Al Mu’minuun (Orang-orang mukmin) – surah 23 ayat 44 [QS. 23:44]

ثُمَّ اَرۡسَلۡنَا رُسُلَنَا تَتۡرَا ؕ کُلَّمَا جَآءَ اُمَّۃً رَّسُوۡلُہَا کَذَّبُوۡہُ فَاَتۡبَعۡنَا بَعۡضَہُمۡ بَعۡضًا وَّ جَعَلۡنٰہُمۡ اَحَادِیۡثَ ۚ فَبُعۡدًا لِّقَوۡمٍ لَّا یُؤۡمِنُوۡنَ
Tsumma arsalnaa rusulanaa tatraa kulla maa jaa-a ummatan rasuuluhaa kadz-dzabuuhu fa-atba’naa ba’dhahum ba’dhan waja’alnaahum ahaadiitsa fabu’dan liqaumin laa yu’minuun(a);

Kemudian Kami utus (kepada umat-umat itu) rasul-rasul Kami berturut-turut.
Tiap-tiap seorang rasul datang kepada umatnya, umat itu mendustakannya, maka Kami perikutkan sebagian mereka dengan sebagian yang lain.
Dan Kami jadikan mereka buah tutur (manusia), maka kebinasaanlah bagi orang-orang yang tidak beriman.
―QS. 23:44
Topik ▪ Kisah-kisah ▪ Hikmah dari kisah umat-umat terdahulu ▪ Kebodohan orang kafir
23:44, 23 44, 23-44, Al Mu’minuun 44, AlMuminuun 44, Al Mukminun 44, Al-Mu’minun 44

Tafsir surah Al Mu'minuun (23) ayat 44

Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. Al Mu’minuun (23) : 44. Oleh Kementrian Agama RI

Kemudian Allah mengutus kepada umat-umat itu Rasul-rasul-Nya secara berturut-turut dalam beberapa abad yang tertentu.
Pada tiap-tiap abad ada Rasul-Nya yang berfungsi menyampaikan risalah-Nya.
Demikianlah mereka datang silih berganti sampai kepada Nabi penutup yaitu Nabi Muhammad ﷺ, setiap Rasul datang kepada umatnya, umat itu mendustakannya.
Oleh karena masing-masing umat itu mendustakan Rasul-Nya, maka Allah membinasakan mereka berturut-turut, dan Allah menjadikan mereka buah tutur manusia yang datang kemudiannya.
Mereka sering menyebut-nyebut kisah mereka dalam percakapannya sehari-hari untuk dijadikan pelajaran dalam sejarah umat-umat yang pernah mendustakan Nabi-nabinya.
Maka kebinasaanlah akhirnya bagi umat-umat yang tidak beriman itu.

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Lalu Kami mengutus rasul-rasul Kami kepada kaumnya masing-masing secara berturut-turut.
Setiap kali seorang rasul datang kepada kaumnya, ia dianggap bohong dalam menyampaikan dakwahnya.
Mereka pun kemudian Kami binasakan secara berturut-turut.
Kabar tentang mereka Kami jadikan bahan omongan dan keheranan orang.
Terusirlah dari kasih sayang Kami dan binasalah orang-orang yang tidak mempercayai dan tidak tunduk kepada kebenaran!

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(Kemudian Kami utus rasul-rasul Kami berturut-turut) lafal Tatran dapat pula dibaca Tatraa tanpa memakai harakat Tanwin, artinya berturut-turut yang di antara kedua rasul terdapat pemisah jarak waktu yang cukup lama.
(Manakala datang kepada suatu umat) lafal Jaa-a Ummatan dapat dibaca Jaa-a ummatan yakni dengan mentashhilkan huruf Hamzah yang kedua, sehingga ucapannya seolah-olah ada huruf Wau (Rasul, umat itu mendustakannya, maka Kami perikutkan sebagian mereka dengan sebagian yang lain) Kami samakan mereka dengan umat-umat terdahulu dalam hal terbinasa (dan Kami jadikan mereka buah tutur manusia maka kebinasaanlah bagi orang-orang yang tidak beriman).

Tafsir al-Muyassar
Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:

Kemudian Kami utus para rasul Kami kepada umat-umat tersebut secara berturut-turut.
Ketika seorang Rasul dating kepada umatnya, umat itu mendustakannya.
Maka Kami timpakan kehancuran dan kebinasaan kepada mereka secara berturut-turut.
Tiada tersisa kecuali hanya berita kehancuran mereka saja.
Kami jadikan mereka sebagai pelajaran bagi manusia setelahnya.
Yaitu kehancuran dan kebinasaan bagi sebuah kaum yang tidak percaya kepada para Rasul dan tidak menaati mereka.

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

Kemudian Kami ciptakan sesudah mereka umat-umat yang lain.
(Al Mu’minun: 42)

Yaitu umat-umat dan generasi-generasi lain sesudah mereka tiada.

Tidak (dapat) suatu umat pun mendahului ajalnya, dan tidak (dapat pula) mereka terlambat (dari ajalnya itu).
(Al Mu’minun: 43)

Tetapi mereka dimusnahkan sesuai dengan apa yang ditakdirkan oleh Allah bagi mereka.
Yang hal tersebut telah tercatat di dalam Lauh Mahfuz dan telah diketahui-Nya sebelum mereka tercipta.
Mereka dimusnahkan generasi demi generasi dan umat demi umat.

Kemudian Kami utus (kepada umat-umat itu) rasul-rasul Kami berturut-turut.
(Al Mu’minun: 44)

Ibnu Abbas mengatakan bahwa sebagian dari rasul-rasul itu datang berurutan setelah sebagian yang lainnya.

Hal ini semakna dengan apa yang disebutkan oleh firnan-Nya:

Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan), “Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah tagut itu, ” maka di antara umat itu ada orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah dan ada pula di antaranya orang-orang yang telah pasti kesesalan baginya.
(An Nahl:36)

Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

Tiap-tiap seorang rasul datang kepada umatnya, umat itu mendustakannya.
(Al Mu’minun: 44)

Maksudnya, sebagian besar dari mereka mendustakannya.
Seperti juga yang disebutkan di dalam ayat lain melalui firman-Nya:

Alangkah besarnya penyesalan terhadap hamba-hamba itu, tiada datang seorang rasul pun kepada mereka melainkan mereka selalu memperolok-olokkannya.
(Yaa Siin:30)

Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

maka Kami perikutkan sebagian mereka dengan sebagian yang lain.
(Al Mu’minun: 44)

Yakni Kami binasakan mereka generasi demi generasi.
Sama pengertian-nya dengan apa yang disebutkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala dalam ayat lain melalui firman-Nya:

Dan berapa banyaknya kaum sesudah Nuh telah Kami binasakan.
(Al Israa’:17)

Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

Dan Kami jadikan mereka buah tutur (manusia).
(Al Mu’minun-44)

Yaitu sebagai cerita dan kisah bagi manusia (sesudah mereka).
Semakna dengan firman-Nya:

maka Kami jadikan mereka buah tutur dan Kami hancurkan mereka sehancur-hancurnya.
(Saba’:19)


Kata Pilihan Dalam Surah Al Mu'minuun (23) Ayat 44

AHAADITS
أَحَادِيث

Lafaz ini adalah jamak, mufradnya adalah al hadits, yang bermakna baru dan khabar. Asalnya dari at-tahdiits yang bermakna al ikhbar yang bermakna memberitakan atau mengkhabarkan.

Hadits juga bermakna perkataan, kalam, Al Qur’an, hikayat dan pengajaran dari penceritaan mengenai orang kafir dan yang berbuat maksiat.

Ahaadits juga dalam bentuk jamak dari ahdutsah yang bermakna apa yang dicakapkan atau dibincangkan.

Lafaz ahaadits disebut sebanyak lima kali di dalam Al Qur’an yaitu dalam surah
-Yusuf (12), ayat 6, 21, 101;
-Al Mu’minuun (23), ayat 44;
-Saba’ (34), ayat 19.

Mujahid dan As Suddi berpendapat, ungkapan ta’wiilull ahaadits artinya pentafsiran mimpi.

Menurut Al Hasan, pengertian ahaadits dalam ayat itu ialah kesudahan segala perkara.

Muqatil berkata,
ia bermakna keanehan-keanehan mimpi.

Sedangkan Az Zamaksyari berpendapat, ahaadits bermakna mimpi, baik itu percakapan jiwa, malaikat, maupun syaitan. Sedangkan tafsirannya, ia adalah bentuk jamak dari kata hadits, bukan jamak dari ahdutsah.

Al­ Qurtubi menafsirkan lafaz ahaadits pada surah Al Mu’minuun sebagai perkara yang menjadi topik perbincangan.

Menurut Al­ Akhfasy, ia digunakan bagi perkara jahat, bukan baik, sebagaimana yang dikatakan orang, “Si A menjadi bahan atau buah percakapan,” atau sebagai pengajaran dan contoh. Itu juga maksud ahaadith pada surah Saba’, yang merupakan jamak dari ahdutsah.

Menurut Al Fayruz Abadi, yang dimaksudkan dengan ahaadits ialah setiap perkataan yang sampai kepada manusia melalui wahyu dalam keadaan sadar atau tidur. Sedangkan ahadits pada surah Yusuf bermaksud apa yang dicakapkan kepada manusia dalam tidurnya.

Pengertian lafaz ahaadits ialah apa yang dibicarakan kepada manusia dalam keadaan tidur atau mimpi-­mimpi sebagaimana yang terdapat pada surah Yusuf. Ia juga bermakna buah percakapan sebagai pengajaran dan contoh, sebagaimana yang terdapat dalam surah Al Mu’minuun dan Saba’.

Sumber : Kamus Al Qur’an, PTS Islamika SDN. BHD.Hal:25

Informasi Surah Al Mu'minuun (المؤمنون)
Surat Al Mu ‘minuun terdiri atas 118 ayat, termasuk golongan surat-surat Makkiyyah.
Dinamai “Al Mu’minuun”,
karena permulaan surat ini menerangkan bagaimana seharus­nya sifat-sifat orang mu’min yang menyebabkan keberuntungan mereka di akhirat dan keten­ teraman jiwa mereka di dunia.
Demikian tingginya sifat-sifat itu, hingga ia telah menjadi akhlak bagi Nabi Muhammad ﷺ

Keimanan:

Kepastian hari berbangkit dan hal-hal yang terjadi pada hari kiamat
Allah tidak memerlukan anak atau sekutu.

Hukum:

Manusia dibebani sesuai dengan kesanggupannya
rasul-rasul semuanya menyuruh manusia memakan makanan yang halal lagi baik
pokok-pokok agama yang dibawa para nabi adalah sama, hanya syariatnya yang berbeda

Kisah:

Kisah Nuh a.s.
kisah Hud a.s.
kisah Musa a.s. dan Harun a.s.
kisah Isa a.s.

Lain-lain:

Tujuh perkara yang harus dipenuhi oleh seorang mu’min yang ingin mendapat keberuntungan hidup di dunia maupun di akhirat
proses kejadian manusia
tanda­-tanda orang yang bersegera kepada kebaikan
ni’mat Allah yang dianugerahkan kepada manusia wajib disyukuri.

Audio

Qari Internasional

Al Mu'minuun (23) ayat 44 - Oleh Syekh Mishari Alafasy
Al Mu'minuun (23) ayat 44 - Oleh Syekh Sa'ad Al-Ghamidi
Al Mu'minuun (23) ayat 44 - Oleh Syekh Muhammad Ayyub

Murottal al-Qur'an & Terjemahan Indonesia
Q.S. Al Mu'minuun - Oleh Syekh Misyari Rasyid Alafasy
Full 118 Ayat & Terjemahan


Gambar



Statistik
  • Rating RisalahMuslim

Surah Al Baqarah

Surah Al-Mu'minun (Arab: المؤمنون‎, "Orang-Orang Yang Beriman") adalah surah ke-23 dari al-Qur'an, surah ini terdiri atas 118 ayat dan termasuk golongan surah-surah Makkiyah.
Dinamai Al-Mu'minun, karena permulaan ayat ini menerangkan bagaimana seharusnya sifat-sifat orang mukmin yang menyebabkan keberuntungan mereka di akhirat dan ketenteraman jiwa mereka di dunia.
Demikian tingginya sifat-sifat itu, hingga ia telah menjadi akhlak bagi Nabi Muhammad s.a.w.

Nomor Surah23
Nama SurahAl Mu'minuun
Arabالمؤمنون
ArtiOrang-orang mukmin
Nama lain-
Tempat TurunMekkah
Urutan Wahyu74
JuzJuz 18
Jumlah ruku'6 ruku'
Jumlah ayat118
Jumlah kata1055
Jumlah huruf4486
Surah sebelumnyaSurah Al-Hajj
Surah selanjutnyaSurah An-Nur
4.8
Ratingmu: 4.6 (8 orang)
Sending

✅ URL singkat halaman ini: https://risalahmuslim.id/23-44









Video

Panggil Video Lainnya

RisalahMuslim di  







Email: [email protected]
Made with in Yogyakarta