Search
Exact matches only
Cari di judul
Cari di Arti & Tafsir
Search in comments
Search in excerpt
Filter by Custom Post Type
Filter berdasar surah
Pilih atau Semua
Abasa
Ad Dukhaan
Adh Dhuhaaa
Adz Dzaariyaat
Al 'Alaq
Al 'Ashr
Al A'laa
Al A'raaf
Al Aadiyaat
Al Ahqaaf
Al Ahzab
Al An 'aam
Al Anbiyaa
Al Anfaal
Al Ankabut
Al Balad
Al Baqarah
Al Bayyinah
Al Buruuj
Al Fajr
Al Falaq
Al Fath
Al Fatihah
Al Fiil
Al Furqaan
Al Ghaasyiyah
Al Haaqqah
Al Hadid
Al Hajj
Al Hasyr
Al Hijr
Al Hujurat
Al Humazah
Al Ikhlas
Al Infithar
Al Insaan
Al Insyiqaaq
Al Israa
Al Jaatsiyah
Al Jinn
Al Jumu'ah
Al Kaafiruun
Al Kahfi
Al Kautsar
Al Lahab
Al Lail
Al Ma'aarij
Al Maa'idah
Al Maa'un
Al Mu'min
Al Mu'minuun
Al Muddatstsir
Al Mujaadilah
Al Mulk
Al Mumtahanah
Al Munafiquun
Al Mursalat
Al Muthaffifin
Al Muzzammil
Al Qaari'ah
Al Qadr
Al Qalam
Al Qamar
Al Qashash
Al Qiyaamah
Al Waaqi'ah
Al Zalzalah
Alam Nasyrah
Ali Imran
An Naazi'at
An Nabaa
An Nahl
An Najm
An Naml
An Nas
An Nashr
An Nisaa'
An Nuur
Ar Ra'd
Ar Rahmaan
Ar Rum
As Sajdah
Ash Shaff
Ash Shaffaat
Asy Shyuura
Asy Syams
Asy Syu'araa
At Taghaabun
At Tahrim
At Takaatsur
At Takwir
At Taubah
At Tin
Ath Thaariq
Ath Thalaaq
Ath Thuur
Az Zukhruf
Az Zumar
Faathir
Fushshilat
Hud
Ibrahim
Luqman
Maryam
Muhammad
Nuh
Qaaf
Quraisy
Saba
Shaad
Thaa Haa
Yaa Siin
Yunus
Yusuf

💡 Ketik [nomer surah]-[nomer ayat], contoh: 2-255 atau albaqarah 255 atau ke www.risalahmuslim.id/2-255

Al Mu'minuun

Al Mu’minuun (Orang-orang mukmin) surah 23 ayat 27


فَاَوۡحَیۡنَاۤ اِلَیۡہِ اَنِ اصۡنَعِ الۡفُلۡکَ بِاَعۡیُنِنَا وَ وَحۡیِنَا فَاِذَا جَآءَ اَمۡرُنَا وَ فَارَ التَّنُّوۡرُ ۙ فَاسۡلُکۡ فِیۡہَا مِنۡ کُلٍّ زَوۡجَیۡنِ اثۡنَیۡنِ وَ اَہۡلَکَ اِلَّا مَنۡ سَبَقَ عَلَیۡہِ الۡقَوۡلُ مِنۡہُمۡ ۚ وَ لَا تُخَاطِبۡنِیۡ فِی الَّذِیۡنَ ظَلَمُوۡا ۚ اِنَّہُمۡ مُّغۡرَقُوۡنَ
Fa-a-uhainaa ilaihi aniishna’il fulka bia’yuninaa wawahyinaa fa-idzaa jaa-a amrunaa wafaarattannuuru faasluk fiihaa min kullin zaujainiitsnaini wa-ahlaka ilaa man sabaqa ‘alaihil qaulu minhum walaa tukhaathibnii fiil-ladziina zhalamuu innahum mughraquun(a);

Lalu Kami wahyukan kepadanya:
“Buatlah bahtera di bawah penilikan dan petunjuk Kami, maka apabila perintah Kami telah datang dan tanur telah memancarkan air, maka masukkanlah ke dalam bahtera itu sepasang dari tiap-tiap (jenis), dan (juga) keluargamu, kecuali orang yang telah lebih dahulu ditetapkan (akan ditimpa azab) di antara mereka.
Dan janganlah kamu bicarakan dengan Aku tentang orang-orang yang zalim, karena sesungguhnya mereka itu akan ditenggelamkan.
―QS. 23:27
Topik ▪ Iman ▪ Orang mukmin selalu dalam lindungan Allah Ta’ala ▪ Pengukuhan kenabian dengan mukjizat
23:27, 23 27, 23-27, Al Mu’minuun 27, AlMuminuun 27, Al Mukminun 27, Al-Mu’minun 27
Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. Al Mu'minuun (23) : 27. Oleh Kementrian Agama RI

Setelah doa Nuh diperkenankan, maka Allah mewahyukan kepadanya, agar ia memulai membuat bahtera di bawah pengawasan dan petunjuk wahyu-Nya, supaya bahtera itu utuh tidak mengalami kerusakan dan supaya Nuh mengetahui teknik pembuatannya, sebab pembuatan sebuah bahtera yang besar lagi kokoh tentu saja memerlukan keahlian.
Apabila perintah Allah sudah datang untuk membinasakan kaumnya dengan taufan yang besar, dan tanda permulaannya sudah nampak, yaitu tannur tempat membakar roti di bawah tanah sudah mulai memancarkan air, maka Allah menyuruh Nabi Nuh memasukkan ke dalam bahtera itu dari tiap-tiap jenis binatang sepasang jantan dan betina.
Tahapan yang paling bawah untuk binatang buas seperti: singa jantan dan singa betina, harimau jantan dan harimau betina dan sebagainya.
Di tahapan kedua binatang ternak seperti: sapi jantan dan sapi betina, kambing jantan dan kambing betina dan sebagainya.
Di tahapan ketiga semua jenis burung-burung sepasang-sepasang dan di tahapan yang paling atas sekali Nabi Nuh dengan sekalian keluarganya yang selamat, yaitu di antaranya tiga orang putranya : SAM, HAM dan YAFIS Adapun putra beliau yang bernama KAN'AN termasuk orang yang tenggelam, karena ia tidak mau ikut bersama ayahnya.

Oleh karena dalam bahtera Nuh itu dimasukkan dari setiap jenis binatang yang ada pada waktu itu sepasang-sepasang maka bahtera Nuh itu merupakan suatu kebun binatang yang lengkap.
Dan semua binatang selain ikan yang tidak masuk ke dalam bahtera termasuk pula semua orang kafir yang tidak mengikuti akan Nabi Nuh itu semuanya ditenggelamkan dalam besar itu, karena lebih dahulu telah ditetapkan, bahwa mereka akan ditimpa azab.
Dan Allah subhanahu wa ta'ala melarang Nuh supaya jangan membicarakan dengan-Nya tentang orang-orang yang zalim itu, karena mereka semuanya akan ditenggelamkan.
Dan semua manusia yang sekarang berada di atas permukaan bumi ini adalah keturunan Nabi Nuh dari putranya yang tiga orang itu, yang ikut bersamanya yaitu: Sam, Ham, Yafis.

Al Mu'minuun (23) ayat 27 - dibacakan oleh Shaykh Mishari Alafasy Al Mu'minuun (23) ayat 27 - dibacakan oleh Syaikh Sa'ad Al-Ghamidi Al Mu'minuun (23) ayat 27 - dibacakan oleh Syaikh Muhammad Ayyub

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Kemudian Kami wahyukan kepadanya, "Buatlah bahtera yang akan melindungimu dari kejahatan mereka.
Kami akan mengayomi dan menunjukkan kepadamu cara pembuatannya.
Ketika tiba saat penyiksaan mereka nanti, dan kamu menyaksikan tanur yang memancarkan air atas perintah Kami, segeralah naik kapal itu dengan mengikutsertakan semua jenis makhluk hidup secara berpasangan:
jantan dan betina.
Sertakan pula keluargamu kecuali orang yang telah Kami tetapkan untuk disiksa karena tidak mau beriman.
Jangan meminta-Ku menyelamatkan orang-orang yang menganiaya diri sendiri dengan bersikap ingkar dan zalim, sebab Aku telah memutuskan untuk menenggelamkan mereka akibat kezaliman mereka yang bersikap musyrik dan durhaka[1].

[1] Meskipun pemaparan tentang terjadinya topan pada ayat ini disampaikan secara singkat, namun mengandung makna dan fakta ilmiah yang tidak diketahui orang banyak.
Secara etimologis, kata "tannur" berarti 'tempat pembakaran roti', 'permukaan bumi yang dapat memancarkan air' atau 'tempat di mana terdapat banyak air'.
Ketika kita berusaha memastikan kapan terjadinya peristiwa angin topan itu, kita akan menemukan kesilitan.
Sebab, dalam sejarah umat manusia pernah terjadi banyak peristiwa angin topan pada masa yang tidak terlalu berjauhan, seperti yang pernah terjadi di Babilonia, India, Cina dan Amerika.
Beberapa peristiwa topan itu terdapat pula dalam cerita-cerita rakyat.
Hanya saja, tampaknya cerita-cerita itu tidak ada kaitannya dengan peristiwa topan besar yang terjadi pada masa Nabi Nuh.
Melalui penelitian dan pengamatan, terbukti bahwa alam ini mengalami beberapa kali peristiwa topan besar.
Topan terakhir terjadi akibat berakhirnya zaman es terakhir dan mencairnya sebagian besar es yang membeku di kutub utara dan selatan.
Kita tidak tahu secara pasti kapan keseimbangan itu mulai hilang lalu mengakibatkan terpancarnya air dari dalam tannur di permukaan bumi, akibat lonjakan mencairnya es yang luar biasa hingga menyebabkan naiknya permukaan air laut dan menimbulkan banjir mahabesar.
Dapat disebutkan juga di sini bahwa peristiwa terjadinya pencairan es pada zaman es terakhir dibarengi dengan iklim dengan curah hujan sangat tinggi di daerah-daerah yang tidak berdekatan dengan kutub utara dan selatan seperti kawasan laut tengah.
Apa pun yang terjadi, kita memang tidak mempunyai data yang cukup lengkap untuk memastikan kapankah zaman Nabi Nuh itu.
Namun demikian, semua gejala itu menunjukkan keajaiban alam dan kemahakuasaan Allah subhanahu wa ta'ala Di antara keajaiban itu adalah pemberitahuan Nuh kepada kaumnya dengan nada nasihat bahwa Allah akan menurunkan murka-Nya dengan menenggelamkan mereka apabila tidak mau mendengar nasihatnya.
Selain itu, merupakan keajaiban juga, Allah mewahyukan Nuh untuk membuat kapal.
Kemudian datanglah ketentuan Allah yang berakibat hilangnya keseimbangan alam dengan tannur yang memancarkan air sebagai pertandanya, lalu disusul dengan turunnya hujan deras.
Itu semua merupakan bukti apa yang difirmankan Allah kepada Nuh a.
s.
bahwa Allah Mahatahu bahwa di antara kaumnya tidak akan ada yang beriman selain orang yang sudah benar-benar beriman sebelumnya.

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(Lalu Kami wahyukan kepadanya, "Buatlah bahtera) yakni perahu (di bawah pengawasan Kami) maksudnya di bawah penilikan dan pengawasan Kami (dan wahyu Kami) yaitu perintah Kami (maka apabila perintah Kami datang) yakni perintah untuk membinasakan mereka (dan tanur telah memancarkan air) dapur pembuat roti telah memancarkan air, sebagai pertanda bagi Nabi Nuh (maka masukkanlah ke dalam bahtera itu) naikkanlah ke dalamnya (dari tiap-tiap jenis) hewan (sepasang) jantan dan betina.
Lafal Itsnaini adalah Maf'ul, sedangkan huruf Min berta'alluq kepada lafal Usluk.
Menurut suatu kisah disebutkan, bahwa Allah subhanahu wa ta'ala mengumpulkan bagi Nabi Nuh segala macam jenis binatang liar dan burung-burung, serta hewan-hewan lainnya.
Kemudian Nabi Nuh memukulkan tangannya kepada tiap-tiap jenis, tangan kanannya mengenai jenis jantan dan tangan kirinya mengenai jenis betina, kemudian ia menaikkan semuanya ke dalam bahtera.
Menurut Qiraat yang lain lafal kulli dibaca Kullin, berdasarkan qiraat ini lafal Zaujaini menjadi Maf'ul dan lafal Itsnaini berkedudukan mengukuhkan maknanya (dan juga keluargamu) istri dan anak-anakmu (kecuali orang yang telah lebih dahulu ketetapan azab atasnya di antara mereka) yaitu istri dan anaknya yang bernama Kan`an, lain halnya dengan anak-anaknya yang lain, yaitu Sam, Ham dan Yafits, Nabi Nuh mengangkut mereka bersama dengan istri-istri mereka ke dalam bahtera.
Di dalam surah Hud telah disebutkan melalui firman-Nya, 'Dan muatkan pula orang-orang yang beriman.
Dan tidak beriman bersama dengan Nuh itu kecuali sedikit.' (Q.S.
Hud, 40).
Menurut suatu pendapat dikatakan, bahwa jumlah mereka ada enam orang laki-laki berikut istri mereka.
Menurut pendapat yang lain dikatakan, bahwa semua orang yang ada di dalam bahtera jumlahnya tujuh puluh delapan orang, separuh laki-laki dan yang separuh lagi perempuan.
(Dan janganlah kamu bicarakan dengan Aku tentang orang-orang yang zalim) yaitu orang-orang yang kafir, biarkanlah mereka binasa (karena sesungguhnya mereka akan ditenggelamkan).

Tafsir al-Muyassar
Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:

Lalu Kami wahyukan kepadanya :
Buatlah bahtera di bawah pengawasan, perintah dan pertolongan kami.
Kamu di bawah perlindungan dan penjagaan Kami.
Maka apabila perintah Kami telah dating untuk menimpakan adzab kepada kaummu dengan ditenggelamkan, yang dimulai dengan angin topan, dan air yang memancar dengan kuat dari tannur, yaitu tempat memasak roti.
Hal itu merupakan tanda datangnya adzab.
Maka masukkanlah ke dalam bahtera itu sepasang dari tiap-tiap (jenis) makhluk hidup agar terjaga keturunannnya.
Dan juga masukkanlah keluargamu kecuali orang yang telah ditetapkan akan ditimpa adzab karena kekufurannya seperti istri dan putramu.
Dan janganlah kamu meminta-Ku untuk menyelamatkan kaummu yang zhalim, karena mereka itu pasti akan ditenggelamkan, tanpa bisa tidak.
Ayat ini menetapkan sifat mata bagi Allah sesuai dengan keagungan-Nya tanpa penyerupaan dan pertanyaan bagaimana bentuknya.

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Firman Allah subhanahu wa ta'ala:

kecuali orang yang telah lebih dahulu ditetapkan (akan ditimpa azab) di antara mereka

Yakni orang-orang yang telah ditakdirkan oleh Allah akan binasa.
Mereka adalah dari kalangan keluarga Nuh yang tidak beriman kepadanya, seperti anak dan istrinya.
Hanya Allah-lah Yang Maha Mengetahui.

Firman Allah subhanahu wa ta'ala:

Dan janganlah kamu bicarakan dengan Aku tentang orang-orang yang zalim, karena sesungguhnya mereka itu akan ditenggelamkan.

Yaitu di saat kamu menyaksikan turunnya hujan yang lebat, janganlah sekali-kali kamu merasa kasihan terhadap kaummu, jangan pula kamu merasa sayang kepada mereka, lalu kamu mengharapkan agar azab itu ditangguhkan dari mereka barangkali saja mereka beriman.
Karena sesungguhnya Aku telah menetapkan bahwa mereka adalah orang-orang yang ditenggelamkan disebabkan kezaliman dan kekafiran mereka.
Kisah mengenai hal ini secara panjang lebar telah dikemukakan dalam tafsir surat Hud.
Jadi tidak perlu diulangi lagi dalam tafsir surat ini.

Kata Pilihan Dalam Surah Al Mu'minuun (23) Ayat 27

TANNUUR
لتَّنُّور

Lafaz tannuur dalam bentuk mufrad, jamaknya adalah tanaaniir. Menurut ahli bahasa, tannuur adalah nama 'ajam yang dimasukkan kedalam bahasa Arab. Tannuur mengandung makna dapur api, permuka­an tanah, tempat penyimpanan roti, tempat pancaran air dan sebagainya.

Disebut dua kali di dalam Al Qur'an yaitu dalam surah:
-Hud (11), ayat 40;
-Al Mu'minuun (23), ayat 27.

Firman Allah,

حَتَّىٰٓ إِذَا جَآءَ أَمْرُنَا وَفَارَ ٱلتَّنُّورُ

Al Imam Asy Syawkani memaparkan pendapat ulama mengenai makna at tannuur

- Diriwayatkan oleh Ibn Abbas, Ikrimah, Az Zuhri dan Ibn Uyainah, at tannuur bermakna permukaan bumi dan orang Arab menamakan permukaan bumi dengan at tannuur.

- Mujahid, Itiyyah dan Al Hasan berkata ia berasal dari tanawwar al-khubz yaitu tempat pembuat roti.

- Diriwayatkan dari Ali bin Abi Talib, ia bermakna tempat terbitnya fajar berasal dari perkataan mereka tanawwar al fajr.

- Qatadah berpendapat ia adalah per­mukaan bumi yang tinggi dan segala tempat-tempat yang tinggi.

An Nuhhaas mengatakan pendapat-pendapat di atas tidak bertentangan karena Allah mem­beritakan air datang dari langit dan bumi sebagaimana Allah menyatakan,

Kemudian Kami bukakan pintu-pintu langit dengan air yang tertumpah (hujan yang lebat). Dan Kami pancarkan beberapa mata air di bumi, lalu bertemulah air itu (air langit dan bumi) menurut urusan yang telah ditetapkan.

Para ulama menyatakan, at tannuur ada­lah tanda keselamatan dan kemenangan bagi Nuh dan janji kebinasaan bagi kaumnya.

Menurut Ibn Katsir, bumi menjadi mata air yang terpancar sehingga air pasang dan naik dari at tannuur yaitu dapur-dapur api yang menjadi pancaran air sebagaimana pendapat ulama salaf maupun khalaf.

Kesimpulannya, at tannuur mencakup semua makna yang disebutkan di atas.

Sumber : Kamus Al Qur'an, PTS Islamika SDN. BHD.Hal:107-108

Informasi Surah Al Mu'minuun (المؤمنون)
Surat Al Mu 'minuun terdiri atas 118 ayat, termasuk golongan surat-surat Makkiyyah.
Dinamai "Al Mu'minuun",
karena permulaan surat ini menerangkan bagaimana seharus­nya sifat-sifat orang mu'min yang menyebabkan keberuntungan mereka di akhirat dan keten­ teraman jiwa mereka di dunia.
Demikian tingginya sifat-sifat itu, hingga ia telah menjadi akhlak bagi Nabi Muhammad ﷺ

Keimanan:

Kepastian hari berbangkit dan hal-hal yang terjadi pada hari kiamat
Allah tidak memerlukan anak atau sekutu.

Hukum:

Manusia dibebani sesuai dengan kesanggupannya
rasul-rasul semuanya menyuruh manusia memakan makanan yang halal lagi baik
pokok-pokok agama yang dibawa para nabi adalah sama, hanya syariatnya yang berbeda

Kisah:

Kisah Nuh a.s.
kisah Hud a.s.
kisah Musa a.s. dan Harun a.s.
kisah Isa a.s.

Lain-lain:

Tujuh perkara yang harus dipenuhi oleh seorang mu'min yang ingin mendapat keberuntungan hidup di dunia maupun di akhirat
proses kejadian manusia
tanda­-tanda orang yang bersegera kepada kebaikan
ni'mat Allah yang dianugerahkan kepada manusia wajib disyukuri.


Gambar Kutipan Surah Al Mu’minuun Ayat 27 *beta

Surah Al Mu'minuun Ayat 27



Statistik
  • Rating RisalahMuslim

Surah Al Mu'minuun

Surah Al-Mu'minun (Arab: المؤمنون‎, "Orang-Orang Yang Beriman") adalah surah ke-23 dari al-Qur'an, surah ini terdiri atas 118 ayat dan termasuk golongan surah-surah Makkiyah.
Dinamai Al-Mu'minun, karena permulaan ayat ini menerangkan bagaimana seharusnya sifat-sifat orang mukmin yang menyebabkan keberuntungan mereka di akhirat dan ketenteraman jiwa mereka di dunia.
Demikian tingginya sifat-sifat itu, hingga ia telah menjadi akhlak bagi Nabi Muhammad s.a.w.

Nomor Surah 23
Nama Surah Al Mu'minuun
Arab المؤمنون
Arti Orang-orang mukmin
Nama lain -
Tempat Turun Mekkah
Urutan Wahyu 74
Juz Juz 18
Jumlah ruku' 6 ruku'
Jumlah ayat 118
Jumlah kata 1055
Jumlah huruf 4486
Surah sebelumnya Surah Al-Hajj
Surah selanjutnya Surah An-Nur
4.9
Rating Pembaca: 4.5 (29 votes)
Sending








Anda perlu login mengelola Bookmark.

📖 Lihat Semua Bookmark-ku