QS. Al Maa’un (Barang-barang yang berguna) – surah 107 ayat 7 [QS. 107:7]

وَ یَمۡنَعُوۡنَ الۡمَاعُوۡنَ
Wayamna’uunal maa’uun(a);

dan enggan (menolong dengan) barang berguna.
―QS. 107:7
Topik ▪ Setiap nabi menerima ujian
107:7, 107 7, 107-7, Al Maa’un 7, AlMaaun 7, AlMaun 7, Al Maun 7, Al-Ma’un 7

Tafsir surah Al Maa'un (107) ayat 7

Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. Al Maa’un (107) : 7. Oleh Kementrian Agama RI

Dalam ayat ini Allah menambahkan lagi sifat pendusta itu yaitu; mereka tidak mau memberikan barang-barang yang diperlukan oleh orang-orang yang membutuhkannya, sedang barang itu tak pantas ditahan, seperti periuk, kapak, cangkul dan lain-lain.
Penahanan barang-barang tersebut mencerminkan kerendahan budi.

Keadaan orang yang membesarkan agama berbeda dengan keadaan orang yang mendustakan agama, karena yang pertama tampak dalam tata hidupnya yang jujur.
Adil, kasih sayang, pemurah dan lain-lain.

Sedangkan sifat pendusta agama ialah ria, curang, aniaya, takabur, kikir, memandang rendah orang lain, tidak mementingkan yang lain kecuali dirinya sendiri, bangga dengan harta dan kedudukan serta tidak mau mengeluarkan sebahagian dari hartanya, baik untuk keperluan perseorangan maupun untuk masyarakat.

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Dan orang-orang yang menolak memberi kebaikan dan pertolongan kepada orang lain.

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(Dan enggan menolong dengan barang yang berguna) artinya tidak mau meminjamkan barang-barang miliknya yang diperlukan orang lain, apalagi memberikannya, seperti jarum, kapak, kuali, mangkok dan sebagainya.

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

dan enggan (menolong dengan) barang berguna.
(Q.S. Al-Ma’un [107]: 7)

Yakni mereka tidak menyembah Tuhan mereka dengan baik dan tidak pula mau berbuat baik dengan sesama makhluk-Nya, hingga tidak pula memperkenankan dipinjam sesuatunya yang bermanfaat dan tidak mau menolong orang lain dengannya, padahal barangnya masih utuh; setelah selesai, dikembalikan lagi kepada mereka.
Dan orang-orang yang bersifat demikian benar-benar lebih menolak untuk menunaikan zakat dan berbagai macam amal kebajikan untuk mendekatkan diri kepada Allah subhanahu wa ta’ala

Ibnu Abu Najih telah meriwayatkan dari Mujahid, bahwa Ali pernah mengatakan bahwa yang dimaksud dengan al-ma’un ialah zakat.
Hal yang sama telah diriwayatkan oleh As-Saddi, dari Abu Saleh, dari Ali.
Hal yang sama telah diriwayatkan melalui berbagai jalurdari Ibnu Umar.
Hal yang sama dikatakan oleh Muhammad ibnul Hanafiah, Sa’id ibnu Jubair, Ikrimah, Mujahid, Ata, Atiyyah Al-Aufi, Az-Zuhri, Al-Hasan, Qatadah, Ad-Dahhak, dan Ibnu Zaid.

Al-Hasan Al-Basri telah mengatakan bahwa jika dia salat pamer dan jika terlewatkan dari salatnya, ia tidak menyesal dan tidak mau memberi zakat hartanya; demikianlah makna yang dimaksud.
Menurut riwayat yang lain, ia tidak mau memberi sedekah hartanya.

Zaid ibnu Aslam mengatakan bahwa mereka adalah orang-orang munafik; mengingat salat adalah hal yang kelihatan,’maka mereka mengerjakannya; sedangkan zakat adalah hal yang tersembunyi, maka mereka tidak menunaikannya.

Al-A’masy dan Syu’bah telah meriwayatkan dari Al-Hakam, dari Yahya ibnul Kharraz, bahwa Abul Abidin pernah bertanya kepada Abdullah ibnu Mas’ud tentang makna al-ma’un, maka ia menjawab bahwa makna yang dimaksud ialah sesuatu yang biasa dipinjam-meminjamkan di antara orang-orang, seperti kapak dan panci.

Al-Mas’udi telah meriwayatkan dari Salamah ibnu Kahil, dari Abul Abidin, bahwa ia pernah bertanya kepada Ibnu Mas’ud tentang makna al-ma’un, maka ia menjawab bahwa makna yang dimaksud ialah sesuatu yang biasa dipinjam-meminjamkan di antara sesama orang, seperti kapak, panci, timba, dan lain sebagainya yang serupa.

Ibnu jarir mengatakan, telah menceritakan kepadaku Muhammad ibnu Ubaid Al-Muharibi, telah menceritakan kepada kami Abul Ahwas, dari Abu Ishaq, dari Abul Abidin dan Sa’d ibnu Iyad, dari Abdullah yang mengatakan bahwa dahulu kami para sahabat Nabi Muhammad ﷺ membicarakan makna al-ma’un, bahwa yang dimaksud adalah timba, kapak, dan panci yang biasa digunakan.
Telah menceritakan pula kepada kami Khallad ibnu Aslam, telah menceritakan kepada kami An-Nadr ibnu Syamil, telah menceritakan kepada kami Syu’bah, dari Abu Ishaq yang mengatakan bahwa ia pernah mendengar Sa’d ibnu Iyad menceritakan hal yang sama dari sahabat-sahabat Nabi ﷺ

Al-A’masy telah meriwayatkan dari ibrahim, dari Al-Haris ibnu Suwaid, dari Abdullah, bahwa ia pernah ditanya tentang makna al-ma’un.
Maka ia menjawab, bahwa yang dimaksud adalah sesuatu yang biasa saling dipinjamkan di antara orang-orang, seperti kapak, timba, dan lain sebagainya yang semisal.

Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepada kami Amr ibnul Ala Al-Fallas, telah menceritakan kepada kami Abu Daud At-Tayalisi, telah menceritakan kepada kami Abu Uwwanah, dari Asim ibnu Bahdalah, dari Abu Wa-il, dari Abdullah yang mengatakan bahwa kami di masa Nabi ﷺ mengatakan bahwa yang dimaksud dengan al-ma’un ialah timba dan lain sebagainya yang sejenis, yakni tidak mau meminjamkannya kepada orang yang mau meminjamnya.

Abu Daud dan Nasai telah meriwayatkan hal yang semisal dari Qutaibah, dari Abu Uwwanah berikut sanadnya.
Menurut lafaz Imam Nasai, dari Abdullah, setiap kebajikan adalah sedekah.
Dan kami di masa Rasulullah ﷺ menganggap bahwa al-ma’un artinya meminjamkan timba dan panci.

Ibnu Abu hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami ayahku, telah menceritakan kepada kami Affan, telah menceritakan kepada kami Hammad ibnu Salamah, dari Asim, dari Zurr, dari Abdullah yang mengatakan bahwa al-ma’un artinya barang-barang yang dapat dipinjam-pinjamkan, seperti panci, timbangan, dan timba.

Ibnu Abu Najih telah meriwayatkan dari Mujahid, dari Ibnu Abbas sehubungan dengan makna firman-Nya: dan enggan (menolong dengan) barang berguna.
(Q.S. Al-Ma’un [107]: 7) Yakni peralatan rumah tangga.
Hal yang sama telah dikatakan oleh Mujahid, Ibrahim An-Nakha’i, Sai’id ibnu Jubair, Abu Malik, dan lain-lainnya yang bukan hanya seorang, bahwa sesungguhnya makna yang dimaksud ialah meminjamkan peralatan rumah tangga (dapur).

Lais ibnu Abu Sulaim telah meriwayatkan dari Mujahid, dari Ibnu Abbas sehubungan dengan makna firman-Nya: dan enggan (menolong dengan) barang berguna.
(Q.S. Al-Ma’un [107]: 7) Bahwa orang-orang yang disebutkan dalam ayat ini masih belum tiba masanya.

Al-Aufi telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas sehubungan dengan makna firman-Nya: dan enggan (menolong dengan) barang berguna.
(Q.S. Al-Ma’un [107]: 7)

Ulama berbeda pendapat mengenai maknanya; di antara mereka ada yang mengatakan enggan mengeluarkan zakat, ada yang mengatakan enggan mengerjakan ketaatan, dan ada yang mengatakan enggan memberi pinjaman.
Demikianlah menurut apa yang telah diriwayatkan oleh Ibnu Jarir.

Kemudian Ibnu Jarir meriwayatkan dari Ya’qub ibnu Ibrahim, dari Ibnu Aliyyah, dari Lais ibnu Abu Sulaim, dari Abu Ishaq, dari Al-Haris ibnu Ali, bahwa makna yang dimaksud dengan ayat ini ialah enggan meminjamkan kapak, panci, dan timba kepada orang lain yang memerlu-kannya.

Ikrimah mengatakan bahwa puncak al-ma’un ialah zakatul mal, sedangkan yang paling rendahnya ialah tidak mau meminjamkan ayakan, timba, dan jarum.
Demikianlah menurut apa yang diriwayatkan oleh Ibnu Abu Hatim.
Pendapat yang dikemukakan oleh Ikrimah ini baik, karena sesungguhnya pendapatnya ini mencakup semua pendapat yang sebelumnya, dan semuanya bertitik tolak dari suatu hal, yaitu tidak mau bantu-membantu baik dengan materi maupun jasa (manfaat).

Karena itulah disebutkan oleh Muhammad ibnu Ka’b sehubungan dengan makna firman-Nya: dan enggan (menolong dengan) barang berguna.
(Q.S. Al-Ma’un [107]: 7) Bahwa makna yang dimaksud ialah tidak mau mengulurkan kebajikan atau hal yang makruf.

Di dalam sebuah hadis disebutkan:

Tiap-tiap kebajikan adalah sedekah.

Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abu Sa’id Al-Asyaj, telah menceritakan kepada kami Waki’, dari Ibnu Abu Zi-b, dari Az-Zuhri sehubungan dengan makna firman-Nya: dan enggan (menolong dengan) barang berguna.
(Q.S. Al-Ma’un [107]: 7) Al-ma’un menurut dialek orang-orang Quraisy artinya materi (harta).

Sehubungan dengan hal ini telah diriwayatkan sebuah hadis yang garib lagi aneh sanad dan matannya.
Untuk itu Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami ayahku dan Abu Zar’ah, keduanya mengatakan bahwa telah menceritakan kepada kami Qais ibnu Hafs, Ad-Darimi, telah menceritakan kepada kami Dalham ibnu Dahim Al-Ajali, telah menceritakan kepada kami Ali ibnu Rabi’ah An-Numairi, telah menceritakan kepadaku Qurrah ibnu Damus An-Numairi, bahwa mereka menjadi delegasi kaumnya kepada Rasulullah ﷺ, lalu mereka berkata, “Wahai Rasulullah, apakah yang akan engkau wasiatkan kepada kami?”
Rasulullah ﷺ menjawab, “Janganlah kamu enggan menolong dengan al-ma’un.”

Mereka bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah yang dimaksud dengan al-ma’un itu?”
Rasulullah ﷺ menjawab, “Dengan batu, besi, dan air.” Mereka bertanya, “Besi yang manakah?”
Rasulullah ﷺ menjawab, “Panci kalian yang terbuat dari tembaga, kapak yang terbuat dari besi yang kamu gunakan sebagai sarana bekerjamu.”

Mereka bertanya, “Lalu apakah yang dimaksud dengan batu?”
Rasulullah ﷺ menjawab, “Kendil kalian yang terbuat dari batu.” Hadis ini garib sekali dan predikat marfu ‘-nya munkar, dan di dalam sanadnya terhadap nama perawi yang tidak dikenal; hanya Allah-lah Yang Maha Mengetahui.

Ibnul Asir di dalam kitab As-Sahabah telah menyebutkan dalam biografi Ali An-Numairi; untuk itu ia mengatakan bahwa Ibnu Mani’ telah meriwayatkan berikut sanadnya sampai kepada Amir ibnu Rabi’ah ibnu Qais An-Numairi, dari Ali ibnu Fulan An-Nuamairi, bahwa ia pernah mendengar Rasulullah ﷺ bersabda:

Orang muslim adalah saudara orang muslim lainnya; apabila mangucapkan salam, maka yang disalami harus menjawabnya dengan salam yang lebih baik darinya, ia tidak boleh mencegah al-ma’un.

Aku bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah yang dimaksud dengan al-ma’un?” Rasulullah ﷺ menjawab:

(Perabotan yang terbuat dari) batu dan besi dan lain sebagainya.

Hanya Allah-lah Yang Maha Mengetahui.’


Kata Pilihan Dalam Surah Al Maa'un (107) Ayat 7

MAA’UUN
مَاعُون

Dari segi bahasa, lafaz maa’uun mempunyai banyak arti yaitu:
(1) Taat dan patuh,
(2) Sesuatu yang ringan dan kecil,
(3) Benda yang biasanya dipinjamkan kepada orang lain bagi tolong- menolong seperti kapak, tali, timba, bekas dan lain-lain.

Di dalam Al Quran, lafaz maa’uun disebut sekali saja yaitu dalam surah Al Maa’uun (107), ayat 7. Surah Al Maa’uun menerangkan tentang sifat yang dimiliki oleh orang yang mendustakan hari kiamat dan hari penghitungan amal. Diantara sifatnya adalah wayamna’uunal maa’uun. Sebahagian besar pakar tafsir mentafsirkan lafaz maa’uun dalam ayat ini dengan barang yang biasanya dipinjamkan dan digunakan oleh masyarakat untuk tujuan saling membantu, contohnya timba, kapak dan bekas. Begitu juga barang seperti air dan garam. Ada juga yang berpendapat, lafaz maa’uun dalam ayat itu ialah zakat. Ada pula yang menafsirkannya dengan semua perkara yang bermanfaat termasuk ketaatan dan ibadah kepada Allah.

Sedangkan Imam Ibn Katsir menafsirkan ayat wayaman’uunal maa’uun dengan arti yang lebih luas yaitu mereka tidak mau melakukan ibadah kepada Allah dan juga tidak mau berhubungan baik dengan makhluk Allah, meskipun sekadar meminjamkan sesuatu yang dapat dimanfaatkan kemudian dikembalikan semula. Mereka tidak mau membayar zakat dan tidak mau melakukan perkara yang mendekatkan diri kepada Allah.

Sumber : Kamus Al Qur’an, PTS Islamika SDN. BHD.Hal:549

Informasi Surah Al Maa'un (الماعون)
Surat ini terdiri atas 7 ayat, termasuk golongan surat-surat Makkiyyah, diturunkan sesudah surat At Takaatsur.

Nama “Al Maa’uun” diambil dari kata “Al Maa’uun” yang terdapat pada ayat 7, artinya barang-oarang yang berguna.

Keimanan:

Beberapa sifat manusia yang dipandang sebagai mendustakan agama
Ancaman terhadap orang-orang yang melakukan shalat dengan lalai dan riya.

Lain-lain:

Beberapa sifat manusia yang dipandang sebagai mendustakan agama
Ancaman terhadap orang-orang yang melakukan shalat dengan lalai dan riya.

Ayat-ayat dalam Surah Al Maa'un (7 ayat)

Audio

Qari Internasional

Q.S. Al-Maa'un (107) ayat 7 - Oleh Syekh Mishari Alafasy
Q.S. Al-Maa'un (107) ayat 7 - Oleh Syekh Sa'ad Al-Ghamidi
Q.S. Al-Maa'un (107) ayat 7 - Oleh Syekh Muhammad Ayyub

Q.S. Al-Maun (107) ayat 1-7 - Egar Marasati (Bahasa Indonesia)
Q.S. Al-Maun (107) ayat 1-7 - Egar Marasati (Bahasa Arab)

Murottal al-Qur'an & Terjemahan Indonesia
Q.S. Al-Maa'un - Oleh Syekh Misyari Rasyid Alafasy
Full ayat 1 sampai 7 & Terjemahan


Gambar



Statistik Q.S. 107:7
  • Rating RisalahMuslim

Ayat ini terdapat dalam surah Al Maa'un.

Surah Al-Ma'un (bahasa Arab:الْمَاعُونَ, "Hal-Hal Berguna") adalah surah ke-107 dalam Al-Qur'an.
Surah ini tergolong surah Makkiyah dan terdiri atas 7 ayat.
Kata Al Maa'uun sendiri berarti bantuan penting atau hal-hal berguna, diambil dari ayat terakhir dari surah ini.
Pokok isi surah menjelaskan ancaman terhadap mereka yang tergolong menodai agama yakni mereka yang menindas anak yatim, tidak menolong orang yang meminta-meminta, riya' (ingin dipuji sesama manusia) dalam salatnya, serta enggan menolong dengan barang-barang yang berguna.

Nomor Surah 107
Nama Surah Al Maa'un
Arab الماعون
Arti Barang-barang yang berguna
Nama lain -
Tempat Turun Mekkah
Urutan Wahyu 17
Juz Juz 30
Jumlah ruku' 1 ruku'
Jumlah ayat 7
Jumlah kata 25
Jumlah huruf 112
Surah sebelumnya Surah Quraisy
Surah selanjutnya Surah Al-Kausar
4.9
Ratingmu: 4.5 (9 orang)
Sending







Pembahasan ▪ surat al ala latin

Iklan

Video

Panggil Video Lainnya


Ikuti RisalahMuslim
               





Copied!

Masukan & saran kirim ke email:
[email protected]

Made with in Yogyakarta