QS. Al Maa’idah (Jamuan (hidangan makanan)) – surah 5 ayat 88 [QS. 5:88]

وَ کُلُوۡا مِمَّا رَزَقَکُمُ اللّٰہُ حَلٰلًا طَیِّبًا ۪ وَّ اتَّقُوا اللّٰہَ الَّذِیۡۤ اَنۡتُمۡ بِہٖ مُؤۡمِنُوۡنَ
Wakuluu mimmaa razaqakumullahu halaalan thai-yiban waattaquullahal-ladzii antum bihi mu’minuun(a);

Dan makanlah makanan yang halal lagi baik dari apa yang Allah telah rezekikan kepadamu, dan bertakwalah kepada Allah yang kamu beriman kepada-Nya.
―QS. 5:88
Topik ▪ Takwa ▪ Menyeru pada ketakwaan ▪ Para utusan Allah pun tidak mengetahui alam ghaib
5:88, 5 88, 5-88, Al Maa’idah 88, AlMaaidah 88, Al Maidah 88, AlMaidah 88, Al-Ma’idah 88

Tafsir surah Al Maa'idah (5) ayat 88

Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. Al Maa’idah (5) : 88. Oleh Kementrian Agama RI

Pada ayat ini Allah subhanahu wa ta’ala memerintahkan kepada hamba-Nya agar mereka memakan rezeki yang halal dan baik, yang telah dikaruniakan-Nya kepada mereka.
Halal di sini mengandung dua macam pengertian.

Pertama halal menurut zatnya, yaitu bukan termasuk barang-barang yang oleh agama Islam dinyatakan sebagai barang-barang yang haram, seperti bangkai, darah, daging babi dan khamar.

Kedua halal menurut cara memperolehnya, yaitu diperoleh dengan cara-cara yang dihalalkan oleh agama, misalnya dengan cara membeli, meminjam, pemberian, dan sebagainya.
Bukan dengan cara-cara yang dilarang agama, seperti mencuri, merampas, menipu, korupsi, riba, judi dan lain-lainnya.

Prinsip halal dan baik ini hendaknya senantiasa menjadi perhatian dalam menentukan makanan dan minuman yang akan dimakan untuk diri sendiri dan untuk keluarga, karena makanan dan minuman itu tidak hanya berpengaruh terhadap jasmani, melainkan juga terhadap rohani.

Tidak ada halangan bagi orang-orang mukmin yang mampu, untuk menikmati makanan dan minuman yang enak, dan untuk mengadakan hubungan dengan istri, akan tetapi haruslah menaati ketentuan-ketentuan yang telah ditetapkan syara, yaitu baik, halal dan menurut ukuran yang layak.
Maka pada akhir ayat ini Allah subhanahu wa ta’ala memperingatkan orang-orang mukmin agar mereka berhati-hati dan bertakwa kepada-Nya dalam soal makanan, minuman dan wanita, serta kenikmatan-kenikmatan lainnya.
Janganlah mereka menetapkan hukum-hukum menurut kemauan sendiri dan tidak pula berlebih-lebihan dalam menikmati apa-apa yang telah dihalalkan-Nya.

Dalam ayat lain Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

Makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan.
Sesungguhnya Allah tidak suka kepada orang yang berlebih-lebihan.

(Q.S. Al-A’raf: 31)

Agama Islam sangat mengutamakan kesederhanaan.
Ia tidak membenarkan umatnya berlebih-lebihan dalam makan, minum, berpakaian dan sebagainya, bahkan dalam beribadah.
Sebaliknya, juga tidak dibenarkannya seseorang terlalu menahan diri dari menikmati sesuatu, padahal ia mampu untuk memperolehnya.
Apalagi bila sifat menahan diri itu sampai mendorongnya untuk mengharamkan apa-apa yang telah dihalalkan syara’.

Rasulullah ﷺ telah memberikan suri teladan tentang kesederhanaan ini.
Dalam segala segi kehidupannya, beliau senantiasa bersifat sederhana, padahal jika beliau mau niscaya beliau dapat saja menikmati segala macam kenikmatan itu sepuas hati.
Akan tetapi beliau tidak berbuat demikian, karena sebagai seorang pemimpin, beliau memimpin umatnya kepada pola hidup sederhana, akan tetapi tidak menyiksa diri.

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Makanlah apa saja yang halal dan baik menurut selera kalian, dari makanan yang diberikan dan dimudahkan Allah untuk kalian.
Takutlah dan taatlah selalu kepada Allah selama kalian beriman kepada- Nya.

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(Dan makanlah makanan yang halal lagi baik dari apa yang Allah rezekikan kepadamu) sebagai maf`ul/obyek jar dan majrur yang sebelumnya menjadi hal yang berkaitan dengan maf`ul itu (dan bertakwalah kepada Allah yang kamu beriman kepada-Nya.)

Tafsir al-Muyassar
Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:

Nikmatilah wahai orang-orang beriman apa yang halal lagi baik dari apa yang Allah limpahkan dan berikan kepadamu.
Bertakwalah kepada-Nya dengan menjalankan perintah-perintah-Nya dan menjauhi larangan-larangan-Nya.
Karena iman kalian kepada Allah mengharuskan kalian bertakwa kepada Allah dan merasakan pengawasan-Nya.

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Firman Allah subhanahu wa ta’ala.:

Dan makanlah makanan yang halal lagi baik dari apa yang Allah telah rezekikan kepada kalian.

Yakni keadaan rezeki itu halal lagi baik.

…dan bertakwalah kepada Allah.

Yakni dalam semua urusan kalian, ikutilah jalan taat kepada-Nya dan yang diridai-Nya serta tinggalkanlah jalan yang menentang-Nya dan yang durhaka terhadap-Nya.

Yang kalian beriman kepada-Nya.


Informasi Surah Al Maa'idah (المائدة)
Surat Al Maa-idah terdiri dari 120 ayat termasuk golongan surat Madaniyyah.
Sekalipun ada ayatnya yang turun di Mekah, namun ayat ini diturunkan sesudah Nabi Muhammad ﷺ hijrah ke Madinah, yaitu di waktu haji wadaa’

Surat ini dinamakan “Al Maa-idah” (hidangan), karena memuat kisah pengikut-pengikut setia Nabi ‘Isa ‘alaihis salam meminta kepada Nabi ‘Isa ‘alaihis salam, agar Allah menurunkan untuk mereka Al Maa-idah (hidangan makanan) dari langit (ayat 112).
Dan dinamakan dengan “Al Uqud” (perjan­jian), karena kata itu terdapat pada ayat pertama surat ini, di mana Allah menyuruh agar hamba­ hamba-Nya memenuhi janji prasetia terhadap Allah dan perjanjian-perjanjian yang mereka buat sesamanya.

Dinamakan juga “Al Munqidz” (yang menyelamatkan), karena akhir surat ini mengandung kisah tentang Nabi ‘Isa ‘alaihis salam penyelamat pengikut-pengikut setianya dari azab Allah.

Keimanan:

Bantahan terhadap orang-orang yang mempertuhankan Nabi ‘Isa a.s.

Hukum:

Keharusan memenuhi perjanjian
hukum melanggar syi’ar Allah
makanan yang di­halalkan dan yang diharamkan
hukum mengawini wanita ahli kitab
wudhu
tayammum
mandi
hukum membunuh orang
hukum mengacau dan mengganggu keamanan
hukum qishaas
hukum melanggar sumpah dan kafaaratnya
hukum khamar
berjudi
berkorban untuk berhala
mengundi nasib
hukum membunuh binatang waktu ihram
hukum persaksian dalam berwasiat.

Kisah:

Kisah-kisah Nabi Musa a.s. menyuruh kaumnya memasuki Palestina
kisah Habil dan Qabil, kisah-kisah tentang Nabi ‘Isa a.s

Lain-lain:

Keharusan bersikap lemah lembut terhadap sesama mu’min bersikap keras terhadap orang-orang kafir
penyempurnaan Agama Islam di zaman Nabi Muhammad ﷺ
keharusan jujur dan berlaku adil
sikap dalam menghadapi berita-berita bohong
akibat berteman akrab dengan orang yang bukan muslim
kutukan Allah terhadap orang-orang Yahudi
kewajiban rasul hanya menyampaikan agama
sikap Yahudi dan Nasrani terhadap orang Islam
Ka’bah sokoguru kehidupan manusia
peringat­an Allah supaya meninggalkan kebiasaan Arab Jahiliyah
larangan-larangan terhadap pertanyaan-pertanyaan yang mengakibatkan kesempitan dalam agama.

Audio

Qari Internasional

Q.S. Al-Maa'idah (5) ayat 88 - Oleh Syekh Mishari Alafasy
Q.S. Al-Maa'idah (5) ayat 88 - Oleh Syekh Sa'ad Al-Ghamidi
Q.S. Al-Maa'idah (5) ayat 88 - Oleh Syekh Muhammad Ayyub

Murottal al-Qur'an & Terjemahan Indonesia
Q.S. Al-Maa'idah - Oleh Syekh Misyari Rasyid Alafasy
Full ayat 1 sampai 120 & Terjemahan


Gambar



Statistik Q.S. 5:88
  • Rating RisalahMuslim

Ayat ini terdapat dalam surah Al Maa'idah.

Surah Al-Ma'idah (bahasa Arab:المآئدة, al-Mā'idah, "Jamuan Hidangan") adalah surah ke-5 dalam Al-Qur'an.
Surah ini terdiri dari 120 ayat dan termasuk golongan surah Madaniyah.
Sekalipun ada ayat-ayatnya yang turun di Mekkah, namun ayat ini diturunkan sesudah Nabi Muhammad hijrah ke Madinah, yakni sewaktu peristiwa Haji Wada'.
Surah ini dinamakan Al-Ma'idah (hidangan) karena memuat kisah para pengikut setia nabi Isa meminta kepada nabi Isa agar Allah menurunkan untuk mereka Al-Ma'idah (hidangan makanan) dari langit (ayat 112).
Selain itu, Surah Al-Ma'idah juga disebut Al-Uqud (perjanjian), karena kata itu terdapat pada ayat pertama surah ini, di mana Allah menyuruh agar hamba-hamba-Nya memenuhi janji terhadap Allah maupun perjanjian-perjanjian yang mereka buat terhadap sesamanya.
Dinamakan juga Al-Munqidz (yang menyelamatkan), sebab pada bagian akhir surah ini memuat kesaksian Isa Al-Masih terhadap kaum pengikutnya.

Nomor Surah 5
Nama Surah Al Maa'idah
Arab المائدة
Arti Jamuan (hidangan makanan)
Nama lain Al-'Uqud (bermakna perjanjian dan kesepakatan) dan Al-Munqidz (bermakna yang menyelamatkan).
Tempat Turun Madinah
Urutan Wahyu 112
Juz Juz 6 (ayat 1-82), juz 7 (ayat 83-120)
Jumlah ruku' 0
Jumlah ayat 120
Jumlah kata 2842
Jumlah huruf 12207
Surah sebelumnya Surah An-Nisa'
Surah selanjutnya Surah Al-An'am
4.4
Ratingmu: 4.6 (8 orang)
Sending

URL singkat: risalahmuslim.id/5-88







Pembahasan ▪ surah al maidah mengandung perintah87-88

Iklan

Video

Panggil Video Lainnya


Ikuti RisalahMuslim
               





Copied!

Masukan & saran kirim ke email:
[email protected]

Made with in Yogyakarta