Search
Exact matches only
Cari di judul
Cari di Arti & Tafsir
Search in comments
Search in excerpt
Filter by Custom Post Type
Filter berdasar surah
Pilih atau Semua
Abasa
Ad Dukhaan
Adh Dhuhaaa
Adz Dzaariyaat
Al 'Alaq
Al 'Ashr
Al A'laa
Al A'raaf
Al Aadiyaat
Al Ahqaaf
Al Ahzab
Al An 'aam
Al Anbiyaa
Al Anfaal
Al Ankabut
Al Balad
Al Baqarah
Al Bayyinah
Al Buruuj
Al Fajr
Al Falaq
Al Fath
Al Fatihah
Al Fiil
Al Furqaan
Al Ghaasyiyah
Al Haaqqah
Al Hadid
Al Hajj
Al Hasyr
Al Hijr
Al Hujurat
Al Humazah
Al Ikhlas
Al Infithar
Al Insaan
Al Insyiqaaq
Al Israa
Al Jaatsiyah
Al Jinn
Al Jumu'ah
Al Kaafiruun
Al Kahfi
Al Kautsar
Al Lahab
Al Lail
Al Ma'aarij
Al Maa'idah
Al Maa'un
Al Mu'min
Al Mu'minuun
Al Muddatstsir
Al Mujaadilah
Al Mulk
Al Mumtahanah
Al Munafiquun
Al Mursalat
Al Muthaffifin
Al Muzzammil
Al Qaari'ah
Al Qadr
Al Qalam
Al Qamar
Al Qashash
Al Qiyaamah
Al Waaqi'ah
Al Zalzalah
Alam Nasyrah
Ali Imran
An Naazi'at
An Nabaa
An Nahl
An Najm
An Naml
An Nas
An Nashr
An Nisaa'
An Nuur
Ar Ra'd
Ar Rahmaan
Ar Rum
As Sajdah
Ash Shaff
Ash Shaffaat
Asy Shyuura
Asy Syams
Asy Syu'araa
At Taghaabun
At Tahrim
At Takaatsur
At Takwir
At Taubah
At Tin
Ath Thaariq
Ath Thalaaq
Ath Thuur
Az Zukhruf
Az Zumar
Faathir
Fushshilat
Hud
Ibrahim
Luqman
Maryam
Muhammad
Nuh
Qaaf
Quraisy
Saba
Shaad
Thaa Haa
Yaa Siin
Yunus
Yusuf

💡 Ketik [nomer surah]-[nomer ayat], contoh: 2-255 atau albaqarah 255 atau ke www.risalahmuslim.id/2-255

Al Mu'minuun

Al Mu’minuun (Orang-orang mukmin) surah 23 ayat 61


اُولٰٓئِکَ یُسٰرِعُوۡنَ فِی الۡخَیۡرٰتِ وَ ہُمۡ لَہَا سٰبِقُوۡنَ
Uula-ika yusaari’uuna fiil khairaati wahum lahaa saabiquun(a);

mereka itu bersegera untuk mendapat kebaikan-kebaikan, dan merekalah orang-orang yang segera memperolehnya.
―QS. 23:61
Topik ▪ Takwa ▪ Sifat-sifat orang yang bertakwa ▪ Sifat ahli neraka dan kejahatan mereka
23:61, 23 61, 23-61, Al Mu’minuun 61, AlMuminuun 61, Al Mukminun 61, Al-Mu’minun 61
Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. Al Mu'minuun (23) : 61. Oleh Kementrian Agama RI

Ayat ini menegaskan bahwa orang-orang yang mempunyai sifat-sifat tersebut, selalu bersegera berbuat kebaikan bila saja ada kesempatan untuk itu dan selalu berdaya upaya agar amal baiknya selalu bertambah-tambah, baru saja ia selesai melaksanakan amal yang baik ia ingin agar segera berbuat amal yang lain dan demikianlah seterusnya.
Orang-orang yang demikian sifat-sifatnya akan diberi Allah pahala amalnya yang baik di dunia maupun di akhirat seperti tersebut dalam firman-Nya:

Dan Kami berikan kepadanya kebaikan di dunia.
Dan sesungguhnya dia di akhirat benar-benar termasuk orang-orang yang saleh.

(Q.S.
An Nahl: 122)

Dan firman-Nya:

Karena itu Allah memberikan kepada mereka pahala di dunia dan pahala yang baik di akhirat.
Dan Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebaikan.

(Q.S.
Ali Imran: 148)

Al Mu'minuun (23) ayat 61 - dibacakan oleh Shaykh Mishari Alafasy Al Mu'minuun (23) ayat 61 - dibacakan oleh Syaikh Sa'ad Al-Ghamidi Al Mu'minuun (23) ayat 61 - dibacakan oleh Syaikh Muhammad Ayyub

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

mereka semua, dengan apa yang mereka kerjakan itu, bersegera dan mendahului orang lain untuk mencapai berbagai kebaikan.

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(Mereka itu bersegera untuk mendapatkan kebaikan-kebaikan, dan merekalah orang-orang yang segera memperolehnya) menurut ilmu Allah.

Tafsir al-Muyassar
Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:

Mereka itulah orang-orang yang bersungguh-sungguh dalam ketaatan.
Mereka berusaha dengan sungguh-sungguh untuk bersegera kepada setiap amal shalih.
Mereka adalah orang-orang yang selalu berlomba-lomba dalam kebaikan.

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Yaitu mereka mengasihkan pemberiannya dengan rasa takut dan malu bila tidak diterima, yang hal ini bersumber dari perasaan takut mereka bila diri mereka dinilai oleh Allah telah berlaku sembrono terhadap persyaratan memberi.

Hal seperti ini termasuk ke dalam Bab "Bersikap Hati-hati dan Merasa Takut kepada Allah." Seperti yang dikatakan oleh Imam Ahmad:

telah menceritakan kepada kami Yahya ibnu Adam, telah menceritakan kepada kami Malik ibnu Magul, telah menceritakan kepada kami Abdur Rahman ibnu Sa'id ibnu Wahb, dari Aisyah yang mengatakan bahwa ia pernah bertanya, "Wahai Rasulullah, apakah yang dimaksud dengan “orang-orang yang mengerjakan perbuatan mereka, sedangkan hati mereka takut” itu adalah orang yang mencuri, berzina, dan minum khamr dalam keadaan takut kepada Allah?"
Rasulullah ﷺ menjawab: Tidak, hai anak perempuan As-Siddiq.
Tetapi dia adalah orang yang salat, puasa, dan bersedekah, sedangkan ia takut kepada Allah subhanahu wa ta'ala

Hal yang sama telah diriwayatkan oleh Imam Turmuzi dan Ibnu Abu Hatim melalui hadis Malik ibnu Magul, dengan sanad yang sama dan lafaz yang semisal.
Disebutkan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:

Tidak, hai anak perempuan As-Siddiq.
Tetapi mereka adalah orang-orang yang salat, puasa, dan bersedekah, sedangkan hati mereka merasa takut tidak diterima amalnya.
mereka itu bersegera mendapat kebaikan-kebaikan.
(Al Mu’minun: 61)

Imam Turmuzi mengatakan, telah diriwayatkan melalui hadis Abdur Rahman ibnu Sa'id, dari Abu Hazim, dari Abu Hurairah, dari Nabi ﷺ hal yang semisal.

Hal yang sama telah dikatakan oleh Ibnu Abbas, Muhammad ibnu Ka'b Al-Qurazi, dan Al-Hasan Al-Basri sehubungan dengan tafsir ayat ini.

Ulama lain ada yang membaca ayat ini dengan bacaan berikut yang artinya:

Dan orang-orang yang mengerjakan amal perbuatan mereka dengan hati yang takut (tidak akan diterima oleh Allah amalannya).

Hal ini telah diriwayatkan secara marfu' dari Nabi ﷺ bahwa beliau ﷺ pernah membacanya dengan bacaan tersebut.

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Affan, telah menceritakan kepada kami Sakhr ibnu Juwariyah, telah menceritakan kepada kami Ismail Al-Makki, telah menceritakan kepada kami Abu Khalaf, maula Bani Jumah, bahwa ia masuk bersama Ubaid ibnu Umair ke dalam rumah Siti Aisyah r.a.
Maka Siti Aisyah r.a.
menyambut keduanya dengan ucapan Marhaban, "Selamat datang dengan Abu Asim, mengapa engkau lama sekali tidak berkunjung kepadaku, apakah ada sesuatu halangan?"
Ia menjawab, "Saya khawatir akan membosankan bila terlalu sering." Siti Aisyah berkata, "Jangan kamu berbuat begitu lagi." Aku (Ubaid ibnu Umar) berkata, "Saya datang kepadamu untuk menanyakan tentang suatu ayat dari Kitabullah, bagaimanakah bacaan Rasulullah ﷺ Terhadapnya?"
Siti Aisyah bertanya, "Ayat yang mana?"
Saya menjawab bahwa ayat tersebut adalah firman Allah subhanahu wa ta'ala: Dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan.
(Al Mu’minun: 60) dan firman-Nya: Dan orang-orang yang mengerjakan amal perbuatan mereka.
Siti Aisyah r.a.
bertanya, "Manakah di antara dua bacaan itu yang kamu sukai?"
Saya menjawab, "Demi Tuhan yang jiwaku berada di dalam genggaman kekuasaan-Nya, sesungguhnya salah satu di antara keduanya memang lebih saya sukai daripada dunia ini atau dunia dan seisinya," Siti Aisyah bertanya, "Manakah yang kamu sukai?"
Saya membacakan firman-Nya: Dan orang-orang yang mengerjakan amal perbuatan mereka.
Siti Aisyah r.a.
menjawab, "Aku bersaksi bahwa Rasulullah ﷺ memang membacanya seperti itu, dan memang ayat itu diturunkan dengan bacaan seperti itu, tetapi dialeknya memang berbeda-beda."

Di dalam sanad hadis ini terdapat Ismail ibnu Muslim Al-Makki, sedangkan ia orangnya daif dalam periwayatan hadis.
Akan tetapi, qiraat yang pertama yang dianut oleh jumhur ulama sab'ah dan lain-lainnya adalah pendapat yang lebih kuat, karena di dalam firman selanjutnya disebutkan:

mereka itu bersegera untuk mendapat kebaikan-kebaikan, dan merekalah orang-orang yang segera memperolehnya.
(Al Mu’minun: 61)

Disebutkan bahwa Allah menjadikan mereka termasuk orang-orang yang bersegera mendapat kebaikan-kebaikan.

eandainya makna yang dimaksud adalah seperti qiraat yang lainnya, tentulah kelanjutannya tidak disebutkan seperti itu, melainkan Minal Muqtasidin atau Muqsirin yang artinya orang-orang yang pertengahan atau orang-orang yang membatasi dirinya.
Hanya Allah-lah Yang Maha Mengetahui

Kata Pilihan Dalam Surah Al Mu'minuun (23) Ayat 61

SAABIQ
سَابِق

Lafaz ini adalah ism fa'il dari kata kerja sabaqa. Asal makna lafaz ini ialah maju kehadapan dalam perjalanan.

Menurut Al Fayruz, as sabq dalam Al Qur'an mengandung beberapa makna yaitu:
(1) Wajib
(2) Berburu,
(3) Maju ke hadapan dengan niat melarikan diri;
(4) Mendahului atau meninggalkan;
(5) Mendahului dalam mukjizat dan kehinaan bagi musuh-musuh para nabi;
(6) Mendahului dalam tauhid dan iman.

Sedangkan lafaz saabiq bermakna yang mendahului dalam kebaikan.

Lafaz ini disebut dua kali di dalam Al Qur'an yaitu dalam surah:
-Faathir (35), ayat 32;
-Yasin (36), ayat 40.

Lafaz saabiq dalam surah Faathir dikaitkan dengan al ­khairaat atau kebaikan dan ia mengandung makna:

1. Yang mendahului dalam ketakwaan secara mutlak sebagaimana pendapat Ikrimah, Ad Dahhak dan Al Farra'.

2. Yang mendahului manusia keseluruhannya dalam kebaikan sebagaimana pendapat yang dikemukakan oleh Mujahid.

3. Yang alim, ini pendapat Sahl bin 'Abdullah.

4. Dzun Nun Al Masri berpendapat, ia bermakna orang yang tidak pernah lalai dari mengingati Allah.

5. Ibn 'Ata berpendapat, ia bermakna orang yang menjatuhkan keinginannya kepada keinginan kebenaran.

6. As Sabiq bermakna yang membaca Al Qur'an, beramal dengannya dan tahu makna-maknanya

7. As Sabiq bermakna yang mencintai Tuhannya.

8. 'Aisyah berkata,
"As Saabiq adalah orang yang beriman sebelum hijrah"

9. Diriwayatkan dari Ibn Abbas, Ibn Mas'ud dan Abl Al Darda', makna sabiq bi Al khairat ialah orang yang memasuki syurga tanpa hisab."

10. Ibn Katsir memberikan makna lafaz ini dengan orang yang menunaikan perkara-perkara yang wajib dan sunnah, meninggalkan yang haram dan makruh serta sebahagian yang harus.

Kesimpulannya, makna as saabiq disini mencakup semua makna diatas dan lebih dekatnya orang yang memasuki syurga tanpa hisab sebagaimana yang diriwayatkan oleh Ibn Abbas, Ibn Mas'ud dan Abi Al Darda.

Dalam surah Yasin, lafaz saabiq dikaitkan dengan malam dan siang. Allah berfirman yang artinya, "Dan malam tidak mendahului siang karena tiap-tiap satunya beredar terapung di tempat edarannya masing-rnasing,"

Az Zamakhsyari berkata,
"Maknanya tanda-tanda malam tidak akan mendahului tanda-tanda siang dan keduanya adalah dua cahaya di mana siang tandanya terbitnya matahari dan malam munculnya bulan.

Apabila ditanya orang, "Mengapa matahari dijadikan tidak mudah mengejar (idrak) dan bulan tidak mendahului ?" Saya menjawab, "karena matahari tidak melintasi edarannya hingga satu tahun sedangkan bulan melintasi edarannya dalam satu bulan. Oleh karena itu, matahari sudah tentu bersifat tidak mudah mengejar (al­idrak), karena perjalanannya lambat dari perjalanan bulan dan bulan disifatkan dengan As sabq karena cepat perjalanannya.

Muhammad 'Abdus Salam Syahin berkata,
"Maknanya di sini, setiap dari keduanya tidak memasuki yang lain dalam kekuasaannya sehingga cahayanya bercampur, tetapi keduanya saling bergantian di bawah pengaturan Allah."

Jamak mudzakkar dari kata saabiq ialah sabiquun atau sabiqiin.

Lafaz sabiquun disebut empat kali di dalam Al Qur'an yaitu dalam surah:
-Al Taubah (9), ayat 100;
-Al Mu'minuun (23), ayat 61;
-Al Waaqi'ah (56), ayat 10.

Dalam surah At Taubah, lafaz ini dihubungkan dengan al awwaaluun minal muhaajiriina wal anshaar artinya orang yang awal memeluk Islam dari golongan Muhajirin dan Anshar. Dalam surah ini, lafaz ini mengandung beberapa penafsiran yaitu:

1. Mereka adalah orang yang membai'at Rasulullah pada Bai'ah Ridwan atau yang hadir dan menyaksikan pada bai'at itu. Ini adalah pendapat 'Amir dan Asy Sya'bi.

2. Mereka adalah orang yang shalat dengan Rasulullah di dua kiblat dari kalangan Muhajirin. Ini adalah pendapat Abu Musa Al Asy'ari dan Sa'id bin Al Musayyab.

3. At Tabari menafsirkannya dengan orang yang mendahului manusia dengan menyatakan iman mereka kepada Allah dan rasul Nya dari kalangan Muhajirin yang berhijrah meninggalkan kaum dan keluarga mereka, memisahkan rumah dan negeri mereka serta kalangan Anshar yang membela dan menolong Rasulullah menghadapi musuh-musuhnya dari kalangan orang-orang kafir.

Dalam surah yang lain, Ar Raghib Al Isfahani berkata,
makna as sasbiquun adalah orang yang lebih dahulu mendapat ganjaran dari Allah dan syurga dengan amalan­ amalan yang shaleh.

Diriwayatkan oleh Ibn Jarir, Ibn Al Mundzir dan Ibn Abi Hatim dari Ibn Abbas, mereka adalah orang yang lebih dahulu mendapat kebahagiaan dari Allah.

Sa'ld Hawwa berkata,
"Lafaz ini bermakna mereka yang mendahului dalam berbuat kebaikan dan lebih dahulu memasuki syurga."

Muhammad bin Ka'ab dan Abu Hirzah Ya'qub bin Mujahid berpendapat, mereka adalah para nabi.

Menurut riwayat dari Ibn Abi Najih dari Mujahid dari Ibn Abbas berkata,
"Mereka ialah Yusya' bin Nun yang lebih dahulu beriman kepada Musa, seorang mu'min dari keluarga Yasin yang lebih dahulu beriman kepada (Isa, dan 'Ali bin Abi Talib yang lebih dahulu beriman kepada Nabi Muhammad."

As Suddi berkata,
"Mereka ialah yang mempunyai darjat yang tinggi."

Al Awza'i melaporkan dari Abi Saudah, mereka ialah orang yang lebih dahulu pergi ke masjid dan lebih dahulu keluar di jalan Allah.

Ibn Katsir berkata,
"Kesemua makna di atas bagi lafaz as saabiquun adalah benar karena makna umum bagi lafaz itu adalah orang yang bersegera melakukan kebaikan sebagaimana yang diperintahkan kepada mereka."

Kesimpulannya, makna as saabiquun terbahagi kepada dua, khusus dan umum.

Makna yang khusus terdapat dalam surah At Taubah yaitu mereka adalah orang Muhajirin dan Anshar.

Sedangkan yang umum terdapat dalam surah lain yang bermakna orang yang bersegera melakukan kebaikan sebagaimana yang diseru Allah kepadanya.

Sedangkan lafaz saabiqiin disebut sekali saja di dalam Al Qur'an yaitu dalam surah Al Ankabut (29), ayat 39.

Al Raghlb dan Al Fayruz berkata,
"Lafaz ini mengandung makna peringatan dan penjelasan, mereka tidak akan mendahuluinya dan melepaskannya."

Dalam sebuah hadis sahih, Rasulullah berkata,
"Berjalanlahl pasti orang yang menyendiri akan mendahului" Lalu beliau ditanya, "Siapa mereka, ya Rasulullah ?" Beliau menjawab, "Mereka adalah orang yang bergoyang dan bergetar hati mereka dengan zikrullah (berzikir kepada Allah)."

At Tabari juga menafsirkan ayat ini, "Ingatlah, wahai Muhammad! Tentang Qarun, Firaun dan Haman, di mana Nabi Musa mendatangkan kepada mereka bukti-bukti dan ayat-ayat yang terang, tetapi mereka takbur di muka bumi dengan tidak mempercayai ayat-ayat itu dan tidak mahu mengikuti Musa, maka diri mereka tidak dapat mendahului kami sehingga melepaskan diri mereka dari kami, malah kami akan mengatasi mereka dengan menjatuhkan azab kepada mereka."

Dalam Tafsir Al Jalalain disebutkan, "Makna saabiqiin ialah mereka tidak dapat terlepas dari azab kami."

Kesimpulannya, lafaz sabiqiin dalam ayat ini bermakna mereka yaitu Qarun, Firaun dan Haman yang tidak terlepas dari azab Allah.

Sumber : Kamus Al Qur'an, PTS Islamika SDN. BHD.Hal:287-289

Informasi Surah Al Mu'minuun (المؤمنون)
Surat Al Mu 'minuun terdiri atas 118 ayat, termasuk golongan surat-surat Makkiyyah.
Dinamai "Al Mu'minuun",
karena permulaan surat ini menerangkan bagaimana seharus­nya sifat-sifat orang mu'min yang menyebabkan keberuntungan mereka di akhirat dan keten­ teraman jiwa mereka di dunia.
Demikian tingginya sifat-sifat itu, hingga ia telah menjadi akhlak bagi Nabi Muhammad ﷺ

Keimanan:

Kepastian hari berbangkit dan hal-hal yang terjadi pada hari kiamat
Allah tidak memerlukan anak atau sekutu.

Hukum:

Manusia dibebani sesuai dengan kesanggupannya
rasul-rasul semuanya menyuruh manusia memakan makanan yang halal lagi baik
pokok-pokok agama yang dibawa para nabi adalah sama, hanya syariatnya yang berbeda

Kisah:

Kisah Nuh a.s.
kisah Hud a.s.
kisah Musa a.s. dan Harun a.s.
kisah Isa a.s.

Lain-lain:

Tujuh perkara yang harus dipenuhi oleh seorang mu'min yang ingin mendapat keberuntungan hidup di dunia maupun di akhirat
proses kejadian manusia
tanda­-tanda orang yang bersegera kepada kebaikan
ni'mat Allah yang dianugerahkan kepada manusia wajib disyukuri.


Gambar Kutipan Surah Al Mu’minuun Ayat 61 *beta

Surah Al Mu'minuun Ayat 61



Statistik
  • Rating RisalahMuslim

Surah Al Mu'minuun

Surah Al-Mu'minun (Arab: المؤمنون‎, "Orang-Orang Yang Beriman") adalah surah ke-23 dari al-Qur'an, surah ini terdiri atas 118 ayat dan termasuk golongan surah-surah Makkiyah.
Dinamai Al-Mu'minun, karena permulaan ayat ini menerangkan bagaimana seharusnya sifat-sifat orang mukmin yang menyebabkan keberuntungan mereka di akhirat dan ketenteraman jiwa mereka di dunia.
Demikian tingginya sifat-sifat itu, hingga ia telah menjadi akhlak bagi Nabi Muhammad s.a.w.

Nomor Surah 23
Nama Surah Al Mu'minuun
Arab المؤمنون
Arti Orang-orang mukmin
Nama lain -
Tempat Turun Mekkah
Urutan Wahyu 74
Juz Juz 18
Jumlah ruku' 6 ruku'
Jumlah ayat 118
Jumlah kata 1055
Jumlah huruf 4486
Surah sebelumnya Surah Al-Hajj
Surah selanjutnya Surah An-Nur
4.7
Rating Pembaca: 4.7 (11 votes)
Sending








Anda perlu login mengelola Bookmark.

📖 Lihat Semua Bookmark-ku