Search
Generic filters
Cari Kategori
🙏 Pilih semua
Quran
Hadits
Kamus
Podcast
Soal Agama
Artikel, Doa, dll.

QS. Al Muddatstsir (Orang yang berkemul) - surah 74 ayat 1 [QS. 74:1]

یٰۤاَیُّہَا الۡمُدَّثِّرُ ۙ
Yaa ai-yuhaal muddats-tsir(u);
Wahai orang yang berkemul (berselimut)!
―QS. Al Muddatstsir [74]: 1

Daftar isi

O you who covers himself (with a garment),
― Chapter 74. Surah Al Muddatstsir [verse 1]

يَٰٓأَيُّهَا wahai

O you
ٱلْمُدَّثِّرُ orang yang berkemul

who covers himself!

Tafsir Quran

Surah Al Muddatstsir
74:1

Tafsir QS. Al-Muddatsir (74) : 1. Oleh Kementrian Agama RI

Dalam ayat 1-2 disebutkan bahwa Nabi Muhammad sedang berselubung dengan selimut karena diliputi perasaan takut melihat rupa Malaikat Jibril, lalu turunlah wahyu yang memerintahkan agar segera bangun dan memperingatkan umat yang masih sesat itu supaya mereka mengenal jalan yang benar.

Perkataan
"qum"
(bangunlah) menunjukkan bahwa seorang rasul harus rajin, ulet, dan tidak mengenal putus asa karena ejekan orang yang tidak senang menerima seruannya.

Rasul tidak boleh malas dan berpangku tangan.
Semenjak ayat ini turun, Nabi Muhammad tidak pernah berhenti melaksanakan tugas dakwah.

Sepanjang hidupnya diisi dengan berbagai macam kegiatan yang berguna bagi kepentingan umat dan penyiaran agama Islam.

Peringatan-peringatan yang beliau sampaikan kepada penduduk Mekah yang masih musyrik pada waktu itu, berupa kedahsyatan siksaan Allah di hari Kiamat kelak.

Untuk menyelamatkan diri dari azab tersebut, manusia hendaknya mengenal Allah dan patuh mengikuti perintah Rasul ﷺ.

Tafsir QS. Al Muddatstsir (74) : 1. Oleh Muhammad Quraish Shihab:


Wahai orang yang melipat diri dengan selimut, bangunlah dari tidurmu.
Peringatkanlah umat manusia tentang azab Allah yang akan ditimpakan bagi mereka yang tidak beriman.


Agungkanlah Tuhanmu dan sucikanlah pakaianmu dari kotoran dengan menggunakan air.

Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:


Wahai orang yang berselimut dengan pakaiannya, bangunlah dari pembaringanmu.
Berilah peringatan kepada manusia akan azab Allah.


Khususkanlah Tuhanmu semata dengan mengagungkan, mengesakan, dan menyembah-Nya.
Sucikanlah pakaianmu dari berbagai macam najis karena sempurnanya kebersihan lahir adalah sempurnanya kebersihan batin.


Teruslah meninggalkan sesembahan dan berhala.
Tinggalkanlah semua perbuatan syirik.


Janganlah mendekatinya dan janganlah engkau memberikan sesuatu karena berharap mendapatkan sesuatu yang lebih banyak.
Berharaplah karena ridha Tuhanmu lalu bersabarlah atas perintah dan larangan-Nya.

Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:



(Hai orang yang berselimut!) yakni Nabi ﷺ Bentuk asal lafal al-muddatstsir ialah al-mutadatstsir, kemudian huruf ta diidgamkan kepada huruf dal sehingga jadilah al-Muddatstsir, artinya orang yang menyelimuti dirinya dengan pakaiannya sewaktu wahyu turun kepadanya.

Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Di dalam kitab Sahih Bukhari disebutkan melalui hadis Yahya ibnu Abu Kasir, dari Abu Salamah, dari Jabir;
ia pernah mengatakan bahwa ayat Alquran yang mula-mula diturunkan adalah firman-Nya:
Hai orang yang berkemul (berselimut).
(QS. Al-Muddatsir [74]: 1)

Tetapi jumhur ulama berbeda.
Mereka berpendapat bahwa Alquran yang mula-mula diturunkan adalah firman Allah subhanahu wa ta’ala:

Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan.
(QS. Al-‘Alaq [96]: 1)

Sebagaimana yang akan diterangkan di tempatnya, insya Allah.


Imam Bukhari mengatakan, telah menceritakan kepada kami Yahya, telah menceritakan kepada kami Waki’, dari Ali ibnul Mubarak, dari Yahya ibnu Abu Kasiryang mengatakan bahwa ia pernah bertanya kepada Abu Salamah ibnu Abdur Rahman tentang ayat Alquran yang mula-mula diturunkan.
Maka Abu Salamah menjawab dengan membaca firman-Nya:
Hai orang yang berkemul (berselimut).
(QS. Al-Muddatsir [74]: 1)
Aku berkata, bahwa orang-orang menyebutnya:
Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan.
(QS. Al-‘Alaq [96]: 1)
Maka Abu Salamah menjawab, bahwa ia pernah bertanya kepada Jabir ibnu Abdullah tentang masalah ini, dan kukatakan kepadanya apa yang telah kamu katakan kepadaku.
Lalu ia menjawab, bahwa ia tidak sekali-kali menceritakan hadis kepadaku melainkan apa yang pernah dikatakan oleh Rasulullah ﷺ kepadanya.
Rasulullah ﷺ bersabda,
"Aku ber-tahannus di Gua Hira.
Setelah aku menyelesaikan tahannus-ku, lalu aku turun, dan tiba-tiba terdengar ada suara yang memanggilku.
Aku menoleh ke arah kanan dan ternyata tidak melihat apa pun;
dan aku menoleh ke arah kiriku, tetapi ternyata tidak kulihat sesuatu pun;
dan aku memandang ke arah depanku, ternyata tidak ada apa-apa;
begitu pula sewaktu aku memandang ke arah belakangku.
Lalu aku mengarahkan pandanganku ke langit, dan ternyata kulihat sesuatu (yang menakutkan, karena Jibril menampakkan dirinya dalam rupa aslinya).
Maka aku pulang ke rumah Khadijah dan kukatakan kepadanya, ‘Selimutilah aku, dan tuangkanlah air dingin ke kepalaku (kompreslah aku)’."
Nabi ﷺ melanjutkan kisahnya, bahwa lalu mereka (keluarga beliau) menyelimuti diriku dan mengompres kepalaku, maka turunlah firman Allah subhanahu wa ta’ala:
Hai orang yang berkemul (berselimut), bangunlah, lalu berilah peringatan! Dan Tuhanmu agungkanlah.
(QS. Al-Muddatsir [74]: 1-3)

Demikianlah menurut riwayat Imam Bukhari melalui jalur ini.


Imam Muslim meriwayatkannya melalui jalur Aqil, dari Ibnu Syihab, dari Abu Salamah yang mengatakan bahwa telah menceritakan kepadaku Jabir ibnu Abdullah, ia pernah mendengar Rasulullah ﷺ menceritakan tentang masa terhentinya wahyu.
Antara lain disebutkan, bahwa ketika aku sedang berjalan, tiba-tiba aku mendengar suara dari langit, maka aku melihat ke arah langit.
Tiba-tiba malaikat yang pernah datang kepadaku di Hira datang kepadaku duduk di atas sebuah kursi di antara langit dan bumi, maka aku merasa takut dengannya hingga aku terjatuh ke tanah.
Kemudian aku pulang ke rumah keluargaku dan kukatakan,
"Selimutilah aku, selimutilah aku, selimutilah aku,"
maka turunlah firman Allah subhanahu wa ta’ala:
Hai orang yang berkemul (berselimut), bangunlah, lalu berilah peringatan! (QS. Al-Muddatsir [74]: 1-2)
sampai dengan firman-Nya:
dan perbuatan dosa, tinggalkanlah.
(QS. Al-Muddatsir [74]: 5)


Abu Salamah mengatakan bahwa ar-rijzu artinya penyembahan berhala, setelah itu wahyu sering datang dan berturut-turut.
Konteks hadis inilah yang dikenal, dan ini memberikan pengertian bahwa sesungguhnya pernah turun wahyu sebelum itu, karena sabda Nabi ﷺ yang mengatakan:
maka kulihat malaikat yang pernah mendatangiku di Hira.
Dia adalah Malaikat Jibril yang saat itu datang kepadanya membawa firman Allah subhanahu wa ta’ala:
Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang Menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari ‘alaq.
Bacalah dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah, Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan qalam.
Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.
(QS. Al-‘Alaq [96]: 1-5)

Sesudah itu terjadi masa fatrah dari wahyu, lalu malaikat itu turun lagi kepadanya setelah masa fatrah.

Pengertian gabungan kedua hadis tersebut dapat disimpulkan sebagai berikut, bahwa wahyu yang mula-mula diturunkan sesudah beberapa lama wahyu tidak turun adalah surat ini (QS. Al-Muzzammil).


Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Hajjaj, telah menceritakan kepada kami Lais, telah menceritakan kepada kami Aqil, dari Ibnu Syihab yang mengatakan bahwa ia pernah mendengar Abu Salamah ibnu Abdur Rahman mengatakan bahwa telah menceritakan kepadaku Jabir ibnu Abdullah, bahwa ia pernah mendengar Rasulullah ﷺ bersabda:
Kemudian wahyu mengalami fatrah dariku selama satu masa, Dan ketika aku sedang berjalan, kudengar suara dari langit (memanggilku), maka aku mengarahkan pandanganku ke langit.
Tiba-tiba aku melihat malaikat yang pernah datang kepadaku sedang duduk di atas kursi di antara langit dan bumi, maka tubuhku gemetar karenanya hingga aku terjatuh ke tanah.
Lalu aku pulang ke rumah keluargaku dan kukatakan kepada mereka,
"Selimutilah aku, selimutilah aku, selimutilah aku."
Maka Allah subhanahu wa ta’ala menurunkan firman-Nya,
"Hai orang yang berkemul, bangunlah, lalu berilah peringatan! Dan Tuhanmu agangkanlah, dan pakaianmu bersihkanlah, dan perbuatan dosa tinggalkanlah."
(QS. Al-Muddatsir [74]: 1 -5).
Kemudian wahyu datang lagi dengan berturut-turut.

Bukhari dan Muslim mengetengahkan hadis ini melalui Az-Zuhri dengan sanad yang sama.

Imam Tabrani mengatakan, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Ali ibnu Syu’aib As-Simsar, telah menceritakan kepada kami Al-Hasan ibnu Bisyr Al-Bajali, telah menceritakan kepada kami Al-Mu’afa ibnu Imran, dari Ibrahim ibnu Yazid yang mengatakan bahwa ia pernah mendengar Ibnu Abbas mengatakan, bahwa sesungguhnya Al-Walid ibnul Mugirah membuat jamuan makan untuk orang-orang Quraisy.
Maka setelah mereka menyantap jamuan itu Al-Walid bertanya kepada mereka,
"Bagaimanakah pendapat kalian dengan lelaki ini (maksudnya Nabi ﷺ)?"
Sebagian dari mereka mengatakan seorang penyihir, sebagian yang lain mengatakan bukan seorang penyihir.
Dan sebagian yang lainnya lagi mengatakan seorang tukang tenung, maka sebagian yang lainnya menjawab bukan seorang tukang tenung.
Sebagian dari mereka ada yang mengatakan seorang penyair, dan sebagian yang lainnya menjawabnya bukan seorang penyair.
Lalu sebagian dari mereka ada yang mengatakan bahwa bahkan dia adalah seorang penyihir yang belajar (dari orang-orang dahulu).
Akhirnya mereka sepakat menyebutnya sebagai seorang penyihir yang belajar dari orang-orang dahulu.
Ketika berita tersebut sampai kepada Nabi ﷺ, maka hati beliau berduka cita dan menundukkan kepalanya serta menyelimuti dirinya.
Maka Allah menurunkan firman-Nya:
Hai orang yang berkemul (berselimut), bangunlah, lalu berilah peringatan! Dan Tuhanmu agungkanlah, dan pakaianmu bersihkanlah, dan perbuatan dosa (menyembah berhala) tinggalkanlah, dan janganlah kamu memberi (dengan maksud) memperoleh (balasan) yang lebih banyak.
Dan untuk (memenuhi perintah) Tuhanmu bersabarlah.
(QS. Al-Muddatsir [74]: 1-7)

Sebab-Sebab Diturunkannya Surah Al Muddatstsir (74) Ayat 1

Diriwayatkan oleh asy-Syaikhoon (al-Bukhori dan Muslim) yang bersumber dari Jabir bahwa Rasulullah ﷺ bersabda: “Ketika aku telah selesai uzlah-selama sebulan di gua Hira-, aku turun ke lembah.
Sesampainya ke tengah lembah, ada yang memanggilku, tetapi aku tidak melihat seorangpun di sana.
Aku menengadahkan kepala ke langit.
Tiba-tiba aku melihat malaikat yang pernah mendatangiku di Gua Hira.
Aku cepat-cepat pulang dan berkata (kepada orang rumah): “Selimuti aku ! Selimuti aku !” Maka turunlah ayat ini (Al-Muddatstsir: 1-2) sebagai perintah untuk menyingsingkan selimut dan berdakwah.

Diriwayatkan ole hath-Thabarani dengan sanad yang daif, yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas bahwa al-Walid bin al-Mughirah membuat makanan untuk kaum Quraisy.
Ketika mereka makan-makan, al Walid berkata kepada teman-temannya: “Nama apa yang pantas kalian berikan kepada orang seperti ini (Muhammad) ?” sebagian mereka berkata “Saahir (tukang sihir).” Yang lainnya berkata: “Dia bukan tukang sihir.” Sebagian mereka berkata :”Kaahin (tukang tenung)”

Yang lainnya berkata : “Dia bukan tukang tenung.” Sebagian mereka berkata: “Syaa’ir (tukang syair).” Yang lainnya berkata: “Dia bukan tukang syair.” Yang lainnya berkata lagi: “Dia mempunyai sihir yang membekas (kepada orang lain).” Semua pembicaraan itu sampai kepada Nabi ﷺ sehingga beliaupun merasa sedih.
Beliau mengikat kepalanya serta berselimut.
Maka Allah menurunkan ayat-ayat ini (Al-Muddatstsir: 1-7) sebagai perintah untuk menyingsingkan baju dan berdakwah.

Sumber : Asbabun Nuzul – K.H.Q Shaleh – H.A.A Dahlan dkk.

Hadits Shahih Yang Berhubungan Dengan Surah Al Muddatstsir (74) ayat 1

Telah bercerita kepada kami Abdullah bin Yusuf telah mengabarkan kepada kami Al Laits berkata telah bercerita kepadaku Uqail dari Ibnu Syihab berkata aku mendengar Abu Salamah berkata telah mengabarkan kepadaku Jabir bin Abdullah ra. bahwa dia mendengar Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda:
Kemudian wahyu berhenti turun kepadaku pada masa tertentu hingga ketika aku sedang berjalan, aku mendengar suara dari langit. Maka aku mengarahkan pandanganku menghadap langit yang ternyata ada malaikat yang pernah datang kepadaku di gua Hira sedang duduk di atas Kursiy antara langit dan bumi. Aku menjadi sangat takut karenanya hingga aku ingin lepas dari bumi. Lalu aku mendatangi keluargaku sambil mengatakan, Selimuti aku, selimuti aku. Maka kemudian Allah Ta’ala menurunkan firman-Nya (QS al-Mudatstsir ayat 1 – 5) yang artinya Wahai orang yang berselimut, bangun dan berilah peringatan) hingga frman-Nya (Dan perbuatan dosa jauhilah. Abu Salanah berkata,
ar-Rujza artinya berhalaberhala.

Shahih Bukhari, Kitab Permulaan Penciptaan Makhluq – Nomor Hadits: 2999

Unsur Pokok Surah Al Muddatstsir (المدثر)

Surat Al Muddaststsir terdiri atas 56 ayat, termasuk golongan surat-surat Makkiyyah, diturunkan sesudah surat Al Muzzammil.

Dinamai "Al Muddatstsir" (orang yang berkemul) diambil dari perkataan "Al Muddatstsir" yang terdapat pada ayat pertama surat ini.

Keimanan:

▪ Perintah untuk mulai berdakwah mengagungkan Allah.
▪ Membersihkan pakaian.
▪ Menjauhi maksiat.
▪ Memberikan sesuatu dengan ikhlas dan bersabar dalam menjalankan perintah dan menjauhi larangan Allah.
▪ Allah akan mengazab orang-orang yang menentang Nabi Muhammad ﷺ dan mendustakan Alquran.
▪ Tiap-tiap manusia terikat dengan apa yang telah ia usahakan.

Ayat-ayat dalam Surah Al Muddatstsir (56 ayat)

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48 49 50 51 52 53 54 55 56

Lihat surah lainnya

Audio Murottal

QS. Al-Muddatstsir (74) : 1-56 ⊸ Misyari Rasyid Alafasy
Ayat 1 sampai 56 + Terjemahan Indonesia



QS. Al-Muddatstsir (74) : 1-56 ⊸ Nabil ar-Rifa’i
Ayat 1 sampai 56

Gambar Kutipan Ayat

Surah Al Muddatstsir ayat 1 - Gambar 1 Surah Al Muddatstsir ayat 1 - Gambar 2
Statistik QS. 74:1
  • Rating RisalahMuslim
4.9

Ayat ini terdapat dalam surah Al Muddatstsir.

Surah Al-Muddassir (bahasa Arab:المدشّر) adalah surah ke-74 dalam Alquran.
Surah ini tergolong surah Makkiyah terdiri atas 56 ayat, diturunkan setelah surat Al Muzzammil.
Dinamai Al Muddatstsir (Orang yang berkemul) diambil dari perkataan Al Muddatstsir yang terdapat pada ayat pertama surat ini.

Nomor Surah 74
Nama Surah Al Muddatstsir
Arab المدثر
Arti Orang yang berkemul
Nama lain
Tempat Turun Mekkah
Urutan Wahyu 4
Juz Juz 29
Jumlah ruku’ 2 ruku’
Jumlah ayat 56
Jumlah kata 256
Jumlah huruf 1036
Surah sebelumnya Surah Al-Muzzammil
Surah selanjutnya Surah Al-Qiyamah
Sending
User Review
4.9 (15 suara)
Bagi ke FB
Bagi ke TW
Bagi ke WA
Tags:

74:1, 74 1, 74-1, Surah Al Muddatstsir 1, Tafsir surat AlMuddatstsir 1, Quran Al-Mudatsir 1, Al-Muddatstsir 1, Al Mudasir 1, Al-Muddassir 1, Surah Al Mudasir ayat 1

Video Surah

74:1


More Videos

Kandungan Surah Al Muddatstsir

۞ QS. 74:1 • Pertemuan Jibril dan Nabi pada saat awal turun wahyu

۞ QS. 74:3 Ar Rabb (Tuhan)

۞ QS. 74:7 Ar Rabb (Tuhan)

۞ QS. 74:8 • Peniupan sangkakala

۞ QS. 74:9 • Kedahsyatan hari kiamat

۞ QS. 74:10 • Kedahsyatan hari kiamat • Keadaan orang kafir pada hari penghimpunan

۞ QS. 74:11 • Maksiat dan dosa

۞ QS. 74:15 • Keingkaran dan kedurhakaan orang kafir

۞ QS. 74:16 • Sikap manusia terhadap kitab samawi • Keingkaran dan kedurhakaan orang kafir

۞ QS. 74:17 • Maksiat dan dosa

۞ QS. 74:18 • Sikap manusia terhadap kitab samawi • Keingkaran dan kedurhakaan orang kafir

۞ QS. 74:19 • Maksiat dan dosa

۞ QS. 74:20 • Keingkaran dan kedurhakaan orang kafir • Maksiat dan dosa

۞ QS. 74:21 • Sikap manusia terhadap kitab samawi

۞ QS. 74:22 • Sikap manusia terhadap kitab samawi

۞ QS. 74:23 • Sikap manusia terhadap kitab samawi • Keingkaran dan kedurhakaan orang kafir

۞ QS. 74:24 • Sikap manusia terhadap kitab samawi • Keingkaran dan kedurhakaan orang kafir

۞ QS. 74:25 • Sikap manusia terhadap kitab samawi • Keingkaran dan kedurhakaan orang kafir

۞ QS. 74:26 • Nama-nama neraka • Azab orang kafir

۞ QS. 74:27 • Nama-nama neraka • Azab orang kafir

۞ QS. 74:28 • Sifat neraka

۞ QS. 74:29 • Sifat neraka

۞ QS. 74:30 • Tugas-tugas malaikat • Penjaga neraka

۞ QS. 74:31 • Keluasan ilmu Allah • Sifat Masyi’ah (berkehendak) • Ar Rabb (Tuhan) • Tugas-tugas malaikat • Penjaga neraka

۞ QS. 74:35 • Sifat neraka

۞ QS. 74:37 • Mempersiapkan diri menghadapi hari kiamat • Manusia antara memilih dan dipaksa

۞ QS. 74:38 • Menanggung dosa orang lain

۞ QS. 74:39 • Sifat ahli surga

۞ QS. 74:40 • Pahala iman • Percakapan para ahli surga

۞ QS. 74:41 • Azab orang kafir

۞ QS. 74:42 • Percakapan para ahli surga • Nama-nama neraka

۞ QS. 74:43 • Sifat ahli neraka dan kejahatan mereka

۞ QS. 74:44 • Sifat ahli neraka dan kejahatan mereka

۞ QS. 74:45 • Sifat ahli neraka dan kejahatan mereka

۞ QS. 74:46 • Nama-nama hari kiamat • Mengingkari hari kebangkitan • Sifat ahli neraka dan kejahatan mereka

۞ QS. 74:47 • Kematian pasti terjadi pada setiap makhluk hidup

۞ QS. 74:48 • Azab orang kafir

۞ QS. 74:49 • Sikap manusia terhadap kitab samawi • Keingkaran dan kedurhakaan orang kafir

۞ QS. 74:50 • Keingkaran dan kedurhakaan orang kafir

۞ QS. 74:51 • Keingkaran dan kedurhakaan orang kafir

۞ QS. 74:52 • Lembaran catatan amal perbuatan • Keingkaran dan kedurhakaan orang kafir

۞ QS. 74:53 • Mengingkari hari kebangkitan

۞ QS. 74:54 Hikmah penurunan kitab-kitab samawi

۞ QS. 74:55 • Manusia antara memilih dan dipaksa

۞ QS. 74:56 • Ampunan Allah yang luas • Sifat Masyi’ah (berkehendak) • Allah menggerakkan hati manusia • Ampunan Allah dan rahmatNya •

Ayat Pilihan

Dan di antara manusia (ada) orang yang mempergunakan perkataan yang tidak berguna untuk menyesatkan (manusia) dari jalan Allah tanpa pengetahuan & menjadikan jalan Allah itu olok-olokan.
Mereka itu akan memperoleh azab yang menghinakan.
QS. Luqman [31]: 6

Hai orang-orang yang beriman,
janganlah kamu mengkhianati Allah & Rasul (Muhammad) & (juga) janganlah kamu mengkhianati amanat-amanat yang dipercayakan kepadamu,
sedang kamu mengetahui.
QS. Al-Anfal [8]: 27

Dan barang siapa yang memelihara kehidupan seorang manusia,
maka seolah-olah dia telah memelihara kehidupan manusia semuanya.
QS. Al-Ma’idah [5]: 32

Maka bertasbihlah kepada Allah di waktu kamu berada di petang hari & waktu kamu berada di waktu subuh,
QS. Ar-Rum [30]: 17

Hadits Shahih

Podcast

Doa Sehari-hari

Soal & Pertanyaan Agama

Dalam Alquran, surah Ad-Dhuha turun setelah surah ...

Correct! Wrong!

وَالَّيْلِ اِذَا سَجٰىۙ

Dalam surah Ad-Duha, terjemahan dari lafal di atas adalah ...

Correct! Wrong!

Penjelasan:
وَالَّيْلِ اِذَا سَجٰىۙ
'dan demi malam apabila telah sunyi,'
--QS. As-Duha [93] : 2

اَلَمْ يَجِدْكَ يَتِيْمًا فَاٰوٰىۖ

lafal tersebut adalah surah Ad-Dhuha ayat ke- ...

Correct! Wrong!

Penjelasan:
Alquran Surah Ad-Dhuha Ayat 6:
أَلَمْ يَجِدْكَ يَتِيمًا فَـَٔاوَىٰ

Arti:
Bukankah Dia mendapatimu sebagai seorang yatim, lalu Dia melindungimu?

+

Array

Kata berikut yang mempunyai arti orang yang meminta-minta adalah ...

Correct! Wrong!

Surah Ad-Dhuha termasuk kategori surah ...

Correct! Wrong!

Penjelasan:
Surah Ad-Duha (الضحى) adalah surah ke-93 dalam Alquran dan terdiri atas 11 ayat. Surah ini termasuk golongan surah Makkiyah dan diturunkan sesudah surah Al-Fajr.
Nama Adh Dhuhaa diambil dari kata yang terdapat pada ayat pertama, yang artinya 'waktu matahari sepenggalahan naik'.

Pendidikan Agama Islam #17
Ingatan kamu cukup bagus untuk menjawab soal-soal ujian sekolah ini.

Pendidikan Agama Islam #17 1

Mantab!! Pertahankan yaa..
Jawaban kamu masih ada yang salah tuh.

Pendidikan Agama Islam #17 2

Belajar lagi yaa...

Share your Results:

Soal Agama Islam

Pendidikan Agama Islam #22

Karena rajin belajar maka Afit selalu juara dalam setiap perlombaan antar sekolah, pernyataan tersebut merupakan contoh … Takdir yang bisa diubah dinamakan … Salah satu contoh takdir muallaq (bisa diubah) adalah … Matahari berputar mengelilingi sumbunya, termasuk contoh takdir … Yang tidak termasuk cara beriman kepada qada dan qadar Allah adalah …

Pendidikan Agama Islam #14

Ketika Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam masih remaja, baginda telah bekerja mengambil upah sebagai pengembala binatang ternak. Apakah binatang tersebut? … Dalam Islam, teladan yang baik disebut juga dengan istilah … Dalam Islam, pengendalian diri atau kontrol terhadap diri, disebut juga dengan … Pengertian Mujahadah An-Nafs adalah … Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda bahwa berjihad (berjuang) yang paling utama adalah melawan …

Pendidikan Agama Islam #3

Pembatasan aurat wanita adalah … Berikut ini yang bukan termasuk orang-orang pertama yang menyambut ajakan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah … Dalam Islam, pakaian harus … Sebelum berpakaian, kita harus … Bagian tubuh yang tidak ditampakkan sesuai dengan ajaran Islam disebut …

Kamus Istilah Islam

Al Waarits

Apa itu Al Waarits? Allah itu Al-Warits ◀ Artinya adalah Allah itu Yang Maha Mewarisi. Dialah pemilik hakiki, manusia dan makhluk lainnya hanyalah sebagai tamu dan penerima pinjaman, yang namanya t...

mudarat

Apa itu mudarat? mu.da.rat sesuatu yang tidak menguntungkan; rugi; keru-gian; memberi mudarat; tidak berhasil; gagal; merugikan; tidak berguna; pekerjaan yang mudarat itu sebaiknya kautinggalkan sa...

Al Mutakabbir

Apa itu Al Mutakabbir? Allah itu Al-Mutakabbir ◀ Allah itu adalah pemilik dari segala keagungan, sehingga Dia disebut juga dengan Al-Mutakabbir. Segala kebesaran, kekuasaan dan segala keagungan yan...