QS. Al Mu’min (Orang yang Beriman) – surah 40 ayat 60 [QS. 40:60]

وَ قَالَ رَبُّکُمُ ادۡعُوۡنِیۡۤ اَسۡتَجِبۡ لَکُمۡ ؕ اِنَّ الَّذِیۡنَ یَسۡتَکۡبِرُوۡنَ عَنۡ عِبَادَتِیۡ سَیَدۡخُلُوۡنَ جَہَنَّمَ دٰخِرِیۡنَ
Waqaala rabbukumuud’uunii astajib lakum innal-ladziina yastakbiruuna ‘an ‘ibaadatii sayadkhuluuna jahannama da-aakhiriin(a);

Dan Tuhanmu berfirman:
“Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu.
Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina”.
―QS. 40:60
Topik ▪ Neraka ▪ Nama-nama neraka ▪ Ganjaran sabar
40:60, 40 60, 40-60, Al Mu’min 60, AlMumin 60, Al Mukmin 60, AlMukmin 60, Al-Mu’min 60

Tafsir surah Al Mu'min (40) ayat 60

Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. Al Mu’min (40) : 60. Oleh Kementrian Agama RI

Pada ayat ini Allah subhanahu wa ta’ala memerintahkan agar manusia berdoa kepada-Nya.
Jika mereka berdoa niscaya Dia akan memperkenankan doa itu.

Ibnu Abbas, Dahhak dan Mujahid mengartikan ayat ini “Tuhan kamu berfirman: “Beribadahlah kepada-Ku, niscaya Aku akan membalasnya dengan pahala”.
Menurut mereka, di dalam Alquran perkataan doa bisa pula diartikan dengan ibadat seperti pada firman Allah subhanahu wa ta’ala:

Yang mereka sembah selain Allah itu tidak lain hanyalah berhala, dan (dengan menyembah berhala itu), mereka tidak lain, hanyalah menyembah setan yang durhaka.
(Q.S. An-Nisa’ [4]: 117)

Dalam hadis Nabi diterangkan:

Rasulullah ﷺ bersabda: “Doa itu ialah ibadah”.
Kemudian beliau membaca ayat ini”.
(H.R. Tirmizi, Bukhari dan Hakim dari Nu’man bin Basyir)

Sebagian ahli tafsir berpendapat bahwa doa dalam ayat ini berarti “permohonan”.
Mereka beralasan dengan sabda Rasulullah ﷺ:

“Doa itu ialah istigfar (minta ampun)”.

Sebenarnya doa dan ibadah itu adalah perkataan, yang pertama berarti khusus sedang yang kedua berarti umum.
Doa adalah salah satu dari macam ibadah.

Hal ini berdasar hadis:

“Doa itu otak dari ibadat”.
(H.R. Tirmizi dari Anas bin Malik)

Dan hadis Nabi ﷺ:

Dari ‘Aisyah, dia berkata: “Nabi ﷺ ditanya orang: “Ibadat manakah yang paling utama?”.
Beliau menjawab: “Doa manusia untuk dirinya”.
(H.R. Bukhari)

Berdasarkan hadis di atas, maka tidaklah salah jika doa dalam ayat ini diartikan dengan ibadah.
Hal ini dikuatkan oleh lanjutan ayat yang artinya: “Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari beribadat kepada Ku akan masuk ke dalam neraka yang hina dina”.

Ayat ini merupakan peringatan dan ancaman yang keras kepada orang-orang yang enggan beribadat kepada Allah dan merupakan pernyataan keinginan Allah kepada hamba-hamba-Nya yang beriman bahwa Dia ingin hamba-hamba Nya itu memperoleh kebaikan dan kebahagiaan di dunia dan di akhirat.
Seakan-akan Allah mengatakan: “Wahai hamba-hamba-Ku hambakanlah dirimu kepada Ku, selalulah beribadat dan berdoa kepada Ku.
Aku akan menerima ibadat dan doa yang kamu lakukan dengan ikhlas, memperkenankan permintaanmu, mengampuni dosa-dosamu”

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Sang Pencipta dan Penguasa urusan kalian mengatakan, “Mintalah kepada-Ku, kalian pasti akan Aku beri.
Sedang orang-orang yang enggan berdoa kepada-Ku akan masuk ke dalam neraka jahanam dengan perasaan terhina dan pasrah.”

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(Dan Rabb kalian berfirman, “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagi kalian) maksudnya, sembahlah Aku, niscaya Aku akan memberi pahala kepada kalian.

Pengertian ini disimpulkan dari ayat selanjutnya, yaitu, (Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk) dapat dibaca Sayadkhuluuna atau Sayudkhaluuna, menurut bacaan yang kedua artinya, mereka akan dimasukkan ke dalam (neraka Jahanam dalam keadaan hina dina”) dalam keadaan terhina.

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Ini merupakan sebagian dari karunia dan kemurahan Allah subhanahu wa ta’ala Dia menganjurkan kepada hamba-hamba-Nya untuk meminta kepada-Nya dan Dia menjamin akan memperkenankan permintaan mereka, seperti apa yang dikatakan oleh Sufyan Ats-Tsauri, bahwa hai orang yang paling dicintai oleh-Nya di antara hamba-hamba-Nya, karena dia selalu meminta kepada-Nya dan banyak meminta kepada-Nya.
Hai orang yang paling dimurkai oleh-Nya di antara hamba-hamba-Nya, karena dia tidak pernah meminta kepada-Nya, padahal tiada seorang pun yang bersifat demikian selain Engkau, ya Tuhanku.
Demikianlah menurut apa yang telah diriwayatkan oleh Ibnu Abu Hatim.

Hal yang semakna telah disebutkan di dalam syair yang mengatakan:

Allah murka bila engkau tidak meminta kepada-Nya, sedangkan Bani Adam marah manakala diminta.

Qatadah mengatakan, Ka’bul Ahbar telah mengatakan bahwa umat ini dianugerahi tiga perkara yang belum pernah diberikan kepada suatu umat pun sebelumnya kecuali seorang nabi.
Yaitu apabila Allah mengutus seorang nabi, Allah berfirman kepadanya, “Engkau adalah saksi atas umatmu,” dan Dia menjadikan kalian sebagai saksi atas umat manusia semuanya.
Dan dikatakan kepada nabi yang diutus itu, “Tiada suatu kesempitan pun bagimu dalam agama,” dan kepada umat ini dikatakan melalui firman-Nya:

dan Dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan.
(Q.S. Al-Hajj [22]: 78)

Juga dikatakan kepadanya, “Berdoalah kepada-Ku, niscaya Aku memper­kenankannya bagimu!” Dan kepada umat ini dikatakan oleh firman-Nya:

Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu.
(Q.S. Al-Mu’min [40]: 60)

Diriwayatkan oleh Ibnu Abu Hatim.

Imam Al-Hafiz Abu Ya’la alias Ahmad ibnu Ali ibnul Musanna Al-Mausuli telah mengatakan di dalam kitab musnadnya:

telah menceritakan kepada kami Abu Ibrahim At-Turjumani, telah menceritakan kepada kami Saleh Al-Madani yang mengatakan bahwa ia pernah mendengar Al-Hasan menceritakan hadis berikut dari Anas ibnu Malik r.a., dari Nabi ﷺ dalam hadis yang ia riwayatkan dari Tuhannya.
Ia mengatakan: Ada empat perkara, yang satu darinya untuk-Ku dan yang satu untukmu, dan yang satunya lagi antara Aku dan kamu, sedangkan yang terakhir antara kamu dan hamba-hamba-Ku.
Adapun mengenai yang untuk-Ku ialah hendaknya engkau menyembah-Ku, tidak mempersekutukan Aku dengan sesuatu pun.
Adapun yang untukmu dari-Ku ialah amal kebaikan apa pun yang engkau lakukan, Aku akan membalasnya untukmu.
Dan adapun yang antara Aku dan kamu ialah engkau berdoa dan Aku yang memperkenankannya.
Adapun yang antara engkau dan hamba-hamba-Ku ialah retakanlah untuk mereka apa yang engkau relakan untuk dirimu sendiri.

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abu Mu’awiyah, telah menceritakan kepada kami Al-A’masy, dari Zar, dari Yasi’ Al-Kindi, dari An-Nu’man ibnu Basyir r.a.
yang mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda: Sesungguhnya doa itu ibadah.
Kemudian beliau ﷺ membaca firman-Nya: Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu.
Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahanam dalam keadaan hina dina.
(Q.S. Al-Mu’min [40]: 60)

Hal yang sama telah diriwayatkan oleh As-habus Sunan, Imam Turmuzi, Imam Nasai, Imam Ibnu Majah, Ibnu Abu Hatim, dan Ibnu Jarir; semuanya melalui hadis Al-A’masy dengan sanad yang sama.
Imam Turmuzi mengatakan bahwa hadis ini hasan sahih.

Abu Daud telah meriwayatkan hadis ini dan juga Imam Turmuzi, Imam Nasai, dan Ibnu Jarir melalui hadis Syu’bah, dari Mansur dan Al-A’masy, keduanya dari Zar dengan sanad yang sama.

Hal yang sama telah diriwayatkan oleh Ibnu Yunus, dari Usaid ibnu Asim ibnu Mahram, telah menceritakan kepada kami An-Nu’man ibnu Abdus Salam, telah menceritakan kepada kami Sufyan Ats-Tsauri dari Mansur, dari Zar dengan sanad yang sama.

Ibnu Hibban dan Imam Hakim telah meriwayatkan hadis ini di dalam kitab sahihnya masing-masing; Imam Hakim mengatakan bahwa sanad hadis ini sahih.

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Waki’, telah menceritakan kepadaku Abu Saleh Al-Madani (seorang syekh dari kalangan penduduk Madinah) yang telah mendengar hadis ini dari Abu Saleh dan sesekali ia mengatakan bahwa ia pernah mendengar Abu Saleh menceritakan hadis berikut dari Abu Hurairah r.a.
yang mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda: Barang siapa yang tidak pernah berdoa kepada Allah subhanahu wa ta’ala, Allah murka terhadapnya.

Imam Ahmad meriwayatkan hadis ini secara tunggal, dan sanad hadis ini tidak mengandung cela.

Imam Ahmad mengatakan pula, telah menceritakan kepada kami Marwan Al-Fazzari, telah menceritakan kepada kami Sabih Abul Malih, bahwa ia pernah mendengar Abu Saleh menceritakan hadis ini dari Abu Hurairah r.a.
yang telah mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda: Barang siapa yang tidak pernah meminta kepada-Nya, maka Dia akan murka terhadapnya.

Ibnu Mu’in mengatakan bahwa Abul Malih ini nama aslinya adalah Subaih, demikianlah menurut Abdul Gani ibnu Sa’id.
Adapun Abu Saleh, nama gelarnya adalah Al-Khuzi penduduk lereng Al-Khuz, menurut Al-Bazzar di dalam kitab musnadnya.

Hal yang sama disebutkan di dalam riwayatnya dengan sebutan Abul Malih Al-Farisi, dari Abu Saleh Al-Khuzi, dari Abu Hurairah r.a.
yang mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda:

Barang siapa yang tidak pernah meminta kepada Allah, maka Dia murka terhadapnya.

Al-Hafiz Abu Muhammad Al-Hasan ibnu Abdur Rahman Ar-Ramhurmuzi mengatakan, telah menceritakan kepada kami Hammam, telah menceritakan kepada kami Ibrahim ibnul Hasan, telah menceritakan kepada kami Na’il ibnu Najih, telah menceritakan kepadaku Aiz ibnu Habib, dari Muhammad ibnu Sa’id yang mengatakan bahwa ketika Muhammad ibnu Maslamah Al-Ansari meninggal dunia, kami menjumpai pada gantungan pedangnya sebuah tulisan: Dengan nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang, aku pernah mendengar Rasulullah ﷺ bersabda: Sesungguhnya pada sisa hari-hari usia kalian terdapat limpahan rahmat Tuhan kalian, maka memohonlah kalian kepada-Nya, mudah-mudahan ada suatu doa yang bertepatan dengan limpahan rahmat itu yang akan membuat bahagia pelakunya dengan kebahagiaan yang dia tidak akan merugi lagi sesudahnya untuk selama-lamanya.

Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku.
(Q.S. Al-Mu’min [40]: 60)

Yakni dari berdoa kepada-Ku dan dari mengesakan-Ku, kelak akan dimasukkan ke dalam neraka Jahanam dalam keadaan hina dina, yakni terhina lagi dikecilkan.

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Yahya ibnu Sa’id, dari Ibnu Ajlan, telah menceritakan kepadaku Amr ibnu Syu’aib, dari ayahnya, dari kakeknya, dari Nabi ﷺ yang telah bersabda: Orang-orang yang sombong digiring pada hari kiamat seperti semut-semut kecil, tetapi berupa manusia; mereka diliputi oleh segala sesuatu kehinaan, hingga dimasukkan ke dalam suatu penjara di dalam neraka Jahanam yang dikenal dengan nama Bulis.
Tempat itu diliputi oleh intinya api neraka; mereka diberi minuman dari Tinatul Khabal alias perasan keringat penghuni neraka.

Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ali ibnul Husain, telah menceritakan kepada kami Abu Bakar ibnu Muhammad ibnu Yazid ibnu Khunais yang mengatakan bahwa ia pernah mendengar dari Wuhaib ibnul Ward mengatakan, telah menceritakan kepadanya seorang lelaki yang mengatakan bahwa pada suatu hari ia berjalan di negeri Romawi, lalu ia mendengar ada suara tanpa rupa dari puncak bukit yang mengatakan, “Ya Tuhanku, aku merasa heran dengan orang yang mengenal-Mu, mengapa dia berharap kepada seseorang selain Engkau.
Ya Tuhanku, aku merasa heran terhadap orang yang mengenal-Mu, mengapa dia meminta keperluan-keperluannya kepada seseorang selain Engkau.” Lelaki itu melanjutkan kisahnya, bahwa lalu ia pergi dan selanjutnya terjadilah malapetaka yang amat besar.
Lelaki itu melanjutkan kisahnya, bahwa kemudian suara itu menyerukan lagi, “Ya Tuhanku, aku heran kepada orang yang mengenal-Mu, mengapa dia melakukan sesuatu yang menyebabkan Engkau murka, sedangkan dia memuaskan selain Engkau.” Wuhaib mengatakan bahwa itulah yang dimaksud dengan petaka yang amat besar.
Lelaki itu melanjutkan kisahnya, bahwa lalu ia berseru terhadap suara itu, “Jin atau manusiakah engkau?”
Suara itu menjawab, “Tidak, aku adalah seorang manusia, sibukkanlah dirimu dengan urusanmu dan janganlah mencampuri yang bukan urusanmu!”


Kata Pilihan Dalam Surah Al Mu'min (40) Ayat 60

DAAKHIRUUN
دَٰخِرُون

Lafaz ini adalah ism fa’il dari lafaz dakhara maksudnya yang kecil, yang hina, yang rendah orang yang melakukan apa yang diperintahkan, atau enggan se­hingga menjadikannya rendah dan hina.

Lafaz ini disebut empat kali di dalam Al Qur’an yaitu dalam surah:
-An Nahl (16), ayat 48;
-Ash Shaffaat (37), ayat 18;
-An Naml (27), ayat 87;
-Al Mu’min (40), ayat 60.

Mujahid, Qatadah, dan As Suddi berkata,
“Lafaz daakhiruun bermakna shaaghiruun yaitu merendah diri.”

Ibnu Qutaibah juga berpendapat, “Daakhiruun dalam surah Al Nahl bermakna shaaghiruun yaitu yang rendah dan patuh dan ini berkaitan dengan makhluk yang taat dan sujud pada Allah”

Muhammad Ali As Sabuni menafsirkan segala sesuatu seperti gunung-gunung, pohon, batu dan sebagainya tunduk dan patuh pada kekuasaan Allah dan pentadbirannya serta sujud dihadapan Allah dan tidak keluar dari kehendak Nya serta kemauan Nya.

Dalam Tafsir Al Azhar, ia bermakna alam beredar. Segala sesuatu berjalan tidak berhenti semuanya melaksanakan tugas apa yang ditentukan oleh Allah, semua patuh dan sujud tidak menyimpang menurut kemaan sendiri dan tidak ada yang menyombong­kan diri dan membantah apa yang ditentukan oleh Allah.

Dalam surah Al Mu’min menggambarkan ke­adaan orang yang sombong dan angkuh, tidak taat kepada Allah dimana mereka memasuki neraka dalam keadaan hina. Dari semua lafaz daakhiruun atau daakhiriin yang disebut di dalam Al Qur’an mengandung tiga makna dalam dua keadaan.

Pertama, lafaz daakhiruun atau daakhiriin bermaksud patuh dan taat seperti dalam surah al-Nahl. Kepatuhan di sini datang dari seluruh makhluk ciptaannya di langit dan di bumi seperti pentafsiran di atas dan ini ke­ adaan yang pertama.

Kedua, ia bermakna merendahkan diri seperti dalam surah Ash Shaffaat dan An Naml. Ini adalah keadaan yang kedua di mana seluruh makhluk pada hari kiamat nanti kepada Allah dalam keadaan merendahkan diri.

Ketiga, ia bermakna hina atau dalam keadaan hina seperti maksud dari surah Al Mu’min. Ini adalah keadaan yang kedua, menceritakan hinanya orang sombong ketika memasuki neraka karena keangkuhan dan tidak patuh kepada Allah.

Sumber : Kamus Al Qur’an, PTS Islamika SDN. BHD.Hal:220-221

Informasi Surah Al Mu'min (المؤمن)
Surat Al Mu’min terdiri atas 85 ayat, termasuk golongan surat-surat Makkiyyah, diturun­ kan sesudah surat Az Zumar.

Dinamai “Al Mu’min” (Orang yang beriman), berhubung dengan perkataan “mu’min” yang terdapat pada ayat 28 surat ini.
Pada ayat 28 diterangkan bahwa salah seorang dari kaum Fir ‘aun telah beriman kepada Nabi Musa ‘alaihis salam dengan menyembunyikan imannya kepada kaumnya, setelah mendengar keterangan dan melihat mu’jizat yang dikemukakan oleh Nabi Musa ‘alaihis salam hati kecil orang ini mencela Fir’aun dan kaumnya yang tidak mau beriman kepada Nabi Musa ‘alaihis salam, sekalipun telah dikemukakan keterangan dan mu ‘jizat yang diminta mereka.

Dinamakan pula “Ghafir” (yang mengampuni), karena ada hubungannya dengan kalimat “Ghafir” yang terdapat pada ayat 3 surat ini.

Ayat ini mengingatkan bahwa ”Maha Pengampun” dan ”Maha Penerima Taubat” adalah sebagian dari sifat-sifat Allah, karena itu hamba-hamba Allah tidak usah khawatir terhadap perbuatan-perbuatan dosa yang telah terlanjur mereka la­kukan, semuanya itu akan diampuni Allah asal benar-benar memohon ampun dan bertaubat kepada-Nya dan berjanji tidak akan mengerjakan perbuatan-perbuatan dosa itu lagi.

Dan surat ini dinamai “Dzit Thaul” (Yang Mempunyai Kurnia) karena perkataan tersebut ter­ dapat pada ayat 3.

Keimanan:

Sifat-sifat malaikat yang memikul ‘Arsy dan yang berada di sekitarnya
dalil-dalil yang menunjukkan kekuasaan Allah
sifat-sifat Allah yang menunjukkan kebesar­an dan keagungan-Nya
Ilmu Allah meliputi segala sesuatu
bukti-bukti yang menunjukkan adanya hari berbangkit.

Hukum:

Tidak ada pembahasan hukum yang spesifik dalam surat ini.

Kisah:

Kisah Musa a.s dengan Fir’aun

Lain-lain:

Al Qur’anul karim dan sikap orang-orang mu’min dan orang-orang kafir terhadap­nya
permohonan orang-orang kafir supaya dikeluarkan dari neraka
peringatan kepada orang-orang musyrik tentang kedahsyatan hari kiarnat
anjuran bersabar dalam menghadapi kaum musyrikin
ni’mat-ni’mat Allah yang terdapat di daratan dan lautan
janji Rasulullah ﷺ bahwa orang-orang mu’min akan menang ter­hadap musuhnya.

Ayat-ayat dalam Surah Al Mu'min (85 ayat)

Audio

Qari Internasional

Q.S. Al-Mu'min (40) ayat 60 - Oleh Syekh Mishari Alafasy
Q.S. Al-Mu'min (40) ayat 60 - Oleh Syekh Sa'ad Al-Ghamidi
Q.S. Al-Mu'min (40) ayat 60 - Oleh Syekh Muhammad Ayyub

Q.S. Ghofir (40) ayat 60 - Rohmadi Nurbanatra (Bahasa Indonesia)
Q.S. Ghofir (40) ayat 60 - Rohmadi Nurbanatra (Bahasa Arab)

Murottal al-Qur'an & Terjemahan Indonesia
Q.S. Al-Mu'min - Oleh Syekh Misyari Rasyid Alafasy
Full ayat 1 sampai 85 & Terjemahan


Gambar



Statistik Q.S. 40:60
  • Rating RisalahMuslim

Ayat ini terdapat dalam surah Al Mu'min.

Surah Al-Mu'min (Arab: المؤمن ,"Orang Yang Beriman") atau Surah Ghafir (Arab: غافر ) adalah surah ke-40 dalam Al-Qur'an.
Surah ini terdiri atas 85 ayat, termasuk golongan surah-surah Makkiyah.
Surah ini diturunkan setelah surah Az-Zumar dan memiliki 3 nama yaitu Al-Mu'min, Ghafir, dan At-Tawl.

Nomor Surah 40
Nama Surah Al Mu'min
Arab المؤمن
Arti Orang yang Beriman
Nama lain Mukmin, Thaul, Ha Mim, Ghafir, At-Tawl atau Zit Tawl, Ha Mim al-Mu'min
Tempat Turun Mekkah
Urutan Wahyu 60
Juz Juz 24
Jumlah ruku' 9 ruku'
Jumlah ayat 85
Jumlah kata 1228
Jumlah huruf 5109
Surah sebelumnya Surah Az-Zumar
Surah selanjutnya Surah Fussilat
4.8
Ratingmu: 5 (1 orang)
Sending







Pembahasan ▪ q s 40 60 ▪ QS 40:60 ▪ al mukmin 60 ▪ ghafir 60 ▪ qs 40 60

Iklan

Video

Panggil Video Lainnya


Ikuti RisalahMuslim
               





Copied!

Masukan & saran kirim ke email:
[email protected]

Made with in Yogyakarta