.

Menurut pendapat yang lainnya lagi, malam kemuliaan terjadi pada tanggal dua puluh empat Ramadan.


Sehubungan dengan hal ini Abu Daud At-Tayalisi mengatakan, telah menceritakan kepada kami Hammad ibnu Salamah, dari Al-Jariri, dari Abu Nadrah, dari A.bu Sa’id, bahwa Rasulullah ﷺ telah bersabda:

Lailatul Qadar adalah malam dua puluh empat (bulan Ramadan).

Sanad hadis ini semua perawinya berpredikat siqah.

Ahmad mengatakan bahwa telah menceritakan kepada kami Musa ibnu Daud, telah menceritakan kepada kami Ibnu Lahi’ah, dari Yazid ibnu Abu Habib, dari Abul Khair As-Sanabiji, dari Bilal yang mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda:
Lailatul Qadar adalah malam dua puluh empat (Ramadan).

Ibnu Lahi’ah orangnya daif.

Hadis ini bertentangan dengan apa yang telah diriwayatkan oleh Imam Bukhari dari Asbag, dari Ibnu Wahb, dari Arar ibnul Haris, dari Yazid ibnu Abu Habib, dari Abul Khair, dari Abu Abdullah As-Sanabiji yang mengatakan bahwa telah menceritakan kepadaku Bilal juru azan Rasulullah ﷺ, bahwa malam kemuliaan itu terdapat pada malam tujuh terakhir dari bulan Ramadan.
Hadis ini mauquf hanya sampai kepada Bilal, dan inilah yang paling sahih;
hanya Allah-lah Yang Maha Mengetahui.

Hal yang sama telah diriwayatkan dari Ibnu Mas’ud, Ibnu Abbas, Jabir, Al-Hasan, Qatadah, dan Abdullah ibnu Wahb, bahwa malam kemuliaan terdapat pada malam dua puluh empat Ramadan.
Dalam pembahasan yang lalu telah disebutkan hadis Wasilah ibnul Asqa’ secara marfu‘, yaitu dalam tafsir surat Al-Baqarah, berbunyi demikian:

Sesungguhnya Al-Qur’an diturunkan pada malam dua puluh empat (Ramadan).

Menurut pendapat yang lainnya lagi, malam kemuliaan terdapat dalam malam dua puluh lima Ramadan, berdasarkan apa yang telah diriwayatkan oleh Imam Bukhari dari Abdullah ibnu Abbas, bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda:


Carilah malam kemuliaan di malam-malam sepuluh terakhir dari bulan Ramadan, yaitu bila tinggal sembilan malam lagi atau bila tinggal tujuh malam lagi, atau bila tinggal lima malam lagi.

Kebanyakan ulama menakwilkan makna hadis ini dengan malam-malam yang ganjil, dan pendapat inilah yang kuat dan yang terkenal.
Sedangkan ulama lainnya menakwilkannya terjadi pada malam-malam yang genap dari malam-malam sepuluh terakhir Ramadan.
Ini berdasarkan apa yang telah diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Abu Sa’id, bahwa ia menakwilkannya demikian;
hanya Allah-lah Yang Maha Mengetahui.


Menurut pendapat yang lainnya lagi, malam kemuliaan terdapat dalam malam dua puluh tujuh Ramadan, berdasarkan apa yang telah diriwayatkan oleh Imam Muslim di dalam kitab sahihnya, dari Ubay ibnu Ka’b, dari Rasulullah ﷺ, bahwa malam kemuliaan terjadi pada tanggal dua puluh tujuh.

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Sufyan yang telah mendengar dari Abdah dan Asim, dari Zur yang mengatakan bahwa ia pernah bertanya kepada Ubay ibnu Ka’b,
"Hai Abul Munzir, engkau pernah berkata bahwa saudaramu Ibnu Mas’ud pernah mengatakan bahwa barang siapa yang melakukan qiyaimil lail sepanjang tahun, niscaya akan menjumpai Lailatul Qadar."

Ubay ibnu Ka’b menjawab,
"Semoga Allah merahmatinya, sesungguhnya dia telah mengetahui bahwa malam kemuliaan itu terdapat di dalam bulan Ramadan dan tepatnya di malam dua puluh tujuh."
Kemudian Ubay ibnu Ka’b bersumpah untuk menguatkan perkataannya.
Dan aku bertanya,
"Bagaimanakah kamu mengetahuinya?"
Ubay ibnu Ka’b menjawab,
"Melalui alamat atau tandanya yang telah diberitahukan kepada kami oleh Nabi ﷺ, bahwa pada siang harinya mentari terbit di pagi harinya, sedangkan cahayanya lemah."

Imam Muslim telah meriwayatkan ini melalui jalur Sufyan ibnu Uyaynah, Syu’bah, dan Al-Auza’i, dari Abdah, dari Zur, dari Ubay, lalu disebutkan hal yang semisal.
Yang di dalamnya disebutkan bahwa Ubay ibnu Ka’b mengatakan,
"Demi Allah, yang tiada Tuhan yang berhak disembah selain Dia, sesungguhnya malam kemuliaan itu benar-benar berada di bulan Ramadan."
Ubay ibnu Ka’b bersumpah tanpa mengucapkan pengecualian, lalu ia melanjutkan,
"Demi Allah, sesungguhnya aku benar-benar mengetahui di tanggal berapakah Lailatul Qadar itu berada, Rasulullah ﷺ telah memerintahkan kami untuk melakukan qiyam padanya, yaitu tanggal dua puluh tujuh.
Dan pertandanya ialah di pagi harinya mentari terbit dengan cahaya yang redup."

Dalam bab yang sama telah disebutkan dari Mu’awiyah, Ibnu Umar, dan Ibnu Abbas serta selain mereka, dari Rasulullah ﷺ yang telah bersabda bahwa Lailatul Qadar itu adalah malam dua puluh tujuh.
Dan inilah pendapat yang dipegang oleh segolongan ulama Salaf, dan merupakan pendapat yang dianut di kalangan mazhab Imam Ahmad ibnu Hambal rahimahullah, juga menurut suatu riwayat yang bersumber dari Imam Abu Hanifah menyebutkan hal yang sama.
Telah diriwayatkan pula dari sebagian ulama Salaf, bahwa Imam Abu Hanifah berupaya menyimpulkan keadaan Lailatul Qadar jatuh pada tanggal duapuluh tujuh dari Alquran melalui firman-Nya,
"Hiya (malam itu),"
dengan alasan bahwa kalimat ini merupakan kalimat yang kedua puluh tujuh dari surat yang bersangkutan;
hanya Allah-lah Yang Maha Mengetahui.

Al-Hafiz Abul Qasim At-Tabrani mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ishaq ibnu Ibrahim Ad-Dubri, telah menceritakan kepada kami Abdur Razzaq, telah menceritakan kepada kami Ma’mar, dari Qatadah dan Asim;
keduanya pernah mendengar Ikrimah mengatakan bahwa Ibnu Abbas telah menceritakan bahwa Khalifah Umar ibnul Khattab r.a. mengundang semua sahabat, lalu menanyakan kepada mereka tentang Lailatul Qadar, maka mereka sepakat mengatakan bahwa malam Lailatul Qadar berada di malam sepuluh terakhir bulan Ramadan.

Ibnu Abbas melanjutkan, bahwa lalu ia berkata kepada Umar,
"Sesungguhnya aku benar-benar mengetahui —atau merasa yakin— di malam ke berapakah Lailatul Qadar berada?"
Umar bertanya,
"Kalau begitu, katakanlah di malam ke berapakah ia berada?"
Ibnu Abbas menjawab, bahwa Lailatul Qadar adanya pada sepuluh malam terakhir Ramadan bila telah berlalu tujuh malam, atau bila tinggal tujuh malam lagi.

Umar bertanya,
"Dari manakah kamu mengetahui hal itu?"
Ibnu Abbas menjawab, bahwa Allah telah menciptakan langit tujuh lapis, bumi tujuh lapis, hari-hari ada tujuh, dan bulan berputar pada tujuh (manzilah).
Manusia diciptakan dari tujuh (lapis bumi), makan dengan tujuh anggota, sujud dengan tujuh anggota, tawaf tujuh kali, melempar jumrah tujuh kali, dan lain sebagainya.
Maka Umar berkata,
"Sesungguhnya engkau mempunyai pandangan yang jeli yang kami tidak menyadarinya."
Dan tersebutlah bahwa menurut riwayat Qatadah, ia menambahkan dalam perkataan Ibnu Abbas sesudah mengatakan bahwa manusia makan dengan tujuh anggota, yaitu firman Allah subhanahu wa ta’ala yang mengatakan:
lalu Kami tumbuhkan biji-bijian di bumi itu, anggur dan sayur-sayuran.
(‘Abasa:
27-28), hingga akhir ayat.

Sanad hadis ini Jayyid lagi kuat, tetapi matannya garib sekali;
hanya Allah Yang Maha Mengetahui.

Menurut pendapat yang lainnya lagi, Lailatul Qadar terdapat di malam dua puluh sembilan.

Imam Ahmad ibnu Hambal mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abu Sa’id maula Bani Hasyim, telah menceritakan kepada kami Sa’id ibnu Salamah, telah menceritakan kepada kami Abdullah ibnu Muhammad ibnu Aqil, dari Umar ibnu Abdur Rahman, dari Ubadah ibnus Samit, bahwa ia pernah bertanya kepada Rasulullah ﷺ tentang Lailatul Qadar bilakah adanya.
Maka Rasulullah ﷺ menjawab:
Dalam bulan Ramadan, carilah dalam malam-malam sepuluh terakhirnya, dan sesungguhnya ia terdapat pada malam yang ganjil, yaitu dua puluh satu, atau dua puluh tiga, atau dua puluh lima, atau dua puluh tujuh, atau dua puluh sembilan, atau di malam yang terakhirnya.

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Sulaiman ibnu Daud (yakni Abu Daud At-Tayalisi), telah menceritakan kepada kami Imran Al-Qattan, dari Qatadah, dari Abu Maimunah, dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda sehubungan dengan malam kemuliaan:
Sesungguhnya ia berada di malam dua puluh tujuh atau dua puluh sembilan (Ramadan), dan sesungguhnya para malaikat di malam itu di bumi jumlahnya lebih banyak daripada bilangan kerikil.

Imam Ahmad meriwayatkannya secara tunggal, sanadnya tidak ada celanya.

Menurut pendapat yang lain, Lailatul Qadar terdapat di malam terakhir bulan Ramadan, berdasarkan hadis yang telah disebutkan di atas tadi, juga hadis yang diriwayatkan oleh Imam Turmuzi dan Imam Nasai melalui hadis Uyaynah ibnu Abdur Rahman, dari ayahnya, dari Abu Bakrah, bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda:

di malam duapuluh satu, atau duapuluh tiga, atau duapuluh lima, atau duapuluh tujuh, atau di malam terakhir.

Yakni carilah malam kemuliaan tersebut di malam-malam itu.
Imam Turmuzi mengatakan bahwa hadis ini kalau tidak hasan, sahih.
Dan di dalam kitab musnad disebutkan melalui jalur Abu Salamah, dari Abu Hurairah, dari Nabi ﷺ sehubungan dengan malam kemuliaan ini:

Sesungguhnya malam kemuliaan itu berada di malam terakhir (Ramadan).

[FASAL]

Imam Syafii mengatakan sehubungan dengan riwayat-riwayat ini, bahwa semuanya merupakan jawaban Nabi ﷺ terhadap pertanyaan orang yang bertanya kepadanya,
"Apakah kita mencari malam kemuliaan di malam anu?"
Maka beliau ﷺ menjawab,
"Ya."
Padahal sesungguhnya malam kemuliaan itu adalah malam tertentu yang tidak berpindah-pindah.
Demikianlah menurut apa yang telah dinukil oleh Imam Turmuzi secara garis besarnya.

Telah diriwayatkan pula dari Abu Qilabah, bahwa ia telah mengatakan,
"Lailatul Qadar itu berpindah-pindah di malam-malam sepuluh terakhir Ramadan."
Dan apa yang diriwayatkan dari Abu Qilabah ini dicatat sebagai nas oleh Malik, As-Sauri, Ahmad ibnu Hambal, Ishaq ibnu Rahawaih, Abu Saur, Al-Muzani, dan Abu Bakar ibnu Khuzaimah, dan lain-lainnya.
Imam Syafii telah mengatakan hal yang sama pula menurut apa yang dinukil oleh Al-kitab Sahihain melalui Abdullah ibnu Umar, bahwa beberapa orang laki-laki dari sahabat Rasulullah ﷺ diperlihatkan kepada mereka Lailatul Qadar dalam malam-malam tujuh terakhir Ramadan.
Maka Rasulullah ﷺ bersabda:

Aku juga telah melihat hal yang sama seperti kalian dalam mimpiku, malam kemuliaan itu berada di tujuh malam terakhir Ramadan.
Maka barang siapa yang mencarinya, hendaklah ia mencarinya di tujuh malam terakhir.

Sehubungan dengan hal ini telah disebutkan pula melalui Aisyah r.a., bahwa Rasulullah ﷺ telah bersabda:

Carilah Lailatul Qadar di malam yang ganjil dari sepuluh malam terakhir bulan Ramadan.

Sedangkan lafaz hadis ini ada pada Imam Bukhari.

Imam Syafii dalam pendapatnya yang mengatakan bahwa Lailatul Qadar itu tidak berpindah-pindah melainkan ada di malam tertentu dari bulan Ramadan beralasan dengan apa yang telah diriwayatkan oleh Imam Bukhari di dalam kitab sahihnya melalui -Ubadah ibnus Samit yang menceritakan bahwa Rasulullah ﷺ muncul untuk memberitahukan kepada kami tentang malam kemuliaan, maka tiba-tiba muncul pula dua orang dari kalangan kaum muslim (menemuinya).
Setelah itu Rasulullah ﷺ bersabda:

Aku keluar untuk memberitahukan kepada kamu tentang malam kemuliaan, maka muncullah si Fulan dan si Fulan sehingga (pengetahuan mengenai) malam kemuliaan itu terhapuskan (dari ingatanku), dan barangkali hal ini baik bagi kamu.
Maka carilah ia di malam (dua puluh) sembilan, (dua puluh) tujuh, dan (dua puluh) lima.

Yang tersimpulkan dari makna hadis ini menunjukkan bahwa seandainya malam kemuliaan tidak tertentu secara berkesinambungan, tentulah tidak akan diperoleh bagi mereka pengetahuan mengenai ketentuannya di setiap tahunnya.
Sebab jika malam kemuliaan itu memang berpindah-pindah, niscaya mereka tidak mengetahui ketentuan malamnya terkecuali hanya tahun itu saja.
Terkecuali jika dikatakan bahwa sesungguhnya beliau keluar hanya untuk memberitahukan kepada mereka mengenainya di tahun itu saja, dan hal ini ternyata tidak disebutkan.
Sabda Nabi ﷺ yang mengatakan:
maka muncullah si Fulan dan si Fulan, sehingga (pengetahuanku mengenainya) terhapuskan (dari ingatanku).

Terkandung suatu rujukan yang menjadi sumber dari suatu peribahasa yang mengatakan bahwa sesungguhnya berbelit-belit itu dapat memutuskan faedah dan ilmu yang bermanfaat, sebagaimana pula halnya yang disebutkan dalam hadis yang mengatakan:

Sesungguhnya seorang hamba benar-benar terhalang dari rezekinya disebabkan dosa yang dikerjakannya.

Dan sabda Nabi ﷺ yang mengatakan:
maka dihapuslah (pengetahuan tentang malam kemuliaan dari ingatanku).
Yakni dihapuskan pengetahuan mengenai ketentuan malamnya dari kalian, dan bukan berarti bahwa malam kemuliaan itu dihapuskan seluruhnya, seperti yang dikatakan oleh orang-orang yang kurang akalnya dari golongan Syi’ah.
Karena sesungguhnya Nabi ﷺ bersabda sesudahnya:
Maka carilah malam kemuliaan itu di malam (dua puluh) sembilan, (dua puluh) tujuh, dan (dua puluh) lima.

Sabda Nabi ﷺ yang mengatakan:
Dan barangkali hal itu lebih baik bagi kamu.
Yakni ketiadaan ketentuan malamnya lebih baik bagimu, karena sesungguhnya jika malam kemuliaan dimisterikan ketentuannya, maka orang-orang yang mencarinya akan mengejarnya dengan penuh kesungguhan guna mendapatkannya dalam seluruh bulan Ramadan.
Dengan demikian, berarti ibadah yang dilakukannya lebih banyak.
Berbeda halnya jika ketentuan malamnya disebutkan dan mereka mengetahuinya, maka semangat menjadi pudar untuk mencarinya dan hanya timbul di malam itu saja, sedangkan pada malam lainnya mereka tidak mau melakukan qiyam padanya.
Sesungguhnya hikmah disembunyikannya ketentuan malam kemuliaan ini dimaksudkan agar ibadah meramaikan seluruh bulan Ramadan untuk mencarinya, dan kesungguhan makin meningkat bila Ramadan mencapai sepuluh terakhirnya.

Untuk itulah maka Rasulullah ﷺ melakukan i’tikaf di malam sepuluh terakhir Ramadan sampai Allah subhanahu wa ta’ala mewafatkannya, kemudian sesudah beliau istri-istri beliau mengikuti jejaknya dalam melakukan i’tikaf ini.
Imam Bukhari dan Imam Muslim telah mengetengahkan hadis ini melalui riwayat Aisyah r.a.
Dan masih dari Imam Bukhari dan Imam Muslim, telah disebutkan melalui Ibnu Umar bahwa Rasulullah ﷺ selalu melakukan i’tikaf di malam-malam sepuluh terakhir Ramadan.
Dan Siti Aisyah r.a. telah mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ apabila telah masuk sepuluh terakhir bulan Ramadan, maka beliau menghidupkan malam-malamnya (dengan qiyamul lail), dan membangunkan istri-istrinya (untuk melakukan hal yang sama), dan beliau mengencangkan ikat pinggangnya (yakni tidak melakukan senggama dengan istri-istri beliau di malam-malam tersebut).
Diketengahkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim.

Menurut riwayat Imam Muslim melalui Aisyah, disebutkan bahwa Rasulullah ﷺ mencurahkan semua kesibukannya untuk ibadah di malam (sepuluh terakhir Ramadan) tidak sebagaimana kesungguhannya di malam-malam lainnya.
Dan hal ini semakna dengan apa yang dikatakan oleh Aisyah,
"Mengencangkan ikat pinggangnya."

Menurut suatu pendapat, yang dimaksud dengan mengencangkan ikat pinggang ialah memisahkan diri dari istri-istrinya.
Akan tetapi, dapat juga ditakwilkan dengan pengertian mengikat pinggang sesungguhnya.

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Syuraih, telah menceritakan kepada kami Abu Ma’syar, dari Hisyam ibnu Urwah, dari ayahnya, dari Aisyah yang mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ apabila Ramadan tinggal sepuluh hari lagi, maka beliau mengencangkan ikat pinggangnya dan menjauhi istri-istrinya.
Hadis diketengahkan oleh Imam Ahmad secara tunggal.

Telah diriwayatkan pula dari Malik rahimahullah, bahwa dianjurkan mencari malam kemuliaan pada semua malam sepuluh terakhir Ramadan secara sama rata, tidak ada perbedaan antara satu malam dengan malam lainnya.
Penulis mengatakan bahwa ia melihat pendapat ini dalam syarah Ar-Rafi‘i rahimahullah.

Hal yang dianjurkan dalam semua waktu ialah memperbanyak doa, dan dalam bulan Ramadan hal yang lebih banyak membacanya ialah bila telah mencapai sepuluh terakhir darinya, kemudian yang lebih banyak lagi ialah di witir-witirnya.
Dan hal yang disunatkan ialah hendaknya seseorang memperbanyak doa berikut:

Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Pemaaf suka memberi maaf, maka maafkanlah daku.

Sebagaimana yang telah diriwayatkan oleh Imam Ahmad, bahwa telah menceritakan kepada kami Yazid ibnu Harun, telah menceritakan kepada kami Al-Juwairi alias Sa’id ibnu Iyas, dari Abdullah ibnu Buraidah, bahwa Aisyah pernah bertanya,
"Wahai Rasulullah, jika aku menjumpai malam kemuliaan, apakah yang harus aku ucapkan?"
Rasulullah ﷺ menjawab:

Ucapkanlah olehmu,
"Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Pemaaf dan suka memaafkan, maka maafkanlah daku.”

Imam Turmuzi, Imam Nasai, dan Imam Ibnu Majah telah meriwayatkannya melalui jalur Kahmas ibnul Hasan, dari Abdullah ibnu Buraidah, dari Aisyah yang telah bertanya,
"Wahai Rasulullah, bagaimanakah pendapatmu jika aku mengetahui malam kemuliaan, lalu apakah yang harus aku ucapkan padanya?"
Rasulullah ﷺ menjawab:

Ucapkanlah,
"Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Pemaaf, suka memaaf, maka maafkanlah daku.”

Hadis ini menurut lafaz yang ada pada Imam Turmuzi.
Kemudian ia mengatakan bahwa hadis ini hasan sahih.
Imam Hakim mengetengahkannya di dalam kitab Mustadrak-nya, dan ia mengatakan bahwa hadis ini sahih dengan syarat Syaikhain.

Imam Nasai telah meriwayatkannya pula melalui jalur Sufyan As-Sauri, dari Alqamah ibnu Marsad, dari Suiaiman ibnu Buraidah, dari Aisyah yang mengatakan bahwa ia pernah bertanya,
"Wahai Rasulullah, bagaimanakah menurutmu jika aku menjumpai malam kemuliaan, apakah yang harus aku ucapkan padanya?"
Rasulullah ﷺ menjawab:

Ucapkanlah,
"Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Pemaaf, suka memaaf, maka maafkanlah daku.”

Unsur Pokok Surah Al Qadr (القدرِ)

Surat Al Qadr terdiri atas 5 ayat, termasuk golongan surat-surat Makkiyyah, diturunkan sesudah surat ‘Abasa.

Surat ini dinamai "Al Qadr" (kemuliaan), diambil dari perkataan "Al Qadr" yang terdapat pada ayat pertama surat ini.

Keimanan:

Alquran mulai diturunkan pada malam Lailatul Qadr, yang nilainya lebih dari seribu bulan.
▪ Para malaikat dan Jibril turun ke dunia pada malam Lailatul Qadr untuk mengatur segala urusan.

Audio

QS. Al-Qadr (97) : 1-5 ⊸ Misyari Rasyid Alafasy
Ayat 1 sampai 5 + Terjemahan Indonesia

QS. Al-Qadr (97) : 1-5 ⊸ Nabil ar-Rifa’i
Ayat 1 sampai 5

Gambar Kutipan Ayat

Surah Al Qadr ayat 5 - Gambar 1 Surah Al Qadr ayat 5 - Gambar 2
Statistik QS. 97:5
  • Rating RisalahMuslim
4.7

Ayat ini terdapat dalam surah Al Qadr.

Surah Al-Qadr (bahasa Arab:الْقَدْرِ) adalah surah ke-97 dalam Alquran yang terdiri atas 5 ayat dan termasuk golongan Makkiyah.
Surah ini diturunkan setelah surah ‘Abasa dan dinamai al-Qadr (Kemuliaan) yang diambil dari kata al-Qadr yang terdapat pada ayat pertama surah ini.

Nomor Surah97
Nama SurahAl Qadr
Arabالقدرِ
ArtiKemuliaan
Nama lainInna Anzalna
Tempat TurunMekkah
Urutan Wahyu25
JuzJuz 30
Jumlah ruku’1 ruku’
Jumlah ayat5
Jumlah kata30
Jumlah huruf114
Surah sebelumnyaSurah Al-‘Alaq
Surah selanjutnyaSurah Al-Bayyinah
Sending
User Review
4.3 (29 votes)
Tags:

97:5, 97 5, 97-5, Surah Al Qadr 5, Tafsir surat AlQadr 5, Quran Al-Qadr 5, Surah Al Qadr ayat 5

Keluarga Anda ada yang belum mahir membaca Alquran? Ingin segera bisa?
Klik di sini sekarang!

Video


Panggil Video Lainnya

Ayat Lainnya

QS. Hud (Nabi Hud) – surah 11 ayat 85 [QS. 11:85]

Dan setelah Nabi Syuaib melarang mengurangi takaran dan timbangan seraya berkata, “Wahai kaumku! Penuhilah takaran dan timbangan dengan adil ketika berniaga, dan janganlah kamu merugikan manusia terha … 11:85, 11 85, 11-85, Surah Hud 85, Tafsir surat Hud 85, Quran Hud 85, Surah Hud ayat 85

QS. An Nisaa’ (Wanita) – surah 4 ayat 88 [QS. 4:88]

Pada ayat-ayat yang lalu Allah telah menjelaskan sifat-sifat orangorang munafik maka pada ayat ini mengkritik sikap Kaum muslim yang terpecah menjadi dua golongan dalam menyikapi orang-orang munafik. … 4:88, 4 88, 4-88, Surah An Nisaa’ 88, Tafsir surat AnNisaa 88, Quran AnNisa 88, An-Nisa’ 88, Surah An Nisa ayat 88

Hadits Shahih

Podcast

Hadits & Doa

Soal & Pertanyaan Agama

Selain berisi kisah-kisah umat terdahulu, dalam Alquran juga terdapat tamsil sebagai peringatan bagi manusia. Tamsil artinya ...

Benar! Kurang tepat!

Fungsi utama kandungan Alquran yang menjelaskan kisah umat terdahulu adalah sebagai ...

Benar! Kurang tepat!

Alquran adalah mukjizat terbesar bagi Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam. Di bawah ini merupakan bukti bahwa Alquran adalah mukjizat yang terbesar adalah ...

Benar! Kurang tepat!

+

Array

Al-Lihyaniy berpendapat bahwa Alquran secara etimologi memiliki arti ...

Benar! Kurang tepat!

Yang berarti “menggabungkan sesuatu dengan yang lain” adalah lafaz ...

Benar! Kurang tepat!

Pendidikan Agama Islam #16
Ingatan kamu cukup bagus untuk menjawab soal-soal ujian sekolah ini.

Pendidikan Agama Islam #16 1

Mantab!! Pertahankan yaa..
Jawaban kamu masih ada yang salah tuh.

Pendidikan Agama Islam #16 2

Belajar lagi yaa...

Bagikan Prestasimu:

Soal Lainnya

Pendidikan Agama Islam #12

Nama anak lelaki Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam yaitu … Hamzah Ali Hassan Umar Qasim Benar! Kurang tepat! Nama

Pendidikan Agama Islam #10

Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkhotbah di kota Mekah kurang lebih selama … 33 tahun 3 tahun 10 tahun

Pendidikan Agama Islam #8

Sumber kedua hukum dalam menetapkan Hukum tentang Alquran adalah … ijma ‘ulama hadits ijtihad UUD 1945 fatwa para ulama Benar!

Instagram