Keluarga Anda ada yang belum mahir membaca Alquran? Ingin segera bisa? Klik di sini sekarang!

QS. Al Mumtahanah (Wanita yang diuji) – surah 60 ayat 10 [QS. 60:10]

یٰۤاَیُّہَا الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡۤا اِذَا جَآءَکُمُ الۡمُؤۡمِنٰتُ مُہٰجِرٰتٍ فَامۡتَحِنُوۡہُنَّ ؕ اَللّٰہُ اَعۡلَمُ بِاِیۡمَانِہِنَّ ۚ فَاِنۡ عَلِمۡتُمُوۡہُنَّ مُؤۡمِنٰتٍ فَلَا تَرۡجِعُوۡہُنَّ اِلَی الۡکُفَّارِ ؕ لَا ہُنَّ حِلٌّ لَّہُمۡ وَ لَا ہُمۡ یَحِلُّوۡنَ لَہُنَّ ؕ وَ اٰتُوۡہُمۡ مَّاۤ اَنۡفَقُوۡا ؕ وَ لَا جُنَاحَ عَلَیۡکُمۡ اَنۡ تَنۡکِحُوۡہُنَّ اِذَاۤ اٰتَیۡتُمُوۡہُنَّ اُجُوۡرَہُنَّ ؕ وَ لَا تُمۡسِکُوۡا بِعِصَمِ الۡکَوَافِرِ وَ سۡـَٔلُوۡا مَاۤ اَنۡفَقۡتُمۡ وَ لۡیَسۡـَٔلُوۡا مَاۤ اَنۡفَقُوۡا ؕ ذٰلِکُمۡ حُکۡمُ اللّٰہِ ؕ یَحۡکُمُ بَیۡنَکُمۡ ؕ وَ اللّٰہُ عَلِیۡمٌ حَکِیۡمٌ
Yaa ai-yuhaal-ladziina aamanuu idzaa jaa-akumul mu’minaatu muhaajiraatin faamtahinuuhun-nallahu a’lamu biiimaanihinna fa-in ‘alimtumuuhunna mu’minaatin falaa tarji’uuhunna ilal kuffaari laa hunna hillun lahum walaa hum yahilluuna lahunna waaatuuhum maa anfaquu walaa junaaha ‘alaikum an tankihuuhunna idzaa aataitumuuhunna ujuurahunna walaa tumsikuu bi’ishamil kawaafiri waasaluu maa anfaqtum walyasaluu maa anfaquu dzalikum hukmullahi yahkumu bainakum wallahu ‘aliimun hakiimun;
Wahai orang-orang yang beriman! Apabila perempuan-perempuan mukmin datang berhijrah kepadamu, maka hendaklah kamu uji (keimanan) mereka.
Allah lebih mengetahui tentang keimanan mereka;
jika kamu telah mengetahui bahwa mereka (benar-benar) beriman maka janganlah kamu kembalikan mereka kepada orang-orang kafir (suami-suami mereka).
Mereka tidak halal bagi orang-orang kafir itu dan orang-orang kafir itu tidak halal bagi mereka.
Dan berikanlah kepada (suami) mereka mahar yang telah mereka berikan.
Dan tidak ada dosa bagimu menikahi mereka apabila kamu bayar kepada mereka maharnya.
Dan janganlah kamu tetap berpegang pada tali (pernikahan) dengan perempuan-perempuan kafir;
dan hendaklah kamu minta kembali mahar yang telah kamu berikan;
dan (jika suaminya tetap kafir) biarkan mereka meminta kembali mahar yang telah mereka bayar (kepada mantan istrinya yang telah beriman).
Demikianlah hukum Allah yang ditetapkan-Nya di antara kamu.
Dan Allah Maha Mengetahui, Mahabijaksana.
―QS. Al Mumtahanah [60]: 10

O you who have believed, when the believing women come to you as emigrants, examine them.
Allah is most knowing as to their faith.
And if you know them to be believers, then do not return them to the disbelievers;
they are not lawful (wives) for them, nor are they lawful (husbands) for them.
But give the disbelievers what they have spent.
And there is no blame upon you if you marry them when you have given them their due compensation.
And hold not to marriage bonds with disbelieving women, but ask for what you have spent and let them ask for what they have spent.
That is the judgement of Allah;
He judges between you.
And Allah is Knowing and Wise.
― Chapter 60. Surah Al Mumtahanah [verse 10]

يَٰٓأَيُّهَا wahai

O you
ٱلَّذِينَ orang-orang yang

who
ءَامَنُوٓا۟ beriman

believe!
إِذَا apabila

When
جَآءَكُمُ datang kepadamu

come to you
ٱلْمُؤْمِنَٰتُ orang perempuan beriman

the believing women
مُهَٰجِرَٰتٍ berhijrah

(as) emigrants,
فَٱمْتَحِنُوهُنَّ maka ujilah mereka

then examine them.
ٱللَّهُ Allah

Allah
أَعْلَمُ mengetahui

(is) most knowing
بِإِيمَٰنِهِنَّ tentang keimanan mereka

of their faith.
فَإِنْ maka jika

And if
عَلِمْتُمُوهُنَّ mengetahui mereka

you know them
مُؤْمِنَٰتٍ wanita-wanita beriman

(to be) believers,
فَلَا maka janganlah

then (do) not
تَرْجِعُوهُنَّ kamu kembalikan mereka

return them
إِلَى kepada

to
ٱلْكُفَّارِ orang-orang kafir

the disbelievers.
لَا tidak

Not
هُنَّ mereka (wanita beriman)

they
حِلٌّ halal

(are) lawful
لَّهُمْ bagi mereka

for them
وَلَا dan tidak

and not
هُمْ mereka

they
يَحِلُّونَ halal

are lawful
لَهُنَّ bagi mereka

for them.
وَءَاتُوهُم dan berikan kepada mereka

But give them
مَّآ apa-apa

what
أَنفَقُوا۟ mereka belanjakan

they have spent.
وَلَا dan tidak

And not

Tafsir

Alquran

Surah Al Mumtahanah
60:10

Tafsir QS. Al Mumtahanah (60) : 10. Oleh Kementrian Agama RI


Ayat ini menerangkan perintah Allah kepada Rasulullah dan orang-orang yang beriman tentang sikap yang harus diambil, jika seorang perempuan beriman yang berasal dari daerah kafir datang menghadap atau minta perlindungan.
Allah menyatakan bahwa apabila datang seorang perempuan dari daerah kafir yang mengucapkan dua kalimat syahadat dan tidak tampak padanya tanda-tanda keingkaran dan kemunafikan, maka perlu diperiksa lebih dahulu, apakah mereka benar telah beriman, atau datang karena melarikan diri dari suaminya, sedangkan ia sebenarnya tidak beriman.


Allah memerintahkan yang demikian itu bukan karena Dia tidak mengetahui hal ihwal mereka.
Allah Maha Mengetahui hakikat iman mereka, bahkan mengetahui semua yang terbesit dalam hati mereka.

Akan tetapi, untuk kewaspadaan dan berjaga-jaga di kalangan kaum Muslimin yang sedang berperang menghadapi orang-orang kafir, maka usaha-usaha mengadakan penelitian itu harus dilakukan, walaupun orang itu kerabat sendiri.


Jika dalam pemeriksaan itu terbukti mereka adalah orang-orang yang beriman, maka jangan sekali-kali kaum Muslimin mengembalikan mereka ke daerah kafir, sebab perempuan-perempuan yang beriman tidak halal lagi bagi suaminya yang kafir.

Sebaliknya, pria-pria yang kafir tidak halal bagi perempuan yang beriman.


Dari ayat ini dapat ditetapkan suatu hukum yang menyatakan bahwa jika seorang istri telah masuk Islam, berarti sejak itu ia telah bercerai dengan suaminya yang masih kafir.

Oleh karena itu, ia haram kembali kepada suaminya.
Ayat ini juga menguatkan hukum yang menyatakan bahwa haram hukumnya seorang perempuan muslimat kawin dengan laki-laki kafir.


Kemudian Allah menetapkan agar mas kawin yang telah diterima istri yang masuk Islam itu dikembalikan kepada suaminya.
Menurut Imam Syafi’i, istri wajib mengembalikan mahar itu jika pihak suaminya yang kafir itu memintanya.

Jika pihak suami tidak memintanya, maka mahar itu tidak wajib dikembalikan.
Sebagian ulama berpendapat bahwa mahar yang wajib dikembalikan itu jika suaminya termasuk orang yang telah melakukan perjanjian damai dengan kaum Muslimin, sedang bagi suami yang tidak termasuk dalam perjanjian damai dengan kaum Muslimin maharnya tidak wajib dikembalikan.
Sebagian ulama lain berpendapat bahwa hukum pengembalian mahar itu bukan wajib tetapi sunah dan itu pun jika diminta oleh suaminya.


Sementara itu kaum Muslimin dibolehkan mengawini perempuan-perempuan mukminat yang berhijrah itu dengan membayar mahar.
Hal ini berarti bahwa perempuan itu tidak boleh dijadikan budak, karena mereka bukan berasal dari tawanan perang.
Allah menganjurkan kaum Muslimin mengawini mereka agar diri mereka terpelihara.



Allah menerangkan bahwa penyebab larangan melanjutkan perkawinan istri yang beriman dengan suami yang kafir itu adalah karena tidak akan ada hubungan perkawinan antara perempuan-perempuan yang sudah beriman dengan suami-suami mereka yang masih kafir dan berada di daerah kafir.
Akad perkawinan mereka tidak berlaku lagi sejak sang istri masuk Islam.
Sebaliknya jika yang pergi ke daerah kafir itu adalah istri-istri yang beriman kemudian ia menjadi kafir, kaum Muslimin diperintahkan untuk membiarkan mereka pergi.
Akan tetapi, mereka harus mengembalikan barang-barang yang pernah diberikan suaminya yang Muslim.


Semua yang disebutkan itu adalah hukumhukum Allah yang wajib ditaati oleh setiap orang yang menghambakan diri kepada-Nya, karena dalam menetapkan hukum-Nya, Allah Maha Mengetahui kesanggupan hamba yang akan memikul hukum itu dan mengetahui sesuatu yang paling baik dilakukan oleh hamba-hamba-Nya.
Dalam menetapkan hukum itu, Allah juga mengetahui faedah dan akibat menetapkan hukum serta keserasian hukum itu bagi yang memikulnya.

Tafsir QS. Al Mumtahanah (60) : 10. Oleh Muhammad Quraish Shihab:


Wahai orang-orang Mukmin, apabila wanita-wanita yang beriman berhijrah mendatangi kalian, maka ujilah mereka untuk mengetahui kebenaran iman mereka.
Allah lebih mengetahui hakikat keimanan mereka.


Jika kalian telah yakin bahwa mereka itu benar-benar beriman, maka jangan kalian kembalikan mereka kepada suami-suami mereka yang kafir.
Sebab, wanita-wanita yang beriman tidak halal bagi orang-orang kafir.


Demikian pula sebaliknya.
Berikanlah kepada para suami yang kafir itu mahar yang mereka telah bayar kepada istri-istri mereka yang berhijrah kepada kalian.


Tiada dosa bagi kalian untuk mengawini wanita-wanita tersebut selama kalian membayar mahar mereka.
Janganlah kalian berpegang teguh pada tali perkawinan dengan wanita-wanita kafir yang tetap atau akan berbuat kufur.


Mintalah mahar yang telah kalian bayar untuk wanita-wanita yang menyusul berbuat kufur kepada orang-orang kafir.
Dan hendaknya mereka juga meminta mahar yang telah mereka berikan kepada istri-istri mereka yang berhijrah.


Ketentuan itu adalah hukum Allah yang diberlakukan untuk kalian.
Allah Mahatahu segala maslahat hamba-Nya lagi Mahabijak dalam memberlakukan hukum.

Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:


Wahai orang-orang yang beriman kepada Allah dan mengikuti rasul-Nya, jika perempuan-perempuan yang beriman dari negeri kafir berhijrah ke negeri Islam, hendaklah kalian uji keimanan mereka sehingga tampak jelas keimanan mereka.
Allah lebih mengetahui keimanan mereka yang sesungguhnya.


Jika kalian telah mengetahui tanda-tanda zahir bahwa mereka benar-benar beriman, janganlah kalian kembalikan mereka kepada suami mereka yang kafir.
Wanita-wanita mukmin tidak halal untuk menikah dengan orang kafir dan orang-orang kafir itu tidak boleh menikahi wanita-wanita mukmin.


Berikan kepada suami-suami mereka mahar yang telah mereka bayar.
Tidaklah dosa atas kalian untuk mengawini mereka jika kalian telah membayarkan kepada mereka maharnya.


Janganlah kalian tetap berpegang pada ikatan perkawinan dengan perempuan-perempuan kafir dan mintalah kalian mahar yang telah kalian bayarkan kepada mantan istri kalian yang keluar dari Islam.
Demikian pula berikanlah mahar yang telah mereka bayar kepada mantan istri mereka yang telah masuk Islam.


Yang demikian itu adalah hukum Allah yang dijelaskan di dalam ayat-Nya, yaitu hukum Allah yang diberlakukan di antara kalian maka janganlah kalian berpaling.
Allah Maha Mengetahui.


tidak ada sesuatu yang tersembunyi dari-Nya.
Allah Mahabijaksana dalam firman dan perbuatan-Nya.

Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:



(Hai orang-orang yang beriman, apabila datang kepada kalian perempuan-perempuan yang beriman) secara lisannya


(untuk berhijrah) dari orang-orang kafir sesudah kalian mengadakan perjanjian perdamaian dengan orang-orang kafir dalam perjanjian Hudaibiah, yaitu bahwa barang siapa yang datang kepada orang-orang mukmin dari kalangan mereka, maka orang itu harus dikembalikan lagi kepada mereka


(maka hendaklah kalian uji mereka) melalui sumpah, yaitu bahwa sesungguhnya mereka sekali-kali tidak keluar meninggalkan kampung halamannya melainkan karena senang kepada Islam, bukan karena benci terhadap suami mereka yang kafir, dan bukan pula karena mencintai orang-orang lelaki dari kalangan kaum muslimin.
Demikianlah isi sumpah yang dilakukan oleh Nabi ﷺ kepada perempuan-perempuan itu


(Allah telah mengetahui tentang keimanan mereka, maka jika kalian telah mengetahui, bahwa mereka) yakni kalian menduga melalui sumpah yang telah mereka ucapkan, bahwa mereka


(benar-benar beriman maka janganlah kalian kembalikan mereka) janganlah kalian mengembalikan mereka


(kepada orang-orang kafir.
Mereka tidak halal bagi orang-orang kafir itu dan orang-orang kafir itu tiada halal pula bagi mereka.
Dan berikanlah kepada mereka) yakni kembalikanlah kepada orang-orang kafir yang menjadi suami mereka


(mahar yang telah mereka bayar) kepada perempuan-perempuan mukmin itu.


(Dan tiada dosa atas kalian mengawini mereka) dengan syarat


(apabila kalian bayar kepada mereka maharnya) maskawinnya.


(Dan janganlah kalian tetap berpegang) dapat dibaca tumsikuu, dan tumassikuu yakni dengan memakai tasydid dan tanpa tasydid


(pada tali perkawinan dengan perempuan-perempuan kafir) yakni istri-istri kalian yang kafir, karena keislaman kalian telah memutuskannya dari kalian berikut syarat-syaratnya.
Atau perempuan-perempuan yang menyusul atau mengikuti orang-orang musyrik dalam keadaan murtad, karena kemurtadannya telah memutuskan tali perkawinan mereka dengan kalian, berikut syarat-syaratnya


(dan hendaklah kalian minta) hendaklah kalian tuntut


(apa yang telah kalian nafkahkan) kepada mereka yaitu maharmahar yang telah kalian bayar kepada mereka, berupa pengembalian dari orang-orang kafir yang mengawini mereka


(dan hendaklah mereka meminta mahar yang telah mereka bayar) kepada perempuan-perempuan yang ikut berhijrah, sebagaimana penjelasan yang telah lalu yaitu bahwasanya kaum musliminlah yang membayarkannya.


(Demikianlah hukum Allah yang ditetapkan-Nya di antara kalian) untuk kalian laksanakan.


(Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana).

Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:


Dalam surat Al-Fath yang lalu telah disebutkan mengenai gencatan senjata Hudaibiyah yang telah ditandatangani oleh Rasulullah ﷺ dan orang-orang kafir Quraisy.
Di dalam perjanjian tersebut tertuangkan naskah berikut, yang antara lain tidak boleh datang kepada engkau seseorang dari kalangan kami walaupun dia seagama dengan engkau, melainkan engkau harus mengembalikannya kepada kami.
Menurut riwayat lain, sesungguhnya tidak boleh ada seseorang dari kami datang kepadamu, sekalipun dia berada dalam agamamu, melainkan kamu harus mengembalikannya kepada kami.
Demikianlah menurut pendapat Urwah, Ad-Dahhak, Abdur Rahman ibnu Zaid, Az-Zuhri, Muqatil ibnu Hayyan, dan As-Saddi.


Berdasarkan riwayat ini berarti ayat ini men-takhsis sunnah, dan ini merupakan contoh yang terbaik tentang hal tersebut.


Tetapi sebagian ulama Salaf menyebutnya me-mansukh sunnah.
Karena sesungguhnya Allah telah memerintahkan kepada hamba-hamba-Nya yang beriman, bahwa apabila datang kepada mereka wanita-wanita yang berhijrah, hendaklah terlebih dahulu mereka menguji keimanan wanita-wanita yang baru tiba itu.
Jika ternyata wanita-wanita itu mereka ketahui beriman, maka janganlah mereka mengembalikan wanita-wanita yang baru hijrah itu kepada suami-suami mereka yang masih kafir;
wanita-wanita itu tidak halal bagi suami mereka, dan suami mereka tidak halal bagi wanita-wanita itu.

Kami telah menyebutkan dalam biografi Abdullah ibnu Ahmad ibnu Jahsy, bagian dari Musnad Kabir-nya, melalui jalur Abu Bakar ibnu Abu Asim, dari Muhammad ibnu Yahya Az-Zahali, dari Ya’qub ibnu Muhammad, dari Abdul Aziz ibnu Imran, dari Majma’ ibnu Ya’qub, dari Hanin ibnu Abu Abanah, dari Abdullah ibnu Abu Ahmad yang menceritakan bahwa Ummu Kalsum binti Uqbah ibnu Abu Mu’it hijrah ke Madinah, maka kedua saudara lelakinya (yaitu Imarah dan Al-Walid) menyusulnya hingga keduanya sampai kepada Rasulullah ﷺ Maka keduanya berbicara kepada Rasulullah ﷺ mengenai Ummu Kalsum dan meminta agar Nabi ﷺ mengembalikannya kepada keduanya.
Maka Allah subhanahu wa ta’ala merusak perjanjian yang telah ada di antara Nabi ﷺ dan kaum musyrik dalam pasal yang berkenaan dengan kaum wanita secara khusus.
Maka Allah melarang kaum mukmin mengembalikan wanita-wanita yang beriman kepada orang-orang musyrik, dan untuk itu Allah subhanahu wa ta’ala menurunkan ayat ujian ini.

Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abu Kuraib, telah menceritakan kepada kami Yunus ibnu Bukair, dari Qais ibnurRabi’, dari Al-Agar ibnusSabbah, dari Khalifah ibnu Husain, dari AbuNasr Al-Asadi yang mengatakan bahwa Ibnu Abbas pernah ditanya tentang cara Rasulullah ﷺ menguji wanita-wanita yang berhijrah itu.
Maka Ibnu Abbas menjawab, bahwa Nabi ﷺ menguji mereka dengan pertanyaan ‘tiadalah seseorang dari mereka keluar karena benci kepada suami,’ lalu disumpah untuk itu.
Disumpah pula bahwa hendaknya keluarnya dia bukan karena mau pindah dari satu tempat ke tempat yang lain.
Juga disumpah dengan nama Allah bahwa ia keluar bukan untuk mencari dunia.
Dan disumpah pula bahwa hendaknya ia keluar bukan karena dorongan apa pun, melainkan hanya karena cinta kepada Allah dan Rasul-Nya.

Kemudian Abdullah ibnu Ahmad ibnu Jahsy meriwayatkannya pula melalui jalur lain, dari Al-Agar ibnus Sabbah dengan sanad yang sama.
Hal yang sama telah diriwayatkan oleh Al-Bazzar melalui jalurnya, dan disebutkan di dalamnya bahwa yang menyumpah mereka atas perintah Rasulullah ﷺ adalah Umar ibnul Khattab.

Al-Aufi telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas sehubungan dengan makna firman Allah subhanahu wa ta’ala:
Hai orang-orang yang beriman, apabila datang berhijrah kepadamu perempuan-perempuan yang beriman, maka hendaklah kamu uji (keimanan) mereka.
(QS. Al-Mumtahanah [60]: 10)
Disebutkan bahwa ujian mereka ialah disuruh mengucapkan kalimat tasyahud, yaitu kesaksian bahwa tiada Tuhan yang berhak disembah selain Allah dan Muhammad adalah hamba dan Rasul-Nya.

Mujahid mengatakan sehubungan dengan firman-Nya:
maka hendaklah kamu uji (keimanan) mereka.
(QS. Al-Mumtahanah [60]: 10)
Yakni tanyailah mereka tentang dorongan yang menyebabkan mereka datang ke negeri hijrah.
Apabila dorongan kedatangan mereka karena benci kepada suami mereka atau marah kepada suami mereka atau alasan lainnya, sedangkan mereka tidak beriman, maka kembalikanlah mereka kepada suami-suaminya masing-masing.

Ikrimah mengatakan bahwa dikatakan kepada seseorang dari mereka,
"Bukankah engkau datang hanyalah karena cinta kepada Allah dan Rasul-Nya.
Bukankah engkau datang karena menyukai seseorang lelaki di antara kami, bukankah engkau datang karena benci terhadap suamimu?"
Itulah yang di maksud oleh firman-Nya:
maka hendaklah kamu uji (keimanan) mereka.
(QS. Al-Mumtahanah [60]: 10)

Qatadah mengatakan bahwa ujian mereka ialah disuruh bersumpah dengan nama Allah, bahwa mereka keluar bukan karena benci terhadap suami mereka, dan mereka datang tiada lain hanyalah karena cinta kepada Islam dan para pemeluknya serta menaruh perhatian yang besar kepada Islam.
Apabila mereka mau mengucapkan sumpah itu, barulah mereka diterima.

Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

maka jika kamu telah mengetahui bahwa mereka (benar-benar) beriman, maka janganlah kamu kembalikan mereka kepada (suami-suami mereka) orang-orang kafir.
(QS. Al-Mumtahanah [60]: 10)

Dalam ayat ini terkandung dalil yang menunjukkan bahwa iman itu dapat dilihat secara yakin.

Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

Mereka tiada halal bagi orang-orang kafir itu, dan orang-orang kafir itu tiada halal pula bagi mereka.
(QS. Al-Mumtahanah [60]: 10)

Ayat ini mengandung hukum yang mengharamkan wanita muslimah bagi lelaki musyrik, pada masa permulaan Islam masih diperbolehkan seorang lelaki musyrik kawin dengan wanita mukminah.
Peristiwa ini dialami oleh Abul As ibnur Rabi’ (suami putri Nabi ﷺ yang bernama Zainab r.a.).
Zainab r.a. adalah wanita muslimah, sedangkan suaminya masih tetap berpegang pada agama kaumnya.
Ketika Abul As menjadi tawanan Perang Badar, maka istrinya (Zainab r.a.) mengirimkan tebusan untuk suaminya berupa sebuah kalung yang dahulunya adalah milik ibunya, Siti Khadijah.
Ketika Rasulullah ﷺ melihat kalung itu, luluhlah hatinya dan berbalik menjadi sayang.
Lalu beliau bersabda kepada kaum muslim:
Jika kalian berpendapat akan melepaskan tawanannya demi dia, maka lakukanlah.

Maka mereka menerima tebusan itu, dan Rasulullah ﷺ membebaskannya dengan syarat hendaknya Abul As mengirimkan putri beliau ke Madinah.
Abul As memenuhi janjinya dengan tepat, untuk itu ia mengirimkan istrinya kepada Rasulullah ﷺ disertai dengan Zaid ibnu Harisah r.a. Sejak Perang Badar usai, Zainab r.a. tinggal di Mekah, hal ini terjadi di tahun kedua Hijriah, hingga suaminya (yaitu Abul As) masuk Islam pada tahun delapan Hijriah.
Maka Rasulullah ﷺ mengembalikan putrinya kepadanya atas dasar nikah yang pertama, dan tidak meminta mahar lagi untuk pengembalian itu.

Imah Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ya’qub, telah menceritakan kepada kami Ibnu Ishaq, telah menceritakan kepada kami Daud ibnul Husain, dari Ikrimah, dari Ibnu Abbas, bahwa Rasulullah ﷺ mengembalikan putrinya Zainab kepada Abul As.
Hijrah yang dilakukan oleh Zainab adalah sebelum suaminya masuk Islam dalam tenggang masa enam tahun, pengembalian tersebut berdasarkan nikah yang pertama dan tidak memerlukan lagi persaksian ataupun mahar.

Hadis ini telah diriwayatkan pula oleh Abu Daud, Turmuzi, dan Ibnu Majah.
Di antara ulama ada yang mengatakan bahwa tenggang masa itu hanyalah dua tahun, dan inilah pendapat yang benar, karena masuk Islamnya Abul As sesudah kaum muslimat diharamkan bagi kaum musyrik, yakni dua tahun sesudahnya.

Imam Turmuzi memberikan komentarnya, bahwa sanad riwayat ini tidak mengandung kelemahan.
Tetapi menurutnya, dia tidak mengenal jalur periwayatan hadis ini, barangkali bersumber dari hafalan Daud ibnul Husain.

Imam Turmuzi mengatakan bahwa ia pernah mendengar Abdu ibnu Humaid mengatakan bahwa ia pernah mendengar Yazid ibnu Harun menceritakan hadis ini dari Ishaq, dan hadis Ibnul Hajjaj (yakni Ibnu Artah), dari Amr ibnu Syu’aib, dari ayahnya, dari kakeknya, bahwa Rasulullah ﷺ mengembalikan putrinya kepada Abul As ibnur Rabi’ dengan mahar yang baru dan nikah yang baru.


Yazid mengatakan bahwa hadis Ibnu Abbas lebih baik sanadnya, dan yang diberlakukan adalah hadis Amr ibnu Syu’aib.
Kemudian kami memberikan komentar, bahwa telah diriwayatkan pula hadis Al-Hajjaj ibnu Artah, dari Amr ibnu Syu’aib oleh Imam Ahmad, Imam Turmuzi, dan Ibnu Majah.
Imam Ahmad menilainya daif, dan imam ahli hadis lainnya turut meriwayatkannya pula;
hanya Allah-lah Yang Maha Mengetahui.

Jumhur ulama menjawab tentang hadis Ibnu Abbas (yang menyatakan atas dasar nikah yang pertama), bahwa hal tersebut merupakan masalah yang sudah jelas dan mengandung pengertian bahwa Zainab r.a. masih belum habis idahnya dari Abul As.
Mengingat pendapat yang dipegang oleh kebanyakan ulama menyebutkan bahwa manakala idahnya telah habis, sedangkan suaminya masih juga belum masuk Islam, maka otomatis nikahnya fasakh darinya.
Ulama lainnya mengatakan bahwa bahkan apabila idahnya telah habis, maka si istri diperbolehkan memilih:
Jika ingin tetap dengan suaminya diperbolehkan dan nikahnya tetap berlangsung (utuh);
dan jika ingin pisah dengan suaminya, maka nikahnya fasakh, lalu ia boleh kawin dengan lelaki lain.
Mereka menakwilkan hadis Ibnu Abbas dengan pengertian ini;
hanya Allah-lah Yang Maha Mengetahui.

Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

Dan berikanlah kepada (suami-suami) mereka mahar yang telah mereka bayar.
(QS. Al-Mumtahanah [60]: 10)

Yakni kepada para suami wanita-wanita yang berhijrah dari kalangan kaum musyrik.
Dengan kata lain, dapat disebutkan bahwa kembalikanlah kepada mereka mahar yang pernah mereka bayarkan kepada istri-istri mereka.
Demikianlah menurut Ibnu Abbas, Mujahid, Qatadah, Az-Zuhri, dan lain-lainnya yang bukan hanya seorang.

Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

Dan tiada dosa atasmu mengawini mereka apabila kamu bayar kepada mereka maharnya.
(QS. Al-Mumtahanah [60]: 10)

Yaitu apabila kamu telah membayar kepada mereka maharnya, maka kamu boleh mengawininya.
Tetapi dengan persyaratannya, yaitu habisnya masa idah, memakai Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

Dan janganlah kamu tetap berpegang pada tali (perkawinan) dengan perempuan-perempuan kafir.
(QS. Al-Mumtahanah [60]: 10)

Allah subhanahu wa ta’ala mengharamkan hamba-hamba-Nya yang mukmin menikahi wanita-wanita musyrik dan tetap memelihara ikatan perkawinan dengan mereka.

Di dalam kitab sahih disebutkan dari Az-Zuhri, dari Urwah, dari Al-Miswar dan Marwan ibnul Hakam, bahwa Rasulullah ﷺ setelah mengadakan perjanjian gencatan senjata dengan orang-orang kafir Quraisy di Hudaibiyah, maka datanglah kepada Nabi ﷺ kaum wanita mereka yang mukminat.
Lalu Allah subhanahu wa ta’ala menurunkan firman-Nya:

Hai orang-orang yang beriman, apabila datang berhijrah kepadamu perempuan-perempuan yang beriman.
(QS. Al-Mumtahanah [60]: 10)

sampai dengan firman-Nya:

Dan janganlah kamu tetap berpegangpada tali (perkawinan) dengan perempuan-perempuan kafir.
(QS. Al-Mumtahanah [60]: 10)

Maka Umar ibnul Khattab di hari itu menceraikan dua orang istrinya;
yang salah seorangnya kemudian dinikahi oleh Mu’awiyah ibnu Abu Sufyan, sedangkan yang lainnya dinikahi oleh Safwan ibnu Umayyah.

Ibnu Saur telah meriwayatkan dari Ma’mar, dari Az-Zuhri, bahwa ayat ini diturunkan kepada Rasulullah ﷺ Saat itu Rasulullah ﷺ berada di bagian bawah Hudaibiyah sedang mengadakan perjanjian perdamaian dengan orang-orang kafir Quraisy.
Isi dari perjanjian itu antara lain menyebutkan bahwa barang siapa yang datang kepada Nabi ﷺ dari kalangan mereka, maka Nabi ﷺ harus mengembalikannya kepada mereka.
Tetapi ketika yang datang adalah kaum wanita yang beriman, maka turunlah ayat ini dan Nabi ﷺ diperintahkan oleh Allah agar mengembalikan mahar mereka kepada suami-suami mereka.
Diputuskan pula terhadap kaum musyrik hal yang semisal, yaitu bahwa apabila datang kepada mereka seorang wanita dari kaum muslim, hendaklah mereka mengembalikan maharnya kepada suami wanita itu.


Dan Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

Dan janganlah kamu tetap berpegang pada tali (perkawinan) dengan perempuan-perempuan kafir.
(QS. Al-Mumtahanah [60]: 10)

Hal yang sama telah dikatakan oleh Abdur Rahman ibnu Zaid ibnu Aslam.
Ia mengatakan bahwa sesungguhnya Allah memutuskan demikian di antara mereka hanyalah karena mengingat telah adanya perjanjian tersebut antara orang-orang muslim dan orang-orang musyrik.

Muhammad ibnu Ishaq telah meriwayatkan dari Az-Zuhri bahwa pada hari turunnya ayat ini Umar r.a. menceraikan Qaribah binti Abu Umayyah ibnul Mugirah yang kemudian dinikahi oleh Mu’awiyah, dan Ummu Kalsum binti Amr ibnu Jarwal Al-Khuza’iyah ibunya Abdullah ibnu Umar, lalu dikawin oleh Abu Jahm ibnu Huzaifah ibnu Ganim, seorang lelaki dari kalangan kaumnya.
Umar melakukan demikian karena keduanya masih dalam kemusyrikannya.
Dan Talhah ibnu Abdullah menceraikan Arwa binti Rabi’ah ibnul Haris ibnu Abdul Muttalib.
kemudian ia dikawin oleh Khalid ibnu Sa’id ibnul As sesudahnya.

Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

dan hendaklah kamu minta mahar yang telah kamu bayar;
dan hendaklah mereka meminta mahar yang telah mereka bayar.
(QS. Al-Mumtahanah [60]: 10)

Yakni tuntutlah mahar yang telah kamu bayarkan kepada istri-istri kamu yang pergi kepada orang-orang kafir, jika istri-istrimu itu pergi meninggalkanmu menuju kepada mereka.
Dan sebaliknya hendaklah mereka menuntut mahar yang telah mereka bayarkan kepada istri-istri mereka yang berhijrah kepada kaum muslim.

Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

Demikianlah hukum Allah yang ditetapkan-Nya di antara kamu.
(QS. Al-Mumtahanah [60]: 10)

Yaitu dalam perjanjian perdamaian, dan pengecualian kaum wanita dari perjanjian tersebut.
Perintah demikian itu semuanya adalah hukum Allah, yang berdasarkan ketentuan ini Dia menghukumi di antara makhluk-Nya.

Dan Allah Maha Mengetahui lagi Mahabijaksana.
(QS. Al-Mumtahanah [60]: 10)

Allah Maha Mengetahui tentang kemaslahatan hamba-hamba-Nya, lagi Mahabijaksana dalam mengatur kemaslahatan hamba-hamba-Nya.

Sebab-Sebab Diturunkannya Surah Al Mumtahanah (60) Ayat 10

Diriwayatkan oleh asy-Syaikhaan (al-Bukhari dan Muslim) yang bersumber dari al-Miswar dan Marwan bin al-Hakam bahwa setelah Rasulullah ﷺ membuat perjanjian Hudaibiyah dengan kaum kafir Quraisy, datanglah wanita-wanita Mu’minat dari Mekah.
Maka turunlah ayat ini (al-Mumtahanah: 10) yang memerintahkan untuk menguji dulu wanita-wanita yang hijrah itu, dan setelah jelas keimanan mereka, tidak boleh dikembalikan ke Mekah.

Diriwayatkan oleh ath-Thabarani dengan sanad yang lemah, yang bersumber dari ‘Abdullah bin Abi Ahmad bahwa setelah Rasulullah ﷺ membuat perjanjian Hudaibiyah, Ummu Kaltsum binti ‘Uqbah bin Abi Mu’aith berhijrah dari Mekah ke Madinah.
Kedua saudaranya yang bernama ‘Imarah bin ‘Uqbah dan al-Walid bin ‘Uqbah menyusul Ummu Kaltsum (saudaranya) hingga sampai kepada Rasulullah ﷺ Keduanya meminta agar Ummu Kaltsum diserahkan kembali kepada mereka.
Dengan turunnya ayat ini (al-Mumtahanah: 10) Allah membatalkan perjanjian Rasulullah dengan kaum musyrikin, khusus tentang wanita-wanit, yaitu melarang kaum wanita beriman dikembalikan kepada kaum musyrikin.

Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim yang bersumber dari Yazid bin Abi Habib bahwa ayat ini (al-Mumtahanah: 10) turun berkenaan dengan kisah Umaimah binti Basyr, istri Abu Hassan ad-Dahdahah, yang hijrah dari Mekah ke Madinah setelah Perjanjian Hudaibiyah.

Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim yang bersumber dari Muqatil bahwa Sa’idah, istri Shaifi bin ar-Rahib, hijrah dari Mekah ke Madinah meninggalkan suaminya yang musyrik.
Ia berhijrah setelah perjanjian Hudaibiyyah.
Kaum Quraisy menuntut pengembaliannya.
Dengan turunnya ayat ini (al-Mumtahanah: 10), Sa’idah tidak dikembalikan.

Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir yang bersumber dari az-Zuhri bahwa az-Zuhri menghadap Rasulullah ﷺ yang sedang berada di lembah Hudaibiyyah.
Pada waktu itu Rasulullah ﷺ sedang membuat perjanjian Hudaibiyyah yang isinya antara lain: Barang siapa yang melarikan diri ke Madinah, hendaknya dikembalikan ke Mekah.
Akan tetapi ketika wanita-wanita (yang sudah Islam) melarikan diri ke pihak Mukminin, turunlah ayat ini (al-Mumtahanah: 10) yang melarang mengembalikan Mukminat ke Mekah.

Diriwayatkan oleh Ibnu Mani’ dari al-Kalbi, dari Abu Shalih yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas bahwa ‘Umar bin al-Khaththab masuk Islam, akan tetapi istrinya masih mengikuti kaum musyrikin.
Maka turunlah ayat ini (al-Mumtahanah: 10) yang melarang kaum Mukminin berpegang pada perkawinan dengan wanita kafir.

Sumber : Asbabun Nuzul – K.H.Q Shaleh – H.A.A Dahlan dkk.

Unsur Pokok Surah Al Mumtahanah (الممتحنة)

Surat Al-Mumtahanah terdiri atas 13 ayat, termasuk golongan surat-surat Madaniyyah, diturunkan sesudah surat Al-Ahzab.

Dinamai "Al Mumtahanah" (wanita yang diuji), diambil dari kata "Famtahinuuhunna" yang berarti "maka ujilah rnereka",
yang terdapat pada ayat 10 surat ini.

Hukum:

▪ Larangan mengadakan hubungan persahabatan dengan orang-orang kafir yang memusuhi Islam, sedang dengan orang-orang kafir yang tidak memusuhi Islam boleh mengadakan persahabatan.
Hukum perkawinan bagi orang-orang yang pindah agama.

Kisah:

▪ Kisah Ibrahim `alaihis salam bersama kaumnya sebagai contoh dan teladan bagi orang-orang mukmin.

Audio

QS. Al-Mumtahanah (60) : 1-13 ⊸ Misyari Rasyid Alafasy
Ayat 1 sampai 13 + Terjemahan Indonesia

QS. Al-Mumtahanah (60) : 1-13 ⊸ Nabil ar-Rifa’i
Ayat 1 sampai 13

Gambar Kutipan Ayat

Surah Al Mumtahanah ayat 10 - Gambar 1 Surah Al Mumtahanah ayat 10 - Gambar 2
Statistik QS. 60:10
  • Rating RisalahMuslim
4.9

Ayat ini terdapat dalam surah Al Mumtahanah.

Surah Al-Mumtahanah (bahasa Arab:الممتحنة, “Perempuan Yang Diuji”) adalah surah ke-60 dalam Alquran.
Surah ini tergolong surah Madaniyah dan terdiri atas 13 ayat.
Dinamakan Al Mumtahanah yang berarti Wanita yang diuji di ambil dari kata “Famtahinuuhunna” yang berarti maka ujilah mereka, yang terdapat pada ayat 10 surat ini.

Nomor Surah60
Nama SurahAl Mumtahanah
Arabالممتحنة
ArtiWanita yang diuji
Nama lainAl-Imtihān, Al-Mawaddah
Tempat TurunMadinah
Urutan Wahyu91
JuzJuz 28
Jumlah ruku’2 ruku’
Jumlah ayat13
Jumlah kata325
Jumlah huruf1560
Surah sebelumnyaSurah Al-Hasyr
Surah selanjutnyaSurah As-Saff
Sending
User Review
4.9 (15 votes)
Tags:

60:10, 60 10, 60-10, Surah Al Mumtahanah 10, Tafsir surat AlMumtahanah 10, Quran Al-Mumtahanah 10, Surah Al Mumtahanah ayat 10

Keluarga Anda ada yang belum mahir membaca Alquran? Ingin segera bisa?
Klik di sini sekarang!

Video


Panggil Video Lainnya

Ayat Lainnya

QS. An Naml (Semut) – surah 27 ayat 50 [QS. 27:50]

50. Allah menceritakan tentang perilaku jahat mereka. Dan mereka membuat tipu daya terhadap Nabi Saleh dan keluarganya dan Kami pun menyusun tipu daya dengan menghancurkan mereka, sebagai balasan atas … 27:50, 27 50, 27-50, Surah An Naml 50, Tafsir surat AnNaml 50, Quran An-Naml 50, Surah An Naml ayat 50

Hadits Shahih

Podcast

Hadits & Doa

Soal & Pertanyaan Agama

Siapakah nabi yang lebih memilih ilmu daripada harta?

Benar! Kurang tepat!

Sebagai perumpamaan orang yang mengajak berbuat baik, tetapi dirinya sendiri tidak melakukan adalah ...

Benar! Kurang tepat!

Ilmuan muslim yang dalam bidang kedokteran yang berasal dari Persia yaitu ...

Benar! Kurang tepat!

+

Array

وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ,

potongan ayat di atas terdapat pada Alquran surah ...

Benar! Kurang tepat!

Penjelasan:
وَٱلَّذِينَ أُوتُوا۟ ٱلْعِلْمَ دَرَجَٰتٍ ۚ وَٱللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ

Allah akan meninggikan derajat orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.
--QS. Al Mujadalah [58] : 11

Berikut kedudukan orang yang menuntut ilmu, kecuali ...

Benar! Kurang tepat!

Pendidikan Agama Islam #29
Ingatan kamu cukup bagus untuk menjawab soal-soal ujian sekolah ini.

Pendidikan Agama Islam #29 1

Mantab!! Pertahankan yaa..
Jawaban kamu masih ada yang salah tuh.

Pendidikan Agama Islam #29 2

Belajar lagi yaa...

Bagikan Prestasimu:

Soal Lainnya

Pendidikan Agama Islam #5

Lawan kata dari jujur ​​adalah … kebohongan ajur riya’ muslihat takwa Benar! Kurang tepat! Berikut ini, yang tidak mengandung moral

Pendidikan Agama Islam #7

Sumber hukum tertinggi dalam Islam adalah .. Sunnah Ijtihad UUD 1945 Qiyas Alquran Benar! Kurang tepat! Hukum yang berkaitan dengan

Pendidikan Agama Islam #24

Allah Subhanahu Wa Ta`ala Melihat semua apa yang di lakukan oleh hambanya, karena Allah bersifat … العظيم البصير العظيم العدل

Instagram