QS. Al Mulk (Kerajaan) – surah 67 ayat 3 [QS. 67:3]

الَّذِیۡ خَلَقَ سَبۡعَ سَمٰوٰتٍ طِبَاقًا ؕ مَا تَرٰی فِیۡ خَلۡقِ الرَّحۡمٰنِ مِنۡ تَفٰوُتٍ ؕ فَارۡجِعِ الۡبَصَرَ ۙ ہَلۡ تَرٰی مِنۡ فُطُوۡرٍ
Al-ladzii khalaqa sab’a samaawaatin thibaaqan maa tara fii khalqir-rahmani min tafaawutin faarji’il bashara hal tara min futhuurin;

Yang telah menciptakan tujuh langit berlapis-lapis.
Kamu sekali-kali tidak melihat pada ciptaan Tuhan Yang Maha Pemurah sesuatu yang tidak seimbang.
Maka lihatlah berulang-ulang, adakah kamu lihat sesuatu yang tidak seimbang?
―QS. 67:3
Topik ▪ Aneka ragam tumbuhan
67:3, 67 3, 67-3, Al Mulk 3, AlMulk 3, Al-Mulk 3

Tafsir surah Al Mulk (67) ayat 3

Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. Al Mulk (67) : 3. Oleh Kementrian Agama RI

Allah menerangkan bahwa Dialah yang menciptakan seluruh langit secara bertingkat di alam semesta.
Tiap-tiap benda alam itu seakan-akan terapung kokoh di tengah-tengah jagat raya, tanpa ada tiang-tiang yang menyangga dan tanpa ada tali-temali yang mengikatnya.
Tiap-tiap langit itu menempati ruangan yang telah ditentukan baginya di tengah-tengah jagat raya dan masing-masing lapisan itu terdiri atas begitu banyak planet yang tidak terhitung jumlahnya.
Tiap-tiap planet berjalan mengikuti garis edar yang telah ditentukan baginya.
Allah berfirman:

Dia menciptakan langit tanpa tiang sebagaimana kamu melihatnya, dan Dia meletakkan gunung-gunung (di permukaan) bumi agar ia (bumi) tidak menggoyangkan kamu; dan memperkembangbiakkan segala macam jenis makhluk bergerak yang bernyawa di bumi.
Dan Kami turunkan air hujan dari langit, lalu Kami tumbuhkan padanya segala macam tumbuh-tumbuhan yang baik.

(Q.S. Luqman [31]: 10)

Semua benda langit beserta bintang-bintang yang terdapat di dalamnya tunduk dan patuh mengikuti ketentuan dan hukum yang ditetapkan Allah baginya.
Semuanya tetap seperti itu sampai pada waktu yang ditentukan baginya.
Allah berfirman: Allah yang meninggikan langit tanpa tiang (sebagaimana) yang kamu lihat, kemudian Dia bersemayam di atas ‘Arsy.
Dia menundukkan matahari dan bulan; masing-masing beredar menurut waktu yang telah ditentukan.
Dia mengatur urusan (makhluk-Nya), dan menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya), agar kamu yakin akan pertemuan dengan Tuhanmu.

(Q.S. Ar-Ra’d [13]: 2)

Menurut ilmu Astronomi, di jagat raya yang luasnya tiada terhingga itu, terdapat galaksi-galaksi atau gugusan-gugusan bintang yang di dalamnya terdapat miliaran bintang yang tiada terhitung jumlahnya.
Bintang-bintang yang berada di dalam setiap galaksi itu ada yang kecil seperti bumi dan ada pula yang besar seperti matahari, dan bahkan banyak yang lebih besar lagi.
Setiap galaksi mempunyai sistem yang teratur rapi, yang tidak terlepas dari sistem ruang angkasa seluruhnya.
Adanya daya tarik-menarik yang terdapat pada setiap planet, menyebabkan planet-planet itu tidak jatuh dan tidak berbenturan antara yang satu dengan yang lain, sehingga ia tetap terapung dan beredar pada garis edarnya masing-masing di angkasa.
Bila dihubungkan pengertian ayat tersebut dengan yang dijelaskan ilmu Astronomi, maka yang dimaksud dengan tingkat-tingkat langit yang banyak itu ialah galaksi-galaksi.
Sedang angka tujuh dalam bahasa Arab biasa digunakan untuk menunjukkan sesuatu yang jumlahnya banyak.
Oleh karena itu, yang dimaksud dengan tingkat langit yang tujuh itu adalah galaksi-galaksi yang banyak terdapat di langit.
Sementara itu, ada pula ahli tafsir yang berpendapat bahwa yang dimaksud dengan “tujuh lapisan langit” ialah tujuh bintang yang berada di sekitar matahari, dan ada pula ahli tafsir yang tidak mau menafsirkannya.
Mereka menyerahkannya kepada Allah karena hal itu ada pada pengetahuan-Nya yang belum diketahui dengan pasti oleh manusia.

Demikianlah gambaran umum keadaan sistem galaksi-galaksi.
Mengenai keadaan setiap planet yang tidak terhitung banyaknya itu, seperti bagaimana sifat dan tabiatnya, apa yang terkandung di dalamnya, bagaimana bentuknya secara terperinci, dan sebagainya masih sangat sedikit yang diketahui manusia.
Hal itu pun hanya sekelumit kecil dari pengetahuan tentang galaksi itu.
Seperti mengenai penciptaan “langit” yang tujuh lapis terdapat pada beberapa ayat lainnya, seperti Al-Baqarah: 29, Al-An’am’: 125, Nuh: 15, dan an-Naba’: 12.
Menurut para saintis, kata langit dapat ditafsirkan sebagai langit bumi yang berupa atmosfer atau langit alam semesta.
Apabila langit bumi, ternyata bahwa atmosfer dibagi dalam tujuh lapisan.
Dan masing-masing lapisan mempunyai tugas dan fungsi melindungi bumi.
Pembagian atmosfer menjadi tujuh lapis didasarkan pada perbedaan kandungan kimia dan suhu udara.
Ketujuh lapisan tersebut dinamakan: Troposfer, Stratosfer, lapisan-lapisan Mesosfer, Thermosfer, Exosfer, Ionosfer, dan Magnetosfer.

Dalam Surah Fussilat ayat 11-12 dinyatakan bahwa tiap lapis langit mempunyai urusannya sendiri-sendiri.
Hal ini dikonfirmasi ilmu pengetahuan, misal ada lapisan yang bertugas untuk membuat hujan, mencegah kerusakan akibat radiasi, memantulkan gelombang radio, sampai dengan lapisan yang mencegah agar meteor tidak merusak bumi.
Akan tetapi, dengan adanya ayat 5 pada surah yang sama (Q.S. Al-Mulk [67]: 5), tampaknya yang dimaksudkan dengan langit bukanlah langit atmosfer, melainkan langit semesta.
Bunyi ayat tersebut demikian:

Dan sungguh, telah Kami hiasi langit yang dekat, dengan bintang-bintang dan Kami jadikannya (bintang-bintang itu) sebagai alat pelempar setan, dan Kami sediakan bagi mereka azab neraka yang menyala-nyala.
(Q.S. Al-Mulk [67]: 5)

Dinyatakan secara jelas bahwa pada “langit yang dekat” (mungkin dapat ditafsirkan sebagai lapis langit pertama) dihiasi oleh bintang-bintang.
Kata yang digunakan bukan bintang (bentuk tunggal yang dapat menunjuk pada matahari sebagai bintang dalam tata surya), akan tetapi bintang-bintang (bentuk jamak).
Dengan demikian “langit yang dekat” adalah seluruh galaksi yang kita ketahui saat ini.
Apabila demikian halnya, apa yang dinyatakan dalam Al-Qur’an mengenai hal ini, sama sekali belum dapat dijangkau oleh temuan ilmu pengetahuan.
Berkaitan dengan itu, adalah suatu hal yang sangat sombong jika seorang manusia mengakui tahu segala sesuatu.
Betapa pun luasnya pengetahuan seseorang, masih sangat sedikit bila dibandingkan dengan pengetahuan Allah.
Apabila seseorang mengumpamakan dirinya sebagai bumi, kemudian melihat dirinya terletak di antara planet-planet yang banyak itu, tentu akan merasa bahwa dirinya sebenarnya tidak ada artinya jika dibandingkan dengan makhluk Allah yang beraneka ragam bentuk dan coraknya yang tiada terhitung jumlahnya.
Allah lalu memerintahkan manusia memandang dan memperhatikan langit dan bumi beserta isinya, serta mempelajari sifat-sifatnya.
Misalnya, perhatikanlah matahari bersinar dan bulan bercahaya, sampai di mana manfaat dan faedah sinar dan cahaya itu bagi kehidupan seluruh makhluk yang ada.
Perhatikanlah binatang ternak yang digembalakan di padang rumput, tumbuh-tumbuhan yang menghijau, gunung-gunung yang tinggi kokoh menjulang yang menyejukkan mata orang yang memandangnya; laut yang terhampar luas membiru; langit dan segala isinya.
Semuanya tumbuh, berkembang, tetap dalam kelangsungan hidup dan wujudnya, serta berkesinambungan dan mempunyai sistem, hukum, dan peraturan yang sangat rapi.
Sistem itu tidak terlepas dari sistem hukum dan peraturan yang lebih besar daripadanya yaitu yang berlaku pada seluruh alam yang fana ini.
Cobalah pikirkan dan renungkan, apakah ada cacat atau cela pada makhluk yang diciptakan Allah, demikian juga pada sistem, hukum dan peraturan yang berlaku padanya?
Mahabesar dan Maha Pencipta Allah, Tuhan seru sekalian alam, tiada suatu cacat atau cela pun terdapat pada makhluk yang diciptakan-Nya.
Kemudian seolah-olah Allah melanjutkan pertanyaan-Nya kepada manusia apakah mereka masih ragu tentang kekuasaan dan kebesaran-Nya?
Apakah manusia masih ragu tentang sistem, hukum, dan peraturan yang dibuat untuk makhluk-Nya, termasuk di dalamnya mereka sendiri?
Jika masih ragu, manusia diperintahkan untuk memperhatikan, merenungkan, dan mempelajari kembali dengan sebenar-benarnya.
Apakah mereka masih mendapatkan dalam ciptaan Allah itu sebagian yang tidak sempurna?
Dari pertanyaan yang dikemukakan ayat ini, dapat dipahami bahwa seakan-akan Allah menantang manusia, agar mencari (kalau ada) sedikit saja kekurangan dan ketidaksempurnaan pada ciptaan-Nya.
Seandainya ada kekurangan, cacat, dan cela dalam ciptaan Allah, maka manusia pantas untuk mengingkari keesaan dan kekuasaan-Nya.
Akan tetapi, mereka kagum dan mengakui kerapian ciptaan Allah itu, bahkan mereka mengakui kelemahan mereka.
Jika demikian halnya, maka keingkaran mereka itu bukanlah ditimbulkan karena ketidakpercayaan mereka kepada Allah, tetapi semata-mata karena kesombongan dan keangkuhan mereka semata.

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Yang menciptakan tujuh langit yang serasi dan akurat.
Kamu tak melihat sesuatu yang tidak seimbang pada ciptaan Allah, Tuhan yang rahmat-Nya meliputi seluruh makhluk.
Lihatlah sekali lagi, adakah kamu dapatkan sesuatu yang tidak seimbang?

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(Yang telah menciptakan tujuh langit berlapis-lapis) yakni sebagian di antaranya berada di atas sebagian yang lain tanpa bersentuhan.

(Kamu sekali-kali tidak melihat pada ciptaan Yang Maha Pemurah) pada tujuh langit yang berlapis-lapis itu atau pada makhluk yang lain (sesuatu yang tidak seimbang) yang berbeda dan tidak seimbang.

(Maka lihatlah berulang-ulang) artinya lihatlah kembali ke langit (adakah kamu lihat) padanya (keretakan?) maksudnya retak dan berbelah-belah.

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Firman Allh subhanahu wa ta’ala:

Kamu sekali-kali tidak melihat pada ciptaan Tuhan Yang Maha Pemurah sesuatu yang tidak seimbang.
(Q.S. Al-Mulk [67]: 3)

Yakni bahkan rapi sempurna, tiada perbedaan, tiada kontradiksi, tiada kekurangan, tiada kelemahan, dan tiada cela.
Karena itulah maka disebutkan dalam firman berikutnya:

Maka lihatlah berulang-ulang, adakah kamu lihat sesuatu yang tidak seimbang?
(Q.S. Al-Mulk [67]: 3)

Artinya, pandanglah langit dan lihatlah baik-baik, apakah engkau melihat padanya suatu cela atau kekurangan atau kelemahan atau keretakan?
Ibnu Abbas, Mujahid, Ad-Dahhak, As-Sauri, dan lain-lainnya telah mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: Maka lihatlah berulang-ulang, adakah kamu lihat sesuatu yang tidak seimbang?
(Q.S. Al-Mulk [67]: 3) Misalnya, retak-retak pada langit.

As-Saddi mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: adakah kamu lihat sesuatu yang tidak seimbang?
(Q.S. Al-Mulk [67]: 3) Yakni lubang-lubang.

Ibnu Abbas dalam suatu riwayat menyebutkan bahwa makna futur ialah celah-celah yang menganga.

Qatadah mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: adakah kamu lihat sesuatu yang tidak seimbang?
(Q.S. Al-Mulk [67]: 3) Hai Bani Adam, apakah kamu melihat adanya cela?


Kata Pilihan Dalam Surah Al Mulk (67) Ayat 3

THIBAAQ
طِبَاق

Lafaz ini berbentuk jamak, mufradnya adalah thabaq atau thabaqah seperti lafaz jamal jamaknya jimaal, ia mengandung makna yang seimbang dan sesuai, penutup, hal atau keadaan, kelas dan tingkatan, muka bumi, golongan atau generasi dan sebagainya.

Thibaaqal ardh bermakna lapisan tanah.

Ath thibaaq menurut istilah ahli Balaghah ialah menghimpun dua makna yang bertentangan seperti menghidupkan dan mematikan.

Lafaz thibaaq dalam keadaan nasab (dibaca tibaqa) hanya disebut dua kali di dalam al­ Quran yaitu surah:
-Al Mulk (67), ayat 3;
-Nuh (71), ayat 15.

Lafaz ini dikaitkan dengan langit.

Ar Razi berkata,
“Lafaz tibaaqa bermakna sebahagian langit di atas sebahagian yang lain, begitu juga dengan pentafsiran Al Qurtubi beliau berkata,
“Ia bermakna sebahagiannya di atas sebahagian yang lain dan yang dilekatkan pada hujungnya seperti yang disebutkan dalam riwayat daripada Ibn Abbas.”

At Tabari menafsirkannya dengan thabaq fawqa thabaq (satu lapisan di atas lapisan lainnya).

Ada yang berpendapat lafaz ini adalah mashdar (kata terbitan) yang membawa makna serupa dan sesuai, maknanya Allah menciptakan tujuh langit yang disamakan lapisan- lapisannya.

Kesimpulannya, lafaz thibaaqa di dalam Al Qur’an bermakna tujuh lapisan langit yang semuanya sama dan serupa.

Sumber : Kamus Al Qur’an, PTS Islamika SDN. BHD.Hal:354

Informasi Surah Al Mulk (الملك)
Surat ini terdiri atas 30 ayat, termasuk golongan surat-surat Makkiyyah, diturunkan sesudah surat Ath Thuur.

Nama “Al Mulk” diambil dari kata “Al Mulk” yang terdapat pada ayat pertama surat ini yang artinya kerajaan atau kekuasaan.

Dinamai pula surat ini dengan ” Tabaarak” (Maha Suci).

Keimanan:

Hidup dan mati ujian bagi manusia
Allah menciptakan langit berlapis-lapis dan semua ciptaan-Nya mempunyai keseimbangan
perintah Allah untuk memperhatikan isi alam semesta
azab yang diancamkan kepada orang-orang kafir
dan janji Allah kepada orang-orang mu’min
Allah menjadikan bumi sedemikian rupa hingga mudah bagi manusia untuk mencari rezki
peringatan Allah kepada manusia tentang sedikitnya mereka yang bersyukur kepada ni’mat Allah.

Ayat-ayat dalam Surah Al Mulk (30 ayat)

Audio

Qari Internasional

Q.S. Al-Mulk (67) ayat 3 - Oleh Syekh Mishari Alafasy
Q.S. Al-Mulk (67) ayat 3 - Oleh Syekh Sa'ad Al-Ghamidi
Q.S. Al-Mulk (67) ayat 3 - Oleh Syekh Muhammad Ayyub

Q.S. Al-Mulk (67) ayat 1-30 - Archie Wirija (Bahasa Indonesia)
Q.S. Al-Mulk (67) ayat 1-30 - Archie Wirija (Bahasa Arab)

Murottal al-Qur'an & Terjemahan Indonesia
Q.S. Al-Mulk - Oleh Syekh Misyari Rasyid Alafasy
Full ayat 1 sampai 30 & Terjemahan


Gambar



Statistik Q.S. 67:3
  • Rating RisalahMuslim

Ayat ini terdapat dalam surah Al Mulk.

Surah Al-Mulk (Arab: الملك ,"Kerajaan") adalah surah ke-67 dalam al-Qur'an.
Surah ini tergolong surat Makkiyah, terdiri atas 30 ayat.
Dinamakan Al Mulk yang berarti Kerajaan di ambil dari kata Al Mulk yang yang terdapat pada ayat pertama surat ini.
Surat ini disebut juga dengan At Tabaarak yang berarti Maha Suci.

Nomor Surah 67
Nama Surah Al Mulk
Arab الملك
Arti Kerajaan
Nama lain Al-Mani’ah” (yang mencegah), Al-Waqiyah” (yang menahan), Al-Munjiyah, (yang menyelamatkan), Al-Mann’ah (yang sangat menahan). Tabarak (Maha Suci)
Tempat Turun Mekkah
Urutan Wahyu 77
Juz Juz 29
Jumlah ruku' 2 ruku'
Jumlah ayat 30
Jumlah kata -
Jumlah huruf -
Surah sebelumnya Surah At-Tahrim
Surah selanjutnya Surah Al-Qalam
4.9
Ratingmu: 0 (0 orang)
Sending

URL singkat: risalahmuslim.id/67-3









Iklan

Video

Panggil Video Lainnya


Ikuti RisalahMuslim
               





Copied!

Masukan & saran kirim ke email:
[email protected]

Made with in Yogyakarta