QS. Al Mujaadilah (Wanita yang mengajukan gugatan) – surah 58 ayat 18 [QS. 58:18]

یَوۡمَ یَبۡعَثُہُمُ اللّٰہُ جَمِیۡعًا فَیَحۡلِفُوۡنَ لَہٗ کَمَا یَحۡلِفُوۡنَ لَکُمۡ وَ یَحۡسَبُوۡنَ اَنَّہُمۡ عَلٰی شَیۡءٍ ؕ اَلَاۤ اِنَّہُمۡ ہُمُ الۡکٰذِبُوۡنَ
Yauma yab’atsuhumullahu jamii’an fayahlifuuna lahu kamaa yahlifuuna lakum wayahsabuuna annahum ‘ala syai-in alaa innahum humul kaadzibuun(a);

(Ingatlah) hari (ketika) mereka semua dibangkitkan Allah lalu mereka bersumpah kepada-Nya (bahwa mereka bukan musyrikin) sebagaimana mereka bersumpah kepadamu, dan mereka menyangka bahwa mereka akan memperoleh suatu (manfaat).
Ketahuilah, bahwa sesungguhnya merekalah orang-orang pendusta.
―QS. 58:18
Topik ▪ Hari Kebangkitan ▪ Manusia dibangkitkan dari kubur ▪ Azab orang kafir
58:18, 58 18, 58-18, Al Mujaadilah 18, AlMujaadilah 18, AlMujadilah 18, Al Mujadilah 18, Al-Mujadilah 18

Tafsir surah Al Mujaadilah (58) ayat 18

Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. Al Mujaadilah (58) : 18. Oleh Kementrian Agama RI

Orang-orang yang menyatakan bahwa harta dan anak-anak mereka dapat dipergunakan untuk menghindarkan diri dari azab Allah di akhirat, mereka juga berdusta di hadapan Allah ketika hari perhitungan nanti.
Mereka bersumpah bahwa mereka benar-benar termasuk orang-orang beriman, sebagaimana mereka telah bersumpah sewaktu mereka hidup di dunia, seakan-akan mereka dapat mengelabui Allah dengan pengakuan tersebut.
Mereka mengira bahwa dengan berdusta seperti itu, mereka akan dapat menghindarkan diri dari azab yang akan ditimpakan kepada mereka.
Ayat ini mengisyaratkan bahwa watak dan sifat seorang manusia selama hidup di dunia akan diperlihatkan Allah di akhirat.
Jika watak, sifat, dan tabiat mereka baik selama hidup di dunia, maka hal itu akan tampak baik di akhirat.
Sebaliknya jika watak, sifat, dan tabiat mereka jelek selama hidup di dunia, hal itu akan tampak jelek di akhirat.
Di dunia mereka masih dapat mengelabui mata manusia, sedangkan di akhirat, mereka langsung berhadapan dengan Allah yang Maha Mengetahui lagi Mahakuasa.
Dalam ayat-ayat yang lain, Allah menerangkan sikap orang-orang munafik di akhirat, yaitu:

Dan apabila dikatakan kepada mereka, “Janganlah berbuat kerusakan di bumi!” Mereka menjawab, “Sesungguhnya kami justru orang-orang yang melakukan perbaikan.” Ingatlah, sesungguhnya merekalah yang berbuat kerusakan, tetapi mereka tidak menyadari.
(Q.S. Al-Baqarah [2]: 11-12)

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Pada hari ketika Allah membangkitkan mereka semua dari kubur, dan mereka bersumpah bahwa dulu mereka beriman sebagaimana sekarang ini bersumpah di depan kalian.
Mereka mengira bahwa, dengan sumpah itu, mereka telah melakukan suatu kelicikan yang menguntungkan mereka.
Ketahuilah bahwa sesungguhnya mereka adalah golongan yang mencapai puncak kebohongan.

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

Ingatlah (hari ketika mereka dibangkitkan Allah semuanya, lalu mereka bersumpah kepada-Nya) bahwasanya mereka adalah orang-orang yang beriman (sebagaimana mereka bersumpah kepada kalian, dan mereka menyangka bahwa sesungguhnya mereka akan memperoleh sesuatu) manfaat dari sumpah mereka di akhirat itu sebagaimana sumpah mereka di dunia.

(Ketahuilah, bahwa sesungguhnya merekalah orang-orang pendusta).

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Dalam firman selanjutnya disebutkan:

(Ingatlah) hari (ketika) mereka semua dibangkitkan Allah.
(Q.S. Al-Mujadilah [58]: 18)

Yakni Allah menghimpunkan mereka semuanya di hari kiamat tanpa ada seorang pun yang tertinggal.

lalu mereka bersumpah kepada-Nya (bahwa mereka bukan orang musyrik) sebagaimana mereka bersumpah kepadamu; dan mereka menyangka bahwa sesungguhnya mereka akan memperoleh suatu (manfaat).
(Q.S. Al-Mujadilah [58]: 18)

Mereka bersumpah kepada Allah subhanahu wa ta’ala bahwasanya diri mereka benar berada pada jalan petunjuk dan istiqamah, sebagaimana sumpah mereka kepada manusia ketika di dunia.
Karena sesungguhnya barang siapa yang hidup dengan berpegangan pada sesuatu, maka matinya pun ia berpegang pada sesuatu itu; begitu pula saat ia dibangkitkan.
Mereka mengira bahwa hal tersebut dapat memberi manfaat bagi mereka di sisi Allah, sebagaimana dapat memberi manfaat bagi mereka di mata manusia.
Mereka hanya berpegang kepada hal-hal yang lahiriah.
Karena itulah dafam firman berikutnya disebutkan:

dan mereka menyangka bahwa sesungguhnya mereka akan memperoleh suatu (manfaat).
(Q.S. Al-Mujadilah [58]: 18)

Yakni sumpah mereka yang demikian itu kepada Tuhan mereka dapat memberi suatu manfaat bagi diri mereka.
Maka dalam firman berikutnya dugaan mereka itu dibantah oleh firman-Nya:

Ketahuilah, bahwa sesungguhnya merekalah orang-orang pendusta.
(Q.S. Al-Mujadilah [58]: 18)

Kalimat berita ini menguatkan bahwa mereka benar-benar dusta dalam sumpahnya itu.

Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami ayahku, telah menceritakan kepada kami Ibnu Nafil, telah menceritakan kepada kami Zuhair, dari Sammak ibnu Harb, telah menceritakan kepadaku Sa’id ibnu Jubair, bahwa Ibnu Abbas pernah bercerita kepadanya bahwa Nabi ﷺ ketika berada di bawah naungan salah satu dari rumahnya, yang saat itu di hadapan beliau ﷺ terdapat beberapa orang muslim, sedangkan bayangan rumah telah surut dari mereka, maka Nabi ﷺ bersabda: Sesungguhnya akan datang kepada kamu seorang manusia yang melihat dengan kedua mata setan.
Maka apabila dia datang kepadamu, janganlah kamu berbicara dengannya.
Tidak lama kemudian datanglah seorang lelaki yang bermata biru, lalu Rasulullah ﷺ memanggilnya dan mengajaknya bicara seraya bertanya, “Mengapa kamu mencaci aku dan juga si Fulan dan si Fulan,” dengan menyebut nama beberapa orang lainnya.
Lalu lelaki itu pergi dan memanggil mereka yang disebutkan namanya oleh Nabi ﷺ, kemudian mereka datang dan bersumpah kepada Nabi ﷺ serta meminta maaf kepadanya.
Lalu Allah subhanahu wa ta’ala menurunkan firman-Nya: lalu mereka bersumpah kepada-Nya (bahwa mereka bukan orang musyrik) sebagaimana mereka bersumpah kepadamu; dan mereka menyangka bahwa sesungguhnya mereka akan memperoleh suatu (manfaat).
Ketahuilah, bahwa sesungguhnya merekalah orang-orang pendusta.
(Q.S. Al-Mujadilah [58]: 18)

Hal yang sama telah diriwayatkan oleh Imam Ahmad melalui dua jalur dari Sammak dengan sanad yang sama.

Ibnu Jarir meriwayatkannya dari Muhammad ibnul Musanna, dari Gundar, dari Syu’bah, dari Sammak dengan sanad dan lafaz yang semisal.

Ibnu Jarir telah mengetengahkannya pula melalui hadis Sufyan As-Sauri, dari Sammak dengan lafaz yang semisal, sanadnya jayyid, tetapi mereka (Ahlus Sunan) tidak ada yang mengetengahkannya.

Keadaan mereka sama dengan apa yang diceritakan oleh Allah subhanahu wa ta’ala mengenai perihal orang-orang musyrik melalui firman-Nya:

Kemudian tiadalah fitnah mereka, kecuali mengatakan, “Demi Allah, Tuhan kami, tiadalah kami mempersekutukan Allah.” Lihatlah bagaimana mereka telah berdusta terhadap diri mereka sendiri dan hilanglah dari mereka sembahan-sembahan yang dahulu mereka ada-adakan.
(Q.S. Al-An’am [6]: 23-24)


Informasi Surah Al Mujaadilah (المجادلة)
Surat Al Mujaadilah terdiri atas 22 ayat, termasuk golongan surat Madaniyyah, diturunkan sesudah surat Al Munaafiquun.

Surat ini dinamai “Al Mujaadilah (wanita yang mengajukan gugatan) karena pada awal surat ini disebutkan bantahan seorang perempuan, menurut riwayat bemama Khaulah binti Tsa’labah terhadap sikap suaminya yang telah menzhiharnya.
Hal ini diadukan kepada Rasulullah ﷺ dan dia menuntut supaya beliau memberikan putusan yang adil dalam persoalan itu.

Dinamaijuga “Al Mujaadalah” yang berarti “perbantahan”.

Keimanan:

Hukum zhihar dan sangsi-sangsi bagi orang yang melakukannya bila ia menarik kembali perkataannya
larangan menjadikan musuh Allah sebagai teman.

Hukum:

Tidak ada pembahasan hukum yang spesifik dalam surat ini.

Lain-lain:

Menjaga adab sopan santun dalam suatu majlis pertemuan
adab sopan santun terhadap Rasulullah ﷺ

Ayat-ayat dalam Surah Al Mujaadilah (22 ayat)

Audio

Qari Internasional

Q.S. Al-Mujaadilah (58) ayat 18 - Oleh Syekh Mishari Alafasy
Q.S. Al-Mujaadilah (58) ayat 18 - Oleh Syekh Sa'ad Al-Ghamidi
Q.S. Al-Mujaadilah (58) ayat 18 - Oleh Syekh Muhammad Ayyub

Murottal al-Qur'an & Terjemahan Indonesia
Q.S. Al-Mujaadilah - Oleh Syekh Misyari Rasyid Alafasy
Full ayat 1 sampai 22 & Terjemahan


Gambar



Statistik Q.S. 58:18
  • Rating RisalahMuslim

Ayat ini terdapat dalam surah Al Mujaadilah.

Surah Al-Mujadilah (Arab: المجادلة, "Wanita Yang Mengajukan Gugatan") adalah surah ke-58 dalam al-Qur'an.
Surah ini tergolong surah Madaniyah dan terdiri atas 22 ayat.
Dinamakan Al-Mujadilah yang berarti wanita yang mengajukan gugatan karena pada awal surah ini disebutkan bantahan seorang perempuan yang menurut riwayat bernama Khaulah binti Tsa'labah terhadap sikap suaminya yang telah menzhiharnya.
Hal ini diadukan kepada Rasulullah dan ia menuntut supaya dia memberikan putusan yang adil dalam persoalan itu.
Dinamai juga Al-Mujadalah yang berarti Perbantahan.

Surah ini mempunyai ciri berbeda dari surah lain dalam Al-Qur'an.
Dalam setiap ayat dalam surah ini, selalu terdapat lafaz Jalallah (lafaz ALLAH).
Ada dalam satu ayat hanya terdiri dari satu lafaz, ada yang dua, atau tiga, dan bahkan ada yang lima lafaz, seperti pada ayat 22 dalam surah ini.

Nomor Surah 58
Nama Surah Al Mujaadilah
Arab المجادلة
Arti Wanita yang mengajukan gugatan
Nama lain al-Mujadalah (Perbantahan)
Tempat Turun Madinah
Urutan Wahyu 105
Juz Juz 28
Jumlah ruku' 3 ruku'
Jumlah ayat 22
Jumlah kata 475
Jumlah huruf 2046
Surah sebelumnya Surah Al-Hadid
Surah selanjutnya Surah Al-Hasyr
4.7
Ratingmu: 4.3 (29 orang)
Sending









Iklan

Video

Panggil Video Lainnya


Ikuti RisalahMuslim
               





Copied!

Masukan & saran kirim ke email:
[email protected]

Made with in Yogyakarta