Search
Generic filters
Cari Kategori
🙏 Pilih semua
Quran
Hadits
Kamus
Podcast
Soal Agama
Artikel, Doa, dll.

QS. Al Maa’un (Barang-barang yang berguna) – surah 107 ayat 3 [QS. 107:3]

وَ لَا یَحُضُّ عَلٰی طَعَامِ الۡمِسۡکِیۡنِ ؕ
Walaa yahudh-dhu ‘ala tha’aamil miskiin(i);
dan tidak mendorong memberi makan orang miskin.
―QS. Al Maa’un [107]: 3

Daftar isi

And does not encourage the feeding of the poor.
― Chapter 107. Surah Al Maa’un [verse 3]

وَلَا dan tidak

And (does) not
يَحُضُّ menganjurkan

feel the urge
عَلَىٰ atas

to
طَعَامِ memberi makan

feed
ٱلْمِسْكِينِ orang miskin

the poor.

Tafsir Quran

Surah Al Maa’un
107:3

Tafsir QS. Al-Ma’un (107) : 3. Oleh Kementrian Agama RI

Allah menegaskan lebih lanjut sifat pendusta itu, yaitu dia tidak mengajak orang lain untuk membantu dan memberi makan orang miskin.
Bila tidak mau mengajak orang memberi makan dan membantu orang miskin berarti ia tidak melakukannya sama sekali.

Berdasarkan keterangan di atas, bila seorang tidak sanggup membantu orang-orang miskin maka hendaklah ia menganjurkan orang lain agar melakukan usaha yang mulia itu.

Tafsir QS. Al Maa’un (107) : 3. Oleh Muhammad Quraish Shihab:


Kalau kamu ingin tahu, orang yang mendustakan pembalasan itu adalah orang menghardik anak yatim dengan keras, memaksa dan menyakitinya, dan orang yang tidak menganjurkan untuk memberi makan orang miskin.

Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:


Dan ia tidak menganjurkan orang lain untuk memberi makan orang yang membutuhkan, yang tidak memiliki apa-apa yang bisa mencukupi dan menutupi kebutuhannya.
Maka bagaimana mungkin ia sendiri akan memberi makan orang miskin itu?
(sedang ia tidak menganjurkannya)

Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:



(Dan tidak menganjurkan) dirinya atau orang lain


(memberi makan orang miskin) ayat ini diturunkan berkenaan dengan orang yang bersikap demikian, yaitu Al-‘Ash bin Wail atau Walid bin Mughirah.

Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

(1-6)

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman, bahwa tahukah engkau, hai Muhammad, orang yang mendustakan hari pembalasan?

Itulah orang yang menghardik anak yatim.
(QS. Al-Ma’un [107]: 2)

Yakni dialah orang yang berlaku sewenang-wenang terhadap anak yatim, menganiaya haknya dan tidak memberinya makan serta tidak memperlakukannya dengan perlakuan yang baik.


dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin.
(QS. Al-Ma’un [107]: 3)

Semakna dengan apa yang disebutkan di dalam ayat lain melalui firman-Nya:

Sekali-kali tidak (demikian).
sebenarnya kalian tidak memuliakan anak yatim, dan kalian tidak saling mengajak memberi makan orang miskin.
(QS. Al-Fajr [89]: 17-18)

Makna yang dimaksud ialah orang fakir yang tidak mempunyai sesuatu pun untuk menutupi kebutuhan dan kecukupannya.
Kemudian disebutkan dalam firman berikutnya:

Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang salat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari salatnya.
(QS. Al-Ma’un [107]: 4-5)

Ibnu Abbas dan lain-lainnya mengatakan bahwa makna yang dimaksud ialah orang-orang munafik yang mengerjakan salatnya terang-terangan, sedangkan dalam kesendiriannya mereka tidak salat.
Karena itulah disebutkan oleh firman-Nya:
bagi orang-orang yang salat.
(QS. Al-Ma’un [107]: 4)
Yaitu mereka yang sudah berkewajiban mengerjakan salat dan menetapinya, kemudian mereka melalaikannya.


Hal ini adakalanya mengandung pengertian tidak mengerjakannya sama sekali, menurut pendapat Ibnu Abbas, atau mengerjakannya bukan pada waktu yang telah ditetapkan baginya menurut syara’;
bahkan mengerjakannya di luar waktunya, sebagaimana yang dikatakan oleh Masruq dan Abud Duha.

Ata ibnu Dinar mengatakan bahwa segala puji bagi Allah yang telah mengatakan dalam firman-Nya:
yang lalai dari salatnya.
(QS. Al-Ma’un [107]: 5)
Dan tidak disebutkan
"yang lalai dalam salatnya".
Adakalanya pula karena tidak menunaikannya di awal waktunya, melainkan menangguhkannya sampai akhir waktunya secara terus-menerus atau sebagian besar kebiasaannya.
Dan adakalanya karena dalam menunaikannya tidak memenuhi rukun-rukun dan persyaratannya sesuai dengan apa yang diperintahkan.
Dan adakalanya saat mengerjakannya tidak khusyuk dan tidak merenungkan maknanya.
Maka pengertian ayat mencakup semuanya itu.
Tetapi orang yang menyandang sesuatu dari sifat-sifat tersebut berarti dia mendapat bagian dari apa yang diancamkan oleh ayat ini.
Dan barang siapa yang menyandang semua sifat tersebut, berarti telah sempurnalah baginya bagiannya dan jadilah dia seorang munafik dalam amal perbuatannya.


Di dalam kitab Sahihain telah disebutkan bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda:

Itu adalah salatnya orang munafik, itu adalah salatnya orang munafik, itu adalah salatnya orang munafik.
Dia duduk menunggu matahari;
dan manakala matahari telah berada di antara kedua tanduk setan (yakni akan tenggelam), maka bangkitlah ia (untuk salat) dan mematuk (salat dengan cepat) sebanyak empat kali, tanpa menyebut Allah di dalamnya melainkan hanya sedikit.

Ini merupakan gambaran salat Asar di waktu yang terakhirnya, salat Asar sebagaimana yang disebutkan dalam nas hadis lain disebut salat wusta, dan yang digambarkan oleh hadis adalah batas terakhir waktunya, yaitu waktu yang dimakruhkan.
Kemudian seseorang mengerjakan salatnya di waktu itu dan mematuk sebagaimana burung gagak mematuk, maksudnya ia mengerjakan salatnya tanpa tumaninah dan tanpa khusyuk.
Karena itulah maka dikecam oleh Nabi ﷺ bahwa orang tersebut tidak menyebut Allah dalam salatnya, melainkan hanya sedikit (sebentar).
Barangkali hal yang mendorongnya melakukan salat tiada lain pamer kepada orang lain, dan bukan karena mengharap rida Allah.
Orang yang seperti itu sama kedudukannya dengan orang yang tidak mengerjakan salat sama sekali.
Allah subhanahu wa ta’ala telah berfirman:

Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah, dan Allah akan membalas tipuan mereka.
Dan apabila mereka berdiri untuk salat, mereka berdiri dengan malas.
Mereka bermaksud riya (dengan salat) di Hadapan manusia.
Dan tidaklah mereka menyebut Allah kecuali sedikit sekali.
(QS. An-Nisa’ [4]: 142)

Dan dalam surat ini disebutkan oleh firman-Nya:

orang-orang yang berbuat ria.
(QS. Al-Ma’un [107]: 6)

Imam Tabrani mengatakan, telah menceritakan kepada kami Yahya ibnu Abdullah ibnu Abdu Rabbih Al-Bagdadi, telah menceritakan kepadaku ayahku, telah menceritakan kepada kami Abdul Wahhab ibnu Ata;
dari Yunus, dari Al-Hasan, dari Ibnu Abbas, dari Nabi ﷺ yang telah bersabda:
Sesungguhnya di dalam neraka Jahanam benar-benar terdapat sebuah lembah yang neraka Jahanam sendiri meminta perlindungan kepada Allah dari (keganasan) lembah itu setiap harinya sebanyak empat ratus kali.
Lembah itu disediakan bagi orang-orang yang riya (pamer)dari kalangan umat Muhammad yang hafal Kitabullah dan suka bersedekah, tetapi bukan karena Zat Allah, dan juga bagi orang yang berhaji ke Baitullah dan orang yang keluar untuk berjihad(tetapi bukan karena Allah subhanahu wa ta’ala).

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abu Na’ im, telah menceritakan kepada kami Al-A’masy, dari Amr ibnu Murrah yang mengatakan bahwa ketika kami sedang duduk di majelis Abu Ubaidah, lalu mereka berbincang-bincang tentang masalah riya.
Maka berkatalah seorang lelaki yang dikenal dengan julukan Abu Yazid, bahwa ia pernah mendengar Abdullah ibnu Arnr mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ telah bersabda:
Barang siapa yang pamer kepada orang lain dengan perbuatannya, maka Allah akan memamerkannya di hadapan makhluk-Nya dan menjadikannya terhina dan direndahkan.

Imam Ahmad telah meriwayatkannya pula dari Gundar dan Yahya Al-Qattan, dari Syu’bah, dari Amr ibnu Murrah, dari seorang lelaki, dari Abdullah ibnu Amr, dari Nabi ﷺ, lalu disebutkan hal yang semisal.


Dan termasuk hal yang berkaitan dengan makna firman-Nya:
orang-orang yang berbuat ria.
(QS. Al-Ma’un [107]: 6)
ialah bahwa barang siapa yang melakukan suatu perbuatan karena Allah, lalu orang lain melihatnya dan membuatnya merasa takjub dengan perbuatannya, maka sesungguhnya hal ini bukan termasuk perbuatan riya.


Dalil yang membuktikan hal ini ialah apa yang telah diriwayatkan oleh Al-Hafiz Abu Ya’la Al-Mausuli di dalam kitab musnadnya, bahwa:


telah menceritakan kepada kami Harun ibnu Ma’ruf, telah inenceritakan kepada kami Makhlad ibnu Yazid, telah menceritakan kepada kami Sa’id ibnu Basyir, telah menceritakan kepada kami Al-A’masy;
dari Abu Saleh, dari Abu Hurairah r.a. yang mengatakan bahwa ketika aku sedang salat, tiba-tiba masuklah seorang lelaki menemuiku, maka aku merasa kagum dengan perbuatanku.
Lalu aku.ceritakan hal tersebut kepada Rasulullah ﷺ, maka beliau ﷺ bersabda:
Dicatatkan bagimu dua pahala, pahala sembunyi-sembunyi dan pahala terang-terangan.

Abu Ali alias Harun ibnu Ma’ruf mengatakan, telah sampai kepadaku bahwa Ibnul Mubarak pernah mengatakan bahwa hadis ini adalah sebaik-baik hadis bagi orang-orang yang riya.
Bila ditinjau dari segi jalurnya hadis ini garib’, dan Sa’id ibnu Basyir orangnya pertengahan, dan riwayatnya dari Al-A’masy jarang, tetapi selain dia ada yang meriwayat-kan hadis ini dari Al-A’masy.

Abu Ya’la mengatakan, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnul Musanna ibnu Musa, telah menceritakan kepada kami Abu Daud, telah menceritakan kepada kami Abu Sinan, dari Habib ibnu Abu Sabit, dari Abu Saleh, dari Abu Hurairah r.a. yang mengatakan bahwa pernah seorang lelaki bertanya kepada Rasulullah ﷺ,
"Wahai Rasulullah, seorang lelaki melakukan suatu amal kebaikan yang ia sembunyikan.
Tetapi bila ada yang melihatnya, ia merasa kagum dengan amalnya."
Maka Rasulullah ﷺ bersabda:
Dia mendapat dua pahala, pahala sembunyi-sembunyi dan pahala terang-terangan.

Imam Turmuzi telah meriwayatkannya dari Muhammad ibnul Musanna dan Ibnu Majah, dari Bandar, keduanya dari Abu Daud At-Tayalisi, dari Abu Sinan Asy-Syaibani yang namanya Dirar ibnu Murrah.
Imam Turmuzi mengatakan bahwa hadis ini garib.
Al-A’masy telah meriwayatkannya dan juga yang lainnya, dari Habib, dari Abu Saleh secara mursal.

Abu Ja’far ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepadaku Abu Kuraib, telah menceritakan kepada kami Mu’awiyah ibnu Hisyam, dari Syaiban An-Nahwi, dari Jabir Al-Ju’fi, telah menceritakan kepadaku seorang lelaki, dari Abu Barzah Al-Aslami yang mengatakan bahwa ketika diturunkan firman-Nya:
(yaitu) orang-orang yang lalai dari salatnya.
(QS. Al-Ma’un [107]: 5)
Maka Rasulullah ﷺ bersabda:
Allahu Akbar (AllahMahabesar), ini lebih baik bagi kalian daripada sekiranya tiap-tiap orang dari kalian diberi hal yang semisal dengan dunia dan seisinya.
Dia adalah orang yang jika salat tidak dapat diharapkan kebaikan dari salatnya, dan jika meninggalkannya dia tidak takut kepada Tuhannya.

Di dalam sanad hadis ini terdapat Jabir Al-Ju’fi, sedangkan dia orangnya daif dan gurunya tidak dikenal lagi tidak disebutkan namanya;
hanya Allah-lah Yang Maha Mengetahui.

Ibnu Jarir mengatakan pula, telah menceritakan kepadaku Zakaria ibnu Aban Al-Masri, telah menceritakan kepada kami Amr ibnu Tariq, telah menceritakan kepada kami Ikrimah ibnu Ibrahim, telah menceritakan kepadaku Abdul Malik ibnu Umair, dari Mus’ab ibnu Sa’d, dari Sa’d ibnu Abu Waqqas yang mengatakan bahwa ia pernah bertanya kepada Rasulullah ﷺ tentang orang-orang yang lalai dari salatnya.
Maka beliau ﷺ menjawab:
Mereka adalah orang-orang yang mengakhirkan salat dari waktunya.

Menurut hemat saya, pengertian mengakhirkan salat dari waktunya mengandung makna meninggalkan salat secara keseluruhan, juga mengandung makna mengerjakannya di luar waktu syar’i-nya, atau mengakhirkannya dari awal waktunya.


Hal yang sama telah diriwayatkan oleh Al-Hafiz Abu Ya’la, dari Syaiban ibnu Farukh, dari Ikrimah ibnu Ibrahim dengan sanad yang sama.
Kemudian ia meriwayatkannya dari Ar-Rabi’, dari Jabir, dari Asim, dari Mus’ab, dari ayahnya secara mauquf, bahwa karena lalai dari salatnya hingga waktunya terbuang.
Hal ini lebih sahih sanadnya.
Imam Baihaqi menilai daif predikat marfu’-nya dan menilai sahih predikat mauquf-nya, demikian pula yang dikatakan oleh Imam Hakim.

Kata Pilihan Dalam Surah Al Maa’un (107) Ayat 3

THA’AAM
طَعَام

Tha’aam adalah kata benda dalam bentuk mufrad, jamaknya ialah ath’imah.
Tha’aam ialah nama keseluruhan bagi setiap yang dimakan dan ada yang mengatakan ia dikhususkan bagi gandum.

Al Kafawi berkata,
"Tha’aam kadangkala digunakan untuk menyebut minuman, sebagaimana dalam firman Allah dalam surah Al Baqarah (2) ayat 249:

وَمَن لَّمْ يَطْعَمْهُ فَإِنَّهُۥ مِنِّىٓ إِلَّا مَنِ ٱغْتَرَفَ غُرْفَةًۢ بِيَدِهِ

"Dan barangsiapa tiada meminumnya, kecuali menceduk seceduk tangan, maka dia adalah pengikutku"."

Dikatakan begitu karena asal lafaz ini mengisyaratkan, merasakan sesuatu atau setiap apa yang dirasai seperti yang disebutkan dalam hadis Rasulullah mengenai air zamzam, yang artinya:

"Sesungguhnya ia adalah makanan bagi kelaparan dan obat bagi penyakit."

Lafaz tha’aam disebut 24 kali di dalam Al Qur’an yaitu dalam surah:
• Al Baqarah (2), ayat 61, 184, 259;
• Ali Imran (3), ayat 93;
• Al Maa’idah (5), ayat 5 (dua kali), 75, 95, 96;
Yusuf (12), ayat 37;
• Al Kahfi (18), ayat 19;
• Al Anbiyaa (21), ayat 8;
Al Furqaan (25), ayat 7, 20;
Al Ahzab (33), ayat 53;
Ad Dukhaan (44), ayat 44;
• Al Haaqqah (69), ayat 34, 35, 36;
• Al Muzzammil (73), ayat 13;
• Al nsaan (76), ayat 8;
• ‘Abasa (80), ayat 24;
• Al Ghaasyiyah (88), ayat 6;
Al Fajr (89), ayat 18;
• Al Ma’un (107), ayat 3.

Tha’aam di dalam Al Qur’an mengandung beberapa makna:

1. Sejenis makanan, yaitu Al manna (roti) dan As salwa (madu). Mmakna ini ada dalam surah Al Baqarah ayat 61, di mana tha’aam di sini dikaitkan dengan wahid yang artinya satu.
Ini adalah pendapat Ibnu Katsir dan As Sabuni.’ Ibnu Katsir berkata,
"Bani Israil mengatakan tha’aam waahid yaitu al mann was salwa karena mereka memakan keduanya setiap hari dan tidak pernah berubah.

2. Tha’am juga bermakna mencakupi semua jenis makanan separti dalam surah Ali Imran ayat 93. Tha’aam yang diuraikan oleh Al Qur’an dapat dibahagi dalam tiga kategori utama yaitu nabati, hewani dan olahan.

– Yang termasuk dalam nabati terdapat dalam surah ‘Abasa (80), ayat 24 hingga 32 di mana surah ini memerintahkan manusia memperhatikan makanannya, disebutkan sekian banyak jenis tumbuhan yang dikaruniakan Allah bagi kepentingan manusia dan binatang, Allah firman yang berarti,

"Maka hendaklah manusia itu memperhatikan makanannya.Sesungguhnya Kami benar-benar telah mencurahkan air (dari langit), kemudian kami belah bumi dengan sebaik-sebaiknya.
Lalu Kami tumbuhkan biji-bijian di bumi itu, anggur dan sayur-sayuran, zaitun dan pohon kurma, kebun-kebun (yang) lebat, dan buah-buahan serta rumput-rumputnya, untuk kesenangan kamu dan untuk binatang ternak."

• Sedangkan tha’aam yang temasuk dalam kategori hewani Al Qur’an mengklasifikasikan dua kelompok besar yaitu yang berasal dari laut dan darat.
Ayat yang menyinggung makanan yang berasal dari laut terdapat dalam surah Al Maa’ idah (5), ayat 96, makna firman Allah

Dihalalkan bagimu binatang buruan laut dan makanan (yang berasal) dari laut sebagai makanan yang lezat bagimu, dan bagi orang-orang yang dalam perjalanan,

Yang termasuk dalam kategori hewan terakam dalam firman Allah dalam surah Al Maa’idah (5), ayat 5 yang berarti,

Pada hari ini dihalalkan bagimu yang baik-baik.
Makanan (sembelihan) orang-orang yang diberi Al Kitab itu halal bagimu, dan makanan kamu halal (pula) bagi mereka.

Al Qurtubi berkata,
"Tha’aam ialah nama bagi perkara yang dimakan dan di sini dikhususkan dengan sembelihan (dari hewan) menurut jumhur ulama"

• Makanan olahan.
Berdasarkan penjelasan terdahulu, minuman adalah salah satu jenis makanan.
Oleh karena itu, khamar juga salah satu jenis makanan.
Al Qur’an menegaskan hal itu dalam surah An Nahl (16), ayat 67,

Dan dari buah korma dan anggur, kamu buat minimuman yang memabukkan dan rezeki yang baik.

Lafaz tha’aam juga dapat dibagi kepada dua keadaan yaitu makanan yang termasuk makanan di dunia dan makanan pada hari akhirat.
Untuk makanan di dunia sudah disebutkan sebelum ini dan untuk makanan di akhirat, lafaz ini lebih cenderung digunakan bagi makanan yang diperuntukkan di dalam neraka.

Kategori ini terdapat dalam surah:
Ad Dukhan (44), ayat 44;
• Al Haaqqah (69), ayat 34;
• Al Ghaasyiyah (88), ayat 6;
• Al Muzzammil (73 ), ayat 13.
Contohnya dalam surah As Dukhan, Allah berfirman yang artinya:

Sesungguhnya pohon zaqqum itu makanan orang yang banyak berdosa.

Kesimpulannya, lafaz tha’aam di dalam Al Qur’an mengandung makna makanan, baik di dunia yang terdiri dari hewan, tumbuhan atau olahan dan makanan pada hari akhirat bagi orang yang berdosa.

Sumber : Kamus Al Qur’an, PTS Islamika SDN BHD, Hal:331-333

Unsur Pokok Surah Al Maa’un (الماعون)

Surat ini terdiri atas 7 ayat, termasuk golongan surat-surat Makkiyyah, diturunkan sesudah surat At Takaatsur.

Nama "Al Maa’uun" diambil dari kata "Al Maa’uun" yang terdapat pada ayat 7, artinya barang-barang yang berguna.

Keimanan:

▪ Beberapa sifat manusia yang dipandang sebagai mendustakan agama.
▪ Ancaman terhadap orang-orang yang melakukan shalat dengan lalai dan riya.

Ayat-ayat dalam Surah Al Maa’un (7 ayat)

1 2 3 4 5 6 7

Lihat surah lainnya

Audio Murottal

QS. Al-Maa'un (107) : 1-7 ⊸ Misyari Rasyid Alafasy
Ayat 1 sampai 7 + Terjemahan Indonesia



QS. Al-Maa'un (107) : 1-7 ⊸ Nabil ar-Rifa’i
Ayat 1 sampai 7

Gambar Kutipan Ayat

Surah Al Maa'un ayat 3 - Gambar 1 Surah Al Maa'un ayat 3 - Gambar 2
Statistik QS. 107:3
  • Rating RisalahMuslim
4.5

Ayat ini terdapat dalam surah Al Maa’un.

Surah Al-Ma’un (bahasa Arab:الْمَاعُونَ, “Hal-Hal Berguna”) adalah surah ke-107 dalam Alquran.
Surah ini tergolong surah Makkiyah dan terdiri atas 7 ayat.
Kata Al Maa’uun sendiri berarti bantuan penting atau hal-hal berguna, diambil dari ayat terakhir dari surah ini.
Pokok isi surah menjelaskan ancaman terhadap mereka yang tergolong menodai agama yakni mereka yang menindas anak yatim, tidak menolong orang yang meminta-meminta, riya’ (ingin dipuji sesama manusia) dalam salatnya, serta enggan menolong dengan barang-barang yang berguna.

Nomor Surah 107
Nama Surah Al Maa’un
Arab الماعون
Arti Barang-barang yang berguna
Nama lain
Tempat Turun Mekkah
Urutan Wahyu 17
Juz Juz 30
Jumlah ruku’ 1 ruku’
Jumlah ayat 7
Jumlah kata 25
Jumlah huruf 112
Surah sebelumnya Surah Quraisy
Surah selanjutnya Surah Al-Kausar
Sending
User Review
4.9 (29 suara)
Bagi ke FB
Bagi ke TW
Bagi ke WA
Tags:

107:3, 107 3, 107-3, Surah Al Maa'un 3, Tafsir surat AlMaaun 3, Quran AlMaun 3, Al Maun 3, Al-Ma'un 3, Surah Al Maun ayat 3

Video Surah

107:3


Load More

Ayat Pilihan

Dan apa yang kamu kerjakan berupa kebaikan,
niscaya Allah mengetahuinya.
Berbekallah,
dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa & bertakwalah kepada-Ku hai orang-orang yang berakal
QS. Al-Baqarah [2]: 197

Tiada Tuhan selain Dia, Raja, Yang Maha Suci, Yang Maha Sejahtera,
Yang Mengaruniakan Keamanan, Yang Maha Memelihara,
Yang Maha Perkasa, Yang Maha Kuasa, Yang Memiliki segala Keagungan,
Maha Suci Allah dari apa yang mereka persekutukan
QS. Al-Hasyr [59]: 23

Sesungguhnya Allah menyukai orang yang berjihad dijalan-Nya dalam barisan yang teratur seakan-akan mereka seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh.
QS. As-Saff [61]: 4

(yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya),
baik di waktu lapang maupun sempit,
dan orang-orang yang menahan amarahnya & memaafkan (kesalahan) orang.
Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.
QS. Ali ‘Imran [3]: 134

Hadits Shahih

Podcast

Doa Sehari-hari

Soal & Pertanyaan Agama

Hadits adalah Mubayyin untuk Alquran. Arti dari Mubayyin adalah ..

Correct! Wrong!

Penjelasan:
Arti mubayyin itu menjelaskan, mencerahkan, menerangkan, menjernihkan.

Hukum yang mengatur hubungan manusia dengan Tuhan secara lahiriah, manusia dengan sesama manusia dan orang-orang dengan lingkungannya disebut hukum ...

Correct! Wrong!

Penjelasan:
Hukum Amaliah, yakni hukum yang mengatur secara lahiriah hubungan manusia dengan Allah Subhanahu Wa Ta`ala, antara sesama manusia, serta manusia dengan lingkungannya. Ilmu yang mempelajarinya disebut ilmu fiqih.

Hukum yang berkaitan dengan perilaku moral manusia dalam kehidupan disebut hukum ...

Correct! Wrong!

Penjelasan:
Hukum Khuluqiyah ini adalah hukum yang berkenaan dengan akhlak juga budi pekerti manusia. Hukum ini mencakup semua sifat-sifat terpuji yang wajib ada dalam diri manusia sebagai hamba Allah Subhanahu Wa Ta`ala terkait hakikat dirinya sebagai makhluk sosial.

Adapun cakupan hukuk khuluqiyah ini seperti moral, adab dan sopan santun, budi pekerti dan perilaku-perilaku yang jauh dari unsur tercela lainnya.

Hukum Khuluqiyah ini adalah salah satu jenis hukum dalam Alquran, adapun jenis hukum lainnya adalah Itiqodiyah dan Amaliyah.

+

Array

Sumber hukum tertinggi dalam Islam adalah ..

Correct! Wrong!

Alquran adalah keterangan yang jelas untuk semua manusia, dan menjadi petunjuk serta pelajaran bagi orang-orang yang bertakwa. Penjelasan tersebut terdapat dalam surah ...

Correct! Wrong!

Penjelasan:
u06c1u0670u0630u064eu0627 u0628u064eu06ccu064eu0627u0646u064c u0644u0651u0650u0644u0646u0651u064eu0627u0633u0650 u0648u064e u06c1u064fu062fu064bu06cc u0648u0651u064e u0645u064eu0648u06e1u0639u0650u0638u064eu06c3u064c u0644u0651u0650u0644u06e1u0645u064fu062au0651u064eu0642u0650u06ccu06e1u0646u064e

Inilah (Alquran) suatu keterangan yang jelas untuk semua manusia, dan menjadi petunjuk serta pelajaran bagi orang-orang yang bertakwa.
--QS. 3:138

Pendidikan Agama Islam #7
Ingatan kamu cukup bagus untuk menjawab soal-soal ujian sekolah ini.

Pendidikan Agama Islam #7 1

Mantab!! Pertahankan yaa..
Jawaban kamu masih ada yang salah tuh.

Pendidikan Agama Islam #7 2

Belajar lagi yaa...

Share your Results:

Soal Agama Islam

Pendidikan Agama Islam #30

Yang diajarkan oleh Rasulullah adalah jika kita melihat kemungkaran untuk mencegahnya pertama kali dengan … بَلِّغُوا عَنِّى وَلَوْ آيَةً Arti dari hadist diatas adalah …Di bawah ini adalah cara untuk menjadikan semangat mengamalkan ilmu dalam kehidupan kecuali …كادَ الفَقْرُ أنْ يَكُوْنَ كُفْرًا Arti dari kalimat di atas adalah …Siapakah ilmuan muslim yang pertama menjadi penemu Al-Jabar?

Pendidikan Agama Islam #27

Surah yang terpendek dalam Alquran adalah … Surah yang tidak diawali basmalah adalah … Surah yang pertama kali turun secara lengkap adalah … Proses turunnya wahyu berlangsung selama … tahun.Basmalah tertulis atau disebutkan sebanyak dua kali pada surah …

Pendidikan Agama Islam #26

Sebab-sebab turunnya ayat Alquran disebut … Nama lain dari surah Al-Insyirah adalah … Jumlah surah-surah dalam Alquran adalah … Pesan utama dari kandungan Alquran adalah … Surah yang terpanjang dalam Alquran adalah …

Kamus Istilah Islam

Al-Insyiqaq

Apa itu Al-Insyiqaq? Surah Al-Insyiqaq adalah surah ke-84 dalam Alquran. Surah ini terdiri atas 25 ayat dan termasuk golongan surah-surah Makkiyah serta diturunkan setelah surah Al-Infitar. Dinamai Al Insyiqaaq , diambil dari perkataan yang terdapat pada permulaan surat ini, yang pokok katanya ialah insyiqaaq. Pokok-pokok isinya menera … • Al-Insyiqaq, Al Insyiqaq, Al Insyiqaaq

hadis kauli

Apa itu hadis kauli? kata atau sabda Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam. yang dijadikan tuntunan umat Islam … •

Shaleh `alaihis salam

Siapa itu Shaleh `alaihis salam? Shālih adalah salah seorang nabi dan rasul dalam agama Islam yang diutus kepada Kaum Tsamūd. Ia diangkat menjadi nabi pada tahun 2100 SM. Dia telah diberikan mukjizat yaitu seekor unta betina yang dikeluarkan dari celah batu dengan izin Allah yakni bagi menunjukkan kebesaran Allah kepada kaum Tsamud. … • Shaleh