Search
Generic filters
Cari Kategori
🙏 Pilih semua
Quran
Hadits
Kamus
Podcast
Soal Agama
Artikel, Doa, dll.

QS. Al Mujaadilah (Wanita yang mengajukan gugatan) – surah 58 ayat 2 [QS. 58:2]

اَلَّذِیۡنَ یُظٰہِرُوۡنَ مِنۡکُمۡ مِّنۡ نِّسَآئِہِمۡ مَّا ہُنَّ اُمَّہٰتِہِمۡ ؕ اِنۡ اُمَّہٰتُہُمۡ اِلَّا الِّٰٓیۡٔ وَلَدۡنَہُمۡ ؕ وَ اِنَّہُمۡ لَیَقُوۡلُوۡنَ مُنۡکَرًا مِّنَ الۡقَوۡلِ وَ زُوۡرًا ؕ وَ اِنَّ اللّٰہَ لَعَفُوٌّ غَفُوۡرٌ
Al-ladziina yuzhaahiruuna minkum min nisaa-ihim maa hunna ummahaatihim in ummahaatuhum ilaalaa-ii waladnahum wa-innahum layaquuluuna munkaran minal qauli wazuuran wa-innallaha la’afuu-wun ghafuurun;
Orang-orang di antara kamu yang menzihar istrinya, (menganggap istrinya sebagai ibunya, padahal) istri mereka itu bukanlah ibunya.
Ibu-ibu mereka hanyalah perempuan yang melahirkannya.
Dan sesungguhnya mereka benar-benar telah mengucapkan suatu perkataan yang mungkar dan dusta.
Dan sesungguhnya Allah Maha Pemaaf, Maha Pengampun.

―QS. Al Mujaadilah [58]: 2

Daftar isi

Those who pronounce thihar among you (to separate) from their wives – they are not (consequently) their mothers.
Their mothers are none but those who gave birth to them.
And indeed, they are saying an objectionable statement and a falsehood.
But indeed, Allah is Pardoning and Forgiving.
― Chapter 58. Surah Al Mujaadilah [verse 2]

ٱلَّذِينَ orang-orang yang

Those who
يُظَٰهِرُونَ (mereka) menzihar

pronounce zihar
مِنكُم diantara kamu

among you
مِّن dari

[from]
نِّسَآئِهِم istri-istri mereka

(to) their wives,
مَّا tidak

not
هُنَّ mereka (istri-istri)

they
أُمَّهَٰتِهِمْ ibu-ibu mereka

(are) their mothers.
إِنْ bahwa

Not
أُمَّهَٰتُهُمْ ibu mereka

(are) their mothers
إِلَّا kecuali

except
ٱلَّٰٓـِٔى yang (ibu-ibu)

those who
وَلَدْنَهُمْ melahirkan mereka

gave them birth.
وَإِنَّهُمْ dan sesungguhnya mereka

And indeed, they
لَيَقُولُونَ benar-benar mengatakan

surely say
مُنكَرًا mungkar

an evil
مِّنَ dari

[of]
ٱلْقَوْلِ perkataan

[the] word
وَزُورًا dan dusta

and a lie.
وَإِنَّ dan sesungguhnya

But indeed,
ٱللَّهَ Allah

Allah
لَعَفُوٌّ benar-benar Maha Pemaaf

(is) surely, Oft-Pardoning,
غَفُورٌ Maha Pengampun

Oft-Forgiving.

Tafsir Quran

Surah Al Mujaadilah
58:2

Tafsir QS. Al-Mujadilah (58) : 2. Oleh Kementrian Agama RI

Ayat ini mencela suami-suami yang telah menzihar istrinya dengan mengatakan bahwa orang-orang yang telah menzihar istrinya adalah perkataan yang tidak benar yang dikatakan oleh orang-orang yang tidak menggunakan akal sehatnya.
Apakah mungkin istri itu sama dengan ibu?
Istri adalah teman hidup yang dihubungkan oleh akad nikah, sedang ibu adalah orang yang melahirkannya sehingga ada hubungan darah.

Oleh karena itu, orang yang demikian adalah orang yang mengatakan perkataan yang tidak etis dan tidak dibenarkan oleh agama, akal, maupun adat kebiasaan.
Perkataan itu adalah perkataan yang tidak etis, tidak mempunyai alasan sedikit pun.

Sekalipun demikian, Allah akan mengampuni dosa orang yang telah menzihar istrinya, jika ia mengikuti ketentuan-ketentuan-Nya.

Ada suatu prinsip dalam agama Islam yang harus ditegakkan, yaitu
"mengakui kenyataan-kenyataan yang ada sesuai dengan sunatullah."
Dalam menetapkan hukum-hukum yang berlaku di alam ini, Allah mengetahui hikmah dan akibatnya secara benar dan pasti.
Oleh karena itu, sangat tercela orang-orang yang mau mengubah-ubah sunatullah itu, seperti memandang istri sebagai mahramnya, padahal Allah telah menetapkan orang-orang yang haram dinikahi oleh seorang pria (lihat Surah An-Nisa’ [4]: 22-24, dan beberapa ayat lainnya).



Pada ayat 4 Surah Al-Ahzab [33], perkataan zihar digandengkan dengan perkataan anak angkat.
Karena mengakui anak orang lain sebagai anak kandung sendiri sama hukumnya dengan anak sendiri, termasuk mengatakan sesuatu yang tidak sesuai dengan sunatullah, dan tidak sesuai dengan kebenaran.

Kemudian Allah menegaskan bahwa anak angkat itu adalah anak ayah dan ibunya, bukan sekali-kali anak orang yang mengangkatnya.
Allah ﷻ berfirman:

اُدْعُوْهُمْ لِاٰبَاۤىِٕهِمْ هُوَ اَقْسَطُ عِنْدَ اللّٰهِ فَاِنْ لَّمْ تَعْلَمُوْٓا اٰبَاۤءَهُمْ فَاِخْوَانُكُمْ فِى الدِّيْنِ وَمَوَالِيْكُمْ وَلَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ فِيْمَآ اَخْطَأْتُمْ بِهٖ وَلٰكِنْ مَّا تَعَمَّدَتْ قُلُوْبُكُمْ وَكَانَ اللّٰهُ غَفُوْرًا رَّحِيْمًا

Panggillah mereka (anak angkat itu) dengan (memakai) nama bapak-bapak mereka;
itulah yang adil di sisi Allah, dan jika kamu tidak mengetahui bapak mereka, maka (panggillah mereka sebagai) saudara-saudaramu seagama dan maula-maulamu.

Dan tidak ada dosa atasmu jika kamu khilaf tentang itu, tetapi (yang ada dosanya) apa yang disengaja oleh hatimu.
Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.
(Al-Ahzab [33]: 5)

Dari ayat ketiga surah ini dapat dipahami bahwa suami yang menzihar istrinya memperoleh hukuman ukhrawi dan hukuman duniawi.
Hukuman ukhrawi ialah mereka berdosa karena mengatakan yang bukan-bukan, yaitu mengatakan bahwa istrinya haram dicampurinya seperti ia haram mencampuri ibunya.
Dalam agama termasuk perbuatan terlarang apabila seseorang menghalalkan yang haram atau mengharamkan yang halal, karena yang menentukan halal dan haram itu hanyalah Allah saja.
Hukuman duniawi ialah ia wajib membayar kafarat jika ia hendak mencampuri istrinya kembali, dan kafarat itu cukup besar jumlahnya, seperti yang akan diterangkan nanti.

Para ulama sepakat bahwa menyamakan istri dengan ibu dengan maksud untuk menyatakan kasih sayang kepadanya atau untuk menyatakan penghormatan dan terima kasih kepadanya, tidaklah termasuk zihar.
Karena zihar itu hanyalah ucapan suami yang menyatakan bahwa istrinya itu haram dicampurinya.

Perkataan anti ‘alaiyya ka dhahri ummi merupakan suatu ungkapan (idiom) yang mempunyai arti yang khusus dalam bahasa Arab.
Hanyalah orang yang mendalam rasa bahasanya yang dapat merasakan arti ungkapan itu.
Oleh karena itu, jika suami yang hanya mengerti bahasa Indonesia, mengucapkan sigat dhihar itu dengan ungkapan yang dipahami oleh orang Indonesia maka hukum di atas berlaku pula baginya.

Menurut Hanifah, Auza’i, ats-tsauri dan salah satu qaul Imam Syafi’i boleh disebut dalam sigat dhihar perempuan selain ibu, asal saja perempuan yang disebut namanya itu termasuk muhrim laki-laki yang menzihar, seperti suami mengatakan,
"Engkau haram aku campuri, seperti aku haram mencampuri adik kandungku yang perempuan."

Jika seorang suami telah menzihar istrinya, tidak berarti telah terjadi perceraian antara kedua suami-istri itu.
Masing-masing masih terikat oleh hak dan kewajiban sebagai suami dan istri.
Mereka hanya terlarang melakukan persetubuhan.
Demikian pula untuk menghindarkan diri dari perbuatan haram, maka haram pula kedua suami-istri itu berkhalwat (berduaan di tempat sunyi) sebelum suami membayar kafarat.

Agar istri tidak terkatung-katung hidupnya dan menderita karena zihar itu, sebaiknya ditetapkan waktu menunggu bagi istri.
Waktu menunggu itu dapat dikiaskan kepada waktu menunggu dalam ila’, yaitu empat bulan.
Apabila telah lewat waktu empat bulan sejak suami mengucapkan ziharnya, sedang suami belum lagi menetapkan keputusan, bercerai atau melanjutkan perkawinan dengan membayar kafarat, maka istri berhak mengajukan gugatan kepada pengadilan.
Hakim tentu akan mengabulkan gugatan istri bila gugatan itu terbukti.

Jika zihar berakibat perceraian, maka jatuhlah talak ba’in kubra, dimana perkawinan kembali antara bekas suami-istri itu haruslah dengan syarat membayar kafarat.

Tafsir QS. Al Mujaadilah (58) : 2. Oleh Muhammad Quraish Shihab:


Orang-orang yang, di antara kalian, menjatuhkan sumpah zihar kepada istrinya dengan menganggapnya haram digauli–seperti halnya ibu mereka yang juga haram mereka gauli–telah berbuat salah.
Istri bukanlah ibu.


Ibu mereka yang sebenarnya adalah orang yang melahirkan mereka.
Orang-orang yang menjatuhkan sumpah zihar itu benar-benar mengatakan sesuatu yang buruk dan tidak disukai oleh selera yang normal, di samping telah mengatakan suatu kebohongan yang menyimpang dari kebenaran.


Ampunan Allah benar-benar amat besar terhadap apa-apa yang terlanjur kalian lakukan.

Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:


Orang-orang yang menzihar istrinya di antara kalian dengan mengatakan kepadanya,
"Engkau seperti punggung’ ibuku,"
dengan maksud haram untuk dinikahi.
Sungguh mereka telah bermaksiat kepada Allah dan menyalahi syariat.


Hakikatnya istri bukanlah ibu mereka.
Ibu mereka tidak lain adalah wanita yang melahirkan mereka.


Sesungguhnya, orang-orang yang menzihar istrinya benar-benar mereka mengucapkan perkataan yang dusta, keji, dan tidak dibenarkan.
Sesungguhnya, Allah Maha Pemaaf, Maha Pengampun terhadap orang yang terkadang sudah telanjur berlaku menyimpang.


Namun, menyegerakan bertobat dengan sebenar-benarnya.

Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:



(Orang-orang yang menzihar) asal kata yazhzhahharuuna adalah yatazhahharuuna, kemudian huruf ta diidgamkan ke dalam huruf zha sehingga jadilah yazhzhahharuuna.
Akan tetapi menurut suatu qiraat dibaca dengan memakai huruf alif di antara huruf zha dan ha, sehingga bacaannya menjadi yazhaaharuuna.
Menurut qiraat lainnya dibaca seperti wazan yuqaatiluuna, yakni menjadi yuzhaahiruuna.
Lafal yang sama pada ayat berikutnya berlaku pula ketentuan ini


(istrinya di antara kalian, padahal tiadalah istri mereka itu ibu mereka.
Ibu-ibu mereka tidak lain hanyalah wanita-wanita) lafal allaaiy dapat dibaca dengan memakai huruf ya dan dapat pula dibaca tanpa ya


(yang melahirkan mereka.
Sesungguhnya mereka) dengan melakukan zihar itu


(sungguh-sungguh mengucapkan suatu perkataan yang mungkar dan dusta).


(Dan sesungguhnya Allah Maha Pemaaf lagi Maha Pengampun) kepada orang yang melakukan zihar dengan pembayaran kifarat.

Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Sa’d ibnu Ibrahim dan Ya’qub.
Keduanya mengatakan, telah menceritakan kepada kami ayahku, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Ishaq, telah menceritakan kepadaku Ma’mar ibnu Abdullah ibnu Hanzalah, dari Yusuf ibnu Abdullah ibnu Salam, dari Khuwailah binti Sa’labah yang mengatakan,
"Demi Allah, berkenaan dengan diriku dan Aus ibnus Samitlah Allah menurunkan permulaan surat Al-Mujadilah."
Khuwailah melanjutkan kisahnya,
"Saat itu aku menjadi istrinya (Aus ibnus Samit), sedangkan dia seorang yang sudah lanjut usia dan perangainya menjadi buruk.
Dan pada suatu hari ia masuk menemuiku, lalu aku mengajukan protes terhadapnya tentang sesuatu, maka dia marah.
Akhirnya ia mengatakan, ‘Engkau bagiku seperti punggung ibuku.’ Setelah itu Aus ibnus Samit keluar dan duduk di tempat perkumpulan kaumnya selama sesaat, kemudian ia kembali masuk menemuiku.
Tiba-tiba berahinya memuncak, dia menginginkan diriku.
Maka aku berkata, ‘Jangan, demi Tuhan yang jiwa Khuwailah ini berada di dalam genggaman kekuasaan-Nya, jangan kamu bergaul denganku dulu setelah engkau mengucapkan kata-kata itu kepadaku sebelum Allah dan Rasul-Nya memutuskan hukum tentang masalah kita ini sesuai dengan hukum-Nya.’ Cegahanku tiada artinya baginya, dia memelukku dengan paksa.
Maka aku membela diri agar lepas dari pelukannya, dan aku dapat mengalahkannya karena tenaganya telah melemah mengingat usianya yang telah lanjut.
Kusingkirkan dia dari tubuhku, kemudian aku keluar dari rumah menuju ke tempat salah seorang tetangga wanitaku.
Lalu aku meminjam pakaian darinya dan langsung keluar menuju ke tempat Rasulullah ﷺ Setelah sampai di hadapan beliau ﷺ, aku duduk dan menceritakan kepada beliau apa yang telah kualami dengan suamiku, dan aku mengadu kepada beliau tentang perangainya yang buruk."
Rasulullah ﷺ hanya menjawab,
"Hai Khuwailah, anak pamanmu (suamimu) itu telah lanjut usia, maka bertakwalah kepada Allah terhadapnya."
Khuwailah melanjutkan kisahnya,
"Demi Allah, belum lagi aku beranjak, maka turunlah ayat Alquran mengenai diriku, dan Rasulullah ﷺ kelihatan seperti orang yang tertutup (tak sadarkan diri) sebagaimana biasanya bila wahyu sedang turun kepadanya.
Setelah wahyu selesai, keadaan beliau kembali seperti semula, lalu bersabda kepadaku, ‘Hai Khuwailah, sesungguhnya Allah telah menurunkan wahyu-Nya berkenaan dengan masalahmu dan suamimu.’ Lalu Rasulullah ﷺ membacakan kepadaku firman berikut:
Sungguh, Allah telah mendengar perkataan wanita yang mengajukan gugatan kepadamu (Muhammad) tentang suaminya, dan mengadukan (halnya) kepada Allah.
Dan Allah mendengar percakapan antara kamu berdua.
Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.
(QS. Al-Mujadilah [58]: 1)
sampai dengan firman-Nya:
dan bagi orang-orang kafir ada siksaan yang sangat pedih.
(QS. Al-Mujadilah [58]: 4)
Maka Rasulullah ﷺ bersabda kepadaku, ‘Perintahkanlah kepada suamimu untuk memerdekakan seorang budak.’ Aku menjawab, ‘Wahai Rasulullah, dia tidak memiliki harta untuk memerdekakan budak.’ Rasulullah ﷺ bersabda, ‘Maka hendaklah ia berpuasa selama dua bulan berturut-turut.’ Aku berkata, ‘Demi Allah, sesungguhnya dia benar-benar seorang yang sudah lanjut usianya, dia tidak kuat mengerjakan puasa.’ Rasulullah ﷺ bersabda:
‘Maka hendaklah ia memberi makan enam puluh orang miskin sebanyak satu wasaq kurma.’ Aku berkata, ‘Demi Allah, ya Rasulullah, dia tidak memiliki makanan sebanyak itu.’ Maka Rasulullah ﷺ bersabda, ‘Kami akan membantunya dengan satu faraq kurma.’ Aku berkata, ‘Wahai Rasulullah, aku pun akan membantunya dengan satu faraq kurma lainnya.’ Rasulullah ﷺ bersabda, ‘Kamu benar dan berbuat baik.
Sekarang pergilah, dan sedekahkanlah kurma ini sebagai kifarat suamimu, kemudian perintahkanlah kepada anak pamanmu itu (suamimu) agar berbuat baik’."
Khuwailah melanjutkan kisahnya, bahwa lalu ia mengerjakan apa yang diperintahkan oleh Nabi ﷺ itu.

Imam Abu Daud meriwayatkan hadis ini di dalam Kitabut Thalaq, bagian dari kitab sunannya melalui dua jalur dari Muhammad ibnu Ishaq ibnu Yasar dengan sanad yang sama.
Dan di dalam lafaz Imam Abu Daud disebutkan Khuwailah binti Sa’labah.
Disebut pula dengan nama Khuwailah binti Malik ibnu Sa’labah, tetapi adakalanya disingkat hingga menjadi Khuwailah;
pada garis besarnya di antara pendapat-pendapat tersebut tidak ada pertentangan, karena satu sama lainnya berdekatan;
hanya Allah-lah Yang Maha Mengetahui.


Inilah pendapat yang benar sehubungan dengan latar belakang turunnya surat ini.
Adapun mengenai hadis Salamah ibnu Sakhr, sama sekali tidak mengandung pengertian yang menunjukkan bahwa ia melatarbelakangi turunnya surat ini, melainkan suatu kasus yang semakna dengan apa yang diturunkan oleh Allah dalam surat ini, yaitu kifarat memerdekakan budak, atau puasa, atau memberi makan.


Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Yazid ibnu Harun, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Ishaq ibnu Yasar, dari Muhammad ibnu Amr ibnu Ata, dari Sulaiman ibnu Yasar, dari Salamah ibnu Sakhr Al-Ansari yang mengatakan,
"Aku adalah seorang lelaki yang dianugerahi kekuatan bersetubuh melebihi apa yang dipunyai oleh selainku.
Manakala bulan Ramadan masuk, maka aku men-zihar istriku hingga lepas bulan Ramadan, karena takut bila di suatu malam aku tidak dapat menahan berahiku yang akibatnya persetubuhan terus berlanjut sampai siang harinya, sedangkan diriku tidak mampu menghentikannya.
Di suatu malam ketika istriku sedang melayaniku, tiba-tiba bagian yang merangsang dari istriku terbuka, maka aku tidak dapat menguasai diriku lagi dan langsung menggaulinya.
Pada pagi harinya aku menemui kaumku dan kuceritakan kepada mereka peristiwa yang kualami itu.
Aku katakan kepada mereka, ‘Marilah kita bersama-sama menghadap kepada Nabi ﷺ, lalu aku akan menceritakan kepadanya perihalku itu.’ Mereka menjawab, ‘Tidak, demi Allah, kami tidak mau karena kami khawatir bila akan ada wahyu yang diturunkan berkenaan dengan kita, atau Rasulullah ﷺ mengucapkan sesuatu menyangkut perihal kita yang berakibat akan membuat kita malu.
Sebaiknya engkau sendirilah yang menghadap kepada beliau dan engkau lebih bebas untuk mengutarakannya.’ Maka aku pun pergi menghadap kepada Nabi ﷺ, lalu kuceritakan kepada beliau perihal diriku itu, dan beliau ﷺ bersabda kepadaku, ‘Kamu benar melakukannya?’ Aku menjawab, ‘Ya, aku benar melakukannya.’ Beliau bertanya lagi, ‘Kamu benar melakukannya?’ Aku menjawab, ‘Ya, aku telah melakukannya.’ Beliau ﷺ bertanya lagi, ‘Kamu benar melakukannya?’ Aku menjawab, ‘Ya, dan sekarang aku berserah diri kepada hukum Allah subhanahu wa ta’ala Sanksi apa pun yang harus kuterima, maka aku dengan rela menerimanya.’ Rasulullah ﷺ bersabda:
‘Merdekakanlah seorang budak!’ Maka aku memukul bagian belakang leherku dengan tanganku seraya berkata, ‘Tidak, demi Tuhan yang mengutusmu dengan hak, aku tidak mempunyai apa pun selain istriku.’ Rasulullah ﷺ bersabda:
‘Berpuasalah selama dua bulan berturut-turut!’ Aku menjawab, ‘Wahai Rasulullah, tiada lain apa yang telah menimpa diriku itu melainkan karena puasa.’ Rasulullah ﷺ bersabda:
‘Maka bersedekahlah kamu!’ Aku menjawab, ‘Demi Tuhan yang telah mengutusmu dengan hak, sesungguhnya kami jalani malam hari kami tadi dalam keadaan lapar, karena kami tidak mempunyai makanan untuk makan malam kami.’ Rasulullah ﷺ bersabda:
‘Pergilah kamu kepada amil zakat orang-orang Bani Zuraiq, dan katakanlah kepadanya bahwa hendaknya dia memberimu zakat.
Lalu berikanlah sebagian darinya sebanyak satu wasaq kurma untuk makan enam puluh orang miskin, kemudian lebihannya adalah untukmu dan orang-orang yang berada dalam tanggunganmu.’ Aku pulang kepada kaumku dan kukatakan (kepada mereka), ‘Aku menjumpai kesempitan dan pendapat yang buruk pada kalian, dan kujumpai pada Rasulullah ﷺ keluasan dan berkah.
Sesungguhnya beliau telah memerintahkan kepadaku untuk mengambil zakat kalian, maka berikanlah zakat itu kepadaku.’ Maka mereka memberikan zakatnya kepadaku."

Hal yang sama telah diriwayatkan oleh Abu Daud dan Ibnu Majah, tetapi Imam Turmuzi meriwayatkannya dengan singkat dan ia menilainya hasan.
Makna lahiriah konteks hadis ini menunjukkan bahwa peristiwa ini terjadi sesudah kisah Aus ibnus Samit dan istrinya (Khuwailah binti Sa’labah), sebagaimana yang tersimpulkan dari konteks hadis ini dan hadis yang sebelumnya setelah direnungkan secara mendalam.

Khasif telah meriwayatkan dari Mujahid dan Ibnu Abbas, bahwa lelaki yang mula-mula men-zihar istrinya adalah Aus ibnus Samit, saudara lelaki Ubadah ibnus Samit.
Istrinya bernama Khuwailah binti Sa’labah ibnu Malik.
Disebutkan bahwa setelah suaminya men-zihar-nya, ia merasa takut bila zihar itu merupakan suatu talak, lalu ia mendatangi Rasulullah ﷺ dan berkata,
"Wahai Rasulullah, sesungguhnya Aus telah men-zihar-ku;
dan sesungguhnya jika kami bercerai, niscaya binasalah kami.
Sesungguhnya telah kugelarkan perutku untuknya, dan dengan setia aku menemaninya."
Khuwailah mengadukan hal tersebut seraya menangis, sedangkan wahyu masih belum ada yang menerangkan masalah tersebut.
Maka Allah menurunkan firman-Nya:
Sungguh, Allah telah mendengar perkataan wanita yang mengajukan gugatan kepadamu (Muhammad) tentang suaminya, dan mengadukan (halnya) kepada Allah.
(QS. Al-Mujadilah [58]: 1)
sampai dengan firman-Nya:
dan bagi orang-orang kafir ada siksaan yang sangat pedih.
(QS. Al-Mujadilah [58]: 4)
Maka Rasulullah ﷺ memanggil Aus ibnus Samit dan bersabda,
"Mampukah kamu membeli seorang budak untuk kamu merdekakan?"
Aus menjawab,
"Tidak, demi Allah, ya Rasulullah, aku tidak mempunyai kemampuan untuk itu."
Maka Rasulullah ﷺ menghimpun dana untuknya hingga cukup untuk membeli budak, lalu budak yang telah dibeli itu dimerdekakan oleh Rasulullah ﷺ untuk kifarat Aus, setelah itu Aus kembali lagi kepada istrinya.
Hadis ini diriwayatkan oleh Ibnu Jarir.


Ibnu Abbas dan kebanyakan ulama berpendapat seperti apa yang telah kami kemukakan di atas;
dan hanya Allah-lah Yang Maha Mengetahui.


Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

Orang-orang yang men-zihar istrinya di antara kamu.
(QS. Al-Mujadilah [58]: 2)

Kata zihar berasal dari zahar, artinya punggung, Dahulu di masa Jahiliah apabila seseorang dari mereka men-zihar istrinya, ia mengatakan kepada istrinya,
"Engkau menurutku sama dengan punggung ibuku,"
yakni punggungnya sama dengan punggung ibunya.
Kemudian menurut istilah syara’ kata zihar ini bisa saja diberlakukan terhadap anggota tubuh lainnya secara analogi (kias).
Dahulu di masa Jahiliah zihar dianggap sebagai talak, kemudian Allah subhanahu wa ta’ala memberikan kemurahan bagi umat ini.
Dia tidak menjadikannya sebagai talak, dan pelakunya hanya dikenai sanksi membayar kifarat, berbeda dengan apa yang berlaku di kalangan mereka di masa Jahiliah.
Hal yang sama telah dikatakan oleh bukan hanya seorang dari kalangan ulama Salaf.

Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abu Kuraib, telah menceritakan kepada kami Ubaidillah ibnu Musa, dari Abu Hamzah, dari Ikrimah, dari Ibnu Abbas yang mengatakan bahwa dahulu di masa Jahiliah apabila seorang lelaki berkata kepada istrinya,
"Engkau menurutku sama dengan punggung ibuku,"
maka istrinya itu haram baginya.
Dan orang yang mula-mula men-zihar istrinya di masa Islam adalah Aus.
Saat itu istrinya adalah anak perempuan pamannya yang dikenal dengan nama Khuwailah binti Sa’labah.
Di suatu hari ia men-zihar istrinya, lalu ia menyesali perbuatannya, dan berkata,
"Menurutku dirimu tiada lain telah haram dariku,"
dan istrinya mengatakan hal yang sama.
Akhirnya

Aus berkata kepada istrinya,
"Pergilah kepada Rasulullah ﷺ"
Maka istri Aus datang menghadap kepada Rasulullah ﷺ dan ia menjumpai di sisi Rasulullah ﷺ terdapat sisir yang beliau gunakan untuk menyisiri rambutnya Maka Rasulullah ﷺ bersabda,
"Hai Khuwailah, Allah tidak memerintahkan sesuatu pun kepada kami sehubungan dengan kasusmu itu
"
Lalu Allah menurunkan wahyu-Nya kepada Rasulullah ﷺ, dan Rasulullah ﷺ bersabda,
"Hai Khuwailah, bergembiralah!"
Khuwailah menjawab,
"Semoga kebaikan saja adanya."
Maka Rasulullah ﷺ membacakan kepadanya firman Allah subhanahu wa ta’ala yang mengatakan:
Sungguh, Allah telah mendengar perkataan wanita yang mengajukan gugatan kepadamu (Muhammad) tentang suaminya, dan mengadukan (halnya) kepada Allah.
Dan Allah mendengar percakapan antara kamu berdua.
(QS. Al-Mujadilah [58]: 1)
sampai dengan firman-Nya:
Dan orang-orang yang men-zihar istri mereka, kemudian mereka hendak menarik kembali apa yang telah mereka ucapkan, maka (wajib atasnya) memerdekakan seorang budak sebelum kedua suami istri itu bercampur.
(QS. Al-Mujadilah [58]: 3)
Khuwailah berkata,
"Dari manakah kami mendapatkan budak?
Demi Allah, dia tidak mempunyai seseorang selain diriku."
Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:
Barang siapa yang tidak mendapatkan (budak), maka (wajib atasnya) berpuasa dua bulan berturut-turut.
(QS. Al-Mujadilah [58]: 4)
Khuwailah berkata,
"Demi Allah, seandainya dia (suaminya) tidak minum sebanyak tiga kali seharinya, niscaya pandangannya hilang (kabur, karena kelaparan)."
Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:
Maka siapa yang tidak kuasa (wajiblah atasnya) memberi makan enam puluh orang miskin.
(QS. Al-Mujadilah [58]: 4)
Khuwailah berkata lagi,
"Dari manakah kami mendapatkan makanan sebanyak itu, sedangkan makanan kami hanyalah satu kali seharinya?"
Maka Rasulullah ﷺ memerintahkan agar diambilkan kurma sebanyak setengah wasaq, yaitu tiga puluh sa’, karena satu wasaq sama dengan enam puluh sa’.
Lalu beliau ﷺ bersabda,
"Hendaklah ia memberi enam puluh orang miskin (dengan kurma ini) setelah itu ia boleh rujuk kembali kepadamu."


Sanad hadis ini dinilai baik lagi kuat, tetapi konteksnyagarib.
Telah diriwayatkan pula hal yang semisal dari Abul Aliyah.

Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Abdur Rahman Al-Harawai, telah menceritakan kepada kami Ali ibnul Asim, dari Daud ibnu Abu Hindun, dari Abul Aliyah yang mengatakan bahwa Khaulah binti Dulaij adalah istri seorang lelaki dari kalangan Ansar yang matanya telah rabun, miskin, lagi buruk perangainya.
Dan tersebutlah bahwa di masa Jahiliah dahulu apabila seorang lelaki hendak menceraikan istrinya, ia mengatakan kepadanya,
"Engkau bagiku sama seperti punggung ibuku."
Tersebutlah pula bahwa Khaulah mempunyai seorang anak atau dua orang anak dari suaminya itu.
Dan pada suatu hari Khaulah bertengkar dengan suaminya mengenai sesuatu, maka suaminya berkata kepadanya,
"Engkau bagiku sama dengan punggung ibuku."

Lalu Khaulah pergi dengan pakaian yang seadanya hingga masuk ke rumah Siti Aisyah r.a., saat itu Rasulullah ﷺ sedang berada di rumahnya.
Khaulah menjumpai Aisyah sedang membasuh sebagian dari kepala Rasulullah ﷺ, lalu Khaulah menghadap kepada beliau dengan ditemani anaknya dan berkata,
"Wahai Rasulullah, sesungguhnya suamiku matanya sudah rabun, miskin, tidak punya apa-apa, lagi buruk perangainya.
Dan sesungguhnya aku bertengkar dengannya tentang sesuatu, lalu dia marah dan mengatakan, ‘Engkau bagiku sama dengan punggung ibuku,’ sedangkan dia tidak bermaksud menceraikanku, dan aku mempunyai seorang atau dua orang anak darinya."
Rasulullah ﷺ bersabda,
"Sepanjang pengetahuanku, tiada lain kamu telah menjadi haram baginya."
Khaulah berkata,
"Aku mengadukan perihalku kepada Allah semoga Dia menurunkan wahyu berkenaan dengan masalahku dan ayah dari anak perempuanku ini."

Siti Aisyah berputar, lalu membasuh sisi lain dari kepala Rasulullah ﷺ Maka Khaulah pun berputar mengikuti Aisyah, dan berkata lagi,
"Wahai Rasulullah, suamiku sudah rabun matanya, miskin, lagi buruk perangainya;
aku mempunyai seorang atau dua orang anak darinya, dan sesungguhnya aku bertengkar dengannya mengenai sesuatu hal hingga ia marah, lalu berkata, ‘Engkau bagiku sama dengan punggung ibuku,’ sedangkan dia tidak bermaksud menceraikanku."

Khaulah binti Dulaij berkata, bahwa lalu Rasulullah ﷺ mengangkat kepalanya memandang ke arahnya dan bersabda,
"Menurut pengetahuanku engkau ini tiada lain telah haram baginya."
Khaulah berkata,
"Aku mengadukan (halku ini) kepada Allah, semoga Dia menurunkan pemecahan masalahku dan ayah anak perempuanku ini."

Abul Aliyah melanjutkan kisahnya, bahwa lalu Siti Aisyah r.a. melihat roman muka Rasulullah ﷺ berubah, maka ia segera berkata kepada Khaulah,
"Mundurlah kamu, mundurlah kamu."
Maka Khaulah pun menjauh, dan Rasulullah ﷺ ditinggalkan dalam keadaan kesendiriannya selama yang dikehendaki Allah subhanahu wa ta’ala Setelah wahyu selesai, beliau bertanya,
"Hai Aisyah, ke manakah wanita tadi?"
Maka Aisyah memanggil Khaulah.
Setelah datang, Rasulullah ﷺ bersabda kepadanya,
"Sekarang pulanglah kamu dan kembalilah dengan membawa suamimu."

Khaulah bergegas pergi, lalu datang lagi dengan membawa suaminya.
Ketika Rasulullah ﷺ melihat suaminya, ternyata keadaannya seperti yang digambarkan oleh istrinya, yaitu matanya sudah rabun, miskin, lagi buruk perangainya.
Lalu Rasulullah ﷺ bersabda,
"Aku berlindung kepada Allah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.
Dengan nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang:
‘Sungguh, Allah telah mendengar perkataan wanita yang mengajukan gugatan kepadamu (Muhammad) tentang suaminya.’ (QS. Al-Mujadilah [58]: 1)
sampai dengan firman-Nya:
‘Dan orang-orang yang men-zihar istri mereka, kemudian mereka hendak menarik kembali apa yang mereka ucapkan.’ (QS. Al-Mujadilah [58]: 3)
Lalu Nabi ﷺ bertanya,
"Apakah kamu mempunyai budak untuk kamu merdekakan sebelum kamu kembali menggauli istrimu?"
Suami Khaulah menjawab,
"Tidak."
Rasulullah ﷺ bertanya,
"Kuatkah kamu puasa selama dua bulan berturut-turut?"
Ia menjawab,
"Demi Tuhan yang telah mengutusmu dengan hak, sesungguhnya aku jika tidak makan sebanyak dua atau tiga kali hampir saja penglihatanku lenyap."
Rasulullah ﷺ bertanya,
"Mampukah kamu memberi makan enam puluh orang miskin?"
Ia menjawab,
"Tidak, kecuali bila engkau membantuku."

Abul Aliyah melanjutkan kisahnya, bahwa lalu Rasulullah ﷺ membantunya dan bersabda,
"Berilah makan enam puluh orang miskin (dengan bantuanku ini)."


Abul Aliyah mengatakan bahwa Allah menghindarkan talak dan menjadikannya (kasus ini) sebagai zihar.


Ibnu Jarir meriwayatkannya dari Ibnul Musanna, dari Abdul A’la, dari Daud yang mengatakan bahwa ia pernah mendengar dari Abul Aliyah, kemudian disebutkan hal yang semisal, tetapi dengan kisah yang lebih ringkas dari pada konteks di atas.

Sa’id ibnu Jubair mengatakan bahwa dahulu ila dan zihar merupakan talak di masa Jahiliah, lalu Allah subhanahu wa ta’ala memberikan batas waktu bagi ila selama empat bulan, dan menetapkan kifarat bagi zihar.
Ibnu Abu Hatim telah meriwayatkan hal yang semisal.

Imam Malik telah menyimpulkan bahwa orang kafir tidak termasuk ke dalam pengertian ayat ini, karena ada firman-Nya yang menyebutkan,
"Minkum,
"yakni dari kalian.
Khitab atau pembicaraan ditujukan hanya kepada kaum mukmin.
Tetapi jumhur ulama menyanggahnya dan mengatakan bahwa hal seperti ini dikategorikan ke dalam pengertian prioritas terhadap mayoritas, sedangkan dalam makna ayat ini tidak ada pengertian yang menunjuk ke arah itu.
Jumhur ulama dalam jawabannya terhadap Imam Malik mengambil dalil dari firman Allah subhanahu wa ta’ala yang menyebutkan:
istri mereka.
(QS. Al-Mujadilah [58]: 3)
Bahwa budak perempuan tidak ada zihar terhadapnya, dan tidak termasuk ke dalam khitab ayat ini.


Dan firman Allah subhanahu wa ta’ala yang menyebutkan:

padahal tiadalah istri mereka itu ibu mereka.
Ibu-ibu mereka tidak lain hanyalah wanita yang melahirkan mereka.
(QS. Al-Mujadilah [58]: 2)

Yakni seorang wanita tidaklah menjadi seorang ibu bagi seorang lelaki yang mengatakan kepadanya,
"Engkau bagiku seperti punggung ibuku, atau engkau mirip ibuku, atau engkau seperti ibuku,"
sesungguhnya ibu lelaki yang bersangkutan hanyalah wanita yang melahirkannya.
Karena itulah disebutkan oleh firman-Nya:

Dan sesungguhnya mereka benar-benar mengucapkan suatu perkataan yang mungkar dan dusta.
(QS. Al-Mujadilah [58]: 2)

Maksudnya, ucapan yang keji lagi batil.

Dan sesungguhnya Allah Maha Pemaaf lagi Maha Pengampun.
(QS. Al-Mujadilah [58]: 2)

Yaitu terhadap apa yang telah kamu kerjakan di masa Jahiliah.
Demikian pula halnya kata-kata yang keluar dari lisan tanpa disengaja karena terpeleset lidah, sebagaimana yang diriwayatkan oleh Abu Daud, bahwa Rasulullah ﷺ pernah mendengar seorang lelaki berkata kepada istrinya,
"Hai saudaraku."
Maka Nabi ﷺ bertanya,
"Dia saudara perempuanmu?"
Ini merupakan protes, tetapi kata-kata tersebut tidak menjadikan istrinya sebagai saudara perempuannya hanya dengan kata-kata itu, mengingat dia mengucapkan kata-katanya itu tanpa sengaja.
Dan seandainya dia mengeluarkan kata-katanya itu dengan sengaja, niscaya istrinya itu haram baginya, karena sesungguhnya menurut pendapat yang sahih tidak ada bedanya antara ibu dan wanita lainnya dari kalangan para mahram seperti saudara perempuan, bibi dan ayah, dan bibi dari ibu, dan lain sebagainya yang serupa.

Unsur Pokok Surah Al Mujaadilah (المجادلة)

Surat Al-Mujadilah terdiri atas 22 ayat, termasuk golongan surat Madaniyyah, diturunkan sesudah surat Al-Munafiqun.

Surat ini dinamai "Al Mujaadilah (wanita yang mengajukan gugatan) karena pada awal surat ini disebutkan bantahan seorang perempuan, menurut riwayat bemama Khaulah binti Tsa’labah terhadap sikap suaminya yang telah menzhiharnya.
Hal ini diadukan kepada Rasulullah ﷺ dan dia menuntut supaya beliau memberikan putusan yang adil dalam persoalan itu.

Dinamai juga surah "Al Mujaadalah" yang berarti "perbantahan".

Keimanan:

▪ Hukum zhihar dan sangsi-sangsi bagi orang yang melakukannya bila ia menarik kembali perkataannya.
▪ Larangan menjadikan musuh Allah sebagai teman.

Lain-lain:

▪ Menjaga adab sopan santun dalam suatu majlis pertemuan.
Adab sopan santun terhadap Rasulullah ﷺ

Ayat-ayat dalam Surah Al Mujaadilah (22 ayat)

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22

Lihat surah lainnya

Audio Murottal

QS. Al-Mujaadilah (58) : 1-22 ⊸ Misyari Rasyid Alafasy
Ayat 1 sampai 22 + Terjemahan Indonesia



QS. Al-Mujaadilah (58) : 1-22 ⊸ Nabil ar-Rifa’i
Ayat 1 sampai 22

Gambar Kutipan Ayat

Surah Al Mujaadilah ayat 2 - Gambar 1 Surah Al Mujaadilah ayat 2 - Gambar 2
Statistik QS. 58:2
  • Rating RisalahMuslim
4.9

Ayat ini terdapat dalam surah Al Mujaadilah.

Surah Al-Mujadilah (Arab: المجادلة, “Wanita Yang Mengajukan Gugatan”) adalah surah ke-58 dalam Alquran.
Surah ini tergolong surah Madaniyah dan terdiri atas 22 ayat.
Dinamakan Al-Mujadilah yang berarti wanita yang mengajukan gugatan karena pada awal surah ini disebutkan bantahan seorang perempuan yang menurut riwayat bernama Khaulah binti Tsa’labah terhadap sikap suaminya yang telah menzhiharnya.
Hal ini diadukan kepada Rasulullah dan ia menuntut supaya dia memberikan putusan yang adil dalam persoalan itu.
Dinamai juga Al-Mujadalah yang berarti Perbantahan.

Surah ini mempunyai ciri berbeda dari surah lain dalam Alquran.
Dalam setiap ayat dalam surah ini, selalu terdapat lafaz Jalallah (lafaz ALLAH).
Ada dalam satu ayat hanya terdiri dari satu lafaz, ada yang dua, atau tiga, dan bahkan ada yang lima lafaz, seperti pada ayat 22 dalam surah ini.

Nomor Surah 58
Nama Surah Al Mujaadilah
Arab المجادلة
Arti Wanita yang mengajukan gugatan
Nama lain al-Mujadalah (Perbantahan)
Tempat Turun Madinah
Urutan Wahyu 105
Juz Juz 28
Jumlah ruku’ 3 ruku’
Jumlah ayat 22
Jumlah kata 475
Jumlah huruf 2046
Surah sebelumnya Surah Al-Hadid
Surah selanjutnya Surah Al-Hasyr
Sending
User Review
4.3 (27 suara)
Bagi ke FB
Bagi ke TW
Bagi ke WA
Tags:

58:2, 58 2, 58-2, Surah Al Mujaadilah 2, Tafsir surat AlMujaadilah 2, Quran AlMujadilah 2, Al Mujadilah 2, Al-Mujadilah 2, Surah Al Mujadilah ayat 2

Video Surah

58:2


More Videos

Kandungan Surah Al Mujaadilah

۞ QS. 58:1 • Sifat Sama’ (mendengar) • Al Bashir (Maha Melihat) • Al Sami’ (Maha Pendengar)

۞ QS. 58:2 • Ampunan Allah yang luas • Al ‘Afwu (Maha Pemaaf) • Al Ghafur (Maha Pengampun)

۞ QS. 58:3 • Keluasan ilmu Allah • Al Khabir (Maha Waspada) • Toleransi Islam

۞ QS. 58:4 • Toleransi Islam • Maksiat dan dosa

۞ QS. 58:5 • Azab orang kafir • Keingkaran dan kedurhakaan orang kafir • Maksiat dan dosa

۞ QS. 58:6 • Al Syahid (Maha Menyaksikan) • Manusia dibangkitkan dari kubur • Menghitung amal kebaikan

۞ QS. 58:7 • Keluasan ilmu Allah • Al ‘Alim (Maha megetahui) • Menghitung amal kebaikan

۞ QS. 58:8 • Nama-nama neraka • Sifat neraka • Sifat ahli neraka dan kejahatan mereka • Maksiat dan dosa •

۞ QS. 58:9 • Kebenaran hari penghimpunan

۞ QS. 58:10 • Kekuasaan Allah • Kebenaran dan hakikat takdir • Sifat iblis dan pembantunya

۞ QS. 58:11 • Al Khabir (Maha Waspada) • Menghitung amal kebaikan • Balasan dari perbuatannya

۞ QS. 58:12 • Ampunan Allah yang luas • Al Rahim (Maha Penyayang) • Al Ghafur (Maha Pengampun) • Toleransi Islam •

۞ QS. 58:13 • Al Khabir (Maha Waspada) • Melenyapkan kesusahan orang muslim

۞ QS. 58:14 • Sifat orang munafik • Siksa orang munafik • Sikap orang munafik terhadap Islam

۞ QS. 58:15 • Siksaan Allah sangat pedih • Siksa orang munafik

۞ QS. 58:16 • Sifat orang munafik • Siksa orang munafik

۞ QS. 58:17 • Terputusnya hubungan antara sesama pada hari kiamat • Keabadian neraka • Sifat ahli neraka dan kejahatan mereka • Mereka yang kekal dalam neraka • Siksa orang munafik

۞ QS. 58:18 • Manusia dibangkitkan dari kubur • Sifat orang munafik • Siksa orang munafik

۞ QS. 58:19 • Sifat iblis dan pembantunya • Usaha jin untuk melalaikan manusia dalam beribadah • Syetan menyesatkan dan menghinakan manusia • Wali Allah dan wali syetan • Sifat orang munafik

۞ QS. 58:20 • Azab orang kafir

۞ QS. 58:21 • Pertolongan Allah Ta’ala kepada orang mukmin • Hukum alam • Al ‘Aziz (Maha Mulia) • Al Qawiy (Maka Kuat) • Penentuan takdir sebelum penciptaan

۞ QS. 58:22 • Orang mukmin selalu dalam lindungan Allah Ta’ala • Pahala iman • Keabadian surga • Sifat surga dan kenikmatannya • Wali Allah dan wali syetan

Ayat Pilihan

Wahai kaumku, tetaplah pada sikap ingkar & dusta kalian itu. Aku pun akan tetap laksanakan apa yang diperintah Tuhanku. Kalian kelak akan tahu siapa di antara kita yang akan mendapatkan azab yang sangat hina & abadi yang tak ada akhirnya
QS. Az-Zumar [39]: 39

Dan barang siapa yang dihinakan Allah maka tidak seorangpun yang memuliakannya.
Sesungguhnya Allah berbuat apa yang Dia kehendaki.
QS. Al-Hajj [22]: 18

Hadits Shahih

Podcast

Doa Sehari-hari

Soal & Pertanyaan Agama

Pengertian Mujahadah An-Nafs adalah ...

Correct! Wrong!

Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda bahwa berjihad (berjuang) yang paling utama adalah melawan ...

Correct! Wrong!

Penjelasan:
u0623u064eu0641u0652u0636u064eu0644u064f u0627u0644u0652u062cu0650u0647u064eu0627u062fu0650 u0623u064eu0646u0652 u064au064fu062cu064eu0627u0647u064eu062fu064e u0627u0644u0631u0651u064eu062cu064fu0644u064f u0646u064eu0641u0652u0633u064eu0647u064e u0648u064e u0647u064eu0648u064eu0627u0647u064f

(Jihad yang paling utama adalah seseorang berjihad [berjuang] melawan dirinya dan hawa nafsunya),
Hadits ini derajatnya shahih. Diriwayatkan oleh Ibnu An-Najjar dari Abu Dzarr Radhiyallahu anhu. Juga diriwayatkan oleh Abu Nu'aim dan Ad-Dailami. Hadits ini juga dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani di dalam Shahih Al-Jami'ush-Shaghu00eer, no 1099, dan beliau menjelaskannya secara rinci dalam Silsilah Ash-Shu00e2hihah, no. 1496.

Dalam Islam, pengendalian diri atau kontrol terhadap diri, disebut juga dengan ...

Correct! Wrong!

+

Array

Dalam Islam, teladan yang baik disebut juga dengan istilah ...

Correct! Wrong!

Ketika Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam masih remaja, baginda telah bekerja mengambil upah sebagai pengembala binatang ternak. Apakah binatang tersebut?

Correct! Wrong!

Pendidikan Agama Islam #14
Ingatan kamu cukup bagus untuk menjawab soal-soal ujian sekolah ini.

Pendidikan Agama Islam #14 1

Mantab!! Pertahankan yaa..
Jawaban kamu masih ada yang salah tuh.

Pendidikan Agama Islam #14 2

Belajar lagi yaa...

Share your Results:

Soal Agama Islam

Pendidikan Agama Islam #21

Pembukuan Alquran dilakukan pada masa khalifah … Setiap bencana dan musibah yang menimpa manusia di bumi sudah tertulis dalam kitab … Bu Nindi mempersiapkan pakaian bayi, karena bu Nindi tidak lama lagi akan melahirkan bayinya, perilaku bu Nindi termasuk meyakini … Allah Subhanahu Wa Ta`ala.Allah Subhanahu Wa Ta`ala tidak akan merubah nasib suatu kaum , sebelum kaum itu sendiri yang merubahnya, arti ayat tersebut terdapat dalam Alquran surah ar-Rad ayat … Salah satu contoh hikmah beriman kepada qada bagi siswa adalah …

Pendidikan Agama Islam #26

Sebab-sebab turunnya ayat Alquran disebut … Nama lain dari surah Al-Insyirah adalah … Jumlah surah-surah dalam Alquran adalah … Pesan utama dari kandungan Alquran adalah … Surah yang terpanjang dalam Alquran adalah …

Pendidikan Agama Islam #1

Arti fana adalah … Tuhan memiliki sifat Al Karim, yang berarti bahwa Allah Subhanahu Wa Ta`ala merupakan zat Yang ..Allah memiliki sifat Al Kariim yang tercantum dalam Alquran surah … Tuhan memiliki sifat Al Matiin, yang berarti bahwa Allah Subhanahu Wa Ta`ala adalah zat Yang … Dalam Asmaul Husna, Allah memiliki sifat Al Matiin yang tercantum dalam Alquran surah …

Kamus Istilah Islam

Yudas Iskariot

Siapa itu Yudas Iskariot? Yudas Iskariot , anak Simon Iskariot , dia juga termasuk salah seorang dari dua belas rasul yang dipilih oleh Yesus Kristus, dan dia bertugas sebagai bendahara . Yudas Iskari...

Surga Al-Maqomul Amin

Apa itu Surga Al-Maqomul Amin? Surga Al-Maqomul Amin, diciptakan oleh Allah Subhanahu Wa Ta`ala dari emas. Kandidat penghuninya, yakni orang-orang yang keimanannya sudah mencapai level muttaqin, yakni...

Nailul Authar

Apa itu Nailul Authar? Muntaqa al-Akhbar atau Al-Muntaqa adalah kitab himpunan hadis hukum yang dihimpun oleh Majduddin bin Taimiyyah Al-Harrani yaitu kakek dari Ibnu Taimiyah. Kitab ini terdiri dari...