Search
Generic filters
Cari Kategori
🙏 Pilih semua
Quran
Hadits
Kamus
Podcast
Soal Agama
Artikel, Doa, dll.

QS. Al Mujaadilah (Wanita yang mengajukan gugatan) – surah 58 ayat 3 [QS. 58:3]

وَ الَّذِیۡنَ یُظٰہِرُوۡنَ مِنۡ نِّسَآئِہِمۡ ثُمَّ یَعُوۡدُوۡنَ لِمَا قَالُوۡا فَتَحۡرِیۡرُ رَقَبَۃٍ مِّنۡ قَبۡلِ اَنۡ یَّتَمَآسَّا ؕ ذٰلِکُمۡ تُوۡعَظُوۡنَ بِہٖ ؕ وَ اللّٰہُ بِمَا تَعۡمَلُوۡنَ خَبِیۡرٌ
Waal-ladziina yuzhaahiruuna min nisaa-ihim tsumma ya’uuduuna limaa qaaluuu fatahriiru raqabatin min qabli an yatamaassaa dzalikum tuu’azhuuna bihi wallahu bimaa ta’maluuna khabiirun;
Dan mereka yang menzihar istrinya, kemudian menarik kembali apa yang telah mereka ucapkan, maka (mereka diwajibkan) memerdekakan seorang budak sebelum kedua suami istri itu bercampur.
Demikianlah yang diajarkan kepadamu, dan Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan.

―QS. Al Mujaadilah [58]: 3

Daftar isi

And those who pronounce thihar from their wives and then (wish to) go back on what they said – then (there must be) the freeing of a slave before they touch one another.
That is what you are admonished thereby;
and Allah is Acquainted with what you do.
― Chapter 58. Surah Al Mujaadilah [verse 3]

وَٱلَّذِينَ dan orang-orang yang

And those who
يُظَٰهِرُونَ (mereka) menzhihar

pronounce zihar
مِن dari

[from]
نِّسَآئِهِمْ istri-istri mereka

(to) their wives
ثُمَّ kemudian

then
يَعُودُونَ mereka kembali

go back
لِمَا terhadap apa-apa

on what
قَالُوا۟ mereka katakan/ucapkan

they said,
فَتَحْرِيرُ maka memerdekakan

then freeing
رَقَبَةٍ seorang budak

(of) a slave
مِّن dari

before *[meaning includes next or prev. word]
قَبْلِ sebelum

before *[meaning includes next or prev. word]
أَن bahwa

[that]
يَتَمَآسَّا keduanya bercampur

they touch each other.
ذَٰلِكُمْ demikian itu

That
تُوعَظُونَ kamu diajar

you are admonished
بِهِۦ dengannya

to it.
وَٱللَّهُ dan Allah

And Allah
بِمَا terhadap apa

of what
تَعْمَلُونَ kamu kerjakan

you do
خَبِيرٌ Maha Mengetahui

(is) All-Aware.

Tafsir Quran

Surah Al Mujaadilah
58:3

Tafsir QS. Al-Mujadilah (58) : 3. Oleh Kementrian Agama RI

Pada ayat-ayat ini diterangkan syaratsyarat bagi suami-istri agar dapat bercampur atau melaksanakan perkawinan kembali jika mereka telah bercerai, yaitu pihak suami wajib membayar kafarat.
Kewajiban membayar kafarat itu disebabkan telah terjadinya zihar dan adanya kehendak suami mencampuri istrinya (‘aud).

Dalam ayat ini diterangkan tiga tahap kafarat zihar.
Tahap pertama harus diupayakan melaksanakannya.

Kalau tahap pertama tidak sanggup dilaksanakan, boleh menjalankan tahap kedua.
Bila tahap kedua juga tidak sanggup melaksanakannya, wajib dijalankan tahap ketiga.

Tahap-tahap itu ialah:

1. Memerdekakan seorang budak sebelum melaksanakan persetubuhan kembali.

Ini adalah ketetapan Allah yang ditetapkan bagi seluruh orang yang beriman, agar mereka berhati-hati terhadap perbuatan mungkar dan membayar kafarat itu sebagai penghapus dosa perbuatan mungkar.
Allah memperhatikan dan mengetahui semua perbuatan hamba-Nya, dan akan mengampuni semua hamba-Nya yang mau menghentikan perbuatan mungkar dan melaksanakan hukumhukum Allah.

Pada saat ini perbudakan telah hapus dari permukaan bumi, karena itu kafarat tingkat pertama ini tidak mungkin dilaksanakan lagi.
Memerdekakan budak sebagai kafarat, termasuk salah satu cara dalam agama Islam untuk menghilangkan perbudakan, yang pernah membudaya di kalangan bangsa-bangsa di dunia, seperti yang terjadi di Amerika, Eropa, dan lain-lain.

Oleh karena itu, agama Islam adalah agama yang berusaha menghapus perbudakan dan menetapkan cara-cara untuk melenyapkannya dengan segera.

2. Jika yang pertama tidak dapat dilakukan, hendaklah puasa dua bulan berturut-turut.
Berturut-turut merupakan salah satu syarat dari puasa yang akan dilakukan itu.
Hal ini berarti jika ada hari-hari puasa yang tidak terlaksana seperti puasa sehari atau lebih kemudian tidak puasa pada hari yang lain dalam masa dua bulan itu, maka puasa itu tidak dapat dijadikan kafarat, walaupun tidak berpuasa itu disebabkan perjalanan jauh (safar) atau sakit.
Puasa itu harus dilakukan sebelum melakukan persetubuhan suami istri.

3. Jika yang kedua tidak juga dapat dilaksanakan, maka dilakukan tahap ketiga, yaitu memberi makan enam puluh orang miskin.

Zihar adalah semacam sumpah, yaitu sumpah suami yang menyatakan bahwa istrinya haram dicampuri seperti haramnya mencampuri ibunya.
Oleh karena itu, yang wajib membayar kafarat ialah suami yang melakukan zihar saja, karena dialah yang bersumpah, sedang istri yang tidak pernah melakukan zihar tidak wajib membayar kafarat.

Jumlah atau bentuk kafarat zihar yang ditetapkan itu adalah jumlah atau bentuk yang sangat tinggi, apalagi jika diingat bahwa hukum itu berlaku bagi seluruh kaum Muslimin, baik yang kaya atau yang miskin.
Bagi seorang yang kaya tidak ada kesulitan membayar kafarat itu, tetapi merupakan hal yang sulit dan berat membayarnya bagi orang-orang miskin.

Menghadapi masalah yang seperti ini, syariat Islam mempunyai prinsip-prinsip yang dapat meringankan suatu beban yang dipikulkan Allah kepada kaum Muslimin, yaitu prinsip,
"Kesukaran itu menimbulkan kemudahan,"
asal saja kesukaran itu benar-benar suatu kesukaran yang tidak dapat diatasi, disertai dengan keinginan di dalam hati untuk mencari keridaan Allah.

Sehubungan dengan ini, pada kelanjutan hadis Khuwailah binti Malik yang diriwayatkan oleh Abu Dawud, dikatakan:

Maka Rasulullah ﷺ berkata,
"Hendaklah ia memerdekakan seorang budak."
Khaulah berkata,
"Ia tidak sanggup mengusahakannya."
Nabi berkata,
"(Kalau demikian) maka ia berpuasa dua bulan berturut-turut."
Khaulah berkata,
"Ya Rasulullah, sesungguhnya ia (suamiku) adalah seorang yang telah tua bangka, tidak sanggup lagi berpuasa."
Nabi berkata,
"Maka hendaklah ia memberi makan enam puluh orang miskin."
Khaulah berkata,
"Ia tidak mempunyai sesuatu pun yang akan disedekahkannya."
Rasulullah ﷺ Berkata,
"(Kalau demikian) maka sesungguhnya aku akan membantunya dengan segantang tamar."
Khaulah berkata,
"Dan aku akan membantunya pula dengan segantang tamar."
Berkata Rasulullah ﷺ,
"Engkau benar-benar baik, pergilah, maka beritahukanlah atas namanya, beri makanlah dengan tamar ini enam puluh orang fakir-miskin."
(Riwayat Abu Dawud)

Pada riwayat yang lain diterangkan bahwa Khaulah mengatakan kepada Rasulullah ﷺ bahwa orang yang paling miskin di negeri ini adalah keluarganya.
Maka Rasulullah ﷺ menyuruh Khaulah membawa kurma sebagai kafarat itu pulang ke rumahnya untuk dimakan keluarganya sendiri.

Pada dasarnya agama Islam tidak menyetujui adanya zihar itu, bahkan memandangnya sebagai perbuatan mungkar dan dosa, karena perbuatan zihar itu adalah perbuatan yang tidak mempunyai dasar, mengatakan sesuatu yang bukan-bukan.
Akan tetapi, karena zihar itu adalah suatu kebiasaan bangsa Arab Jahiliah, sedang untuk menghapus kebiasaan itu dalam waktu yang singkat akan menimbulkan kegoncangan pada masyarakat Islam yang baru tumbuh, sedang masyarakat itu berasal dari orang-orang Arab masa Jahiliah, maka agama Islam tidak langsung menghapuskan kebiasaan tersebut.
Agama Islam menghilangkan semua akibat yang ditimbulkan oleh perbuatan zihar itu dengan menetapkan waktu menunggu empat bulan.
Dalam masa itu, suami boleh menceraikan istrinya atau membayar kafarat bagi yang ingin mencampuri istrinya kembali, yakni mencabut kembali ucapan zihar yang telah diucapkannya.
Jadi zihar itu berasal dari hukum Arab masa Jahiliah yang telah dihapuskan oleh Islam.
Oleh karena itu, bagi negara-negara atau umat Islam yang tidak mengenal zihar tersebut, tidak perlu mencantumkan hukum itu apabila mereka membuat suatu undang-undang perkawinan.

Pada akhir ayat ini diterangkan bahwa Allah menerangkan kewajiban membayar kafarat itu bagi suami yang telah menzihar istrinya adalah untuk memperdalam jiwa tauhid, mempercayai Nabi Muhammad ﷺ sebagai rasul Allah, dan agar berhati-hati mengucapkan suatu perkataan, sehingga tidak mengadakan kedustaan dan mengatakan yang bukan-bukan.
Dengan demikian, tertanamlah dalam hati setiap orang yang beriman keinginan melaksanakan semua hukumhukum Allah dengan sebaik-baiknya.
Tertanam juga dalam hati mereka bahwa mengingkari hukumhukum Allah itu akan menimbulkan kesengsaraan di dunia maupun di akhirat nanti.

Tafsir QS. Al Mujaadilah (58) : 3. Oleh Muhammad Quraish Shihab:


Adapun mereka yang pada mulanya menjatuhkan sumpah zihar tetapi kemudian menengok kembali ucapannya itu, menyadari kesalahannya dan menginginkan agar hubungan suami istri tetap berlanjut, mereka harus memerdekakan seorang hamba sahaya sebelum kembali berhubungan dengan istri.
Memerdekakan hamba sahaya yang telah diwajibkan Allah itu merupakan pelajaran bagi kalian agar tidak kembali kepada perbuatan semula.


Allah mengetahui semua yang kalian perbuat.

Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:


Dan orang-orang yang mengharamkan istri-istri mereka dengan cara menziharnya lalu mereka menarik kembali ucapannya itu dan bersungguh-sungguh untuk kembali berkumpul bersama pasangan-pasangan mereka, maka wajib bagi suami yang telah menzihar membayar kafarat.
Kafaratnya adalah membebaskan hamba sahaya yang beriman, sebelum ia mencampuri kembali istrinya.


Itu adalah hukum Allah atas orang yang menzihar istrinya agar kalian mengambil pelajaran, wahai orang-orang yang beriman, dan agar kalian tidak terjerumus kepada perkataan yang dusta.
Jika kalian terjerumus kepada yang demikian, bayarlah kafarat atasnya dan janganlah kalian lakukan kembali.


Sungguh, tidak ada yang dapat disembunyikan dari Allah sedikit pun dari perbuatan kalian.
Dia akan membalasnya dengan balasan yang setimpal.

Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:



(Dan orang-orang yang menzihar istri mereka, kemudian mereka hendak menarik kembali apa yang mereka ucapkan) tentang zihar ini, seumpama dia bersikap berbeda dengan apa yang telah dikatakannya itu, yaitu dengan cara tetap memegang istri yang diziharnya.
Sedangkan perbuatan ini jelas bertentangan dengan maksud tujuan daripada perkataan zihar, yaitu menggambarkan istri dengan sifat yang menjadikannya haram bagi dia


(maka memerdekakan seorang budak) maksudnya wajib atasnya memerdekakan seorang budak


(sebelum kedua suami istri itu bercampur) bersetubuh.


(Demikianlah yang diajarkan kepada kalian, dan Allah Maha Mengetahui apa yang kalian kerjakan).

Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

Dan orang-orang yang men-zihar istri mereka, kemudian mereka hendak menarik kembali apa yang mereka ucapkan.
(QS. Al-Mujadilah [58]: 3)

Ulama Salaf dan para imam berbeda pendapat mengenai makna yang dimaksud oleh firman-Nya:
kemudian mereka hendak menarik kembali apa yang mereka ucapkan.
(QS. Al-Mujadilah [58]: 3)
Sebagian ulama mengatakan bahwa yang dimaksud dengan ‘kembali’ ialah kembali mengulangi kata-kata zihar-nya, tetapi pendapat ini batil.
Pendapat inilah yang dipilih oleh Ibnu Hazm dan pendapat Daud yang diriwayatkan oleh Abu Umar ibnu Abdul Bar, dari Bukair ibnul Asyaj dan Al-Farra, serta segolongan ulama ilmu kalam (tauhid).


Imam Syafii mengatakan bahwa makna yang dimaksud ialah hendaknya si suami tetap memegang istrinya sesudah ia men-zihar–nya selama suatu masa yang memungkinkan baginya dalam masa itu menjatuhkan talaknya, tetapi dia tidak menjatuhkannya.

Imam Ahmad ibnu Hambal mengatakan, makna yang dimaksud ialah bila suami yang bersangkutan hendak kembali menyetubuhi istri yang telah di-zihar-nya, atau bertekad akan menyetubuhinya, maka istrinya itu tidak halal baginya sebelum ia membayar kifarat zihar-nya.


Telah diriwayatkan pula dari Malik, bahwa makna yang dimaksud ialah tekad untuk menyetubuhi atau tekad untuk tetap memegangnya sebagai istri.
Dan menurut riwayat lain yang bersumberkan darinya, makna yang dimaksud ialah hendak menyetubuhi.


Imam Abu Hanifah mengatakan bahwa makna yang dimaksud ialah bila si suami kembali melakukan zihar lagi sesudah zihar diharamkan dan hukum Jahiliah mengenainya dihapuskan (yakni zihar sama dengan talak).
Maka manakala seorang lelaki men-zihar istrinya, berarti istrinya itu haram baginya, dan status haramnya itu tidak dapat dihilangkan kecuali dengan membayar kifaratnya.
Pendapat ini pulalah yang dianut oleh murid-murid Imam Abu Hanifah dan Al-Lais ibnu Sa’d.

Ibnu Lahi’ah mengatakan, telah menceritakan kepadaku Ata, dari Sa’ id ibnu Jubair sehubungan dengan makna firman-Nya:
kemudian mereka hendak menarik kembali apa yang mereka ucapkan.
(QS. Al-Mujadilah [58]: 3)
Yakni mereka bermaksud akan menyetubuhi istri-istri mereka yang telah mereka haramkan atas diri mereka melalui zihar.


Al-Hasan Al-Basri mengatakan bahwa makna yang dimaksud ialah menyetubuhi kemaluan.
Al-Hasan menilai tidak mengapa melakukan persetubuhan di luar kemaluan sebelum yang bersangkutan membayar kifarat zihar-nya.

Ali ibnu Abu Talhah telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas sehubungan dengan makna firman-Nya:
sebelum kedua suami istri itu bercampur.
(QS. Al-Mujadilah [58]: 3)
Yang dimaksud dengan bercampur ialah nikah (jimak).
Hal yang sama telah dikatakan oleh Ata, Az-Zuhri, Qatadah, dan Muqatil ibnu Hayyan.


Az-Zuhri mengatakan bahwa tidak boleh bagi suami yang telah men-zihar istrinya mencium istri yang di-zihar-nya, tidak boleh pula menyetubuhinya sebelum ia membayar kifarat zihar-nya.

Ahlus Sunan telah meriwayatkan melalui hadis Ikrimah, dari Ibnu Abbas:

bahwa seorang lelaki bertanya,
"Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku telah men-zihar istriku, lalu aku menyetubuhinya sebelum kubayar kifaratnya."
Rasulullah ﷺ balik bertanya,
"Apakah yang mendorongmu melakukan hal itu?
Semoga Allah merahmatimu."
Lelaki itu menjawab,
"Aku melihat kemilauan gelang kakinya yang terkena sinar rembulan."
Rasulullah ﷺ bersabda:
Jangan kamu dekati dia sebelum kamu kerjakan apa yang telah diperintahkan Allah subhanahu wa ta’ala kepadamu.

Imam Turmuzi mengatakan bahwa hadis ini hasan garib sahih.
Imam Abu Daud dan Imam Nasai meriwayatkannya melalui hadis Ikrimah secara mursal.
Menurut Imam Nasai, yang berpredikat mursal-lah yang lebih mendekati kebenaran.


Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

maka (wajib atasnya) memerdekakan seorang budak.
(QS. Al-Mujadilah [58]: 3)

Yakni memerdekakan seorang budak secara utuh, sebelum yang bersangkutan menggauli istri yang telah di-zihar-nya.
Dalam ayat ini sebutan raqabah atau budak tidak diikat dengan keimanan, sedangkan di dalam kifarat membunuh diikat dengan keimanan.
Maka Imam Syafii rahimahullah menakwilkan kemutlakan dalam ayat ini, bahwa ia diikat dengan pengertian budak yang ada pada kifarat pembunuhan;
mengingat subjeknya sama, yaitu memerdekakan budak.


Dan Imam Syafii mendukung pendapatnya ini dengan hadis yang diriwayatkan oleh Imam Malik berikut sanadnya, dari Mu’awiyah ibnul Hakam As-Sulami sehubungan dengan kisah seorang budak perempuan berkulit hitam.
Disebutkan bahwa Rasulullah ﷺ telah bersabda:

Merdekakanlah dia, karena sesungguhnya dia adalah wanita yang beriman.

Imam Ahmad telah meriwayatkan hadis ini di dalam kitab musnadnya, demikian pula Imam Muslim di dalam kitab sahihnya.


Al-Hafiz Abu Bakar Al-Bazzar mengatakan, telah menceritakan kepada kami Yusuf ibnu Musa, telah menceritakan kepada kami Abdullah ibnu Numair, dari Ismail ibnu Muslim ibnu Yasar, dari Amr ibnu Dinar, dari Tawus, dari Ibnu Abbas yang menceritakan pernah ada seorang lelaki datang kepada Rasulullah ﷺ, lalu bertanya,
"Sesungguhnya aku telah men-zihar istriku dan aku menggaulinya sebelum kubayar kifaratnya."
Rasulullah ﷺ balik bertanya,
"Bukankah Allah subhanahu wa ta’ala telah berfirman, ‘Sebelum keduanya bercampur’?"
Lelaki itu menjawab,
"Aku terangsang olehnya."
Rasulullah ﷺ bersabda:
Tahanlah dirimu (dari bersetubuh) hingga kamu membayar kifaratmu.

Kemudian Al-Bazzar mengatakan bahwa tiada suatu riwayat dari Ibnu Abbas yang lebih baik daripada ini;
Ismail ibnu Muslim orangnya masih diperbincangkan, tetapi banyak ulama yang mengambil riwayat darinya.
Di dalam hadis ini terkandung hukum fiqih yang menunjukkan bahwa Nabi ﷺ tidak memerintahkan kepada lelaki itu kecuali hanya membayar satu kali kifarat.

Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

Demikianlah yang diajarkan kepadamu.
(QS. Al-Mujadilah [58]: 3)


Yakni sebagai peringatan bagimu.

dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.
(QS. Al-Mujadilah [58]: 3)

Yaitu mengetahui semua yang bermaslahat lagi sesuai dengan keadaan kalian.

Unsur Pokok Surah Al Mujaadilah (المجادلة)

Surat Al-Mujadilah terdiri atas 22 ayat, termasuk golongan surat Madaniyyah, diturunkan sesudah surat Al-Munafiqun.

Surat ini dinamai "Al Mujaadilah (wanita yang mengajukan gugatan) karena pada awal surat ini disebutkan bantahan seorang perempuan, menurut riwayat bemama Khaulah binti Tsa’labah terhadap sikap suaminya yang telah menzhiharnya.
Hal ini diadukan kepada Rasulullah ﷺ dan dia menuntut supaya beliau memberikan putusan yang adil dalam persoalan itu.

Dinamai juga surah "Al Mujaadalah" yang berarti "perbantahan".

Keimanan:

▪ Hukum zhihar dan sangsi-sangsi bagi orang yang melakukannya bila ia menarik kembali perkataannya.
▪ Larangan menjadikan musuh Allah sebagai teman.

Lain-lain:

▪ Menjaga adab sopan santun dalam suatu majlis pertemuan.
Adab sopan santun terhadap Rasulullah ﷺ

Ayat-ayat dalam Surah Al Mujaadilah (22 ayat)

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22

Lihat surah lainnya

Audio Murottal

QS. Al-Mujaadilah (58) : 1-22 ⊸ Misyari Rasyid Alafasy
Ayat 1 sampai 22 + Terjemahan Indonesia



QS. Al-Mujaadilah (58) : 1-22 ⊸ Nabil ar-Rifa’i
Ayat 1 sampai 22

Gambar Kutipan Ayat

Surah Al Mujaadilah ayat 3 - Gambar 1 Surah Al Mujaadilah ayat 3 - Gambar 2
Statistik QS. 58:3
  • Rating RisalahMuslim
4.4

Ayat ini terdapat dalam surah Al Mujaadilah.

Surah Al-Mujadilah (Arab: المجادلة, “Wanita Yang Mengajukan Gugatan”) adalah surah ke-58 dalam Alquran.
Surah ini tergolong surah Madaniyah dan terdiri atas 22 ayat.
Dinamakan Al-Mujadilah yang berarti wanita yang mengajukan gugatan karena pada awal surah ini disebutkan bantahan seorang perempuan yang menurut riwayat bernama Khaulah binti Tsa’labah terhadap sikap suaminya yang telah menzhiharnya.
Hal ini diadukan kepada Rasulullah dan ia menuntut supaya dia memberikan putusan yang adil dalam persoalan itu.
Dinamai juga Al-Mujadalah yang berarti Perbantahan.

Surah ini mempunyai ciri berbeda dari surah lain dalam Alquran.
Dalam setiap ayat dalam surah ini, selalu terdapat lafaz Jalallah (lafaz ALLAH).
Ada dalam satu ayat hanya terdiri dari satu lafaz, ada yang dua, atau tiga, dan bahkan ada yang lima lafaz, seperti pada ayat 22 dalam surah ini.

Nomor Surah 58
Nama Surah Al Mujaadilah
Arab المجادلة
Arti Wanita yang mengajukan gugatan
Nama lain al-Mujadalah (Perbantahan)
Tempat Turun Madinah
Urutan Wahyu 105
Juz Juz 28
Jumlah ruku’ 3 ruku’
Jumlah ayat 22
Jumlah kata 475
Jumlah huruf 2046
Surah sebelumnya Surah Al-Hadid
Surah selanjutnya Surah Al-Hasyr
Sending
User Review
4.4 (28 suara)
Bagi ke FB
Bagi ke TW
Bagi ke WA
Tags:

58:3, 58 3, 58-3, Surah Al Mujaadilah 3, Tafsir surat AlMujaadilah 3, Quran AlMujadilah 3, Al Mujadilah 3, Al-Mujadilah 3, Surah Al Mujadilah ayat 3

Video Surah

58:3


More Videos

Kandungan Surah Al Mujaadilah

۞ QS. 58:1 • Sifat Sama’ (mendengar) • Al Bashir (Maha Melihat) • Al Sami’ (Maha Pendengar)

۞ QS. 58:2 • Ampunan Allah yang luas • Al ‘Afwu (Maha Pemaaf) • Al Ghafur (Maha Pengampun)

۞ QS. 58:3 • Keluasan ilmu Allah • Al Khabir (Maha Waspada) • Toleransi Islam

۞ QS. 58:4 • Toleransi Islam • Maksiat dan dosa

۞ QS. 58:5 • Azab orang kafir • Keingkaran dan kedurhakaan orang kafir • Maksiat dan dosa

۞ QS. 58:6 • Al Syahid (Maha Menyaksikan) • Manusia dibangkitkan dari kubur • Menghitung amal kebaikan

۞ QS. 58:7 • Keluasan ilmu Allah • Al ‘Alim (Maha megetahui) • Menghitung amal kebaikan

۞ QS. 58:8 • Nama-nama neraka • Sifat neraka • Sifat ahli neraka dan kejahatan mereka • Maksiat dan dosa •

۞ QS. 58:9 • Kebenaran hari penghimpunan

۞ QS. 58:10 • Kekuasaan Allah • Kebenaran dan hakikat takdir • Sifat iblis dan pembantunya

۞ QS. 58:11 • Al Khabir (Maha Waspada) • Menghitung amal kebaikan • Balasan dari perbuatannya

۞ QS. 58:12 • Ampunan Allah yang luas • Al Rahim (Maha Penyayang) • Al Ghafur (Maha Pengampun) • Toleransi Islam •

۞ QS. 58:13 • Al Khabir (Maha Waspada) • Melenyapkan kesusahan orang muslim

۞ QS. 58:14 • Sifat orang munafik • Siksa orang munafik • Sikap orang munafik terhadap Islam

۞ QS. 58:15 • Siksaan Allah sangat pedih • Siksa orang munafik

۞ QS. 58:16 • Sifat orang munafik • Siksa orang munafik

۞ QS. 58:17 • Terputusnya hubungan antara sesama pada hari kiamat • Keabadian neraka • Sifat ahli neraka dan kejahatan mereka • Mereka yang kekal dalam neraka • Siksa orang munafik

۞ QS. 58:18 • Manusia dibangkitkan dari kubur • Sifat orang munafik • Siksa orang munafik

۞ QS. 58:19 • Sifat iblis dan pembantunya • Usaha jin untuk melalaikan manusia dalam beribadah • Syetan menyesatkan dan menghinakan manusia • Wali Allah dan wali syetan • Sifat orang munafik

۞ QS. 58:20 • Azab orang kafir

۞ QS. 58:21 • Pertolongan Allah Ta’ala kepada orang mukmin • Hukum alam • Al ‘Aziz (Maha Mulia) • Al Qawiy (Maka Kuat) • Penentuan takdir sebelum penciptaan

۞ QS. 58:22 • Orang mukmin selalu dalam lindungan Allah Ta’ala • Pahala iman • Keabadian surga • Sifat surga dan kenikmatannya • Wali Allah dan wali syetan

Ayat Pilihan

Kamu jadikan sumpah sebagai alat penipu, disebabkan adanya golongan yang lebih banyak dari golongan lain.
Sungguh Allah hanya menguji kamu dengan hal itu.
di hari kiamat akan dijelaskan-Nya kepadamu apa yang dahulu kamu perselisihkan itu
QS. An-Nahl [16]: 92

Boleh jadi kamu membenci sesuatu,
padahal ia amat baik bagimu,
dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu,
padahal ia amat buruk bagimu,
Allah mengetahui,
sedang kamu tidak mengetahui.
QS. Al-Baqarah [2]: 216

Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah,
niscaya kamu tak dapat menentukan jumlahnya.
Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang
QS. An-Nahl [16]: 18

Jika keduanya (ibu & bapakmu) sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu,
maka jangan kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah”
dan janganlah kamu membentak mereka
dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia.
QS. Al-Isra’ [17]: 23

Hadits Shahih

Podcast

Doa Sehari-hari

Soal & Pertanyaan Agama

Masyarakat Arab sebelum Islam memiliki kebiasaan buruk, juga memiliki kebiasaan baik. Di bawah ini yang tidak termasuk kebiasaan baik masyarakat Arab sebelum Islam adalah ...

Correct! Wrong!

Berikut ini yang bukan merupakan substansi dakwah Rasulullah di Mekkah adalah ...

Correct! Wrong!

Dari proses dakwah secara diam-diam yang dilakukan oleh Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam ketika melakukan dakwah di Mekkah, maka terdapat beberapa sahabat yang masuk Islam pertama kali. Mereka dikenal dengan sebutan ...

Correct! Wrong!

Penjelasan:
Assabiqunal awwalun adalah sebutan untuk sahabat-sahabat nabi Muhammad yang pertama kali memeluk islam.

Contohnya: Abu Bakar Ash Shiddiq, Utsman bin Affan, Ali bin Abi Thalib dan Khadijah ra. Assabiqunal awwalun artinya adalah orang-orang yang awal masuk atau memeluk agama islam.

+

Array

Dalam QS. Al-Muddassir ayat 1-7 adalah menjadi dasar bagi Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam untuk melakukan dakwah di Mekkah secara ...

Correct! Wrong!

Penjelasan:
QS. Al Mudatsir adalah surah ke 74 dalam Alquran yang tergolong ke dalam surah Makkiyyah.

Pembahasan:

Ayat 1

u064au064eu0627 u0623u064eu064au0651u064fu0647u064eu0627 u0627u0644u0652u0645u064fu062fu0651u064eu062bu0651u0650u0631u064f

yaa ayyuhaal muddatstsir

Hai orang yang berkemul (berselimut)


Ayat 2

u0642u064fu0645u0652 u0641u064eu0623u064eu0646u0652u0630u0650u0631u0652

Qum faandzir

bangunlah, lalu berilah peringatan


Ayat 3

u0648u064eu0631u064eu0628u0651u064eu0643u064e u0641u064eu0643u064eu0628u0651u0650u0631u0652

warabbaka fakabbir

dan Tuhanmu agungkanlah


Ayat 4

u0648u064eu062bu0650u064au064eu0627u0628u064eu0643u064e u0641u064eu0637u064eu0647u0651u0650u0631u0652

wa shiyabaqa fathahhir

dan pakaianmu bersihkanlah


Ayat 5

u0648u064eu0627u0644u0631u0651u064fu062cu0652u0632u064e u0641u064eu0627u0647u0652u062cu064fu0631u0652

warrujja fahjur

dan perbuatan dosa tinggalkanlah


Ayat 6

u0648u064eu0644u064eu0627 u062au064eu0645u0652u0646u064fu0646u0652 u062au064eu0633u0652u062au064eu0643u0652u062bu0650u0631u064f

wa laa tamnun tastakstir

dan janganlah kamu memberi (dengan maksud) memperoleh (balasan) yang lebih banyak.


Ayat 7

u0648u064eu0644u0650u0631u064eu0628u0651u0650u0643u064e u0641u064eu0627u0635u0652u0628u0650u0631u0652

walirabbaka fashbir

Dan untuk (memenuhi perintah) Tuhanmu, bersabarlah.

Cara yang pertama kali ditempuh oleh Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam ketika melakukan dakwah di Mekkah secara terang- terangan adalah ...

Correct! Wrong!

Pendidikan Agama Islam #11
Ingatan kamu cukup bagus untuk menjawab soal-soal ujian sekolah ini.

Pendidikan Agama Islam #11 1

Mantab!! Pertahankan yaa..
Jawaban kamu masih ada yang salah tuh.

Pendidikan Agama Islam #11 2

Belajar lagi yaa...

Share your Results:

Soal Agama Islam

Pendidikan Agama Islam #1

Arti fana adalah … Tuhan memiliki sifat Al Karim, yang berarti bahwa Allah Subhanahu Wa Ta`ala merupakan zat Yang ..Allah memiliki sifat Al Kariim yang tercantum dalam Alquran surah … Tuhan memiliki sifat Al Matiin, yang berarti bahwa Allah Subhanahu Wa Ta`ala adalah zat Yang … Dalam Asmaul Husna, Allah memiliki sifat Al Matiin yang tercantum dalam Alquran surah …

Pendidikan Agama Islam #18

Turunnya surah Ad-Dhuha menunjukkan… ..kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam.Surah Ad-Dhuha ayat ke-enam menunjukkan salah satu masa Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam yaitu … sebagai … Berikut ini yang bukan kandungan surah Ad-Dhuha adalah… .. Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam.Arti al-Kaafirun adalah … Arti dari lafal لَكُمْ دِينُكُمْ yaitu …

Pendidikan Agama Islam #3

Pembatasan aurat wanita adalah … Berikut ini yang bukan termasuk orang-orang pertama yang menyambut ajakan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah … Dalam Islam, pakaian harus … Sebelum berpakaian, kita harus … Bagian tubuh yang tidak ditampakkan sesuai dengan ajaran Islam disebut …

Kamus Istilah Islam

Wakaf (tajwid)

Apa itu Wakaf ? Wakaf dari sudut bahasa ialah berhenti atau menahan, manakala dari sudut istilah tajwid ialah menghentikan bacaan sejenak dengan memutuskan suara di akhir perkataan untuk bernapas deng...

Al-Bayyinah

Apa itu Al-Bayyinah? Surah Al-Bayyinah adalah surah ke-98 dalam Alquran. Surah ini terdiri atas 8 ayat, termasuk golongan surat-surat Madaniyah, diturunkan sesudah surah At-Talaq. Dinamai Al-Bayyinah...

Gosyen

Di mana itu Gosyen? Tanah Gosyen adalah nama tempat di Mesir yang disebut dalam Alkitab Ibrani dan Perjanjian Lama di Alkitab Kristen. Merupakan tanah yang dihadiahkan oleh firaun pada zaman Yusuf ke...