Keluarga Anda ada yang belum mahir membaca Alquran? Ingin segera bisa? Klik di sini sekarang!

QS. Al Maa’idah (Jamuan (hidangan makanan)) – surah 5 ayat 90 [QS. 5:90]

یٰۤاَیُّہَا الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡۤا اِنَّمَا الۡخَمۡرُ وَ الۡمَیۡسِرُ وَ الۡاَنۡصَابُ وَ الۡاَزۡلَامُ رِجۡسٌ مِّنۡ عَمَلِ الشَّیۡطٰنِ فَاجۡتَنِبُوۡہُ لَعَلَّکُمۡ تُفۡلِحُوۡنَ
Yaa ai-yuhaal-ladziina aamanuu innamaal khamru wal maisiru wal anshaabu wal azlaamu rijsun min ‘amalisy-syaithaani faajtanibuuhu la’allakum tuflihuun(a);
Wahai orang-orang yang beriman! Sesungguhnya minuman keras, berjudi, (berkurban untuk) berhala, dan mengundi nasib dengan anak panah, adalah perbuatan keji dan termasuk perbuatan setan.
Maka jauhilah (perbuatan-perbuatan) itu agar kamu beruntung.
―QS. Al Maa’idah [5]: 90

O you who have believed, indeed, intoxicants, gambling, (sacrificing on) stone alters (to other than Allah), and divining arrows are but defilement from the work of Satan, so avoid it that you may be successful.
― Chapter 5. Surah Al Maa’idah [verse 90]

يَٰٓأَيُّهَا wahai

O you
ٱلَّذِينَ orang-orang yang

who
ءَامَنُوٓا۟ beriman

believe!
إِنَّمَا sesungguhnya hanyalah

Verily
ٱلْخَمْرُ minuman keras

the intoxicants
وَٱلْمَيْسِرُ dan judi

and [the] games of chance
وَٱلْأَنصَابُ dan berhalaberhala

and (sacrifices at) altars
وَٱلْأَزْلَٰمُ dan mengundi nasib dengan anak panah

and divining arrows
رِجْسٌ perbuatan keji

(are an) abomination
مِّنْ dari

from
عَمَلِ perbuatan

(the) work
ٱلشَّيْطَٰنِ syaitan

(of) the Shaitaan,
فَٱجْتَنِبُوهُ maka jauhilah perbuatan itu

so avoid it
لَعَلَّكُمْ agar kalian

so that you may
تُفْلِحُونَ (kamu) beruntung

(be) successful.

Tafsir

Alquran

Surah Al Maa’idah
5:90

Tafsir QS. Al Maa’idah (5) : 90. Oleh Kementrian Agama RI


Dengan ayat ini Allah menjelaskan hukumhukum-Nya mengenai empat macam perbuatan, yaitu:
minum khamar, berjudi, mempersembahkan kurban kepada patung-patung dan mengundi nasib dengan menggunakan alat-alat yang menyerupai anak panah yang biasa dilakukan oleh bangsa Arab sebelum datangnya agama Islam.


Mengenai pengharaman minum khamar, para ahli tafsir berpendapat bahwa ayat ini merupakan tahap terakhir dalam menentukan hukum haramnya meminum khamar.

Menurut mereka, Alquran mengemukakan hukum meminum khamar itu dalam empat tahap.


Pertama, berupa informasi tentang adanya kandungan alkohol pada buah anggur pada surah an-Nahl [16]: 67.

وَمِنْ ثَمَرٰتِ النَّخِيْلِ وَالْاَعْنَابِ تَتَّخِذُوْنَ مِنْهُ سَكَرًا وَّرِزْقًا حَسَنًا اِنَّ فِيْ ذٰلِكَ لَاٰيَةً لِّقَوْمٍ يَّعْقِلُوْنَ

Dan dari buah kurma dan anggur, kamu membuat minuman yang memabukkan dan rezeki yang baik.
Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran Allah) bagi orang yang mengerti.

(an-Nahl [16]: 67)


Kedua, manfaat dan madarat minuman keras:

يَسْـَٔلُوْنَكَ عَنِ الْخَمْرِ وَالْمَيْسِرِ قُلْ فِيْهِمَآ اِثْمٌ كَبِيْرٌ وَّمَنَافِعُ لِلنَّاسِ وَاِثْمُهُمَآ اَكْبَرُ مِنْ نَّفْعِهِمَا

Mereka menanyakan kepadamu (Muhammad) tentang khamar dan judi.
Katakanlah,
"Pada keduanya terdapat dosa besar dan beberapa manfaat bagi manusia.

Tetapi dosanya lebih besar daripada manfaatnya.
(al-Baqarah [2]: 219)


Ayat ini turun pada masa permulaan Islam, ketika iman kaum Muslimin belum begitu kuat untuk dapat meninggalkan apa yang telah menjadi kegemaran dan kebiasaan mereka, yang sebenarnya tidak dibolehkan oleh agama Islam.

Maka setelah turun ayat ini, sebagian dari kaum Muslimin telah meningalkan kebiasaan minum khamar karena ayat tersebut telah menyebutkan bahwa perbuatan itu merupakan dosa besar.
Tetapi sebagian masih melanjutkan kebiasaan minum khamar, karena menurut pendapat mereka ayat itu belum melarang mereka dari perbuatan itu, karena masih menyebutkan bahwa khamar itu mengandung banyak manfaat bagi manusia.


Alkohol atau khamr yang dimaksud adalah etanol yang diproduksi dengan fermentasi sari buah seperti anggur, nanas, dan sebagainya.
Juga dapat diproduksi dari tetes, limbah dari pabrik gula tebu, dan ini merupakan bahan baku yang paling banyak digunakan untuk memproduksi alkohol di Indonesia.


Alkohol memiliki beberapa manfat antara lain sebagai sumber energi dan pelarut.
Alkohol merupakan sumber energi yang cukup tinggi, lebih tinggi dari gula dan hampir menyamai lemak dengan perbandingan sebagai berikut Karbohidrat/gula, 4 kkal/g, alkohol, 7 kkal/g dan lemak, 9 kkal/g Selain itu alkohol mudah dicerna sehingga badan mudah memperoleh energi setelah minum alkohol.
Alkohol juga dipakai pelarut dalam obat “ obatan yang disebut elixir seperti dalam obat ginjal batugen elixir atau juga dalam obat batuk.


Ketiga, larangan melaksanakan salat ketika mabuk:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا تَقْرَبُوا الصَّلٰوةَ وَاَنْتُمْ سُكَارٰى حَتّٰى تَعْلَمُوْا مَا تَقُوْلُوْنَ

Wahai orang yang beriman! Janganlah kamu mendekati sholat, ketika kamu dalam keadaan mabuk, sampai kamu sadar apa yang kamu ucapkan…"
(an-Nisa’ [4]: 43)


Karena ayat ini melarang mereka melakukan salat dalam keadaan mabuk, maka ini berarti bahwa mereka tidak dibolehkan minum khamar sebelum salat, agar mereka dapat melakukan salat dalam keadaan tidak mabuk.
Setelah turun ayat ini, mereka tak bisa lagi minum khamar sejak sebelum Zuhur, sampai selesainya salat Zuhur dan Asar adalah bersambungan, dalam masa yang pendek.
Demikian pula antara Asar dan Magrib, dan antara Magrib dengan khamar sesudah salat Zuhur, atau Magrib, niscaya tak cukup waktu untuk menunggu mereka sadar dari mabuk.
Sehingga dengan demikian mereka tak akan dapat melakukan salat dalam keadaan sadar, sedangkan Allah telah melarang mereka melakukan salat dalam keadaan mabuk.


Orang-orang yang hendak minum khamar hanya mendapat kesempatan sesudah salat salat Subuh.
Karena jarak antara Subuh dan antara Subuh dan Zuhur cukup panjang.
Dengan demikian, diharapkan orang yang minum khamar menjadi semakin berkurang.


Keempat, penetapan keharaman khamar.
Setelah iman kaum Muslimin semakin kuat, dan kejiwaan mereka semakin mantap untuk meninggalkan apa yang tidak diperbolehkan agama, maka turunlah ayat 90 Surah al-Ma’idah [5] ini, yang memberikan ketegasan tentang haramnya minum khamar, yaitu dengan mengatakan bahwa minum khamar, dan perbuatan lainnya adalah perbuatan kotor, haram dan termasuk perbuatan setan yang tak patut dilakukan oleh manusia yang beriman kepada Allah.
Dengan turunnya ayat ini, tertutuplah sudah semua kemungkinan bagi orang-orang mukmin untuk minum khamar.


Demikianlah tahap-tahap yang telah diatur Alquran dalam memberikan hukum haram minum khamar.
Prinsip ini sangat tepat untuk digunakan bila kita ingin mengadakan pemberantasan dan pembasmian apa yang telah berurat berakar dan mendarah-daging dalam masyarakat.
Andaikata kita mengadakan tindakan yang drastis, pemberantasan yang mendadak dan sekaligus, maka akan terjadi kegoncangan dalam masyarakat, dan akan timbullah perlawanan yang keras terhadap peraturan baru yang hendak diterapkan.
Agama Islam sangat mementingkan pembinaan mental manusia, dan menghindari timbulnya kegoncangan-kegoncangan dalam masyarakat.


Khamar atau minuman berakohol dilarang karena dibalik kemanfaatannya alkohol juga memiliki kemudaratan.
Di negara“negara maju, seperti Amerika dan Australia, alkohol penyebab kecelakaan lalu lintas lebih dari 55% dan juga merupakan sumber berbagai penyakit.
Di Amerika diidentifikasi bahwa pemabuk banyak menderita penyakit karena avitaminosis.
Di Australia didapatkan bahwa anak“anak suami istri pemabuk, banyak menderita cacat fisik dan atau mental.
Di Papua Nugini, kegemaran minum para pekerjanya adalah penyebab penceraian, karena uang habis untuk minum“minum.
Di Indonesia, alkohol adalah penyebab tindakan kriminal seperti perampokan, perkosaan dan pembunuhan.
Juga penyebab kecelakaan lalu lintas, dan keretakan rumah tangga.
Meskipun merupakan bisnis besar, tetapi telah diteliti bahwa setiap dolar yang diperoleh dari produk alkohol, memerlukan biaya yang lebih besar untuk mengatasi akibat kerusakan sosial yang diperoleh, seperti :
Tennese State :
Perolehan US$1,- biaya US$ 2.28
Shelby State :
Perolehan US$1,- biaya US$ 11.08
Memphis State :
Perolehan US$1,- biaya US$ 4.39
Karena alkohol mudah diserap, maka makanan berlebih seperti gula, lemak dan protein disimpan dalam bentuk lemak sehingga kelebihan berat badan.
Obesitas ini penyebab dari penyakit pembuluh darah, jantung dan gula (diabetes).


Perlu diketahui bahwa alkohol adalah minuman berenergi tinggi tetapi tanpa gizi atau disebut
"empty calories".
Juga alkohol penyebab tubuh tidak dapat menyerap vitamin dan mineral atau keduanya dibuang ke dalam urin.
Akibatnya pemabuk menjadi malnutrisi.
Dan ini pula penyebab utama bahwa anak “ anak para peminum atau pemabuk menderita cacat fisik atau mental karena sperma atau ovumnya kekurangan gizi.


Detoksikasi alkohol dalam tubuh oleh lever terus menerus dapat merusak sel“sel.
Kerusakan sel akan mengganggu kinerja lever.
Selain itu kelebihan lemak disimpan dalam hati yang dapat menyebabkan kanker hati atau cirrosis yang belum ada obatnya.
Alkohol merusak sistem syaraf, melemahkan koordinasi otot dan mata (penyebab kecelakaan).
Juga menghilangkan ingatan sehingga melakukan segala kejahatan tanpa kesadaran, seperti memperkosa, berkelahi, merampok dan membunuh.


Alkohol termasuk bahan yang menyebabkan ketagihan atau adiktif.
Sifat ini menyebabkan peminum ingin mengkonsumsi lebih banyak dan lebih banyak lagi karena tidak puas.
Rasa yang selalu tidak puas itu yang akhirnya menyebabkan terjerumus ke dalam dunia narkotika seperti ganja, morfin, kokain, dan sebagainya.
Sifat adiktif ini secara ilmu pengetahuan belum dapat dijelaskan dengan memuaskan.


Adapun judi, amat besar bahayanya bagi pribadi dan masyarakat.
Judi dapat merusak kepribadian dan moral seseorang, karena seorang penjudi selalu berangan-angan akan mendapat keuntungan besar tanpa bekerja dan berusaha, menghabiskan umurnya di meja judi tanpa menghiraukan kesehatannya, keperluan hidupnya dan hidup keluarganya yang menyebabkan rumah tangga hancur.
Judi akan menimbulkan permusuhan antara sesama penjudi.
Permusuhan ini terus berlanjut dalam pergaulan sehingga merusak masyarakat.
Berapa banyak rumah tangga yang berantakan, harta yang musnah karena judi.
Tidak ada orang yang kaya semata-mata karena berjudi (lihat juga tafsir ayat 219 Surah al-Baqarah [2]).


Orang Arab sebelum Islam merupakan masyarakat penyembah berhala.
Mereka membuat patung-patung dari batu dan sebagainya, kemudian mereka sembah dan mereka agung-agungkan.
Mereka menyembelih hewan-hewan kurban untuk dipersembahkan kepada patung-patung tersebut.
Perbuatan ini adalah perbuatan yang sesat.
Karena yang patut disembah dan diagungkan hanyalah Allah.
Manusia dapat menyembah Allah, tanpa perantara.
Jika ingin berkurban, sembelihlah kurban itu, kemudian dagingnya dibagi-bagikan kepada manusia yang dapat memanfaatkannya, jangan kepada patung-patung yang tak akan dapat mengambil manfaat apapun dari daging kurban tersebut.
Oleh sebab itu, sangat tepat bila agama Islam melarang kaum Muslimin mempersembahkan kurban kepada patung-patung, kemudian Islam menetapkan bahwa kurban itu adalah untuk mengagungkan Allah, dan dagingnya dibagikan kepada sesama manusia.


Mengundi nasib, juga suatu perbuatan yang telah lama dikenal manusia, bahkan sampai sekarang masih dilakukan dan dipercayai oleh sebagian orang.
Ada berbagai cara yang digunakan untuk keperluan itu.
Ada kalanya dengan menggunakan alat, atau dengan meneliti telapak tangan, atau dengan memperhatikan tanggal dan hari kelahiran bintang-bintang, sebagaimana sering dicantumkan dalam majalah hiburan atau surat kabar-surat kabar.
Bangsa Arab di zaman jahiliah biasa mengundi nasib dengan menggunakan azlam, yaitu anak panah yang belum memakai bulu.
Mereka menggunakannya untuk mengambil keputusan apakah mereka akan melakukan sesuatu perbuatan atau tidak.
Caranya ialah:
mereka mengambil tiga buah anak panah yang belum memakai bulu tersebut lalu pada anak panah yang pertama mereka tuliskan kata-kata
"lakukanlah"
sedang pada anak panah yang kedua mereka tuliskan kata-kata
"jangan lakukan";
adapun anak panah yang ketiga tidak ditulisi apa-apa.
Ketiga anak panah tersebut diletakkan dalam suatu wadah, lalu disimpan di dalam Ka’bah.
Bila mereka hendak melakukan satu pekerjaan, maka mereka meminta kepada tukang kunci Ka’bah untuk mengambil satu di antara ketiga anak panah tersebut.
Apakah mereka akan melakukan perbuatan itu atau tidak, tergantung kepada tulisan yang didapati pada anak panah yang diambil itu.
Jika ternyata bahwa yang diambil itu adalah anak panah yang tidak ada tulisannya, maka undian itu diulang sekali lagi.
Demikianlah mereka menggantungkan nasib kepada undian tersebut dan mereka sangat mempercayainya.


Undian-undian dan ramalan-ramalan semacam itu mengandung banyak segi negatifnya.
Apabila si peramal mengatakan bahwa orang yang bersangkutan akan menemui nasib yang jelek, maka hal itu akan membuatnya merasa kuatir, takut dan putus asa, bahkan akan menyebabkan tidak mau bekerja dan berusaha karena ia percaya kepada ramalan itu.
Sebaliknya, bila peramal mengatakan bahwa ia akan menjadi orang yang kaya dan berbahagia, maka hal itu dapat menyebabkan dia malas bekerja dan memandang rendah segala macam usaha, karena ia percaya bahwa tanpa usaha pun ia akan berbahagia atau menjadi kaya.


Orang beriman dilarang mempercayai ramalan-ramalan itu, baik yang dikatakan langsung oleh tukang-tukang ramal, ataupun yang biasa dipublikasikan dalam media cetak dan elektronik.
Ramalan-ramalan tersebut dapat merusak iman.
Orang beriman harus percaya bahwa Allah sajalah yang dapat menentukan nasib setiap makhluk-Nya.
Percaya kepada qadha dan qadar Allah, adalah salah satu dari rukun iman.


Pada akhir ayat ini Allah memerintahkan agar orang beriman menjauhi minuman khamar, berjudi, berkorban untuk patung-patung serta mengundi nasib, diharapkan dengan menjauhi perbuatan-perbuatan itu, mereka akan menjadi orang-orang yang sukses dan beruntung di dunia dan di akhirat.

Tafsir QS. Al Maa’idah (5) : 90. Oleh Muhammad Quraish Shihab:


Hai orang-orang yang beriman kepada Allah, kitabkitab-Nya dan rasulrasul-Nya dan tunduk kepada kebenaran, sesungguhnya meminum minuman keras yang memabukkan, berjudi, menancapkan batu sebagai landasan menyembelih kurban untuk mendekatkan diri kepada patung-patung yang kalian sembah, melepaskan anak panah, batu kerikil atau daun untuk mengetahui ketentuan-ketentuan yang gaib, semua itu tiada lain hanyalah kekotoran jiwa yang merupakan tipu daya setan bagi pelakunya.
Maka, tinggalkanlah itu semua agar kalian mendapatkan kemenangan di dunia dengan kehidupan yang mulia dan di akhirat dengan kenikmatan surga.

Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:


Wahai orang-orang yang membenarkan Allah dan Rasul-Nya dan mengamalkan syariat-Nya, sesungguhnya khamar (yaitu semua yang memabukkan yang bisa menutup akal), judi yang mencakup taruhan dari dua belah pihak dan yang sejenisnya, menghalang-halangi dari mengingat Allah.
Adapun berhala, yaitu batu-batu yang ditegakkan oleh orang-orang musyrikin dan mereka menyembelih di depannya dengan penuh pengagungan kepadanya, dan apa yang dipancangkan untuk disembah dan mendekatkan diri kepadanya.


Anak-anak panah, yaitu yang digunakan oleh orang-orang kafir untuk mengundi sebelum menetapkan suatu perkara, apakah dilakukan atau ditinggalkan.
Semua itu adalah dosa termasuk tipu daya setan, maka jauhilah dosa-dosa tersebut agar kalian meraih surga Allah.

Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:



(Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya meminum khamar) minuman yang memabukkan yang dapat menutupi akal sehat


(berjudi) taruhan


(berkorban untuk berhala) patung-patung sesembahan


(mengundi nasib dengan anak panah) permainan undian dengan anak panah


(adalah perbuatan keji) menjijikkan lagi kotor


(termasuk perbuatan setan) yang dihiasi oleh setan.


(Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu) yakni kekejian yang terkandung di dalam perbuatan-perbuatan itu jangan sampai kamu melakukannya


(agar kamu mendapat keberuntungan).

Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:


Allah subhanahu wa ta’ala, berfirman melarang hamba-hamba-Nya yang beriman meminum khamr dan berjudi.
Telah disebutkan dalam sebuah riwayat dari Amirul Mu’minin Ali ibnu Abu Talib r.a., bahwa ia pernah mengatakan catur itu termasuk judi.
Begitu pula menurut apa yang diriwayatkan oleh Ibnu Abu Hatim, dari ayahnya, dari Isa ibnu Marhum, dari Hatim, dari Ja’far ibnu Muhammad, dari ayahnya, dari Ali r.a.
Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Ismail Al-Ahmasi, telah menceritakan kepada kami Waki’, dari Sufyan, dari Lais, dari Ata, Mujahid, dan Tawus, menurut Sufyan atau dua orang dari mereka, mereka telah mengatakan bahwa segala sesuatu yang memakai taruhan dinamakan judi, hingga permainan anak-anak yang memakai kelereng.

Telah diriwayatkan pula dari Rasyid ibnu Sa’d serta Damrah ibnu Habib hal yang semisal.
Mereka mengatakan,
"Hingga dadu, kelereng, dan biji juz yang biasa dipakai permainan oleh anak-anak."

Musa ibnu Uqbah telah meriwayatkan dari Nafi’, dari Ibnu Umar, bahwa maisir adalah judi.

Ad-Dahhak telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas yang mengatakan bahwa maisir adalah judi yang biasa dipakai untuk taruhan di masa Jahiliah hingga kedatangan Islam.
Maka Allah melarang mereka melakukan perbuatan-perbuatan yang buruk itu.

Malik telah meriwayatkan dari Daud ibnul Husain, bahwa ia pernah mendengar Sa’id ibnul Musayyab berkata,
"Dahulu maisir yang dilakukan oleh orang-orang Jahiliah ialah menukar daging dengan seekor kambing atau dua ekor kambing."

Az-Zuhri telah meriwayatkan dari Al-A’raj yang mengatakan bahwa maisir ialah mengundi dengan anak panah yang taruhannya berupa harta dan buah-buahan.

Al-Qasim ibnu Muhammad mengatakan bahwa semua sarana yang melalaikan orang dari mengingati Allah dan salat dinamakan maisir.

Semua riwayat yang telah disebutkan di atas diketengahkan oleh Ibnu Abu Hatim.

Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ahmad ibnu Mansur Ar-Ramadi, telah menceritakan kepada kami Hisyam ibnu Ammar, telah menceritakan kepada kami Sadaqah, telah menceritakan kepada kami Usman ibnu Abul Atikah, dari Ali Ibnu Yazid, dari Al-Qasim, dari Abu Umamah, dari Abu Musa Al-Asy’ari, dari Nabi ﷺ yang telah bersabda:
Jauhilah oleh kalian dadu-dadu yang bertanda ini, yang dikocok-kocok, karena sesungguhnya ia termasuk maisir.

Hadis ini berpredikat garib.
Seakan-akan yang dimaksud dengan dadu tersebut adalah permainan nard (kerambol) yang disebutkan dalam sahih Muslim melalui Buraidah ibnu Hasib Al-Aslami yang mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda:

Barang siapa yang bermain nardsyir (karambol), maka seakan-akan mencelupkan tangannya ke dalam daging dan darah babi.

Di dalam kitab Muwatta’ Imam Malik dan Musnad Imam Ahmad serta Sunan Abu Daud dan Sunan Ibnu Majah disebutkan sebuah hadis melalui Abu Musa Al-Asy’ari yang telah menceritakan bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda:

Barang siapa yang bermain nard, maka ia telah durhaka terhadap Allah dan Rasul-Nya.

Telah diriwayatkan pula secara mauquf dari Abu Musa, bahwa hal tersebut merupakan perkataan Abu Musa sendiri.

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Maki ibnu Ibrahim, telah menceritakan kepada kami Al-Ju’aid, dari Musa ibnu Abdur Rahman Al-Khatmi, bahwa ia pernah mendengar perkataan Muhammad ibnu Ka’b ketika bertanya kepada Abdur Rahman,
"Ceritakanlah kepadaku apa yang telah kamu dengar dari ayahmu dari Rasulullah ﷺ"
Maka Abdur Rahman menjawab bahwa ia pernah mendengar ayahnya mengatakan bahwa ia telah mendengar Rasulullah ﷺ bersabda:
Perumpamaan orang yang bermain nard, kemudian ia bangkit dan melakukan salat, sama halnya dengan orang yang berwudu dengan memakai nanah dan darah babi, lalu ia bangkit dan melakukan salatnya.

Adapun mengenai syatranj (catur), Abdullah ibnu Umar r.a. mengatakan bahwa permainan catur adalah perbuatan yang buruk dan termasuk permainan nard.

Dalam keterangan yang lalu telah disebutkan dari Ali r.a. bahwa permainan catur termasuk maisir.
Imam Malik, Imam Abu Hanifah, dan Imam Ahmad telah menaskan keharamannya, tetapi Imam Syafii menghukuminya makruh.

Mengenai ansab, maka Ibnu Abbas, Mujahid, Ata, Sa’id ibnu Jubair, dan Al-Hasan serta lain-lainnya yang bukan hanya seorang mengatakan bahwa ansab merupakan tugu-tugu terbuat dari batu yang dijadikan sebagai tempat mereka melakukan kurban di dekatnya (untuk tugu-tugu tersebut).

Adapun azlam menurut mereka ialah anak-anak panah (yang tidak diberi bulu keseimbangan dan tidak diberi ujung), alat ini biasa mereka pakai untuk mengundi nasib.
Demikianlah menurut apa yang diriwayatkan oleh Ibnu Abu Hatim.

Firman Allah subhanahu wa ta’ala :

…adalah perbuatan keji, termasuk perbuatan setan.

Ali ibnu Abu Talhah telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas, bahwa rijsun artinya perbuatan yang dimurkai (Allah) dan termasuk perbuatan setan.
Menurut Sa’id ibnu Jubair, arti rijsun ialah dosa.
Sedangkan menurut Zaid ibnu Aslam disebutkan bahwa makna rijsun ialah jahat, termasuk perbuatan setan.

Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu.

Damir yang ada pada lafaz fajtanibuhu kembali merujuk kepada lafaz ar-rijsu, yakni tinggalkanlah perbuatan yang jahat dan keji itu.

…agar kalian mendapat keberuntungan.

Ayat ini mengandung makna targib (anjuran untuk memikat).

Hadits Shahih Yang Berhubungan Dengan Surah Al Maa’idah (5) ayat 90

Telah menceritakan kepada kami Abu Bakr bin Abu Syaibah dan Zuhair bin Harb keduanya berkata,
Telah menceritakan kepada kami Al Hasan bin Musa, Telah menceritakan kepada kami Zuhair, Telah menceritakan kepada kami Simak bin Harb, Telah menceritakan kepadaku Mush’ab bin Sa’ad dari bapaknya bahwa ada beberapa ayat Al Qur’an yang turun berkenaan dengan Sa’ad. Mush’ab berkata,
Ibu Sa’ad bersumpah tidak akan mau berbicara dengan Sa’ad selama-lamanya hingga ia (Sa’ad) meninggalkan ajaran Islam. Selain itu, ibunya juga tidak mau makan dan minum. Ibu Sa’ad berkata kepada Sa’ad, Hai Sa’ad, kamu pernah mengatakan bahwasanya Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memerintahkanmu agar kamu selalu berbuat baik kepada kedua orang tuamu?. Sekarang aku adalah ibumu, maka aku perintahkan kepadamu agar meninggalkan Islam. Mush’ab berkata,
‘Ibu Sa’ad bertahan untuk tidak makan dan minum selama tiga hari tiga malam hingga jatuh pingsan karena lemah. Kemudian Umarah, anak laki-Iakinya, memberinya minum. Lalu ibunya itu selalu memanggil Sa’ad. kemudian turunlah firman Allah yang berbunyi: Kami wasiatkan kepada manusia agar berbuat baik kepada kedua orang tuanya (Qs. Al Ankabuut(29): 8). Sedangkan ayat yang lain berbunyi: Jika kedua orang tuamu memaksamu untuk menyekutukan-Ku dengan sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mematuhi keduanya dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik. (Qs. Luqmaan (31): 15). Saad berkata,
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam pernah memperoleh rampasan perang yang sangat banyak dan ternyata di dalamnya ada sebilah pedang. Lalu saya ambil pedang itu dan membawanya kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam seraya berkata,
Ya Rasulullah, berikanlah pedang tersebut kepada saya, karena saya adalah orang yang telah engkau kenal perangainya. Tetapi Rasulullah shallallahu alaihi wasallam malah berkata:
Hai Sa’ad, kembalikanlah pedang itu ke tempat semula, di tempat kamu mengambilnya.’ Lalu saya pergi, hingga ketika saya ingin mengambilnya kembali, maka saya pun mencela diri saya sendiri. Setelah itu saya menghampiri Rasulullah sambil berkata,
Ya Rasulullah, berikanlah pedang itu kepada saya! Namun Rasulullah tetap pada pendiriannya semula dan menjawabnya dengan suara yang keras: Hai Sa’ad, sudah ‘kukatakan kepadamu kembalikan pedang itu ke tempat di mana kamu mengambilnya! Setelah itu, Allah Subhanahu wa Ta’ala menurunkan firmannya berbunyi: Mereka bertanya kepadamu tentang harta rampasan perang (Qs. Al Anfaal: 1). Sa’ad berkata,
Ketika saya jatuh sakit, saya mengutus seseorang untuk menemui Rasulullah. Setelah itu, beliau pun mendatangi saya. Lalu saya berkata kepada beliau, ‘Ya Rasulullah, izinkahlah saya membagikan harta sebagai wasiat sesuka hati. Tetapi, rupanya Rasulullah melarangnya. Saya katakan lagi,Bagaimana kalau separuhnya? Beliau tetap melarangnya. Kemudian saya berkata lagi,
Bagaimana kalau sepertiganya? Beliau terdiam sesaat dan setelah itu memperbolehkan wasiat sepertiga harta. Saad berkata,
Saya pernah mendatangi beberapa orang Anshar dan Muhajirin. Kemudian mereka berkata,
‘Kemarilah hai Sa’ad, kami akan memberimu makanan dan minuman keras (khamer).’ (Saat itu khamar memang belum diharamkan). Lalu saya mendatangi untuk bergabung dengan mereka di suatu kebun. Ternyata di sana ada kepala unta yang telah dipanggang dan satu wadah minuman keras. Kemudian saya makan dan minum dengan sepuasnya bersama mereka. Kebetulan pada saat itu sedang didiskusikan dan dibicarakan antara mereka tentang keutamaan kaum Anshar dan kaum Muhajirin. Maka saya pun menyatakan bahwa kaum Muhajirin lebih baik dan utama daripada kaum Anshar. Tentu saja pernyataan saya itu sangat kontroversial dan menyinggung banyak orang yang hadir pada saat itu. Hingga ada salah seorang dari mereka mengambil salah satu dagu dan kepala unta lalu memukulkannya kepada saya hingga mencederai hidung saya. Lalu saya datang menemui Rasulullah dan menceritakan apa yang telah terjadi pada diri saya. Akhirnya turunlah firman Allah yang berbunyi: Sesungguhnya minuman Khamr, berjudi, berkorban untuk berhala, dan mengundi nasib dengan panah adalah terbuat keji yang termasuk perbuatan syetan. (Al Maidah: 90) Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Al Mutsanna danMuhammad bin Basysyar keduanya berkata,
Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja’far, Telah menceritakan kepada kami Syu’bahdari Simak bin Harb dari Mush’ab bin Sa’ad dari Bapaknya dia berkata,
Ada empat ayat Al Qur’an yang turun berkenaan dengan ku, dan seterusnya sebagaimana yang semakna dengan Hadits Zuhair dari Simak. Di dalam Hadist Syu’bah ada tambahan, ‘Apabila mereka ingin memberi makan kepada ibunya, mereka membuka dengan tongkat, lalu menuangkan makanan ke dalamnya. Juga di sebutkan di dalam Hadits tersebut, ‘lalu salah seorang dari mereka memukul hidung Sa’ad hingga sobek.’

Shahih Muslim, Kitab Keutamaan Sahabat – Nomor Hadits: 4432

Kata Pilihan Dalam Surah Al Maa’idah (5) Ayat 90

ANSHAAB
أَنصَاب

Lafaz ini adalah bentuk jamak bagi an nashb, an nushb dan an nusub.
Al-nashb
dan an nushb bermakna sesuatu yang ditegakkan sehingga ia disembah selain Allah.
Ia juga bermakna kejahatan dan bala.
Ini sesuai dengan pendapat Al Jauhari.

Ibn Manzur berkata,
"An nashb dan an nushb bermakna bendera yang ditegakkan atau setiap sesuatu yang disembah selain Allah."

Al Farra berpendapat, an nushub seolah olah adalah tuhan yang disembah dari batu.

An nashb juga bermakna tanda yang diletakkan untuk suatu batasan atau tujuan, sejenis lagu yang ringan, muslihat dan tipu daya.
Apabila disandarkan kepada al-kalimat atau nashb al-kalimat berarti i’rabnya dengan berbaris atas.
Apabila disandarkan kepada ‘ain atau nashb ‘aini artinya dihadapannya.
Annushb juga mengandung makna sesuatu yang dibina bagi mengingatkan kepada seseorang atau kejadian.

Lafaz anshaab disebut sekali dalam Al Qur’an yaitu pada surah Al Maa’idah (5), ayat 90.
At Tabari berkata,
"Makna lafaz ini ialah berhalaberhala dari batu yang disembah oleh orang musyrik dan ia bukanlah patung."

Ibn Juraij berkata,
"Karena patung digambar, dibentuk atau dipahat." Pendapat ini berdasarkan pada riwayat dari Mujahid, Qatadah, Ibn Abbas dan Ibn Zaid.

Ibn Faris berkata,
"Ia bermakna batu yang ditegakkan bagi disembah dan disiram dengan darah-darah sembelihan."

Ibn Sayyidah berkata,
"Al anshaab ialah batu-batu di sekeliling Ka’bah, ditegakkan untuk diagungkan dalam upacara sembelihan."

Ibn Manzur berkata,
"Makna anshaab pada surah Al Maa’idah ayat 90 adalah sama seperti pada ayat 3 yaitu bermakna al awtsaan (berhalaberhala)."

Kesimpulannya, makna anshaab ialah berhalaberhala dari batu yang tidak berbentuk ashnaam atau patung.

Sumber : Kamus Al Qur’an, PTS Islamika SDN BHD, Hal: 57-58

Unsur Pokok Surah Al Maa’idah (المائدة)

Surat Al-Ma’idah terdiri dari 120 ayat termasuk golongan surat Madaniyyah.
Sekalipun ada ayatnya yang turun di Mekah, namun ayat ini diturunkan sesudah Nabi Muhammad ﷺ hijrah ke Madinah, yaitu di waktu Isaalaihis salam meminta kepada Nabi ‘Isaalaihis salam, agar Allah menurunkan untuk mereka Al Maa’idah (hidangan makanan) dari langit (ayat 112).

Dan dinamakan dengan "Al Uqud" (perjanjian), karena kata itu terdapat pada ayat pertama surat ini, di mana Allah menyuruh agar hamba-hamba-Nya memenuhi janji prasetia terhadap Allah dan perjanjian-perjanjian yang mereka buat sesamanya.

Dinamakan juga "Al Munqidz" (yang menyelamatkan), karena akhir surat ini mengandung kisah tentang Nabi ‘Isaalaihis salam penyelamat pengikut-pengikut setianya dari azab Allah.

Keimanan:

▪ Bantahan terhadap orang-orang yang mempertuhankan Nabi ‘Isa `alaihis salam.

Hukum:

▪ Keharusan memenuhi perjanjian.
Hukum melanggar syiar Allah.
▪ Makanan yang dihalalkan dan yang diharamkan.
Hukum mengawini wanita ahli kitab.
Wudhu.
Tayammum.
▪ Mandi.
Hukum membunuh orang.
Hukum mengacau dan mengganggu keamanan.
Hukum qishas.
Hukum melanggar sumpah dan kafarat-nya.
Hukum khamar (minuman yang memabukkan).
▪ Berjudi.
▪ Berkorban untuk berhala.
▪ Mengundi nasib.
Hukum membunuh binatang waktu ihram.
Hukum persaksian dalam berwasiat.

Kisah:

▪ Kisah-kisah Nabi Musa `alaihis salam menyuruh kaumnya memasuki Palestina.
▪ Kisah Habil dan Qabil.
▪ Kisah-kisah tentang Nabi ‘Isa `alaihis salam.

Lain-lain:

▪ Keharusan bersikap lemah lembut terhadap sesama mukmin, bersikap keras terhadap orang-orang kafir.
▪ Penyempurnaan Agama Islam di zaman Nabi Muhammad ﷺ.
▪ Keharusan jujur dan berlaku adil.
▪ Sikap dalam menghadapi berita-berita bohong.
▪ Akibat berteman akrab dengan orang yang bukan muslim.
▪ Kutukan Allah terhadap orang-orang Yahudi.
▪ Kewajiban rasul hanya menyampaikan agama.
▪ Sikap Yahudi dan Nasrani terhadap orang Islam.
▪ Ka’bah sokoguru kehidupan manusia.
▪ Peringatan Allah supaya meninggalkan kebiasaan Arab Jahiliyah.
▪ Larangan-larangan terhadap pertanyaan-pertanyaan yang mengakibatkan kesempitan dalam agama.

Audio

QS. Al-Maa'idah (5) : 1-120 ⊸ Misyari Rasyid Alafasy
Ayat 1 sampai 120 + Terjemahan Indonesia

QS. Al-Maa'idah (5) : 1-120 ⊸ Nabil ar-Rifa’i
Ayat 1 sampai 120

Gambar Kutipan Ayat

Surah Al Maa'idah ayat 90 - Gambar 1 Surah Al Maa'idah ayat 90 - Gambar 2
Statistik QS. 5:90
  • Rating RisalahMuslim
4.6

Ayat ini terdapat dalam surah Al Maa’idah.

Surah Al-Ma’idah (bahasa Arab:المآئدة, al-Mā’idah, “Jamuan Hidangan”) adalah surah ke-5 dalam Alquran.
Surah ini terdiri dari 120 ayat dan termasuk golongan surah Madaniyah.
Sekalipun ada ayat-ayatnya yang turun di Mekkah, namun ayat ini diturunkan sesudah Nabi Muhammad hijrah ke Madinah, yakni sewaktu peristiwa Haji Wada’.
Surah ini dinamakan Al-Ma’idah (hidangan) karena memuat kisah para pengikut setia nabi Isa meminta kepada nabi Isa agar Allah menurunkan untuk mereka Al-Ma’idah (hidangan makanan) dari langit (ayat 112).
Selain itu, Surah Al-Ma’idah juga disebut Al-Uqud (perjanjian), karena kata itu terdapat pada ayat pertama surah ini, di mana Allah menyuruh agar hamba-hamba-Nya memenuhi janji terhadap Allah maupun perjanjian-perjanjian yang mereka buat terhadap sesamanya.
Dinamakan juga Al-Munqidz (yang menyelamatkan), sebab pada bagian akhir surah ini memuat kesaksian Isa Al-Masih terhadap kaum pengikutnya.

Nomor Surah5
Nama SurahAl Maa’idah
Arabالمائدة
ArtiJamuan (hidangan makanan)
Nama lainAl-‘Uqud (bermakna perjanjian dan kesepakatan) dan Al-Munqidz (bermakna yang menyelamatkan).
Tempat TurunMadinah
Urutan Wahyu112
JuzJuz 6 (ayat 1-82), juz 7 (ayat 83-120)
Jumlah ruku’0
Jumlah ayat120
Jumlah kata2842
Jumlah huruf12207
Surah sebelumnyaSurah An-Nisa’
Surah selanjutnyaSurah Al-An’am
Sending
User Review
4.8 (10 votes)
Tags:

5:90, 5 90, 5-90, Surah Al Maa'idah 90, Tafsir surat AlMaaidah 90, Quran Al Maidah 90, AlMaidah 90, Al-Ma'idah 90, Surah Al Maidah ayat 90

▪ al maidah 90 ▪ al maidah
Keluarga Anda ada yang belum mahir membaca Alquran? Ingin segera bisa?
Klik di sini sekarang!

Video


Panggil Video Lainnya

Ayat Lainnya

QS. Saba (Kaum Saba’) – surah 34 ayat 40 [QS. 34:40]

40. Sebagian kaum musyrik menyembah malaikat karena menduga bahwa malaikat adalah sumber rezeki yang mereka peroleh. Kelak di akhirat orang-orang musyrik akan dipertemukan dengan sembahan mereka terse … 34:40, 34 40, 34-40, Surah Saba 40, Tafsir surat Saba 40, Quran Saba’ 40, Surah Saba ayat 40

Hadits Shahih

Podcast

Hadits & Doa

Soal & Pertanyaan Agama

Yang berarti “menggabungkan sesuatu dengan yang lain” adalah lafaz ...

Benar! Kurang tepat!

Al-Lihyaniy berpendapat bahwa Alquran secara etimologi memiliki arti ...

Benar! Kurang tepat!

Fungsi utama kandungan Alquran yang menjelaskan kisah umat terdahulu adalah sebagai ...

Benar! Kurang tepat!

+

Array

Selain berisi kisah-kisah umat terdahulu, dalam Alquran juga terdapat tamsil sebagai peringatan bagi manusia. Tamsil artinya ...

Benar! Kurang tepat!

Alquran adalah mukjizat terbesar bagi Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam. Di bawah ini merupakan bukti bahwa Alquran adalah mukjizat yang terbesar adalah ...

Benar! Kurang tepat!

Pendidikan Agama Islam #16
Ingatan kamu cukup bagus untuk menjawab soal-soal ujian sekolah ini.

Pendidikan Agama Islam #16 1

Mantab!! Pertahankan yaa..
Jawaban kamu masih ada yang salah tuh.

Pendidikan Agama Islam #16 2

Belajar lagi yaa...

Bagikan Prestasimu:

Soal Lainnya

Pendidikan Agama Islam #9

Orang yang memiliki kemampuan untuk melakukan infefensi hukum-hukum syariat dari sumber-sumber yang terpercaya disebut dengan … muslihat ijtihad mujtahid mujahid

Pendidikan Agama Islam #16

Yang berarti “menggabungkan sesuatu dengan yang lain” adalah lafaz … القرأ قرأ ن الجمع قرن Benar! Kurang tepat! Al-Lihyaniy berpendapat

Pendidikan Agama Islam #24

Tata cara membaca Alquran dimulai dengan … basmalah isti’adzah hamdalah ta’awudz isti’adzah dan basmalah Benar! Kurang tepat! Penjelasan: Isti’adzah atau

Instagram