Search
Exact matches only
Cari di judul
Cari di Arti & Tafsir
Search in comments
Search in excerpt
Filter by Custom Post Type
Filter berdasar surah
Pilih atau Semua
Abasa
Ad Dukhaan
Adh Dhuhaaa
Adz Dzaariyaat
Al 'Alaq
Al 'Ashr
Al A'laa
Al A'raaf
Al Aadiyaat
Al Ahqaaf
Al Ahzab
Al An 'aam
Al Anbiyaa
Al Anfaal
Al Ankabut
Al Balad
Al Baqarah
Al Bayyinah
Al Buruuj
Al Fajr
Al Falaq
Al Fath
Al Fatihah
Al Fiil
Al Furqaan
Al Ghaasyiyah
Al Haaqqah
Al Hadid
Al Hajj
Al Hasyr
Al Hijr
Al Hujurat
Al Humazah
Al Ikhlas
Al Infithar
Al Insaan
Al Insyiqaaq
Al Israa
Al Jaatsiyah
Al Jinn
Al Jumu'ah
Al Kaafiruun
Al Kahfi
Al Kautsar
Al Lahab
Al Lail
Al Ma'aarij
Al Maa'idah
Al Maa'un
Al Mu'min
Al Mu'minuun
Al Muddatstsir
Al Mujaadilah
Al Mulk
Al Mumtahanah
Al Munafiquun
Al Mursalat
Al Muthaffifin
Al Muzzammil
Al Qaari'ah
Al Qadr
Al Qalam
Al Qamar
Al Qashash
Al Qiyaamah
Al Waaqi'ah
Al Zalzalah
Alam Nasyrah
Ali Imran
An Naazi'at
An Nabaa
An Nahl
An Najm
An Naml
An Nas
An Nashr
An Nisaa'
An Nuur
Ar Ra'd
Ar Rahmaan
Ar Rum
As Sajdah
Ash Shaff
Ash Shaffaat
Asy Shyuura
Asy Syams
Asy Syu'araa
At Taghaabun
At Tahrim
At Takaatsur
At Takwir
At Taubah
At Tin
Ath Thaariq
Ath Thalaaq
Ath Thuur
Az Zukhruf
Az Zumar
Faathir
Fushshilat
Hud
Ibrahim
Luqman
Maryam
Muhammad
Nuh
Qaaf
Quraisy
Saba
Shaad
Thaa Haa
Yaa Siin
Yunus
Yusuf

💡 Ketik [nomer surah]-[nomer ayat], contoh: 2-255 atau albaqarah 255 atau ke www.risalahmuslim.id/2-255

Al Mu'minuun

Al Mu’minuun (Orang-orang mukmin) surah 23 ayat 18


وَ اَنۡزَلۡنَا مِنَ السَّمَآءِ مَآءًۢ بِقَدَرٍ فَاَسۡکَنّٰہُ فِی الۡاَرۡضِ ٭ۖ وَ اِنَّا عَلٰی ذَہَابٍۭ بِہٖ لَقٰدِرُوۡنَ
Wa-anzalnaa minassamaa-i maa-an biqadarin fa-askannaahu fiil ardhi wa-innaa ‘ala dzahaabin bihi laqaadiruun(a);

Dan Kami turunkan air dari langit menurut suatu ukuran, lalu Kami jadikan air itu menetap di bumi, dan sesungguhnya Kami benar-benar berkuasa menghilangkannya.
―QS. 23:18
Topik ▪ Takdir ▪ Segala sesuatu ada takdirnya ▪ Keingkaran dan kedurhakaan orang kafir
23:18, 23 18, 23-18, Al Mu’minuun 18, AlMuminuun 18, Al Mukminun 18, Al-Mu’minun 18
Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. Al Mu'minuun (23) : 18. Oleh Kementrian Agama RI

Lalu Allah menurunkan dari langit air hujan dengan kadar yang diperlukan, tidak terlalu lebat sehingga menimbulkan bencana banjir dan tidak sedikit sehingga cukup untuk mengairi kebun-kebun yang memerlukannya.
Dan ada pula tanah-tanah yang memerlukan banyak air, akan tetapi tidak tahan menerima hujan yang lebat, maka air yang diperlukan itu didatangkan dari negeri lain melalui sungai-sungai yang besar seperti negeri Mesir dengan sungai Nilnya yang bersumber di tengah-tengah benua Afrika.
Dan di samping membawa air yang diperlukan, juga membawa lumpur yang sangat bermanfaat untuk menambah kesuburan.
Dan sebahagian dari air itu Kami jadikan menetap dalam bumi untuk mengisi sumur-sumur dan parit-parit yang berfungsi dalam bidang irigasi, dan karena air dalam bumi itu bersentuhan pula dengan lapisan logam-logam dan zat kimia lainnya, menyebabkan pula air itu mengandung unsur-unsur kimiawi yang menambah kesuburan tanah, dan bila lewat di lereng gunung-gungung berapi dapat pula menjadi sumber-sumber air panas yang mengandung belerang, dan dapat dijadikan tempat pemandian air panas sangat berguna untuk menyembuhkan penyakit kulit dan sebagainya.
Semua sumber-sumber kenikmatan penggunaan air itu, jika dimanfaatkan dengan rasa syukur ke hadirat Allah, niscaya akan lama dapat dinikmati, akan tetapi awas, sesungguhnya Kami berkuasa pula untuk menghilangkannya, terutama bila tempat-tempat itu dipakai untuk keperluan perbuatan maksiat.

Al Mu'minuun (23) ayat 18 - dibacakan oleh Shaykh Mishari Alafasy Al Mu'minuun (23) ayat 18 - dibacakan oleh Syaikh Sa'ad Al-Ghamidi Al Mu'minuun (23) ayat 18 - dibacakan oleh Syaikh Muhammad Ayyub

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Dari langit itu, Kami menurunkan hujan dengan hikmah dan kadar yang telah Kami tentukan.
Untuk memudahkan pemanfaatannya, air hujan itu Kami simpan di dalam dan di atas permukaan bumi.
Sesungguhnya, Kami Mahakuasa untuk menghilangkan air hujan dan menjadikan kalian tidak dapat memanfaatkankannya.
Tetapi, karena sayang Kami kepada kalian, Kami tidak melakukan hal itu.
Oleh karena itu, berimanlah dan bersyukurlah kepada Pencipta hujan itu[1].

[1] Ayat ini mengisyaratkan fakta ilmu pengetahuan alam mengenai siklus air pada bumi.
Proses penguapan air laut dan samudera akan membentuk awan yang kemudian menurunkan hujan sebagai sumber utama air bersih untuk permukaan bumi, di samping merupakan unsur terpenting bagi kehidupan.
Air hujan yang turun di atas permukaan bumi itu kemudian membentuk sungai yang mengalirkan sumber kehidupan ke daerah-daerah kering dan jauh untuk, pada akhirnya, bermuara di laut.
Secara alami, air itu berputar dari laut ke udara, dari udara ke daratan, dan dari daratan ke laut lagi.
Dan begitu seterusnya.
Akan tetapi, di antara air hujan itu ada yang meresap ke dalam perut bumi untuk kemudian berpindah dari satu tempat ke tempat lainnya.
Seringkali, air yang meresap itu menetap dan menjadi air tanah yang tersimpan di bawah kulit bumi untuk masa yang sangat panjang, seperti yang terdapat di bawah sahara barat Libya yang oleh beberapa penelitian mutakhir ditemukan telah berusia cukup lama.
Komponen- komponen geologis yang menyimpan air itu bisa mengalami perubahan suhu--yang oleh para ahli disebut revolusi geologi--yang dapat membawanya ke tempat-tempat lain yang kering untuk kemudian menyuburkannya.
Ayat ini menunjukkan suatu hikmah adanya distribusi air sesuai kadar yang telah ditentukan oleh Allah Sang Maha Penentu Yang Mahabijaksana untuk memberikan manfaat dan mencegah bahaya.
Hikmah lain yang dapat diambil dari ayat ini adalah bahwa kehendak Allah subhanahu wa ta'ala menuntut tersimpannya sejumlah air di samudera dan lautan yang dapat menjamin keseimbangan suhu di muka bumi dan planet lainnya, agar tidak terjadi pertautan yang jauh antara suhu musim panas dan musim dingin yang tidak cocok dengan kehidupan.
Selain itu, air hujan yang diturunkan di atas daratan pun telah ditentukan kadarnya, agar tidak terjadi kelebihan yang dapat menutup seluruh permukaan bumi, atau kekurangan hingga tidak cukup untuk menyirami bagian daratan lain.

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(Dan Kami turunkan air dari langit menurut suatu ukuran) berdasarkan kecukupan mereka (lalu Kami jadikan air itu menetap di bumi, dan sesungguhnya Kami benar-benar berkuasa menghilangkannya) jika demikian mereka pasti akan mati bersama dengan hewan ternak mereka karena kehausan.

Tafsir al-Muyassar
Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:

Kami turunkan hujan dari langit sesuai dengan kebutuhan para makhluk.
Dan Kami jadikan air itu menetap di bumi.
Sesungguhnya Kami kuasa untuk menghilangkan air yang menetap itu.
Di dalam ayat ini ada ancaman kepada orang-orang yang zhalim.

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Allah subhanahu wa ta'ala menyebutkan tentang nikmat-nikmat-Nya yang telah Dia limpah­kan kepada hamba-hamba-Nya.
Nikmat-nikmat tersebut tiada terbilang dan tidak terhitung, antara lain ialah menurunkan hujan dari langit dengan takaran tertentu sesuai dengan kebutuhan, tidak terlalu banyak yang akibatnya dapat merusak tanah dan bangunan, dan tidak terlalu sedikit yang akibatnya tidak mencukupi buat tanam-tanaman dan pohon-pohon yang berbuah, melainkan menurut suatu ukuran sesuai dengan kebutuhan­nya, baik untuk pengairan, untuk minum maupun untuk manfaat lainnya.

Tanah-tanah yang memerlukan air itu banyak karena banyak tanamannya, tetapi tanah-tanah tersebut tidak dapat menampung air hujan karena terdiri atas padang pasir.
Maka air didatangkan kepadanya dari negeri lain, seperti yang terjadi di negeri Mesir.
Menurut kisahnya, tanah mesir dahulunya adalah tanah yang tandus.
Allah mengalirkan kepadanya Sungai Nil yang membawa lumpur merah yang hanyut bersama alirannya dari negeri Habsyah di musim penghujannya.
Maka air datang dengan membawa tanah merah dan menyirami negeri Mesir, sedangkan tanah merah itu menetap di negeri Mesir pada kedua.tepinya, sehingga tanah mesir menjadi subur dan dapat ditanami oleh penduduknya, karena se­sungguhnya sebagian besar tanah Mesir terdiri atas pasir.
Mahasuci Allah Yang Mahalembut, Mahawaspada, Maha Penyayang lagi Maha Pemaaf.

Firman Allah subhanahu wa ta'ala:

lalu Kami jadikan air itu menetap di bumi.

Artinya, Kami jadikan air itu —bila telah diturunkan dari awan— menetap di bumi dan Kami jadikan bumi dapat menerimanya dan menyerapnya sehingga semua bebijian dan bibit-bibit yang ada padanya dapat beroleh makanan dari air itu.

Firman Allah subhanahu wa ta'ala:

dan sesungguhnya Kami benar-benar berkuasa menghilangkan­nya.

Yakni seandainya Kami menghendaki bahwa langit tidak menurunkan hujan, tentulah Kami dapat melakukannya.
Seandainya Kami bermaksud menimpakan musibah, tentulah Kami dapat melakukannya, yaitu dengan memalingkan air hujan dari kalian dan mengarahkannya ke tempat-tempat yang tandus, hutan belantara, dan tempat-tempat lainnya yang tak berpenghuni.
Dan seandainya Kami menghendaki, tentulah Kami dapat mengubah rasanya menjadi asin sehingga tidak dapat diminum dan tidak dapat dijadikan pengairan, dan Kami dapat melakukannya.
Seandainya Kami menghendaki tidak sekali-kali air hujan di turunkan ke bumi melainkan menggenang di permukaannya, tentulah Kami dapat melakukannya.
Dan seandainya Kami menghendakinya tidak sekali-kali turun ke bumi melainkan masuk ke dalam perut bumi sampai jarak yang tidak terjangkau oleh kalian sehingga kalian tidak dapat memanfaatkannya, tentulah Kami dapat melakukannya.
Tetapi berkat kelembutan dan rahmat Allah, Dia menurunkan air hujan dari langit berupa air yang tawar, menyegarkan, dan mudah diminum.
Lalu Dia menempatkannya di bumi dan mengalirkannya menjadi sumber-sumber air yang pada akhirnya terbentuklah mata air-mata air dan sungai-sungai yang mengalir, sehingga dapat dijadikan sebagai pengairan tanam-tanaman dan pohon-pohonan yang berbuah.
Dari air itu kalian minum, demikian pula hewan ternak serta hewan peliharaan kalian, kalian mandi, bersuci, dan membersihkan diri dengan air tersebut.
Akhirnya segala puji bagi Allah atas semua karunia-Nya.

Kata Pilihan Dalam Surah Al Mu'minuun (23) Ayat 18

DZAHAAB
ذَهَاب

Lafaz ini mashdar dzahaba-yadzhubu yang bermakna pergi, menjauhi dan mati.

Dzahaba bi asy syay' bermakna menghilangkannya dan menemaninya.

Dzahaba 'anhu bermakna meninggalkannya.

Dzahaba ilaihi bermakna menghadap.

Dzahaba 'alaihi berarti lupa.

berarti menarik kembali perkataannya.

Dzahaba fi ad diin berarti mengemukakan pendapat dalam agama.

Darinya lafaz mazhab yaitu cabang ajaran Islam yang diikuti oleh umat Islam yang terdiri dari pendapat-pendapat ulama seperti mazhab Malik, Syafi'i, Hanbali, Hanafi dan lainnya.

Ar Raghib meng­ungkapkan, lafaz ini bisa digunakan dalam perkara yang nampak (a'yan) dan maknawi.

Al Husain Ad Daamaghani berkata,
lafaz ini di dalam Al Qur'an mengandung enam makna yaitu kata da'wah, hijrah, al infiraad(pengasingan), pergi, al istiifaa (mengambil hak dengan penuh).

Lafaz dzahab disebut sekali didalam Al Qur'an yaitu dalam surah Al Mukminuun (23), ayat 18. Allah berfirman,

وَإِنَّا عَلَىٰ ذَهَابٍۭ بِهِۦ لَقَٰدِرُونَ

Di dalam ayat ini, lafaz dzahaab berkait­an dengan hujan.

Az Zamaksyari berkata,
lafaz dzahaab bermakna izaalah atau menghilangkannya, maknanya sebagaimana Kami berkuasa menurunkan hujan dan Kami juga berkuasa menghilangkannya (tidak menurunkannya).

Dalam Mu'jam li Alfaz Al Qur'anul-Karim, lafaz ini juga bermakna menghilangkan dan meng­angkatnya.

Asy Syaukani juga berpendapat demikian. Beliau mengungkapkan, ayat ini adalah ancaman berat yang mengisyaratkan atas kekuasaan Nya yang berkuasa menghilangkan­nya dan tidak menurunkannya sehingga manusia dan hewan ternak mereka binasa disebabkan kehausan.

Kesimpulannya, lafaz dzahaab dalam ayat ini bermakna menghilangkan dan mengangkat atau tidak menurunkan hujan.

Sumber : Kamus Al Qur'an, PTS Islamika SDN. BHD.Hal:237

Informasi Surah Al Mu'minuun (المؤمنون)
Surat Al Mu 'minuun terdiri atas 118 ayat, termasuk golongan surat-surat Makkiyyah.
Dinamai "Al Mu'minuun",
karena permulaan surat ini menerangkan bagaimana seharus­nya sifat-sifat orang mu'min yang menyebabkan keberuntungan mereka di akhirat dan keten­ teraman jiwa mereka di dunia.
Demikian tingginya sifat-sifat itu, hingga ia telah menjadi akhlak bagi Nabi Muhammad ﷺ

Keimanan:

Kepastian hari berbangkit dan hal-hal yang terjadi pada hari kiamat
Allah tidak memerlukan anak atau sekutu.

Hukum:

Manusia dibebani sesuai dengan kesanggupannya
rasul-rasul semuanya menyuruh manusia memakan makanan yang halal lagi baik
pokok-pokok agama yang dibawa para nabi adalah sama, hanya syariatnya yang berbeda

Kisah:

Kisah Nuh a.s.
kisah Hud a.s.
kisah Musa a.s. dan Harun a.s.
kisah Isa a.s.

Lain-lain:

Tujuh perkara yang harus dipenuhi oleh seorang mu'min yang ingin mendapat keberuntungan hidup di dunia maupun di akhirat
proses kejadian manusia
tanda­-tanda orang yang bersegera kepada kebaikan
ni'mat Allah yang dianugerahkan kepada manusia wajib disyukuri.


Gambar Kutipan Surah Al Mu’minuun Ayat 18 *beta

Surah Al Mu'minuun Ayat 18



Statistik
  • Rating RisalahMuslim

Surah Al Mu'minuun

Surah Al-Mu'minun (Arab: المؤمنون‎, "Orang-Orang Yang Beriman") adalah surah ke-23 dari al-Qur'an, surah ini terdiri atas 118 ayat dan termasuk golongan surah-surah Makkiyah.
Dinamai Al-Mu'minun, karena permulaan ayat ini menerangkan bagaimana seharusnya sifat-sifat orang mukmin yang menyebabkan keberuntungan mereka di akhirat dan ketenteraman jiwa mereka di dunia.
Demikian tingginya sifat-sifat itu, hingga ia telah menjadi akhlak bagi Nabi Muhammad s.a.w.

Nomor Surah 23
Nama Surah Al Mu'minuun
Arab المؤمنون
Arti Orang-orang mukmin
Nama lain -
Tempat Turun Mekkah
Urutan Wahyu 74
Juz Juz 18
Jumlah ruku' 6 ruku'
Jumlah ayat 118
Jumlah kata 1055
Jumlah huruf 4486
Surah sebelumnya Surah Al-Hajj
Surah selanjutnya Surah An-Nur
4.6
Rating Pembaca: 4.4 (10 votes)
Sending








Anda perlu login mengelola Bookmark.

📖 Lihat Semua Bookmark-ku