Search
Exact matches only
Cari di judul
Cari di Arti & Tafsir
Search in comments
Search in excerpt
Filter by Custom Post Type
Filter berdasar surah
Pilih atau Semua
Abasa
Ad Dukhaan
Adh Dhuhaaa
Adz Dzaariyaat
Al 'Alaq
Al 'Ashr
Al A'laa
Al A'raaf
Al Aadiyaat
Al Ahqaaf
Al Ahzab
Al An 'aam
Al Anbiyaa
Al Anfaal
Al Ankabut
Al Balad
Al Baqarah
Al Bayyinah
Al Buruuj
Al Fajr
Al Falaq
Al Fath
Al Fatihah
Al Fiil
Al Furqaan
Al Ghaasyiyah
Al Haaqqah
Al Hadid
Al Hajj
Al Hasyr
Al Hijr
Al Hujurat
Al Humazah
Al Ikhlas
Al Infithar
Al Insaan
Al Insyiqaaq
Al Israa
Al Jaatsiyah
Al Jinn
Al Jumu'ah
Al Kaafiruun
Al Kahfi
Al Kautsar
Al Lahab
Al Lail
Al Ma'aarij
Al Maa'idah
Al Maa'un
Al Mu'min
Al Mu'minuun
Al Muddatstsir
Al Mujaadilah
Al Mulk
Al Mumtahanah
Al Munafiquun
Al Mursalat
Al Muthaffifin
Al Muzzammil
Al Qaari'ah
Al Qadr
Al Qalam
Al Qamar
Al Qashash
Al Qiyaamah
Al Waaqi'ah
Al Zalzalah
Alam Nasyrah
Ali Imran
An Naazi'at
An Nabaa
An Nahl
An Najm
An Naml
An Nas
An Nashr
An Nisaa'
An Nuur
Ar Ra'd
Ar Rahmaan
Ar Rum
As Sajdah
Ash Shaff
Ash Shaffaat
Asy Shyuura
Asy Syams
Asy Syu'araa
At Taghaabun
At Tahrim
At Takaatsur
At Takwir
At Taubah
At Tin
Ath Thaariq
Ath Thalaaq
Ath Thuur
Az Zukhruf
Az Zumar
Faathir
Fushshilat
Hud
Ibrahim
Luqman
Maryam
Muhammad
Nuh
Qaaf
Quraisy
Saba
Shaad
Thaa Haa
Yaa Siin
Yunus
Yusuf

💡 Ketik [nomer surah]-[nomer ayat], contoh: 2-255 atau albaqarah 255 atau ke www.risalahmuslim.id/2-255

Al Maa'idah

Al Maa’idah (Jamuan (hidangan makanan)) surah 5 ayat 90


یٰۤاَیُّہَا الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡۤا اِنَّمَا الۡخَمۡرُ وَ الۡمَیۡسِرُ وَ الۡاَنۡصَابُ وَ الۡاَزۡلَامُ رِجۡسٌ مِّنۡ عَمَلِ الشَّیۡطٰنِ فَاجۡتَنِبُوۡہُ لَعَلَّکُمۡ تُفۡلِحُوۡنَ
Yaa ai-yuhaal-ladziina aamanuu innamaal khamru wal maisiru wal anshaabu wal azlaamu rijsun min ‘amalisy-syaithaani faajtanibuuhu la’allakum tuflihuun(a);

Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah termasuk perbuatan syaitan.
Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan.
―QS. 5:90
Topik ▪ Maksiat dan dosa ▪ Dosa-dosa besar ▪ Keabadian surga
5:90, 5 90, 5-90, Al Maa’idah 90, AlMaaidah 90, Al Maidah 90, AlMaidah 90, Al-Ma’idah 90
Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. Al Maa’idah (5) : 90. Oleh Kementrian Agama RI

Dengan ayat ini Allah subhanahu wa ta’ala menjelaskan hukum-hukum-Nya mengenai empat macam perbuatan, yaitu minum khamar, berjudi, mempersembahkan korban kepada patung-patung dan mengundi nasib dengan menggunakan alat-alat yang menyerupai anak panah yang biasa dilakukan oleh bangsa Arab sebelum datangnya agama Islam.

Mengenai pengharaman meminum khamar, para ahli tafsir berpendapat bahwa ayat ini merupakan taraf terakhir dalam menentukan hukum haramnya meminum khamar.
Menurut mereka, Alquran mengemukakan hukum meminum khamar itu dalam tiga tahap.

Pertama dengan firman Allah:

Mereka bertanya kepadamu tentang (meminum) khamar dan judi.
Katakanlah, “Pada keduanya itu terdapat dosa besar dan beberapa manfaat bagi manusia,” tetapi dosa keduanya lebih besar dari manfaatnya.

(Q.S.
Al-Baqarah: 219)

Ayat ini turun pada masa permulaan Islam, di mana iman Kaum Muslimin belumlah begitu kuat untuk dapat meninggalkan apa yang telah menjadi kegemaran dan kebiasaan mereka yang sebenarnya tidak dibolehkan oleh agama Islam.
Maka setelah turun ayat ini, sebagian dari kaum Muslimin telah menghentikan meminum khamar karena ayat tersebut telah menyebutkan adanya dosa besar pada perbuatan itu.

Tetapi sebagian lagi masih terus meminum khamar, karena menurut pendapat mereka ayat itu belum melarang mereka dari perbuatan itu, apalagi karena Ia masih menyebutkan bahwa khamar itu mengandung banyak manfaat bagi manusia.

Kedua ialah firman Allah:

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu salat sedang kamu dalam keadaan mabuk.
(Q.S.
An Nisa’: 43)

Karena ayat ini melarang mereka melakukan salat dalam keadaan mabuk, maka ini berarti bahwa mereka tidak dibolehkan minum khamar sebelum salat, supaya mereka dapat melakukan salat itu di dalam keadaan tidak mabuk.
Setelah turun ayat ini, mereka tak dapat lagi meminum khamar sejak sebelum Zuhur, sampai selesainya salat Isyak, karena waktu Zuhur dan Asar adalah bersambungan, dalam masa yang pendek.
Demikian pula antara Asar dan Magrib, dan antara Magrib dengan Isyak.
Apabila mereka meminum khamar sesudah salat Zuhur, atau Magrib niscaya tak cukup waktu untuk menunggu sembuhnya mereka dari mabuk sehingga dengan demikian mereka tak akan dapat melaksanakan salat dalam keadaan sadar, sedangkan Allah telah melarang mereka melakukan salat dalam keadaan mabuk.

Orang-orang yang hendak meminum khamar juga hanya mendapat kesempatan sesudah salat Isyak dan sesudah salat Subuh.
Karena jarak antara Isyak dan Subuh dan antara Subuh dan Zuhur adalah cukup panjang.

Kemudian, setelah iman kaum Muslimin semakin kuat dan telah matang jiwa mereka untuk dapat meninggalkan apa yang tidak diperbolehkan agama, maka turunlah ayat 90 surah Al-Maidah ini yang memberikan ketegasan tentang haramnya meminum khamar, yaitu dengan mengatakan bahwa meminum khamar, dan perbuatan lainnya itu adalah perbuatan kotor, haram dan termasuk perbuatan setan yang tak patut dilakukan oleh manusia yang beriman kepada Allah subhanahu wa ta’ala Dengan turunnya ayat ini, tertutuplah sudah semua kemungkinan bagi orang-orang mukmin untuk meminum khamar.

Demikianlah tahap-tahap yang telah diatur Alquran dalam memberikan hukum haram meminum khamar.
Prinsip ini adalah sangat tepat untuk digunakan bila kita ingin mengadakan pemberantasan dan pembasmian apa yang telah berurat, berakar dan mendarah daging dalam masyarakat.
Andaikata kita mengadakan tindakan yang drastis, pemberantasan yang mendadak dan sekaligus, maka akan terjadilah kegoncangan dalam masyarakat, dan akan timbullah perlawanan yang keras terhadap peraturan baru yang hendak diterapkan itu.
Agama Islam sangat mementingkan pembinaan mental manusia, sehingga tidak menimbulkan kegoncangan-kegoncangan dalam masyarakat.

Adapun judi, amat besar bahayanya bagi perorangan dan masyarakat.
Judi dapat merusak pribadi dan moral seseorang, karena seorang penjudi selalu berangan-angan akan mendapat keuntungan besar tanpa bekerja dan berusaha, dan menghabiskan umurnya di meja judi tanpa menghiraukan kesehatannya, keperluan hidupnya dan hidup keluarganya yang menyebabkan runtuhnya sendi-sendi rumah tangga.
Judi akan menimbulkan permusuhan antara sesama penjudi dan mungkin pula permusuhan ini dilanjutkan dalam pergaulan sehingga merusak masyarakat.
Berapa banyak rumah tangga yang berantakan, harta yang musnah karena judi.
Tidak ada seorang yang kaya semata-mata karena berjudi (lihat juga tafsir ayat 219 surat Al-Baqarah).

Bangsa Arab sebelum Islam merupakan masyarakat penyembah berhala.
Mereka membuat patung-patung dari kayu dan sebagainya, kemudian mereka sembah dan mereka agung-agungkan.
Dan mereka menyembelih hewan-hewan korban untuk dipersembahkan kepada patung-patung tersebut.
Sudah barang tentu perbuatan ini adalah perbuatan yang sesat.
Yang patut disembah dan diagungkan hanyalah Allah subhanahu wa ta’ala Dan manusia dapat menyembah Allah subhanahu wa ta’ala tanpa perantara apa pun juga.
Dan jika ingin berkorban, sembelihlah korban itu, kemudian dagingnya dibagi-bagikan kepada manusia yang dapat memanfaatkannya, jangan kepada patung-patung yang tak akan dapat mengambil manfaat apa pun dari daging korban tersebut.
Oleh sebab itu sangat tepatlah bila Agama Islam melarang kaum muslimin mempersembahkan korban-korban kepada patung-patung, kemudian Islam menetapkan bahwa korban itu adalah untuk mengagungkan Allah, dan dagingnya dibagikan kepada sesama manusia.

Mengundi nasib, juga suatu perbuatan yang telah lama dikenal manusia, bahkan sampai sekarang masih dilakukan dan dipercayai oleh sebagian orang.
Ada berbagai cara dan alat-alat digunakan untuk keperluan itu.
Ada kalanya dengan menggunakan bola ajaib, atau dengan meneliti telapak tangan, atau dengan memperhatikan tanggal dan hari kelahiran, sebagaimana sering dicantumkan dalam majalah hiburan atau pun surat-surat kabar.
Dan bangsa Arab di zaman Jahiliah biasa mengundi nasib dengan menggunakan “azlam”,
yaitu anak panah yang belum memakai bulu.
Mereka menggunakannya untuk mengambil keputusan apakah mereka akan melakukan sesuatu perbuatan atau tidak.
Caranya ialah mereka mengambil tiga buah anak panah yang belum memakai bulu tersebut lalu pada anak panah yang pertama mereka tuliskan kata-kata “lakukanlah” sedang pada anak panah yang kedua mereka tuliskan kata-kata “jangan lakukan”,
adapun anak panah yang ketiga tidak ditulisi apa-apa.
Ketiga anak panah tersebut diletakkan dalam suatu wadah, lalu disimpan di dalam Kakbah.
Bila mereka hendak melakukan sesuatu perbuatan, maka mereka meminta kepada tukang kunci Kakbah untuk mengambil satu di antara ketiga anak panah tersebut.
Apakah mereka akan jadi melakukan perbuatan itu atau tidak, tergantung kepada tulisan yang didapati pada anak panah yang diambil itu.
Dan jika ternyata bahwa yang diambil itu adalah anak panah yang tidak ada tulisannya, maka undian itu diulang sekali lagi.
Demikianlah mereka menggantungkan nasib kepada undian tersebut dan mereka sangat mempercayainya.

Undian-undian dan ramalan-ramalan semacam itu mengandung banyak segi-segi negatifnya.
Apabila si peramal mengatakan bahwa orang yang bersangkutan akan menemui nasib yang jelek, maka hal itu akan menjadikannya senantiasa merasa khawatir, takut dan putus asa, bahkan akan menyebabkannya tidak mau bekerja dan berusaha karena ia percaya kepada ramalan itu.
Sebaliknya, bila peramal mengatakan bahwa ia akan menjadi orang yang kaya dan berbahagia, maka hal itu pun dapat menjadikannya malas bekerja dan memandang rendah segala macam usaha, karena ia percaya bahwa tanpa usaha pun ia akan berbahagia atau menjadi kaya.

Orang-orang mukmin dilarang mempercayai ramalan-ramalan itu, baik yang dikatakan langsung oleh tukang-tukang ramal, atau pun yang biasa dituliskan dalam majalah-majalah atau surat-surat kabar.
Ramalan-ramalan tersebut dapat merusak iman.
Dan orang-orang mukmin harus percaya bahwa Allah subhanahu wa ta’ala sajalah yang dapat menentukan nasib setiap makhluk-Nya.
Percaya kepada kada dan kadar Allah subhanahu wa ta’ala adalah salah satu dari rukun-rukun iman.

Pada akhir ayat ini Allah subhanahu wa ta’ala memerintahkan agar orang-orang mukmin menjauhi meminum khamar, berjudi, berkorban untuk patung-patung serta mengundi nasib, semoga dengan menjauhi perbuatan-perbuatan itu mereka akan menjadi orang-orang yang beroleh sukses dan keberuntungan dalam hidup di dunia dan di akhirat.

Al Maa'idah (5) ayat 90 - dibacakan oleh Shaykh Mishari Alafasy Al Maa'idah (5) ayat 90 - dibacakan oleh Syaikh Sa'ad Al-Ghamidi Al Maa'idah (5) ayat 90 - dibacakan oleh Syaikh Muhammad Ayyub

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Hai orang-orang yang beriman kepada Allah, kitab-kitab-Nya dan rasul-rasul-Nya dan tunduk kepada kebenaran, sesungguhnya meminum minuman keras yang memabukkan, berjudi, menancapkan batu sebagai landasan menyembelih kurban untuk mendekatkan diri kepada patung-patung yang kalian sembah, melepaskan anak panah, batu kerikil atau daun untuk mengetahui ketentuan-ketentuan yang gaib, semua itu tiada lain hanyalah kekotoran jiwa yang merupakan tipu daya setan bagi pelakunya.
Maka, tinggalkanlah itu semua agar kalian mendapatkan kemenangan di dunia dengan kehidupan yang mulia dan di akhirat dengan kenikmatan surga.

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya meminum khamar) minuman yang memabukkan yang dapat menutupi akal sehat (berjudi) taruhan (berkorban untuk berhala) patung-patung sesembahan (mengundi nasib dengan anak panah) permainan undian dengan anak panah (adalah perbuatan keji) menjijikkan lagi kotor (termasuk perbuatan setan) yang dihiasi oleh setan.
(Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu) yakni kekejian yang terkandung di dalam perbuatan-perbuatan itu jangan sampai kamu melakukannya (agar kamu mendapat keberuntungan).

Tafsir al-Muyassar
Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:

Wahai orang-orang yang membenarkan Allah dan Rasul-Nya dan mengamalkan syariat-Nya, sesungguhnya khamar (yaitu semua yang memabukkan yang bisa menutup akal), judi yang mencakup taruhan dari dua belah pihak dan yang sejenisnya, menghalang-halangi dari mengingat Allah.
Adapun berhala, yaitu batu-batu yang ditegakkan oleh orang-orang musyrikin dan mereka menyembelih di depannya dengan penuh pengagungan kepadanya, dan apa yang dipancangkan untuk disembah dan mendekatkan diri kepadanya.
Anak-anak panah, yaitu yang digunakan oleh orang-orang kafir untuk mengundi sebelum menetapkan suatu perkara, apakah dilakukan atau ditinggalkan.
Semua itu adalah dosa termasuk tipu daya setan, maka jauhilah dosa-dosa tersebut agar kalian meraih surga Allah.

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Allah subhanahu wa ta’ala.
berfirman melarang hamba-hamba-Nya yang beriman meminum khamr dan berjudi.
Telah disebutkan dalam sebuah riwayat dari Amirul Mu’minin Ali ibnu Abu Talib r.a., bahwa ia pernah mengatakan catur itu termasuk judi.
Begitu pula menurut apa yang diriwayatkan oleh Ibnu Abu Hatim, dari ayahnya, dari Isa ibnu Marhum, dari Hatim, dari Ja’far ibnu Muhammad, dari ayahnya, dari Ali r.a.

Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Ismail Al-Ahmasi, telah menceritakan kepada kami Waki’, dari Sufyan, dari Lais, dari Ata, Mujahid, dan Tawus, menurut Sufyan atau dua orang dari mereka, mereka telah mengatakan bahwa segala sesuatu yang memakai taruhan dinamakan judi, hingga permainan anak-anak yang memakai kelereng.

Telah diriwayatkan pula dari Rasyid ibnu Sa’d serta Damrah ibnu Habib hal yang semisal.
Mereka mengatakan, “Hingga dadu, kelereng, dan biji juz yang biasa dipakai permainan oleh anak-anak.”

Musa ibnu Uqbah telah meriwayatkan dari Nafi’, dari Ibnu Umar, bahwa maisir adalah judi.

Ad-Dahhak telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas yang mengatakan bahwa maisir adalah judi yang biasa dipakai untuk taruhan di masa Jahiliah hingga kedatangan Islam.
Maka Allah melarang mereka melakukan perbuatan-perbuatan yang buruk itu.

Malik telah meriwayatkan dari Daud ibnul Husain, bahwa ia pernah mendengar Sa’id ibnul Musayyab berkata, “Dahulu maisir yang dilakukan oleh orang-orang Jahiliah ialah menukar daging dengan seekor kambing atau dua ekor kambing.”

Az-Zuhri telah meriwayatkan dari Al-A’raj yang mengatakan bahwa maisir ialah mengundi dengan anak panah yang taruhannya berupa harta dan buah-buahan.

Al-Qasim ibnu Muhammad mengatakan bahwa semua sarana yang melalaikan orang dari mengingati Allah dan salat dinamakan maisir.

Semua riwayat yang telah disebutkan di atas diketengahkan oleh Ibnu Abu Hatim.

Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ahmad ibnu Mansur Ar-Ramadi, telah menceritakan kepada kami Hisyam ibnu Ammar, telah menceritakan kepada kami Sadaqah, telah menceritakan kepada kami Usman ibnu Abul Atikah, dari Ali Ibnu Yazid, dari Al-Qasim, dari Abu Umamah, dari Abu Musa Al-Asy’ari, dari Nabi ﷺ yang telah bersabda: Jauhilah oleh kalian dadu-dadu yang bertanda ini, yang dikocok-kocok, karena sesungguhnya ia termasuk maisir.

Hadis ini berpredikat garib.
Seakan-akan yang dimaksud dengan dadu tersebut adalah permainan nard (kerambol) yang disebutkan dalam sahih Muslim melalui Buraidah ibnu Hasib Al-Aslami yang mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda:

Barang siapa yang bermain nardsyir (karambol), maka seakan-akan mencelupkan tangannya ke dalam daging dan darah babi.

Di dalam kitab Muwatta’ Imam Malik dan Musnad Imam Ahmad serta Sunan Abu Daud dan Sunan Ibnu Majah disebutkan sebuah hadis melalui Abu Musa Al-Asy’ari yang telah menceritakan bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda:

Barang siapa yang bermain nard, maka ia telah durhaka terhadap Allah dan Rasul-Nya.

Telah diriwayatkan pula secara mauquf dari Abu Musa, bahwa hal tersebut merupakan perkataan Abu Musa sendiri.

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Maki ibnu Ibrahim, telah menceritakan kepada kami Al-Ju’aid, dari Musa ibnu Abdur Rahman Al-Khatmi, bahwa ia pernah mendengar perkataan Muhammad ibnu Ka’b ketika bertanya kepada Abdur Rahman, “Ceritakanlah kepadaku apa yang telah kamu dengar dari ayahmu dari Rasulullah ﷺ” Maka Abdur Rahman menjawab bahwa ia pernah mendengar ayahnya mengatakan bahwa ia telah mendengar Rasulullah ﷺ bersabda: Perumpamaan orang yang bermain nard, kemudian ia bangkit dan melakukan salat, sama halnya dengan orang yang berwudu dengan memakai nanah dan darah babi, lalu ia bangkit dan melakukan salatnya.

Adapun mengenai syatranj (catur), Abdullah ibnu Umar r.a.
mengatakan bahwa permainan catur adalah perbuatan yang buruk dan termasuk permainan nard.

Dalam keterangan yang lalu telah disebutkan dari Ali r.a.
bahwa permainan catur termasuk maisir.
Imam Malik, Imam Abu Hanifah, dan Imam Ahmad telah menaskan keharamannya, tetapi Imam Syafii menghukuminya makruh.

Mengenai ansab, maka Ibnu Abbas, Mujahid, Ata, Sa’id ibnu Jubair, dan Al-Hasan serta lain-lainnya yang bukan hanya seorang mengatakan bahwa ansab merupakan tugu-tugu terbuat dari batu yang dijadikan sebagai tempat mereka melakukan kurban di dekatnya (untuk tugu-tugu tersebut).

Adapun azlam menurut mereka ialah anak-anak panah (yang tidak diberi bulu keseimbangan dan tidak diberi ujung), alat ini biasa mereka pakai untuk mengundi nasib.
Demikianlah menurut apa yang diriwayatkan oleh Ibnu Abu Hatim.

Firman Allah subhanahu wa ta’ala.:

…adalah perbuatan keji, termasuk perbuatan setan.

Ali ibnu Abu Talhah telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas, bahwa rijsun artinya perbuatan yang dimurkai (Allah) dan termasuk perbuatan setan.
Menurut Sa’id ibnu Jubair, arti rijsun ialah dosa.
Sedangkan menurut Zaid ibnu Aslam disebutkan bahwa makna rijsun ialah jahat, termasuk perbuatan setan.

Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu.

Damir yang ada pada lafaz fajtanibuhu kembali merujuk kepada lafaz ar-rijsu, yakni tinggalkanlah perbuatan yang jahat dan keji itu.

…agar kalian mendapat keberuntungan.

Ayat ini mengandung makna targib (anjuran untuk memikat).

Hadits Shahih Yang Berhubungan Dengan Surah Al Maa'idah (5) ayat 90
Telah menceritakan kepada kami Abu Bakr bin Abu Syaibah dan Zuhair bin Harb keduanya berkata,
Telah menceritakan kepada kami Al Hasan bin Musa, Telah menceritakan kepada kami Zuhair, Telah menceritakan kepada kami Simak bin Harb, Telah menceritakan kepadaku Mush’ab bin Sa’ad dari bapaknya bahwa ada beberapa ayat Al Qur’an yang turun berkenaan dengan Sa’ad. Mush’ab berkata,
Ibu Sa’ad bersumpah tidak akan mau berbicara dengan Sa’ad selama-lamanya hingga ia (Sa’ad) meninggalkan ajaran Islam. Selain itu, ibunya juga tidak mau makan dan minum. Ibu Sa’ad berkata kepada Sa’ad, Hai Sa’ad, kamu pernah mengatakan bahwasanya Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memerintahkanmu agar kamu selalu berbuat baik kepada kedua orang tuamu?. Sekarang aku adalah ibumu, maka aku perintahkan kepadamu agar meninggalkan Islam. Mush’ab berkata,
‘Ibu Sa’ad bertahan untuk tidak makan dan minum selama tiga hari tiga malam hingga jatuh pingsan karena lemah. Kemudian Umarah, anak laki-Iakinya, memberinya minum. Lalu ibunya itu selalu memanggil Sa’ad. kemudian turunlah firman Allah yang berbunyi: Kami wasiatkan kepada manusia agar berbuat baik kepada kedua orang tuanya (Qs. Al Ankabuut(29): 8). Sedangkan ayat yang lain berbunyi: Jika kedua orang tuamu memaksamu untuk menyekutukan-Ku dengan sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mematuhi keduanya dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik. (Qs. Luqmaan (31): 15). Saad berkata,
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam pernah memperoleh rampasan perang yang sangat banyak dan ternyata di dalamnya ada sebilah pedang. Lalu saya ambil pedang itu dan membawanya kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam seraya berkata,
Ya Rasulullah, berikanlah pedang tersebut kepada saya, karena saya adalah orang yang telah engkau kenal perangainya. Tetapi Rasulullah shallallahu alaihi wasallam malah berkata:
Hai Sa’ad, kembalikanlah pedang itu ke tempat semula, di tempat kamu mengambilnya.’ Lalu saya pergi, hingga ketika saya ingin mengambilnya kembali, maka saya pun mencela diri saya sendiri. Setelah itu saya menghampiri Rasulullah sambil berkata,
Ya Rasulullah, berikanlah pedang itu kepada saya! Namun Rasulullah tetap pada pendiriannya semula dan menjawabnya dengan suara yang keras: Hai Sa’ad, sudah ‘kukatakan kepadamu kembalikan pedang itu ke tempat di mana kamu mengambilnya! Setelah itu, Allah Subhanahu wa Ta’ala menurunkan firmannya berbunyi: Mereka bertanya kepadamu tentang harta rampasan perang (Qs. Al Anfaal: 1). Sa’ad berkata,
Ketika saya jatuh sakit, saya mengutus seseorang untuk menemui Rasulullah. Setelah itu, beliau pun mendatangi saya. Lalu saya berkata kepada beliau, ‘Ya Rasulullah, izinkahlah saya membagikan harta sebagai wasiat sesuka hati. Tetapi, rupanya Rasulullah melarangnya. Saya katakan lagi,Bagaimana kalau separuhnya? Beliau tetap melarangnya. Kemudian saya berkata lagi,
Bagaimana kalau sepertiganya? Beliau terdiam sesaat dan setelah itu memperbolehkan wasiat sepertiga harta. Saad berkata,
Saya pernah mendatangi beberapa orang Anshar dan Muhajirin. Kemudian mereka berkata,
‘Kemarilah hai Sa’ad, kami akan memberimu makanan dan minuman keras (khamer).’ (Saat itu khamar memang belum diharamkan). Lalu saya mendatangi untuk bergabung dengan mereka di suatu kebun. Ternyata di sana ada kepala unta yang telah dipanggang dan satu wadah minuman keras. Kemudian saya makan dan minum dengan sepuasnya bersama mereka. Kebetulan pada saat itu sedang didiskusikan dan dibicarakan antara mereka tentang keutamaan kaum Anshar dan kaum Muhajirin. Maka saya pun menyatakan bahwa kaum Muhajirin lebih baik dan utama daripada kaum Anshar. Tentu saja pernyataan saya itu sangat kontroversial dan menyinggung banyak orang yang hadir pada saat itu. Hingga ada salah seorang dari mereka mengambil salah satu dagu dan kepala unta lalu memukulkannya kepada saya hingga mencederai hidung saya. Lalu saya datang menemui Rasulullah dan menceritakan apa yang telah terjadi pada diri saya. Akhirnya turunlah firman Allah yang berbunyi: Sesungguhnya minuman Khamr, berjudi, berkorban untuk berhala, dan mengundi nasib dengan panah adalah terbuat keji yang termasuk perbuatan syetan. (Al Maidah: 90) Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Al Mutsanna danMuhammad bin Basysyar keduanya berkata,
Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja’far, Telah menceritakan kepada kami Syu’bahdari Simak bin Harb dari Mush’ab bin Sa’ad dari Bapaknya dia berkata,
Ada empat ayat Al Qur’an yang turun berkenaan dengan ku, dan seterusnya sebagaimana yang semakna dengan Hadits Zuhair dari Simak. Di dalam Hadist Syu’bah ada tambahan, ‘Apabila mereka ingin memberi makan kepada ibunya, mereka membuka dengan tongkat, lalu menuangkan makanan ke dalamnya. Juga di sebutkan di dalam Hadits tersebut, ‘lalu salah seorang dari mereka memukul hidung Sa’ad hingga sobek.’

Shahih Muslim, Kitab Keutamaan Sahabat – Nomor Hadits: 4432

Kata Pilihan Dalam Surah Al Maa'idah (5) Ayat 90

ANSHAAB
أَنصَاب

Lafaz ini adalah bentuk jamak bagi an nashb, an nushb dan an nusub. Al-nashb dan an nushb bermakna sesuatu yang ditegakkan sehingga ia disembah selain Allah. Ia juga bermakna kejahatan dan bala. Ini sesuai dengan pendapat Al Jauhari.

Ibn Manzur berkata,
An nashb dan an nushb bermakna bendera yang ditegakkan atau setiap sesuatu yang disembah selain Allah.”

Al Farra berpendapat, an nushub seolah ­olah adalah tuhan yang disembah dari batu.

An nashb juga bermakna tanda yang diletakkan untuk suatu batasan atau tujuan, sejenis lagu yang ringan, muslihat dan tipu daya. Apabila disandarkan kepada al-kalimat atau nashb al-kalimat berarti i’rabnya dengan berbaris atas. Apabila disandarkan kepada ‘ain atau nashb ‘aini artinya dihadapannya. An­nushb juga mengandung makna sesuatu yang dibina bagi mengingatkan kepada seseorang atau kejadian.

Lafaz anshaab disebut sekali dalam Al Qur’an yaitu pada surah Al Maa’idah (5), ayat 90.

At Tabari berkata,
“Makna lafaz ini ialah berhala-berhala dari batu yang disembah oleh orang musyrik dan ia bukanlah patung.”

Ibn Juraij berkata,
“Karena patung digambar, dibentuk atau dipahat.” Pendapat ini berdasarkan pada riwayat dari Mujahid, Qatadah, Ibn Abbas dan Ibn Zaid.

Ibn Faris berkata,
“Ia bermakna batu yang ditegakkan bagi disembah dan disiram dengan darah-darah sembelihan.”

Ibn Sayyidah berkata,
Al anshaab ialah batu-batu di sekeliling Ka’bah, ditegakkan untuk diagungkan dalam upacara sembelihan.”

Ibn Manzur berkata,
“Makna anshaab pada surah Al Maa’idah ayat 90 adalah sama seperti pada ayat 3 yaitu bermakna al awtsaan (berhala-berhala).”

Kesimpulannya, makna anshaab ialah berhala-berhala dari batu yang tidak berbentuk ashnaam atau patung.

Sumber : Kamus Al Qur’an, PTS Islamika SDN. BHD.Hal:57-58

Informasi Surah Al Maa'idah (المائدة)
Surat Al Maa-idah terdiri dari 120 ayat termasuk golongan surat Madaniyyah.
Sekalipun ada ayatnya yang turun di Mekah, namun ayat ini diturunkan sesudah Nabi Muhammad ﷺ hijrah ke Madinah, yaitu di waktu haji wadaa’

Surat ini dinamakan “Al Maa-idah” (hidangan), karena memuat kisah pengikut-pengikut setia Nabi ‘Isa ‘alaihis salam meminta kepada Nabi ‘Isa ‘alaihis salam, agar Allah menurunkan untuk mereka Al Maa-idah (hidangan makanan) dari langit (ayat 112).
Dan dinamakan dengan “Al Uqud” (perjan­jian), karena kata itu terdapat pada ayat pertama surat ini, di mana Allah menyuruh agar hamba­ hamba-Nya memenuhi janji prasetia terhadap Allah dan perjanjian-perjanjian yang mereka buat sesamanya.

Dinamakan juga “Al Munqidz” (yang menyelamatkan), karena akhir surat ini mengandung kisah tentang Nabi ‘Isa ‘alaihis salam penyelamat pengikut-pengikut setianya dari azab Allah.

Keimanan:

Bantahan terhadap orang-orang yang mempertuhankan Nabi ‘Isa a.s.

Hukum:

Keharusan memenuhi perjanjian
hukum melanggar syi’ar Allah
makanan yang di­halalkan dan yang diharamkan
hukum mengawini wanita ahli kitab
wudhu
tayammum
mandi
hukum membunuh orang
hukum mengacau dan mengganggu keamanan
hukum qishaas
hukum melanggar sumpah dan kafaaratnya
hukum khamar
berjudi
berkorban untuk berhala
mengundi nasib
hukum membunuh binatang waktu ihram
hukum persaksian dalam berwasiat.

Kisah:

Kisah-kisah Nabi Musa a.s. menyuruh kaumnya memasuki Palestina
kisah Habil dan Qabil, kisah-kisah tentang Nabi ‘Isa a.s

Lain-lain:

Keharusan bersikap lemah lembut terhadap sesama mu’min bersikap keras terhadap orang-orang kafir
penyempurnaan Agama Islam di zaman Nabi Muhammad ﷺ
keharusan jujur dan berlaku adil
sikap dalam menghadapi berita-berita bohong
akibat berteman akrab dengan orang yang bukan muslim
kutukan Allah terhadap orang-orang Yahudi
kewajiban rasul hanya menyampaikan agama
sikap Yahudi dan Nasrani terhadap orang Islam
Ka’bah sokoguru kehidupan manusia
peringat­an Allah supaya meninggalkan kebiasaan Arab Jahiliyah
larangan-larangan terhadap pertanyaan-pertanyaan yang mengakibatkan kesempitan dalam agama.


Gambar Kutipan Surah Al Maa’idah Ayat 90 *beta

Surah Al Maa'idah Ayat 90



Statistik
  • Rating RisalahMuslim

Surah Al Maa'idah

Surah Al-Ma'idah (bahasa Arab:المآئدة, al-Mā'idah, "Jamuan Hidangan") adalah surah ke-5 dalam Al-Qur'an.
Surah ini terdiri dari 120 ayat dan termasuk golongan surah Madaniyah.
Sekalipun ada ayat-ayatnya yang turun di Mekkah, namun ayat ini diturunkan sesudah Nabi Muhammad hijrah ke Madinah, yakni sewaktu peristiwa Haji Wada'.
Surah ini dinamakan Al-Ma'idah (hidangan) karena memuat kisah para pengikut setia nabi Isa meminta kepada nabi Isa agar Allah menurunkan untuk mereka Al-Ma'idah (hidangan makanan) dari langit (ayat 112).
Selain itu, Surah Al-Ma'idah juga disebut Al-Uqud (perjanjian), karena kata itu terdapat pada ayat pertama surah ini, di mana Allah menyuruh agar hamba-hamba-Nya memenuhi janji terhadap Allah maupun perjanjian-perjanjian yang mereka buat terhadap sesamanya.
Dinamakan juga Al-Munqidz (yang menyelamatkan), sebab pada bagian akhir surah ini memuat kesaksian Isa Al-Masih terhadap kaum pengikutnya.

Nomor Surah5
Nama SurahAl Maa'idah
Arabالمائدة
ArtiJamuan (hidangan makanan)
Nama lainAl-'Uqud (bermakna perjanjian dan kesepakatan) dan Al-Munqidz (bermakna yang menyelamatkan).
Tempat TurunMadinah
Urutan Wahyu112
JuzJuz 6 (ayat 1-82), juz 7 (ayat 83-120)
Jumlah ruku'0
Jumlah ayat120
Jumlah kata2842
Jumlah huruf12207
Surah sebelumnyaSurah An-Nisa'
Surah selanjutnyaSurah Al-An'am
4.6
Rating Pembaca: 4.8 (10 votes)
Sending







Anda perlu login mengelola Bookmark.

📖 Lihat Semua Bookmark-ku