Keluarga Anda ada yang belum mahir membaca Alquran? Ingin segera bisa? Klik di sini sekarang!

QS. Al Mumtahanah (Wanita yang diuji) – surah 60 ayat 1 [QS. 60:1]

یٰۤاَیُّہَا الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا لَا تَتَّخِذُوۡا عَدُوِّیۡ وَ عَدُوَّکُمۡ اَوۡلِیَآءَ تُلۡقُوۡنَ اِلَیۡہِمۡ بِالۡمَوَدَّۃِ وَ قَدۡ کَفَرُوۡا بِمَا جَآءَکُمۡ مِّنَ الۡحَقِّ ۚ یُخۡرِجُوۡنَ الرَّسُوۡلَ وَ اِیَّاکُمۡ اَنۡ تُؤۡمِنُوۡا بِاللّٰہِ رَبِّکُمۡ ؕ اِنۡ کُنۡتُمۡ خَرَجۡتُمۡ جِہَادًا فِیۡ سَبِیۡلِیۡ وَ ابۡتِغَآءَ مَرۡضَاتِیۡ ٭ۖ تُسِرُّوۡنَ اِلَیۡہِمۡ بِالۡمَوَدَّۃِ ٭ۖ وَ اَنَا اَعۡلَمُ بِمَاۤ اَخۡفَیۡتُمۡ وَ مَاۤ اَعۡلَنۡتُمۡ ؕ وَ مَنۡ یَّفۡعَلۡہُ مِنۡکُمۡ فَقَدۡ ضَلَّ سَوَآءَ السَّبِیۡلِ
Yaa ai-yuhaal-ladziina aamanuu laa tattakhidzuu ‘aduu-wii wa’aduu-wakum auliyaa-a tulquuna ilaihim bil mawaddati waqad kafaruu bimaa jaa-akum minal haqqi yukhrijuunar-rasuula wa-ii-yaakum an tu’minuu billahi rabbikum in kuntum kharajtum jihaadan fii sabiilii waabtighaa-a mardhaatii tusirruuna ilaihim bil mawaddati wa-anaa a’lamu bimaa akhfaitum wamaa a’lantum waman yaf’alhu minkum faqad dhalla sawaa-assabiil(i);
Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu menjadikan musuh-Ku dan musuhmu sebagai teman-teman setia sehingga kamu sampaikan kepada mereka (berita-berita Muhammad), karena rasa kasih sayang;
padahal mereka telah ingkar kepada kebenaran yang disampaikan kepadamu.
Mereka mengusir Rasul dan kamu sendiri karena kamu beriman kepada Allah, Tuhanmu.
Jika kamu benar-benar keluar untuk berjihad pada jalan-Ku dan mencari keridaan-Ku (janganlah kamu berbuat demikian).
Kamu memberitahukan secara rahasia (berita-berita Muhammad) kepada mereka, karena rasa kasih sayang, dan Aku lebih mengetahui apa yang kamu sembunyikan dan apa yang kamu nyatakan.
Dan barangsiapa di antara kamu yang melakukannya, maka sungguh, dia telah tersesat dari jalan yang lurus.

―QS. Al Mumtahanah [60]: 1

O you who have believed, do not take My enemies and your enemies as allies, extending to them affection while they have disbelieved in what came to you of the truth, having driven out the Prophet and yourselves (only) because you believe in Allah, your Lord.
If you have come out for jihad in My cause and seeking means to My approval, (take them not as friends).
You confide to them affection, but I am most knowing of what you have concealed and what you have declared.
And whoever does it among you has certainly strayed from the soundness of the way.
― Chapter 60. Surah Al Mumtahanah [verse 1]

يَٰٓأَيُّهَا wahai

O you
ٱلَّذِينَ orang-orang yang

who
ءَامَنُوا۟ beriman

believe!
لَا janganlah

(Do) not
تَتَّخِذُوا۟ kamu mengambil/menjadikan

take
عَدُوِّى musuh-Ku

My enemies
وَعَدُوَّكُمْ dan musuhmu

and your enemies
أَوْلِيَآءَ penolong/sahabat

(as) allies
تُلْقُونَ kamu menemui/menyampaikan

offering
إِلَيْهِم kepada mereka

them
بِٱلْمَوَدَّةِ dengan kasih sayang

love
وَقَدْ dan sesungguhnya

while
كَفَرُوا۟ kafir/ingkar

they have disbelieved
بِمَا terhadap apa

in what
جَآءَكُم datang kepadamu

came to you
مِّنَ dari

of
ٱلْحَقِّ kebenaran

the truth,
يُخْرِجُونَ mereka mengusir

driving out
ٱلرَّسُولَ rasul

the Messenger
وَإِيَّاكُمْ dan kamu

and yourselves
أَن bahwa

because
تُؤْمِنُوا۟ kamu beriman

you believe
بِٱللَّهِ kepada Allah

in Allah,
رَبِّكُمْ Tuhan kalian

your Lord.
إِن jika

If
كُنتُمْ kalian adalah

you
خَرَجْتُمْ kamu keluar

come forth
جِهَٰدًا berjihad/berjuang/bekerja keras

(to) strive
فِى pada

in
سَبِيلِى jalan-Ku

My way

Tafsir

Alquran

Surah Al Mumtahanah
60:1

Tafsir QS. Al Mumtahanah (60) : 1. Oleh Kementrian Agama RI


Ayat ini memperingatkan kaum Muslimin agar tidak mengadakan hubungan kasih sayang dengan kaum musyrik yang menjadi musuh Allah dan kaum Muslimin.
Sebab, dengan adanya hubungan yang demikian itu, tanpa disadari mereka telah membukakan rahasia-rahasia kaum Muslimin, menyampaikan sesuatu yang akan dilaksanakan Rasulullah ﷺ kepada mereka dalam usaha menegakkan kalimat Allah.

Oleh karena itu, kaum Muslimin dilarang melakukan yang demikian sekalipun kepada kaum kerabatnya.


Menjadikan orang-orang kafir yang memusuhi kaum Muslimin sebagai teman setia dan penolong adalah suatu hal yang dilarang.

Hal ini tidak boleh dilakukan selama orang-orang kafir itu ingin menghancurkan agama Islam dan kaum Muslimin.

Allah kemudian menjelaskan penyebab larangan menjadikan orang-orang kafir sebagai teman setia, yaitu:


1. Mereka menyangkal dan tidak membenarkan semua yang dibawa Rasulullah.
Mereka ingkar kepada Allah, Rasul-Nya, dan Alquran.

Mungkinkah orang yang seperti itu dijadikan penolong-penolong dan teman setia?
Kemudian disampaikan kepada mereka rahasia-rahasia yang bermanfaat bagi mereka dan menimbulkan bahaya bagi kaum Muslimin?


2. Mereka telah mengusir Rasulullah ﷺ dan orang-orang Muhajirin dari kampung halaman mereka karena beriman kepada Allah, bukan karena sebab yang lain.


Ayat ini sama maksudnya dengan firman Allah:

وَمَا نَقَمُوْا مِنْهُمْ اِلَّآ اَنْ يُّؤْمِنُوْا بِاللّٰهِ الْعَزِيْزِ الْحَمِيْدِ

Dan mereka menyiksa orang-orang mukmin itu hanya karena (orang-orang mukmin itu) beriman kepada Allah Yang Mahaperkasa, Maha Terpuji. (al-Buruj [85]: 8)


Dan Firman Allah:

ۨالَّذِيْنَ اُخْرِجُوْا مِنْ دِيَارِهِمْ بِغَيْرِ حَقٍّ اِلَّآ اَنْ يَّقُوْلُوْا رَبُّنَا اللّٰهُ وَلَوْلَا دَفْعُ اللّٰهِ النَّاسَ بَعْضَهُمْ بِبَعْضٍ لَّهُدِّمَتْ صَوَامِعُ وَبِيَعٌ وَّصَلَوٰتٌ وَّمَسٰجِدُ يُذْكَرُ فِيْهَا اسْمُ اللّٰهِ كَثِيْرًا وَلَيَنْصُرَنَّ اللّٰهُ مَنْ يَّنْصُرُهٗ اِنَّ اللّٰهَ لَقَوِيٌّ عَزِيْزٌ

(Yaitu) orang-orang yang diusir dari kampung halamannya tanpa alasan yang benar, hanya karena mereka berkata,
"Tuhan kami ialah Allah.
"
Seandainya Allah tidak menolak (keganasan) sebagian manusia dengan sebagian yang lain, tentu telah dirobohkan biara-biara Nasrani, gereja-gereja, rumah-rumah ibadah orang Yahudi dan masjidmasjid, yang di dalamnya banyak disebut nama Allah.
Allah pasti akan menolong orang yang menolong (agama)-Nya.
Sungguh, Allah Mahakuat, Mahaperkasa.
(al-Hajj [22]: 40)


Allah memperingatkan kaum Muslimin bahwa jika mereka keluar dari kampung halaman atau terusir karena berjihad di jalan Allah dan mencari keridaan-Nya, maka janganlah sekali-kali menjadikan orang-orang kafir itu sebagai teman setia dan penolong-penolong mereka.
Cukuplah kaum Muslimin menderita akibat tindakan-tindakan mereka, dan jangan sekali-kali memberi kesempatan kepada mereka menambah penderitaan kaum Muslimin.
Bagaimana mungkin ada di antara kaum Muslimin melakukan seperti yang dilakukan hathib yang menyampaikan kepada orang-orang kafir langkah-langkah yang akan diambil Rasulullah dalam menghadapi orang-orang kafir?


Allah Mahatahu segala yang dilakukan hamba-hamba-Nya.
Oleh karena itu, Dia menyampaikan hal tersebut kepada Rasulullah, sehingga beliau segera dapat mengambil tindakan.
Dengan demikian, kaum Muslimin tidak dirugikan.


Pada akhir ayat ini ditegaskan bahwa barang siapa yang berkasih-kasihan dengan musuh Islam dan menjadikan mereka penolong-penolong, berarti ia telah menyimpang dari jalan yang lurus.

Tafsir QS. Al Mumtahanah (60) : 1. Oleh Muhammad Quraish Shihab:


Wahai orang-orang yang percaya kepada Allah dan rasul-Nya, Janganlah kalian menjadikan musuh- musuh-Ku dan musuh-musuh kalian sebagai penolong tempat kalian mencurahkan rasa cinta yang murni, sedangkan mereka mengingkari ajaran yang datang kepada kalian tentang keimanan kepada Allah, Rasul, dan kitab suci-Nya, serta mengusir Rasulullah bersama kalian dari kampung halaman, karena kalian beriman kepada Allah, Tuhan kalian! Jangan lakukan hal itu pada saat kalian pergi untuk berjuang di jalan-Ku dan mencari kerelaan-Ku! Kalian mempersembahkan rasa cinta secara diam-diam kepada mereka, padahal Aku mengetahui segala sesuatu yang kalian sembunyikan dan yang kalian perlihatkan.
Barangsiapa menjadikan musuh Allah sebagai teman, ia benar-benar telah tersesat dari jalan yang lurus. "

Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:


Wahai orang-orang yang beriman kepada Allah dan rasul-Nya serta melaksanakan syariat-Nya, janganlah kalian menjadikan musuh-musuh-Ku dan musuh-musuh kalian sebagai teman setia, lalu kalian saling berkasih sayang, lalu kalian bocorkan kepada mereka berita-berita tentang Muhammad dan kaum muslimin.
Padahal, mereka telah kafir terhadap kebenaran yang datang kepada kalian tentang keimanan kepada Allah dan kepada rasul-Nya dan yang diturunkan kepadanya, yaitu Al-Qur’an.


Mereka mengusir rasul dan kalian, wahai orang-orang mukmin dari Mekah karena kalian beriman kepada Allah, Tuhan kalian, dan bertauhid kepada-Nya.
Jika kalian benar-benar keluar untuk berjihad pada jalan-Ku dan mencari ridha-Ku, janganlah kalian memberitahukan secara rahasia berita-berita Muhammad kepada mereka karena sebab-sebab emosional.


Aku lebih mengetahui yang kalian sembunyikan dan yang kalian nyatakan.
Barang siapa di antara kalian melakukan hal itu, sungguh dia telah tersesat dari jalan kebenaran dan sesat dari jalan yang lurus.

Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:



(Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian mengambil musuh-Ku dan musuh kalian) yakni orang-orang kafir Mekah


(menjadi teman-teman setia yang kalian sampaikan) kalian beritakan


(kepada mereka) tujuan Nabi ﷺ yang akan memerangi mereka, Nabi memerintahkan kepada kalian supaya merahasiakannya yaitu sewaktu perang Hunain


(karena rasa kasih sayang) di antara kalian dan mereka.
Sehubungan dengan peristiwa ini Hathib bin Abu Balta’ah mengirimkan sepucuk surat kepada orang-orang musyrik, karena Hathib mempunyai beberapa orang anak dan sanak famili yang musyrik.
Akan tetapi Nabi ﷺ dapat mengambil surah itu dari tangan orang yang diutus olehnya, berkat pemberitahuan dari Allah kepada Nabi ﷺ melalui wahyu-Nya.
Lalu alasan dan permintaan maaf Hathib diterima oleh Nabi ﷺ


(padahal sesungguhnya mereka telah ingkar kepada kebenaran yang datang kepada kalian) yakni agama Islam dan Alquran


(mereka mengusir Rasul dan mengusir kalian) dari Mekah setelah terlebih dahulu mereka mengganggu kalian supaya kalian keluar dari Mekah


(karena kalian beriman) disebabkan kalian beriman


(kepada Allah, Rabb kalian.
Jika kalian benar-benar keluar untuk berjihad) untuk melakukan jihad


(pada jalan-Ku dan mencari keridaan-Ku) maka janganlah kalian mengambil mereka sebagai teman-teman setia.
Jawab syarat ini disimpulkan dari pengertian ayat yang selanjutnya, yaitu:


(Kalian memberitahukan secara rahasia kepada mereka, karena rasa kasih sayang.
Aku lebih mengetahui apa yang kalian sembunyikan dan apa yang kalian nyatakan.
Dan barang siapa di antara kalian yang melakukannya) yaitu memberitahukan berita-berita Nabi ﷺ kepada orang-orang musyrik secara rahasia


(maka sesungguhnya dia telah tersesat dari jalan yang lurus) artinya menyimpang dari jalan hidayah.
Lafal as-sawaa menurut pengertian asalnya berarti tengah-tengah.

Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:


Tersebutlah bahwa penyebab turunnya permulaan surat yang mulia ini berkaitan dengan kisah yang dialami oleh Hatib ibnu Abu Balta’ah.
Hatib adalah seorang lelaki dari kalangan Muhajirin dan juga termasuk ahli Badar (ikut dalam Perang Badar), dia mempunyai anak-anak dan juga harta yang ditinggalkannya di Mekah.
Dan dia sendiri bukan termasuk salah seorang dari kabilah Quraisy, melainkan dia hanyalah teman sepakta Usman.
Ketika Rasulullah ﷺ bertekad akan menaklukkan kota Mekah, karena penduduk Mekah merusak perjanjian yang telah disepakati, maka Nabi ﷺ memerintahkan kepada kaum muslim untuk membuat persiapan guna memerangi mereka, dan beliau ﷺ berdoa:
Ya Allah, umumkanlah kepada mereka berita kami ini.

Maka Hatib dengan sengaja menulis sepucuk surat ditujukan kepada orang-orang Quraisy melalui seorang wanita suruhannya.
Tujuannya ialah untuk memberitahukan kepada penduduk Mekah rencana yang akan dilakukan oleh Rasulullah ﷺ, yaitu memerangi mereka.
Ia lakukan demikian itu agar dirinya mendapat jasa di kalangan mereka.
Maka Allah memperlihatkan hal itu kepada Rasulullah ﷺ sebagai ijabah dari doanya, lalu beliau ﷺ mengirimkan beberapa orang utusan untuk mengejar wanita tersebut, kemudian surat itu diambil dari tangan si wanita, sebagaimana yang disebutkan kisahnya dalam hadis berikut yang telah disepakati kesahihannya.

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Sufyan, dari pamannya, telah menceritakan kepadaku Hasan ibnu Muhammad ibnu Ali, telah menceritakan kepadaku Abdullah ibnu Abu Rafi’.
Murrah mengatakan, sesungguhnya Ubaidillah ibnu Abu Rafi’ menceritakan kepadanya bahwa ia pernah mendengar Ali r.a. menceritakan hadis berikut, bahwa Rasulullah ﷺ pernah mengutusnya bersama Az-Zubair dan Al-Miqdad seraya berpesan:
Berangkatlah kalian bertiga menuju ke kebun Khakh, karena sesungguhnya di situ kalian akan berjumpa dengan seorang wanita dalam perjalanan.
Ia membawa surat, maka ambillah surat itu darinya.
Maka kami berangkat dengan memacu kuda kami hingga sampailah kami di kebun tersebut.
Ternyata di kebun itu kami menjumpai seorang wanita yang sedang dalam perjalanannya.
Maka kami perintahkan kepada wanita itu,
"Keluarkanlah surat itu!"
Wanita itu berkilah,
"Aku tidak membawa surat apa pun."
Kami berkata mengancam,
"Kamu harus serahkan kitab itu kepada kami atau kamu akan kami telanjangi."
Akhirnya wanita itu mengeluarkan surat tersebut dari gelung rambutnya, maka kami ambil kitab itu dan membawanya kepada Rasulullah ﷺ Ternyata isi surat tersebut dari Hatib ibnu Abu Balta’ah, ditujukan kepada sejumlah orang-orang musyrik di Mekah, memberitahukan kepada mereka rencana yang akan dilakukan oleh Rasulullah ﷺ Maka Rasulullah ﷺ bertanya,
"Hai Hatib, surat apakah ini?"
Hatib menjawab,
"Jangan engkau tergesa-gesa mengambil keputusan terhadapku, sesungguhnya aku adalah seorang yang hidup mendompleng kepada orang-orang Quraisy, dan aku bukanlah seseorang dari kalangan mereka sedangkan di antara kaum Muhajirin yang ada bersama engkau mempunyai kaum kerabat di Mekah yang dapat melindung, keluarganya yang tertinggal.
Maka karena aku tidak mempunyai hubungan kekerabatan dengan mereka, aku bermaksud menggantinya dengan jasa kepada mereka.
Dan tidaklah aku berbuat demikian karena kekafiran, bukan pula karena murtad dari agamaku, serta tidak pula rida dengan kekufuran sesudah aku masuk Islam."
Maka Rasulullah ﷺ bersabda:
Dia berkata sebenarnya kepada kalian.
Umar tidak sabar, ia mengatakan,
"Biarkanlah aku memenggal batang leher orang munafik ini."
Rasulullah ﷺ bersabda:
Sesungguhnya dia telah ikut dalam Perang Badar, dan tahukah kamu, barangkali Allah menengok ahli Badar, lalu berfirman kepada mereka,
"Berbuatlah menurut apa yang kalian kehendaki, sesungguhnya Aku telah memberikan ampunan bagimu."

Hal yang sama telah diketengahkan oleh Jamaah kecuali Ibnu Majah, dari berbagai jalur melalui Sufyan ibnu Uyaynah dengan sanad yang sama.

Imam Bukhari di dalam Kitabul Magazi-nya menambahkan, bahwa lalu turunlah firman Allah subhanahu wa ta’ala:
Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil musuh­Ku dan musuhmu menjadi teman-teman setia.
(QS. Al-Mumtahanah [60]: 1)

Dan di dalam kitab tafsirnya ia mengatakan bahwa Amr berkata, bahwa lalu diturunkanlah ayat berikut berkenaan dengannya (Hatib), yaitu firman Allah subhanahu wa ta’ala:
Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil musuh­Ku dan musuhmu menjadi teman-teman setia.
(QS. Al-Mumtahanah [60]: 1)

Imam Bukhari mengatakan bahwa ia tidak mengetahui apakah ayat ini termasuk bagian dari hadis ataukah Amr yang mengatakannya.

Imam Bukhari mengatakan bahwa Ali ibnul Madini telah menceritakan bahwa pernah ditanyakan kepada Sufyan tentang hal ini, yaitu tentang penurunan firman-Nya:
/anganlah kamu mengambil musuh-Ku dan musuhmu menjadi teman-teman setia.
(QS. Al-Mumtahanah [60]: 1)
Maka Sufyan menjawab,
"Memang demikianlah yang terdapat dalam hadis orang-orang yang aku hafal dari Amr, tanpa meninggalkan satu huruf pun darinya, dan tiada yang meriwayatkannya seperti ini selain diriku.

Imam Bukhari dan Imam Muslim telah meriwayatkan di dalam kitab Sahihain melalui hadis Husain ibnu Abdur Rahman, dari Sa’d ibnu Ubaidah, dari Abu Abdur Rahman As-Sulami, dari Ali yang menceritakan bahwa Rasulullah ﷺ mengutusku bersama Abu Marsad dan Az-Zubair ibnul Awwam, kami bertiga berkuda.
Nabi ﷺ bersabda,
"Berangkatlah kalian hingga sampai di kebun Khakh, karena sesungguhnya di dalam kebun itu terdapat seorang wanita dari kaum musyrik membawa sebuah surat rahasia dari Hatib ibnu Abu Balta’ah ditujukan kepada orang-orang musyrik.
Maka kami menjumpai wanita itu sedang berjalan dengan mengendarai untanya sesuai dengan apa yang disebutkan oleh Rasulullah ﷺ Maka kami berkata kepadanya,
"Di manakah surat itu?"
Ia menjawab,
"Aku tidak membawa surat apa pun."
Lalu kami turunkan dia dan kami geledah dia, ternyata kami tidak menemukan surat tersebut.
Kami berkata dalam diri kami, bahwa mustahil Rasulullah ﷺ dusta.
Akhirnya kami berkata kepada wanita itu,
"Kamu harus mengeluarkan surat itu atau kami telanjangi kamu."
Ketika wanita itu melihat bahwa ancaman kami sungguhan, ia membuka kain kembennya yang terhalang oleh kain kisa-nya, dan ia mengeluarkan surat itu.
Kemudian kami bawa surat itu kepada Rasulullah ﷺ Maka Umar berkata,
"Wahai Rasulullah, dia telah berkhianat kepada Allah, Rasul-Nya dan orang-orang mukmin, maka biarkanlah aku memukul (memenggal) batang lehernya."
Nabi ﷺ menginterogasi Hatib,
"Apakah yang mendorongmu berbuat demikian?"
Hatib menjawab,
"Demi Allah, tiadalah diriku kecuali orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya.
Aku bertujuan ingin mempunyai jasa di kalangan kaum itu guna untuk membela keluarga dan harta bendaku.
Tiada seorang pun dari sahabatmu, melainkan dia mempunyai kaum kerabat di sana yang melalui mereka Allah membela keluarga dan harta yang ditinggalkannya."
Maka Rasulullah ﷺ bersabda,
"Dia benar, janganlah kalian berkata kepadanya kecuali yang baik."
Umar berkata,
"Sesungguhnya dia telah berkhianat kepada Allah, Rasul-Nya, dan kaum mukmin.
Maka biarkanlah aku memenggal batang lehernya."
Lalu Rasulullah ﷺ bersabda:
"Bukankah dia termasuk ahli Badar?"
Rasul ﷺ melanjutkan, bahwa semoga Allah memperhatikan ahli Badar (dengan perhatian yang khusus), lalu berfirman,
"Berbuatlah menurut kehendakmu, sesungguhnya Aku telah memastikan surga bagimu."
Atau,
"Aku telah memberikan ampunan bagimu."
Mendengar jawaban Rasulullah ﷺ, maka berlinanglah air mata Umar, lalu ia berkata,
"Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui."


Demikianlah menurut lafaz Imam Bukhari di dalam Al-Magazi, yaitu Bab
"Perang Badar."

Telah diriwayatkan melalui jalur lain dari Ali r.a. Untuk itu disebutkan oleh Ibnu Abu Hatim bahwa telah menceritakan kepada kami Ali ibnul Hasan Al-Hasanjani, telah menceritakan kepada kami Ubaid ibnu Ya’isy, telah menceritakan kepada kami Ishaq ibnu Sulaiman Ar-Razi, dari Abu Sinan alias Sa’id ibnu Sinan, dari Amr ibnu Murrah Al-Hamli, dari Abu Ishaq Al-Buhturi At-Ta’i, dari Al-Haris, dari Ali yang mengatakan bahwa ketika Nabi ﷺ hendak menuju ke Mekah, beliau merahasiakan tujuannya ini kepada sebagian dari sahabatnya, yang antara lain ialah Hatib ibnu Abu Balta’ah.
Sedangkan yang disebarkan ialah bahwa Nabi ﷺ bertujuan ke Khaibar.
Maka Hatib berkirim surat kepada penduduk Mekah yang memberitakan bahwa Rasulullah ﷺ hendak menyerang kalian.
Maka Rasulullah ﷺ diberi tahu (oleh Jibrilalaihis salam), lalu beliau mengutusku dan Abu Marsad, dan tiada seorang pun dari kami melainkan berkuda.
Rasulullah ﷺ berpesan kepada kami:
Datanglah kamu ke kebun Khakh karena sesungguhnya kamu akan menjumpai padanya seorang wanita yang membawa surat (rahasia), maka rebutlah surat itu darinya! Kami berangkat hingga kami melihatnya di tempat seperti yang disebutkan oleh Rasulullah ﷺ, lalu kami berkata kepadanya,
"Keluarkanlah surat itu."
Ia menjawab,
"Kami tidak membawa surat apa pun."
Lalu kami letakkan barang-barangnya dan kami periksa semuanya, ternyata tidak kami jumpai pada barang-barang bawaannya.
Lalu Abu Marsad berkata,
"Barangkali surat itu ada bersamanya."
Aku berkata,
"Memang Rasulullah tidak dusta dan tidak pernah berdusta kepada kami."
Akhirnya kami katakan kepada wanita itu,
"Keluarkanlah surat itu, atau kalau tidak kami akan menelanjangimu."
Wanita itu berkata,
"Tidakkah kamu takut kepada Allah, bukankah kalian orang-orang muslim?"
Kami berkata,
"Kamu keluarkan surat itu atau kami telanjangi kamu."
Amr ibnu Murrah menceritakan bahwa akhirnya wanita itu mengeluarkan surat tersebut dari kain kembennya.
Menurut Habib ibnu Abu Sabit, wanita itu mengeluarkan surat tersebut dari liang vaginanya, lalu kami datangkan surat itu kepada Rasulullah ﷺ, dan ternyata surat itu dari Hatib ibnu Abu Balta’ah.
Maka berdirilah Umar dan mengatakan,
"Wahai Rasulullah, dia telah berkhianat terhadap Allah dan Rasul-Nya, maka izinkanlah bagiku memukul batang lehernya."
Maka Rasulullah ﷺ bersabda:
Mudah-mudahan Allah memperhatikan ahli Badar dengan perhatian yang khusus dan berfirman,
"Berbuatlah menurut apa yang kamu kehendaki, sesungguhnya Aku Maha Melihat terhadap semua yang kamu kerjakan."
Maka berlinanganlah air mata Umar dan berkata,
"Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui."
Lalu Rasulullah mengundang Hatib dan bertanya,
"Hai Hatib, apakah yang mendorongmu berbuat seperti itu?"
Hatib menjawab,
"Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku adalah seorang yang mendompleng pada orang-orang Quraisy, dan aku memiliki harta dan keluarga yang ada di kalangan mereka, sedangkan tiada seorang pun dari sahabatmu melainkan dia mempunyai orang yang membela harta dan keluarganya.
Maka aku menyampaikan informasi itu kepada mereka (agar keluarga dan hartaku yang ada di sana tidak diganggu).
Demi Allah, wahai Rasulullah, sesungguhnya aku adalah orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya."
Maka Rasulullah ﷺ bersabda:
Hatib benar, janganlah kamu berkata mengenai Hatib melainkan hanya kebaikan belaka.
Habib ibnu Abu Sabit mengatakan bahwa lalu Allah subhanahu wa ta’ala menurunkan firman-Nya:
Hai orang-orang yang beriman, janganlah mengambil musuh-Ku dan musuhmu menjadi teman-teman setia yang kamu sampaikan kepada mereka (berita-berita Muhammad), karena rasa kasih sayang.
(QS. Al-Mumtahanah [60]: 1), hingga akhir ayat.

Hal yang sama telah diriwayatkan oleh Ibnu Jarir, dari Ibnu Humaid, dari Mahran, dari Abu Sinan berikut sanadnya yang semisal.
Para pemilik kitab Magazi was Siyar telah mengetengahkan pula hal ini.


Untuk itu Muhammad ibnu Ishaq ibnu Yasar mengatakan di dalam kitab Sirah-nya, telah menceritakan kepadaku Muhammad ibnu Ja’far ibnuz Zubair, dari Urwah ibnuz Zubair dan lain-lainnya, dari kalangan ulama kita, bahwa ketika Rasulullah ﷺ telah bertekad untuk berangkat menuju ke Mekah, maka Hatib ibnu Abu Balta’ah berkirim surat kepada orang-orang Quraisy, memberitakan kepada mereka tentang kebulatan tekad Rasulullah ﷺ untuk berangkat menuju mereka.
Kemudian surat itu ia titipkan kepada seorang wanita, yang menurut Muhammad ibnu Ja’far diduga wanita itu berasal dari Muzayyanah, sedangkan selain dia menduganya bernama Sarah maula Bani Abdul Muttalib.
Kemudian Hatib memberinya hadiah sebagai imbalan menyampaikan surat tersebut kepada orang-orang Quraisy.
Lalu wanita itu menyimpan surat tersebut di dalam gelungan rambutnya, lalu berangkat menuju ke Mekah.
Dan datanglah berita dari langit kepada Rasulullah ﷺ yang menceritakan tentang apa yang dilakukan oleh Hatib itu.
Maka beliau mengutus Ali ibnu AbuTalib dan Az-Zubair ibnul Awwam seraya berpesan kepada keduanya:
Kejarlah olehmu berdua seorang wanita yang membavsa surat Hatib ditujukan kepada orang-orang Ouraisyyang isinya memperingatkan mereka tentang apa yang telah kita sepakati terhadap urusan mereka.
Maka keduanya keluar hingga dapat mengejarnya di Hulaifah, yaitu tempatnya Bani Abu Ahmad.
Lalu keduanya menurunkan wanita itu dari untanya dan memeriksa barang bawaannya, tetapi keduanya tidak menemukan surat tersebut.
Ali ibnu Abu Talib berkata kepada wanita itu,
"Sesungguhnya aku bersumpah dengan nama Allah, bahwa Rasulullah tidak dusta dan beliau tidak pernah berdusta kepada kami.
Sekarang kamu harus mengeluarkan surat itu;
atau kalau tidak, maka kami benar-benar akan membuka pakaianmu."
Ketika wanita itu melihat bahwa ancaman Ali sungguhan, maka ia berkata,
"Berpalinglah kamu."
Maka Ali memalingkan mukanya, dan wanita itu membuka gelungan rambutnya dan mengeluarkan surat tersebut darinya, selanjutnya surat itu ia serahkan kepada Ali.
Kemudian Ali r.a. menyerahkan surat itu kepada Rasulullah ﷺ, lalu beliau ﷺ memanggil Hatib dan bertanya kepadanya,
"Hai Hatib, apakah yang mendorongmu berbuat demikian?"
Hatib menjawab,
"Wahai Rasulullah, ketahuilah, demi Allah, sesungguhnya aku benar-benar beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, aku tidak berubah dan tidak pula berganti (agama).
Tetapi aku adalah seorang yang tidak memiliki famili dan kerabat di kalangan kaum Quraisy, sedangkan aku mempunyai anak-anak dan keluarga di kalangan mereka, maka aku bermaksud membuat suatu jasa (budi) kepada mereka."
Maka Umar berkata,
"Wahai Rasulullah, biarkanlah aku menebas batang lehernya, karena sesungguhnya dia adalah seorang munafik."
Rasulullah ﷺ bersabda:
Tahukah kamu, hai Umar, barangkali Allah memberikan perhatian yang khusus kepada ahli Badar, lalu Dia berfirman,
"Berbuatlah menurut apa yang kamu kehendaki, karena sesungguhnya Aku telah memberikan ampunan bagimu."
Lalu Allah subhanahu wa ta’ala menurunkan firman-Nya berkenaan dengan kisah Hatib ini, yaitu:
Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil musuh­Ku dan musuhmu menjadi teman-teman sedayang kamu sampaikan kepada mereka (berita-berita Muhammad), karena rasa kasih sayang.
(QS. Al-Mumtahanah [60]: 1)
sampai dengan firman-Nya:
Sesungguhnya telah ada suri teladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang ada bersamanya;
ketika mereka berkata kepada kaum mereka,
"Sesungguhnya kami berlepas diri dari kamu dan dari apa yang kamu sembah selain Allah, kami ingkari (kekafiran)mu dan telah nyata antara kami dan kamu permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Allah saja.
(QS. Al-Mumtahanah [60]: 4)
hingga akhir kisah.


Telah diriwayatkan pula oleh Ma’mar, dari Az-Zuhri, dari Urwah hal yang semisal.
Hal yang sama telah dikatakan oleh Muqatil ibnu Hayyan, bahwa ayat-ayat ini diturunkan berkenaan dengan Hatib ibnu Abu Balta’ah, bahwa dia menyuruh Sarah maula Bani Hasyim untuk membawa suratnya, dan ia memberinya hadiah sepuluh dirham.
Lalu Rasulullah ﷺ mengirimkan Umar ibnul Khattab dan Ali ibnu Abu Talib untuk mengejarnya, hingga keduanya dapat mengejarnya di Al-Juhfah.
Kemudian selanjutnya sama dengan kisah di atas.
Telah diriwayatkan pula dari As-Saddi hal yang mendekati kisah di atas.
Dan hal yang sama telah dikatakan oleh Al-Aufi, dari Ibnu Abbas, Qatadah, dan Mujahid serta lain-lainnya yang bukan hanya seorang, bahwa ayat-ayat ini diturunkan berkenaan dengan kisah Hatib ibnu Abu Balta’ah.

Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil musuh­Ku dan musuhmu menjadi teman-teman setia yang kamu sampaikan kepada mereka (berita-berita Muhammad), karena rasa kasih sayang;
padahal sesungguhnya mereka telah ingkar kepada kebenaran yang datang kepadamu.
(QS. Al-Mumtahanah [60]: 1)

Yakni kaum musyrik dan orang-orang kafir yang selalu memerangi Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin.
Allah memerintahkan agar mereka dimusuhi dan diperangi serta melarang mengambil mereka menjadi kekasih, teman, dan orang-orang yang terdekat.
Semakna dengan apa yang disebutkan oleh firman-Nya dalam ayat yang lain, yaitu:

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin(mu);
sebagian mereka adalah pemimpin bagi sebagian yang lain.
Barang siapa di antara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka.
(QS. Al-Maidah:
51)

Ini mengandung ancaman yang keras dan peringatan yang pasti.
Dan Allah subhanahu wa ta’ala telah berfirman pula dalam ayat yang lainnya:

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil jadi pemimpinmu, orang-orang yang membuat agamamu jadi buah ejekan dan permainan, (yaitu) di antara orang-orang yang telah diberi kitab sebelummu, dan orang-orang yang kafir (orang-orang musyrik).
Dan bertakwalah kepada Allah jika kamu betul-betul orang-orang yang beriman.
(QS. Al-Maidah:
57)

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang kafir menjadi mukmin.
Inginkah kamu mengadakan alasan yang nyata bagi Allah (untuk menyiksamu).
(An-Nisa:
144)

Dan firman Allah subhanahu wa ta’ala lainnya yang menyebutkan:

Janganlah orang-orang mukmin mengambil orang-orang kafir menjadi mukmin.
Barang siapa berbuat demikian, niscaya lepaslah ia dari pertolongan Allah kecuali karena (siasat) memelihara diri dari sesuatu yang ditakuti dari mereka.
Dan Allah memperingatkan kamu terhadap diri (siksa)-Nya.
(Ali Imran:
28)

Karena itulah maka Rasulullah ﷺ menerima alasan dan permintaan maaf dari Hatib, karena sesungguhnya dia melakukan hal itu semata-mata hanyalah sebagai sikap diplomasi dan basa-basinya terhadap orang-orang Quraisy, mengingat dia memiliki harta dan anak-anak di kalangan mereka.

Sehubungan dengan hal ini perlu diketengahkan sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad.
Disebutkan bahwa:


telah menceritakan kepada kami Mus’ab ibnu Salam, telah menceritakan kepada kami Al-Ahlaj, dari Qais ibnu Abu Muslim, dari Rib’i ibnu Hirasy, bahwa ia pernah mendengar Huzaifah mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ pernah menceritakan kepada kami berbagai tamsil (perumpamaan), sebanyak sekali, tiga kali, lima kali, tujuh kali, sembilan kali, dan sebelas kali.
Lalu beliau ﷺ membuatkan bagi kami sebuah tamsil saja darinya, sedangkan yang lain ditinggalkannya.
Beliau ﷺ bersabda:
Sesungguhnya pernah ada suatu kaum yang lemah lagi miskin, mereka diperangi oleh orang-orang yang sewenang-wenang dan suka permusuhan, kemudian Allah memenangkan orang-orang yang lemah atas mereka.
Sesudah itu orang-orang yang tadinya lemah itu dengan sengaja berteman dengan musuh mereka dan menjadikan musuh mereka mempunyai jabatan dan kekuasaan atas diri mereka.
Maka Allah murka terhadap kaum yang lemah itu sampai hari mereka bersua dengan-Nya.

Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

mereka mengusir Rasul dan (mengusir) kamu.
(QS. Al-Mumtahanah [60]: 1)

Alasan ini dan yang sebelumnya menggugah kaum mukmin untuk memusuhi mereka dan tidak boleh menjadikan mereka teman, karena mereka telah mengusir Rasul dan para sahabatnya dari kalangan mereka, sebab mereka benci kepada ajaran tauhid dan mengikhlaskan ibadah hanya kepada Allah semata.
Karena itulah maka disebutkan dalam firman berikutnya:

karena kamu beriman kepada Allah, Tuhanmu.
(QS. Al-Mumtahanah [60]: 1)

Yakni kamu tidak mempunyai dosa terhadap mereka, melainkan hanya semata-mata karena kamu beriman kepada Allah, Tuhan semesta alam.
Semakna dengan apa yang disebutkan dalam ayat lain melalui firman-Nya:

Dan mereka tidak menyiksa orang-orang mukmin itu melainkan karena orang-orang mukmin itu beriman kepada Allah Yang Mahaperkasa lagi Maha Terpuji.
(QS. Al-Buruj:
8)

Dan firman Allah subhanahu wa ta’ala:

(yaitu) orang-orang yang telah diusir dari kampung halaman mereka tanpa alasan yang benar, kecuali karena mereka berkata,
"Tuhan kami hanyalah Allah."
(QS. Al-Hajj [22]: 40)

Adapun firman Allah subhanahu wa ta’ala:

Jika kamu benar-benar keluar untuk berjihad pada jalan-Ku dan mencari keridaan-Ku.
(QS. Al-Mumtahanah [60]: 1)

Yakni jika niatmu memang demikian, maka janganlah kamu mengambil mereka sebagai teman-teman dekatmu.
Dengan kata lain, dapat disebutkan bahwajika kamu benar keluar hanya untuk berjihad di jalan-Ku dan meraih rida-Ku kepada kalian, maka janganlah kalian berteman dengan musuh-musuh-Ku dan musuh-musuh kalian.
Sesungguhnya mereka telah mengusir kalian dari rumah dan harta benda kalian, karena benci dan tidak suka dengan agama kalian.

Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

Kamu memberitahukan secara rahasia (berita-berita Muhammad) kepada mereka, karena rasa kasih sayang.
Aku lebih mengetahui apa yang kamu sembunyikan dan apa yang kamu nyatakan.
(QS. Al-Mumtahanah [60]: 1)

Yakni kamu lakukan hal itu, sedangkan Aku mengetahui semua rahasia dan apa yang terkandung di dalam hati serta apa yang dinyatakan.

Sebab-Sebab Diturunkannya Surah Al Mumtahanah (60) Ayat 1

Diriwayatkan oleh asy-Syaikhaan (al-Bukhari dan Muslim) yang bersumber dari ‘Ali bahwa Rasulullah ﷺ mengutus ‘Ali, az-Zubair, dan al-Miqdad bin al-Aswad, dengan bersabda: “Pergilah kalian ke kebun Khakh.
Di sana kalian akan bertemu dengan seorang perempuan yang membawa surat.
Ambillah surat itu dan bawalah kepadaku.”

Berangkatlah mereka bertiga hingga sampai ke tempat yang ditunjukkan oleh Rasulullah ﷺ Di sana mereka bertemu dengan seorang wanita yang naik unta.
Berkatalah mereka:”Berikan surat itu kepada kami.” Ia mendjawab: “Saya tidak membawa surat.” Mereka berkata: “Sekiranya engkau tidak menyerahkannya, kami akan menelanjangi engkau.” Dengan susah payah ia pun mengeluarkan surat itu dari sanggul rambutnya.

Kemudian mereka membawa surat itu kepada Rasulullah ﷺ Setelah diperiksa ternyata surat itu dari seorang shahabat yang bernama Hathib bin Abi Balta’ah yang ditujukan kepada orang –orang musyrikin di Mekah, yang isinya memberitahukan kepada mereka beberapa perintah Nabi ﷺ Akhirnya Hathib dipanggil oleh Rasulullah ﷺ Setelah berada di hadapan Rasulullah ﷺ, beliau bertanya kepada Hathib: “Apakah ini wahai Hathib ?”, sambil memperlihatkan surat.
Hathib menjawab dengan ketakutan:

“Jangan tergesa-gesa (menghukum aku), ya Rasulullah.
Aku mempunya teman dari golongan Quraisy, akan tetapi aku sendiri bukan termasuk golongan mereka.
Shahabat-shahabat Muhajirin yang ada sekarang, banyak mempunyai kerabat yang bisa menjaga famili dan harta bendanya di Mekah.
Sedang aku sendiri tidak mempunyai kerabat seperti mereka.
Karenanya aku membuat budi kepada mereka supaya mereka menjaga keluargaku yang lemah dan harta bendaku.
Aku berbuat demikian bukan karena kufur atau murtad dari agama dan bukan pula karena ridha atau kekufuran mereka.”

Rasulullah ﷺ bersabda: “Ia mengatakan yang sebenarnya.” Ayat ini (al-Mumtahanah: 1-4) turun berkenaan dengan peristiwa tersebut, yang melarang kaum Mukminin memberikan berta kepada kaum kafir karena rasa cinta kepada mereka.

Sumber : Asbabun Nuzul – K.H.Q Shaleh – H.A.A Dahlan dkk.

Kata Pilihan Dalam Surah Al Mumtahanah (60) Ayat 1

AWLIYAA
أَوْلِيَآء

Lafaz ini adalah jamak dari al waliy yang mengandung makna setiap yang menguruskan urusan, penolong, yang dicintai, sahabat, jiran, pengikut, penolong, pembebas hamba, yang taat.
Ungkapan Allah waliyyuka bermakna Allah menjaga dan mengawasi kamu.

Perkataan Al mu’min waliy Allah, memiliki maksud "yang taat kepada Nya."

Waliyyal ‘ahd artinya putera mahkota,

Waliyy al mar’ah artinya yang mewakilkan ikatan pernikahan ke atasnya dan tidak batal akad itu sekiranya ketiadaannya,

Waliyy al yatim bermaksud pengasuh anak yatim,

Awliyy al amr ialah para penguasa.

Al waliyy juga bermakna lawan kepada musuh dan setiap orang yang mendekati kamu.

Lafaz awliyaa’ disebut 42 kali di dalam Al Qur’an yaitu dalam surah:
Ali Imran (3), ayat 28, 175;
An Nisaa (4), ayat 76, 89, 139, 144;
-Al Maa’idah (5), ayat 51, 51, 57, 81;
-Al An’aam (6), ayat 121, 128;
-Al A’raaf (7), ayat 3, 27, 30;
Al Anfaal (8), ayat: 34, 34, 72, 73;
At Taubah (9), ayat 23, 71;
Yunus (10), ayat 62;
Hud (11), ayat 20, 113;
-Ar Ra’d (13), ayat 16;
Al Kahfi (18), ayat 50, 102;
Al Furqaan (25), ayat 18;
Al Ankaabut (29), ayat 41;
Al Ahzab (33), ayat 6;
Az Zumar (39), ayat 3;
Fushshilat (41), ayat 31;
-Asy Syura (42), ayat 6, 9, 46;;
-Al Jaatsiyah (45), ayat 10, 19;
-Al Ahqaf (46), ayat 32;
Al Mumtahanah (60), ayat 1;
-Al Jumu’ah (62), ayat 6.

Di dalam Al Qur’an, lafaz awliyaa’ dapat dikategorikan kepada empat golongan berdasarkan sandaran dan hubungannya dengan kalimat lain.

Pertama, dihubungkan kepada Allah seperti dalam surah Yunus, ayat 62.
Kedua, dihubungkan kepada orang kafir, musyrik dan Yahudi seperti ayat 28 surah Ali Imran dan surah Al Maa’idah, ayat 57;

Ketiga, disandarkan kepada syaitan seperti dalam surah An Nisaa, ayat 76.
Keempat, disandarkan kepada Mukmin seperti dalam surah Al Anfaal, ayat 72.
Diriwayatkan oleh Ad Dahhak dari Ibn Abbas, ayat 28 surah Ali Imran turun kepada Ubadah bin Shamit Al Ansari.
Beliau adalah sahabat yang turut serta dalam Perang Badar.
Beliau memiliki perjanjian persahabatan dengan orang Yahudi.
Ketika Nabi Muhammad keluar pada Perang Ahzab, Ubadah berkata,
"Wahai Rasulullah! Sesungguhnya bersamaku 500 lelaki dari Yahudi dan aku melihat mereka mau keluar bersamaku dan membantu menghadapi musuh, lalu Allah menurunkan ayat ini.

Dalam ayat 72 surah Al Anfaal, Asy Syawkani berkata,
"Makna awliyaa’ di sini ialah sesama muslim menjadi saudara atau sahabat yang saling membantu dan menolong"

Dalam Tafsir Al Jalalain, lafaz awliyaa’ dalam surah An Nisaa, ayat 76, bermakna penolong-penolong agamanya (yang batil) yaitu orang kafir.

Ibn Katsir berkata,
"Sesungguhnya bertakwa, setiap orang yang bertakwa adalah Abu Hurairah meriwayatkan, Rasulullah berkata,
"Sesungguhnya di kalangan hamba Allah, ada yang diinginkan seperti mereka oleh para nabi dan syuhada.
Dikatakan, "Siapa mereka, wahai Rasulullah? Kami berharap supaya kami dapat mencintai mereka," Rasulullah berkata,
"Mereka ialah golongan yang saling mencintai karena Allah, jauh dari harta keduniaan dan juga nasab, wajah-wajah mereka bercahaya di atas mimbar-mimbar dari cahaya, mereka tidak takut ketika manusia takut dan tidak bersedih apabila manusia bersedih " Lalu beliau membaca ayat di atas."

Kesimpulannya, maksud umum lafaz awliya’ ialah penolong, sahabat dan pengikut.

Sumber : Kamus Al Qur’an, PTS Islamika SDN BHD, Hal: 87-88

Unsur Pokok Surah Al Mumtahanah (الممتحنة)

Surat Al-Mumtahanah terdiri atas 13 ayat, termasuk golongan surat-surat Madaniyyah, diturunkan sesudah surat Al-Ahzab.

Dinamai "Al Mumtahanah" (wanita yang diuji), diambil dari kata "Famtahinuuhunna" yang berarti "maka ujilah rnereka",
yang terdapat pada ayat 10 surat ini.

Hukum:

▪ Larangan mengadakan hubungan persahabatan dengan orang-orang kafir yang memusuhi Islam, sedang dengan orang-orang kafir yang tidak memusuhi Islam boleh mengadakan persahabatan.
Hukum perkawinan bagi orang-orang yang pindah agama.

Kisah:

▪ Kisah Ibrahim `alaihis salam bersama kaumnya sebagai contoh dan teladan bagi orang-orang mukmin.

Audio

QS. Al-Mumtahanah (60) : 1-13 ⊸ Misyari Rasyid Alafasy
Ayat 1 sampai 13 + Terjemahan Indonesia

QS. Al-Mumtahanah (60) : 1-13 ⊸ Nabil ar-Rifa’i
Ayat 1 sampai 13

Gambar Kutipan Ayat

Surah Al Mumtahanah ayat 1 - Gambar 1 Surah Al Mumtahanah ayat 1 - Gambar 2
Statistik QS. 60:1
  • Rating RisalahMuslim
4.6

Ayat ini terdapat dalam surah Al Mumtahanah.

Surah Al-Mumtahanah (bahasa Arab:الممتحنة, “Perempuan Yang Diuji”) adalah surah ke-60 dalam Alquran.
Surah ini tergolong surah Madaniyah dan terdiri atas 13 ayat.
Dinamakan Al Mumtahanah yang berarti Wanita yang diuji di ambil dari kata “Famtahinuuhunna” yang berarti maka ujilah mereka, yang terdapat pada ayat 10 surat ini.

Nomor Surah60
Nama SurahAl Mumtahanah
Arabالممتحنة
ArtiWanita yang diuji
Nama lainAl-Imtihān, Al-Mawaddah
Tempat TurunMadinah
Urutan Wahyu91
JuzJuz 28
Jumlah ruku’2 ruku’
Jumlah ayat13
Jumlah kata325
Jumlah huruf1560
Surah sebelumnyaSurah Al-Hasyr
Surah selanjutnyaSurah As-Saff
Sending
User Review
4.8 (20 votes)
Tags:

60:1, 60 1, 60-1, Surah Al Mumtahanah 1, Tafsir surat AlMumtahanah 1, Quran Al-Mumtahanah 1, Surah Al Mumtahanah ayat 1

Keluarga Anda ada yang belum mahir membaca Alquran? Ingin segera bisa?
Klik di sini sekarang!

Video


Panggil Video Lainnya

Ayat Lainnya

QS. Az Zukhruf (Perhiasan) – surah 43 ayat 66 [QS. 43:66]

66. Dengan pembangkangan mereka untuk mengakui Nabi Isa sebagai rasul Allah dan pengingkaran mereka terhadap ajaran-Nya, lalu Allah mengatakan bahwa apakah mereka dengan keadaan yang demikian itu hany … 43:66, 43 66, 43-66, Surah Az Zukhruf 66, Tafsir surat AzZukhruf 66, Quran Az-Zukhruf 66, Surah Az Zukruf ayat 66

Hadits Shahih

Podcast

Hadits & Doa

Soal & Pertanyaan Agama

Lawan kata dari jujur ​​adalah ...

Benar! Kurang tepat!

Bekerja tepat waktu adalah salah satu ciri orang yang ...

Benar! Kurang tepat!

Berikut ini, yang tidak mengandung moral terpuji, adalah ...

Benar! Kurang tepat!

+

Array

Orang yang jujur akan senantiasa mengatakan ...

Benar! Kurang tepat!

Orang yang suka berbohong adalah orang ...

Benar! Kurang tepat!

Pendidikan Agama Islam #5
Ingatan kamu cukup bagus untuk menjawab soal-soal ujian sekolah ini.

Pendidikan Agama Islam #5 1

Mantab!! Pertahankan yaa..
Jawaban kamu masih ada yang salah tuh.

Pendidikan Agama Islam #5 2

Belajar lagi yaa...

Bagikan Prestasimu:

Soal Lainnya

Pendidikan Agama Islam #26

Nama lain dari surah Al-Insyirah adalah … Yasin Al Maun Alam Nasyrah Al Maidah Al Adiyat Benar! Kurang tepat! Jumlah

Pendidikan Agama Islam #24

Salah satu cara mengagungkan tanda-tanda kebesaran Allah Subhanahu Wa Ta`ala yaitu dengan … melaksanakan perintah-Nya tidak melaksanakan apa-apa yang penting

Pendidikan Agama Islam #15

Mujahadah berasal dari bahasa Arab, yang berasal dari kata jahada, yang berarti … berkorban berbahagia perlawanan kembali suci bersungguh-sungguh Benar!

Instagram