Search
Exact matches only
Cari di judul
Cari di Arti & Tafsir
Search in comments
Search in excerpt
Filter by Custom Post Type
Filter berdasar surah
Pilih atau Semua
Abasa
Ad Dukhaan
Adh Dhuhaaa
Adz Dzaariyaat
Al 'Alaq
Al 'Ashr
Al A'laa
Al A'raaf
Al Aadiyaat
Al Ahqaaf
Al Ahzab
Al An 'aam
Al Anbiyaa
Al Anfaal
Al Ankabut
Al Balad
Al Baqarah
Al Bayyinah
Al Buruuj
Al Fajr
Al Falaq
Al Fath
Al Fatihah
Al Fiil
Al Furqaan
Al Ghaasyiyah
Al Haaqqah
Al Hadid
Al Hajj
Al Hasyr
Al Hijr
Al Hujurat
Al Humazah
Al Ikhlas
Al Infithar
Al Insaan
Al Insyiqaaq
Al Israa
Al Jaatsiyah
Al Jinn
Al Jumu'ah
Al Kaafiruun
Al Kahfi
Al Kautsar
Al Lahab
Al Lail
Al Ma'aarij
Al Maa'idah
Al Maa'un
Al Mu'min
Al Mu'minuun
Al Muddatstsir
Al Mujaadilah
Al Mulk
Al Mumtahanah
Al Munafiquun
Al Mursalat
Al Muthaffifin
Al Muzzammil
Al Qaari'ah
Al Qadr
Al Qalam
Al Qamar
Al Qashash
Al Qiyaamah
Al Waaqi'ah
Al Zalzalah
Alam Nasyrah
Ali Imran
An Naazi'at
An Nabaa
An Nahl
An Najm
An Naml
An Nas
An Nashr
An Nisaa'
An Nuur
Ar Ra'd
Ar Rahmaan
Ar Rum
As Sajdah
Ash Shaff
Ash Shaffaat
Asy Shyuura
Asy Syams
Asy Syu'araa
At Taghaabun
At Tahrim
At Takaatsur
At Takwir
At Taubah
At Tin
Ath Thaariq
Ath Thalaaq
Ath Thuur
Az Zukhruf
Az Zumar
Faathir
Fushshilat
Hud
Ibrahim
Luqman
Maryam
Muhammad
Nuh
Qaaf
Quraisy
Saba
Shaad
Thaa Haa
Yaa Siin
Yunus
Yusuf

💡 Ketik [nomer surah]-[nomer ayat], contoh: 2-255 atau albaqarah 255 atau ke www.risalahmuslim.id/2-255

Al Mu'minuun

Al Mu’minuun (Orang-orang mukmin) surah 23 ayat 71


وَ لَوِ اتَّبَعَ الۡحَقُّ اَہۡوَآءَہُمۡ لَفَسَدَتِ السَّمٰوٰتُ وَ الۡاَرۡضُ وَ مَنۡ فِیۡہِنَّ ؕ بَلۡ اَتَیۡنٰہُمۡ بِذِکۡرِہِمۡ فَہُمۡ عَنۡ ذِکۡرِہِمۡ مُّعۡرِضُوۡنَ
Walawiittaba’al haqqu ahwaa-ahum lafasadatis-samaawaatu wal ardhu waman fiihinna bal atainaahum bidzikrihim fahum ‘an dzikrihim mu’ridhuun(a);

Andaikata kebenaran itu menuruti hawa nafsu mereka, pasti binasalah langit dan bumi ini, dan semua yang ada di dalamnya.
Sebenarnya Kami telah mendatangkan kepada mereka kebanggaan (Al Quran) mereka tetapi mereka berpaling dari kebanggaan itu.
―QS. 23:71
Topik ▪ Dakwah nabi Nuh as.
23:71, 23 71, 23-71, Al Mu’minuun 71, AlMuminuun 71, Al Mukminun 71, Al-Mu’minun 71
Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. Al Mu'minuun (23) : 71. Oleh Kementrian Agama RI

Kemudian Allah menjelaskan bahwa kalau Alquran mengikuti kemauan mereka yang sesat itu seperti mempersekutukan Allah, mengatakan bahwa Dia mempunyai anak, membenarkan perbuatan-perbuatan dosa dan munkar, tentulah dunia ini akan rusak binasa sebagaimana tersebut dalam firman-Nya:

Sekiranya ada di langit dan di bumi tuhan-tuhan selain Allah, tentulah keduanya itu telah rusak binasa.
Maka Maha Suci Allah yang mempunyai Arasy dari apa yang mereka sifatkan.

(Q.S.
Al Anbiya: 22)

Kalau Alquran membolehkan perbuatan aniaya dan meninggalkan keadilan tentulah akan terjadi kekacauan dan kegoncangan hebat dalam masyarakat.
Kalau Alquran membolehkan pelanggaran hak, perampasan harta sehingga si lemah menjadi santapan yang empuk bagi si kuat tentulah dunia ini tidak akan aman dan tenteram selama-lamanya.
Hal ini telah terbukti pada diri mereka sendiri.
Hampir saja masyarakat Arab di masa Jahiliah rusak binasa, karena tak mempunyai norma-norma akhlak yang mulia, tak ada syariat dan +peraturan yang mereka patuhi.
Mereka hanya membangga-banggakan kekayaan dan kekuatan sehingga untuk memperebutkannya mereka jatuh dalam jurang perselisihan dan peperangan yang tak habis-habisnya.
Lalu Allah menerangkan lagi bahwa Dia telah mengaruniakan kepada mereka sesuatu yang seharusnya menjadi kebanggaan mereka sendiri yaitu Alquran.
Mengapa mereka berpaling dari padanya dan menolaknya, menganggap hina dan memperolok-olokkannya.
Kalau mereka sadar dan insaf tentulah mereka tidak akan berbuat seperti itu.
Memang terbukti kemudian bahwa Alquran itu menjadikan mereka bangsa yang mulia dan mereka berbangga dengan turunnya Alquran (pada mulanya) kepada mereka dan dalam bahasa mereka, sesuai dengan firman Allah:

Dan sesungguhnya Alquran itu benar-benar adalah suatu kemuliaan besar bagimu dan bagi kaummu dan kelak kamu akan diminta pertanggungjawaban.
(Q.S.
Az Zukhruf: 44)

Al Mu'minuun (23) ayat 71 - dibacakan oleh Shaykh Mishari Alafasy Al Mu'minuun (23) ayat 71 - dibacakan oleh Syaikh Sa'ad Al-Ghamidi Al Mu'minuun (23) ayat 71 - dibacakan oleh Syaikh Muhammad Ayyub

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Seandainya kebenaran itu mengikuti keinginan hawa nafsu mereka, tentu kerusakan dan kejahatan akan merajalela di muka bumi dan, tentu, keinginan itu akan saling bertentangan.
Akan tetapi, Kami menurunkan Al Quran kepada mereka yang mengingatkan pada kebenaran yang diakui oleh semua orang.
Tetapi, meskipun demikian, mereka tetap menolaknya[1].

[1] Kata al-haqq dalam ayat ini termasuk kata homonim.
Kata itu dapat berarti 'Allah subhanahu wa ta'ala ' seperti tersebut dalam ayat yang berbunyi Ta'ala Allah-u al-Malik-u al-Haqq (Q., s.
Thaha:
114).
Dapat juga berarti 'Al Quran' seperti tersebut dalam ayat Inna arsalnak-a bi al-haqq (Q., s.
Fathir:
24), atau pengertian agama secara umum, termasuk di dalamnya Al Quran dan al-Hadits, seperti pada ayat yang berbunyi Wa qul ja'a al-haqq-u wa zahaq-a al-bathil (Q., s.).
Tampaknya makna yang paling dekat dengan pengertian ayat ini adalah makna pertama, yaitu bahwa yang dimaksud dengan kata al-haqq adalah Allah subhanahu wa ta'ala Dengan demikian, maksud ayat ini adalah sebagai berikut:
'Seandainya ketetapan Allah berjalan mengikuti keinginan dan kehendak hawa nafsu orang-orang kafir, tentu tata aturan yang melandasi langit dan bumi serta makhluk-makhluk lainnya ini tidak akan berjalan dengan baik.
Akan tetapi, Allah memiliki hikmah yang sangat besar dan kekuasaan yang luar biasa.
Ilmu-Nya pun meliputi seluruh makhluk-Nya.
Hikmah-Nya terlaksana berkat pengaturan- Nya yang sangat akurat" Adapun keterangan Al Quran bahwa di langit terdapat makhluk hidup, ini mengisyaratkan dua hal.
Pertama, kita harus mengimaninya secara apa adanya, dengan penuh keyakinan, tanpa membahas perinciannya, sampai Allah sendiri yang akan menerangkan maksudnya.
Hal ini sesuai dengan firman Allah yang artinya berbunyi "Kami akan menunjukkan kepada mereka tanda- tanda kekuasaan kami di ufuk (alam raya, cakrawala) dan di dalam diri mereka sendiri".
Kedua, bahwa kita dituntut untuk selalu melakukan penelitian sesuai kemampuan kita.
Sebab, penemuan fakta-fakta ilmiah baru akan semakin memperkuat keimanan kita.
Dan keimanan adalah sasaran utama yang hendak dicapai surat ini.

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(Andaikata kebenaran itu menuruti) artinya Alquran itu menuruti (hawa nafsu mereka) seumpamanya Alquran itu datang dengan membawa hal-hal yang mereka sukai, seperti menisbatkan sekutu dan anak kepada Allah, padahal Allah Maha Suci dari hal tersebut (pasti binasalah langit dan bumi dan semua yang ada di dalamnya) yakni menyimpang dari tatanan yang sebenarnya dan tidak seperti apa yang disaksikan sekarang, hal itu disebabkan adanya dua pengaruh kekuasaan yang saling tarik-menarik.
(Sebenarnya Kami telah mendatangkan kepada mereka kebanggaan mereka) yaitu Alquran yang di dalamnya terkandung sebutan dan kemuliaan mereka (tetapi mereka berpaling dari kebanggaan itu).

Tafsir al-Muyassar
Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:

Andaikata Allah memberikan syariat yang sesuai dengan hawa nafsu mereka, pastilah akan binasa langit dan bumi ini, dan semua yang ada di dalamnya.
Sebenarnya Kami telah mendatangkan kepada mereka sesuatu yang membawa kebanggaan dan kemuliaan mereka, yakni al-Qur’an.
Tetapi mereka malah berpaling dari al-Qur’an.

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Firman Allah subhanahu wa ta'ala:

Andaikata kebenaran itu menuruti hawa nafsu mereka, pasti binasalah langit dan bumi dan semua yang ada di dalamnya.

Mujahid dan Abu Saleh serta As-Saddi mengatakan, yang dimaksud dengan al-haq ialah Allah subhanahu wa ta'ala

Dan makna yang dimaksud ialah bahwa sekiranya Allah menuruti kemauan hawa nafsu mereka dan mensyariatkan peraturan hukum sesuai dengan keinginan mereka.

pasti binasalah langit dan bumi dan semua yang ada di dalamnya

Yakni binasa karena hawa nafsu mereka dan keinginan mereka yang berbeda-beda, seperti yang diceritakan oleh Allah subhanahu wa ta'ala dalam firman-Nya menyitir kata-kata mereka:

Mengapa Al-Qur’an ini tidak diturunkan kepada seorang besar dari salah satu dua negeri (Mekah dan Taif) ini.
(Az Zukhruf:31)

Kemudian dijawab oleh Allah subhanahu wa ta'ala melalui firman selanjutnya:

Apakah mereka yang membagi-bagi rahmat Tuhanmu?
(Az Zukhruf:32)

Dan firman Allah subhanahu wa ta'ala:

Katakanlah, "Kalau seandainya kalian menguasai per­bendaharaan rahmat Tuhanku, niscaya perbendaharaan itu kalian tahan karena takut membelanjakannya.” (Al Israa':100), hingga akhir ayat.

Ataukah ada bagi mereka bagian dari kerajaan (kekuasaan)?
Kendatipun ada, mereka tidak akan memberikan sedikit pun (Kebajikan) kepada manusia.
(An Nisaa:53)

Dalam hal ini jelas terkandung pengertian yang menerangkan tentang ketidakmampuan manusia, perbedaan pendapat, dan keinginan hawa nafsu mereka.
Dan bahwa hanya Allah sajalah Yang Mahasempurna dalam semua sifat, ucapan, perbuatan, syariat, takdir, dan pengaturan terhadap makhluk-Nya.
Mahasuci Allah, tiada Tuhan selain Dia dan tiada Rabb selain Dia.
Karena itulah disebutkan dalam firman selanjutnya:

Sebenarnya Kami telah mendatangkan kepada mereka kebanggaan mereka.

Yang dimaksud dengan kebanggaan mereka adalah Al-Qur'an.

tetapi mereka berpaling dari kebanggaan itu.

Kata Pilihan Dalam Surah Al Mu'minuun (23) Ayat 71

AHWAA
أَهْوَآء

Lafaz ini adalah jamak dari al hawa yang berarti kerinduan (al-'isyq) dan kemauan baik itu dalam kebaikan ataupun kejahatan, kemauan diri dan kecenderungannya kepada apa yang mengasyikkannya. Ia juga bermakna kasih sayang dan kecenderungan diri kepada syahwat. Dikatakan seperti itu bagi jiwa atau diri yang cenderung kepada syahwat sebagaimana Allah menyatakan, walaa tat tabi'ul hawaa (Dan janganlah engkau mengikuti hawa [kecenderungan diri kepada syahwat]).

Oleh karena itu, seseorang yang disebut mengikut hawanya berarti mengikut keaiban atau kehinaannya. Seseorang ahlal ahwa' dikatakan sebagai orang yang sesat dari jalan yang patut diteladani atau ia termasuk ahli bidaah. Dan orang seperti itu dicela Allah

Lafaz ahwaa' disebut sebanyak 17 kali di dalam Al Qur'an yaitu dalam surah
-Al Baqarah (2), ayat 120, 145;
-Al Maa'idah (5), ayat 48, 49, 77;
-Al An'aam (6), ayat 56, 119, 150;
-Ar Ra'd (13), ayat 37;
-Al Mu'minuun (23), ayat 71;
-Al­ Qashash (28), ayat 50;
-Ar Rum (30), ayat 29;
-Asy Syuura (42), ayat 15;
-Al Jatsiyah (45), ayat 18;
-Muhammad (47), ayat 14, 16;
-Al Qamar (54), ayat 3.

Al Qurtubi mengatakan lafaz ahwaa', bentuk jamak dari al hawa, apabila disandarkan kepada individu yang beragama memiliki maksud nafsu atau syahwatnya. Oleh karena itu, beliau menafsirkan al hawa dalam surah Muhammad, ayat 14 dengan isytaha (kemahuan mereka atau hawa nafsu).

Al­ Fayruz Abadi berkata,
penggunaan lafaz jamak ahwaa' di dalam Al Qur'an bertujuan mengingatkan setiap individu memiliki kemauan yang berbeda dengan kemauan yang lain. Namun, kemauan setiap individu itu tidak ada penghujungnya. Apabila nabi mengikuti kemahuan mereka, natijahnya adalah kesesatan dan keraguan.

Kesimpulannya, al ahwaa bermakna ke­mauan dan hawa nafsu yang membawa kepada kesesatan.

Sumber : Kamus Al Qur'an, PTS Islamika SDN. BHD.Hal:33-34

Informasi Surah Al Mu'minuun (المؤمنون)
Surat Al Mu 'minuun terdiri atas 118 ayat, termasuk golongan surat-surat Makkiyyah.
Dinamai "Al Mu'minuun",
karena permulaan surat ini menerangkan bagaimana seharus­nya sifat-sifat orang mu'min yang menyebabkan keberuntungan mereka di akhirat dan keten­ teraman jiwa mereka di dunia.
Demikian tingginya sifat-sifat itu, hingga ia telah menjadi akhlak bagi Nabi Muhammad ﷺ

Keimanan:

Kepastian hari berbangkit dan hal-hal yang terjadi pada hari kiamat
Allah tidak memerlukan anak atau sekutu.

Hukum:

Manusia dibebani sesuai dengan kesanggupannya
rasul-rasul semuanya menyuruh manusia memakan makanan yang halal lagi baik
pokok-pokok agama yang dibawa para nabi adalah sama, hanya syariatnya yang berbeda

Kisah:

Kisah Nuh a.s.
kisah Hud a.s.
kisah Musa a.s. dan Harun a.s.
kisah Isa a.s.

Lain-lain:

Tujuh perkara yang harus dipenuhi oleh seorang mu'min yang ingin mendapat keberuntungan hidup di dunia maupun di akhirat
proses kejadian manusia
tanda­-tanda orang yang bersegera kepada kebaikan
ni'mat Allah yang dianugerahkan kepada manusia wajib disyukuri.


Gambar Kutipan Surah Al Mu’minuun Ayat 71 *beta

Surah Al Mu'minuun Ayat 71



Statistik
  • Rating RisalahMuslim

Surah Al Mu'minuun

Surah Al-Mu'minun (Arab: المؤمنون‎, "Orang-Orang Yang Beriman") adalah surah ke-23 dari al-Qur'an, surah ini terdiri atas 118 ayat dan termasuk golongan surah-surah Makkiyah.
Dinamai Al-Mu'minun, karena permulaan ayat ini menerangkan bagaimana seharusnya sifat-sifat orang mukmin yang menyebabkan keberuntungan mereka di akhirat dan ketenteraman jiwa mereka di dunia.
Demikian tingginya sifat-sifat itu, hingga ia telah menjadi akhlak bagi Nabi Muhammad s.a.w.

Nomor Surah 23
Nama Surah Al Mu'minuun
Arab المؤمنون
Arti Orang-orang mukmin
Nama lain -
Tempat Turun Mekkah
Urutan Wahyu 74
Juz Juz 18
Jumlah ruku' 6 ruku'
Jumlah ayat 118
Jumlah kata 1055
Jumlah huruf 4486
Surah sebelumnya Surah Al-Hajj
Surah selanjutnya Surah An-Nur
4.5
Rating Pembaca: 4.9 (21 votes)
Sending








Anda perlu login mengelola Bookmark.

📖 Lihat Semua Bookmark-ku