Search
Generic filters
Cari Kategori
🙏 Pilih semua
Quran
Hadits
Kamus
Podcast
Soal Agama
Artikel, Doa, dll.

QS. Al Munafiquun (Orang-orang yang munafik) - surah 63 ayat 6 [QS. 63:6]

سَوَآءٌ عَلَیۡہِمۡ اَسۡتَغۡفَرۡتَ لَہُمۡ اَمۡ لَمۡ تَسۡتَغۡفِرۡ لَہُمۡ ؕ لَنۡ یَّغۡفِرَ اللّٰہُ لَہُمۡ ؕ اِنَّاللّٰہَ لَا یَہۡدِی الۡقَوۡمَ الۡفٰسِقِیۡنَ
Sawaa-un ‘alaihim astaghfarta lahum am lam tastaghfir lahum lan yaghfirallahu lahum innallaha laa yahdiil qaumal faasiqiin(a);
Sama saja bagi mereka, engkau (Muhammad) mohonkan ampunan untuk mereka atau tidak engkau mohonkan ampunan bagi mereka, Allah tidak akan mengampuni mereka;
sesungguhnya Allah tidak akan memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik.
―QS. Al Munafiquun [63]: 6

Daftar isi

It is all the same for them whether you ask forgiveness for them or do not ask forgiveness for them;
never will Allah forgive them.
Indeed, Allah does not guide the defiantly disobedient people.
― Chapter 63. Surah Al Munafiquun [verse 6]

سَوَآءٌ sama saja

(It) is same
عَلَيْهِمْ atas mereka

for them
أَسْتَغْفَرْتَ kamu mohonkan ampunan

whether you ask forgiveness
لَهُمْ bagi mereka

for them
أَمْ atau

or
لَمْ tidak

(do) not
تَسْتَغْفِرْ kamu mohonkan ampunan

ask forgiveness
لَهُمْ bagi mereka

for them.
لَن tidak

Never
يَغْفِرَ akan mengampuni

will forgive
ٱللَّهُ Allah

Allah
لَهُمْ bagi mereka

[to] them.
إِنَّ sesungguhnya

Indeed,
ٱللَّهَ Allah

Allah
لَا tidak

(does) not
يَهْدِى memberi petunjuk

guide
ٱلْقَوْمَ kaum

the people,
ٱلْفَٰسِقِينَ orang-orang yang fasik

the defiantly disobedient.

Tafsir Quran

Surah Al Munafiquun
63:6

Tafsir QS. Al-Munafiqun (63) : 6. Oleh Kementrian Agama RI

Allah menerangkan bahwa bagi orang-orang munafik, dimintakan ampunan atau tidak, sama saja.
Allah tidak akan mengampuni mereka.

Dia telah menetapkan mereka termasuk orang-orang yang celaka karena perbuatan mereka yang bergelimang dosa dan menunjukkan dengan jelas kemunafikan serta keingkaran di dalam hati mereka yang disembunyikan.
Allah tidak akan memberi petunjuk kepada orang-orang fasik yang kerjanya hanya berbuat jahat, tidak memperhatikan nasihat-nasihat yang baik, dan tidak akan menyadari peringatan yang diberikan kepadanya.

Perkataannya penuh kebohongan dan keingkaran yang keterlaluan, sebagaimana Allah ﷻ berfirman:

اِنَّ اللّٰهَ لَا يَهْدِيْ مَنْ هُوَ كٰذِبٌ كَفَّارٌ

Sungguh, Allah tidak memberi petunjuk kepada pendusta dan orang yang sangat ingkar. (Az-Zumar [39]: 3)

Firman Allah:

اِنَّ اللّٰهَ لَا يَهْدِيْ مَنْ هُوَ مُسْرِفٌ كَذَّابٌ

Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang yang melampaui batas dan pendusta.
(Al-Mu’min [40]: 28)

Dan firman Allah:

اِسْتَغْفِرْ لَهُمْ اَوْ لَا تَسْتَغْفِرْ لَهُمْ اِنْ تَسْتَغْفِرْ لَهُمْ سَبْعِيْنَ مَرَّةً فَلَنْ يَّغْفِرَ اللّٰهُ لَهُمْ ذٰلِكَ بِاَنَّهُمْ كَفَرُوْا بِاللّٰهِ وَرَسُوْلِهٖ وَاللّٰهُ لَا يَهْدِى الْقَوْمَ الْفٰسِقِيْنَ

(Sama saja) engkau (Muhammad) memohonkan ampunan bagi mereka atau tidak memohonkan ampunan bagi mereka.
Walaupun engkau memohonkan ampunan bagi mereka tujuh puluh kali, Allah tidak akan memberi ampunan kepada mereka.

Yang demikian itu karena mereka ingkar (kafir) kepada Allah dan rasul-Nya.
Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik.
(At-Taubah [9]: 80)

Tafsir QS. Al Munafiquun (63) : 6. Oleh Muhammad Quraish Shihab:


Kamu mintakan ampunan untuk orang-orang munafik itu atau tidak, sama saja bagi mereka.
Sebab, mereka tidak akan meninggalkan kemunafikan.


Maka, Allah tidak akan mengampuni mereka.
Sesungguhnya Allah tidak akan memberi petunjuk kebenaran kepada orang-orang yang tidak taat dan beriman kepada- Nya.

Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:


Wahai Rasul, sama saja bagi orang-orang munafik, apakah engkau mohonkan ampunan kepada Allah untuk mereka atau tidak.
Sungguh, Allah tidak akan memaafkan dosa-dosa mereka selamanya karena mereka terus berada dalam kefasikan dan bersikukuh dalam kekafiran serta keluar dari ketaatan-Nya.

Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:



(Sama saja bagi mereka, kamu mintakan ampunan bagi mereka) dalam ungkapan kalimat astaghfarta, keberadaan hamzah istifham cukup diwakili oleh hamzah washal


(atau kamu tidak memintakan ampunan bagi mereka, Allah tidak akan memberikan ampunan kepada mereka.
Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik).

Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Kemudian mereka diberi pembalasan atas sikapnya itu.
Maka Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

Sama saja bagi mereka, kamu mintakan ampunan atau tidak kamu mintakan ampunan bagi mereka, Allah tidak akan mengampuni mereka;
sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik.
(QS. Al-Munafiqun [63]: 6)

Sama halnya dengan apa yang disebutkan di dalam surat At-Taubah yang telah diterangkan jauh sebelum ini dan juga telah disebutkan pula padanya hadishadis yang diriwayatkan mengenainya.

Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami ayahku, telah menceritakan kepada kami Ibnu Abu Umar Al-Adani yang mengatakan bahwa Sufyan telah mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya:
mereka membuang muka mereka.
(QS. Al-Munafiqun [63]: 5)
Ibnu Abu Umar mengatakan bahwa Sufyan memalingkan mukanya ke arah kanan seraya melirikkan pandangan matanya dengan pandangan yang sinis, lalu berkata bahwa seperti inilah sikap mereka.


Telah disebutkan dari bukan hanya seorang dari kalangan ulama Salaf, bahwa konteks semua ayat ini diturunkan berkenaan dengan Abdullah ibnu Ubay ibnu Salul, seperti yang akan kami terangkan berikut ini.

Muhammad ibnu Ishaq telah mengatakan di dalam kitab As-Sirah-nya, bahwa ketika Rasulullah ﷺ tiba di Madinah sekembalinya dari Perang Uhud.
Sedangkan Abdullah ibnu Ubay ibnu Salul, menurut keterangan yang kuperoleh dari Ibnu Syihab Az-Zuhri, merupakan seorang yang mempunyai kedudukan di kalangan kaumnya.
Setiap orang mengakui kedudukannya yang terhormat;
dia dihormati di kalangan kaumnya.
ApabilaNabi ﷺ duduk dalam khotbahnya di hari Jumat, maka Abdullah ibnu Ubay ibnu Salul berdiri, lalu mengatakan,
"Hai manusia, ini adalah utusan Allah berada di antara kalian, Allah telah memuliakan kalian dengan melaluinya dan menjadikan kalian berjaya karenanya.
Untuk itu maka tolonglah dia, dukunglah dia, dan tunduk patuhlah kalian kepadanya."
Setelah itu ia duduk kembali.

Ketika dia melakukan apa yang dilakukannya dalam Perang Uhud, yakni dia kembali ke Madinah dengan sepertiga pasukan, lalu pasukan kaum muslim kembali, maka berdirilah ia dan melakukan kebiasaan yang sebelumnya.
Maka kaum muslim memegangi bajunya dari semua sisinya, dan mereka mengatakan,
"Duduklah, hai musuh Allah, kamu tidak pantas melakukan hal ini setelah apa yang engkau lakukan dalam Perang Uhud."
Lalu ia keluar dengan melangkahi leher banyak orang seraya berkata,
"Demi Allah, seakan-akan aku mengatakan ucapan yang tidak pantas, padahal aku berdiri untuk memperkuat urusannya."

Di dekat pintu masjid ia bersua dengan sejumlah orang Ansar.
Mereka mengatakan,
"Celakalah kamu, mengapa kamu ini?"
Abdullah ibnu Ubay ibnu Salul menjawab,
"Aku berdiri untuk mendukung urusannya, lalu sejumlah orang dari sahabatnya menarikku dan bersikap kasar terhadapku, seakan-akan aku mengatakan hal yang tidak pantas, padahal sebenarnya aku bermaksud untuk mendukungnya."
Mereka berkata,
"Celakalah kamu ini, sekarang kembalilah kamu kepada Rasulullah ﷺ, beliau akan memohonkan ampunan bagimu."
Ibnu Salul menjawab,
"Demi Allah, aku tidak ingin dia memohonkan ampunan bagiku."

Qatadah dan As-Saddi mengatakan bahwa ayat ini diturunkan berkenaan dengan Abdullah ibnu Ubay ibnu Salul.
Demikian itu karena ada seorang pemuda dari kalangan kerabatnya melapor kepada Rasulullah ﷺ dan menceritakan kepada beliau tentang kata-kata yang dikeluarkan oleh Ibnu Salul mengenai diri Rasulullah ﷺ, yakni mencaci maki beliau ﷺ Maka Rasulullah ﷺ memanggilnya, tetapi ternyata dia bersumpah dengan menyebut nama Allah bahwa dirinya tidak mengatakannya dan berlepas diri dari hal tersebut.
Akhirnya orang-orang Ansar mendatangi pemuda tersebut dan mencacinya serta mengisolirnya.
Lalu Allah menurunkan firman-Nya mengenai peristiwa ini, sebagaimana yang kalian dengar.
Kemudian dikatakan kepada musuh Allah itu,
"Sebaiknya kamu datang menghadap kepada Rasulullah ﷺ,"
tetapi dia memalingkan mukanya, dengan maksud bahwa dia tidak melakukan apa yang dituduhkan kepadanya.

Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami ayahku, telah menceritakan kepada kami Abur Rabi’ Az-Zahrani, telah menceritakan kepada kami Hammad ibnu Zaid, telah menceritakan kepada kami Ayyub, dari Sa’id ibnu Jubair, bahwa Rasulullah ﷺ apabila turun istirahat di suatu tempat tidak pernah meninggalkannya sebelum melakukan salat padanya.
Dan ketika Perang Tabuk, ada suatu berita yang sampai kepada beliau, bahwa Abdullah ibnu Ubay ibnu Salul mengatakan,
"Benar-benar orang yang kuat akan mengusir orang-orang yang lemah daripadanya (Madinah)."
Maka Rasulullah ﷺ langsung kembali ke Madinah sebelum siang hari berakhir (tanpa salat terlebih dahulu).
Lalu dikatakan kepada Abdullah ibnu Ubay ibnu Salul,
"Datanglah kamu kepada Nabi ﷺ agar beliau memohonkan ampunan bagimu,"
dan Allah menurunkan firman-Nya:
Apabila orang-orang munafik datang kepadamu.
(QS. Al-Munafiqun [63]: 1)
sampai dengan firman-Nya:
Dan apabila dikatakan kepada mereka,
"Marilah (beriman), agar Rasulullah memintakan ampunan bagimu,
"
mereka membuang muka mereka.
(QS. Al-Munafiqun [63]: 5)

Sanad hadis ini sahih sampai kepada Sa’id ibnu Jubair.
Tetapi perkataannya bahwa sesungguhnya hal tersebut terjadi dalam Perang Tabuk, masih perlu diteliti kembali.
Bahkan kalimat tersebut tidaklah tepat, karena sesungguhnya Abdullah ibnu Ubay ibnu Salul bukan termasuk orang yang keluar menuju medan Tabuk, bahkan dia kembali ke Madinah bersama sekelompok pasukan.
Dan sesungguhnya menurut pendapat yang terkenal di kalangan para pemilik kitab Magazi dan Sirah, peristiwa ini terjadi dalam Perang Al-Muraisi’, yaitu perang melawan Banil Mustaliq.

Yunus ibnu Bukair telah meriwayatkan dari Ibnu Ishaq, bahwa telah menceritakan kepadaku Muhammad ibnu Yahya ibnu Hibban dan Abdullah ibnu Abu Bakar dan Asim ibnu Umar ibnu Qatadah dalam kisah Banil Mustaliq, bahwa ketika Rasulullah ﷺ berada di tempat Banil Mustaliq, Jahjah ibnu Sa’id Al-Gifari seorang pekerja Umar ibnul Khattab berkelahi dengan Sinan ibnu Yazid, karena memperebutkan air.

Ibnu Ishaq mengatakan, telah menceritakan kepadaku Muhammad ibnu Yahya ibnu Hibban, bahwa keduanya berdesakan untuk memperebutkan air dari suatu mata air, lalu keduanya berkelahi.
Akhirnya Sinan berkata,
"Hai orang-orang Ansar,"
sedangkan Al-Jahjah berkata,
"Hai orang-orang Muhajir."
Saat itu Zaid ibnu Arqam dan segolongan kaum Ansar berada bersama Abdullah ibnu Ubay ibnu Salul.
Ketika Abdullah ibnu Ubay mendengar hal tersebut, maka ia memberikan komentarnya,
"Sesungguhnya mereka telah berani mengadakan pemberontakan di negeri kita.
Demi Allah, perumpamaan kita dan sempalan orang-orang Quraisy ini (yakni Muhajirin) sama dengan peribahasa yang mengatakan ‘gemukkanlah anjingmu, maka ia akan memakanmu’.
Demi Allah, sungguh jika kita kembali ke Madinah, orang-orang yang kuat benar-benar akan mengusir orang-orang yang lemah daripadanya."
Kemudian dia menghadap kepada orang-orang yang ada di dekatnya dari kalangan kaumnya, lalu berkata kepada mereka,
"Inilah akibat dari perbuatan kalian, kalian telah mengizinkan mereka menempati negeri kalian, dan kalian telah merelakan harta kalian berbagi dengan mereka.
Ingatlah, demi Allah, sekiranya kalian menghindari mereka, niscaya mereka akan berpindah dari kalian menuju ke negeri lain."

Kemudian perkataan Abdullah ibnu Ubay itu terdengar oleh Zaid ibnu Arqam r.a., maka ia melaporkannya kepada Rasulullah ﷺ yang pada saat itu Zaid ibnu Arqam masih berusia remaja.
Ketika ia sampai kepada Rasulullah ﷺ, di sisi beliau terdapat Umar ibnul Khattab r.a., lalu ia menceritakan kepada beliau apa yang telah dikatakan oleh Abdullah ibnu Ubay tadi.
Maka Umar r.a. berkata,
"Wahai Rasulullah, perintahkanlah kepada Abbad ibnu Bisyar agar memenggal kepala Ibnu Salul."
Rasulullah ﷺ menjawab:
Hai Umar, bagaimanakah jawabanmu apabila orang-orang mengatakan bahwa Muhammad telah membunuh temannya sendiri.
Tidak, tetapi serukanlah, hai Umar, kepada orang-orang untuk segera berangkat (pulang).

Ketika hal itu sampai kepada Abdullah ibnu Ubay, maka ia mendatangi Rasulullah ﷺ dan meminta maaf kepadanya serta bersumpah bahwa dia tidak mengatakannya, yakni tidak mengatakan seperti apa yang dilaporkan oleh Zaid ibnu Arqam.
Sedangkan Abdullah ibnu Ubay adalah seorang lelaki yang mempunyai kedudukan yang tinggi di kalangan kaumnya, maka mereka mengatakan,
"Wahai Rasulullah, barangkali anak remaja ini (yakni Zaid ibnu Arqam) hanya berilusi dan masih belum dapat menangkap pembicaraan yang dikatakan oleh seorang yang telah dewasa."
Tetapi Rasulullah ﷺ pergi di tengah hari, yaitu di saat yang pada kebiasaannya beliau tidak pernah memerintahkan untuk berangkat.
Lalu Usaid ibnu Hudair r.a. datang menjumpai beliau ﷺ dan mengucapkan salam penghormatan kenabian kepada beliau ﷺ Kemudian Usaid berkata,
"Demi Allah, engkau memerintahkan berangkat di saat yang tidak disukai dan yang belum pernah* engkau lakukan sebelumnya."
Maka Rasulullah ﷺ bersabda:
Tidakkah engkau mendengar apa yang telah dikatakan oleh temanmu.
Ibnu Ubay.
Dia mengira bahwa apabila aku sampai di Madinah, maka orang yang kuat akan mengusir orang yang lemah daripadanya.

Usaid ibnu Hudair r.a. berkata,
"Wahai Rasulullah, engkaulah orang yang kuat dan dia adalah orang yang hina (kalah)."
Kemudian Usaid berkata pula,
"Wahai Rasulullah, kasihanilah dia.
Demi Allah, sesungguhnya ketika Allah mendatangkan engkau, sesungguhnya kami benar-benar telah menguntai manikam guna memahkotainya (menjadi pemimpin kami).
Dan sesungguhnya dia memandang bahwa engkau telah merebut kerajaan itu dari tangannya."
Kemudian Rasulullah ﷺ membawa pasukan kaum muslim berjalan hingga petang hari dan dilanjutkan pada malam harinya hingga pada pagi hari dan matahari meninggi hingga panasnya mulai terasa.
Setelah itu beliau ﷺ memerintahkan kepada pasukan kaum muslim untuk turun istirahat,aguna mengalihkan perhatian mereka dari topik pembicaraan yang sedang menghangat di kalangan mereka.
Maka begitu orang-orang menyentuh tanah, mereka langsung tidur karena kecapaian, dan di tempat itulah diturunkan surat Al-Munafiqun.

Al-Hafiz Abu Bakar Al-Baihaqi mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abu Abdullah Al-Hafiz, telah menceritakan kepada kami Abu Bakar ibnu Ishaq, telah menceritakan kepada kami Bisyr ibnu Musa, telah menceritakan kepada kami Al-Humaidi, telah menceritakan kepada kami Sufyan, telah menceritakan kepada kami Amr ibnu Dinar bahwa ia pernah mendengar Jabir ibnu Abdullah mengatakan,
"Ketika kami bersama Rasulullah ﷺ dalam suatu peperangan, maka ada seorang lelaki dari kalangan Muhajirin mendorong seorang lelaki dari kalangan Ansar (karena memperebutkan sesuatu).
Maka orang Ansar mengatakan, ‘Hai orang-orang Ansar!’ Sedangkan orang Muhajirin mengatakan, ‘Hai orang-orang Muhajirin!’ Yakni meminta bantuan kepada temannya masing-masing.
Maka Rasulullah ﷺ bersabda:
‘Mengapa seruan jahiliah itu muncul lagi?Tinggalkanlah oleh kalian, karena sesungguhnya seruan jahiliah itu sudah usang (busuk)’."

Abdullah ibnu Ubay ibnu Salul berkata,
"Ternyata mereka melakukan seruan jahiliah itu.
Demi Allah, sesungguhnya jika kita kembali ke Madinah, benar-benar orang yang kuat akan mengusir orang-orang yang lemah daripadanya."

Jabir melanjutkan bahwa jumlah orang-orang Ansar di Madinah jauh lebih banyak daripada orang-orang Muhajirin di saat Rasulullah ﷺ baru tiba di Madinah, kemudian lama-kelamaan sesudah itu jumlah kaum Muhajirin bertambah banyak.
Maka Umar berkata,
"Biarkanlah aku memenggal batang leher si munafik ini."
Tetapi Rasulullah ﷺ bersabda:
Biarkanlah dia, agar orang-orang tidak membicarakan bahwa Muhammad membunuh temannya sendiri.

Imam Ahmad meriwayatkan hadis ini dari Husain ibnu Muhammad Al-Marwazi, dari Sufyan ibnu Uyaynah.
Imam Bukhari meriwayatkannya pula dari Al-Humaidi, Imam Muslim meriwayatkannya dari Abu Bakar ibnu Abu Syaibah dan lain-lainnya, dari Sufyan dengan sanad dan lafaz yang semisal.

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Ja’far, telah menceritakan kepada kami Syu’bah, dari Al-Hakam, dari Muhammad ibnu Ka’b Al-Qurazi, dari Zaid ibnu Arqam yang mengatakan bahwa aku bersama Rasulullah ﷺ dalam Perang Tabuk, maka Abdullah ibnu Ubay ibnu Salul mengatakan,
"Sesungguhnya jika kita kembali ke Madinah, benar-benar orang yang kuat akan mengusir orang yang lemah daripadanya."
Zaid ibnu Arqam melanjutkan kisahnya, bahwa lalu ia menceritakan hal itu kepada Nabi Saw

Maka Abdullah ibnu Ubay ibnu Salul bersumpah bahwa dirinya tidak mengatakan hal tersebut.
Akhirnya kaum Zaid ibnu Arqam mencela dirinya, dan mereka mengatakan,
"Apakah tujuanmu dengan hal tersebut?
Zaid ibnu Arqam pergi, lalu tidur dalam keadaan bersedih hati.
Tidak lama kemudian Rasulullah ﷺ memanggilku dan bersabda kepadaku:
Sesungguhnya Allah telah menurunkan wahyu yang memaafkanmu dan membenarkanmu.
Zaid ibnu Arqam mengatakan bahwa ayat ini diturunkan, yaitu firman-Nya:
Mereka orang-orang yang mengatakan (kepada orang-orang Ansar),
"Janganlah kamu memberikan perbelanjaan kepada orang-orang (Muhajirin) yang ada di sisi Rasulullah supaya mereka bubar (meninggalkan Rasulullah).”(QS. Al-Munafiqun [63]: 7)
Sampai dengan firman-Nya:
Sesungguhnya jika kita telah kembali ke Madinah, benar-benar orang yang kuat akan mengusir orang-orang yang lemah daripadanya.
(QS. Al-Munafiqun [63]: 8)

Imam Bukhari meriwayatkan hadis ini dalam tafsir ayat ini melalui Adam ibnu Abu Iyas, dari Syu’bah.
Kemudian ia mengatakan bahwa Ibnu Abu Zaidah telah meriwayatkan dari Al-A’masy, dari Amr, dari Ibnu Abu Laila, dari Zaid, dari Nabi ﷺ Dan Imam Turmuzi serta Imam Nasai meriwayatkan hadis ini sehubungan dengan tafsir ayat ini melalui hadis Syu’bah dengan sanad yang sama.

Jalur lain dari Zaid ibnu Arqam.
Imam Ahmad rahimahullah mengatakan bahwa telah menceritakan kepada kami Yahya ibnu Adam dan Yahya ibnu Abu Bukair.
Keduanya mengatakan, telah menceritakan kepada kami Israil, dari Abu Ishaq, bahwa ia pernah mendengar Zaid ibnu Arqam.
Dan Abu Bukair telah meriwayatkan dari Zaid ibnu Arqam.
Disebutkan bahwa aku (Zaid ibnu Arqam) berangkat bersama pamanku di suatu peperangan, lalu aku mendengar Abdullah ibnu Ubay ibnu Salul mengatakan kepada teman-temannya,
"Janganlah kamu membelanjakan hartamu kepada orang-orang yang ada di sisi Rasulullah ﷺ Dan sesungguhnya j ika kita kembali ke Madinah, benar-benar orang yang kuat akan mengusir orang-orang yang lemah daripadanya."
Kemudian aku ceritakan hal itu kepada pamanku, dan pamanku melaporkannya kepada Rasulullah ﷺ Maka Rasulullah ﷺ memanggilku dan aku ceritakan hal tersebut kepadanya.
Lalu Rasulullah ﷺ memanggil Abdullah ibnu Ubay ibnu Salul dan teman-temannya, tetapi mereka bersumpah dengan nama Allah bahwa mereka tidak mengatakannya.
Akhirnya Rasulullah ﷺ tidak mempercayaiku dan membenarkan Ibnu Ubay, maka hal itu merupakan suatu pukulan yang berat bagiku yang tidak pernah kualami sebelumnya, hingga aku terpaksa menetap di dalam rumah, dan pamanku berkata,
"Tiada yang engkau hasilkan selain dari ketidakpercayaan Rasulullah ﷺ kepadamu dan kemarahan beliau kepadamu."
Lalu Allah subhanahu wa ta’ala menurunkan firman-Nya:
Apabila orang-orang munafik datang kepadamu.
(QS. Al-Munafiqun [63]: 1)
hingga akhir surat, lalu Rasulullah ﷺ memanggilku dan membacakan surat Al-Munafiqun kepadaku, kemudian beliau ﷺ bersabda:
Sesungguhnya Allah telah membenarkanmu.

Kemudian Imam Ahmad mengatakan pula, telah menceritakan kepada kami Hasan ibnu Musa, telah menceritakan kepada kami Zuhair, telah menceritakan kepada kami Abu Ishaq, bahwa ia pernah mendengar Zaid ibnu Arqam mengatakan bahwa kami berangkat bersama Rasulullah ﷺ dalam suatu perjalanan, dan dalam perjalanan itu orang-orang mengalami keadaan yang genting.
Maka Abdullah ibnu Ubay berkata kepada teman-temannya,
"Janganlah kamu membelanjakan harta kepada orang-orang yang ada di sisi Rasulullah supaya mereka bubar meninggalkannya."
Dan Ibnu Ubay mengatakan pula, bahwa sesungguhnya jika kita kembali ke Madinah, benar-benar orang yang kuat akan mengusir orang-orang yang lemah daripadanya.
Maka aku datang kepada Nabi ﷺ dan menceritakan hal itu kepadanya, lalu beliau memanggil Abdullah ibnu Ubay dan menanyainya, tetapi Abdullah ibnu Ubay menyangkalnya dengan sumpah yang sekuatnya bahwa dia tidak mengatakan hal itu.
Dan mereka berkata,
"Si Zaid itu dusta, wahai Rasulullah."
Maka hatiku berduka cita karena ucapan mereka itu, dan Allah subhanahu wa ta’ala menurunkan wahyu yang membenarkan diriku, yaitu:
Apabila orang-orang munafik datang kepadamu.
(QS. Al-Munafiqun [63]: 1)
Kemudian Rasulullah ﷺ memanggil mereka untuk memintakan ampunan kepada Allah bagi mereka, tetapi mereka memalingkan mukanya (menolak).


Firman Allah subhanahu wa ta’ala:


Mereka adalah seakan-akan kayu yang tersandar.
(QS. Al-Munafiqun [63]: 4)


Bahwa mereka adalah orang-orang yang berpenampilan sangat baik.


Pendapat ini telah diriwayatkan oleh Imam Bukhari, Imam Muslim, dan Imam Nasai melalui hadis Zuhair.


Imam Bukhari telah meriwayatkannya pula, begitu juga Imam Turmuzi melalui hadis Israil, keduanya dari Abu Ishaq alias Amr ibnu Abdullah As-Subai’i Al-Hamdani Al-Kufi, dari Zaid dengan sanad yang sama.

Jalur lain dari Zaid.
Abu Isa At-Turmuzi mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abdu ibnu Humaid, telah menceritakan kepada kami Ubaidillah ibnu Musa, dari Israil, dari As-Saddi, dari Abu Sa’d Al-Azdi, bahwa telah menceritakan kepada kami Zaid ibnu Arqam yang mengatakan bahwa kami ikut bersama Rasulullah ﷺ dalam suatu peperangan.
Bersama kami terdapat sejumlah orang Arab Badui, kami berebutan mengambil air dari mata air, dan orang-orang Badui itu mendahului kami menuju air mata air tersebut.
Salah seorang dari Arab Badui itu mendahului teman-temannya untuk membuat kolam dan memenuhinya dengan air, serta menambak sekeliling kolam dengan batu, lalu memasang kuda-kuda untuk tempat timba di atasnya sambil menunggu kedatangan teman-temannya.
Kemudian datanglah seorang lelaki dari kalangan Ansar ke tempat lelaki Badui itu, dan orang Ansar itu langsung menundukkan tali kendali unta kendaraannya dengan maksud agar untanya dapat minum dari air kolam tersebut.
Akan tetapi, lelaki Badui itu menolaknya.
Maka orang Ansar itu merasa jengkel, lalu ia membedah salah satu batu penahan kolam itu hingga airnya mengalir ke luar.
Maka orang Badui itu mengangkat batang kayu miliknya dan memukulkannya ke kepala orang Ansar itu hingga membuatnya berdarah dan luka.
Kemudian lelaki Ansar itu mendatangi Abdulllah ibnu Ubay dan menceritakan hal tersebut kepadanya, sedangkan dia adalah salah seorang dari teman Abdullah ibnu Ubay.
Maka Abdullah ibnu Ubay marah dan berkata,
"Janganlah kamu membelanjakan hartamu kepada orang-orang yang ada di sisi Rasulullah ﷺ supaya mereka bubar meninggalkannya,"
Yang dia maksudkan adalah orang-orang Badui yang membantu Rasulullah ﷺ Merekalah yang menyediakan makanan buat Rasulullah ﷺ Abdullah ibnu Ubay berkata kepada teman-temannya, bahwa apabila mereka bubar dari sisi Rasulullah, maka datanglah kalian kepada Muhammad dengan membawa makanan, agar dia dan sahabat-sahabatnya makan.
Kemudian Abdullah ibnu Ubay mengatakan pula, bahwa sesungguhnya jika kamu kembali ke Madinah, benar-benar orang yang kuat akan mengusir orang yang lemah daripadanya.
Zaid ibnu Arqam mengatakan bahwa saat itu ia membonceng pamannya.
Dan ia mendengar apa yang telah dikatakan oleh Abdullah ibnu Ubay kepada teman-temannya itu, lalu ia menceritakan hal itu kepada pamannya.
Maka pamannya berangkat dan menceritakan hal itu kepada Rasulullah ﷺ, lalu Rasulullah ﷺ memanggil Abdullah ibnu Ubay, tetapi Abdullah ibnu Ubay mengingkari perkataannya dan bersumpah bahwa dia tidak mengatakannya.
Rasulullah ﷺ membenarkan dia dan mendustakan aku.
Pamanku datang, lalu berkata kepadaku,
"Tiada lain yang kamu hasilkan selain kemurkaan Rasulullah ﷺ Beliau mendustakanmu dan juga kaum muslim."
Hal itu membuat diriku merasa berduka cita yang sangat mendalam dan belum pernah kurasakan hal sesedih itu.
Dan ketika aku sedang berjalan bersama Rasulullah ﷺ dalam suatu perjalanan, sedangkan kepalaku masih pusing disebabkan kesusahan itu, tiba-tiba Rasulullah ﷺ datang mendekatiku dan menjewer telingaku seraya tersenyum memandang wajahku.
Hal tersebut membuat diriku meledak gembira, dan ingin rasanya kebahagiaan ini kekal dalam kehidupan duniaku.
Kemudian sahabat Abu Bakar menyusulku dan mengatakan,
"Apakah yang dikatakan oleh Rasulullah ﷺ kepadamu?"
Aku menjawab,
"Beliau tidak mengatakan apa pun kepadaku, hanya beliau menjewer telingaku dan tersenyum seraya memandang wajahku."
Maka Abu Bakar berkata,
"Bergembiralah kamu."
Lalu Umar menyusulku dan menanyaiku, maka kukatakan kepadanya seperti apa yang kukatakan kepada Abu Bakar.
Dan pada pagi harinya Rasulullah ﷺ membacakan kepada kami surat Al-Munafiqun.

Imam Turmuzi mengetengahkan hadis ini secara munfarid, dan ia mengatakan bahwa hadis ini hasan sahih.


Hal yang sama telah diriwayatkan oleh Al-Hafrz Imam Baihaqi, dari Al-Hakim, dari Ubaidillah ibnu Musa dengan sanad yang sama.
Tetapi dalam riwayatnya disebutkan sesudah kata-kata Zaid ibnu Arqam, bahwa lalu Rasulullah ﷺ membacakan surat Al-Munafiqun kepada kami, yaitu firman-Nya:
Apabila orang-orang munafik datang kepadamu, mereka berkata,
"Kami mengakui, bahwa sesungguhnya kamu benar-benar Rasul Allah.” (QS. Al-Munafiqun [63]: 1)
sampai dengan firman-Nya:
Mereka orang-orang yang mengatakan (kepada orang-orang Ansar),
"Janganlah kamu memberikan perbelanjaan kepada orang-orang (Muhajirin) yang ada di sisi Rasulullah supaya mereka bubar (meninggalkan Rasulullah).”(QS. Al-Munafiqun [63]: 7)
hingga firman-Nya:
benar-benar orang yang kuat akan mengusir orang-orang yang lemah daripadanya.
(QS. Al-Munafiqun [63]: 8)

Abdullah ibnu Lahi’ah telah meriwayatkan dari Abul Aswad ibnu Urwah ibnuz Zubair di dalam kitab Al-Magazi, dan juga Musa ibnu Uqbah di dalam kitab Magazi-nya kisah ini dengan konteks yang sama.
Tetapi keduanya menceritakan bahwa yang menyampaikan ucapan Abdullah ibnu Ubay kepada Rasulullah ﷺ adalah Aus ibnu Aqram dari kalangan Banil Haris ibnul Khazraj.
Barangkali dia adalah penyampai yang lain, atau kekeliruan dari pihak pendengar (hadis);
hanya Allah-lah Yang Maha Mengetahui.

Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Aziz Al-Aili, telah menceritakan kepadaku Salam, telah menceritakan kepadaku Aqil, telah menceritakan kepadaku Muhammad ibnu Muslim, bahwa Urwah ibnuz Zubair dan Umar ibnu Sabit Al-Ansari pernah menceritakan kepadanya bahwa Rasulullah ﷺ berangkat ke medan perang Al-Muraisi’, yang dalam perang itu Rasulullah ﷺ menghancurkan berhala Manat yang terletak di antara Musyallal dan pantai.
Rasulullah ﷺ mengirimkan Khalid ibnul Walid, lalu Khalid menghancurkan berhala Manat tersebut.

Dalam perang tersebut yang Rasulullah ﷺ ikut di dalamnya, terjadi suatu perselisihan antara dua orang;
salah seorangnya dari kalangan Muhajirin, sedangkan yang lainnya dari Bani Bahzyang merupakan teman sepakta orang-orang Ansar.
Ternyata dalam perkelahian itu orang dari Muhajirin dapat mengalahkan orang dari Bani Bahz, maka lelaki yang dari Bani Bahz mengatakan,
"Hai orang-orang Ansar, tolonglah aku,"
maka beberapa orang dari kalangan Ansar membantunya.
Akhirnya lelaki Muhajirin itu berkata pula,
"Hai orang-orang Muhajirin, tolonglah aku,"
maka beberapa orang Muhajirin membantunya, hingga terjadilah perang kecil di antara sekelompok orang-orang Ansar dan orang-orang Muhajirin.
Tetapi pada akhirnya mereka dapat dipisahkan dan bisa dilerai.

Kemudian tiap orang munafik atau orang yang ada penyakit dalam hatinya pulang melapor kepada Abdullah ibnu Ubay ibnu Salul, lalu dilaporkan kepadanya,
"Dahulu engkau merupakan harapan dan tempat untuk berlindung bagi kami, tetapi kini engkau tidak dapat membuat mudarat dan tidak pula manfaat.
Sesungguhnya para imigran itu telah bersatu menentang kami."
Mereka menyebut kaum Muhajirin dengan istilah pira imigran.
Maka Abdullah ibnu Ubay ibnu Salul mengatakan,
"Demi Allah, sesungguhnya jika kita kembali ke Madinah, benar-benar orang yang kuat akan mengusir orang-orang yang lemah daripadanya."
Kemudian Malik ibnud Dukhsyun mengatakan (dia adalah salah seorang munafik),
"Bukankah telah kukatakan bahwa janganlah kalian membelanjakan harta kepada orang-orang yang ada di sisi Rasulullah, supaya mereka bubar meninggalkannya."

Umar ibnul Khattab mendengar perkataan tersebut, lalu ia datang dengan jalan kaki menghadap kepada Rasulullah ﷺ dan berkata,
"Wahai Rasulullah, izinkanlah kepadaku terhadap lelaki yang telah menghasut banyak orang ini, aku akan memenggal batang lehernya."
Umar bermaksud Abdullah ibnu Ubay ibnu Salul.
Maka Rasulullah ﷺ bertanya,
"Apakah engkau benar akan membunuhnya jika kuperintahkan kepadamu untuk membunuhnya?"
Umar menjawab,
"Ya, jika engkau perintahkan kepadaku untuk membunuhnya, niscaya kupenggal kepalanya."
Rasulullah ﷺ bersabda,
"Sekarang duduklah kamu (bersabarlah)."

Kemudian datanglah Usaid ibnu Hudair, salah seorang pemimpin orang Ansar dari kalangan Bani Abdul Asyhal, dan ia menghadap kepada Rasulullah ﷺ, lalu berkata,
"Wahai Rasulullah, izinkanlah kepadaku terhadap lelaki ini yang telah menghasut banyak orang, aku akan memenggal batang lehernya."
Rasulullah ﷺ bertanya,
"Apakah engkau akan membunuhnya jika aku perintahkan kamu membunuhnya?"
Usaid menjawab,
"Jika engkau perintahkan aku untuk membunuhnya, niscaya aku benar-benar akan memenggal batang lehernya dengan pedang ini."
Rasulullah ﷺ bersabda,
"Duduklah kamu."

Selanjutnya Rasulullah ﷺ bersabda,
"Perintahkanlah kepada orang-orang agar segera berangkat."
Maka Rasulullah ﷺ berangkat membawa pasukan kaum muslim di tengah hari.
Perjalanan itu terus berlanjut sampai malam hari hingga keesokan harinya di saat matahari mulai meninggi, setelah itu beliau perintahkan kepada orang-orang untuk turun istirahat.
Kemudian beliau ﷺ membawa mereka berangkat meneruskan perjalanan di siang harinya saat matahari sedang terik-teriknya, perjalanan ditempuhnya sama dengan masa yang sebelumnya, hingga pagi hari sampai di Madinah.
Jarak perjalanan ditempuh dalam waktu tiga hari dari Al-Musyallal.

Setelah sampai di Madinah, Rasulullah ﷺ memanggil Umar, lalu bersabda kepadanya,
"Hai Umar, apakah engkau akan membunuhnya jika kuperintahkan untuk membunuhnya?"
Umar menjawab,
"Ya."
Maka Rasulullah ﷺ bersabda:
Demi Allah, seandainya engkau membunuhnya saat itu, niscaya akan banyak kaum lelaki yang terhina olehmu.
Seandainya aku perintahkan pada hari itu untuk membunuhnya, niscaya mereka akan membunuhnya, maka orang-orang akan membicarakan bahwa aku telah menganiaya sahabat-sahabatku sendiri dan membunuh mereka dalam keadaan tidak berdaya.
Dan Allah subhanahu wa ta’ala menurunkan firman-Nya:
Mereka orang-orang yang mengatakan (kepada orang-orang Ansar),
"Janganlah kamu memberikan perbelanjaan kepada orang-orang (Muhajirin) yang ada di sisi Rasulullah supaya mereka bubar (meninggalkan Rasulullah).” (QS. Al-Munafiqun [63]: 7)
sampai dengan firman-Nya:
Mereka berkata,
"Sesungguhnya jika kita telah kembali ke Madinah.” (QS. Al-Munafiqun [63]: 8), hingga akhir ayat.

Konteks riwayat ini garib (aneh), tetapi di dalamnya terkandung banyak hal yang berharga berupa informasi yang tidak dijumpai dalam riwayat lainnya.

Muhammad ibnu Ishaq ibnu Yasar mengatakan, telah menceritakan kepadaku Asim ibnu Umar ibnu Qatadah, bahwa anak Abdullah Ibnu Ubay ibnu Salul (yaitu Abdullah) ketika mendengar berita tentang ayahnya, lalu ia datang menghadap kepada Rasulullah ﷺ dan berkata,
"Wahai Rasulullah, sesungguhnya telah sampai suatu berita kepadaku bahwa engkau hendak membunuh Abdullah ibnu Ubay karena ucapannya terhadap dirimu.
Jika engkau hendak melaksanakannya, maka perintahkanlah kepadaku untuk mengeksekusinya, dan akulah yang akan membawakan kepalanya ke hadapanmu.
Demi Allah, semua orang Khazraj telah mengetahui bahwa tiada seorang pun yang iebih berbakti kepada orang tuanya selain aku.
Sesungguhnya aku merasa khawatir j ika engkau perintahkan orang lain untuk mengeksekusinya, maka aku tidak dapat menahan diri melihat pembunuh ayahku berjalan bebas di tengah orang banyak, dan aku membunuhnya, sehingga kesimpulannya berarti aku membunuh seorang mukmin karena dia membunuh seorang yang kafir, dan akhirnya akan menjerumuskan diriku ke dalam neraka."
Maka Rasulullah ﷺ menjawab:
Tidak, bahkan kami berbelaskasihan terhadapnya dan tetap berhubungan baik dengannya selama dia tetap bersama kami.

Ikrimah dan Ibnu Zaid serta selain keduanya mengatakan bahwa ketika orang-orang (pasukan kaum muslim) kembali ke Madinah, maka Abdullah ibnu Abdullah ibnu Ubay ibnu Salul berdiri di depan pintu gerbang kota Madinah seraya menghunus pedangnya, dan orang-orang pun melewatinya.
Tetapi ketika ayahnya (yaitu Abdullah ibnu Ubay) datang, maka ia berkata kepadanya,
"Mundurlah, hai ayah!"
Ayahnya bertanya,
"Celakalah kamu, mengapa kamu bersikap seperti itu."

Abdullah ibnu Abdullah ibnu Ubay berkata,
"Demi Allah, engkau tidak boleh melewati pintu gerbang ini sebelum Rasulullah ﷺ mengizinkan dirimu masuk, karena sesungguhnya dialah orang yang menang dan engkau adalah orang yang kalah."
Ketika Rasulullah ﷺ datang karena beliau berada di barisan belakang sebagai penggiring pasukan, maka Abdullah ibnu Ubay mengadu kepada beliau tentang perlakuan putranya.
Dan Abdullah putranya berkata,
"Demi Allah, wahai Rasulullah, dia tidak boleh masuk sebelum engkau mengizinkannya masuk."
Maka Rasulullah ﷺ mengizinkannya untuk memasuki Madinah.
Dan putranya berkata,
"Sekarang Rasulullah telah memberimu izin untuk masuk, maka silakan masuk."

Abu Bakar alias Abdullah ibnuz Zubair Al-Humaidi telah mengatakan di dalam kitab musnadnya, telah menceritakan kepada kami Sufyan ibnu Uyaynah, telah menceritakan kepada kami Abu Harun Al-Madani, bahwa Abdullah berkata kepada ayahnya,
"Demi Allah, engkau tidak boleh masuk Madinah sebelum engkau katakan bahwa Rasulullah ﷺ adalah orang yang kuat dan aku adalah orang yang kalah."

Dan Abdullah datang menghadap kepada Rasulullah ﷺ, lalu bertanya,
"Wahai Rasulullah, sesungguhnya telah sampai kepadaku suatu berita yang mengatakan bahwa engkau hendak membunuh ayahku.
Maka demi Tuhan yang telah mengutusmu dengan hak, aku belum pernah menatap wajah ayahku karena segan kepadanya.
Tetapi sesungguhnya jika engkau menghendaki agar aku mendatangkan kepalanya ke hadapanmu, aku sanggup membawakannya ke hadapanmu (dalam keadaan telah terpenggal).
Karena sesungguhnya aku tidak suka melihat orang lain membunuh ayahku."

Sebab-Sebab Diturunkannya Surah Al Munafiquun (63) Ayat 6

Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir yang bersumber dari ‘Urwah diriwayatkan pula oleh Ibnu Jarir yang bersumber dari Mujahid dan Qatadah bahwa ketika turun ayat istaghfirlahum au laa tastaghfirlahum in tastaghfirlahum sab’iina marratan falay yaghfirallaahu lahum.(Kamu memohonkan ampun bagi mereka atau tidak kamu mohonkan ampun bagi mereka (adalah sama saja).
kendatipun kamu memohonkan ampun bagi mereka tujuh puluh kali, namun Allah sekali-kali tidak akan memberi ampunan kepada mereka (al-Baro’ah: 80), yang menegaskan bahwa Allah tidak akan mengampuni orang-orang munafik walaupun dimintakan ampun oleh Rasulullah sebanyak 70 kali, Nabi ﷺ bersabda: “Aku akan memintakan ampunan lebih dari tujuh puluh kali.”

Maka Allah menurunkan ayat sawaaun ‘alaihim..
(…sama saja bagi mereka…) sampai akhir ayat (Al-Munafiqun: 6), yang menegaskan bahwa bagi mereka sama saja, apakah Nabi memintakan ampunan atau tidak, Allah tetap tidak akan mengampuni mereka.

Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dari al-‘Aufi yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas bahwa ketika turun ayat At Taubah: 80, bersabdalah Rasulullah ﷺ yang didengar oleh Ibnu ‘Abbas: “Sesungguhnya aku telah diberi kelonggaran tentang mereka (kaum munafik).
Aku akan memintakan ampun bagi mereka lebih dari tujuh puluh kali.
Mudah-mudahan Allah mengampuni mereka.” Maka turunlah ayat sawaaun ‘alaihim….( …sama saja bagi mereka..) sampai akhir ayat (Al-Munafiqun: 6) yang menegaskan bahwa Allah tidak akan mengampuni orang-orang seperti itu.

Sumber : Asbabun Nuzul – K.H.Q Shaleh – H.A.A Dahlan dkk.

Unsur Pokok Surah Al Munafiquun (المنافقون)

Surat ini terdiri atas 11 ayat, termasuk golongan surat-surat Madaniyyah, diturunkan sesudah surat Al Hajj.

Surat ini dinamai Al Munaafiquun yang artinya orang-orang munafiq, karena surat ini mengungkapkan sifat-sifat orang-orang munafiq.

Keimanan:

▪ Keterangan tentang orang-orang munafiq dan sifat-sifat mereka yang buruk di antaranya ialah pendusta, suka bersumpah palsu, sombong, kikir dan tidak menepati janji.
▪ Peringatan kepada orang-orang mukmin supaya harta benda dan anak-anaknya tidak melalaikan mereka.
▪ Insyaf kepada Allah dan anjuran supaya menafkahkan sebagian dari rezeki yang diperoleh.

Ayat-ayat dalam Surah Al Munafiquun (11 ayat)

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11

Lihat surah lainnya

Audio Murottal

QS. Al-Munafiquun (63) : 1-11 ⊸ Misyari Rasyid Alafasy
Ayat 1 sampai 11 + Terjemahan Indonesia



QS. Al-Munafiquun (63) : 1-11 ⊸ Nabil ar-Rifa’i
Ayat 1 sampai 11

Gambar Kutipan Ayat

Surah Al Munafiquun ayat 6 - Gambar 1 Surah Al Munafiquun ayat 6 - Gambar 2
Statistik QS. 63:6
  • Rating RisalahMuslim
4.7

Ayat ini terdapat dalam surah Al Munafiquun.

Surah Al-Munafiqun (bahasa Arab:المنافقون) adalah surah ke-63 dalam Alquran.
Surah ini tergolong surah Madaniyah, terdiri atas 11 ayat.
Dinamakan Al Munaafiqun yang berarti Orang-orang yang munafik karena surat ini mengungkapkan sifat-sifat orang-orang munafik.

Nomor Surah 63
Nama Surah Al Munafiquun
Arab المنافقون
Arti Orang-orang yang munafik
Nama lain
Tempat Turun Madinah
Urutan Wahyu 104
Juz Juz 28
Jumlah ruku’ 2 ruku’
Jumlah ayat 11
Jumlah kata 180
Jumlah huruf 800
Surah sebelumnya Surah Al-Jumu’ah
Surah selanjutnya Surah At-Tagabun
Sending
User Review
4.3 (21 suara)
Bagi ke FB
Bagi ke TW
Bagi ke WA
Tags:

63:6, 63 6, 63-6, Surah Al Munafiquun 6, Tafsir surat AlMunafiquun 6, Quran Al Munafiqun 6, AlMunafiqun 6, Al-Munafiqun 6, Surah Al Munafikun ayat 6

Video Surah

63:6


More Videos

Kandungan Surah Al Munafiquun

۞ QS. 63:1 • Sifat orang munafik • Riyaa’ dalam berbuat baik

۞ QS. 63:2 • Sifat orang munafik • Riyaa’ dalam berbuat baik • Sikap orang munafik terhadap Islam

۞ QS. 63:3 • Allah menggerakkan hati manusia • Sifat orang munafik • Siksa orang munafik

۞ QS. 63:4 • Permusuhan orang kafir terhadap orang Islam • Sifat orang munafik

۞ QS. 63:5 • Sifat orang munafik • Sikap orang munafik terhadap Islam

۞ QS. 63:6 • Allah menggerakkan hati manusia • Siksa orang munafikHidayah (petunjuk) dari Allah

۞ QS. 63:7 • Segala sesuatu milik Allah • Kebodohan orang kafir • Sifat orang munafik • Sikap orang munafik terhadap Islam •

۞ QS. 63:8 • Pertolongan Allah Ta’ala kepada orang mukmin • Sikap orang munafik terhadap Islam

۞ QS. 63:9 • Macam-macam fitnah

۞ QS. 63:10 Ar Rabb (Tuhan) • Mempersiapkan diri menghadapi hari kiamat • Mempersiapkan diri menghadapi kematian • Saat kematian seorang mukmin

۞ QS. 63:11 • Al Khabir (Maha Waspada) • Usia dan rezeki sesuai dengan takdir

Ayat Pilihan

Ya Tuhan kami,
tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia,
Maha Suci Engkau,
maka peliharalah kami dari siksa neraka.
QS. Ali ‘Imran [3]: 191

Dan sesungguhnya kamu (Nabi Muhammad ﷺ) benar-benar berbudi pekerti yang agung.
QS. Al-Qalam [68]: 4

Berlomba-lombalah dalam berbuat kebaikan.
Sesungguhnya hanya kepada Allahlah kalian akan kembali.
QS. Al-Ma’idah [5]: 48

Seandainya Allah tidak menolak (keganasan) sebagian umat manusia dengan sebagian yang lain,
pasti rusaklah bumi ini.
Tetapi Allah mempunyai karunia (yang dicurahkan) atas semesta alam.
QS. Al-Baqarah [2]: 251

Hadits Shahih

Podcast

Doa Sehari-hari

Soal & Pertanyaan Agama

Allah Subhanahu Wa Ta`ala Melihat semua apa yang di lakukan oleh hambanya, karena Allah bersifat ...

Correct! Wrong!

Penjelasan:
البصير

Allah itu Al-Bashir, artinya adalah Allah itu Maha Melihat segala sesuatu. Kita sebagai manusia hanya memiliki penglihatan yang terbatas. Namun Allah bisa melihat segala sesuatu baik dimasa lalu, masa sekarang dan masa yang akan datang.

Allah selalu mengawasi kita semua, sehingga jangan pernah kita berfikir jika kita melakukan kejahatan yang tidak orang lain lihat maka tidak ada yang bisa mengetahui kejahatan itu. Karena Allah itu Maha Melihat.

Tata cara membaca Alquran dimulai dengan ...

Correct! Wrong!

Penjelasan:
Isti'adzah atau juga biasa dikenal dengan istilah ta'awwudz secara bahasa adalah memohon perlindungan, pemeliharaan dan penjagaaan.

Basmalah berarti mengucapkan kalimat 'Bismillahirrahmanirrahim', terjemahannya yaitu 'Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang'.

Dalam surah Alquran, At-Tin artinya ...

Correct! Wrong!

+

Array

Salah satu cara mengagungkan tanda-tanda kebesaran Allah Subhanahu Wa Ta`ala yaitu dengan ...

Correct! Wrong!

Dalam memutuskan suatu perkara, Dinda sangat adil karena Dinda meneladani sifat Allah ...

Correct! Wrong!

Penjelasan:
العدل

Allah itu Al-Adl, artinya adalah Allah itu Maha Adil kepada seluruh makhluk-makhluk-Nya. Keadilan Allah bersifat sempurna dan berlaku untuk semua ciptaan-Nya.

Jangan pernah sedikit pun terbesit dalam hati kita untuk berfikir bahwa 'hidup ini tidak adil.' Karena semua telah ditentukan Allah dengan keadilan-Nya. Siapa pun manusia yang murka dengan ketentuan Allah maka Allah pun akan murka kepadanya, dan siapa pun manusia yang ridho maka Allah pun akan ridho kepadanya. Dan siapa pun manusia yang telah diridhoi Allah, maka senantiasa dibukakan jalan keluar yang tidak pernah terduga dalam pikiran manusia.

Pendidikan Agama Islam #24
Ingatan kamu cukup bagus untuk menjawab soal-soal ujian sekolah ini.

Pendidikan Agama Islam #24 1

Mantab!! Pertahankan yaa..
Jawaban kamu masih ada yang salah tuh.

Pendidikan Agama Islam #24 2

Belajar lagi yaa...

Share your Results:

Soal Agama Islam

Pendidikan Agama Islam #6

Sifat dasar hukum Alquran adalah keseimbangan dalam hal aspek material dan psikologis, yang disebut sebagai … Alquran dimulai dengan surah Al Fatihah (pembukaan) dan berakhir dengan surah … Alquran adalah panduan dan pedoman manusia bagi mereka yang beriman. Ini dikonfirmasikan oleh Allah dalam surah … Alquran bertindak sebagai Hudan, yang artinya adalah … Dalam Surah Al-Baqarah ayat 2, Allah berfirman bahwa Alquran adalah pedoman untuk orang …

Pendidikan Agama Islam #2

Salah satu Asmaul Husna, Allah memiliki sifat Al ‘Adl, yang berarti bahwa Allah … Allah memiliki sifat Yang Maha Mengumpulkan, yang artinya … Sifat adil Allah berlaku untuk … Salah satu Asmaul Husna adalah Al Akhir, yang berarti … Keberadaan Asmaul Husna, dijelaskan dalam Alquran surah …

Pendidikan Agama Islam #27

Surah yang terpendek dalam Alquran adalah … Surah yang tidak diawali basmalah adalah … Surah yang pertama kali turun secara lengkap adalah … Proses turunnya wahyu berlangsung selama … tahun.Basmalah tertulis atau disebutkan sebanyak dua kali pada surah …

Kamus Istilah Islam

Fatir

Apa itu Fatir? Surah Fatir adalah surah ke-35 dalam Alquran. Surah ini tergolong surah Makkiyah yang terdiri atas 45 ayat. Fathir artinya Pencipta diambil dari ayat pertama surah ini. Fathir menerang...

Kota santri

Apa itu Kota santri? Kota santri adalah istilah yang diberikan kepada kota-kota yang memiliki banyak pondok pesantren. Di Indonesia ada beberapa kota yang sering disebut sebagai kota santri, salah sa...

Istinja

Apa itu Istinja? Istinja adalah bersuci dari hadas di mana di dalam agama Islam ada beberapa macam cara untuk menyucikan diri dari hadas, yaitu: ● Mandi wajib ● Wudhu ● Tayammum Ketiga macam c...