QS. Al Mu’min (Orang yang Beriman) – surah 40 ayat 67 [QS. 40:67]

ہُوَ الَّذِیۡ خَلَقَکُمۡ مِّنۡ تُرَابٍ ثُمَّ مِنۡ نُّطۡفَۃٍ ثُمَّ مِنۡ عَلَقَۃٍ ثُمَّ یُخۡرِجُکُمۡ طِفۡلًا ثُمَّ لِتَبۡلُغُوۡۤا اَشُدَّکُمۡ ثُمَّ لِتَکُوۡنُوۡا شُیُوۡخًا ۚ وَ مِنۡکُمۡ مَّنۡ یُّتَوَفّٰی مِنۡ قَبۡلُ وَ لِتَبۡلُغُوۡۤا اَجَلًا مُّسَمًّی وَّ لَعَلَّکُمۡ تَعۡقِلُوۡنَ
Huwal-ladzii khalaqakum min turaabin tsumma min nuthfatin tsumma min ‘alaqatin tsumma yukhrijukum thiflaa tsumma litablughuu asyuddakum tsumma litakuunuu syuyuukhan waminkum man yutawaffa min qablu walitablughuu ajalaa musamman wala’allakum ta’qiluun(a);

Dialah yang menciptakan kamu dari tanah kemudian dari setetes mani, sesudah itu dari segumpal darah, kemudian dilahirkannya kamu sebagai seorang anak, kemudian (kamu dibiarkan hidup) supaya kamu sampai kepada masa (dewasa), kemudian (dibiarkan kamu hidup lagi) sampai tua, di antara kamu ada yang diwafatkan sebelum itu.
(Kami perbuat demikian) supaya kamu sampai kepada ajal yang ditentukan dan supaya kamu memahami(nya).
―QS. 40:67
Topik ▪ Manusia diciptakan bersuku-suku dan berbangsa-bangsa
40:67, 40 67, 40-67, Al Mu’min 67, AlMumin 67, Al Mukmin 67, AlMukmin 67, Al-Mu’min 67

Tafsir surah Al Mu'min (40) ayat 67

Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. Al Mu’min (40) : 67. Oleh Kementrian Agama RI

Dia-lah yang menjadikan manusia dari tanah, menjadi setetes mani, dari setetes mani menjadi sesuatu yang melekat, dan segumpal darah menjadi segumpal daging, kemudian dilahirkan ke dunia dalam bentuk manusia.

Para ahli tafsir menerangkan bahwa yang dimaksudkan dengan Allah subhanahu wa ta’ala menjadikan manusia dari tanah, maksudnya ialah AJlah subhanahu wa ta’ala menjadikan manusia dari saripati yang berasal dari tanah.
Seorang bapak dan seorang ibu memakan makanan yang berasal dari tanah, dari binatang ternak dan dari tumbuh-tumbuhan.
Binatang ternak memakan tumbuh-tumbuhan dan berkembang dengan menggunakan zat-zat yang berasal dari tanah.
Sebagaimana makanan yang dimakan ibu atau bapak itu menjadi mani.
Telur mani ibu bertemu dengan mani bapak dalam rahim ibu, sehingga menjadi segumpal darah dan seterusnya.

Sebagian ahli tafsir yang lain berpendapat bahwa yang dimaksud dengan “Allah menciptakan manusia dari tanah.
ialah bapak manusia Adam diciptakan Allah subhanahu wa ta’ala dari tanah.

Kemudian Allah subhanahu wa ta’ala menerangkan bahwa manusia yang diciptakan-Nya dari tanah itu mengalami hidup dalam tiga masa; yaitu

1.
Masa kanak-kanak.

2.
Masa dewasa.

3.
Masa tua.

Di antara manusia ada yang diwafatkan-Nya pada masa kanak-kanak, ada pula pada masa dewasa dan ada yang diwafatkan setelah berusia lanjut.
Ketentuan kapan seorang manusia meninggal itu berada di tangan Allah semata.

Proses kejadian manusia itu diterangkan dalam ayat ini agar dapat menjadi bahan renungan dan pemikiran bagi orang-orang yang berakal, sehingga mereka beriman kepada Allah subhanahu wa ta’ala Pencipta seluruh makhluk ini.

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Allahlah yang menciptakan kalian, wahai anak Adam, dari tanah.
Dari tanah itu Dia menciptakan nutfah yang kemudian Dia ubah juga menjadi ‘alaqah.
Setelah itu Dia mengeluarkan kalian dari perut ibu-ibu kalian dalam bentuk bayi.
Selanjutnya, adakalanya Dia memanjangkan umur kalian, hingga mencapai kesempurnaan fisik dan daya pikir, atau memanjangkannya lagi hingga mencapai usia lanjut, dan adakalanya kalian dimatikan sebelum mencapai usia muda, atau tua.
Allah menciptakan kalian dengan cara seperti itu agar kalian sampai pada suatu waktu tertentu, yaitu hari kebangkitan, dan agar kalian memikirkan hikmah dan pelajaran yang dapat dipetik dari penciptaan kalian melalui fase-fase seperti itu[1].

[1] Pengertian nuthfah, ‘alaqah dan mudlghah yang terdapat dalam surat al-Sajdah:
7, 8 dan 9, al-Mu’minun:
12, 13 dan 14, Ghafir:
67, dan al-Hajj:
5, adalah sebagai berikut.
Kata nuthfah mengandung beberapa arti, di antaranya adalah ‘sperma’.
Bahkan, dalam ayat 37 surat al-Qiyamah, pengertian kata nuthfah lebih sempit lagi:
‘bagian dari sperma’.
Ilmu pengetahuan modern membuktikan bahwa bagian dimaksud adalah spermatozoa yang terdapat di dalam sperma laki-laki.
Spermatozoa itulah yang membuahi sel telur.
Kata ‘alaqah, dari segi etimologi, mengandung arti ‘darah kental’ atau ‘darah encer yang berwarna sangat merah’.
Tetapi, kalau dilihat dari perspektif ilmu pengetahuan, kata ‘alaqah berarti ‘sel-sel janin yang menempel pada dinding rahim setelah terjadi pembuahan spermatozoa terhadap ovum’.
Sel-sel itu pada mulanya adalah satu, kemudian terpecah menjadi beberapa sel yang semakin lama semakin bertambah banyak, kemudian bergerak ke arah dinding rahim dan tenggelam, untuk selanjutnya menimbulkan pendarahan di sekitarnya.
Sedangkan kata mudlghah berarti janin yang telah melewati fase ‘alaqah, yaitu setelah sel-sel janin itu menempel dan menyebar pada dinding rahim secara acak dan diselimuti selaput.
Fase mudlghah ini berlangsung beberapa pekan untuk selanjutnya memasuki fase ‘izham.
Mudlghah itu sendiri, secara garis besar, terdiri atas sel-sel berbentuk manusia yang kelak menjadi janin, dan sel-sel yang tidak berbentuk manusia yang melapisi sel-sel pertama tadi.
Sel-sel kedua ini bertugas melindungi bakal janin dan memberi suplai makanan.
Terakhir, kata ‘izham berarti ‘tulang’.
Akhir-akhir ini, dunia geneologi membuktikan bahwa pusat pembentukan tulang terdapat di lapisan tengah sel mudlghah, yaitu fase sebelum ‘izham.
Dengan demikian, sel tulang mempunyai pusat pembentukan tersendiri yang terpisah dari sel-sel pembentukan otot.

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(Dialah Yang menciptakan kalian dari tanah) yang menciptakan bapak moyang kalian yaitu Nabi Adam dari tanah liat (kemudian dari setetes nuthfah) yakni air mani (sesudah itu dari segumpal darah) yakni dari kental (kemudian dikeluarkan-Nya kalian sebagai seorang anak) lafal Thiflan sekalipun bentuknya mufrad atau tunggal, bermakna jamak (kemudian) dibiarkan-Nya kalian hidup (supaya kalian sampai kepada masa dewasa) masa sempurnanya kekuatan kalian, yaitu di antara umur tiga puluh sampai dengan empat puluh tahun (kemudian -dibiarkan-Nya kalian hidup- sampai tua) dapat dibaca Syuyuukhan atau Syiyuukhan (di antara kalian ada yang diwafatkan sebelum itu) sebelum dewasa dan sebelum mencapai usia tua.

Dia melakukan hal tersebut kepada kalian supaya kalian hidup (dan supaya kalian sampai pada ajal yang ditentukan) yakni waktu yang telah dibataskan bagi hidup kalian (dan supaya kalian memahami) bukti-bukti yang menunjukkan keesaan-Nya, kemudian kalian beriman kepada-Nya.

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman kepada Nabi-Nya, “Katakanlah kepada orang-orang musyrik itu bahwa sesungguhnya Allah subhanahu wa ta’ala melarang seseorang menyembah berhala-berhala, tandingan-tandingan, dan sekutu-sekutu selain Dia.” Allah subhanahu wa ta’ala telah menjelaskan bahwa tiada yang berhak disembah selain Dia sendiri, melalui firman-Nya:

Dialah Yang menciptakan kamu dari tanah, kemudian dari setetes air mani, sesudah itu dari ‘alaqah, kemudian dilahirkannya kamu sebagai seorang anak, kemudian (kamu dibiarkan hidup) supaya kamu sampai kepada masa (dewasa), kemudian (dibiarkan kamu hidup) sampai tua.
(Q.S. Al-Mu’min [40]: 67)

Maksudnya, Dialah Yang Menciptakan kamu dalam fase-fase tersebut semuanya dengan sendirian, tiada sekutu bagi-Nya.
Dia pulalah Yang mengatur, merencanakan dan menentukan ukuran-ukurannya dalam semuanya itu.

di antara kamu ada yang diwafatkan sebelum itu.
(Q.S. Al-Mu’min [40]: 67)

Yakni sebelum dilahirkan ke alam dunia ini, bahkan gugur sejak masih dalam usia kandungan.
Di antara mereka ada yang diwafatkan dalam usia anak-anak dan usia muda, ada pula dalam usia tua sebelum memasuki usia pikun.
Seperti yang dijelaskan oleh firman-Nya:

agar Kami jelaskan kepada kamu dan Kami tetapkan dalam rahim, apa yang Kami kehendaki sampai waktu yang sudah ditentukan (Q.S. Al-Hajj [22]: 5)

Dan dalam surat ini disebutkan oleh firman-Nya:

(Kami perbuat demikian) supaya kamu sampai kepada ajal yang ditentukan dan supaya kamu memahami (nya).
(Q.S. Al-Mu’min [40]: 67)

Ibnu Juraij mengatakan bahwa ditetapkan demikian agar kamu ingat akan hari berbangkit.


Kata Pilihan Dalam Surah Al Mu'min (40) Ayat 67

ALAQAH
عَلَقَة

Lafaz ini adalah dalam bentuk mufrad, jamaknya ialah ‘alaq.

Al Razi dan Al Fayruz berkata,
‘alaqah adalah bahagian dari al ‘alaq dan al ‘alaq bermakna dan darah yang tebal atau beku.

Alaqah juga bermakna lintah berwarna hitam yang berada di air yang menghisap darah dan segumpal darah beku.

Lafaz ‘alaqah disebut sebanyak 5 kali di dalam Al Qur’an, yaitu dalam surah:
-Al Hajj (22), ayat 5;
-Al Mu’minuun (23), ayat 14, 14;
-Al Mu’min (40), ayat 67;
-Al Qiyamah (75), ayat 38.

Asy Syawkani berkata,
“Ia bermakna darah beku yang berwarna merah tua yang berasal dari mani.”

Al Maraghi menjelaskan ia adalah seketul darah beku, atau disebut dengan blastocyst, dimana penciptaan itu bermula dari setetes air mani, kemudian berubah menjadi darah yang kental selama 40 hari di dalam rahim dengan izin Allah.”

Dalam kitab “Kayfa Yunfakhu Al Ruh, dijelaskan ‘alaqah bermula kira-kira pada hari ke-7.
Dalam fase ini janin tergantung kepada beberapa perkara. Pertama, ia bergantung kepada dinding rahim yang begitu halus.
Kedua, kepada sel-sel makanan dan vitamin yang begitu halus.
Ketiga, pada dinding ari­ari yang begitu halus.
Keempat, pada sumber makanan bayi yang disalurkan dari ari-ari kepada bayi.

Tambahan pula, setiap ketergantungan itu dapat dilihat melalui gambarnya masing­masing. Fase ini memerlukan masa kira-kira dua minggu dan berakhir pada akhir minggu ketiga. Oleh karena itu, tidak dapat diragukan lagi kelebihan dari fase ini adalah sifatnya yang ‘alaqah (ketergantungan). Pemberian nama ‘alaqah pada fase ini begitu sesuai dan begitu dalam maknanya, karena adanya proses tergantung itu.

Ilmu kedektoran modern hingga kini menyebut fase ini dengan fase al inbat (pertumbuhan) yang dimisalkan kepada tanaman yang memulai pertumbuhannya dari akar umbi dalam bumi, tetapi penamaan fase ini dengan ‘alaqah lebih berkesan karena tanaman memulai pertumbuhannya dari bawah ke atas, sedangkan janin mengawali pertumbuhannya dari atas ke bawah, karena ia tergantung pada dinding rahim yang paling atas, maka ia lebih sesuai dinamakan ‘alaqah, yang secara bahasa bermakna tergantung.

Demikian pula keadaan janin pada fase ini berbentuk ‘alaqah atau ulat (kepompong) yang selalunya hidup dalam air. Dari segi bentuknya maka ulat dan janin memiliki kesamaan bentuk, yaitu bentuk ‘alaqah yakni panjang dan berdiameter. Sedangkan dari segi lingkungan, ulat hidup dalam air; sementara janin hidup dalam cairan amnion.”

Kesimpulannya, lafaz ‘alaqah bermakna seketul daging yang merah lagi kental seperti lintah penghisap darah yang letaknya tergantung di dalam rahim.

Sumber : Kamus Al Qur’an, PTS Islamika SDN. BHD.Hal:376-377

Informasi Surah Al Mu'min (المؤمن)
Surat Al Mu’min terdiri atas 85 ayat, termasuk golongan surat-surat Makkiyyah, diturun­ kan sesudah surat Az Zumar.

Dinamai “Al Mu’min” (Orang yang beriman), berhubung dengan perkataan “mu’min” yang terdapat pada ayat 28 surat ini.
Pada ayat 28 diterangkan bahwa salah seorang dari kaum Fir ‘aun telah beriman kepada Nabi Musa ‘alaihis salam dengan menyembunyikan imannya kepada kaumnya, setelah mendengar keterangan dan melihat mu’jizat yang dikemukakan oleh Nabi Musa ‘alaihis salam hati kecil orang ini mencela Fir’aun dan kaumnya yang tidak mau beriman kepada Nabi Musa ‘alaihis salam, sekalipun telah dikemukakan keterangan dan mu ‘jizat yang diminta mereka.

Dinamakan pula “Ghafir” (yang mengampuni), karena ada hubungannya dengan kalimat “Ghafir” yang terdapat pada ayat 3 surat ini.

Ayat ini mengingatkan bahwa ”Maha Pengampun” dan ”Maha Penerima Taubat” adalah sebagian dari sifat-sifat Allah, karena itu hamba-hamba Allah tidak usah khawatir terhadap perbuatan-perbuatan dosa yang telah terlanjur mereka la­kukan, semuanya itu akan diampuni Allah asal benar-benar memohon ampun dan bertaubat kepada-Nya dan berjanji tidak akan mengerjakan perbuatan-perbuatan dosa itu lagi.

Dan surat ini dinamai “Dzit Thaul” (Yang Mempunyai Kurnia) karena perkataan tersebut ter­ dapat pada ayat 3.

Keimanan:

Sifat-sifat malaikat yang memikul ‘Arsy dan yang berada di sekitarnya
dalil-dalil yang menunjukkan kekuasaan Allah
sifat-sifat Allah yang menunjukkan kebesar­an dan keagungan-Nya
Ilmu Allah meliputi segala sesuatu
bukti-bukti yang menunjukkan adanya hari berbangkit.

Hukum:

Tidak ada pembahasan hukum yang spesifik dalam surat ini.

Kisah:

Kisah Musa a.s dengan Fir’aun

Lain-lain:

Al Qur’anul karim dan sikap orang-orang mu’min dan orang-orang kafir terhadap­nya
permohonan orang-orang kafir supaya dikeluarkan dari neraka
peringatan kepada orang-orang musyrik tentang kedahsyatan hari kiarnat
anjuran bersabar dalam menghadapi kaum musyrikin
ni’mat-ni’mat Allah yang terdapat di daratan dan lautan
janji Rasulullah ﷺ bahwa orang-orang mu’min akan menang ter­hadap musuhnya.

Ayat-ayat dalam Surah Al Mu'min (85 ayat)

Audio

Qari Internasional

Q.S. Al-Mu'min (40) ayat 67 - Oleh Syekh Mishari Alafasy
Q.S. Al-Mu'min (40) ayat 67 - Oleh Syekh Sa'ad Al-Ghamidi
Q.S. Al-Mu'min (40) ayat 67 - Oleh Syekh Muhammad Ayyub

Murottal al-Qur'an & Terjemahan Indonesia
Q.S. Al-Mu'min - Oleh Syekh Misyari Rasyid Alafasy
Full ayat 1 sampai 85 & Terjemahan


Gambar



Statistik Q.S. 40:67
  • Rating RisalahMuslim

Ayat ini terdapat dalam surah Al Mu'min.

Surah Al-Mu'min (Arab: المؤمن ,"Orang Yang Beriman") atau Surah Ghafir (Arab: غافر ) adalah surah ke-40 dalam Al-Qur'an.
Surah ini terdiri atas 85 ayat, termasuk golongan surah-surah Makkiyah.
Surah ini diturunkan setelah surah Az-Zumar dan memiliki 3 nama yaitu Al-Mu'min, Ghafir, dan At-Tawl.

Nomor Surah 40
Nama Surah Al Mu'min
Arab المؤمن
Arti Orang yang Beriman
Nama lain Mukmin, Thaul, Ha Mim, Ghafir, At-Tawl atau Zit Tawl, Ha Mim al-Mu'min
Tempat Turun Mekkah
Urutan Wahyu 60
Juz Juz 24
Jumlah ruku' 9 ruku'
Jumlah ayat 85
Jumlah kata 1228
Jumlah huruf 5109
Surah sebelumnya Surah Az-Zumar
Surah selanjutnya Surah Fussilat
4.9
Ratingmu: 4.9 (21 orang)
Sending









Iklan

Video

Panggil Video Lainnya


Ikuti RisalahMuslim
               





Copied!

Masukan & saran kirim ke email:
[email protected]

Made with in Yogyakarta