Search
Generic filters
Cari Kategori
🙏 Pilih semua
Quran
Hadits
Kamus
Podcast
Soal Agama
Artikel, Doa, dll.

QS. Al Muddatstsir (Orang yang berkemul) – surah 74 ayat 1 [QS. 74:1]

یٰۤاَیُّہَا الۡمُدَّثِّرُ ۙ
Yaa ai-yuhaal muddats-tsir(u);
Wahai orang yang berkemul (berselimut)!
―QS. Al Muddatstsir [74]: 1

Daftar isi

O you who covers himself (with a garment),
― Chapter 74. Surah Al Muddatstsir [verse 1]

يَٰٓأَيُّهَا wahai

O you
ٱلْمُدَّثِّرُ orang yang berkemul

who covers himself!

Tafsir Quran

Surah Al Muddatstsir
74:1

Tafsir QS. Al-Muddatsir (74) : 1. Oleh Kementrian Agama RI

Dalam ayat 1-2 disebutkan bahwa Nabi Muhammad sedang berselubung dengan selimut karena diliputi perasaan takut melihat rupa Malaikat Jibril, lalu turunlah wahyu yang memerintahkan agar segera bangun dan memperingatkan umat yang masih sesat itu supaya mereka mengenal jalan yang benar.

Perkataan
"qum"
(bangunlah) menunjukkan bahwa seorang rasul harus rajin, ulet, dan tidak mengenal putus asa karena ejekan orang yang tidak senang menerima seruannya.

Rasul tidak boleh malas dan berpangku tangan.
Semenjak ayat ini turun, Nabi Muhammad tidak pernah berhenti melaksanakan tugas dakwah.

Sepanjang hidupnya diisi dengan berbagai macam kegiatan yang berguna bagi kepentingan umat dan penyiaran agama Islam.

Peringatan-peringatan yang beliau sampaikan kepada penduduk Mekah yang masih musyrik pada waktu itu, berupa kedahsyatan siksaan Allah di hari Kiamat kelak.

Untuk menyelamatkan diri dari azab tersebut, manusia hendaknya mengenal Allah dan patuh mengikuti perintah Rasul ﷺ.

Tafsir QS. Al Muddatstsir (74) : 1. Oleh Muhammad Quraish Shihab:


Wahai orang yang melipat diri dengan selimut, bangunlah dari tidurmu.
Peringatkanlah umat manusia tentang azab Allah yang akan ditimpakan bagi mereka yang tidak beriman.


Agungkanlah Tuhanmu dan sucikanlah pakaianmu dari kotoran dengan menggunakan air.

Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:


Wahai orang yang berselimut dengan pakaiannya, bangunlah dari pembaringanmu.
Berilah peringatan kepada manusia akan azab Allah.


Khususkanlah Tuhanmu semata dengan mengagungkan, mengesakan, dan menyembah-Nya.
Sucikanlah pakaianmu dari berbagai macam najis karena sempurnanya kebersihan lahir adalah sempurnanya kebersihan batin.


Teruslah meninggalkan sesembahan dan berhala.
Tinggalkanlah semua perbuatan syirik.


Janganlah mendekatinya dan janganlah engkau memberikan sesuatu karena berharap mendapatkan sesuatu yang lebih banyak.
Berharaplah karena ridha Tuhanmu lalu bersabarlah atas perintah dan larangan-Nya.

Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:



(Hai orang yang berselimut!) yakni Nabi ﷺ Bentuk asal lafal al-muddatstsir ialah al-mutadatstsir, kemudian huruf ta diidgamkan kepada huruf dal sehingga jadilah al-Muddatstsir, artinya orang yang menyelimuti dirinya dengan pakaiannya sewaktu wahyu turun kepadanya.

Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Di dalam kitab Sahih Bukhari disebutkan melalui hadis Yahya ibnu Abu Kasir, dari Abu Salamah, dari Jabir;
ia pernah mengatakan bahwa ayat Alquran yang mula-mula diturunkan adalah firman-Nya:
Hai orang yang berkemul (berselimut).
(QS. Al-Muddatsir [74]: 1)

Tetapi jumhur ulama berbeda.
Mereka berpendapat bahwa Alquran yang mula-mula diturunkan adalah firman Allah subhanahu wa ta’ala:

Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan.
(QS. Al-‘Alaq [96]: 1)

Sebagaimana yang akan diterangkan di tempatnya, insya Allah.


Imam Bukhari mengatakan, telah menceritakan kepada kami Yahya, telah menceritakan kepada kami Waki’, dari Ali ibnul Mubarak, dari Yahya ibnu Abu Kasiryang mengatakan bahwa ia pernah bertanya kepada Abu Salamah ibnu Abdur Rahman tentang ayat Alquran yang mula-mula diturunkan.
Maka Abu Salamah menjawab dengan membaca firman-Nya:
Hai orang yang berkemul (berselimut).
(QS. Al-Muddatsir [74]: 1)
Aku berkata, bahwa orang-orang menyebutnya:
Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan.
(QS. Al-‘Alaq [96]: 1)
Maka Abu Salamah menjawab, bahwa ia pernah bertanya kepada Jabir ibnu Abdullah tentang masalah ini, dan kukatakan kepadanya apa yang telah kamu katakan kepadaku.
Lalu ia menjawab, bahwa ia tidak sekali-kali menceritakan hadis kepadaku melainkan apa yang pernah dikatakan oleh Rasulullah ﷺ kepadanya.
Rasulullah ﷺ bersabda,
"Aku ber-tahannus di Gua Hira.
Setelah aku menyelesaikan tahannus-ku, lalu aku turun, dan tiba-tiba terdengar ada suara yang memanggilku.
Aku menoleh ke arah kanan dan ternyata tidak melihat apa pun;
dan aku menoleh ke arah kiriku, tetapi ternyata tidak kulihat sesuatu pun;
dan aku memandang ke arah depanku, ternyata tidak ada apa-apa;
begitu pula sewaktu aku memandang ke arah belakangku.
Lalu aku mengarahkan pandanganku ke langit, dan ternyata kulihat sesuatu (yang menakutkan, karena Jibril menampakkan dirinya dalam rupa aslinya).
Maka aku pulang ke rumah Khadijah dan kukatakan kepadanya, ‘Selimutilah aku, dan tuangkanlah air dingin ke kepalaku (kompreslah aku)’."
Nabi ﷺ melanjutkan kisahnya, bahwa lalu mereka (keluarga beliau) menyelimuti diriku dan mengompres kepalaku, maka turunlah firman Allah subhanahu wa ta’ala:
Hai orang yang berkemul (berselimut), bangunlah, lalu berilah peringatan! Dan Tuhanmu agungkanlah.
(QS. Al-Muddatsir [74]: 1-3)

Demikianlah menurut riwayat Imam Bukhari melalui jalur ini.


Imam Muslim meriwayatkannya melalui jalur Aqil, dari Ibnu Syihab, dari Abu Salamah yang mengatakan bahwa telah menceritakan kepadaku Jabir ibnu Abdullah, ia pernah mendengar Rasulullah ﷺ menceritakan tentang masa terhentinya wahyu.
Antara lain disebutkan, bahwa ketika aku sedang berjalan, tiba-tiba aku mendengar suara dari langit, maka aku melihat ke arah langit.
Tiba-tiba malaikat yang pernah datang kepadaku di Hira datang kepadaku duduk di atas sebuah kursi di antara langit dan bumi, maka aku merasa takut dengannya hingga aku terjatuh ke tanah.
Kemudian aku pulang ke rumah keluargaku dan kukatakan,
"Selimutilah aku, selimutilah aku, selimutilah aku,"
maka turunlah firman Allah subhanahu wa ta’ala:
Hai orang yang berkemul (berselimut), bangunlah, lalu berilah peringatan! (QS. Al-Muddatsir [74]: 1-2)
sampai dengan firman-Nya:
dan perbuatan dosa, tinggalkanlah.
(QS. Al-Muddatsir [74]: 5)


Abu Salamah mengatakan bahwa ar-rijzu artinya penyembahan berhala, setelah itu wahyu sering datang dan berturut-turut.
Konteks hadis inilah yang dikenal, dan ini memberikan pengertian bahwa sesungguhnya pernah turun wahyu sebelum itu, karena sabda Nabi ﷺ yang mengatakan:
maka kulihat malaikat yang pernah mendatangiku di Hira.
Dia adalah Malaikat Jibril yang saat itu datang kepadanya membawa firman Allah subhanahu wa ta’ala:
Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang Menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari ‘alaq.
Bacalah dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah, Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan qalam.
Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.
(QS. Al-‘Alaq [96]: 1-5)

Sesudah itu terjadi masa fatrah dari wahyu, lalu malaikat itu turun lagi kepadanya setelah masa fatrah.

Pengertian gabungan kedua hadis tersebut dapat disimpulkan sebagai berikut, bahwa wahyu yang mula-mula diturunkan sesudah beberapa lama wahyu tidak turun adalah surat ini (QS. Al-Muzzammil).


Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Hajjaj, telah menceritakan kepada kami Lais, telah menceritakan kepada kami Aqil, dari Ibnu Syihab yang mengatakan bahwa ia pernah mendengar Abu Salamah ibnu Abdur Rahman mengatakan bahwa telah menceritakan kepadaku Jabir ibnu Abdullah, bahwa ia pernah mendengar Rasulullah ﷺ bersabda:
Kemudian wahyu mengalami fatrah dariku selama satu masa, Dan ketika aku sedang berjalan, kudengar suara dari langit (memanggilku), maka aku mengarahkan pandanganku ke langit.
Tiba-tiba aku melihat malaikat yang pernah datang kepadaku sedang duduk di atas kursi di antara langit dan bumi, maka tubuhku gemetar karenanya hingga aku terjatuh ke tanah.
Lalu aku pulang ke rumah keluargaku dan kukatakan kepada mereka,
"Selimutilah aku, selimutilah aku, selimutilah aku."
Maka Allah subhanahu wa ta’ala menurunkan firman-Nya,
"Hai orang yang berkemul, bangunlah, lalu berilah peringatan! Dan Tuhanmu agangkanlah, dan pakaianmu bersihkanlah, dan perbuatan dosa tinggalkanlah."
(QS. Al-Muddatsir [74]: 1 -5).
Kemudian wahyu datang lagi dengan berturut-turut.

Bukhari dan Muslim mengetengahkan hadis ini melalui Az-Zuhri dengan sanad yang sama.

Imam Tabrani mengatakan, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Ali ibnu Syu’aib As-Simsar, telah menceritakan kepada kami Al-Hasan ibnu Bisyr Al-Bajali, telah menceritakan kepada kami Al-Mu’afa ibnu Imran, dari Ibrahim ibnu Yazid yang mengatakan bahwa ia pernah mendengar Ibnu Abbas mengatakan, bahwa sesungguhnya Al-Walid ibnul Mugirah membuat jamuan makan untuk orang-orang Quraisy.
Maka setelah mereka menyantap jamuan itu Al-Walid bertanya kepada mereka,
"Bagaimanakah pendapat kalian dengan lelaki ini (maksudnya Nabi ﷺ)?"
Sebagian dari mereka mengatakan seorang penyihir, sebagian yang lain mengatakan bukan seorang penyihir.
Dan sebagian yang lainnya lagi mengatakan seorang tukang tenung, maka sebagian yang lainnya menjawab bukan seorang tukang tenung.
Sebagian dari mereka ada yang mengatakan seorang penyair, dan sebagian yang lainnya menjawabnya bukan seorang penyair.
Lalu sebagian dari mereka ada yang mengatakan bahwa bahkan dia adalah seorang penyihir yang belajar (dari orang-orang dahulu).
Akhirnya mereka sepakat menyebutnya sebagai seorang penyihir yang belajar dari orang-orang dahulu.
Ketika berita tersebut sampai kepada Nabi ﷺ, maka hati beliau berduka cita dan menundukkan kepalanya serta menyelimuti dirinya.
Maka Allah menurunkan firman-Nya:
Hai orang yang berkemul (berselimut), bangunlah, lalu berilah peringatan! Dan Tuhanmu agungkanlah, dan pakaianmu bersihkanlah, dan perbuatan dosa (menyembah berhala) tinggalkanlah, dan janganlah kamu memberi (dengan maksud) memperoleh (balasan) yang lebih banyak.
Dan untuk (memenuhi perintah) Tuhanmu bersabarlah.
(QS. Al-Muddatsir [74]: 1-7)

Sebab-Sebab Diturunkannya Surah Al Muddatstsir (74) Ayat 1

Diriwayatkan oleh asy-Syaikhoon (al-Bukhori dan Muslim) yang bersumber dari Jabir bahwa Rasulullah ﷺ bersabda: “Ketika aku telah selesai uzlah-selama sebulan di gua Hira-, aku turun ke lembah.
Sesampainya ke tengah lembah, ada yang memanggilku, tetapi aku tidak melihat seorangpun di sana.
Aku menengadahkan kepala ke langit.
Tiba-tiba aku melihat malaikat yang pernah mendatangiku di Gua Hira.
Aku cepat-cepat pulang dan berkata (kepada orang rumah): “Selimuti aku ! Selimuti aku !” Maka turunlah ayat ini (Al-Muddatstsir: 1-2) sebagai perintah untuk menyingsingkan selimut dan berdakwah.

Diriwayatkan ole hath-Thabarani dengan sanad yang daif, yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas bahwa al-Walid bin al-Mughirah membuat makanan untuk kaum Quraisy.
Ketika mereka makan-makan, al Walid berkata kepada teman-temannya: “Nama apa yang pantas kalian berikan kepada orang seperti ini (Muhammad) ?” sebagian mereka berkata “Saahir (tukang sihir).” Yang lainnya berkata: “Dia bukan tukang sihir.” Sebagian mereka berkata :”Kaahin (tukang tenung)”

Yang lainnya berkata : “Dia bukan tukang tenung.” Sebagian mereka berkata: “Syaa’ir (tukang syair).” Yang lainnya berkata: “Dia bukan tukang syair.” Yang lainnya berkata lagi: “Dia mempunyai sihir yang membekas (kepada orang lain).” Semua pembicaraan itu sampai kepada Nabi ﷺ sehingga beliaupun merasa sedih.
Beliau mengikat kepalanya serta berselimut.
Maka Allah menurunkan ayat-ayat ini (Al-Muddatstsir: 1-7) sebagai perintah untuk menyingsingkan baju dan berdakwah.

Sumber : Asbabun Nuzul – K.H.Q Shaleh – H.A.A Dahlan dkk.

Hadits Shahih Yang Berhubungan Dengan Surah Al Muddatstsir (74) ayat 1

Telah bercerita kepada kami Abdullah bin Yusuf telah mengabarkan kepada kami Al Laits berkata telah bercerita kepadaku Uqail dari Ibnu Syihab berkata aku mendengar Abu Salamah berkata telah mengabarkan kepadaku Jabir bin Abdullah ra. bahwa dia mendengar Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda:
Kemudian wahyu berhenti turun kepadaku pada masa tertentu hingga ketika aku sedang berjalan, aku mendengar suara dari langit. Maka aku mengarahkan pandanganku menghadap langit yang ternyata ada malaikat yang pernah datang kepadaku di gua Hira sedang duduk di atas Kursiy antara langit dan bumi. Aku menjadi sangat takut karenanya hingga aku ingin lepas dari bumi. Lalu aku mendatangi keluargaku sambil mengatakan, Selimuti aku, selimuti aku. Maka kemudian Allah Ta’ala menurunkan firman-Nya (QS al-Mudatstsir ayat 1 – 5) yang artinya Wahai orang yang berselimut, bangun dan berilah peringatan) hingga frman-Nya (Dan perbuatan dosa jauhilah. Abu Salanah berkata,
ar-Rujza artinya berhalaberhala.

Shahih Bukhari, Kitab Permulaan Penciptaan Makhluq – Nomor Hadits: 2999

Unsur Pokok Surah Al Muddatstsir (المدثر)

Surat Al Muddaststsir terdiri atas 56 ayat, termasuk golongan surat-surat Makkiyyah, diturunkan sesudah surat Al Muzzammil.

Dinamai "Al Muddatstsir" (orang yang berkemul) diambil dari perkataan "Al Muddatstsir" yang terdapat pada ayat pertama surat ini.

Keimanan:

▪ Perintah untuk mulai berdakwah mengagungkan Allah.
▪ Membersihkan pakaian.
▪ Menjauhi maksiat.
▪ Memberikan sesuatu dengan ikhlas dan bersabar dalam menjalankan perintah dan menjauhi larangan Allah.
▪ Allah akan mengazab orang-orang yang menentang Nabi Muhammad ﷺ dan mendustakan Alquran.
▪ Tiap-tiap manusia terikat dengan apa yang telah ia usahakan.

Ayat-ayat dalam Surah Al Muddatstsir (56 ayat)

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48 49 50 51 52 53 54 55 56

Lihat surah lainnya

Audio Murottal

QS. Al-Muddatstsir (74) : 1-56 ⊸ Misyari Rasyid Alafasy
Ayat 1 sampai 56 + Terjemahan Indonesia



QS. Al-Muddatstsir (74) : 1-56 ⊸ Nabil ar-Rifa’i
Ayat 1 sampai 56

Gambar Kutipan Ayat

Surah Al Muddatstsir ayat 1 - Gambar 1 Surah Al Muddatstsir ayat 1 - Gambar 2
Statistik QS. 74:1
  • Rating RisalahMuslim
4.9

Ayat ini terdapat dalam surah Al Muddatstsir.

Surah Al-Muddassir (bahasa Arab:المدشّر) adalah surah ke-74 dalam Alquran.
Surah ini tergolong surah Makkiyah terdiri atas 56 ayat, diturunkan setelah surat Al Muzzammil.
Dinamai Al Muddatstsir (Orang yang berkemul) diambil dari perkataan Al Muddatstsir yang terdapat pada ayat pertama surat ini.

Nomor Surah 74
Nama Surah Al Muddatstsir
Arab المدثر
Arti Orang yang berkemul
Nama lain
Tempat Turun Mekkah
Urutan Wahyu 4
Juz Juz 29
Jumlah ruku’ 2 ruku’
Jumlah ayat 56
Jumlah kata 256
Jumlah huruf 1036
Surah sebelumnya Surah Al-Muzzammil
Surah selanjutnya Surah Al-Qiyamah
Sending
User Review
4.9 (15 suara)
Bagi ke FB
Bagi ke TW
Bagi ke WA
Tags:

74:1, 74 1, 74-1, Surah Al Muddatstsir 1, Tafsir surat AlMuddatstsir 1, Quran Al-Mudatsir 1, Al-Muddatstsir 1, Al Mudasir 1, Al-Muddassir 1, Surah Al Mudasir ayat 1

Video Surah

74:1


Load More

Kandungan Surah Al Muddatstsir

۞ QS. 74:1 • Pertemuan Jibril dan Nabi pada saat awal turun wahyu

۞ QS. 74:3 Ar Rabb (Tuhan)

۞ QS. 74:7 Ar Rabb (Tuhan)

۞ QS. 74:8 • Peniupan sangkakala

۞ QS. 74:9 • Kedahsyatan hari kiamat

۞ QS. 74:10 • Kedahsyatan hari kiamat • Keadaan orang kafir pada hari penghimpunan

۞ QS. 74:11 • Maksiat dan dosa

۞ QS. 74:15 • Keingkaran dan kedurhakaan orang kafir

۞ QS. 74:16 • Sikap manusia terhadap kitab samawi • Keingkaran dan kedurhakaan orang kafir

۞ QS. 74:17 • Maksiat dan dosa

۞ QS. 74:18 • Sikap manusia terhadap kitab samawi • Keingkaran dan kedurhakaan orang kafir

۞ QS. 74:19 • Maksiat dan dosa

۞ QS. 74:20 • Keingkaran dan kedurhakaan orang kafir • Maksiat dan dosa

۞ QS. 74:21 • Sikap manusia terhadap kitab samawi

۞ QS. 74:22 • Sikap manusia terhadap kitab samawi

۞ QS. 74:23 • Sikap manusia terhadap kitab samawi • Keingkaran dan kedurhakaan orang kafir

۞ QS. 74:24 • Sikap manusia terhadap kitab samawi • Keingkaran dan kedurhakaan orang kafir

۞ QS. 74:25 • Sikap manusia terhadap kitab samawi • Keingkaran dan kedurhakaan orang kafir

۞ QS. 74:26 • Nama-nama neraka • Azab orang kafir

۞ QS. 74:27 • Nama-nama neraka • Azab orang kafir

۞ QS. 74:28 • Sifat neraka

۞ QS. 74:29 • Sifat neraka

۞ QS. 74:30 • Tugas-tugas malaikat • Penjaga neraka

۞ QS. 74:31 • Keluasan ilmu Allah • Sifat Masyi’ah (berkehendak) • Ar Rabb (Tuhan) • Tugas-tugas malaikat • Penjaga neraka

۞ QS. 74:35 • Sifat neraka

۞ QS. 74:37 • Mempersiapkan diri menghadapi hari kiamat • Manusia antara memilih dan dipaksa

۞ QS. 74:38 • Menanggung dosa orang lain

۞ QS. 74:39 • Sifat ahli surga

۞ QS. 74:40 • Pahala iman • Percakapan para ahli surga

۞ QS. 74:41 • Azab orang kafir

۞ QS. 74:42 • Percakapan para ahli surga • Nama-nama neraka

۞ QS. 74:43 • Sifat ahli neraka dan kejahatan mereka

۞ QS. 74:44 • Sifat ahli neraka dan kejahatan mereka

۞ QS. 74:45 • Sifat ahli neraka dan kejahatan mereka

۞ QS. 74:46 • Nama-nama hari kiamat • Mengingkari hari kebangkitan • Sifat ahli neraka dan kejahatan mereka

۞ QS. 74:47 • Kematian pasti terjadi pada setiap makhluk hidup

۞ QS. 74:48 • Azab orang kafir

۞ QS. 74:49 • Sikap manusia terhadap kitab samawi • Keingkaran dan kedurhakaan orang kafir

۞ QS. 74:50 • Keingkaran dan kedurhakaan orang kafir

۞ QS. 74:51 • Keingkaran dan kedurhakaan orang kafir

۞ QS. 74:52 • Lembaran catatan amal perbuatan • Keingkaran dan kedurhakaan orang kafir

۞ QS. 74:53 • Mengingkari hari kebangkitan

۞ QS. 74:54 Hikmah penurunan kitab-kitab samawi

۞ QS. 74:55 • Manusia antara memilih dan dipaksa

۞ QS. 74:56 • Ampunan Allah yang luas • Sifat Masyi’ah (berkehendak) • Allah menggerakkan hati manusia • Ampunan Allah dan rahmatNya •

Ayat Pilihan

Adam Alaihis Salam dan istrinya berkata:
“Ya Tuhan kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami & memberi rahmat kepada kami, niscaya pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi.”
QS. Al-A’raf [7]: 23

Kelak kamu (Muhammad) akan melihat & mereka (orang-orang ingkar) akan melihat.
Siapa di antara kamu yang gila.
Sungguh Tuhanmu, Dia Yang Paling Tahu siapa yang sesat dari jalan-Nya, dan Yang Paling Mengetahui orang yang mendapat petunjuk.
QS. Al-Qalam [68]: 5-7

Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan & ucapkanlah:

“Wahai Tuhanku,
kasihilah mereka keduanya,
sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil”.
QS. Al-Isra’ [17]: 24

Allah memperingatkan kamu terhadap siksa-Nya.
Dan Allah sangat Penyayang kepada hamba-hamba-Nya.
QS. Ali ‘Imran [3]: 30

Hadits Shahih

Podcast

Doa Sehari-hari

Soal & Pertanyaan Agama

Alquran adalah keterangan yang jelas untuk semua manusia, dan menjadi petunjuk serta pelajaran bagi orang-orang yang bertakwa. Penjelasan tersebut terdapat dalam surah ...

Correct! Wrong!

Penjelasan:
u06c1u0670u0630u064eu0627 u0628u064eu06ccu064eu0627u0646u064c u0644u0651u0650u0644u0646u0651u064eu0627u0633u0650 u0648u064e u06c1u064fu062fu064bu06cc u0648u0651u064e u0645u064eu0648u06e1u0639u0650u0638u064eu06c3u064c u0644u0651u0650u0644u06e1u0645u064fu062au0651u064eu0642u0650u06ccu06e1u0646u064e

Inilah (Alquran) suatu keterangan yang jelas untuk semua manusia, dan menjadi petunjuk serta pelajaran bagi orang-orang yang bertakwa.
--QS. 3:138

Hukum yang berkaitan dengan perilaku moral manusia dalam kehidupan disebut hukum ...

Correct! Wrong!

Penjelasan:
Hukum Khuluqiyah ini adalah hukum yang berkenaan dengan akhlak juga budi pekerti manusia. Hukum ini mencakup semua sifat-sifat terpuji yang wajib ada dalam diri manusia sebagai hamba Allah Subhanahu Wa Ta`ala terkait hakikat dirinya sebagai makhluk sosial.

Adapun cakupan hukuk khuluqiyah ini seperti moral, adab dan sopan santun, budi pekerti dan perilaku-perilaku yang jauh dari unsur tercela lainnya.

Hukum Khuluqiyah ini adalah salah satu jenis hukum dalam Alquran, adapun jenis hukum lainnya adalah Itiqodiyah dan Amaliyah.

Sumber hukum tertinggi dalam Islam adalah ..

Correct! Wrong!

+

Array

Hukum yang mengatur hubungan manusia dengan Tuhan secara lahiriah, manusia dengan sesama manusia dan orang-orang dengan lingkungannya disebut hukum ...

Correct! Wrong!

Penjelasan:
Hukum Amaliah, yakni hukum yang mengatur secara lahiriah hubungan manusia dengan Allah Subhanahu Wa Ta`ala, antara sesama manusia, serta manusia dengan lingkungannya. Ilmu yang mempelajarinya disebut ilmu fiqih.

Hadits adalah Mubayyin untuk Alquran. Arti dari Mubayyin adalah ..

Correct! Wrong!

Penjelasan:
Arti mubayyin itu menjelaskan, mencerahkan, menerangkan, menjernihkan.

Pendidikan Agama Islam #7
Ingatan kamu cukup bagus untuk menjawab soal-soal ujian sekolah ini.

Pendidikan Agama Islam #7 1

Mantab!! Pertahankan yaa..
Jawaban kamu masih ada yang salah tuh.

Pendidikan Agama Islam #7 2

Belajar lagi yaa...

Share your Results:

Soal Agama Islam

Pendidikan Agama Islam #7

Alquran adalah keterangan yang jelas untuk semua manusia, dan menjadi petunjuk serta pelajaran bagi orang-orang yang bertakwa. Penjelasan tersebut terdapat dalam surah … Hukum yang mengatur hubungan manusia dengan Tuhan secara lahiriah, manusia dengan sesama manusia dan orang-orang dengan lingkungannya disebut hukum … Hukum yang berkaitan dengan perilaku moral manusia dalam kehidupan disebut hukum … Sumber hukum tertinggi dalam Islam adalah ..Hadits adalah Mubayyin untuk Alquran. Arti dari Mubayyin adalah ..

Pendidikan Agama Islam #16

Selain berisi kisah-kisah umat terdahulu, dalam Alquran juga terdapat tamsil sebagai peringatan bagi manusia. Tamsil artinya … Alquran adalah mukjizat terbesar bagi Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Di bawah ini merupakan bukti bahwa Alquran adalah mukjizat yang terbesar adalah … Fungsi utama kandungan Alquran yang menjelaskan kisah umat terdahulu adalah sebagai … Yang berarti ”menggabungkan sesuatu dengan yang lain” adalah lafaz … Al-Lihyaniy berpendapat bahwa Alquran secara etimologi memiliki arti …

Kuis Agama Islam #31

Umat Islam yang mengajarkan ilmunya dengan ikhlas akan memperoleh pahala amal jariyah. Amal jariyah artinya …Ilmu yang bermanfaat adalah …Menyampaikan ajaran Alquran dan sunnah Nabi Muhammad kepada orang lain yang belum mengetahui disebut dengan …Berikut ulama yang berasal dari Indonesia adalah …Sesuatu yang dipercaya dan diyakini kebenaranya oleh hati nurani manusia dinamakan …

Kamus Istilah Islam

Al-Baidhawi

Siapa itu Al-Baidhawi? Al-Imam al-Qadhi al-Mufassir Nashiruddin Abu Sa`id Abu al-Khair Abdullah bin Abi al-Qasim Umar bin Muhammad bin Abi al-Hasan Ali al-Baidlawi asy-Syirazi asy-Syafi`i lahir di al-Baidha’, Persia pada awal abad ke-7 H … • Al Baidawi, Al Baidhawi

Syekh Muhammad Mutawalli Asy-Sya’rawi

Siapa itu Syekh Muhammad Mutawalli Asy-Sya’rawi? Fatwanya menjadi rujukan dunia Islam. Gelar Mujadid Abad ke- 20 tampaknya tidak terlalu berlebihan jika disandangkan untuk sosok Syekh Sya’rawi. Tokoh yang memiliki nama lengkap Syekh Muhammad Mutawalli Asy-Sya’rawi ini adalah satu dari sekian ulama dunia yang cukup berpengaruh pada abad ke-20, baik dalam bidang keagamaan, sosial, maupun politik i … • Asy Sya’rawi, Asy Sya’rawi

Muhammad Ali Ash Shabuni

Siapa itu Muhammad Ali Ash Shabuni? Prof. DR. Muhammad Ali ash-Shabuni (محمد علي الصابوني‎, lahir di Aleppo, Suriah, 1 Januari 1930; adalah seorang mufassir dan ulama yang berasal dari Suriah, dan merupakah salah seorang Guru Besar ilmu tafsir di Umm Al-Qura University, Makkah, Saudi Arabia. … • Muhammad Ali As Sabbuni, Muhammad Ali As Shobuni