QS. Al Mu’min (Orang yang Beriman) – surah 40 ayat 28 [QS. 40:28]

وَ قَالَ رَجُلٌ مُّؤۡمِنٌ ٭ۖ مِّنۡ اٰلِ فِرۡعَوۡنَ یَکۡتُمُ اِیۡمَانَہٗۤ اَتَقۡتُلُوۡنَ رَجُلًا اَنۡ یَّقُوۡلَ رَبِّیَ اللّٰہُ وَ قَدۡ جَآءَکُمۡ بِالۡبَیِّنٰتِ مِنۡ رَّبِّکُمۡ ؕ وَ اِنۡ یَّکُ کَاذِبًا فَعَلَیۡہِ کَذِبُہٗ ۚ وَ اِنۡ یَّکُ صَادِقًا یُّصِبۡکُمۡ بَعۡضُ الَّذِیۡ یَعِدُکُمۡ ؕ اِنَّ اللّٰہَ لَا یَہۡدِیۡ مَنۡ ہُوَ مُسۡرِفٌ کَذَّابٌ
Waqaala rajulun mu’minun min aali fir’auna yaktumu iimaanahu ataqtuluuna rajulaa an yaquula rabbiyallahu waqad jaa-akum bil bai-yinaati min rabbikum wa-in yaku kaadziban fa’alaihi kadzibuhu wa-in yaku shaadiqan yushibkum ba’dhul-ladzii ya’idukum innallaha laa yahdii man huwa musrifun kadz-dzaabun;

Dan seorang laki-laki yang beriman di antara pengikut-pengikut Fir’aun yang menyembunyikan imannya berkata:
“Apakah kamu akan membunuh seorang laki-laki karena dia menyatakan:
“Tuhanku ialah Allah padahal dia telah datang kepadamu dengan membawa keterangan-keterangan dari Tuhanmu.
Dan jika ia seorang pendusta maka dialah yang menanggung (dosa) dustanya itu, dan jika ia seorang yang benar niscaya sebagian (bencana) yang diancamkannya kepadamu akan menimpamu”.
Sesungguhnya Allah tidak menunjuki orang-orang yang melampaui batas lagi pendusta.
―QS. 40:28
Topik ▪ Iman ▪ Hidayah (petunjuk) dari Allah ▪ Pertolongan Allah Ta’ala kepada orang mukmin
40:28, 40 28, 40-28, Al Mu’min 28, AlMumin 28, Al Mukmin 28, AlMukmin 28, Al-Mu’min 28

Tafsir surah Al Mu'min (40) ayat 28

Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. Al Mu’min (40) : 28. Oleh Kementrian Agama RI

Para ulama tafsir meriwayatkan bahwa laki-laki beriman yang disebutkan dalam ayat ini adalah seorang bangsa Qibty, dari keluarga Firaun.
Tentang namanya Ibnu Kasir meriwayatkan kisah ini dari Ibnu Hatim tidak menyebutkannya dengan jelas, cuma hanya mengatakan bahwa ia adalah seorang anak dari paman Firaun yang beriman secara sembunyi-sembunyi kepada Musa.
Tidak ada dari keluarga Firaun yang beriman melainkan laki-laki yang disebutkan dalam ayat ini ditambah dengan istri Firaun sendiri.
Laki-laki itu pula yang mengingatkan kepada Musa tentang adanya rencana jahat hendak membunuhnya, demikian kata Ibnu Abbas Al Khazin, demikian pula An Nasafy dalam kitab tafsirnya meriwayatkan pula dari Ibnu `Abbas, bahwa laki-laki itu bernama Sam’an atau Habib.
Sebagian menyebutkan Kharbil atau Hazbil.
Yang disepakati oleh Jumhur ulama tafsir ialah bahwa laki-laki yang beriman dalam ayat ini adalah anak paman Firaun.
Demikian laki-laki yang beriman itu dengan penuh kebijaksanaan menasihati Firaun: “Apakah patut engkau membunuh seseorang (Musa) oleh karena ia mengatakan Tuhanku Allah, sedang ia telah membuktikan kebenaran pendiriannya Menurut hematku tidaklah wajar kalau cuma itu kesalahannya ia harus disiksa atau dijatuhi hukuman”.
Nasihat itu diterima oleh Firaun, dan rencana itu dibatalkan.
Ringkasnya ia memperingatkan kepada Firaun dan pembantu-pembantunya bahwa pembunuhan terhadap diri Musa tiada beralasan sama sekali, hanya oleh karena ia menyampaikan keyakinannya yaitu “Tiada Tuhan melainkan Allah”.

Imam Bukhari meriwayatkan dari Urwah bin Zubair, di mana orang bertanya kepada Amru bin As tentang penyiksaan yang paling dahsyat yang dilakukan orang-orang musyrik kepada diri Rasulullah.
Amru menceritakan: “Suatu saat Rasulullah ﷺ salat di halaman Kakbah.
Tiba-tiba muncul seorang tokoh Quraisy bernama `Uqbah lbnu Abu Mu’it.
Rasulullah dipegangnya kuat-kuat, seraya melilitkan selembar kain kuat-kuat di leher beliau sampai kencang sekali, sehingga beliau hampir tercekik.
Untunglah Abu Bakar segera datang, cepat-cepat ia lepaskan lilitan kain itu.
Sambil membela Rasulullah, Aba Bakar menghardik Uqbah: “Apakah engkau membunuh seseorang yang mengatakan Tuhanku Allah, padahal dia telah datang kepadamu dengan membawa keterangan-keterangan dari Tuhanmu?

Diriwayatkan bahwa pada suatu hari Ah bin Abu Talib terlibat dalam percakapan dengan para sahabat.
Beliau bertanya: “Tahukah Anda siapa di antara kita yang paling berani?”.
Mereka menjawab: “Engkau hai Ali.
Tidak aku sekadar mengambil hakku dari orang yang aku tandingi, jawab Ali.
“Siapa orang yang paling berani?
tanya Ali lagi.
Kami tidak tahu jawab para sahabat.
Kemudian Ali menceritakan bahwa orang yang paling berani itu ialah Aba Bakar.
Aku lihat, Rasulullah tengah dikeroyok oleh segerombolan orang Quraisy.
“Apakah engkau yang menjadikan tuhan-tuhan itu menjadi Tuhan Yang Maha Esa?”
bentak mereka.
Maka beliau melanjutkan, demi Allah tiada seorang pun di antara kami yang berani menolong Rasul, kecuali Aba Bakar.
Dia segera memisahkan orang banyak itu dari Rasul.
Ada yang ditabrak, dan ada yang didorong oleh Abu Bakar sampai Rasul bebas sama sekali.
Celaka kalian semua, apakah kalian hendak membunuh seorang yang mengatakan “Tuhanku Allah?”,
hardik Aba Bakar kepada gerombolan itu.
Kemudian Ali membuka shal yang dipakainya seraya menangis sampai basah jenggotnya.
Lalu Ali bertanya kepada para sahabat tersebut: “Manakah yang lebih baik imannya laki-laki mukmin dari keluarga Firaun atau Abu Bakar?”.
Para sahabat itu diam tak menjawab.
Kenapa kamu tidak menjawab tanya Ali lagi.
Demi Allah, sesaat saja dari kehidupan Abu Bakar lebih berharga dari laki-laki mukmin dari keluarga Firaun itu.
Laki-laki mukmin itu menyembunyikan keimanannya (kepada Nabi Musa), sehingga Allah memujinya dalam Alquran, sedang laki-laki ini (sambil menunjuk Abu Bakar) memproklamirkan imannya dan berjuang dengan harta dan darahnya”.

Ayat ini melanjutkan alasan-alasan supaya Musa jangan di bunuh: “Seandainya Musa itu berdusta dalam pembicaraannya yang mendakwakan ia adalah utusan Allah kepadamu yang menyuruhmu agar beribadah kepada Tuhan Yang Maha Esa dan meninggalkan agama nenek moyangmu, maka dosa kedustaannya itu ditanggung oleh dirinya sendiri, bukan kamu yang memikulnya.
Tetapi bilamana ia benar dalam ucapannya, pastilah azab akan menimpamu seperti apa yang diancamkannya, karena kamu masih tetap dalam kepercayaanmu.
Karena itu tidak ada alasan untuk membunuhnya.
Bila rencana itu kamu jalankan juga, pasti Tuhan akan marah dua kali lipat kepadamu.
Karena kekafiranmu dan karena membunuh Rasul-Nya”.

Demikian pandangan laki-laki mukmin dari keluarga Firaun itu.
Firman Allah “sebagian ancaman yang akan menimpa kamu”,
mengandung suatu ancaman (peringatan) yang amat keras.
Sebab makna yang sebenarnya ialah bila Tuhan memperingatkan dengan turunnya sebagian dari siksa-Nya, berarti Dia akan menghancurkan Seluruhnya.

Jelaslah pengertian “sebagai ancaman” dalam ayat ini tidak menghilangkan arti azab secara keseluruhannya.
Boleh jadi sebagian azab yang diancamkan itu adalah azab yang segera datang yang sifatnya membinasakan dan menakutkan, sedang yang dimaksud dalam ancaman itu adalah azab akhirat.
Andai kata Musa itu seorang yang berlebih-lebihan dalam ucapannya atau berdusta kepada kaumnya, tentulah Allah tidak akan memberinya hidayah (taufik).
Ia berhasil memperlihatkan mukjizat-mukjizat yang diberikan Allah kepadanya, di mana tiada seorang pun yang sanggup menandinginya, kalau bukan mukjizat itu berasal dari pemberian Allah, tentulah ia akan binasa dan merasa terhina.
Dari itu kata orang mukmin itu selanjutnya, tiada alasan bagi Firaun dan para pembesarnya untuk membunuh Nabi Musa as.
Lafal “sesungguhnya Allah tidak menunjuki siapa yang melampaui batas lagi pendusta”,
merupakan sindiran pedas kepada Firaun sendiri.
Sebab dialah yang membunuh dan membuat kerusakan, pendusta dengan.
mendakwakan dirinya sebagai Tuhan.
Allah tidak akan menunjukinya kepada jalan yang benar, dan tidak akan mengilhamkan kepadanya perbuatan baik yang membawa kemenangan.

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Seorang yang beriman di antara pengikut Fir’aun, yang menyembunyikan keimanannya, berkata kepada kaumnya, “Apakah kalian hendak membunuh seseorang hanya karena ia berkata, ‘Sembahanku hanyalah Allah’, padahal ia telah mendatangkan bukti-bukti yang sangat jelas dari Tuhan kalian?
Jika ia berdusta dengan apa yang disampaikannya, maka ia akan menanggung sendiri akibat dustanya.
Tetapi jika ia benar, maka sebagian siksa yang telah ia ingatkan kepada kalian akan datang menyiksa kalian.
Allah sungguh tidak akan menunjukkan orang yang melampaui batas dan banyak berdusta, ke jalan keselamatan.”

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(Dan berkatalah seorang laki-laki yang beriman di antara keluarga Firaun) menurut suatu pendapat disebutkan, bahwa ia adalah anak paman Firaun atau saudara sepupunya (yang menyembunyikan imannya, “Apakah kalian akan membunuh seorang laki-laki karena) sebab (dia menyatakan, ‘Rabbku ialah Allah’ padahal dia telah datang kepada kalian dengan membawa keterangan-keterangan) yakni mukjizat-mukjizat yang jelas (dari Rabb kalian.

Dan jika ia seorang pendusta maka dialah yang menanggung dosa-dustanya itu) yakni dia sendirilah yang menanggung akibat dari kedustaannya (dan jika ia seorang yang benar niscaya sebagian bencana yang diancamkannya kepada kalian akan menimpa kalian”) yakni sebagian azab yang diancamkannya kepada kalian akan segera menimpa diri kalian.

(Sesungguhnya Allah tidak menunjuki orang-orang yang melampaui batas) yakni orang yang musyrik (lagi pendusta) yang banyak dustanya.

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Menurut qaul yang masyhur, lelaki mukmin yang mengatakan kalimat ini adalah seorang bangsa Egypt dari kalangan keluarga Fir’aun.

As-Saddi mengatakan bahwa dia adalah saudara sepupu Fir’aun yang membelot dari Fir’aun dan bergabung bersama Musa ‘alaihis salam Menurut suatu pendapat, ia selamat bersama Musa ‘alaihis salam dari kejaran Fir’aun.
Pendapat inilah yang dipilih oleh Ibnu Jarir; Ibnu jarir menjawab pendapat yang mengatakan bahwa lelaki itu adalah seorang Bani Israil, bahwa ternyata Fir’aun mau mendengarkan perkataan lelaki itu dan terpengaruh olehnya, lalu tidak jadi membunuh Musa ‘alaihis salam Seandainya laki-laki itu adalah seorang Bani Israil, pastilah Fir’aun menyegerakan hukumannya, karena dia adalah dari kalangan mereka (Bani Israil).

Ibnu Juraij telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas r.a., bahwa tiada seorang pun dari kalangan keluarga Fir’aun yang beriman kecuali lelaki ini, istri Fir’aun, dan seorang lelaki lainnya yang memperingatkan Musa ‘alaihis salam melalui perkataannya, yang disitir oleh firman-Nya:

Hai Musa, sesungguhnya pembesar negeri sedang berunding tentang kamu untuk membunuhmu.
(Q.S. Al-Qasas: 20).
Diriwayatkan oleh Ibnu Abu Hatim.

Lelaki ini menyembunyikan imannya dari mata kaumnya bangsa Egypt.
Dia tidak menampakkannya kecuali pada hari itu, yaitu ketika Fir’aun mengatakan:

Biarkanlah aku membunuh Musa.
(Q.S. Al-Mu’min [40]: 26)

Maka lelaki itu menjadi marah karena Allah subhanahu wa ta’ala Dan jihad yang paling utama itu ialah mengutarakan kalimat keadilan di hadapan penguasa yang zalim, seperti yang telah disebutkan di dalam hadis.
Dan tidak ada perkataan yang lebih besar daripada kalimat ini di hadapan Fir’aun, yaitu:

Apakah kamu akan membunuh seorang laki-laki karena dia menyatakan, ‘Tuhanku ialah Allah.’ (Q.S. Al-Mu’min [40]: 28)

Juga selain dari apa yang telah diriwayatkan oleh Imam Bukhari di dalam kitab sahihnya.
Dia mengatakan:

telah menceritakan kepada kami Ali ibnu Abdullah, telah menceritakan kepada kami Al-Walid ibnu Muslim, telah menceritakan kepada kami Al-Auza’i, telah menceritakan kepadaku Yahya ibnu Abu Kasir, telah menceritakan kepadaku Muhammad ibnu Ibrahim At-Taimi, telah menceritakan kepadaku Urwah ibnuz Zubair r.a.
yang mengatakan bahwa ia pernah berkata kepada Abdullah ibnu Amr ibnul As r.a., “Ceritakanlah kepadaku perlakuan yang paling kejam yang telah dilakukan oleh orang-orang musyrik terhadap diri Rasulullah ﷺ” Abdullah ibnu Amr menjawab, bahwa pada suatu hari Rasulullah ﷺ sedang salat di serambi Ka’bah, tiba-tiba datanglah Uqbah ibnu Abu Mu’it, lalu Uqbah memegang pundak Rasulullah ﷺ dan melilitkan kainnya ke leher beliau sehingga kain itu mencekiknya dengan keras.
Maka datanglah Abu Bakar r.a., lalu memegang pundak Uqbah dan mendorongnya jauh dari Rasulullah ﷺ, kemudian Abu Bakar berkata: Apakah kamu akan membunuh seorang laki-laki karena dia menyatakan, ‘Tuhanku ialah Allah,’ padahal dia telah datang kepadamu dengan membawa keterangan-keterangan dari Tuhanmu?
(Q.S. Al-Mu’min [40]: 28)

Imam Bukhari meriwayatkannya secara tunggal melalui hadis Al-Auza’i.
Imam Bukhari mengatakan bahwa hadis ini diikuti oleh Muhammad ibnu Ishaq, dari Ibrahim ibnu Urwah, dari ayahnya dengan sanad yang sama.

Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Harun ibnu Ishaq Al-Hamdani, telah menceritakan kepada kami Abdah, dari Hisyam ibnu Urwah, dari ayahnya, dari Amr ibnul As r.a., bahwa ia pernah ditanya, “Perlakuan apakah yang paling keras dilakukan oleh orang-orang Quraisy terhadap diri Rasulullah ﷺ?”
Amr ibnul As menjawab, bahwa pada suatu hari Nabi ﷺ bersua dengan mereka, lalu mereka berkata kepadanya, “Engkau telah mencegah kami menyembah apa yang disembah oleh nenek moyang kami.” Nabi ﷺ menjawab, “Ya, memang itulah yang aku lakukan.” Maka mereka bangkit menuju kepada Nabi ﷺ dan memegang leher baju Rasulullah ﷺ Kulihat Abu Bakar r.a.
memeluk Nabi ﷺ dari belakangnya seraya menjerit sekuat suaranya, sedangkan kedua matanya mencucurkan air mata seraya berkata, “Hai kaum, apakah kamu akan membunuh seorang laki-laki karena dia mengatakan, ‘Tuhanku ialah Allah,’ padahal dia telah datang kepadamu dengan membawa keterangan-keterangan dari Tuhanmu?” (Q.S. Al-Mu’min [40]: 28), hingga akhir ayat.

Hal yang sama telah diriwayatkan oleh Imam Nasai melalui Abdah, lalu ia menjadikannya termasuk hadis yang disandarkan kepada Amr ibnul As r.a.

Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

padahal dia telah datang kepadamu dengan membawa keterangan-keterangan dari Tuhanmu.
(Q.S. Al-Mu’min [40]: 28)

Yakni mengapa kalian mau membunuh seorang lelaki karena dia telah mengucapkan, ‘Tuhanku ialah Allah,’ padahal dia telah menegakkan kepada kalian bukti yang membenarkan apa yang disampaikan kepada kalian, yaitu berupa perkara yang hak.
Kemudian laki-laki itu dalam pembicaraannya bernada agak lunak, seperti yang disitir oleh firman-Nya:

Dan jika ia seorang pendusta, maka dialah yang menanggung (dosa) dustanya itu; dan jika ia seorang yang benar, niscaya sebagian (bencana) yang diancamkannya kepadamu akan menimpamu.
(Q.S. Al-Mu’min [40]: 28)

Yaitu jika tidak terbukti kebenaran dari apa yang disampaikannya kepada kalian, berarti dari pendapatnya sendiri secara murni, dan sikap yang terbaik dalam menghadapinya ialah membiarkannya sendirian bersama dengan pendapatnya itu, dan janganlah kamu mengganggunya.
Jika dia dusta, maka sesungguhnya Allah subhanahu wa ta’ala akan membalas kedustaannya itu dengan hukuman di dunia dan di akhirat nanti.
Jika dia memang benar, sedangkan kalian telah menyakitinya, niscaya akan menimpa kalian sebagian dari bencana yangtelah diancamkannya kepada kalian, jika kalian menentangnya, yaitu berupa azab di dunia ini dan di akhirat nanti.
Bisa saja dia memang benar terhadap kalian, maka sikap yang tepat ialah hendaklah kalian tidak menghalang-halanginya.
Tetapi biarkanlah dia dan kaumnya, biarkanlah dia menyeru kaumnya dan kaumnya mengikutinya.
Dan memang demikianlah apa yang telah diceritakan oleh Allah subhanahu wa ta’ala, bahwa Musa meminta kepada Fir’aun dan kaumnya agar melepaskan dia dan kaum Bani Israil, yaitu:

Sesungguhnya sebelum mereka telah Kami uji kaum Fir’aun dan telah datang kepada mereka seorang rasul yang mulia, (dengan berkata), “Serahkanlah kepadaku hamba-hamba Allah (Bani Israil yang kamu perbudak).
Sesungguhnya aku adalah utusan (Allah) yang dipercaya kepadamu, dan janganlah kamu menyombongkan diri terhadap Allah.
Sesungguhnya aku datang kepadamu dengan membawa bukti yang nyata.
Dan sesungguhnya aku berlindung kepada Tuhanku dan Tuhanmu dari keinginanmu merajamku; dan jika kamu tidak beriman kepadaku, maka biarkanlah aku (memimpin Bani Israil).” (Q.S. Ad-Dukhaan [44]: 17-21)

Hal yang sama telah dikatakan oleh Rasulullah ﷺ terhadap orang-orang Quraisy, beliau meminta agar mereka membiarkannya menyeru hamba-hamba Allah untuk menyembah-Nya, dan janganlah mereka mengganggunya dan hendaklah mereka tetap menghubungkan tali persaudaraan yang telah ada antara dia dan mereka, tiada yang saling menyakiti.
Allah subhanahu wa ta’ala berfirman menceritakan hal ini:

Katakanlah, “Aku tidak meminta kepadamu sesuatu upah pun atas seruanku kecuali kasih sayang dalam kekeluargaan.” (Q.S. Asy Shyuura [42]: 23)

Maksudnya, janganlah kalian menggangguku demi tali persaudaraan yang telah ada antara aku dan kalian, dan biarkanlah urusan antara aku dan manusia.
Berdasarkan hal ini, maka ditandatanganinyalah Perjanjian Hudaibiyah, yang merupakan awal dari kemenangan yang jelas.

Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

Sesungguhnya Allah tidak menunjuki orang-orang yang melampaui batas lagi pendusta.
(Q.S. Al-Mu’min [40]: 28)

Yakni seandainya orang ini (Musa ‘alaihis salam) yang mengakui bahwa dirinya diutus oleh Allah kepada kalian adalah dusta —seperti yang kalian sangkakan terhadapnya— tentulah perkaranya jelas dan kelihatan bagi setiap orang melalui ucapan dan perbuatannya; dan sudah barang tentu semua sikap dan ucapannya banyak bertentangan dan kacau.
Tetapi ternyata orang ini (Musa ‘alaihis salam) perkaranya kami lihat benar dan sepak terjangnya lurus.
Seandainya dia termasuk orang yang melampaui batas lagi pendusta, tentulah Allah tidak menunjukinya dan membimbingnya kepada sikap dan ucapan seperti yang kamu lihat sendiri; semua urusan dan perbuatannya kelihatan begitu teratur dan rapi.

Laki-laki yang beriman dari kalangan keluarga Fir’aun itu melanjutkan perkataannya seraya memperingatkan kaumnya akan lenyapnya nikmat Allah yang telah diberikan kepada mereka dan datangnya azab Allah atas mereka:


Informasi Surah Al Mu'min (المؤمن)
Surat Al Mu’min terdiri atas 85 ayat, termasuk golongan surat-surat Makkiyyah, diturun­ kan sesudah surat Az Zumar.

Dinamai “Al Mu’min” (Orang yang beriman), berhubung dengan perkataan “mu’min” yang terdapat pada ayat 28 surat ini.
Pada ayat 28 diterangkan bahwa salah seorang dari kaum Fir ‘aun telah beriman kepada Nabi Musa ‘alaihis salam dengan menyembunyikan imannya kepada kaumnya, setelah mendengar keterangan dan melihat mu’jizat yang dikemukakan oleh Nabi Musa ‘alaihis salam hati kecil orang ini mencela Fir’aun dan kaumnya yang tidak mau beriman kepada Nabi Musa ‘alaihis salam, sekalipun telah dikemukakan keterangan dan mu ‘jizat yang diminta mereka.

Dinamakan pula “Ghafir” (yang mengampuni), karena ada hubungannya dengan kalimat “Ghafir” yang terdapat pada ayat 3 surat ini.

Ayat ini mengingatkan bahwa ”Maha Pengampun” dan ”Maha Penerima Taubat” adalah sebagian dari sifat-sifat Allah, karena itu hamba-hamba Allah tidak usah khawatir terhadap perbuatan-perbuatan dosa yang telah terlanjur mereka la­kukan, semuanya itu akan diampuni Allah asal benar-benar memohon ampun dan bertaubat kepada-Nya dan berjanji tidak akan mengerjakan perbuatan-perbuatan dosa itu lagi.

Dan surat ini dinamai “Dzit Thaul” (Yang Mempunyai Kurnia) karena perkataan tersebut ter­ dapat pada ayat 3.

Keimanan:

Sifat-sifat malaikat yang memikul ‘Arsy dan yang berada di sekitarnya
dalil-dalil yang menunjukkan kekuasaan Allah
sifat-sifat Allah yang menunjukkan kebesar­an dan keagungan-Nya
Ilmu Allah meliputi segala sesuatu
bukti-bukti yang menunjukkan adanya hari berbangkit.

Hukum:

Tidak ada pembahasan hukum yang spesifik dalam surat ini.

Kisah:

Kisah Musa a.s dengan Fir’aun

Lain-lain:

Al Qur’anul karim dan sikap orang-orang mu’min dan orang-orang kafir terhadap­nya
permohonan orang-orang kafir supaya dikeluarkan dari neraka
peringatan kepada orang-orang musyrik tentang kedahsyatan hari kiarnat
anjuran bersabar dalam menghadapi kaum musyrikin
ni’mat-ni’mat Allah yang terdapat di daratan dan lautan
janji Rasulullah ﷺ bahwa orang-orang mu’min akan menang ter­hadap musuhnya.

Ayat-ayat dalam Surah Al Mu'min (85 ayat)

Audio

Qari Internasional

Q.S. Al-Mu'min (40) ayat 28 - Oleh Syekh Mishari Alafasy
Q.S. Al-Mu'min (40) ayat 28 - Oleh Syekh Sa'ad Al-Ghamidi
Q.S. Al-Mu'min (40) ayat 28 - Oleh Syekh Muhammad Ayyub

Murottal al-Qur'an & Terjemahan Indonesia
Q.S. Al-Mu'min - Oleh Syekh Misyari Rasyid Alafasy
Full ayat 1 sampai 85 & Terjemahan


Gambar



Statistik Q.S. 40:28
  • Rating RisalahMuslim

Ayat ini terdapat dalam surah Al Mu'min.

Surah Al-Mu'min (Arab: المؤمن ,"Orang Yang Beriman") atau Surah Ghafir (Arab: غافر ) adalah surah ke-40 dalam Al-Qur'an.
Surah ini terdiri atas 85 ayat, termasuk golongan surah-surah Makkiyah.
Surah ini diturunkan setelah surah Az-Zumar dan memiliki 3 nama yaitu Al-Mu'min, Ghafir, dan At-Tawl.

Nomor Surah 40
Nama Surah Al Mu'min
Arab المؤمن
Arti Orang yang Beriman
Nama lain Mukmin, Thaul, Ha Mim, Ghafir, At-Tawl atau Zit Tawl, Ha Mim al-Mu'min
Tempat Turun Mekkah
Urutan Wahyu 60
Juz Juz 24
Jumlah ruku' 9 ruku'
Jumlah ayat 85
Jumlah kata 1228
Jumlah huruf 5109
Surah sebelumnya Surah Az-Zumar
Surah selanjutnya Surah Fussilat
4.6
Ratingmu: 4.2 (10 orang)
Sending







Pembahasan ▪ hukuman bagi seorang pendusta

Iklan

Video

Panggil Video Lainnya


Ikuti RisalahMuslim
               





Copied!

Masukan & saran kirim ke email:
[email protected]

Made with in Yogyakarta