Search
Generic filters
Cari Kategori
🙏 Pilih semua
Quran
Hadits
Kamus
Podcast
Soal Agama
Artikel, Doa, dll.

QS. Al Qadr (Kemuliaan) – surah 97 ayat 2 [QS. 97:2]

وَ مَاۤ اَدۡرٰىکَ مَا لَیۡلَۃُ الۡقَدۡرِ ؕ
Wamaa adraaka maa lailatul qadr(i);
Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu?
―QS. Al Qadr [97]: 2

Daftar isi

And what can make you know what is the Night of Decree?
― Chapter 97. Surah Al Qadr [verse 2]

وَمَآ dan apakah

And what
أَدْرَىٰكَ kamu tahu

can make you know
مَا apa

what
لَيْلَةُ malam

(the) Night
ٱلْقَدْرِ kemuliaan

(of) Power (is)?

Tafsir Quran

Surah Al Qadr
97:2

Tafsir QS. Al-Qadr (97) : 2. Oleh Kementrian Agama RI

Kemudian dalam ayat ini, Allah menyatakan keutamaan Lailatul-Qadr yang tidak dapat diketahui oleh para ulama dan ilmuwan, bagaimanapun tingginya ilmu pengetahuan mereka.
Pengertian dan pengetahuan Nabi-Nya pun tidak sanggup menentukan kebesaran dan keutamaan malam itu.

Hanya Allah yang mengetahui segala hal yang gaib, yang menciptakan alam semesta, yang mewujudkannya dari tidak ada menjadi ada.

Tafsir QS. Al Qadr (97) : 2. Oleh Muhammad Quraish Shihab:


Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan dan kehormatan itu?

Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:


Wahai Nabi, tahukah engkau apa malam kemuliaan dan keutamaan itu?

Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:



(Dan tahukah kamu) Hai Muhammad


(apakah malam kemuliaan itu?) ungkapan ini sebagai pernyataan takjub atas keagungan yang terdapat pada Lailatulkadar.

Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

(1-3)

Allah subhanahu wa ta’ala menceritakan bahwa Dia menurunkan Alquran di malam Lailatul Qadar, yaitu malam yang penuh dengan keberkahan, sebagaimana yang dijelaskan dalam ayat lain melalui firman-Nya:

sesungguhnya Kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkati.
(QS. Ad-Dukhan [44]: 3)

Yaitu Lailatul Qadaryangterletakdi dalam bulan Ramadan, sebagaimana yang disebutkan di dalam firman-Nya:

(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan)Alquran.
(QS. Al-Baqarah [2]: 185)

Ibnu Abbas dan lain-lainnya mengatakan bahwa Allah subhanahu wa ta’ala menurunkan Alquran sekaligus dari Lauh Mahfuz ke Baitul ‘Izzah di langit yang terdekat.
Kemudian diturunkan secara terpisah-pisah sesuai dengan kejadian-kejadian dalam masa dua puluh tiga tahun kepada Rasulullah ﷺ

Kemudian Allah subhanahu wa ta’ala berfirman, mengagungkan kedudukan Lailatul Qadar yang dikhususkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala sebagai malam diturunkan-Nya Alquran di dalamnya.
Untuk itu Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu?
Malam kemuliaan itu lebih baik daripada seribu bulan.
(QS. Al-Qadr [97]: 2-3)

Abu Isa At-Turmuzi sehubungan dengan tafsir ayat ini mengatakan, telah menceritakan kepada kami Mahmud ibnu Gailan, telah menceritakan kepada kami Abu Daud At-Tayalisi, telah menceritakan kepada kami Al-Qasim ibnul Fadl Al-Haddani, dari Yusuf ibnu Sa’d yang mengatakan bahwa seorang lelaki bangkit menuju kepada Al-Hasan ibnu Ali sesudah membaiat Mu’awiyah.
Lalu lelaki itu berkata,
"Engkau telah mencoreng muka kaum mukmin,"
atau,
"Hai orang yang mencoreng muka kaum mukmin."

Maka Al-Hasan ibnu Ali menjawab,
"Janganlah engkau mencelaku, semoga Allah merahmatimu, karena sesungguhnya Nabi ﷺ pernah diperlihatkan kepadanya Bani Umayyah berada di atas mimbarnya, hal itu membuat diri beliau merasa berdukacita.
Maka turunlah firman Allah subhanahu wa ta’ala:

‘Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu Al-Kautsar‘ (QS. Al-Kausar [108]: 1)

hai Muhammad, yakni sebuah sungai (teiaga) di dalam surga.
Dan turunlah pula firman Allah subhanahu wa ta’ala:

‘Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Qur’an) pada malam kemuliaan.
Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu?
Malam kemuliaan itu lebih baik daripada seribu bulan’ (QS. Al-Qadr [97]: 1-3).

yang akan dimilikkan sesudahmu kepada Bani Umayyah, hai Muhammad."
Al-Qasim mengatakan bahwa lalu kami menghitung-hitungnya, dan ternyata masa pemerintahan Bani Umayyah adalah seribu bulan, tidak lebih dan tidak kurang barang sehari pun.


Kemudian Imam Turmuzi mengatakan bahwa hadis ini garib, kami tidak mengenalnya melainkan melalui jalur ini, yaitu melalui hadis Al-Qasim ibnul Fadl.
Dia adalah seorang yang berpredikat siqah, dinilai siqah oleh Yahya Al-Qattan dan Abdur Rahman ibnu Mahdi.


Imam Turmuzi mengatakan bahwa gurunya bernama Yusuf ibnu Sa’d yang dikenal dengan nama Yusuf ibnu Mazin, dia adalah seorang yang tidak dikenal.
Dan hadis dengan lafaz yang seperti ini tidaklah dikenal melainkan hanya melalui jalur ini.

Imam Hakim di dalam kitab Mustadrak-nya telah meriwayatkan hadis ini melalui jalur Al-Qasim ibnul Fadl, dari Yusuf ibnu Mazin dengan sanad yang sama.
Dan mengenai perkataan (penilaian) Imam Turmuzi yang menyebutkan bahwa Yusuf ibnu Sa’d seorang yang tidak dikenal, masih perlu diteliti.
Karena sesungguhnya telah meriwayatkan darinya sejumiah ulama yang antara lain ialah Hammad ibnu Salamah, Khalid Al-Hazza dan Yunus ibnu Ubaid.
Yahya ibnu Mu’in menilainya sebagai seorang yang masyhur (terkenal).
Dan menurut suatu riwayat dari Ibnu Mu’in, Yusuf ibnu Sa’d adalah seorang yang siqah (dipercaya).

Ibnu Jarir meriwayatkan hadis ini melalui jalur Al-Qasim ibnul Fadl, dari Yusuf ibnu Mazin, demikianlah menurutnya, dan ini menimbulkan idtirab dalam hadis ini;
hanya Allah sajalah Yang Maha Mengetahui.

Kemudian hadis ini dengan hipotesis apa pun berpredikat munkar sekali.
Guru kami Imam Al-Hafiz Al-Hujjah Abul Hajjaj Al-Maziy mengatakan bahwa hadis ini berpredikat munkar.

Menurut hemat kami, ucapan Al-Qasim ibnul Fadl Al-Haddani yang menyebutkan bahwa ia menghitung-hitung masa pemerintahan Bani Umayyah, maka ternyata ia menjumpainya seribu bulan, tidak lebih dan tidak kurang barang sehari pun, pendapat ini tidaklah benar.
Karena sesungguhnya Mu’awiyah ibnu Abu Sufyan r.a. baru memegang tampuk pemerintahan saat Al-Hasan ibnu Ali menyerahkannya kepada dia pada tahun empat puluh Hijriah, lalu semua baiat sepakat ‘tertuju kepada Mu’awiyah, maka tahun itu dinamakan dengan tahun Jama’ah.

Kemudian Bani Umayyah terus-menerus memegang kendali pemerintahan berturut-turut di negeri Syam dan negeri lainnya.
Tiada suatu kawasan pun yang memberontak terhadap mereka kecuali hanya di masa pemerintahan Abdullah ibnuz Zubair di kedua tanah suci (Mekah dan Madinah), dan Al-Ahwaz serta negeri-negeri yang terdekat selama sembilan tahun.
Akan tetapi, kesatuan dan persatuan mereka tetap berada di bawah pemerintahan Bani Umayyah secara keseluruhan terkecuali hanya pada sebagian kawasan yang tertentu.
Hingga pada akhirnya kekhalifahan direbut dari tangan mereka oleh Banil Abbas pada tahun seratus tiga puluh dua.

Dengan demikran, berarti jumlah masa pemerintahan Bani Umayyah seluruhnya adalah sembilan puluh dua tahun, dan ini berarti lebih dari seribu bulan, yang kalau dijumlahkan berarti hanya delapan puluh tiga tahun lebih empat bulan.

Kalau begitu, berarti Al-Qasim ibnul Fadl menggugurkan masa pemerintahan mereka di masa-masa Ibnuz Zubair (yang hanya sembilan tahun itu).
Jika demikian, berarti jumlah ini mendekati kebenaran dari apa yang dikatakannya;
hanya Allah jualah Yang Maha Mengetahui.

Bukti lain yang menunjukkan ke-daif-an hadis ini ialah karena hadis ini sengaja diutarakan hanya untuk mencela pemerintahan Bani Umayyah.
Seandainya dimaksudkan untuk mencela mereka, tentulah bukan dengan konteks seperti itu.
Mengingat keutamaan LailatuI Qadar di masa-masa pemerintahan mereka bukanlah menunjukkan tercelanya hari-hari mereka.
Sesungguhnya malam LailatuI Qadar itu sangat mulia, dan surat yang mulia ini diturunkan hanya semata-mata memuji malam LailatuI Qadar.
Lalu mengapa ayat ini memuji keutamaannya di masa-masa pemerintahan Bani Umayyah yang dinilai oleh hadis ini tercela.

Kemudian bila-dipahami dari ayat ini bahwa seribu bulan yang disebutkan dalam ayat menunjukkan masa pemerintahan Bani Umayyah, sedangkan suratnya sendiri adalah Makkiyyah.
Lalu bagaimana bisa dibelokkan dengan pengertian seribu bulan masa pemerintahan Bani Umayyah, padahal baik lafaz maupun makna ayat tidak menunjukkan kepada pengertian itu.
Dan lagi mimbar itu hanyalah baru dibuat di Madinah sesudah hijrah.
Semua bukti tersebut menunjukkan kelemahan dan kemungkaran hadis di atas;
hanya Allah sajalah Yang Maha Mengetahui.


Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abu Zar’ah, telah menceritakan kepada kami Ibrahim ibnu Musa, telah menceritakan kepada kami Muslim ibnu Khalid, dari Ibnu Abu Najih, dari Mujahid, bahwa Nabi ﷺ menceritakan tentang seorang lelaki dari kalangan Bani Israil yang menyandang senjatanya selama seribu bulan dalam berjihad di jalan Allah subhanahu wa ta’ala Maka kaum muslim merasa kagum dengan perihal lelaki Bani Israil itu.
Mujahid melanjutkan kisahnya, bahwa lalu Allah subhanahu wa ta’ala menurunkan firman-Nya:
Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Qur’an) pada malam kemuliaan.
Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu?
Malam kemuliaan itu lebih baik daripada seribu bulan.
(QS. Al-Qadr [97]: 1-3)
Maksudnya, lebih baik daripada lelaki itu menyandang senjatanya selama seribu bulan dalam berjihad di jalan Allah.

Ibnu Jarir mengatakan pula bahwa telah menceritakan kepada kami Ibnu Humaid, telah menceritakan kepada kami Hakkam ibnu Muslim, dari Al-Musanna ibnus Sabbah, dari Mujahid yang meHgatakan bahwa dahulu di kalangan kaum Bani Israil terdapat seorang lelaki yang malam harinya melakukan qiyam hingga pagi hari, kemudian di siang harinya ia berjihad di jalan Allah hingga petang hari.
Dia mengerjakan amalan ini selama seribu bulan, maka Allah menurunkan firman-Nya:
Malam kemuliaan itu lebih baik daripada seribu bulan.
(QS. Al-Qadr [97]: 3)
Yakni melakukan qiyam di malam kemuliaan itu lebih baik daripada amalan laki-laki Bani Israil itu.

Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Yunus, telah menceritakan kepada kami Ibnu Wahb, telah menceritakan kepadaku Maslamah ibnu Ali, dari Ali ibnu Urwah yang mengatakan bahwa di suatu hari Rasulullah ﷺ menceritakan tentang kisah empat orang lelaki dari kalangan kaum Bani Israil (di masa lalu);
mereka menyembah Allah selama delapan puluh tahun tanpa melakukan kedurhakaan kepada-Nya barang sekejap mata pun.
Beliau ﷺ menyebutkan nama mereka, yaitu Ayyub, Zakaria, Hizkil ibnul Ajuz, dan Yusya’ ibnu Nun.

Ali ibnu Urwah melanjutkan kisahnya, bahwa lalu para sahabat Rasulullah ﷺ merasa kagum dengan amalan mereka.
Maka datanglah Jibril kepada Nabi ﷺ dan berkata,
"Hai Muhammad, umatmu merasa kagum dengan ibadah mereka selama delapan puluh tahun itu tanpa berbuat durhaka barang sekejap mata pun.
Sesungguhnya Allah subhanahu wa ta’ala telah menurunkan hal yang lebih baik daripada itu."

Kemudian Malaikat Jibrilalaihis salam membacakan kepadanya firman Allah subhanahu wa ta’ala:
Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Qur’an) pada malam kemuliaan.
Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu?
Malam kemuliaan itu lebih baik daripada seribu bulan.
(QS. Al-Qadr [97]: 1 -3)

Ini lebih baik daripada apa yang engkau dan umatmu kagumi.
Maka bergembiralah karenanya Rasulullah ﷺ dan orang-orang yang bersamanya saat itu.

Sufyan As-Sauri mengatakan bahwa telah sampai kepadaku dari Mujahid sehubungan dengan malam kemuliaan lebih baik daripada seribu bulan.
Bahwa amalan, puasa, dan qiyamnya lebih baik daripada melakukan hal yang sama dalam seribu bulan.
Demikianlah menurut apa yang diriwayatkan oleh Ibnu Jarir.

Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abu Zar’ah, telah menceritakan kepada kami Ibrahim ibnu Musa, telah menceritakan kepada kami Ibnu Abu Zaidah, dari Ibnu Juraij, dari Mujahid yang mengatakan bahwa malam kemuliaan lebih baik daripada seribu bulan yang di dalam bulan-bulannya tidak terdapat malam Lailatul Qadar.

Hal yang sama telah dikatakan oleh Qatadah ibnu Di’amah dan Imam Syafii serta yang lainnya yang bukan hanya seorang.
Amr ibnu Qais Al-Mala’i telah mengatakan bahwa melakukan suatu amalan di malam kemuliaan lebih baik daripada melakukan amalan selama seribu bulan.

Dan pendapat yang menyebutkan bahwa malam Lailatul Qadar itu lebih afdal daripada melakukan ibadah selama seribu bulan yang di dalamnya tidak terdapat Lailatul Qadar, merupakan pendapat yang dipilih oleh Ibnu Jarir, dan pendapat inilah yang benar, bukan yang lainnya.


Pengertian ini sama dengan apa yang disebutkan dalam sabda Nabi ﷺ yang mengatakan:

Berjaga-jaga selama semalam di jalan Allah (jihad) lebih baik daripada seribu malam di tempat-tempat yang lainnya.

Hadis diriwayatkan oleh Imam Ahmad.


Sebagaimana pula yang disebutkan berkenaan dengan keutamaan seseorang yang datang ke salat Jumat dengan penampilan yang baik dan niat yang saleh, bahwa dicatatkan baginya amal selama satu tahun, berikut pahala puasa dan qiyamnya.
Dan masih banyak lagi nas-nas lainnya yang semakna.

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ismail ibnu Ibrahim, telah menceritakan kepada kami Ayyub, dari Abu Qilabah, dari Abu Hurairah r.a. yang menceritakan bahwa ketika Ramadan tiba, Rasulullah ﷺ bersabda:
Telah datang kepadamu bulan Ramadan, bulan yang diberkati, Allah telah memfardukan bagimu melakukan puasa padanya.
Di dalamnya dibukakan semua pintu surga dan ditutup rapat-rapat semua pintu neraka, dan setan-setan dibelenggu.
Di dalamnya terdapat suatu malam yang lebih baik daripada seribu bulan.
Barang siapa yang terhalang dari kebaikannya, berarti dia telah terhalang (dari semua kebaikan).

Imam Nasai meriwayatkannya melalui hadis Ayyub dengan sanad yang sama.


Mengingat melakukan ibadah di dalam malam Lailatul Qadar sebanding pahalanya dengan melakukan ibadah selama seribu bulan, telah disebutkan di dalam kitab Sahihain melalui Abu Hurairah, bahwa Rasulullah ﷺ telah bersabda:

Barang siapa yang melakukan qiyam (salat sunat) di malam Lailatul Qadar karena iman dan mengharapkan pahala dan ridaAllah, maka diampunilah baginya semua dosanya yang terdahulu.

Unsur Pokok Surah Al Qadr (القدرِ)

Surat Al Qadr terdiri atas 5 ayat, termasuk golongan surat-surat Makkiyyah, diturunkan sesudah surat ‘Abasa.

Surat ini dinamai "Al Qadr" (kemuliaan), diambil dari perkataan "Al Qadr" yang terdapat pada ayat pertama surat ini.

Keimanan:

Alquran mulai diturunkan pada malam Lailatul Qadr, yang nilainya lebih dari seribu bulan.
▪ Para malaikat dan Jibril turun ke dunia pada malam Lailatul Qadr untuk mengatur segala urusan.

Ayat-ayat dalam Surah Al Qadr (5 ayat)

1 2 3 4 5

Lihat surah lainnya

Audio Murottal

QS. Al-Qadr (97) : 1-5 ⊸ Misyari Rasyid Alafasy
Ayat 1 sampai 5 + Terjemahan Indonesia



QS. Al-Qadr (97) : 1-5 ⊸ Nabil ar-Rifa’i
Ayat 1 sampai 5

Gambar Kutipan Ayat

Surah Al Qadr ayat 2 - Gambar 1 Surah Al Qadr ayat 2 - Gambar 2
Statistik QS. 97:2
  • Rating RisalahMuslim
4.4

Ayat ini terdapat dalam surah Al Qadr.

Surah Al-Qadr (bahasa Arab:الْقَدْرِ) adalah surah ke-97 dalam Alquran yang terdiri atas 5 ayat dan termasuk golongan Makkiyah.
Surah ini diturunkan setelah surah ‘Abasa dan dinamai al-Qadr (Kemuliaan) yang diambil dari kata al-Qadr yang terdapat pada ayat pertama surah ini.

Nomor Surah 97
Nama Surah Al Qadr
Arab القدرِ
Arti Kemuliaan
Nama lain Inna Anzalna
Tempat Turun Mekkah
Urutan Wahyu 25
Juz Juz 30
Jumlah ruku’ 1 ruku’
Jumlah ayat 5
Jumlah kata 30
Jumlah huruf 114
Surah sebelumnya Surah Al-‘Alaq
Surah selanjutnya Surah Al-Bayyinah
Sending
User Review
4.8 (16 suara)
Bagi ke FB
Bagi ke TW
Bagi ke WA
Tags:

97:2, 97 2, 97-2, Surah Al Qadr 2, Tafsir surat AlQadr 2, Quran Al-Qadr 2, Surah Al Qadr ayat 2

Video Surah

97:2


More Videos

Ayat Pilihan

Dan bertawakkallah kepada Allah yang hidup (kekal) Yang tidak mati,
dan bertasbihlah dengan memuji-Nya.
Dan cukuplah Dia Maha Mengetahui dosa-dosa hamba-hamba-Nya.
QS. Al-Furqan [25]: 58

Dan cukuplah Allah menjadi Pelindung (bagimu).
Dan cukuplah Allah menjadi Penolong (bagimu).
QS. An-Nisa’ [4]: 45

Wahai umat manusia,
sungguh kalian membutuhkan Allah dalam segala hal.
Hanya Allahlah yang Mahakaya & tidak membutuhkan keberadaan ciptaan-Nya.
Oleh karena itu,
Dia berhak mendapatkan puja & puji dalam segala situasi.
QS. Fatir [35]: 15

Orang yang makan (ambil) riba tak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang kemasukan setan lantaran (tekanan) gila. Disebabkan mereka berkata jual beli itu sama dengan riba, padahal Allah telah halalkan jual beli & mengharamkan riba
QS. Al-Baqarah [2]: 275

Hadits Shahih

Podcast

Doa Sehari-hari

Soal & Pertanyaan Agama

Arti hadits maudhu' adalah ...

Correct! Wrong!

Orang yang memiliki kemampuan untuk melakukan infefensi hukum-hukum syariat dari sumber-sumber yang terpercaya disebut dengan ...

Correct! Wrong!

Penjelasan:
Mujtahid (bahasa Arab: u0627u0644u0645u062cu062au0647u062f) atau fakih (u0627u0644u0641u0642u064au0647) adalah seseorang yang dalam ilmu fikih sudah mencapai derajat ijtihad dan memiliki kemampuan istinbath (inferensi) hukum-hukum syariat dari sumber-sumber muktabar dan diandalkan.

Pengertian ijtihad menurut istilah adalah ...

Correct! Wrong!

+

Array

Era ketidaktahuan juga disebut zaman ...

Correct! Wrong!

Berdasarkan bahasa, ijma artinya adalah ...

Correct! Wrong!

Pendidikan Agama Islam #9
Ingatan kamu cukup bagus untuk menjawab soal-soal ujian sekolah ini.

Pendidikan Agama Islam #9 1

Mantab!! Pertahankan yaa..
Jawaban kamu masih ada yang salah tuh.

Pendidikan Agama Islam #9 2

Belajar lagi yaa...

Share your Results:

Soal Agama Islam

Pendidikan Agama Islam #20

Berikut adalah contoh bahwa Allah Subhanahu Wa Ta`ala Maha Mendahulukan. Zakat menurut bahasa زكة , yang bermakna …Yang termasuk mustahiq (orang berhak menerima zakat) berikut yaitu … Setelah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam wafat maka diganti oleh sahabat sebagai pemimpin ummat disebut … Jasa khalifah Umar bin Khatab yang sampai saat ini masih dipergunakan, yaitu …

Pendidikan Agama Islam #12

Masyarakat Mekkah pada awal nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam berdakwah waktu itu sedang dilanda berbagai krisis, dan yang paling menonjol adalah krisis … Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam lahir pada bulan … Nama isteri Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam selepas Khadijah ialah … Nama anak lelaki Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam yaitu … … Nama Ibu susuan Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam yaitu … …

Pendidikan Agama Islam #22

Karena rajin belajar maka Afit selalu juara dalam setiap perlombaan antar sekolah, pernyataan tersebut merupakan contoh … Takdir yang bisa diubah dinamakan … Salah satu contoh takdir muallaq (bisa diubah) adalah … Matahari berputar mengelilingi sumbunya, termasuk contoh takdir … Yang tidak termasuk cara beriman kepada qada dan qadar Allah adalah …

Kamus Istilah Islam

Shuhaib Ar-Rumi

Siapa itu Shuhaib Ar-Rumi? Shuhaib bin Sinan ar-Rumi , atau lebih dikenal Shuhaib ar-Rumi, adalah mantan budak dari Kerajaan Byzantium yang menjadi sahabat nabi dan sebagai salah satu dari pemeluk Isl...

Munafiq

Apa itu Munafiq? Munāfiq atau Munafik adalah terminologi dalam Islam untuk merujuk pada mereka yang berpura-pura mengikuti ajaran agama Islam, tetapi sebenarnya hati mereka memungkirinya. Terminolog...

amirulmukminin

Apa itu amirulmukminin? KBBI ami.rul.muk.mi.nin sebutan atau gelar bagi pemimpin umat Islam *** Amirul Mukminin adalah sebuah gelar dalam tradisi awal Islam yang berarti “Pemimpin Orang-Orang...