Keluarga Anda ada yang belum mahir membaca Alquran? Ingin segera bisa? Klik di sini sekarang!

QS. Al Mumtahanah (Wanita yang diuji) – surah 60 ayat 12 [QS. 60:12]

یٰۤاَیُّہَا النَّبِیُّ اِذَا جَآءَکَ الۡمُؤۡمِنٰتُ یُبَایِعۡنَکَ عَلٰۤی اَنۡ لَّا یُشۡرِکۡنَ بِاللّٰہِ شَیۡئًا وَّ لَا یَسۡرِقۡنَ وَ لَا یَزۡنِیۡنَ وَ لَا یَقۡتُلۡنَ اَوۡلَادَہُنَّ وَ لَا یَاۡتِیۡنَ بِبُہۡتَانٍ یَّفۡتَرِیۡنَہٗ بَیۡنَ اَیۡدِیۡہِنَّ وَ اَرۡجُلِہِنَّ وَ لَا یَعۡصِیۡنَکَ فِیۡ مَعۡرُوۡفٍ فَبَایِعۡہُنَّ وَ اسۡتَغۡفِرۡ لَہُنَّ اللّٰہَ ؕ اِنَّ اللّٰہَ غَفُوۡرٌ رَّحِیۡمٌ
Yaa ai-yuhaannabii-yu idzaa jaa-akal mu’minaatu yubaayi’naka ‘ala an laa yusyrikna billahi syai-an walaa yasriqna walaa yazniina walaa yaqtulna aulaadahunna walaa ya’tiina bibuhtaanin yaftariinahu baina aidiihinna wa-arjulihinna walaa ya’shiinaka fii ma’ruufin fabaayi’hunna waastaghfir lahunnallaha innallaha ghafuurun rahiimun;
Wahai Nabi! Apabila perempuan-perempuan yang mukmin datang kepadamu untuk mengadakan bai‘at (janji setia), bahwa mereka tidak akan mempersekutukan sesuatu apa pun dengan Allah;
tidak akan mencuri, tidak akan berzina, tidak akan membunuh anak-anaknya, tidak akan berbuat dusta yang mereka ada-adakan antara tangan dan kaki mereka dan tidak akan mendurhakaimu dalam urusan yang baik, maka terimalah janji setia mereka dan mohonkanlah ampunan untuk mereka kepada Allah.
Sungguh, Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.
―QS. Al Mumtahanah [60]: 12

O Prophet, when the believing women come to you pledging to you that they will not associate anything with Allah, nor will they steal, nor will they commit unlawful sexual intercourse, nor will they kill their children, nor will they bring forth a slander they have invented between their arms and legs, nor will they disobey you in what is right – then accept their pledge and ask forgiveness for them of Allah.
Indeed, Allah is Forgiving and Merciful.
― Chapter 60. Surah Al Mumtahanah [verse 12]

يَٰٓأَيُّهَا wahai

O
ٱلنَّبِىُّ nabi

Prophet!
إِذَا apabila

When
جَآءَكَ datang kepadamu

come to you
ٱلْمُؤْمِنَٰتُ wanita-wanita beriman

the believing women
يُبَايِعْنَكَ berjanji setia

pledging to you
عَلَىٰٓ atas

[on]
أَن bahwa

that
لَّا tidak

not
يُشْرِكْنَ mempersekutukan

they will associate
بِٱللَّهِ dengan Allah

with Allah
شَيْـًٔا sesuatu

anything,
وَلَا dan tidak

and not
يَسْرِقْنَ mereka mencuri

they will steal,
وَلَا dan tidak

and not
يَزْنِينَ berizina

they will commit adultery,
وَلَا dan tidak

and not
يَقْتُلْنَ membunuh

they will kill
أَوْلَٰدَهُنَّ anak-anak mereka

their children,
وَلَا dan tidak

and not
يَأْتِينَ datangkan/berbuat

they bring
بِبُهْتَٰنٍ dengan dusta

slander,
يَفْتَرِينَهُۥ mereka ada-adakannya

they invent it
بَيْنَ antara

between
أَيْدِيهِنَّ tangan mereka

their hands
وَأَرْجُلِهِنَّ dan kaki-kaki mereka

and their feet,
وَلَا dan tidak

and not
يَعْصِينَكَ mereka mendurhakaimu

they will disobey you
فِى dalam

in
مَعْرُوفٍ kebaikan

(the) right,

Tafsir

Alquran

Surah Al Mumtahanah
60:12

Tafsir QS. Al Mumtahanah (60) : 12. Oleh Kementrian Agama RI


Allah menyatakan kepada Nabi Muhammad bahwa perempuan-perempuan yang menyatakan keimanan dan ketaatannya harus berjanji bahwa mereka tidak akan mempersekutukan Allah dengan sesuatu pun, tidak akan mencuri harta orang lain, tidak akan berzina, tidak akan menggugurkan anak dalam kandungannya, dan tidak akan mengerjakan yang dilarang, seperti meratapi orang mati dengan mengoyak-ngoyak pakaian, dan sebagainya.
Bila mereka telah berjanji, maka pernyataan iman mereka harus diterima.

Nabi juga diperintahkan untuk mengatakan kepada mereka bahwa mereka akan mendapat ampunan Allah dan pahala dari-Nya jika mereka konsekuen melaksanakan janji mereka itu.
Nabi juga diminta untuk berdoa kepada Allah agar dosa-dosa mereka diampuni, karena sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.


Diriwayatkan oleh Bukhari dari ‘Urwah bin Zubair bahwa ‘Aisyah berkata,
"Rasulullah ﷺ menguji perempuan yang hijrah sesuai ayat:
ya ayyuhan-nabiyy idha ja’akal-mu’minat..
innallaha gafurur-rahim.
Barang siapa yang telah memenuhi syaratsyarat di atas, berarti perempuan itu telah mengikrarkan pernyataan bahwa dirinya beriman.
"


Diriwayatkan pula oleh ‘Urwah bin Zubair dari ‘Aisyah, ia berkata,
"Telah datang Fathimah binti ‘Utbah untuk menyatakan keimanannya kepada Rasulullah, maka beliau meminta ia berjanji tidak akan mempersekutukan Allah dengan sesuatu pun, tidak mencuri, tidak berzina, tidak menggugurkan kandungannya, maka Fathimah merasa malu menyebut janji itu sambil meletakkan tangan di atas kepalanya."
Maka ‘Aisyah berkata,
"Hendaklah engkau akui yang dikatakan Nabi itu.

Demi Allah, kami tidak menyatakan keimanan kecuali dengan cara demikian."
Fathimah melaksanakan yang diminta ‘Aisyah itu, lalu Nabi menerima pengakuannya.


Menurut riwayat yang lain bahwa Nabi Muhammad banyak menerima pernyataan beriman dari para perempuan ketika penaklukan Mekah.
Di antara yang menyatakan keimanannya itu terdapat Hindun binti ‘Utbah, istri Abu Sufyan, kepala suku Quraisy.

Tafsir QS. Al Mumtahanah (60) : 12. Oleh Muhammad Quraish Shihab:


Wahai Nabi, apabila wanita-wanita Mukmin mendatangimu untuk mengadakan janji setia, bahwa mereka tidak akan mempersekutukan sesuatu apa pun dengan Allah, tidak akan mencuri, tidak akan berzina, tidak akan membunuh anak-anak mereka, tidak akan mengada-ada dan berdusta dengan melakukan pernyataan palsu (mengenai hubungan antara laki-laki dan perempuan) bahwa anak yang bukan milik mereka itu adalah anak suami mereka, tidak akan melanggar kebaikan yang kamu serukan kepada mereka, maka terimalah janji setia mereka untuk itu.
Mintakanlah ampunan untuk mereka dari Allah.


Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Pengasih.

Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:


Wahai Nabi, jika datang kepadamu wanita-wanita yang beriman kepada Allah dan rasul-Nya dan berjanji untuk tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu pun, tidak mencuri dan berzina, tidak akan membunuh anak-anak mereka sesudah atau sebelum melahirkannya, tidak menjadikan anak yang bukan anak bersama suami mereka (anak tiri suami) sebagai anak kandung suami, dan tidak menyimpang dari yang engkau perintahkan kepada mereka untuk berbuat baik, terimalah janji setia mereka itu dan mintakan ampunan kepada Allah bagi mereka.
Sesungguhnya, Allah Maha Pengampun terhadap hamba-hamba-Nya yang bertobat kepada-Nya dan Maha Penyayang kepada mereka.

Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:



(Hai nabi, apabila datang kepada kamu perempuan-perempuan yang beriman untuk mengadakan janji setia, bahwa mereka tidak akan mempersekutukan sesuatu pun dengan Allah, tidak akan mencuri tidak akan berzina, tidak akan membunuh anak-anaknya) sebagaimana yang biasa mereka lakukan di zaman jahiliah, yaitu mengubur hidup-hidup bayi perempuan mereka, karena takut tercela dan takut jatuh miskin


(dan tidak akan berbuat dusta yang mereka ada-adakan antara tangan dan kaki mereka) seumpamanya mereka memungut seorang anak, kemudian mereka mengaitkan anak itu sebagai hasil hubungannya dengan suami, lalu anak itu dipredikatkan sebagai anak kandungnya sendiri.
Karena sesungguhnya seorang ibu itu apabila melahirkan anaknya, berarti anak itu adalah anak kandungnya sendiri yang keluar dari antara tangan dan kakinya, yakni dari perutnya


(dan tidak akan mendurhakaimu dalam) pekerjaan


(yang makruf) pekerjaan yang makruf artinya perbuatan yang sesuai dengan ketaatan kepada Allah, seperti meninggalkan niahah atau menjerit-jerit seraya menangis, menyobek-nyobek kerah baju, mengawut-awutkan rambut, dan mencakar-cakar muka, yang semuanya itu dilakukan di kala mereka ditinggal mati oleh suami atau keluarga mereka


(maka terimalah janji setia mereka) Nabi ﷺ melantik janji setia mereka hanya melalui ucapan saja tanpa bersalaman atau berjabatan tangan dengan seseorang pun di antara mereka


(dan mohonkanlah ampunan kepada Allah untuk mereka.
Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang).

Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:


Imam Bukhari mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ya’qub ibnu Ibrahim, telah menceritakan kepada kami keponakan Ibnu Syihab, dari pamannya yang mengatakan bahwa telah menceritakan kepadaku Urwah, bahwa Siti Aisyah r.a. istri Nabi ﷺ pernah menceritakan kepadanya bahwa Rasulullah ﷺ menguji setiap wanita mukmin yang berhijrah kepadanya karena ada ayat ini, yaitu:
Hai Nabi, apabila datang kepadamu perempuan-perempuan yang beriman untuk mengadakan janji setia.
(QS. Al-Mumtahanah [60]: 12)
sampai dengan firman-Nya:
Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
(QS. Al-Mumtahanah [60]: 12)
Urwah mengatakan bahwa Siti Aisyah melanjutkan kisahnya, bahwa barang siapa di antara wanita-wanita yang mukmin itu mengakui persyaratan tersebut.
Maka Rasulullah ﷺ bersabda kepadanya:
Aku telah membaiatmu (menerima janji setiamu).
hanya dengan ucapan;
dan demi Allah tangan beliau sama sekali tidak menyentuh tangan seorang wanita pun dalam baiat itu.
Baiat beliau kepada mereka hanyalah melalui sabda beliau ﷺ yang mengatakan:
Aku telah membaiatmu atas hal tersebut.

Ini menurut lafaz Imam Bukhari.

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abdur Rahman ibnu Mahdi, telah menceritakan kepada kami Sufyan, dari Muhammad ibnul Munkadir, dari Umaimah binti Raqiqah yang telah menceritakan bahwa ia datang kepada Rasulullah ﷺ bersama-sama dengan kaum wanita untuk menyatakan baiat (janji setia) mereka kepadanya.
Maka beliau ﷺ menyumpah kami dengan apa yang terkandung di dalam Alquran, yaitu kami tidak boleh mempersekutukan Allah dengan sesuatu pun, hingga akhir ayat.
Lalu beliau ﷺ bersabda:
Dalam batasan sesuai dengan kemampuan dan kekuatan kalian.
Kami berkata,
"Allah dan Rasul-Nya lebih sayang kepada kita daripada diri kita sendiri."
Kami bertanya,
"Wahai Rasulullah, mengapa engkau tidak menjabat tangan kami (sebagaimana engkau membaiat kaum lelaki)?"
Rasulullah ﷺ bersabda:

Sesungguhnya aku tidak mau berjabat tangan dengan wanita (lain), sesungguhnya ucapanku kepada seorang wanita adalah sama dengan ucapanku kepada seratus orang wanita.

Sanad hadis ini sahih.
Imam Turmuzi, Imam Nasai, dan Imam Ibnu Majah telah meriwayatkan hadis ini melalui Sufyan ibnu Uyaynah, juga Imam Nasai melalui hadis As-Sauri dan Malik ibnu Anas, semuanya dari Muhammad ibnul Munkadir dengan sanad yang sama Imam Turmuzi mengatakan bahwa hadis ini hasan sahih, kami tidak mengenalnya melainkan melalui hadis Muhammad ibnul Munkadir.

Imam Ahmad telah meriwayatkannya pula melalui hadis Muhammad ibnu Ishaq, dari Muhammad ibnul Munkadir, dari Umaimah, tetapi ditambahkan bahwa Rasulullah ﷺ tidak menjabat tangan seorang wanita pun dari kami.
Hal yang sama telah diriwayatkan oleh Ibnu Jarir melalui jalur Musa ibnu Udbah, dari Muhammad ibnul Munkadir dengan sanad yang sama.

Imam Ibnu Abu Hatim telah meriwayatkannya melalui hadis Abu Ja’far Ar-Razi, dari Muhammad ibnul Munkadir, bahwa telah mencerita­kan kepadaku Umaimah binti Raqiqah saudara perempuan Khadijah alias bibinya Siti Fatimah secara lisan dan langsung, hingga akhir hadis.

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ya’qub, telah menceritakan kepada kami ayahku, dari Ibnu Ishaq, telah menceritakan kepadaku Salit ibnu Ayyub ibnul Hakam ibnu Salim, dari ibunya (yaitu Salma binti Qais) yang juga merupakan bibi Rasulullah ﷺ dan pernah salat bersama beliau ﷺ menghadap ke arah dua kiblat.
Dia adalah salah seorang wanita dari kalangan Bani Addi ibnun Najjar.
Dia mengatakan,
"Aku datang kepada Rasulullah ﷺ untuk mengucapkan baiat kepadanya bersama-sama dengan kaum wanita dari Ansar.
Rasulullah ﷺ dalam baiat itu mensyaratkan kepada kami hendaknya kami tidak mempersekutukan Allah dengan sesuatu pun, tidak mencuri, tidak berzina, tidak membunuh anak-anak kami, tidak berbuat dusta yang kami ada-adakan antara tangan dan kaki kami, dan tidak mendurhakainya dalam urusan yang baik, lalu Rasulullah ﷺ bersabda:

‘Dan jangan pula kamu menipu suami-suamimu.’

Maka kami terima baiat itu, kemudian kami pergi.
Dan aku berkata kepada seorang wanita di antara mereka, ‘Kembalilah kamu dan tanyakanlah kepada Rasulullah ﷺ bahwa apakah yang dimaksud dengan menipu suami kami?’ Wanita itu kembali dan menanyakan kepadanya makna kalimat itu, lalu beliau ﷺ menjawab:

‘Bila kamu ambil hartanya, lalu kamu gunakan untuk mendekatkan dirimu dengan lelaki lain’."

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ibrahim ibnu Abul Abbas, telah menceritakan kepada kami Abdur Rahman ibnu Usman ibnu Ibrahim ibnu Muhammad ibnu Hatib, telah menceritakan kepadaku Abu Hatib, telah menceritakan kepadaku ayahku, dari ibunya (yaitu Aisyah binti Qudamah ibnu Maz’un) yang telah menceritakan bahwa aku bersama ibuku Ra’itah binti Sufyan Al-Khuza’iyah ikut dengan kaum wanita berbaiat kepada Nabi ﷺ Nabi ﷺ bersabda:
Aku membaiat kalian dengan syarat janganlah kalian mempersekutukan Allah dengan sesuatu pun, jangan mencuri, jangan berzina, jangan membunuh anak-anak kalian, jangan berbuat dusta yang kalian ada-adakan antara tangan dan kaki kalian, dan jangan kalian mendurhakaiku dalam urusan yang baik.
Maka kami menjawab,
"Ya."
Sebatas kemampuan kalian.
-Mereka, aku, dan ibuku mengucapkan,
"Ya,"
dan ibuku berkata kepadaku,
"Hai anak perempuanku, jawablah ya."
Maka aku pun mengatakan apa yang dikatakan oleh mereka.

Imam Bukhari mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ma’mar, telah menceritakan kepada kami Abdul Waris, telah menceritakan kepada kami Ayyub, dari Hafsah binti Sirin, dari Ummu Atiyyah yang mengatakan bahwa kami berbaiat kepada Rasulullah ﷺ Maka beliau membacakan kepada kami firman Allah subhanahu wa ta’ala:
bahwa mereka tidak akan mempersekutukan sesuatu pun dengan Allah.
(QS. Al-Mumtahanah [60]: 12)
Beliau ﷺ juga melarang kami melakukan niyahah.
Maka ada seorang wanita yang menggenggamkan tangannya, lalu berkata,
"Si Fulanah telah berjasa kepadaku dan membuatku bahagia, maka aku bermaksud untuk membalas jasanya (dengan niyahah)."
Rasulullah ﷺ tidak menjawab perkataan wanita itu barang sepatah kata pun, lalu wanita itu pergi dan kembali lagi, selanjutnya Rasulullah ﷺ membaiatnya.

Imam Muslim telah meriwayatkan pula hadis ini.
Menurut riwayat lain, tiada seorang pun dari mereka yang memenuhinya selain dari wanita itu dan Ummu Sulaim binti Mulhan.
Menurut riwayat Imam Bukhari, dari Ummu Atiyyah, Rasulullah ﷺ menyumpah kami saat kami berbaiat kepadanya, bahwa kami tidak boleh melakukan niyahah (menangisi kepergian mayat).
Maka tiada seorang pun dari kami yang memenuhinya selain lima orang wanita, yaitu Ummu Sulaim, Ummul Ala, anak perempuan Abu Sabrah, istrinya Mu’az, dan dua orang wanita lainnya;
atau anak perempuan Abu Sabrah, istrinya Mu’az dan seorang wanita lainnya.
Sebelum itu Rasulullah ﷺ telah menyumpah kaum wanita dengan baiat ini di hari raya.


Seperti apa yang disebutkan oleh Imam Bukhari, bahwa telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Abdur Rahim, telah menceritakan kepada kami Harun ibnu Ma’ruf, telah menceritakan kepada kami Abdullah ibnu Wahb, telah menceritakan kepadaku Ibnu Juraij, bahwa Al-Hasan ibnu Muslim pernah menceritakan kepadanya dariTawus, dari Ibnul Abbas yang mengatakan bahwa ia pernah ikut salat hari raya bersama Rasulullah ﷺ, Abu Bakar, Umar, dan Usman;
semuanya mengerjakan salat Id sebelum khotbah.
Sesudah salat, baru khotbah, lalu Nabi ﷺ turun dari mimbarnya seakan-akan kulihat beliau saat menyuruh duduk kaum lelaki dengan tangannya.
Kemudian beliau melangkah menguaksaf mereka hingga datang kesaf kaum wanita bersama Bilal.
Maka beliau ﷺ membacakan firman Allah subhanahu wa ta’ala:
Hai Nabi, apabila datang kepadamu perempuan-perempuan yang beriman untuk mengadakan janji setia, bahwa mereka tidak akan mempersekutukan sesuatu pun dengan Allah, tidak akan mencuri, tidak akan berzina, tidak akan membunuh anak-anaknya, tidak akan berbuat dusta yang mereka ada-adakan antara tangan dan kaki mereka, dan tidak akan mendurhakaimu dalam urusan yang baik.
(QS. Al-Mumtahanah [60]: 12)
hingga akhir ayat.
Kemudian setelah selesai dari itu beliau bertanya,
"Maukah kalian berjanji atas semuanya itu?"
Maka hanya ada seorang wanita yang menjawab,
"Ya, wahai Rasulullah."
Sedangkan yang lainnya tidak.
Hasan tidak mengetahui siapa wanita itu.
Hasan melanjutkan kisahnya, bahwa setelah itu kaum wanita bersedekah, dan Bilal menggelarkan pakaiannya.
Maka mereka melemparkan ke kain Bilal itu apa yang mereka sedekahkan, di antara mereka ada yang melemparkan gelang, ada pula yang melemparkan cincin emas.

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Khalaf ibnul Walid, telah menceritakan kepada kami Abbas, dari Sulaiman ibnu Salim, dari Amr ibnu Syu’aib, dari ayahnya, dari kakeknya yang menceritakan bahwa Umaimah binti Raqiqah datang kepada Rasulullah ﷺ untuk berbaiat kepadanya tentang keislamannya.
Maka Rasulullah ﷺ bersabda:
Aku membaiatmu dengan syarat janganlah kamu mempersekutukan sesuatu pun dengan Allah, jangan mencuri, jangan berzina, jangan membunuh anakmu, jangan mendatangkan kedustaan yang kamu ada-adakan antara tangan dan kakimu, jangan kamu lakukan niyahah, dan janganlah kamu berbuat tabarruj seperti labarrujnya orang-orang Jahiliah masa lalu.

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Sufyan, dari Az-Zuhri, dari Abu Idris Al-Khaulani, dari Ubadah ibnus Samit yang mengatakan bahwa ketika kami berada di suatu majelis dengan Rasulullah ﷺ, maka beliau ﷺ bersabda:
Kamu harus berbaiat kepadaku bahwa kamu tidak akan mempersekutukan sesuatu pun dengan Allah, tidak akan mencuri, tidak akan berzina, dan tidak akan membunuh anak-anak kamu.
Lalu Rasulullah ﷺ membacakan firman-Nya yang berisikan baiat terhadap kaum wanita, yaitu,
"Apabila datang kepadamu perempuan-perempuan yang beriman,"
hingga akhir ayat.
Lalu beliau ﷺ melanjutkan:
Maka barang siapa di antara kamu yang menunaikannya, pahalanya ada pada Allah.
Dan barang siapa yang melanggar sesuatu dari hal tersebut, lalu ia kena hukuman, maka hukuman itu merupakan penghapus dosa baginya.
Dan barang siapa yang melanggar sesuatu dari itu, lalu Allah menutupinya, maka nasibnya terserah Allah;
jika Dia berkehendak mengampuninya, tentu Dia mengampuninya;
dan jika Dia berkehendak mengazabnya, tentulah Dia mengazabnya.

Imam Bukhari dan Imam Muslim telah mengetengahkan hadis ini di dalam kitab sahih masing-masing.

Muhammad ibnu Ishaq telah meriwayatkan dari Yazid ibnu Abu Habib, dari Marsad ibnu Abdullah Al-Yazni, dari Abu Abdullah alias Abdur Rahman ibnu Usailah As-Sanabiji, dari Ubadah ibnus Samit yang mengatakan bahwa aku termasuk di antara dua belas orang lelaki yang menghadiri Al-Aqabah pertama, lalu kami menyatakan baiat kami kepada Rasulullah ﷺ dengan baiat yang sama seperti baiat kaum wanita.
Demikian itu terjadi sebelum difardukan atas kami berperang.
Yaitu hendaklah kami tidak mempersekutukan sesuatu pun dengan Allah, tidak mencuri, tidak berzina, tidak membunuh anak-anak kami, dan tidak mendatangkan kedustaan yang kami ada-adakan antara tangan dan kaki kami, dan kami tidak akan mendurhakainya dalam urusan kebaikan.
Kemudian Rasulullah ﷺ bersabda:

Dan jika kalian menunaikannya, maka bagi kalian surga.

Ibnu Abu Hatim meriwayatkan pula hadis ini.

Ibnu Jarir telah meriwayatkan melalui jalur Al-Aufi, dari Ibnu Abbas, bahwa Rasulullah ﷺ memerintahkan kepada sahabat Umar ibnul Khattab melalui sabdanya:
Katakanlah kepada mereka (kaum wanita), bahwa sesungguhnya Rasulullah ﷺ membaiat kalian dengan syarat janganlah kalian mempersekutukan sesuatu pun dengan Allah.
Saat itu Hindun binti Utbah ibnu Rabi’ah yang telah membelah perut Hamzah menyamarkan dirinya di antara kaum wanita.
Hindun berkata kepada dirinya sendiri,
"Jika aku berbicara, tentulah Nabi akan mengenalku;
dan jika dia mengenalku, pasti membunuhku.
Dan sesungguhnya samaranku ini tiada lain karena takut kepada dia (Rasul ﷺ)."
Maka kaum wanita yang ada bersama Hindun diam dan tidak mau berbicara.
Akhirnya Hindun’ yang masih dalam penyamarannya tidak tahan, lalu ia angkat bicara,
"Bagaimana engkau mau menerima sesuatu dari kaum wanita yang jika dilakukan oleh kaum lelaki engkau tidak akan mau menerimanya?"
Rasulullah ﷺ memandang ke arahnya, lalu berkata kepada Umar:
Katakanlah kepada mereka, bahwa janganlah mereka mencuri.
Hindun bertanya,
"Demi Allah, sesungguhnya aku telah banyak mengambil dari Abu Sufyan barang-barang yang saya sendiri tidak tahu apakah dia menghalalkannya bagiku ataukah tidak?"
Abu Sufyan (yang ada di tempat itu) menjawab,
"Tiada sesuatu pun yang engkau ambil dan telah habis atau masih tersisa, maka semuanya itu halal bagimu."
Maka Rasulullah ﷺ tersenyum dan mulai mengenal Hindun, lalu beliau memanggilnya dan Hindun berpegangan kepada tangan Abu Sufyan seraya berlindung kepadanya, dan Rasulullah ﷺ bertanya,
"Engkau Hindun?"
Hindun menjawab,
"Semoga Allah memaafkan apa yang telah silam."
Rasulullah ﷺ berpaling dari Hindun dan bersabda,
"Janganlah mereka berzina,"
Hindun bertanya,
"Wahai Rasulullah, apakah wanita merdeka melakukan zina?"
Rasulullah ﷺ menjawab,
"Tidak, demi Allah, wanita merdeka tidak akan berzina."
Lalu Rasulullah ﷺ bersabda,
"Dan janganlah mereka membunuh anak-anak mereka."
Hindun berkata,
"Engkau telah membunuh mereka dalam Perang Badar, engkau dan mereka lebih mengenal."
Rasulullah ﷺ membaca firman-Nya:
dan janganlah mereka berbuat dusta yang mereka ada-adakan di antara tangan dan kaki mereka.
(QS. Al-Mumtahanah [60]: 12)
Lalu membaca firman seterusnya:
dan janganlah mendurhakaimu dalam urusan yang baik.
(QS. Al-Mumtahanah [60]: 12)

Ubadah ibnus Samit melanjutkan kisahnya, bahwa Rasulullah ﷺ melarang pula mereka melakukan niyahah.
Dan dahulu orang-orang Jahiliah dalam niyahah (tangisan bela sungkawanya) merobek-robek pakaian mereka, mencakari muka mereka, dan memotongi (mengguntingi) rambut mereka, serta menyerukan kata-kata kecelakaan dan kebinasaan.

Ini merupakan asar yang garib, dan pada sebagiannya terdapat hal-hal yang mungkar;
hanya Allah-lah Yang Maha Mengetahui.
Karena sesungguhnya Abu Sufyan dan istrinya (Hindun) setelah masuk Islam, Rasulullah ﷺ belum pernah bersikap menyembunyikan sesuatu terhadap keduanya, bahkan menampakkan sikap yang jernih lagi tulus kepada keduanya;
demikian pula sebaliknya dari keduanya terhadap Rasulullah ﷺ

Muqatil ibnu Hayyan mengatakan bahwa ayat ini diturunkan di hari penaklukan kota Mekah.
Rasulullah ﷺ membaiat kaum lelaki mereka agar bersikap tulus dan jernih, sedangkan Umar membaiat kaum wanita atas perintah dari Rasulullah ﷺ Lalu disebutkan hal yang sama dengan asar di atas, tetapi ditambahkan bahwa ketika Umar mengatakan,
"Janganlah kalian membunuh anak-anak kalian."
Maka Hindun berkata,
"Kami telah memelihara mereka sejak kecil;
dan ketika dewasa, kalian bunuh mereka."
Maka Umar ibnul Khattab tertawa sehingga jatuh tertelentang.
Demikianlah menurut riwayat Ibnu Abu Hatim.

Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepadaku ayahku, telah menceritakan kepada kami Nasr ibnu Ali, telah menceritakan kepadaku Ummu Atiyyah binti Sulaiman, telah menceritakan kepadaku pamanku, dari kakekku, dari Aisyah r.a. yang menceritakan bahwa Hindun ibnu Utbah datang kepada Rasulullah ﷺ untuk menyatakan janji setia kepadanya, lalu Rasulullah ﷺ memandang ke arah tangan Hindun dan bersabda:
Pulanglah kamu dan ubahlah tanganmu.
Maka Hindun memolesi tangannya dengan pacar, lalu datang kembali.
Maka Rasulullah ﷺ bersabda:
Aku baiat engkau dengan syarat janganlah engkau persekutukan sesuatu pun dengan Allah.
Maka Hindun berbaiat kepadanya, sedangkan di tangan Hindun terdapat dua gelang emas.
Lalu Hindun bertanya kepadanya,
"Bagaimanakah pendapatmu dengan dua buah gelang emas yang aku kenakan ini?"
Rasulullah ﷺ menjawab:
Dua buah bara api dari neraka Jahanam.

Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abu Sa’ id Al-Asyaj, telah menceritakan kepada kami Ibnu Fudail, dari Husain, dari Amir Asy-Sya’bi yang mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ membaiat kaum wanita, sedangkan di tangan beliau ﷺ terdapat sehelai kain untuk menutupi telapak tangannya.
Lalu beliau ﷺ bersabda:
Janganlah kamu membunuh anak-anakmu.
Maka ada seorang wanita memotong,
"Engkau telah membunuh ayah-ayah mereka, kemudian engkau wasiatkan kepada kami anak-anak mereka."
Maka sesudah peristiwa ini apabila ada kaum wanita yang datang kepadanya, terlebih dahulu beliau ﷺ mengumpulkan mereka dan baru menawarkan kepada mereka baiat tersebut.
Apabila mereka telah mengakuinya, maka mereka dipersilakan pulang.

Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

Hai Nabi, apabila datang kepadamu perempuan-perempuan yang beriman untuk mengadakan janji setia.
(QS. Al-Mumtahanah [60]: 12)

Yakni barang siapa dari kalangan kaum wanita yang datang kepadamu untuk mengadakan janji setia dengan persyaratan tersebut, maka baiatlah dia bahwa hendaklah dia tidak mempersekutukan sesuatu pun dengan Allah dan tidak mencuri harta orang lain.
Adapun jika suaminya melalaikan sebagaian dari nafkahnya, maka wanita yang bersangkutan diperbolehkan memakan sebagian dari harta suaminya dengan cara yang makruf sesuai dengan tradisi bagi wanita yang semisal dengan dia, sekalipun pengambilan itu tanpa sepengetahuan suaminya.


Hal ini diperbolehkan karena ada hadis yang menyangkut Hindun ibnu Utbah yang menyebutkan bahwa dia pernah bertanya,
"Wahai Rasulullah, sesungguhnya Abu Sufyan adalah seorang lelaki yang pelit, belum pernah memberi nafkah yang cukup untukku dan untuk anak-anakku, apakah aku berdosa jika kuambil sebagian dari hartanya tanpa sepengetahuan-nya?"
Rasulullah ﷺ menjawab:


Ambillah sebagian dari hartanya dengan cara yang makruf untuk mencukupi kebutuhanmu dan kebutuhan anak-anakmu.

Imam Bukhari dan Imam Muslim meriwayatkan hadis ini di dalam kitab sahihnya masing-masing.

Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

tidak akan berzina.
(QS. Al-Mumtahanah [60]: 12)
Sebagaimana yang disebutkan dalam ayat lain melalui firman-Nya:

Dan janganlah kamu mendekati zina;
sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji.
Dan suatu jalan yang buruk.
(QS. Al-Isra:
32)

Di dalam hadis Samurah disebutkan hukuman zina yaitu azab yang pedih di dalam neraka Jahanam.

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abdur Razzaq, telah menceritakan kepada kami Ma’mar, dari Az-Zuhri, dari Urwah, dari Aisyah yang mengatakan bahwa Fatimah binti Utbah datang untuk mengadakan baiat kepada Rasulullah ﷺ Maka Rasulullah ﷺ menyumpahnya dengan firman-Nya:
bahwa mereka tidak akan mempersekutukan sesuatu pun dengan Allah, tidak akan mencuri, tidak akan berzina.
(QS. Al-Mumtahanah [60]: 12), hingga akhir ayat.
Maka Fatimah meletakkan tangannya di atas kepalanya karena malu, dan Nabi ﷺ merasa heran dengan sikapnya.
Maka Siti Aisyah berkata,
"Berikrarlah, hai wanita.
Demi Allah, kami pun tidak berbaiat kecuali dengan persyaratan tersebut."
Lalu wanita itu menjawab,
"Kalau begitu, saya setuju."
Maka Nabi ﷺ membaiatnya dengan ayat tadi.

Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abu Sa’id Al-Asyaj, telah menceritakan kepada kami Ibnu Fudail, dari Husain, dari Amir Asy-Sya’bi yang mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ membaiat kaum wanita, sedangkan pada tangan beliau terdapat kain yang digunakannya untuk menutupi telapak tangannya (saat menyalami wanita yang dibaiatnya).
Kemudian beliau ﷺ bersabda:
Janganlah kamu membunuh anak-anakmu.
Seorang wanita memotong,
"Engkau telah bunuh bapak-bapak mereka (dalam Perang Badar), lalu engkau wasiatkan (kepada kami) anak-anak mereka."
Sejak saat itu apabila datang wanita untuk menyatakan baiatnya, terlebih dahulu beliau kumpulkan mereka, lalu menawarkan kepada mereka persyaratan itu.
Bila mereka mau mengikrarkannya, barulah mereka diperbolehkan pulang.

Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

tidak akan membunuh anak-anaknya.
(QS. Al-Mumtahanah [60]: 12)

Hal ini mencakup pengertian membunuh anak sesudah lahir, sebagaimana yang pernah dilakukan oleh kaum Jahiliah di masa silam;
mereka membunuh anak-anaknya karena takut jatuh miskin.
Termasuk pula ke dalam ayat ini membunuh anak selagi masih berupa janin, sebagaimana yang dilakukan oleh sebagian orang-orang yang bodoh dari kalangan kaum wanita, ia menjatuhkan dirinya agar kandungannya gugur dan tidak jadi, adakalanya karena tujuan yang fasid (rusak) atau tujuan lainnya.

Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

tidak akan berbuat dusta yang mereka ada-adakan antara tangan dan kaki mereka.
(QS. Al-Mumtahanah [60]: 12)

Ibnu Abbas mengatakan bahwa makna yang dimaksud ialah janganlah mereka menisbatkan anak-anak mereka kepada selain ayah-ayah mereka.
Hal yang sama telah dikatakan oleh Muqatil.
Pendapat ini diperkuat dengan adanya hadis yang diriwayatkan oleh Abu Daud.
Disebutkan bahwa:


telah menceritakan kepada kami Ahmad ibnu Saleh, telah menceritakan kepada kami Ibnu Wahb, telah menceritakan kepada kami Amr ibnul Haris, dari Ibnul Had, dari Abdullah ibnu Yunus, dari Sa’id Al-Maqbari, dari Abu Hurairah, bahwa ketika ayat Mula’anah (li’an) diturunkan, ia mendengar Rasulullah ﷺ bersabda:
Siapa pun wanitanya yang memasukkan ke dalam kaum (nya) seseorang yang bukan berasal dari mereka, maka dijauhkanlah dia dari rahmat Allah, dan Dia tidak akan memasukkannya ke surga.
Dan siapa pun lelakinya yang mengingkari anaknya sendiri, padahal dia menyaksikannya, maka Allah menutup diri darinya dan mempermalukannya di depan mata kepala orang-orang yang terdahulu dan orang-orang yang terkemudian (di hari kiamat nanti).

Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

dan tidak akan mendurhakaimu dalam urusan yang baik.
(QS. Al-Mumtahanah [60]: 12)

Yakni dalam perkara makruf yang engkau anjurkan kepada mereka (kaum wanita) dan perkara mungkar yang kamu larang terhadap mereka.

Imam Bukhari mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abdullah ibnu Muhammad, telah menceritakan kepada kami Wahb ibnu Jarir, telah menceritakan kepada kami ayahku yang mengatakan bahwa ia telah mendengar Az-Zubair, dari Ikrimah, dari Ibnu Abbas yang mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya:
dan tidak akan mendurhakaimu dalam urusan yang baik.
(QS. Al-Mumtahanah [60]: 12)
Bahwa hal ini merupakan syarat yang dibebankan oleh Allah kepada kaum wanita.

Maimun ibnu Mahran mengatakan bahwa Allah tidak memerintahkan agar nabi-Nya ditaati kecuali hanya dalam hal yang baik, sedangkan yang dimaksud dengan hal yang baik ialah ketaatan.

Ibnu Zaid mengatakan, Allah memerintahkan (kepada manusia) agar menaati Rasul-Nya yang merupakan manusia pilihan Allah dalam hal kebaikan.
Dan adakalanya selain Ibnu Zaid mengatakan dari Ibnu Abbas, Anas ibnu Malik, Salim ibnu Abul Ja’d, dan Abu Saleh serta lain-lainnya yang bukan hanya seorang, bahwa di hari itu Nabi ﷺ melarang mereka (kaum wanita) melakukan niyahah.
Dalam pembahasan yang lalu telah disebut­kan hadis Ummu Atiyyah yang di dalamnya disebutkan masalah ini.

Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepada kami Bisyr, telah menceritakan kepada kami Yazid, telah menceritakan kepada kami Sa’id, dari Qatadah sehubungan dengan ayat ini, bahwa pernah diceritakan kepada kami bahwa Nabi Allah subhanahu wa ta’ala telah menyumpah mereka untuk tidak melakukan niyahah dan janganlah mereka berbicara dengan kaum lelaki kecuali lelaki yang masih mahramnya.
Maka Abdur Rahman ibnu Auf r.a. bertanya,
"Wahai Rasulullah, sesungguhnya kami sering mempunyai tamu-tamu, sedangkan kami sering meninggalkan istri-istri kami."
Maka Rasulullah ﷺ menjawab:
Bukan mereka yang aku maksudkan, bukan mereka yang aku maksudkan.

Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abu Zar‘ah, telah menceritakan kepada kami Ibrahim ibnu Musa Al-Farra, telah menceritakan kepada kami Ibnu Abu Zaidah, telah menceritakan kepadaku Mubarak, dari Al-Hasan yang mengatakan bahwa di antara sumpah yang diambil oleh Nabi ﷺ dari kaum wanita ialah janganlah kamu berbicara dengan lelaki kecuali yang ada hubungan mahram denganmu.
Karena sesungguhnya lelaki itu terus-menerus berbicara dengan wanita hingga pada akhirnya dia mengeluarkan mazi di antara kedua pahanya.

Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ibnu Humaid, telah menceritakan kepada kami Harun, dari Amr, dari Asim, dari Ibnu Sirin, dari Ummu Atiyyah Al-Ansariyyah yang menceritakan bahwa di antara kebaikan yang dipersyaratkan kepada kami saat kami mengucapkan baiat kami kepada Rasulullah ﷺ ialah kami tidak diperbolehkan melakukan niyahah.
Maka seorang wanita dari kalangan Bani Fulan memotong,
"Sesungguhnya Bani Fulan pernah berjasa kepadaku, maka aku tidak mau berbaiat lebih dahulu sebelum membalas jasa mereka,"
lalu wanita itu pergi dan membalas jasa mereka, kemudian ia datang lagi dan mengucapkan baiatnya.
Ummu Atiyyah melanjutkan kisahnya, bahwa tiada seorang wanita pun dari mereka yang memenuhi baiat itu kecuali wanita itu dan Ummu Sulaim binti Mulhan ibunya Anas ibnu Malik.

Imam Bukhari telah meriwayatkan hadis ini melalui jalur Hafsah binti Sirin dari Ummu Atiyyah alias Nasibah Al-Ansariyyah r.a.

Dan Imam Bukhari telah meriwayatkan pula hadis ini melalui jalur lain;
ia mengatakan bahwa telah menceritakan kepada kami Ibnu Jarir, telah menceritakan kepada kami Abu Kuraib, telah menceritakan kepada kami Abu Na’im, telah menceritakan kepada kami Amr ibnu Farukh Al-Qattat, telah menceritakan kepadaku Mus’ab ibnu Nuh Al-Ansari yang mengatakan bahwa ia pernah bersua dengan seorang nenek-nenek yang semasa mudanya telah berbaiat kepada Rasulullah ﷺ Nenek-nenek itu menceritakan bahwa ia datang kepada Rasulullah ﷺ untuk berbaiat kepadanya, dan di antara persyaratan yang dibebankan kepadanya ialah ia tidak boleh melakukan niyahah.
Maka nenek-nenek itu bertanya,
"Wahai Rasulullah, sesungguhnya ada orang-orang yang dahulu pernah membahagiakan diriku saat aku tertimpa musibah kematian.
Dan sesungguhnya mereka sedang tertimpa musibah kematian, maka aku hendak balas membahagiakan mereka."
Rasulullah ﷺ menjawab:
Pergilah dan balaslah mereka.
Maka aku pun pergi dan membalas mereka dengan membahagiakan mereka (melalui niyahah-nya).
Kemudian nenek-nenek itu datang lagi dan mengikrarkan baiatnya kepada Rasulullah ﷺ Mus’ab mengatakan bahwa itulah yang dimaksud dengan makruf yang disebutkan di dalam firman-Nya:
dan tidak mendurhakaimu dalam urusan yang baik.
(QS. Al-Mumtahanah [60]: 12)

Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ahmad ibnu Mansur Ar-Ramadi, telah menceritakan kepada kami Ad-Dabbi, telah menceritakan kepada kami Al-Hajjaj ibnu Safwan, dari Usaid ibnu Abu Usaid Al-Bazzar, dari seorang wanita yang pernah berbaiat kepada Rasulullah ﷺ Ia mengatakan,
"Di antara persyaratan yang dibebankan kepada kami oleh Rasulullah ﷺ dalam baiat kami ialah kami tidak boleh mendurhakainya dalam urusan yang baik, yaitu kami tidak boleh mencakari muka kami, tidak boleh menguraikan rambut, tidak boleh merobek-robek baju, dan tidak boleh menyerukan kalimat kebinasaan."

Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Sinan Al-Qazzaz, telah menceritakan kepada kami Ishaq ibnu Idris, telah menceritakan kepada kami Ishaq ibnu Usman alias Abu Ya’qub, telah menceritakan kepadaku Ismail ibnu Abdur Rahman ibnu Atiyyah, dari neneknya (yaitu Ummu Atiyyah) yang telah menceritakan bahwa ketika Rasulullah ﷺ tiba, maka beliau ﷺ mengumpulkan kaum wanita Ansar dalam sebuah rumah, kemudian mengundang Umar ibnul Khattab untuk membaiat kami.
Maka Umar berdiri di pintu dan mengucapkan salam kepada kami.
Kami membalas salamnya, kemudian ia mengatakan,
"Aku adalah utusan dari Rasulullah ﷺ kepada kalian."
Maka kami berkata,
"Selamat datang dengan utusan Rasulullah."
Umar berkata,
"Hendaklah kalian berbaiat, bahwa janganlah kalian mempersekutukan sesuatu dengan Allah, jangan mencuri dan jangan berzina."
Kami menjawab,
"Ya."
Lalu Umar mengulurkan tangannya dari balik pintu rumah dan kami bergantian menjabat tangannya dari dalam rumah.
Kemudian Umar berkata,
"Ya Allah, saksikanlah."
Ummu Atiyyah melanjutkan, bahwa dalam dua hari raya beliau ﷺ memerintahkan kepada kami agar mengeluarkan wanita-wanita yang berhaid dan juga para gadis, dan tiada kewajiban salat Jumat bagi kami (kaum wanita).
Dan beliau ﷺ melarang kami mengiringi jenazah.
Ismail mengatakan bahwa ia pernah bertanya kepada neneknya tentang makna firman-Nya:
dan tidak akan mendurhakaimu dalam urusan yang baik.
(QS. Al-Mumtahanah [60]: 12)
Maka neneknya menjawab, bahwa yang dimaksud dengan mendurhakai Rasulullah ﷺ ialah melakukan niyahah.

Di dalam kitabSahihain disebutkan melalui jalur Al-A’masy, dari Abdullah ibnu Murrah, dari Masruq, dari Abdullah ibnu Mas’ud yang mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda:

Bukanlah termasuk golongan kami orang (wanita) yang memukuli pipi (nya) dan merobek-robek kerah baju (nya) serta menyerukan seruan Jahiliah.

Di dalam kitab Sahihain disebutkan pula melalui Abu Musa, bahwa Rasulullah ﷺ berlepas diri dari wanita yang menampari mukanya, memotong rambutnya, dan merobek-robek bajunya.

Al-Hafiz Abu Ya’la mengatakan, telah menceritakan kepada kami Hudbah ibnu Khalid, telah menceritakan kepada kami Aban ibnu Yazid, telah menceritakan kepada kami Yahya ibnu Abu Kasir, bahwa Zaid pernah menceritakan kepadanya bahwa Abu Salam pernah menceritakan kepadanya bahwa Abu Malik Al-Asy’ari pernah menceritakan kepadanya bahwa Rasulullah ﷺ telah bersabda:
ada empat perkara di kalangan umatku yang termasuk perkara Jahiliah yang masih belum mereka tinggalkan, yaitu membangga-banggakan kedudukan, mencemoohkan nasab, meminta hujan dengan bintang-bintang, dan niyahah terhadap mayat.
Dan Rasulullah ﷺ bersabda:
Wanita yang melakukan niyahah apabila tidak bertobat sebelum matinya, maka ia akan diberdirikan pada hari kiamat dengan memakai kain yang terbuat dari ter (aspal) dan baju kurung dari penyakit kudis.

Imam Muslim meriwayatkan hadis ini secara munfarid di dalam kitab sahihnya melalui Aban ibnu Yazid Al-Attar dengan sanad yang sama.
Diriwayatkan pula dari Abu Sa’id bahwa Rasulullah ﷺ melaknat wanita yang melakukan niyahah dan wanita yang mendengarkannya.
Diriwayatkan oleh Imam Abu Daud.

Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abu Kuraib, telah menceritakan kepada kami Waki’, dari Yazid maula As-Sahba, dari Syahr ibnu Hausyab, dari Ummu Salamah, dari Rasulullah ﷺ sehubungan dengan makna firman-Nya:
dan tidak akan mendurhakaimu dalam urusan yang baik.
(QS. Al-Mumtahanah [60]: 12)
Bahwa yang dimaksud adalah niyahah.
Imam Turmuzi meriwayatkannya di dalam kitab tafsir, dari Abdu ibnu Humaid, dari Abu Na’im, sedangkan Ibnu Majah dari Abu Bakar ibnu Abu Syaibah, dari Waki’;
keduanya dari Yazid ibnu Abdullah Asy-Syaibani maula Sahba dengan sanad yang sama.
Imam Turmuzi mengatakan bahwa hadis ini hasan garib.

Kata Pilihan Dalam Surah Al Mumtahanah (60) Ayat 12

ARJUL
أَرْجُل

Lafaz ini berbentuk jamak, mufradnya adalah ar rijl, artinya al qadam (telapak kaki), dan makna asalnya ialah mulai dari paha hingga telapak kaki.
Ia juga bermakna zaman, seluar, dan sebagainya.
Rijl al-bahr artinya teluk, rijl al-sahm maknanya keduadua uujung panah.

Lafaz ini disebut sebanyak 13 kali di dalam Al Qur’an yaitu dalam surah:
-Al Maa’idah (5), ayat 6, 33, 66;
-Al An’aam (6), ayat 65;
-Al A’raaf (7), ayat 195, 124;
-Tha Ha (20), ayat 71;
An Nuur (24), ayat 24, 31;
-Asy Syu’araa (26), ayat 49;
Al Ankaabut (29), ayat 55;
Yaa Siin (36), ayat 65;
Al Mumtahanah (60), ayat 12.

Lafaz arjul dalam surah Al Maa’idah, ayat 66 dikaitkan dengan tahta.

Ibn Qutaibah berkata,
"Ia bermakna tumbuhtumbuhan di bumi karena ia berada di bawah kaki mereka"

Dalam surah Al A’raaf, ayat 124, Ibn Katsir menafsirkannya dengan memotong tangan kanan seorang lelaki dan kaki kirinya atau sebaliknya.

Begitu juga dalam ayat 159 beliau berkata,
”Allah mengkhabarkan pengingkarannya pada sembahan orang musyrik dari berhala, patung dan tuhan-tuhan lain, karena mereka adalah makhluk bagi Allah yang dibuat, tidak memiliki kemudaratan atau manfaat, tidak melihat dan tidak dapat menolong penyembahnya, malah tidak bergerak (karena tidak mempunyai kaki), tidak mendengar dan tidak pula melihat, sedangkan penyembahnya lebih sempurna darinya dari aspek melihat, mendengar dan berbuat."

Dalam surah Al Mumtahanah, ayat 12, lafaz arjul dikaitkan dengan bain dan mempunyai hubungan dengan buhtan, makna baina arjulihinn ialah faraj-faraj mereka.
Ada yang berpendapat ia bermakna jimak.
Ayat ini adalah kinayah bagi anak karena perut yang mengandungkan di dalamnya anak berada di antara kedua-dua tangannya dan farajnya yang melahirkan anak adalah di antara kedua-dua kakinya.
Jumhur ulama mengatakan makna lafaz buhtan ialah anak dan makna bagi ayat adalah apa yang dilahirkannya dari perbuatan zina.

Lafazlafaz arjul juga dikaitkan dengan al mash (membasuh atau mencuci), tahta (dibawah), al qath’ (memotong), asy syahaadah (sebagai saksi), ad darb (menghentakkan).
Semua ini mengisyaratkan lafaz arjul bermakna kaki yang bermula dari paha hingga ke telapak kaki.

Sumber : Kamus Al Qur’an, PTS Islamika SDN BHD, Hal: 66-67

Unsur Pokok Surah Al Mumtahanah (الممتحنة)

Surat Al-Mumtahanah terdiri atas 13 ayat, termasuk golongan surat-surat Madaniyyah, diturunkan sesudah surat Al-Ahzab.

Dinamai "Al Mumtahanah" (wanita yang diuji), diambil dari kata "Famtahinuuhunna" yang berarti "maka ujilah rnereka",
yang terdapat pada ayat 10 surat ini.

Hukum:

▪ Larangan mengadakan hubungan persahabatan dengan orang-orang kafir yang memusuhi Islam, sedang dengan orang-orang kafir yang tidak memusuhi Islam boleh mengadakan persahabatan.
Hukum perkawinan bagi orang-orang yang pindah agama.

Kisah:

▪ Kisah Ibrahim `alaihis salam bersama kaumnya sebagai contoh dan teladan bagi orang-orang mukmin.

Audio

QS. Al-Mumtahanah (60) : 1-13 ⊸ Misyari Rasyid Alafasy
Ayat 1 sampai 13 + Terjemahan Indonesia

QS. Al-Mumtahanah (60) : 1-13 ⊸ Nabil ar-Rifa’i
Ayat 1 sampai 13

Gambar Kutipan Ayat

Surah Al Mumtahanah ayat 12 - Gambar 1 Surah Al Mumtahanah ayat 12 - Gambar 2
Statistik QS. 60:12
  • Rating RisalahMuslim
4.5

Ayat ini terdapat dalam surah Al Mumtahanah.

Surah Al-Mumtahanah (bahasa Arab:الممتحنة, “Perempuan Yang Diuji”) adalah surah ke-60 dalam Alquran.
Surah ini tergolong surah Madaniyah dan terdiri atas 13 ayat.
Dinamakan Al Mumtahanah yang berarti Wanita yang diuji di ambil dari kata “Famtahinuuhunna” yang berarti maka ujilah mereka, yang terdapat pada ayat 10 surat ini.

Nomor Surah60
Nama SurahAl Mumtahanah
Arabالممتحنة
ArtiWanita yang diuji
Nama lainAl-Imtihān, Al-Mawaddah
Tempat TurunMadinah
Urutan Wahyu91
JuzJuz 28
Jumlah ruku’2 ruku’
Jumlah ayat13
Jumlah kata325
Jumlah huruf1560
Surah sebelumnyaSurah Al-Hasyr
Surah selanjutnyaSurah As-Saff
Sending
User Review
4.3 (27 votes)
Tags:

60:12, 60 12, 60-12, Surah Al Mumtahanah 12, Tafsir surat AlMumtahanah 12, Quran Al-Mumtahanah 12, Surah Al Mumtahanah ayat 12

Keluarga Anda ada yang belum mahir membaca Alquran? Ingin segera bisa?
Klik di sini sekarang!

Video


Panggil Video Lainnya

Ayat Lainnya

QS. An Nahl (Lebah) – surah 16 ayat 3 [QS. 16:3]

Allah mengingatkan manusia bahwa Dia adalah Tuhan yang telah menciptakan langit tempat kalian berteduh bersama benda-benda yang menghiasinya, dan menciptakan bumi tempat kalian berpijak bersama apa sa … 16:3, 16 3, 16-3, Surah An Nahl 3, Tafsir surat AnNahl 3, Quran An-Nahl 3, Surah An Nahl ayat 3

QS. Al Insyiqaaq (Terbelah) – surah 84 ayat 17 [QS. 84:17]

17. Dan Aku pun bersumpah demi malam dan apa yang diselubunginya dengan kegelapan akibat hilangnya cahaya matahari. … 84:17, 84 17, 84-17, Surah Al Insyiqaaq 17, Tafsir surat AlInsyiqaaq 17, Quran Al Insyiqaq 17, Al-Insyiqaq 17, Surah Al Insyiqaq ayat 17

Hadits Shahih

Podcast

Hadits & Doa

Soal & Pertanyaan Agama

Kewajiban menuntut ilmu terdapat pada Alquran surah ...

Benar! Kurang tepat!

Penjelasan:
'Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya.'
--QS. At Taubah [9] : 122

Siapa nama Nabi setelah Nabi Isa 'Alaihissalam?

Benar! Kurang tepat!

Siapa nama ayah Nabi muhammad shallallahu alaihi wasallam?

Benar! Kurang tepat!

+

Setiap umat Islam wajib menuntut ilmu. Bagaimana hukum mempelajari Ilmu Agama?

Benar! Kurang tepat!

Ada berapa syarat dalam menuntut ilmu?

Benar! Kurang tepat!

Penjelasan:
Enam Syarat Meraih Ilmu Menurut Sayyidina Ali bin Abi Thalib.
1. Cerdas.
2. inginan yang kuat.
3. Sabar.
4. Bekal
5. Petunjuk guru.
6. Waktu yang lama.

Pendidikan Agama Islam #28
Ingatan kamu cukup bagus untuk menjawab soal-soal ujian sekolah ini.

Pendidikan Agama Islam #28 1

Mantab!! Pertahankan yaa..
Jawaban kamu masih ada yang salah tuh.

Pendidikan Agama Islam #28 2

Belajar lagi yaa...

Bagikan Prestasimu:

Soal Lainnya

Pendidikan Agama Islam #16

Al-Lihyaniy berpendapat bahwa Alquran secara etimologi memiliki arti … Pedoman Menghimpun Petunjuk Bacaan Kumpulan Benar! Kurang tepat! Alquran adalah mukjizat

Pendidikan Agama Islam #10

Wahyu pertama yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam terkandung dalam surah … QS. Al Fatihah : 1-7

Pendidikan Agama Islam #8

Undang-undang tentang penggunaan Hadits-Maudu adalah … boleh sunnah mubah haram makruh Benar! Kurang tepat! Sumber kedua hukum dalam menetapkan Hukum

Instagram