Keluarga Anda ada yang belum mahir membaca Alquran? Ingin segera bisa? Klik di sini sekarang!

QS. Al Mujaadilah (Wanita yang mengajukan gugatan) – surah 58 ayat 3 [QS. 58:3]

وَ الَّذِیۡنَ یُظٰہِرُوۡنَ مِنۡ نِّسَآئِہِمۡ ثُمَّ یَعُوۡدُوۡنَ لِمَا قَالُوۡا فَتَحۡرِیۡرُ رَقَبَۃٍ مِّنۡ قَبۡلِ اَنۡ یَّتَمَآسَّا ؕ ذٰلِکُمۡ تُوۡعَظُوۡنَ بِہٖ ؕ وَ اللّٰہُ بِمَا تَعۡمَلُوۡنَ خَبِیۡرٌ
Waal-ladziina yuzhaahiruuna min nisaa-ihim tsumma ya’uuduuna limaa qaaluuu fatahriiru raqabatin min qabli an yatamaassaa dzalikum tuu’azhuuna bihi wallahu bimaa ta’maluuna khabiirun;
Dan mereka yang menzihar istrinya, kemudian menarik kembali apa yang telah mereka ucapkan, maka (mereka diwajibkan) memerdekakan seorang budak sebelum kedua suami istri itu bercampur.
Demikianlah yang diajarkan kepadamu, dan Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan.

―QS. Al Mujaadilah [58]: 3

And those who pronounce thihar from their wives and then (wish to) go back on what they said – then (there must be) the freeing of a slave before they touch one another.
That is what you are admonished thereby;
and Allah is Acquainted with what you do.
― Chapter 58. Surah Al Mujaadilah [verse 3]

وَٱلَّذِينَ dan orang-orang yang

And those who
يُظَٰهِرُونَ (mereka) menzhihar

pronounce zihar
مِن dari

[from]
نِّسَآئِهِمْ istri-istri mereka

(to) their wives
ثُمَّ kemudian

then
يَعُودُونَ mereka kembali

go back
لِمَا terhadap apa-apa

on what
قَالُوا۟ mereka katakan/ucapkan

they said,
فَتَحْرِيرُ maka memerdekakan

then freeing
رَقَبَةٍ seorang budak

(of) a slave
مِّن dari

before *[meaning includes next or prev. word]
قَبْلِ sebelum

before *[meaning includes next or prev. word]
أَن bahwa

[that]
يَتَمَآسَّا keduanya bercampur

they touch each other.
ذَٰلِكُمْ demikian itu

That
تُوعَظُونَ kamu diajar

you are admonished
بِهِۦ dengannya

to it.
وَٱللَّهُ dan Allah

And Allah
بِمَا terhadap apa

of what
تَعْمَلُونَ kamu kerjakan

you do
خَبِيرٌ Maha Mengetahui

(is) All-Aware.

Tafsir

Alquran

Surah Al Mujaadilah
58:3

Tafsir QS. Al Mujaadilah (58) : 3. Oleh Kementrian Agama RI


Pada ayat-ayat ini diterangkan syaratsyarat bagi suami-istri agar dapat bercampur atau melaksanakan perkawinan kembali jika mereka telah bercerai, yaitu pihak suami wajib membayar kafarat.
Kewajiban membayar kafarat itu disebabkan telah terjadinya zihar dan adanya kehendak suami mencampuri istrinya (‘aud).


Dalam ayat ini diterangkan tiga tahap kafarat zihar.
Tahap pertama harus diupayakan melaksanakannya.

Kalau tahap pertama tidak sanggup dilaksanakan, boleh menjalankan tahap kedua.
Bila tahap kedua juga tidak sanggup melaksanakannya, wajib dijalankan tahap ketiga.

Tahap-tahap itu ialah:


1. Memerdekakan seorang budak sebelum melaksanakan persetubuhan kembali.

Ini adalah ketetapan Allah yang ditetapkan bagi seluruh orang yang beriman, agar mereka berhati-hati terhadap perbuatan mungkar dan membayar kafarat itu sebagai penghapus dosa perbuatan mungkar.
Allah memperhatikan dan mengetahui semua perbuatan hamba-Nya, dan akan mengampuni semua hamba-Nya yang mau menghentikan perbuatan mungkar dan melaksanakan hukumhukum Allah.

Pada saat ini perbudakan telah hapus dari permukaan bumi, karena itu kafarat tingkat pertama ini tidak mungkin dilaksanakan lagi.
Memerdekakan budak sebagai kafarat, termasuk salah satu cara dalam agama Islam untuk menghilangkan perbudakan, yang pernah membudaya di kalangan bangsa-bangsa di dunia, seperti yang terjadi di Amerika, Eropa, dan lain-lain.

Oleh karena itu, agama Islam adalah agama yang berusaha menghapus perbudakan dan menetapkan cara-cara untuk melenyapkannya dengan segera.


2. Jika yang pertama tidak dapat dilakukan, hendaklah puasa dua bulan berturut-turut.
Berturut-turut merupakan salah satu syarat dari puasa yang akan dilakukan itu.
Hal ini berarti jika ada hari-hari puasa yang tidak terlaksana seperti puasa sehari atau lebih kemudian tidak puasa pada hari yang lain dalam masa dua bulan itu, maka puasa itu tidak dapat dijadikan kafarat, walaupun tidak berpuasa itu disebabkan perjalanan jauh (safar) atau sakit.
Puasa itu harus dilakukan sebelum melakukan persetubuhan suami istri.


3. Jika yang kedua tidak juga dapat dilaksanakan, maka dilakukan tahap ketiga, yaitu memberi makan enam puluh orang miskin.


Zihar adalah semacam sumpah, yaitu sumpah suami yang menyatakan bahwa istrinya haram dicampuri seperti haramnya mencampuri ibunya.
Oleh karena itu, yang wajib membayar kafarat ialah suami yang melakukan zihar saja, karena dialah yang bersumpah, sedang istri yang tidak pernah melakukan zihar tidak wajib membayar kafarat.


Jumlah atau bentuk kafarat zihar yang ditetapkan itu adalah jumlah atau bentuk yang sangat tinggi, apalagi jika diingat bahwa hukum itu berlaku bagi seluruh kaum Muslimin, baik yang kaya atau yang miskin.
Bagi seorang yang kaya tidak ada kesulitan membayar kafarat itu, tetapi merupakan hal yang sulit dan berat membayarnya bagi orang-orang miskin.


Menghadapi masalah yang seperti ini, syariat Islam mempunyai prinsip-prinsip yang dapat meringankan suatu beban yang dipikulkan Allah kepada kaum Muslimin, yaitu prinsip,
"Kesukaran itu menimbulkan kemudahan,"
asal saja kesukaran itu benar-benar suatu kesukaran yang tidak dapat diatasi, disertai dengan keinginan di dalam hati untuk mencari keridaan Allah.


Sehubungan dengan ini, pada kelanjutan hadis Khuwailah binti Malik yang diriwayatkan oleh Abu Dawud, dikatakan:


Maka Rasulullah ﷺ berkata,
"Hendaklah ia memerdekakan seorang budak."
Khaulah berkata,
"Ia tidak sanggup mengusahakannya."
Nabi berkata,
"(Kalau demikian) maka ia berpuasa dua bulan berturut-turut."
Khaulah berkata,
"Ya Rasulullah, sesungguhnya ia (suamiku) adalah seorang yang telah tua bangka, tidak sanggup lagi berpuasa."
Nabi berkata,
"Maka hendaklah ia memberi makan enam puluh orang miskin."
Khaulah berkata,
"Ia tidak mempunyai sesuatu pun yang akan disedekahkannya."
Rasulullah ﷺ Berkata,
"(Kalau demikian) maka sesungguhnya aku akan membantunya dengan segantang tamar."
Khaulah berkata,
"Dan aku akan membantunya pula dengan segantang tamar."
Berkata Rasulullah ﷺ,
"Engkau benar-benar baik, pergilah, maka beritahukanlah atas namanya, beri makanlah dengan tamar ini enam puluh orang fakir-miskin."
(Riwayat Abu Dawud)


Pada riwayat yang lain diterangkan bahwa Khaulah mengatakan kepada Rasulullah ﷺ bahwa orang yang paling miskin di negeri ini adalah keluarganya.
Maka Rasulullah ﷺ menyuruh Khaulah membawa kurma sebagai kafarat itu pulang ke rumahnya untuk dimakan keluarganya sendiri.


Pada dasarnya agama Islam tidak menyetujui adanya zihar itu, bahkan memandangnya sebagai perbuatan mungkar dan dosa, karena perbuatan zihar itu adalah perbuatan yang tidak mempunyai dasar, mengatakan sesuatu yang bukan-bukan.
Akan tetapi, karena zihar itu adalah suatu kebiasaan bangsa Arab Jahiliah, sedang untuk menghapus kebiasaan itu dalam waktu yang singkat akan menimbulkan kegoncangan pada masyarakat Islam yang baru tumbuh, sedang masyarakat itu berasal dari orang-orang Arab masa Jahiliah, maka agama Islam tidak langsung menghapuskan kebiasaan tersebut.
Agama Islam menghilangkan semua akibat yang ditimbulkan oleh perbuatan zihar itu dengan menetapkan waktu menunggu empat bulan.
Dalam masa itu, suami boleh menceraikan istrinya atau membayar kafarat bagi yang ingin mencampuri istrinya kembali, yakni mencabut kembali ucapan zihar yang telah diucapkannya.
Jadi zihar itu berasal dari hukum Arab masa Jahiliah yang telah dihapuskan oleh Islam.
Oleh karena itu, bagi negara-negara atau umat Islam yang tidak mengenal zihar tersebut, tidak perlu mencantumkan hukum itu apabila mereka membuat suatu undang-undang perkawinan.


Pada akhir ayat ini diterangkan bahwa Allah menerangkan kewajiban membayar kafarat itu bagi suami yang telah menzihar istrinya adalah untuk memperdalam jiwa tauhid, mempercayai Nabi Muhammad ﷺ sebagai rasul Allah, dan agar berhati-hati mengucapkan suatu perkataan, sehingga tidak mengadakan kedustaan dan mengatakan yang bukan-bukan.
Dengan demikian, tertanamlah dalam hati setiap orang yang beriman keinginan melaksanakan semua hukumhukum Allah dengan sebaik-baiknya.
Tertanam juga dalam hati mereka bahwa mengingkari hukumhukum Allah itu akan menimbulkan kesengsaraan di dunia maupun di akhirat nanti.

Tafsir QS. Al Mujaadilah (58) : 3. Oleh Muhammad Quraish Shihab:


Adapun mereka yang pada mulanya menjatuhkan sumpah zihar tetapi kemudian menengok kembali ucapannya itu, menyadari kesalahannya dan menginginkan agar hubungan suami istri tetap berlanjut, mereka harus memerdekakan seorang hamba sahaya sebelum kembali berhubungan dengan istri.
Memerdekakan hamba sahaya yang telah diwajibkan Allah itu merupakan pelajaran bagi kalian agar tidak kembali kepada perbuatan semula.


Allah mengetahui semua yang kalian perbuat.

Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:


Dan orang-orang yang mengharamkan istri-istri mereka dengan cara menziharnya lalu mereka menarik kembali ucapannya itu dan bersungguh-sungguh untuk kembali berkumpul bersama pasangan-pasangan mereka, maka wajib bagi suami yang telah menzihar membayar kafarat.
Kafaratnya adalah membebaskan hamba sahaya yang beriman, sebelum ia mencampuri kembali istrinya.


Itu adalah hukum Allah atas orang yang menzihar istrinya agar kalian mengambil pelajaran, wahai orang-orang yang beriman, dan agar kalian tidak terjerumus kepada perkataan yang dusta.
Jika kalian terjerumus kepada yang demikian, bayarlah kafarat atasnya dan janganlah kalian lakukan kembali.


Sungguh, tidak ada yang dapat disembunyikan dari Allah sedikit pun dari perbuatan kalian.
Dia akan membalasnya dengan balasan yang setimpal.

Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:



(Dan orang-orang yang menzihar istri mereka, kemudian mereka hendak menarik kembali apa yang mereka ucapkan) tentang zihar ini, seumpama dia bersikap berbeda dengan apa yang telah dikatakannya itu, yaitu dengan cara tetap memegang istri yang diziharnya.
Sedangkan perbuatan ini jelas bertentangan dengan maksud tujuan daripada perkataan zihar, yaitu menggambarkan istri dengan sifat yang menjadikannya haram bagi dia


(maka memerdekakan seorang budak) maksudnya wajib atasnya memerdekakan seorang budak


(sebelum kedua suami istri itu bercampur) bersetubuh.


(Demikianlah yang diajarkan kepada kalian, dan Allah Maha Mengetahui apa yang kalian kerjakan).

Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:


Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

Dan orang-orang yang men-zihar istri mereka, kemudian mereka hendak menarik kembali apa yang mereka ucapkan.
(QS. Al-Mujadilah [58]: 3)

Ulama Salaf dan para imam berbeda pendapat mengenai makna yang dimaksud oleh firman-Nya:
kemudian mereka hendak menarik kembali apa yang mereka ucapkan.
(QS. Al-Mujadilah [58]: 3)
Sebagian ulama mengatakan bahwa yang dimaksud dengan ‘kembali’ ialah kembali mengulangi kata-kata zihar-nya, tetapi pendapat ini batil.
Pendapat inilah yang dipilih oleh Ibnu Hazm dan pendapat Daud yang diriwayatkan oleh Abu Umar ibnu Abdul Bar, dari Bukair ibnul Asyaj dan Al-Farra, serta segolongan ulama ilmu kalam (tauhid).


Imam Syafii mengatakan bahwa makna yang dimaksud ialah hendaknya si suami tetap memegang istrinya sesudah ia men-zihar–nya selama suatu masa yang memungkinkan baginya dalam masa itu menjatuhkan talaknya, tetapi dia tidak menjatuhkannya.

Imam Ahmad ibnu Hambal mengatakan, makna yang dimaksud ialah bila suami yang bersangkutan hendak kembali menyetubuhi istri yang telah di-zihar-nya, atau bertekad akan menyetubuhinya, maka istrinya itu tidak halal baginya sebelum ia membayar kifarat zihar-nya.


Telah diriwayatkan pula dari Malik, bahwa makna yang dimaksud ialah tekad untuk menyetubuhi atau tekad untuk tetap memegangnya sebagai istri.
Dan menurut riwayat lain yang bersumberkan darinya, makna yang dimaksud ialah hendak menyetubuhi.

Imam Abu Hanifah mengatakan bahwa makna yang dimaksud ialah bila si suami kembali melakukan zihar lagi sesudah zihar diharamkan dan hukum Jahiliah mengenainya dihapuskan (yakni zihar sama dengan talak).
Maka manakala seorang lelaki men-zihar istrinya, berarti istrinya itu haram baginya, dan status haramnya itu tidak dapat dihilangkan kecuali dengan membayar kifaratnya.
Pendapat ini pulalah yang dianut oleh murid-murid Imam Abu Hanifah dan Al-Lais ibnu Sa’d.

Ibnu Lahi’ah mengatakan, telah menceritakan kepadaku Ata, dari Sa’ id ibnu Jubair sehubungan dengan makna firman-Nya:
kemudian mereka hendak menarik kembali apa yang mereka ucapkan.
(QS. Al-Mujadilah [58]: 3)
Yakni mereka bermaksud akan menyetubuhi istri-istri mereka yang telah mereka haramkan atas diri mereka melalui zihar.

Al-Hasan Al-Basri mengatakan bahwa makna yang dimaksud ialah menyetubuhi kemaluan.
Al-Hasan menilai tidak mengapa melakukan persetubuhan di luar kemaluan sebelum yang bersangkutan membayar kifarat zihar-nya.

Ali ibnu Abu Talhah telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas sehubungan dengan makna firman-Nya:
sebelum kedua suami istri itu bercampur.
(QS. Al-Mujadilah [58]: 3)
Yang dimaksud dengan bercampur ialah nikah (jimak).
Hal yang sama telah dikatakan oleh Ata, Az-Zuhri, Qatadah, dan Muqatil ibnu Hayyan.

Az-Zuhri mengatakan bahwa tidak boleh bagi suami yang telah men-zihar istrinya mencium istri yang di-zihar-nya, tidak boleh pula menyetubuhinya sebelum ia membayar kifarat zihar-nya.

Ahlus Sunan telah meriwayatkan melalui hadis Ikrimah, dari Ibnu Abbas:

bahwa seorang lelaki bertanya,
"Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku telah men-zihar istriku, lalu aku menyetubuhinya sebelum kubayar kifaratnya."
Rasulullah ﷺ balik bertanya,
"Apakah yang mendorongmu melakukan hal itu?
Semoga Allah merahmatimu."
Lelaki itu menjawab,
"Aku melihat kemilauan gelang kakinya yang terkena sinar rembulan."
Rasulullah ﷺ bersabda:
Jangan kamu dekati dia sebelum kamu kerjakan apa yang telah diperintahkan Allah subhanahu wa ta’ala kepadamu.

Imam Turmuzi mengatakan bahwa hadis ini hasan garib sahih.
Imam Abu Daud dan Imam Nasai meriwayatkannya melalui hadis Ikrimah secara mursal.
Menurut Imam Nasai, yang berpredikat mursal-lah yang lebih mendekati kebenaran.

Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

maka (wajib atasnya) memerdekakan seorang budak.
(QS. Al-Mujadilah [58]: 3)

Yakni memerdekakan seorang budak secara utuh, sebelum yang bersangkutan menggauli istri yang telah di-zihar-nya.
Dalam ayat ini sebutan raqabah atau budak tidak diikat dengan keimanan, sedangkan di dalam kifarat membunuh diikat dengan keimanan.
Maka Imam Syafii rahimahullah menakwilkan kemutlakan dalam ayat ini, bahwa ia diikat dengan pengertian budak yang ada pada kifarat pembunuhan;
mengingat subjeknya sama, yaitu memerdekakan budak.


Dan Imam Syafii mendukung pendapatnya ini dengan hadis yang diriwayatkan oleh Imam Malik berikut sanadnya, dari Mu’awiyah ibnul Hakam As-Sulami sehubungan dengan kisah seorang budak perempuan berkulit hitam.
Disebutkan bahwa Rasulullah ﷺ telah bersabda:

Merdekakanlah dia, karena sesungguhnya dia adalah wanita yang beriman.

Imam Ahmad telah meriwayatkan hadis ini di dalam kitab musnadnya, demikian pula Imam Muslim di dalam kitab sahihnya.


Al-Hafiz Abu Bakar Al-Bazzar mengatakan, telah menceritakan kepada kami Yusuf ibnu Musa, telah menceritakan kepada kami Abdullah ibnu Numair, dari Ismail ibnu Muslim ibnu Yasar, dari Amr ibnu Dinar, dari Tawus, dari Ibnu Abbas yang menceritakan pernah ada seorang lelaki datang kepada Rasulullah ﷺ, lalu bertanya,
"Sesungguhnya aku telah men-zihar istriku dan aku menggaulinya sebelum kubayar kifaratnya."
Rasulullah ﷺ balik bertanya,
"Bukankah Allah subhanahu wa ta’ala telah berfirman, ‘Sebelum keduanya bercampur’?"
Lelaki itu menjawab,
"Aku terangsang olehnya."
Rasulullah ﷺ bersabda:
Tahanlah dirimu (dari bersetubuh) hingga kamu membayar kifaratmu.

Kemudian Al-Bazzar mengatakan bahwa tiada suatu riwayat dari Ibnu Abbas yang lebih baik daripada ini;
Ismail ibnu Muslim orangnya masih diperbincangkan, tetapi banyak ulama yang mengambil riwayat darinya.
Di dalam hadis ini terkandung hukum fiqih yang menunjukkan bahwa Nabi ﷺ tidak memerintahkan kepada lelaki itu kecuali hanya membayar satu kali kifarat.

Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

Demikianlah yang diajarkan kepadamu.
(QS. Al-Mujadilah [58]: 3)


Yakni sebagai peringatan bagimu.

dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.
(QS. Al-Mujadilah [58]: 3)

Yaitu mengetahui semua yang bermaslahat lagi sesuai dengan keadaan kalian.

Unsur Pokok Surah Al Mujaadilah (المجادلة)

Surat Al-Mujadilah terdiri atas 22 ayat, termasuk golongan surat Madaniyyah, diturunkan sesudah surat Al-Munafiqun.

Surat ini dinamai "Al Mujaadilah (wanita yang mengajukan gugatan) karena pada awal surat ini disebutkan bantahan seorang perempuan, menurut riwayat bemama Khaulah binti Tsa’labah terhadap sikap suaminya yang telah menzhiharnya.
Hal ini diadukan kepada Rasulullah ﷺ dan dia menuntut supaya beliau memberikan putusan yang adil dalam persoalan itu.

Dinamai juga surah "Al Mujaadalah" yang berarti "perbantahan".

Keimanan:

Hukum zhihar dan sangsi-sangsi bagi orang yang melakukannya bila ia menarik kembali perkataannya.
▪ Larangan menjadikan musuh Allah sebagai teman.

Lain-lain:

▪ Menjaga adab sopan santun dalam suatu majlis pertemuan.
Adab sopan santun terhadap Rasulullah ﷺ

Ayat-ayat dalam Surah Al Mujaadilah (22 ayat)

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22

Lihat surah lainnya

Audio

QS. Al-Mujaadilah (58) : 1-22 ⊸ Misyari Rasyid Alafasy
Ayat 1 sampai 22 + Terjemahan Indonesia

QS. Al-Mujaadilah (58) : 1-22 ⊸ Nabil ar-Rifa’i
Ayat 1 sampai 22

Gambar Kutipan Ayat

Surah Al Mujaadilah ayat 3 - Gambar 1 Surah Al Mujaadilah ayat 3 - Gambar 2
Statistik QS. 58:3
  • Rating RisalahMuslim
4.4

Ayat ini terdapat dalam surah Al Mujaadilah.

Surah Al-Mujadilah (Arab: المجادلة, “Wanita Yang Mengajukan Gugatan”) adalah surah ke-58 dalam Alquran.
Surah ini tergolong surah Madaniyah dan terdiri atas 22 ayat.
Dinamakan Al-Mujadilah yang berarti wanita yang mengajukan gugatan karena pada awal surah ini disebutkan bantahan seorang perempuan yang menurut riwayat bernama Khaulah binti Tsa’labah terhadap sikap suaminya yang telah menzhiharnya.
Hal ini diadukan kepada Rasulullah dan ia menuntut supaya dia memberikan putusan yang adil dalam persoalan itu.
Dinamai juga Al-Mujadalah yang berarti Perbantahan.

Surah ini mempunyai ciri berbeda dari surah lain dalam Alquran.
Dalam setiap ayat dalam surah ini, selalu terdapat lafaz Jalallah (lafaz ALLAH).
Ada dalam satu ayat hanya terdiri dari satu lafaz, ada yang dua, atau tiga, dan bahkan ada yang lima lafaz, seperti pada ayat 22 dalam surah ini.

Nomor Surah58
Nama SurahAl Mujaadilah
Arabالمجادلة
ArtiWanita yang mengajukan gugatan
Nama lainal-Mujadalah (Perbantahan)
Tempat TurunMadinah
Urutan Wahyu105
JuzJuz 28
Jumlah ruku’3 ruku’
Jumlah ayat22
Jumlah kata475
Jumlah huruf2046
Surah sebelumnyaSurah Al-Hadid
Surah selanjutnyaSurah Al-Hasyr
Sending
User Review
4.4 (28 votes)
Tags:

58:3, 58 3, 58-3, Surah Al Mujaadilah 3, Tafsir surat AlMujaadilah 3, Quran AlMujadilah 3, Al Mujadilah 3, Al-Mujadilah 3, Surah Al Mujadilah ayat 3

Keluarga Anda ada yang belum mahir membaca Alquran? Ingin segera bisa?
Klik di sini sekarang!

Video


Panggil Video Lainnya

Ayat Lainnya

QS. Al An ‘aam (Hewan Ternak) – surah 6 ayat 87 [QS. 6:87]

Untuk menghilangkan kesan bahwa anugerah Allah hanya diberikan kepada para nabi yang telah disebutkan di atas, maka Allah menegaskan bahwa Dia melebihkan pula derajat sebagian dari nenek moyang mereka … 6:87, 6 87, 6-87, Surah Al An ‘aam 87, Tafsir surat AlAnaam 87, Quran Al Anaam 87, Al Anam 87, AlAnam 87, Al An’am 87, Surah Al Anam ayat 87

QS. Ar Ra’d (Guruh (petir)) – surah 13 ayat 30 [QS. 13:30]

Orang kafir dengan nada mengejek meminta Rasul untuk mendatangkan mukjizat yang kasat mata. Mereka lupa bahwa Al-Qur’an adalah mukjizat yang begitu nyata. Wahai Nabi Muhammad, demikianlah, Kami telah … 13:30, 13 30, 13-30, Surah Ar Ra’d 30, Tafsir surat ArRad 30, Quran Ar Rad 30, Ar-Ra’d 30, Surah Ar Rad ayat 30

Hadits Shahih

Podcast

Hadits & Doa

Soal & Pertanyaan Agama

Hukum yang berkaitan dengan perilaku moral manusia dalam kehidupan disebut hukum ...

Benar! Kurang tepat!

Penjelasan:
Hukum Khuluqiyah ini adalah hukum yang berkenaan dengan akhlak juga budi pekerti manusia. Hukum ini mencakup semua sifat-sifat terpuji yang wajib ada dalam diri manusia sebagai hamba Allah Subhanahu Wa Ta`ala terkait hakikat dirinya sebagai makhluk sosial.

Adapun cakupan hukuk khuluqiyah ini seperti moral, adab dan sopan santun, budi pekerti dan perilaku-perilaku yang jauh dari unsur tercela lainnya.

Hukum Khuluqiyah ini adalah salah satu jenis hukum dalam Alquran, adapun jenis hukum lainnya adalah Itiqodiyah dan Amaliyah.

Alquran adalah keterangan yang jelas untuk semua manusia, dan menjadi petunjuk serta pelajaran bagi orang-orang yang bertakwa. Penjelasan tersebut terdapat dalam surah ...

Benar! Kurang tepat!

Penjelasan:
ہٰذَا بَیَانٌ لِّلنَّاسِ وَ ہُدًی وَّ مَوۡعِظَۃٌ لِّلۡمُتَّقِیۡنَ

Inilah (Alquran) suatu keterangan yang jelas untuk semua manusia, dan menjadi petunjuk serta pelajaran bagi orang-orang yang bertakwa.
--QS. 3:138

Hadits adalah Mubayyin untuk Alquran. Arti dari Mubayyin adalah ..

Benar! Kurang tepat!

Penjelasan:
Arti mubayyin itu menjelaskan, mencerahkan, menerangkan, menjernihkan.

+

Array

Sumber hukum tertinggi dalam Islam adalah ..

Benar! Kurang tepat!

Hukum yang mengatur hubungan manusia dengan Tuhan secara lahiriah, manusia dengan sesama manusia dan orang-orang dengan lingkungannya disebut hukum ...

Benar! Kurang tepat!

Penjelasan:
Hukum Amaliah, yakni hukum yang mengatur secara lahiriah hubungan manusia dengan Allah Subhanahu Wa Ta`ala, antara sesama manusia, serta manusia dengan lingkungannya. Ilmu yang mempelajarinya disebut ilmu fiqih.

Pendidikan Agama Islam #7
Ingatan kamu cukup bagus untuk menjawab soal-soal ujian sekolah ini.

Pendidikan Agama Islam #7 1

Mantab!! Pertahankan yaa..
Jawaban kamu masih ada yang salah tuh.

Pendidikan Agama Islam #7 2

Belajar lagi yaa...

Bagikan Prestasimu:

Soal Lainnya

Pendidikan Agama Islam #2

Salah satu Asmaul Husna adalah Al Akhir, yang berarti … Maha Akhir Maha Penguasa Hari Kiamat Maha Kuasa Maha Pemberi

Pendidikan Agama Islam #9

Pengertian ijtihad menurut istilah adalah … berusaha untuk mencukupi kebutuhan hidup mencurahkan seluruh tenaga dan pikiran dengan sungguh-sungguh dalam menetapkan

Pendidikan Agama Islam #26

Sebab-sebab turunnya ayat Alquran disebut … asbabul wurud Isra Mi’raj ulumul qur’an alumul hadist asbabun nuzul Benar! Kurang tepat! Nama

Instagram