QS. Al Muzzammil (Orang yang berselimut) – surah 73 ayat 20 [QS. 73:20]

اِنَّ رَبَّکَ یَعۡلَمُ اَنَّکَ تَقُوۡمُ اَدۡنٰی مِنۡ ثُلُثَیِ الَّیۡلِ وَ نِصۡفَہٗ وَ ثُلُثَہٗ وَ طَآئِفَۃٌ مِّنَ الَّذِیۡنَ مَعَکَ ؕ وَ اللّٰہُ یُقَدِّرُ الَّیۡلَ وَ النَّہَارَ ؕ عَلِمَ اَنۡ لَّنۡ تُحۡصُوۡہُ فَتَابَ عَلَیۡکُمۡ فَاقۡرَءُوۡا مَا تَیَسَّرَ مِنَ الۡقُرۡاٰنِ ؕ عَلِمَ اَنۡ سَیَکُوۡنُ مِنۡکُمۡ مَّرۡضٰی ۙ وَ اٰخَرُوۡنَ یَضۡرِبُوۡنَ فِی الۡاَرۡضِ یَبۡتَغُوۡنَ مِنۡ فَضۡلِ اللّٰہِ ۙ وَ اٰخَرُوۡنَ یُقَاتِلُوۡنَ فِیۡ سَبِیۡلِ اللّٰہِ ۫ۖ فَاقۡرَءُوۡا مَا تَیَسَّرَ مِنۡہُ ۙ وَ اَقِیۡمُوا الصَّلٰوۃَ وَ اٰتُوا الزَّکٰوۃَ وَ اَقۡرِضُوا اللّٰہَ قَرۡضًا حَسَنًا ؕ وَ مَا تُقَدِّمُوۡا لِاَنۡفُسِکُمۡ مِّنۡ خَیۡرٍ تَجِدُوۡہُ عِنۡدَ اللّٰہِ ہُوَ خَیۡرًا وَّ اَعۡظَمَ اَجۡرًا ؕ وَ اسۡتَغۡفِرُوا اللّٰہَ ؕ اِنَّ اللّٰہَ غَفُوۡرٌ رَّحِیۡمٌ
Inna rabbaka ya’lamu annaka taquumu adna min tsulutsayillaili wanishfahu watsulutsahu wathaa-ifatun minal-ladziina ma’aka wallahu yuqaddirullaila wannahaara ‘alima an lan tuhshuuhu fataaba ‘alaikum faaqrauu maa tayassara minal quraani ‘alima an sayakuunu minkum mardha waaakharuuna yadhribuuna fiil ardhi yabtaghuuna min fadhlillahi waaakharuuna yuqaatiluuna fii sabiilillahi faaqrauu maa tayassara minhu waaqiimuush-shalaata waaatuuzzakaata wa-aqridhuullaha qardhan hasanan wamaa tuqaddimuu anfusikum min khairin tajiduuhu ‘indallahi huwa khairan wa-a’zhama ajran waastaghfiruullaha innallaha ghafuurun rahiimun;

Sesungguhnya Tuhanmu mengetahui bahwasanya kamu berdiri (sembahyang) kurang dari dua pertiga malam, atau seperdua malam atau sepertiganya dan (demikian pula) segolongan dari orang-orang yang bersama kamu.
Dan Allah menetapkan ukuran malam dan siang.
Allah mengetahui bahwa kamu sekali-kali tidak dapat menentukan batas-batas waktu-waktu itu, maka Dia memberi keringanan kepadamu, karena itu bacalah apa yang mudah (bagimu) dari Al Quran.
Dia mengetahui bahwa akan ada di antara kamu orang-orang yang sakit dan orang-orang yang berjalan di muka bumi mencari sebagian karunia Allah, dan orang-orang yang lain lagi berperang di jalan Allah, maka bacalah apa yang mudah (bagimu) dari Al Quran dan dirikanlah sembahyang, tunaikanlah zakat dan berikanlah pinjaman kepada Allah pinjaman yang baik.
Dan kebaikan apa saja yang kamu perbuat untuk dirimu niscaya kamu memperoleh (balasan)nya di sisi Allah sebagai balasan yang paling baik dan yang paling besar pahalanya.
Dan mohonlah ampunan kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
―QS. 73:20
Topik ▪ Iman ▪ Pelipatgandaan pahala bagi orang mukmin ▪ Ayat yang pertama diturunkan
73:20, 73 20, 73-20, Al Muzzammil 20, AlMuzzammil 20, Al Muzammil 20, Al Muzamil 20, Al-Muzzammil 20

Tafsir surah Al Muzzammil (73) ayat 20

Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. Al Muzzammil (73) : 20. Oleh Kementrian Agama RI

Dalam ayat-ayat yang lalu, Allah memerintahkan kepada Nabi Muhammad untuk salat malam, maka dalam ayat ini, Allah menunjukkan kemahapengasihan-Nya kepada hamba-hamba-Nya.

Dia memberikan keringanan pada hamba-Nya dengan tidak mewajibkan salat Tahajud setiap malam.
Tuhan menegaskan bahwa Dia mengetahui sebagian kaum muslimin bersama Nabi mengerjakan salat malam itu sepanjang 2/3 malam, atau 1/2-nya atau 1/3-nya.
Waktu itu masih merupakan perintah wajib yang tentu saja terkadang-kadang terasa berat.
Ketika ayat pertama Surah al-Muzzammil turun, para sahabat mengerjakan salat sesuai dengan petunjuk dalam ayat 2 sampai dengan 4.

Hal itu kadang-kadang memberatkan, sekalipun salat Tahajud itu khusus difardukan atau diwajibkan kepada Rasulullah ﷺ, dan disunatkan bagi umatnya.
Banyak di antara para sahabat tidak mengetahui dengan pasti berapa ukuran 1/2 atau 1/3 malam itu, hingga karena takut luput dari waktu salat malam yang diperintahkan itu, sehingga ada di antara mereka yang berjaga-jaga sepanjang malam.
Hal ini sangat melelahkan badan mereka, sebab mereka bangun sampai fajar.
Tentu saja bangun dan berjaga-jaga demikian melemahkan fisik.
Untuk meringankan itu, Allah menurunkan ayat ini:

Allah mengetahui bahwa kamu tidak dapat menentukan batas-batas waktu itu, maka Dia memberi keringanan kepadamu
(Q.S. Al-Muzzammil [73]: 20)

Dari ayat 20 ini dapat pula diambil pelajaran bahwa mengerjakan perintah fardu itu tidak boleh melebihi batas ukuran yang ditentukan agar tidak memberatkan diri sendiri.
Oleh karena itu, Allah memerintahkan bagi yang biasa salat malam apabila terasa agak memberatkan boleh dikurangi waktunya, sehingga dikerjakan tidak dalam keadaan terpaksa.
Begitulah Allah memudahkan sesuatu yang berat menjadi ringan, agar seseorang selalu mengerjakan yang mudah itu.
Begitu pula dalam bacaan salat malam (termasuk Magrib dan Isya), hendaklah dibaca ayat-ayat yang pendek-pendek, sebagaimana yang diriwayatkan oleh Al-Baihaqi dan Ad-Daruquthni dari Qais bin hazim bahwa ia salat berjamaah yang diimami oleh Ibnu ‘Abbas.

Qais mengatakan bahwa Ibnu ‘Abbas membaca beberapa ayat dari permulaan Surah al-Baqarah setelah al-Fatihah.
Selesai salat, Ibnu ‘Abbas mengajarkan kepada yang mengikutinya: Selesai salat, Ibnu ‘Abbas menghampiri kami seraya berkata, Allah berfirman “Bacalah olehmu mana yang mudah dari (ayat-ayat Al-Qur’an itu)”
(Riwayat Al-Baihaqi dan Ad-Daruquthni)

Berapa ukuran ayat-ayat yang mudah itu tidak dijelaskan lebih lanjut, demikian pula apakah untuk salat fardu atau salat Tahajud dan sunah-sunah lainnya.
Boleh jadi membaca mana yang mudah dari ayat-ayat Al-Qur’an berlaku untuk beberapa salat wajib dan beberapa salat sunah (seperti salat Tahajud).Kemudian disebutkan pula uzur (halangan) yang kedua yakni karena sakit, sehingga diringankan tuntutan mengerjakan salat malam.
Uzur yang ketiga adalah karena sibuk mencari rezeki di siang hari.
Keempat karena sedang berjuang dengan senjata (fisik) membela dan mempertahankan agama Allah dari serangan musuh.

Faktor sakit, sibuk mencari rezeki, dan sedang berjihad di jalan Allah menyebabkan seseorang sulit baginya untuk bangun pada malam hari mengerjakan salat Tahajud.

Demikianlah pula ternyata ayat ini tidak membeda-bedakan usaha berjihad mengangkat senjata melawan musuh dengan berusaha mencari rezeki, sebab keduanya bermanfaat bagi kaum muslimin, asal dikerjakan menurut perintah Allah.
Berjuang berarti mempertahankan agama, sedang berdagang atau berusaha dapat membiayai keluarga dan kegiatan agama (dengan zakat, sedekah, dan lain-lain).

Setelah menyebutkan tiga sebab yang mendatangkan rukhsah (keringanan) dalam beribadah pada malam hari yang berarti pula terhapusnya kewajiban salat malam (mansukh), maka ayat ini menyebutkan pula apa yang mereka kerjakan setelah mendapat keringanan tersebut yakni hendaklah membaca Al-Qur’an dalam salat mana yang mudah-mudah saja.

Selanjutnya Allah memerintahkan untuk menegakkan salat dan mengeluarkan zakat.
Selain itu dianjurkan pula untuk memberikan pinjaman kepada Allah, dalam bentuk memberikan nafkah (bantuan) bagi kepentingan sabilillah, baik sendiri-sendiri maupun secara bersama-sama.
Dengan qiradh (pinjaman) itulah agama ini bisa ditegakkan, dan urusan sosial kemasyarakatan dapat ditegakkan.
Dalam ayat lain dinyatakan:

Barang siapa meminjami Allah dengan pinjaman yang baik maka Allah melipatgandakan ganti kepadanya dengan banyak.
Allah menahan dan melapangkan (rezeki) dan kepada-Nyalah kamu dikembalikan.

(Q.S. Al-Baqarah [2]: 245)

Kemudian Tuhan menganjurkan supaya memperbanyak sedekah (memberikan harta kepada yang memerlukannya di luar zakat yang wajib) dan memperbanyak amal saleh.
Apa yang dinafkahkan dan dikorbankan dengan bersedekah di jalan Allah, adalah lebih baik dibandingkan dengan apa yang dihabiskan untuk kepentingan duniawi, dan dengan demikian seseorang semakin memperbesar persiapannya untuk menuju kampung yang kekal dan abadi.

Ayat ini diakhiri dengan anjuran agar kita memperbanyak istigfar (mohon ampun kepada Allah), karena dosa dan kesalahan yang kita kerjakan terlalu banyak.
Istigfar yang diterima Allah itulah yang akan menutup aib seseorang tatkala diadakan perhitungan dan pertanggungjawaban amal manusia di hadapan-Nya kelak.
Allah-lah Yang Maha Pengampun; Dialah yang menutupi dosa seseorang atau menguranginya.
Dialah yang Maha Pengasih, yang seseorang tidak akan disiksa bilamana tobatnya telah diterima.

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Sesungguhnya Tuhanmu mengetahui bahwa kamu, Muhammad, terkadang bangun malam kurang dari duapertiganya.
Di malam yang lain kamu bangun pada seperdua atau sepertiganya.
Para pengikutmu pun melakukan hal yang sama seperti kamu.
Tidak ada yang dapat menetapkan ukuran siang dan malam serta memastikan waktunya selain Allah.
Dia Mahatahu bahwa kamu tidak mungkin dapat menghitung secara pasti seluruh bagian siang dan malam itu.
Dari itu, Allah memberikan keringanan kepada kalian.
Maka bacalah, dalam salat, ayat-ayat Al Quran yang mudah.
Allah Mahatahu bahwa di antara kalian ada yang menderita sakit sehingga sulit untuk melakukan ibadah di waktu malam.
Demikian pula Allah mengetahui di antara kalian ada yang selalu bepergian untuk berniaga dan bekerja mencari karunia Allah.
Di antara kalian pun ada yang tengah berjihad di jalan Allah untuk menegakkan kebenaran.
Maka bacalah ayat Al Quran yang mudah, lakukanlah kewajiban salat, tunaikanlah kewajiban zakat dan berikanlah pinjaman kepada Allah dengan pinjaman yang baik, yaitu dengan cara bersedekah kepada kaum fakir sebagai tambahan atas kewajiban yang telah ditentukan.
Sesungguhnya kebajikan yang kalian lakukan akan mendapatkan ganjarannya di sisi Allah, suatu ganjaran yang besar dan lebih baik dari segala yang kalian tinggalkan.
Mintalah ampunan Allah atas segala kekurangan dan perbuatan buruk yang kalian lakukan.
Sesungguhnya Allah Maha Pengampun segala dosa orang beriman serta Mahakasih kepada mereka.

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(Sesungguhnya Rabbmu mengetahui bahwasanya kamu berdiri, salat, kurang) kurang sedikit (dari dua pertiga malam, atau seperdua malam, atau sepertiganya) jika dibaca nishfihi dan tsulutsihi berarti diathafkan kepada lafal tsulutsay, dan jika dibaca nishfahu dan tsulutsahu berarti diathafkan kepada lafal adnaa.

Pengertian berdiri atau melakukan salat sunat di malam hari di sini pengertiannya sama dengan apa yang terdapat di awal surah ini, yakni sesuai dengan apa yang telah diperintahkan Allah kepadanya (dan segolongan dari orang-orang yang bersama kamu) lafal ayat ini diathafkan kepada dhamir yang terkandung di dalam lafal taquumu, demikian pula sebagian orang-orang yang bersamamu.

Pengathafan ini diperbolehkan sekalipun tanpa mengulangi huruf taukidnya, demikian itu karena mengingat adanya fashl atau pemisah.

Makna ayat secara lengkap, dan segolongan orang-orang yang bersama kamu yang telah melakukan hal yang sama.

Mereka melakukan demikian mengikuti jejak Nabi ﷺ sehingga disebutkan, bahwa ada di antara mereka orang-orang yang tidak menyadari berapa rakaat salat malam yang telah mereka kerjakan, dan waktu malam tinggal sebentar lagi.

Sesungguhnya Nabi ﷺ selalu melakukan salat sunah sepanjang malam, karena demi melaksanakan perintah Allah secara hati-hati.

Para sahabat mengikuti jejaknya selama satu tahun, atau lebih dari satu tahun, sehingga disebutkan bahwa telapak-telapak kaki mereka bengkak-bengkak karena terlalu banyak salat.

Akhirnya Allah subhanahu wa ta’ala memberikan keringanan kepada mereka.

(Dan Allah menetapkan) menghitung (ukuran malam dan siang.

Dia mengetahui bahwa) huruf an adalah bentuk takhfif dari anna sedangkan isimnya tidak disebutkan, asalnya ialah annahu (kalian sekali-kali tidak dapat menentukan batas waktu-waktu itu) yaitu waktu malam hari.

Kalian tidak dapat melakukan salat malam sesuai dengan apa yang diwajibkan atas kalian melainkan kalian harus melakukannya sepanjang malam.

Dan yang demikian itu memberatkan kalian (maka Dia mengampuni kalian) artinya, Dia mencabut kembali perintah-Nya dan memberikan keringanan kepada kalian (karena itu bacalah apa yang mudah dari Alquran) dalam salat kalian (Dia mengetahui, bahwa) huruf an adalah bentuk takhfif dari anna, lengkapnya annahu (akan ada di antara kalian orang-orang yang sakit dan orang-orang yang berjalan di muka bumi) atau melakukan perjalanan (mencari sebagian karunia Allah) dalam rangka mencari rezeki-Nya melalui berniaga dan lain-lainnya (dan orang-orang yang lain lagi, mereka berperang di jalan Allah) ketiga golongan orang-orang tersebut, amat berat bagi mereka hal-hal yang telah disebutkan tadi menyangkut salat malam.

Akhirnya Allah memberikan keringanan kepada mereka, yaitu mereka diperbolehkan melakukan salat malam sebatas kemampuan masing-masing.

Kemudian ayat ini dinasakh oleh ayat yang mewajibkan salat lima waktu (maka bacalah apa yang mudah dari Alquran) sebagaimana yang telah disebutkan di atas (dan dirikanlah salat) fardu (tunaikanlah zakat dan berikanlah pinjaman kepada Allah) seumpamanya kalian membelanjakan sebagian harta kalian yang bukan zakat kepada jalan kebajikan (pinjaman yang baik) yang ditunaikan dengan hati yang tulus ikhlas.

(Dan kebaikan apa saja yang kalian perbuat untuk diri kalian, niscaya kalian akan memperoleh balasannya di sisi Allah sebagai balasan yang jauh lebih baik) dari apa yang telah kalian berikan.

Lafal huwa adalah dhamir fashal.

Lafal maa sekalipun bukan termasuk isim makrifat akan tetapi diserupakan dengan isim makrifat karena tidak menerima takrif (dan yang paling besar pahalanya.

Mohonlah ampun kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang) kepada orang-orang mukmin.

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Kemudian Allah subhanahu wa ta’ala berfirman dalam ayat selanjutnya:

Sesungguhnya Tuhanmu mengetahui bahwasanya kamu berdiri (salat) kurang dari dua pertiga malam, atau seperdua malam, atau sepertiganya dan (demikian pula) segolongan dari orang-orang yang bersama kamu.
(Q.S. Al-Muzzainmil: 20)

Yakni adakalanya kurang dari dua pertiga, dan adakalanya kurang dari seperduanya, demikianlah seterusnya tanpa kamu sengaja.
Tetapi memang kamu tidak mampu menunaikan qiyamul lail yang diperintahkan kepadamu dengan sepenuhnya, mengingat pelaksanaannya terasa berat olehmu.
Untuk itulah maka disebutkan dalam firman berikutnya:

Dan Allah menetapkan ukuran malam dan siang.
(Q.S. Al-Muzzammil [73]: 20)

Yaitu adakalanya antara siang dan malam hari sama panjangnya, dan adakalanya malam hari mengambil sebagian waktu siang hari sehingga lebih panjang daripada siang hari.
Demikian pula sebaliknya, terkadang siang lebih panjang daripada malam hari karena sebagian waktunya diambil oleh siang hari.

Allah mengetahui bahwa kamu sekali-kali tidak dapat menentukan batas-batas waktu-waktu itu.
(Q.S. Al-Muzzammil [73]: 20)

Yakni tidak dapat menentukan batas waktu kefarduan yang diwajibkan oleh Allah kepadamu dalam qiyamul lail.

karena itu bacalah apa yang mudah (bagimu) dari Al-Qur’an.
(Q.S. Al-Muzzammil [73]: 20)

Maksudnya, tanpa batasan waktu.
Tetapi kerjakanlah salat lail menurut kemampuanmu dan yang mudah olehmu untuk dikerjakan.
Dalam ayat ini salat diungkapkan dengan kata-kata bacaan Al-Qur’an, yang berarti salatlah apa yang mudah bagimu untuk dikerjakan tanpa batasan waktu.
Hal yang semakna disebutkan di dalam surat Al-Isra melalui firman-Nya:

dan janganlah kamu mengeraskan suaramu dalam salatmu.
(Q.S. Al Israa [17]: 110)

Yaitu bacaan Al-Qur’an dalam salatmu.

dan janganlah pula merendahkannya.
(Q.S. Al Israa [17]: 110)

Murid-murid Imam Abu Hanifah menyimpulkan dari makna ayat ini, yaitu firman Allah subhanahu wa ta’ala: karena itu bacalah apa yang mudah (bagimu) dari Al-Qur’an.
(Q.S. Al-Muzzammil [73]: 20) Bahwa tidak wajib menentukan bacaan Al-Fatihah dalam salat.
Bahkan seandainya seseorang membacanya atau membaca surat lainnya, sekalipun hanya satu ayat, itu sudah cukup baginya.
Dan mereka memperkuat pendapatnya dengan dalil hadis yang menceritakan seseorang yang berlaku buruk terhadap salatnya.
Hadisnya terdapat di dalam kitab Sahihain, yang antara lain menyebutkan: Kemudian bacalah apa yang mudah bagimu dari Al-Qur’an.

Jumhur ulama menyanggah pendapat mereka dengan sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Ubadah ibnus Samit, yang juga terdapat di dalam kitab Sahihain, bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda:

Tidaksah salat seseorang yang tidak membaca Fatihatul Kitab.

Di dalam kitab Sahih Muslim diriwayatkan dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda:

Setiap salat yang tidak dibacakan padanya Ummul Qur’an, maka salat itu cacat, maka salat itu cacat, maka salat itu cacat, tidak sempurna.

Di dalam kitab Sahih Muslim disebutkan dari Ibnu Khuzaimah, dari Abu Hurairah r.a.
secara marfu’:

Tidak cukup salat seseorang yang tidak membaca Ummul Qur’an.

Adapun firman Allah subhanahu wa ta’ala:

Dia mengetahui bahwa akan ada di antara kamu orang-orang yang sakit dan orang-orang yang lain berjalan di muka bumi mencari sebagian karunia Allah, dan orang-orang yang lain lagi yang berperang di jalan Allah.
(Q.S. Al-Muzzammil [73]: 20)

Yakni Allah mengetahui bahwa di antara umat ini ada orang-orang mempunyai ‘uzur dalam meninggalkan qiyamul lail, seperti karena sakit hingga tidak mampu mengerjakannya, juga orang-orang yang sedang mengadakan perjalanan di muka bumi karena mencari sebagian dari karunia Allah dengan bekerja dan berdagang, dan orang-orang yang lainnya sedang sibuk dengan urusan yang lebih penting bagi mereka, yaitu berjihad di jalan Allah subhanahu wa ta’ala Ayat ini—dan bahkan surat ini—secara keseluruhan adalah Makkiyyah.
dan saat itu peperangan masih belum disyariatkan.
Dan hal ini merupakan salah satu dari bukti kenabian yang paling besar, yaitu menyangkut pemberitaan kejadian yang akan datang.
Karena itulah maka disebutkan oleh firman-Nya: karena itu bacalah apa yang mudah (bagimu) dari Al-Qur’an.
(Q.S. Al-Muzzammil [73]: 20) Artinya, kerjakanlah salat dengan membaca apa yang mudah dari Al-Qur’an bagimu.

Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ya’qub, telah menceritakan kepada kami Ibnu Aliyyah, dari Abu Raja alias Muhammad yang mengatakan bahwa ia pernah bertanya kepada Al-Hasan, “‘Hai Abu Sa’id, bagaimanakah pendapatmu tentang seorang lelaki yang hafal Al-Qur’an di luar kepalanya, lalu ia tidak membacanya dalam salat malam hari kecuali hanya salat fardu saja?”
Al-Hasan menjawab, “Berarti ia menjadikan Al-Qur’an hanya sebagai bantal tidurnya, semoga Allah melaknat orang yang seperti itu.” Al-Hasan melanjutkan, bahwa Allah telah berfirman sehubungan dengan seorang hamba yang saleh: Dan sesungguhnya dia mempunyai pengetahuan, karena Kami telah mengajarkan kepadanya.
(Q.S. Yusuf [12]: 68) Dan firman Allah subhanahu wa ta’ala: padahal telah diajarkan kepadamu apa yang kamu dan bapak-bapak kamu tidak mengetahui (nya).
(Q.S. Al-An’am [6]: 91) Aku bertanya, “Hai Abu Sa’id, Allah telah berfirman: karena itu bacalah apa yang mudah (bagimu) dari Al-Qur’an.
(Q.S. Al-Muzzammil [73]: 20) Al-Hasan menjawab, “Benar, sekalipun hanya lima ayat.”

Ini jelas menggambarkan pendapat Al-Hasan, bahwa dia mempunyai pendapat yang mewajibkan bagi orang yang hafal Al-Qur’an membacanya dalam qiyamullail, sekalipun hanya dengan beberapa ayat darinya.
Karena itulah disebutkan dalam sebuah hadis, bahwa Rasulullah ﷺ pernah ditanya mengenai seseorang yang tidur sampai pagi hari.
Maka beliau ﷺ menjawab:

Dia adalah orang yang setan telah mengencingi telinganya.

Menurut suatu pendapat, makna yang dimaksud dari hadis ini ialah orang yang meninggalkan salat fardu karena bangun kesiangan.
Menurut pendapat yang lain, karena meninggalkan qiyamul lail, Di dalam kitab sunan disebutkan:

Salat witirlah, hai ahli Al-Qur’an!

Di dalam hadis yang lain disebutkan:

Barangsiapa yang tidak salat witir, bukan termasuk golongan kami.

Dan yang lebih aneh dari semuanya itu adalah sebuah riwayat yang bersumber dari Abu Bakar ibnu Abdul Aziz, salah seorang yang bermazhab Hambali, ia mengatakan bahwa qiyam bulam Ramadan hukumnya wajib; hanya Allah-lah Yang Maha Mengetahui.

Imam Tabrani mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ahmad ibnu Sa’id Farqadul Hadrad, telah menceritakan kepada kami Abu Ahmad alias Muhammad ibnu Yusuf Az-Zubaidi, telah menceritakan kepada kami Abdur Rahman, dari Muhammad ibnu Abdullah ibnu Tawus (salah seorang putra Tawus), dari ayahnya, dari Tawus, dari Ibnu Abbas, dari Nabi sehubungan dengan makna firman-Nya: karena itu bacalah apa yang mudah (bagimu) dari Al-Qur’an.
(Q.S. Al-Muzzammil [73]: 20) Maka Nabi ﷺ bersabda:

Seratus ayat.

Hadis ini garib sekali, kami belum pernah melihatnya selain dalam mu’jam Imam Tabrani rahimahullah.

Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

dan dirikanlah salat dan tunaikanlah zakat.
(Q.S. Al-Muzzammil [73]: 20)

Yakni dirikanlah salat wajib dan tunaikanlah zakat yang fardu.
Dalam ayat ini terkandung dalil bagi orang yang mengatakan bahwa perintah wajib zakat diturunkan di Mekah, tetapi kadar-kadar nisab yang harus dikeluarkan masih belum dijelaskan dengan rinci kecuali hanya di Madinah; hanya Allah-lah Yang Maha Mengetahui.

Ibnu Abbas, Ikrimah, Mujahid, Al-Hasan, dan Qatadah serta selain mereka yang bukan hanya seorang dari kalangan ulama Salaf telah mengatakan bahwa Sesungguhnya ayat ini telah me-mansukh (merevisi) hukum yang pada mulanya Allah mewajibkan qiyamul lail atas kaum muslim.
Tetapi mereka berbeda pendapat tentang jarak tenggang masa di antara kedua hukum tersebut, ada beberapa pendapat mengenainya di kalangan mereka.
Di dalam kitab Sahihain telah disebutkan bahwa Rasulullah ﷺ menjawab lelaki tersebut melalui sabdanya:

Lima kali salat dalam sehari semalam.

Lelaki itu bertanya, “Apakah ada salat lain yang diwajibkan atas diriku?”
Rasulullah ﷺ menjawab:

Tidak ada.
terkecuali jika kamu hendak salat sunat.

Adapun firman Allah subhanahu wa ta’ala:

berikanlah pinjaman kepada Allah pinjaman yang baik.
(Q.S. Al-Muzzammil [73]: 20)

Yaitu dalam bentuk sedekah-sedekah, karena sesungguhnya Allah akan membalasnya dengan balasan yang terbaik dan berlimpah.
Sebagaimana yang disebutkan dalam ayat lain melalui firman-Nya:

Siapakah yang mau memberi pinjaman kepada Allah, pinjaman yang baik (menafkahkan hartanya di jalan Allah), maka Allah akan memperlipatgandakan pembayaran kepadanya dengan lipat ganda yang banyak.
(Q.S. Al-Baqarah: 245)

Adapun firman Allah subhanahu wa ta’ala:

Dan kebaikan apa saja yang kamu perbuat untuk dirimu, niscaya kamu memperoleh (balasan)nya di sisi Allah sebagai balasan yang paling baik dan yang paling besar pahalanya.
(Q.S. Al-Muzzammil [73]: 20)

Yakni semua sedekah yang kamu keluarkan dari tangan kalian, pahalanya akan kalian peroleh, dan hal ini lebih baik daripada harta yang kamu simpan buat dirimu sendiri di dunia.

Al-Hafiz Abu Ya’la Al-Mausuli mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abu Khaisamah, telah menceritakan kepada kami Jarir, dari Al-A’masy, dari Ibrahim ibnul Haris ibnu Suwaid yang mengatakan bahwa Abdullah pernah berkata bahwa Rasulullah ﷺ telah bersabda, “Siapakah di antara kamu yang hartanya lebih ia cintai daripada harta ahli warisnya?”
Mereka menjawab, “Wahai Rasulullah, tiada seorang pun dari kami melainkan hartanya lebih disukainya ketimbang harta ahli warisnya.” Rasulullah’ﷺ bersabda, “Jelaskanlah alasan kalian!” Mereka menjawab, “Kami tidak mengetahui selain itu, ya Rasulullah.” Rasulullah ﷺ menjawab: Sesungguhnya harta seseorang dari kamu hanyalah apa yang dia gunakan dan harta ahli warisnya adalah yang dia simpan.

Imam Bukhari meriwayatkan hadis ini melalui Hafs ibnu Gayyas, dan Imam Nasai meriwayatkannya melalui Abu Mu’awiyah, keduanya dari Al-A’masy dengan sanad yang sama.

Selanjutnya Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

Dan mohonlah ampunan kepada Allah; sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
(Q.S. Al-Muzzammil [73]: 20)

Artinya, perbanyaklah berzikir kepada-Nya dan memohon ampun kepada-Nya dalam semua urusanmu, karena sesungguhnya Dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang kepada siapa yang memohon ampun kepada-Nya.


Asbabun Nuzul
Sebab-Sebab Diturunkannya Surah Al Muzzammil (73) Ayat 20

Diriwayatkan oleh al-Bazzar dan ath-Thabarani dengan sanad yang lemah, yang bersumber dari Jabir bahwa ketika kaum Quraisy berkumpul di gedung Darun Nadwah, mereka berkata satu sama lainnya: “Mari kita carikan bagi Muhammad nama yang tepat dan cepat dikenal orang.” Mereka berkata: Kaahin (dukun).
Yang lainnya menjawab:
“Dia bukan dukun.” Yang lainnya berkata lagi: “Majnuun (orang gila).” Yang lainnya menjawab:
“Dia bukan orang gila.” Mereka berkata lagi: “Saahir (tukang sihir)”.
Yang lainnya menjawab:
“Dia bukan tukang sihir.” Kejadian ini sampai kepada Nabi ﷺ sehingga beliaupun menahan diri dengan berselimut dan berkerudung.
Maka datanglah malaikat Jibril menyampaikan wahyu, yaa ayyuhal muzzammil (hai orang yang berselimut [Muhammad] (Al-Muzammil: 1)
dan yaa ayyuhal muddatstsir (hai orang yang berkemul [berselimut]) (al-Muddatstsir: 1)

Dalam riwayat lain dikemukakan bahwa ayat ini (Al-Muzammil: 1) turun saat Nabi ﷺ sedang berselimut dengan selimut beludru.(diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim yang bersumber dari Ibrahim an-Nakho’i

Diriwayatkan oleh al-Hakim yang bersumber dari ‘Aisyah.
Hadits seperti ini diriwayatkan pula oleh Ibnu Jarir yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas dllbahwa setelah turun ayat ini (Al-Muzammil: 1-4), yang memerintahkan agar kaum Muslimin bangun untuk melaksanakan shalat selama kurang lebih setengah malam pada tiap-tiap malam, para sahabat melaksanakannya dengan tekun.
Kejadian ini berlangsung selama setahun sehingga menyebabkan kaki mereka bengkak-bengkak.
Maka turunlah ayat berikutnya (Al-Muzammil: 20) yang memberikan keringanan untuk bangun malam dan mempersingkat bacaan.

Sumber : Asbabun Nuzul-K.H.Q.Shaleh – H.A.A Dahlan dkk.

Kata Pilihan Dalam Surah Al Muzzammil (73) Ayat 20

THAA’IFAH
طَآئِفَة

Dalam Kamus Al Munjid disebutkan, lafaz ini adalah mu’annath dari thaa’if dan maknanya kembali kepada putaran, seolah­olah ia mengelilingi sesuatu. Setiap jemaah atau kelompok yang mengelilingi sesuatu dinamakan thaa’ifah. Selain itu, thaa’ifah dari sesuatu bermakna sebahagiannya. Apabila disandarkan kepada manusia membawa makna golongan dan setengah dari mereka yang dihimpunkan oleh mazhab atau pendapat yang membedakannya dari golongan lain.

Al Kafawi berkata,
Thaa’ifah adalah sebahagian dari sesuatu, sepotong daripadanya, atau terdiri dari satu hingga seterusnya, atau hingga seribu, paling sedikit dua lelaki atau satu, dan ia menjadi makna diri. Apabila ia dimaksudkan jamak, ia adalah jamak dan apabila dimaksudkan satu ia bisa dikatakan jamak'”

Lafaz thaa’ifah disebut 20 kali di dalam Al Qur’an yaitu dalam surah:
-Ali Imran (3), ayat 69, 72, 154 (dua kali);
-An Nisaa (4), ayat 81, 102 (dua kali), 113;
-Al A’raaf (7), ayat 87 (dua kali);
-At Taubah (9), ayat 66 (dua kali), 83, 122;
-An Nuur (24), ayat 2;
-Al Qashash (28), ayat 4;
-Al Ahzab (33), ayat 13;
-Ash Shaff (61),ayat 14 (dua kali);
-Al Muzzammil (73), ayat 20.

Lafaz thaa’ifah di dalam Al Qur’an merujuk kepada manusia dan ia dapat digolongkan kepada beberapa kelompok:

1. Kelompok orang Yahudi atau Ahli Kitab seperti dalam surah:
-Ali Imran, ayat 69, 72;
-Ash Shaff, ayat 14;
-Al Qashash, ayat 4;

Dimana segolongan mereka diperbudak, dijadikan buruh kasar dan dipaksa bekerja oleh Fir’aun.

2. Kelompok orang mukmin sebagaimana yang terdapat dalam surah:
-Ali ‘Imran (3), ayat 154;
-An Nisaa (4), ayat 102;
-Al A’raaf (7), ayat 87;
-At Taubah (8), ayat 122;
-An Nuur (24), ayat 2;
-Al Muzzarnmil (73), ayat 20.

3. Kelompok orang munafik seperti dalam surah:
-An Nisaa (4), ayat 81;
-At Taubah, ayat 66, 83

Yaitu sebanyak 12 orang yang balik dari Perang Badar, dan dalam surah Al Ahzab (33), ayat 13. Mereka ialah Aus bin Qayzi, ayah kepada Arabah bin Aus dan Ubayy bin Salul serta kawannya.

4. Bermakna Asid bin ‘Urwah dan sahabatnya. Diriwayatkan dari ‘Asim bin ‘Umar bin Qatadah Al Ansari, dari ayahnya dari kakeknya Qatadah bin An Nu’man, beliau menyebut kisah Bani Ubairiq, lalu turunlah ayat ini, yang dimaksudkan dalam ayat ini ialah Asid bin ‘Urwah dan sahabatnya. Ketika mereka memuji Bani Ubairiq dan mencela Qatadah bin An Nu’man yang menuduh mereka ketika mereka bebas dari tuduhan itu seperti dalam ayat 113 dari surah Ali Imran.

Ibn Jarir berkata,
“Mereka ialah golongan yang mengkhianati diri mereka dan menyokong Bani Ubairiq.”

5. Kelompok dari kalangan orang kafir seperti dalam surah Al A’raaf (7), ayat 87.

6. Kelompok yang bertaubat dengan ikhlas dari kalangan orang munafik seperti dalam surah At Taubah (9) ayat 66.

إِن نَّعْفُ عَن طَآئِفَةٍ مِّنكُمْ

artinya, “Jika Kami memaafkan segolongan kamu (lantaran mereka taubat),”

Sumber : Kamus Al Qur’an, PTS Islamika SDN. BHD.Hal:333-334

Informasi Surah Al Muzzammil (المزمل)
Surat Al Muzzammil terdiri atas 20 ayat, termasuk golongan surat-surat Makkiyyah, diturunkan sesudah surat Al Qalam.

Dinamai “Al Muzzammil” (orang yang berselimut) diambil dari perkataan “Al Muzzammil” yang terdapat pada ayat pertama surat ini.
Yang dirnaksud dengan “orang yang berkemul” ialah Nabi Muhammad ﷺ

Keimanan:

Petunjuk-petunjuk yang harus dilakukan oleh Rasulullah ﷺ untuk menguatkan rohani guna persiapan menerima wahyu, yaitu dengan bangun di malam hari untuk shalat tahajjud, membaca Al Qur’an dengan tartil
bertasbih dan bertahmid
perintah bersabar terhadap celaan orang-orang yang mendustakan Rasul.
Akhirnya kepada umat Islam diperintahkan untuk shalat tahajjud, berjihad di jalan Allah, membaca Al Qur’an, mendirikan shalat, menunaikan zakat, membelanjakan harta di jalan Allah dan memohon ampunan kepada Allah subhanahu wa ta’ala

Ayat-ayat dalam Surah Al Muzzammil (20 ayat)

Audio

Qari Internasional

Q.S. Al-Muzzammil (73) ayat 20 - Oleh Syekh Mishari Alafasy
Q.S. Al-Muzzammil (73) ayat 20 - Oleh Syekh Sa'ad Al-Ghamidi
Q.S. Al-Muzzammil (73) ayat 20 - Oleh Syekh Muhammad Ayyub

Murottal al-Qur'an & Terjemahan Indonesia
Q.S. Al-Muzzammil - Oleh Syekh Misyari Rasyid Alafasy
Full ayat 1 sampai 20 & Terjemahan


Gambar



Statistik Q.S. 73:20
  • Rating RisalahMuslim

Ayat ini terdapat dalam surah Al Muzzammil.

Surah Al-Muzzammil (Arab: المزمّل ,"Orang Yang Berselimut") adalah surah ke-73 dalam al-Qur'an.
Surah ini tergolong surah Makkiyah, terdiri atas 20 ayat.
Dinamakan Al Muzzammil yang berarti "Orang yang berselimut" di ambil dari kata Al Muzzammil yang terdapat pada ayat pertama surat ini.
Yang dimaksud dengan orang yang berselimut ialah Nabi Muhammad S.A.W.

Nomor Surah 73
Nama Surah Al Muzzammil
Arab المزمل
Arti Orang yang berselimut
Nama lain -
Tempat Turun Mekkah
Urutan Wahyu 3
Juz Juz 29
Jumlah ruku' 2 ruku'
Jumlah ayat 20
Jumlah kata 300
Jumlah huruf 853
Surah sebelumnya Surah Al-Jinn
Surah selanjutnya Surah Al-Muddassir
4.8
Ratingmu: 4.8 (14 orang)
Sending







Pembahasan ▪ quran 73:20

Iklan

Video

Panggil Video Lainnya


Ikuti RisalahMuslim
               





Copied!

Masukan & saran kirim ke email:
[email protected]

Made with in Yogyakarta