Search
Generic filters
Cari Kategori
🙏 Pilih semua
Quran
Hadits
Kamus
Podcast
Soal Agama
Artikel, Doa, dll.

Keluarga Anda ada yang belum mahir membaca Alquran? Ingin segera bisa? Klik di sini sekarang!

QS. Al Maa’idah (Jamuan (hidangan makanan)) – surah 5 ayat 67 [QS. 5:67]

یٰۤاَیُّہَا الرَّسُوۡلُ بَلِّغۡ مَاۤ اُنۡزِلَ اِلَیۡکَ مِنۡ رَّبِّکَ ؕ وَ اِنۡ لَّمۡ تَفۡعَلۡ فَمَا بَلَّغۡتَ رِسَالَتَہٗ ؕ وَ اللّٰہُ یَعۡصِمُکَ مِنَ النَّاسِ ؕ اِنَّ اللّٰہَ لَا یَہۡدِی الۡقَوۡمَ الۡکٰفِرِیۡنَ
Yaa ai-yuhaarrasuulu balligh maa unzila ilaika min rabbika wa-in lam taf’al famaa ballaghta risaalatahu wallahu ya’shimuka minannaasi innallaha laa yahdiil qaumal kaafiriin(a);
Wahai Rasul! Sampaikanlah apa yang diturunkan Tuhanmu kepadamu.
Jika tidak engkau lakukan (apa yang diperintahkan itu) berarti engkau tidak menyampaikan amanat-Nya.
Dan Allah memelihara engkau dari (gangguan) manusia.
Sungguh, Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang kafir.
―QS. Al Maa’idah [5]: 67

Daftar isi

O Messenger, announce that which has been revealed to you from your Lord, and if you do not, then you have not conveyed His message.
And Allah will protect you from the people.
Indeed, Allah does not guide the disbelieving people.
― Chapter 5. Surah Al Maa’idah [verse 67]

يَٰٓأَيُّهَا wahai

O
ٱلرَّسُولُ Rasul

Messenger!
بَلِّغْ sampaikanlah

Convey
مَآ apa

what
أُنزِلَ diturunkan

has been revealed
إِلَيْكَ kepadamu

to you
مِن dari

from
رَّبِّكَ Tuhanmu

your Lord,
وَإِن dan jika

and if
لَّمْ tidak

not
تَفْعَلْ kamu kerjakan

you do
فَمَا maka tidak

then not
بَلَّغْتَ kamu menyampaikan

you (have) conveyed
رِسَالَتَهُۥ risalahNya

His Message.
وَٱللَّهُ dan Allah

And Allah
يَعْصِمُكَ Dia memelihara kamu

will protect you
مِنَ dari

from
ٱلنَّاسِ manusia

the people.
إِنَّ sesungguhnya

Indeed,
ٱللَّهَ Allah

Allah
لَا tidak

(does) not
يَهْدِى Dia memberi petunjuk

guide
ٱلْقَوْمَ kaum

the people,
ٱلْكَٰفِرِينَ orang-orang kafir

the disbelieving.

Tafsir

Alquran

Surah Al Maa’idah
5:67

Tafsir QS. Al Maa’idah (5) : 67. Oleh Kementrian Agama RI


Ayat ini memerintahkan kepada Nabi Muhammad supaya menyampaikan apa yang telah diturunkan kepadanya tanpa menghiraukan besarnya tantangan di kalangan Ahli Kitab, orang musyrik dan orang-orang fasik.


Ayat ini menganjurkan kepada Nabi Muhammad agar tidak perlu takut menghadapi gangguan dari mereka dalam membentangkan rahasia dan keburukan tingkah laku mereka itu karena Allah menjamin akan memelihara Nabi Muhammad dari gangguan, baik masa sebelum hijrah oleh kafir Quraisy maupun sesudah hijrah oleh orang Yahudi.

Apa yang telah diturunkan oleh Allah kepada Muhammad adalah amanat yang wajib disampaikan seluruhnya kepada manusia.
Menyampaikan sebagian saja dari amanat-Nya dianggap sama dengan tidak menyampaikan sama sekali.

Demikianlah kerasnya peringatan Allah kepada Muhammad.
Hal tersebut menunjukkan bahwa tugas menyampaikan amanat adalah kewajiban Rasul.

Tugas penyampaian tersebut tidak boleh ditunda meskipun penundaan itu dilakukan untuk menunggu kesanggupan manusia untuk menerimanya, karena masa penundaan itu dapat dianggap sebagai suatu tindakan penyembunyian terhadap amanat Allah.



Ancaman terhadap penyembunyian sebagian amanat Allah sama kerasnya dengan ancaman terhadap sikap sesesorang yang beriman kepada sebagian rasul saja dan beriman kepada sebagian ayat Alquran saja.

Meskipun seorang rasul bersifat maksum yakni terpelihara dari sifat tidak menyampaikan, namun ayat ini menegaskan bahwa tugas menyampaikan amanat adalah kewajiban yang tidak dapat ditawar-tawar atau ditunda-tunda meskipun menyangkut pribadi Rasul sendiri seperti halnya yang kemudian terjadi antara Zainab binti Jahsy dengan Nabi Muhammad sebagaimana yang diuraikan dalam al-Ahzab [33]: 37 :

وَاِذْ تَقُوْلُ لِلَّذِيْٓ اَنْعَمَ اللّٰهُ عَلَيْهِ وَاَنْعَمْتَ عَلَيْهِ اَمْسِكْ عَلَيْكَ زَوْجَكَ وَاتَّقِ اللّٰهَ وَتُخْفِيْ فِيْ نَفْسِكَ مَا اللّٰهُ مُبْدِيْهِ وَتَخْشَى النَّاسَ وَاللّٰهُ اَحَقُّ اَنْ تَخْشٰىهُ

Dan (ingatlah) ketika engkau (Muhammad) berkata kepada orang yang telah diberi nikmat oleh Allah dan engkau (juga) telah memberi nikmat kepadanya,
"pertahankanlah terus istrimu dan bertakwalah kepada Allah",
sedang engkau menyembunyikan di dalam hatimu apa yang akan dinyatakan oleh Allah, dan engkau takut kepada manusia padahal Allah lebih berhak engkau takuti.
(al-Ahzab [33]: 37)


Dalam hubungan ini Aisyah dan Anas berkata,
"Kalaulah kiranya Nabi Muhammad akan menyembunyikan sesuatu dalam Alquran, tentu ayat inilah yang disembunyikannya.
"


Dari keterangan ‘Aisyah dan Anas ini jelaslah peristiwa yang kemudian terjadi antara Zainab binti Jahsy dengan Zaid ialah perceraian yang berkelanjutan dengan berlakunya kehendak Allah yaitu menikahkan Zainab dengan Nabi Muhammad.
Hal tersebut tidak dikemukakan oleh Nabi Muhammad kepada Zaid ketika ia mengadukan peristiwanya kepada Nabi Muhammad pada hal beliau sudah mengetahuinya dengan perantaraan wahyu.

Nabi Muhammad ﷺ, menyembunyikan hal-hal yang diketahuinya sesuai dengan kesopanan disamping menghindarkan tuduhan-tuduhan yang dilancarkan oleh golongan orang-orang munafik.
Meskipun demikian Nabi Muhammad masih juga menerima kritik Allah seperti diketahui pada ayat dalam surah al-Ahzab tersebut.


Tegasnya, ayat 67 ini mengancam orang-orang yang menyembunyikan amanat Allah sebagaimana tersebut dalam firman-Nya:

اِنَّ الَّذِيْنَ يَكْتُمُوْنَ مَآ اَنْزَلْنَا مِنَ الْبَيِّنٰتِ وَالْهُدٰى مِنْۢ بَعْدِ مَا بَيَّنّٰهُ لِلنَّاسِ فِى الْكِتٰبِ اُولٰۤىِٕكَ يَلْعَنُهُمُ اللّٰهُ وَيَلْعَنُهُمُ اللّٰعِنُوْنَ

Sungguh, orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah Kami turunkan berupa keterangan-keterangan dan petunjuk, setelah Kami jelaskan kepada manusia dalam Kitab (Alquran), mereka itulah yang dilaknat Allah dan dilaknat (pula) oleh mereka yang melaknat.
(al-Baqarah[2]: 159)


Sejalan dengan ancaman Alquran ini, Nabi Muhammad bersabda mengingatkan orang-orang yang menyembunyikan ilmu pengetahuan:


مَنْ سُئِلَ عَنْ عِلْمٍ فَكَتَمَهُ اُلْجِمَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِلِجَامٍ مِنْ نَارٍ

Barangsiapa ditanya tetang sutau ilmu lalu menyembunyikannya, maka pada hari kiamat ia akan dicambuk dgn cambuk dari neraka.
(Riwayat Ibnu Majah).
***


Selanjutnya akhir ayat ini menegaskan bahwa Allah tidak akan memberi petunjuk kepada orang-orang kafir yang mengganggu Nabi Muhammad dan pekerjaan mereka itu pastilah sia-sia karena Allah tetap melindungi Nabi-Nya dan tetap akan meninggikan kalimat-Nya.


_______
***HR.
Ibnu Majah, no.260, secara lengkap sebagai berikut:


Telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Al Azhar ia berkata, telah menceritakan kepada kami Al Haitsam bin Jamil ia berkata, telah menceritakan kepadaku Umar bin Sulaim ia berkata, telah menceritakan kepada kami Yusuf bin Ibrahim ia berkata;
Aku mendengar Anas bin Malik berkata;
Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
"Barangsiapa ditanya tetang sutau ilmu lalu menyembunyikannya, maka pada hari kiamat ia akan dicambuk dengan cambuk dari neraka.

Tafsir QS. Al Maa’idah (5) : 67. Oleh Muhammad Quraish Shihab:


Wahai utusan Allah, berikanlah kabar kepada manusia akan apa-apa yang telah diwahyukan Tuhan kepadamu.
Ajaklah mereka untuk mengikutinya.


Jangan takut disakiti oleh seseorang.
Bila kamu takut, maka berarti kamu tidak menyampaikan risalah Allah.


Sebab, kamu telah diperintahkan untuk menyampaikannya kepada semua.
Allah akan memelihara kamu dari gangguan orang-orang kafir.


Sebab, sudah merupakan ketentuan Allah yang berlaku bahwa kebatilan tidak akan mengalahkan kebenaran.
Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk orang-orang kafir kepada jalan yang lurus.

Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:


Wahai Rasul, sampaikanlah wahyu Allah yang telah Dia turunkan kepadamu dari Rabb-mu.
Bila kamu melalaikan dalam menyampaikan lalu kamu menyembunyikan sesuatu darinya maka kamu belum menyampaikan risalah Rabb-mu.


Rasulullah telah menyampaikan risalah Rabb-nya dengan sempurna.
Barangsiapa menuduh beliau telah menyembunyikan sesuatu dari apa yang diturunkan kepadanya, maka dia telah berdusta besar atas nama Allah dan Rasul-Nya.


Allah menjagamu dan menolongmu atas musuh-musuhmu.
Tugasmu hanya menyampaikan.


Sesungguhnya Allah tidak akan membimbing ke jalan kebaikan siapa yang menyimpang dari jalan kebenaran, dan mengingkari apa yang kamu bawa dari Rabb-mu.

Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:



(Hai rasul, sampaikanlah) semua


(yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu) dan janganlah kamu sembunyikan sesuatu pun daripadanya karena takut akan mendapatkan hal-hal yang tidak diinginkan


(dan jika tidak kamu lakukan) tidak kamu sampaikan semua yang diturunkan padamu itu


(berarti kamu tidak menyampaikan risalah-Nya) risalah dengan tunggal atau jamak karena menyembunyikan sebagian berarti menyembunyikan semuanya.


(Dan Allah memelihara kamu dari manusia) agar tidak sampai membunuhmu.
Pada mulanya Rasulullah ﷺ itu dikawal sampai turun ayat ini, lalu sabdanya,
"Pergilah karena sesungguhnya Allah memeliharaku!"
Riwayat Hakim.


(Sesungguhnya Allah tidak memberikan bimbingan kepada kaum yang kafir.)

Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:


Allah subhanahu wa ta’ala, berfirman seraya ber-khitab kepada hamba dan Rasul-Nya —yaitu Nabi Muhammad ﷺ— dengan menyebut kedudukannya sebagai seorang rasul.
Allah memerintahkan kepadanya untuk menyam­paikan semua yang diutuskan oleh Allah melaluinya, dan Rasulullah ﷺ telah menjalankan perintah tersebut serta menunaikannya dengan sempurna.

Imam Bukhari mengatakan sehubungan dengan tafsir ayat ini, bahwa telah menceritakan kepada kami Muhammad ibuu Yusuf, telah menceritakan kepada kami Sufyan, dari Ismail, dari Asy-Sya’bi, dari Masruq, dari Siti Aisyah r.a. yang mengatakan,
"Barang siapa yang mengatakan bahwa Muhammad menyembunyikan sesuatu dari apa yang diturunkan oleh Allah kepadanya, sesungguhnya dia telah berdusta,"
seraya membacakan firman-Nya:
Hai Rasul, sampaikanlah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu.
(QS. Al-Ma’idah [5]: 67).
hingga akhir ayat.

Demikianlah bunyi riwayat ini secara ringkas dalam kitab ini.


Imam Bukhari dan Imam Muslim telah mengetengahkannya di berbagai tempat dalam kitab Sahih masing-masing secara panjang lebar.


Hal yang sama telah diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Kitabul Iman.
Imam Turmuzi dan Imam Nasai di dalam kitab tafsir dari kitab Sunnan-nya.
telah meriwayatkannya melalui berbagai jalur, dari Amir Asy-Sya’bi, dari Masruq ibnul Ajda’, dari Siti Aisyah r.a.
Di dalam kitab Sahihain, dari Siti Aisyah r.a. disebutkan bahwa ia pernah mengatakan,

"Seandainya Muhammad ﷺ menyembunyikan sesuatu dari Alquran, niscaya dia akan menyembunyikan ayat ini,"
yaitu firman-Nya:
sedangkan kamu menyembunyikan di dalam hatimu apa yang Allah akan menyatakannya, dan kamu takut kepada manusia, sedangkan Allah-lah yang lebih berhak untuk kamu takuti.
(QS. Al-Ahzab :
37)

Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ahmad ibnu Mansur Ar-Ramadi, telah menceritakan kepada kami Sa’id ibnu Sulaiman, telah menceritakan kepada kami Abbad, dari Harun ibnu Antrah, dari ayahnya yang menceritakan bahwa ketika ia berada di hadapan Ibnu Abbas, tiba-tiba datanglah seorang lelaki.
Kemudian lelaki itu berkata,
"Sesungguhnya banyak orang yang berdatangan kepada kami.
Mereka menceritakan kepada kami bahwa pada kalian terdapat sesuatu yang belum pernah Rasulullah ﷺ jelaskan kepada orang lain."
Maka Ibnu Abbas menjawab,
"Bukankah kamu ketahui bahwa Allah subhanahu wa ta’ala, telah berfirman:
Hai Rasul, sampaikanlah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu.
(QS. Al-Ma’idah [5]: 67)
Demi Allah, Rasulullah ﷺ tidak mewariskan kepada kami (ahlul bait) sesuatu hal yang disembunyikan."


Sanad asar ini berpredikat jayyid.

Hal yang sama disebutkan di dalam kitab Sahih Bukhari melalui riwayat Abu Juhaifah, yaitu Wahb ibnu Abdullah As-Sawa-i, yang menceritakan bahwa ia pernah bertanya kepada Khalifah Ali ibnu Abu Talib r.a.,
"Apakah di kalangan kalian (ahlul bait) terdapat sesuatu dari wahyu yang tidak terdapat di dalam Alquran?"
Maka Khalifah Ali r.a. menjawab,
"Tidak, demi Tuhan yang menumbuhkan biji-bijian dan yang menciptakan manusia, kecuali hanya pemahaman yang diberi­kan oleh Allah kepada seseorang mengenai Alquran dan apa yang terdapat di dalam lembaran ini."
Aku bertanya,
"Apakah yang terdapat di dalam lembaran ini?"
Khalifah Ali ibnu Abu Talib r.a. menjawab,
"Masalah aql (diat), mem­bebaskan tawanan, dan seorang muslim tidak boleh dihukum mati karena membunuh seorang kafir."

Imam Bukhari mengatakan bahwa Az-Zuhri pernah berkata,
"Risalah adalah dari Allah, dan Rasul berkewajiban menyampaikannya, sedangkan kita diwajibkan menerimanya.
Umatnya telah menyaksikan bahwa beliau ﷺ telah menyampaikan risalah dan menunaikan amanat Tuhannya, serta menyampaikan kepada mereka dalam perayaan yang paling besar melalui khotbahnya, yaitu pada haji wada’.
Saat itu di tempat tersebut terdapat kurang lebih empat puluh ribu orang dari kalangan sahabat-sahabatnya."


Di dalam kitab Sahih Muslim disebutkan dari Jabir ibnu Abdullah, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda dalam khotbah haji wada’nya:

Hai manusia, sesungguhnya kalian akan ditanyai mengenai diriku, maka apakah yang akan kalian katakan?
Mereka menjawab,
"Kami bersaksi bahwa engkau telah menunaikan risalah dan menyampaikan amanat serta menasihati umat."
Maka Rasulullah ﷺ mengangkat jari telunjuknya ke langit, lalu menun­jukkannya kepada mereka seraya bersabda:
Ya Allah apakah aku telah menyampaikan?

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ibnu Namir, telah menceritakan kepada kami Fudail (yakni ibnu Gazwan), dari Ikrimah, dari Ibnu Abbas yang telah menceritakan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda dalam haji wada’,
"Hai manusia hari apakah sekarang?"
Mereka menjawab,
"Hari yang suci."
Rasulullah ﷺ bersabda,
"Negeri apakah ini?"
Mereka menjawab,
"Negeri (kota) yang suci."
Rasulullah ﷺ bertanya,
"Bulan apakah sekarang?"
Mereka menjawab,
"Bulan suci."
Maka Rasulullah ﷺ bersabda:
Maka sesungguhnya harta kalian, darah kalian, dan kehormatan kalian diharamkan atas kalian sebagaimana haramnya hari kalian sekarang ini di negeri kalian ini dan dalam bulan kalian ini.
Rasulullah ﷺ mengulangi ucapan ini berkali-kali, lalu mengangkat telunjuknya ke (arah) langit dan bersabda:
Ya Allah, apakah aku telah menyampaikan?
Ucapan ini diulangnya berkali-kali.
Ibnu Abbas mengatakan,
"Demi Allah, hal ini merupakan wasiat yang beliau tunjukkan kepada Tuhannya, yakni beliau ﷺ menitipkan umatnya kepada Allah subhanahu wa ta’ala."
Kemudian Rasulullah ﷺ bersabda:
Ingatlah, hendaklah orang yang hadir menyampaikannya kepada orang yang tidak hadir.
Janganlah kalian kembali menjadi kufur sesudahku, sebagian dari kalian memukul leher sebagian yang lainnya.

Imam Bukhari telah meriwayatkan dari Ali ibnul Madini, dari Yahya ibnu Sa’id, dari Fudail ibnu Gazwan dengan sanad yang sama dan lafaz yang semisal.

Firman Allah subhanahu wa ta’ala.

…jika tidak kamu kerjakan (apa yang diperintahkan itu, berarti) kamu tidak menyampaikan amanat-Nya.

Yakni jika engkau tidak menyampaikannya kepada manusia apa yang telah Aku perintahkan untuk menyampaikannya, berarti engkau tidak menyampaikan risalah yang dipercayakan Allah kepadamu.
Dengan kata lain dapat disebutkan bahwa telah diketahui konsekuensi hal tersebut seandainya terjadi.

Ali ibnu Abu Talhah meriwayatkan dari Ibnu Abbas sehubungan dengan makna firman-Nya:
tidak kamu kerjakan (apa yang diperintahkan itu, berarti) kamu tidak menyampaikan amanat-Nya.
(QS. Al-Ma’idah [5]: 67)
Yaitu jika engkau sembunyikan barang suatu ayat yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu, berarti engkau tidak menyampaikan risalah-Nya.

Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami ayahku, telah menceritakan kepada kami Qubaihah ibnu Uqbah, telah menceritakan kepada kami Sufyan, dari seorang laki-laki, dari Mujahid yang mengatakan bahwa ketika diturunkan firman-Nya:
Hai Rasul, sampaikanlah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu.
(QS. Al-Ma’idah [5]: 67)
Nabi Muhammad berkata,
"Ya Tuhanku, apakah yang harus aku perbuat, sedangkan aku sendirian, tentu mereka akan mengeroyokku."
Maka tu­runlah firman-Nya:
Jika tidak kamu kerjakan (apa yang diperintahkan itu, berarti) kamu tidak menyampaikan amanat-Nya.
(QS. Al-Ma’idah [5]: 67)

Ibnu Jarir meriwayatkannya melalui jalur Sufyan As-Sauri dengan sanad yang sama.

Firman Allah subhanahu wa ta’ala.

Allah memelihara kamu dari (gangguan) manusia.

Yakni sampaikanlah olehmu risalah-Ku, dan Aku akan memeliharamu, menolongmu, dan mendukungmu serta memenangkanmu atas mereka.
Karena itu kalian jangan takut dan jangan pula bersedih hati, karena tiada seorang pun dari mereka dapat menyentuhmu dengan keburukan yang menyakitkanmu.
Sebelum ayat ini diturunkan, Nabi ﷺ selalu dikawal.


Seperti yang disebutkan oleh Imam Ahmad, telah menceritakan kepada kami Yazid, telah menceritakan kepada kami Yahya yang mengatakan bahwa ia pernah mendengar Abdullah ibnu Amir ibnu Rabi’ah menceritakan,
"Siti Aisyah pernah bercerita bahwa di suatu malam Rasulullah ﷺ begadang, sedangkan Siti Aisyah r.a. berada di sisinya.
Siti Aisyah bertanya, ‘Apakah gerangan yang membuatmu gelisah, wahai Rasulullah ﷺ?’ Maka Rasulullah bersabda:
Mudah-mudahan ada seorang lelaki saleh dari sahabatku yang mau menjagaku malam ini’."
Siti Aisyah melanjutkan kisahnya,
"Ketika kami berdua dalam keadaan demikian, tiba-tiba aku (Siti Aisyah) mendengar suara senjata, maka Rasulullah ﷺ bertanya, ‘Siapakah orang ini?’ Seseorang menjawab, ‘Saya Sa’d ibdu Malik.’ Rasulullah ﷺ bertanya, ‘Apa yang sedang kamu lakukan?’ Sa’d menjawab, ‘Aku datang untuk menjagamu, wahai Rasulullah‘."
Siti Aisyah melanjutkan kisahnya,
"Tidak lama kemudian aku mendengar suara tidur Rasulullah ﷺ"

Imam Bukhari dan Imam Muslim mengetengahkannya melalui jalur Yahya ibnu Sa’id Al-Ansari dengan lafaz yang sama.


Menurut suatu lafaz, Rasulullah ﷺ begadang di suatu malam, yaitu setibanya di Madinah sesudah hijrahnya dan sesudah mencampuri Siti Aisyah r.a. Hal ini terjadi pada tahun dua Hijriah.

Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ibrahim ibnu Marzuq Al-Basri yang tinggal di Mesir, telah menceritakan kepada kami Muslim ibnu Ibrahim, telah menceritakan kepada kami Al-Haris ibnu Ubaid (yakni Abu Qudamah), dari Al- Jariri, dari Abdullah ibnu Syaqiq, dari Siti Aisyah yang menceritakan bahwa Nabi ﷺ selalu dikawal dan dijaga sebelum ayat ini diturunkan, yaitu firman-Nya:
Allah memelihara kamu dari (gangguan) manusia.
(QS. Al-Ma’idah [5]: 67)
Siti Aisyah melanjutkan kisahnya,
"Setelah itu Rasulullah ﷺ mengeluarkan kepala dari kemahnya dan bersabda:
Hai manusia, bubarlah kalian, sesungguhnya Allah subhanahu wa ta’ala, telah menjaga diri kami"

Hal yang sama telah diriwayatkan oleh Imam Turmuzi melalui Abdu ibnu Humaid dan Nasr ibnu Ali Al-Jahdami, keduanya dari Muslim ibnu Ibrahim dengan sanad yang sama.
Kemudian Imam Turmuzi mengatakan bahwa hadis ini garib.

Juga telah diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dan Imam Hakim di dalam kitab Mustadrak-nya melalui jalur Muslim ibnu Ibrahim dengan sanad yang sama, kemudian Imam Hakim mengatakan bahwa sanad hadis ini sahih, tetapi keduanya (Bukhari dan Muslim) tidak mengetengahkannya.

Telah diriwayatkan pula oleh Sa’id ibnu Mansur, dari Al-Haris ibnu Ubaid Abu Qudamah Al-Ayadi, dari Al-Jariri, dari Abdullah ibnu Syaqiq, dari Siti Aisyah dengan lafaz yang sama.

Imam Turmuzi mengatakan, sebagian dari mereka ada yang meriwayatkan hadis ini dari Al-Jariri, dari Ibnu Syaqiq yang telah menceritakan bahwa pada mulanya Nabi ﷺ selalu dikawal sebelum ayat ini diturunkan.
Tetapi di dalam riwayat ini tidak disebutkan nama Siti Aisyah.
Menurut hemat kami, demikian pula yang diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dari jalur Ismail ibnu Ulayyah, dan Ibnu Murdawaih melalui jalur Wuhaib, keduanya dari Al-Jariri, dari Abdullah ibnu Syaqiq secara mursal.
Hadis ini telah diriwayatkan secara mursal melalui Sa’id ibnu Jubair dan Muhammad ibnu Ka’b Al-Qurazi.
Keduanya diriwayatkan oleh Ibnu Jarir.
Ar-Rabi’ ibnu Anas, dan ibnu Murdawaih.

Ibnu Murdawaih mengatakan, telah menceritakan kepada kami Sulaiman Ibnu Ahmad, telah menceritakan kepada kami Ahmad ibnu Rasyidin Al-Masri, telah menceritakan kepada kami Khalid ibnu Abdus Salam As-Sadfi, telah menceritakan kepada kami Al-Fadl ibnul Mukhtai, dari Abdullah ibnu Mauhib, dari Ismah ibnu Malik Al-Katmi yang menceritakan bahwa kami selalu mengawal Rasulullah ﷺ di malam hari hingga turun firman-Nya:
Allah memelihara kamu dari (gangguan) manusia.
(QS. Al-Ma’idah [5]: 67).
Setelah ayat ini diturunkan, pengawalan pun dibubarkan.

Telah menceritakan kepada kami Sulaiman ibnu Ahmad, telah menceritakan kepada kami Ahmad ibnu Muhammad ibnu Ahmad Abu Nasr Al-Katib Al-Bagdadi, telah menceritakan kepada kami Kardus ibnu Muhammad Al-Wasiti, telah menceritakan kepada kami Ya’la ibnu Abdur Rahman, dari Fudail ibnu Marzuq, dari Atiyyah.
dari Abu Sa’id Al-khudri yang menceritakan bahwa Al- Abbas —paman Rasulullah ﷺ—termasuk salah seorang yang ikut mengawal Nabi ﷺ Setelah ayat ini diturunkan, yaitu firman-Nya:
Allah memelihara kamu dari (gangguan) manusia.
(QS. Al-Ma’idah [5]: 67)
maka Rasulullah ﷺ meninggalkan penjagaan, yakni tidak mau dikawal lagi.

Telah menceritakan kepada kami Ali ibnu Abu Hamid Al-Madini, telah menceritakan kepada kami Ahmad ibnu Muhammad ibnu Sa’id, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Mufaddal ibnu Ibrahim Al-Asy’ari, telah menceritakan kepada kami ayahku, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Mu’awiyah ibnu Ammar, telah menceritakan kepada kami ayahku, bahwa ia pernah mendengar Abuz Zubair Al-Makki menceritakan hadis berikut dari Jabir ibnu Abdullah yang mengatakan bahwa dahulu apabila Rasulullah ﷺ keluar, maka Abu Talib mengirimkan seseorang untuk menjaganya, hingga turun firman-Nya:
Allah memelihara kamu dari (gangguan) manusia.
(QS. Al-Ma’idah [5]: 67).
Setelah ayat ini diturunkan dan Abu Talib mengutus seseorang untuk menjaga Rasulullah ﷺ, maka Rasulullah ﷺ bersabda:
Hai paman, sesungguhnya Allah telah menjaga diriku (dari gangguan manusia), maka sekarang aku tidak memerlukan lagi penjaga (pengawal pribadi) yang engkau kirimkan.

Hadis ini garib, dan di dalamnya terdapat hal yang tidak dapat diterima, mengingat ayat ini adalah Madaniyah:
sedangkan pengertian hadis menunjukkan kejadiannya berlangsung dalam periode Makkiyyah.

Sulaiman ibnu Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Ahmad ibnu Ibrahim, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Yahya, telah menceritakan kepada kami Abu Kuraib, telah menceritakan kepada kami Abdul Majid Al-Hammani, dari An-Nadr, dari Ikrimah, dari Ibnu Abbas yang menceritakan bahwa dahulu Rasulullah ﷺ selalu dikawal.
Abu Taliblah yang selalu mengirimkan beberapa orang lelaki dari kalangan Nabi ﷺ setiap harinya hingga turun kepada Nabi ﷺ firman Allah subhanahu wa ta’ala, yang mengatakan:
Hai Rasul, sampaikanlah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu Dan jika tidak kamu kerjakan (apa yang diperintahkan itu, berarti) kamu tidak menyampaikan amanatnya.
Allah memelihara kamu dari (gangguan) manusia.
(QS. Al-Ma’idah [5]: 67).
Ibnu Abbas melanjutkan kisahnya,
"Lalu paman Nabi ﷺ bermaksud mengirimkan orang-orang untuk mengawal Nabi ﷺ Maka Nabi ﷺ bersabda:
Sesungguhnya Allah telah memelihara diriku dari (gangguan) jin Dan manusia.

Imam Tabrani meriwayatkannya dari Ya’qub ibnu Gailan Al-Ammani.
dari Abu Kuraib dengan sanad yang sama.

Hadis ini pun berpredikat garib, karena pendapat yang benar ialah yang mengatakan bahwa ayat ini adalah Madaniyah, bahkan ayat ini termasuk salah satu dari ayat-ayat yang paling akhir diturunkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala.

Termasuk pemeliharaan Allah subhanahu wa ta’ala, kepada Rasul-Nya ialah Allah menjaga Rasulullah ﷺ dari perlakuan jahat penduduk Mekah, para pemimpinnya, orang-orangnya yang dengki dan yang menentang beliau, serta para hartawannya yang selalu memusuhi dan membenci beliau, selalu memeranginya siang dan malam.
Allah memelihara diri Nabi ﷺ dari ulah jahat mereka dengan berbagai sarana yang diciptakan oleh-Nya melalui kekuasaan dan kebijaksanaan-Nya yang besar.

Pada permulaan masa risalah Nabi ﷺ, Allah memelihara beliau melalui pamannya, yaitu Abu Talib, mengingat Abu Talib adalah seorang pemimpin yang besar lagi ditaati di kalangan orang-orang Quraisy.
Allah menciptakan rasa cinta secara naluri kepada Rasulullah ﷺ di dalam kalbu Abu Talib, tetapi bukan cinta secara syar’i.
Seandainya Abu Talib adalah orang yang telah masuk Islam, niscaya orang-orang kafir dan para pembesar Mekah berani mengganggu Nabi ﷺ Akan tetapi, karena antara Abu Talib dan mereka terjalin kekufuran yang sama, maka mereka menghormati dan segan kepadanya.

Setelah paman Nabi ﷺ —yaitu Abu Talib— meninggal dunia, orang-orang musyrik baru dapat menimpakan sedikit gangguan yang menyakitkan terhadap diri Nabi ﷺ Tetapi tidak lama kemudian Allah membentuk kaum Ansar yang menolongnya, mereka berbaiat kepadanya untuk Islam serta meminta kepada beliau agar pindah ke negeri mereka, yaitu Madinah.

Setelah Nabi ﷺ tiba di Madinah, maka orang-orang Ansar membela Nabi ﷺ dari gangguan dan serangan segala bangsa.
Setiap kali seseorang dari kaum musyrik dan kaum Ahli Kitab melancarkan tipu muslihat jahat terhadap diri beliau ﷺ, maka Allah menangkal tipu daya mereka dan mengembalikan tipu muslihat itu kepada perencananya sendiri.

Orang Yahudi pernah melancarkan tipu muslihat terhadap diri Nabi ﷺ melalui sihirnya, tetapi Allah memelihara diri Nabi ﷺ dari keja­hatan sihir mereka, dan diturunkan-Nya kepada Nabi ﷺ dua surat mu’awwizah sebagai obat untuk menangkal penyakit itu.

Dan ketika seorang Yahudi meracuni masakan kaki (kikil) kambing yang mereka kirimkan kepadanya di Khaibar, Allah memberitahukan hal itu kepada Nabi ﷺ dan memelihara diri Nabi ﷺ dari racun tersebut.

Hal-hal seperti itu banyak sekali terjadi, kisahnya panjang bila dituturkan, antara lain ialah apa yang disebutkan oleh tafsir dalam pembahasan ayat ini.

Abu Ja’far ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepada kami Al-Haris, telah menceritakan kepada kami Abdul Aziz, telah mencerita­kan kepada kami Abu Ma’syar, dari Muhammad ibnu Ka’b Al-Qurazi dan lain-lainnya yang menceritakan bahwa Rasulullah ﷺ apabila turun di suatu tempat, maka para sahabatnya memilihkan buatnya sebuah pohon yang rindang, lalu beliau ﷺ merebahkan diri beristirahat di bawahnya.
Dan ketika beliau ﷺ dalam keadaan demikian, datanglah seorang lelaki Arab Badui, lalu mencabut pedangnya, kemudian ber­kata
"Siapakah yang melindungi dirimu dariku?"
Nabi ﷺ menjawab,
"Allah subhanahu wa ta’ala."
Maka tangan orang Badui itu gemetar sehingga pedang terjatuh dari tangannya, lalu kepala orang Badui itu dipukulkan ke pohon hingga pecah dan otaknya berhamburan.
Kemudian Allah subhanahu wa ta’ala, menurun­kan firman-Nya

Allah memelihara kamu dari (gangguan) manusia.

Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abu Sa’id Ahmad ibnu Muhammad ibnu Yahya ibnu Sa’id Al-Qattan.
telah menceritakan kepada kami Zaid ibnul Hubab, telah menceritakan kepada kami Musa ibnu Ubaidah, telah menceritakan kepadaku Zaid ibnu Aslam, dari Jabir ibnu Abdullah Al-Ansari yang menceritakan bahwa ketika Rasulullah ﷺ berperang melawan Muhammad maka teman-temannya berkata kepadanya,
"Bagaimanakah cara kamu membunuh dia?"
Al-Haris berkata,
"Aku akan katakan kepadanya, ‘Berikanlah pedangmu kepadaku* Apabila dia telah memberikan pedangnya kepada­ku, maka aku akan membunuhnya dengan pedang itu.

Al-Haris datang kepada Nabi ﷺ dan berkata,
"Hai Muhammad, berikanlah pedangmu kepadaku, aku akan melihat-lihatnya dengan menghunusnya."
Maka Nabi ﷺ memberikan pedangnya kepada Al-Haris.
Tetapi setelah Al-Haris menerimanya dan menghunusnya, tiba-tiba tangan Al-Haris gemetar hingga pedang itu terjatuh dari tangannya Maka Rasulullah ﷺ bersabda:
Allah menghalang-halangi antara kamu dan apa yang kamu inginkan.
Lalu Allah subhanahu wa ta’ala, menurunkan firman-Nya:

Hai Rasul, sampaikanlah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu.
Dan jika tidak kamu kerjakan (apa yang diperintahkan itu, berarti) kamu tidak menyampaikan amanat-Nya.
Allah memelihara kamu dari (gangguan) manusia.


Bila ditinjau dari segi konteksnya, hadis ini berpredikat garib.
Kisah Gauras ibnul Haris ini terkenal di dalam kitab Sahih.

Abu Bakar ibnu Murdawaih mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abu Amr ibnu Ahmad ibnu Muhammad ibnu Ibrahim, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Abdul Wahhab, telah men­ceritakan kepada kami Adam, telah menceritakan kepada kami Hammad ibnu Salamah, dari Muhammad ibnu Amr, dari Abu Salamah, dari Abu Hurairah yang menceritakan:
Bila kami menemani Rasulullah ﷺ dalam suatu perjalanan, kami mencarikan sebuah pohon yang paling besar dan paling rindang untuknya, lalu beliau turun istirahat di bawahnya.
Pada suatu hari beliau ﷺ turun di bawah sebuah pohon, kemudian beliau gantungkan pedangnya pada pohon tersebut.
Lalu datanglah seorang lelaki dan mengambil pedang itu, kemudian lelaki itu berkata,
"Hai Muhammad, siapakah yang akan melindungimu dariku?"
Nabi ﷺ bersabda:
Allahlah yang akan melindungiku darimu.
Sekarang letakkanlah pedang itu, maka seketika itu juga dia langsung meletakkan pedangnya.
Maka Allah subhanahu wa ta’ala, menurunkan firman-Nya:

Allah memelihara kamu dari (gangguan) manusia.

Hal yang sama telah diriwayatkan oleh Abu Hatim ibnu Hibban di dalam kitab Shahih-nya, dari Abdullah ibnu Muhammad, dari Ishaq Ibnu Ibrahim, dari Al-Muammal ibnu Ismail, dari Hammad ibnu Salamah dengan sanad yang sama

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Ja’far, telah menceritakan kepada kami Syu’bah, ia pernah mendengar Aba Israil —yakni Al-Jusyami— mengatakan bahwa ia pernah mendengar Ja’dah —yakni Ibnu Khalid ibnus Summah Al-Jusyami r.a. —menceritakan hadis berikut, bahwa ia pernah mendengar sebuah kisah mengenai Nabi ﷺ Ketika beliau ﷺ melihat seorang lelaki yang gemuk, Nabi ﷺ menunjuk ke arah perutnya dan bersabda:
Seandainya ini bukan di bagian ini, niscaya lebih baik darimu.
Pernah pula didatangkan kepada Nabi ﷺ seorang lelaki lain, lalu dikatakan kepada Nabi ﷺ bahwa orang ini bermaksud membunuhnya.
Maka Nabi ﷺ bersabda:
Jangan takut, seandainya kamu bermaksud melakukan niatmu itu, Allah tidak akan membiarkanmu dapat menguasai diriku.

Firman Allah subhanahu wa ta’ala.:

Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir.

Yakni sampaikanlah (risalah ini) olehmu, dan Allah-lah yang akan memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya dan Dia akan menyesatkan siapa yang dikehendaki-Nya.
Perihalnya sama dengan makna yang terkandung di dalam ayat lainnya, yaitu firman Allah subhanahu wa ta’ala.:

Bukanlah kewajibanmu menjadikan mereka mendapat petunjuk, akan tetapi Allah-lah yang memberi petunjuk (memberi taufik) siapa yang dikehendaki-Nya.
(QS. Al-Baqarah [2]: 272)

karena sesungguhnya tugasmu hanya menyampaikan saja, sedang­kan Kamilah yang menghisab amalan mereka.
(QS. Ar Ra’du [13]: 40)

Hadits Shahih Yang Berhubungan Dengan Surah Al Maa’idah (5) ayat 67

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Yusuf Telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Isma’il dari Asy Sya’bi dari Masruq dari Aisyah radliallahu anhu dia berkata,
"Siapapun yang berkata bahwa Muhammad shallallahu alaihi wasallam menyembunyikan sebagian dari yang telah diwahyukan kepadanya, maka dia telah berdusta. Karena Allah telah berfirman: Wahai Rasul, sampaikanlah apa yang telah diturunkan kepadamu dari Rabbmu.. (Al Maidah: 67).

Shahih Bukhari, Kitab Tafsir Al Qur’an – Nomor Hadits: 4246

Unsur Pokok Surah Al Maa’idah (المائدة)

Surat Al-Ma’idah terdiri dari 120 ayat termasuk golongan surat Madaniyyah.
Sekalipun ada ayatnya yang turun di Mekah, namun ayat ini diturunkan sesudah Nabi Muhammad ﷺ hijrah ke Madinah, yaitu di waktu haji wadaa’.

Surat ini dinamakan "Al Maa’idah" (hidangan), karena memuat kisah pengikut-pengikut setia Nabi ‘Isaalaihis salam meminta kepada Nabi ‘Isaalaihis salam, agar Allah menurunkan untuk mereka Al Maa’idah (hidangan makanan) dari langit (ayat 112).

Dan dinamakan dengan "Al Uqud" (perjanjian), karena kata itu terdapat pada ayat pertama surat ini, di mana Allah menyuruh agar hamba-hamba-Nya memenuhi janji prasetia terhadap Allah dan perjanjian-perjanjian yang mereka buat sesamanya.

Dinamakan juga "Al Munqidz" (yang menyelamatkan), karena akhir surat ini mengandung kisah tentang Nabi ‘Isaalaihis salam penyelamat pengikut-pengikut setianya dari azab Allah.

Keimanan:

▪ Bantahan terhadap orang-orang yang mempertuhankan Nabi ‘Isa `alaihis salam.

Hukum:

▪ Keharusan memenuhi perjanjian.
Hukum melanggar syiar Allah.
▪ Makanan yang dihalalkan dan yang diharamkan.
Hukum mengawini wanita ahli kitab.
Tayammum.
▪ Mandi.
Hukum membunuh orang.
Hukum mengacau dan mengganggu keamanan.
Hukum qishas.
Hukum melanggar sumpah dan kafarat-nya.
Hukum khamar (minuman yang memabukkan).
▪ Berjudi.
▪ Berkorban untuk berhala.
▪ Mengundi nasib.
Hukum membunuh binatang waktu ihram.
Hukum persaksian dalam berwasiat.

Kisah:

▪ Kisah-kisah Nabi Musa `alaihis salam menyuruh kaumnya memasuki Palestina.
▪ Kisah Habil dan Qabil.
▪ Kisah-kisah tentang Nabi ‘Isa `alaihis salam.

Lain-lain:

▪ Keharusan bersikap lemah lembut terhadap sesama mukmin, bersikap keras terhadap orang-orang kafir.
▪ Penyempurnaan Agama Islam di zaman Nabi Muhammad ﷺ.
▪ Keharusan jujur dan berlaku adil.
▪ Sikap dalam menghadapi berita-berita bohong.
▪ Akibat berteman akrab dengan orang yang bukan muslim.
▪ Kutukan Allah terhadap orang-orang Yahudi.
▪ Kewajiban rasul hanya menyampaikan agama.
▪ Sikap Yahudi dan Nasrani terhadap orang Islam.
▪ Ka’bah sokoguru kehidupan manusia.
▪ Peringatan Allah supaya meninggalkan kebiasaan Arab Jahiliyah.
▪ Larangan-larangan terhadap pertanyaan-pertanyaan yang mengakibatkan kesempitan dalam agama.

Audio

QS. Al-Maa'idah (5) : 1-120 ⊸ Misyari Rasyid Alafasy
Ayat 1 sampai 120 + Terjemahan Indonesia

QS. Al-Maa'idah (5) : 1-120 ⊸ Nabil ar-Rifa’i
Ayat 1 sampai 120

Gambar Kutipan Ayat

Surah Al Maa'idah ayat 67 - Gambar 1 Surah Al Maa'idah ayat 67 - Gambar 2
Statistik QS. 5:67
  • Rating RisalahMuslim
4.7

Ayat ini terdapat dalam surah Al Maa’idah.

Surah Al-Ma’idah (bahasa Arab:المآئدة, al-Mā’idah, “Jamuan Hidangan”) adalah surah ke-5 dalam Alquran.
Surah ini terdiri dari 120 ayat dan termasuk golongan surah Madaniyah.
Sekalipun ada ayat-ayatnya yang turun di Mekkah, namun ayat ini diturunkan sesudah Nabi Muhammad hijrah ke Madinah, yakni sewaktu peristiwa Haji Wada’.
Surah ini dinamakan Al-Ma’idah (hidangan) karena memuat kisah para pengikut setia nabi Isa meminta kepada nabi Isa agar Allah menurunkan untuk mereka Al-Ma’idah (hidangan makanan) dari langit (ayat 112).
Selain itu, Surah Al-Ma’idah juga disebut Al-Uqud (perjanjian), karena kata itu terdapat pada ayat pertama surah ini, di mana Allah menyuruh agar hamba-hamba-Nya memenuhi janji terhadap Allah maupun perjanjian-perjanjian yang mereka buat terhadap sesamanya.
Dinamakan juga Al-Munqidz (yang menyelamatkan), sebab pada bagian akhir surah ini memuat kesaksian Isa Al-Masih terhadap kaum pengikutnya.

Nomor Surah 5
Nama Surah Al Maa’idah
Arab المائدة
Arti Jamuan (hidangan makanan)
Nama lain Al-‘Uqud (bermakna perjanjian dan kesepakatan) dan Al-Munqidz (bermakna yang menyelamatkan).
Tempat Turun Madinah
Urutan Wahyu 112
Juz Juz 6 (ayat 1-82), juz 7 (ayat 83-120)
Jumlah ruku’ 0
Jumlah ayat 120
Jumlah kata 2842
Jumlah huruf 12207
Surah sebelumnya Surah An-Nisa’
Surah selanjutnya Surah Al-An’am
Sending
User Review
4.9 (15 suara)
Bagikan ke FB
Bagikan ke TW
Bagikan ke WA
Tags:

5:67, 5 67, 5-67, Surah Al Maa'idah 67, Tafsir surat AlMaaidah 67, Quran Al Maidah 67, AlMaidah 67, Al-Ma'idah 67, Surah Al Maidah ayat 67

Keluarga Anda ada yang belum mahir membaca Alquran? Ingin segera bisa?
Klik di sini sekarang!

Video


Panggil Video Lainnya

Kandungan Surah Al Maa’idah

۞ QS. 5:1 Sifat Iradah (berkeinginan)

۞ QS. 5:2 • Siksaan Allah sangat pedih • Ar Rabb (Tuhan) • Dzul Fadhl (Pemilik keutamaan) • Ancaman bagi orang kafir dan pelaku maksiat •

۞ QS. 5:3 • Ampunan Allah yang luas • Al Rahim (Maha Penyayang) • Al Ghafur (Maha Pengampun) • Keistimewaan IslamIslam agama yang diterima di sisi Allah

۞ QS. 5:5 • Azab orang kafir • Perbuatan orang kafir sia-sia • Penghapus pahala kebaikan • Ancaman bagi orang kafir dan pelaku maksiat •

۞ QS. 5:6 Sifat Iradah (berkeinginan) • Toleransi Islam • Melenyapkan kesusahan orang muslim

۞ QS. 5:7 • Keluasan ilmu Allah • Al ‘Alim (Maha megetahui)

۞ QS. 5:8 • Keluasan ilmu Allah • Al Khabir (Maha Waspada)

۞ QS. 5:9 • Pahala iman • Ampunan Allah yang luas • Iman adalah ucapan dan perbuatan • Amal shaleh sebagai pintu kebaikan • Kebutuhan muslim terhadap amal saleh

۞ QS. 5:10 • Sikap manusia terhadap kitab samawi • Nama-nama neraka • Sifat ahli neraka dan kejahatan mereka • Azab orang kafir

۞ QS. 5:11 • Orang mukmin selalu dalam lindungan Allah Ta’alaAl Wakil (Maha Penolong)

۞ QS. 5:12 • Kewajiban beriman pada para rasul • Sifat surga dan kenikmatannya • Kembali kufur • Ampunan Allah terhadap pelaku maksiat • Ancaman bagi orang kafir dan pelaku maksiat

۞ QS. 5:13 • Balasan dari perbuatannya

۞ QS. 5:14 • Keluasan ilmu Allah • Ancaman bagi orang kafir dan pelaku maksiat

۞ QS. 5:16 Hikmah penurunan kitab-kitab samawiHidayah (petunjuk) dari Allah

۞ QS. 5:17 • Kepatuhan segala sesuatu pada Allah Ta’ala • Segala sesuatu milik Allah • Kekuasaan Allah • Sifat Masyi’ah (berkehendak) • Al Qadiir (Maha Penguasa)

۞ QS. 5:18 • Kepatuhan segala sesuatu pada Allah Ta’ala • Mendustai Allah • Segala sesuatu milik Allah • Ampunan Allah yang luas • Sifat Masyi’ah (berkehendak)

۞ QS. 5:19 • Kekuasaan Allah • Al Qadiir (Maha Penguasa)

۞ QS. 5:20 • Keingkaran dan kedurhakaan orang kafir

۞ QS. 5:23 • Pertolongan Allah Ta’ala kepada orang mukmin • Melihat sebab akibat

۞ QS. 5:24 Ar Rabb (Tuhan)

۞ QS. 5:25 Ar Rabb (Tuhan)

۞ QS. 5:26 • Menyiksa pelaku maksiat

۞ QS. 5:27 • Perbuatan dan niat

۞ QS. 5:28 Tauhid RububiyyahAr Rabb (Tuhan)

۞ QS. 5:29 • Sifat ahli neraka dan kejahatan mereka • Dosa-dosa besar

۞ QS. 5:32 • Dosa-dosa besar

۞ QS. 5:33 • Nama-nama hari kiamat • Bersikap keras terhadap orang kafir • Dosa-dosa besar • Ancaman bagi orang kafir dan pelaku maksiat •

۞ QS. 5:34 • Ampunan Allah yang luas • Kasih sayang Allah yang luas • Al Rahim (Maha Penyayang) • Al Ghafur (Maha Pengampun) • Pelebur dosa besar

۞ QS. 5:35 • Bersegera dalam melakukan kebaikan • Mengharap wasilah (kedudukan)

۞ QS. 5:36 • Siksaan Allah sangat pedih • Orang kafir menebus dirinya pada hari kiamat • Azab orang kafir • Penghapus pahala kebaikan • Ancaman bagi orang kafir dan pelaku maksiat

۞ QS. 5:37 • Keabadian neraka • Mereka yang kekal dalam neraka • Azab orang kafir

۞ QS. 5:38 Al Hakim (Maha Bijaksana) • Al ‘Aziz (Maha Mulia) • Balasan dari perbuatannya

۞ QS. 5:39 • Ampunan Allah yang luas • Kasih sayang Allah yang luas • Al Rahim (Maha Penyayang) • Al Ghafur (Maha Pengampun) • Kebutuhan muslim terhadap amal saleh

۞ QS. 5:40 • Segala sesuatu milik Allah • Ampunan Allah yang luas • Kekuasaan Allah • Sifat Masyi’ah (berkehendak) • Al Qadiir (Maha Penguasa)

۞ QS. 5:41 • Nama-nama hari kiamat • Allah menggerakkan hati manusia • Azab orang kafir • Sifat orang munafik • Sikap orang munafik terhadap Islam

۞ QS. 5:42 • Orang mukmin selalu dalam lindungan Allah Ta’ala

۞ QS. 5:44 • Kewajiban dan keutamaan beriman pada kitab-kitab

۞ QS. 5:46 • Kewajiban dan keutamaan beriman pada kitab-kitab • Pengakuan antara satu kitab dengan lainnya • Hikmah penurunan kitab-kitab samawi

۞ QS. 5:47 • Kewajiban dan keutamaan beriman pada kitab-kitab

۞ QS. 5:48 Sifat Masyi’ah (berkehendak) • Pengakuan antara satu kitab dengan lainnya • Kebenaran hari penghimpunan • Bersegera dalam melakukan kebaikan •

۞ QS. 5:49 Sifat Iradah (berkeinginan) • Menyiksa pelaku maksiat

۞ QS. 5:51 • Bebas dari kekafiran dan orang-orang kafir • Perintah tidak mengikuti orang musyrikHidayah (petunjuk) dari Allah

۞ QS. 5:52 • Sifat orang munafik • Sikap orang munafik terhadap Islam • Ancaman bagi orang kafir dan pelaku maksiat

۞ QS. 5:53 • Siksa orang munafik • Penghapus pahala kebaikan

۞ QS. 5:54 • Keluasan ilmu Allah • Sifat Masyi’ah (berkehendak) • Dzul Fadhl (Pemilik keutamaan) • Al ‘Alim (Maha megetahui) • Al Wasi’ (Maha Luas)

۞ QS. 5:55 • Orang mukmin selalu dalam lindungan Allah Ta’ala • Al Wali (Maha Pelindung) • Iman adalah ucapan dan perbuatan

۞ QS. 5:56 • Pertolongan Allah Ta’ala kepada orang mukmin • Keutamaan iman

۞ QS. 5:57 • Bebas dari kekafiran dan orang-orang kafir

۞ QS. 5:59 • Kewajiban dan keutamaan beriman pada kitab-kitab

۞ QS. 5:60 • Azab orang kafir • Ancaman bagi orang kafir dan pelaku maksiat

۞ QS. 5:61 • Keluasan ilmu Allah • Sifat orang munafik • Sikap orang munafik terhadap Islam

۞ QS. 5:64 • Orang mukmin selalu dalam lindungan Allah Ta’ala • Mendustai Allah • Sifat Kamal (sempurna) • Sifat Masyi’ah (berkehendak) • Ar Rabb (Tuhan)

۞ QS. 5:65 • Perbuatan baik adalah penyebab masuk surga • Perbuatan yang menghalangi api neraka • Ampunan Allah terhadap pelaku maksiat • Ampunan Allah dan rahmatNya •

۞ QS. 5:66 • Pahala iman • Ar Rabb (Tuhan) • Kewajiban dan keutamaan beriman pada kitab-kitab

۞ QS. 5:67 • Orang mukmin selalu dalam lindungan Allah Ta’alaAr Rabb (Tuhan) • Allah menggerakkan hati manusia • Hidayah (petunjuk) dari Allah •

۞ QS. 5:68 Ar Rabb (Tuhan) • Kewajiban dan keutamaan beriman pada kitab-kitab • Keingkaran dan kedurhakaan orang kafir

۞ QS. 5:69 • Kesentosaan orang mukmin di dunia dan di akhirat • Nama-nama hari kiamat • Islamnya ahli kitab • Iman adalah ucapan dan perbuatan • Keutamaan iman

۞ QS. 5:71 • Keluasan ilmu Allah • Al Bashir (Maha Melihat) • Penangguhan (siksa) orang kafir di dunia

۞ QS. 5:72 Tauhid Rububiyyah • Mendustai Allah • Ar Rabb (Tuhan) • Sifat ahli neraka dan kejahatan mereka • Syirik adalah dosa terbesar

۞ QS. 5:73 Tauhid Uluhiyyah • Mendustai Allah • Siksaan Allah sangat pedih • Al Wahid (Maha Esa) • Syirik adalah dosa terbesar

۞ QS. 5:74 • Ampunan Allah yang luas • Al Rahim (Maha Penyayang) • Al Ghafur (Maha Pengampun) • Pelebur dosa besar • Ampunan Allah dan rahmatNya

۞ QS. 5:76 • Hanya Allah yang mendatangkan manfaat dan marabahaya • Keputusan di tangan Allah • Keputusan di tangan Allah • Keputusan di tangan Allah • Al Sami’ (Maha Pendengar)

۞ QS. 5:78 • Azab orang kafir

۞ QS. 5:80 • Keabadian neraka • Sifat ahli neraka dan kejahatan mereka • Mereka yang kekal dalam neraka • Azab orang kafir • Ancaman bagi orang kafir dan pelaku maksiat

۞ QS. 5:81 • Kewajiban dan keutamaan beriman pada kitab-kitab

۞ QS. 5:82 • Permusuhan orang kafir terhadap orang Islam

۞ QS. 5:83 Ar Rabb (Tuhan)

۞ QS. 5:84 Ar Rabb (Tuhan) • Keutamaan iman

۞ QS. 5:85 • Pahala iman • Keabadian surga • Sifat surga dan kenikmatannya • Perbuatan baik adalah penyebab masuk surga • Keutamaan iman

۞ QS. 5:86 • Sikap manusia terhadap kitab samawi • Nama-nama neraka • Sifat ahli neraka dan kejahatan mereka • Azab orang kafir • Keingkaran dan kedurhakaan orang kafir

۞ QS. 5:89 • Toleransi Islam • Perbuatan dan niat

۞ QS. 5:90 • Sifat iblis dan pembantunya • Menjaga diri dari syetan • Meramal nasib mengakibatkan kekufuran • Dosa-dosa besar •

۞ QS. 5:91 • Sifat iblis dan pembantunya • Usaha jin untuk melalaikan manusia dalam beribadah • Menjaga diri dari syetan • Dosa-dosa besar •

۞ QS. 5:92 • Kewajiban patuh kepada Rasul • Peringatan Allah terhadap hambaNya • Ancaman bagi orang kafir dan pelaku maksiat

۞ QS. 5:93 • Keistimewaan Islam • Ajakan masuk Islam • Iman adalah ucapan dan perbuatan • Perbuatan dan niat • Amal shaleh sebagai pintu kebaikan

۞ QS. 5:94 • Menyiksa pelaku maksiat • Ancaman bagi orang kafir dan pelaku maksiat

۞ QS. 5:95 Al ‘Aziz (Maha Mulia) • Al ‘Afwu (Maha Pemaaf) • Al Muntaqim (Maha Pembalas dosa) • Toleransi IslamIslam menghapus dosa masa lalu

۞ QS. 5:96 • Kebenaran hari penghimpunan

۞ QS. 5:97 • Keluasan ilmu Allah • Al ‘Alim (Maha megetahui)

۞ QS. 5:98 • Siksaan Allah sangat pedih • Ampunan Allah yang luas • Al Rahim (Maha Penyayang) • Al Ghafur (Maha Pengampun) • Ancaman bagi orang kafir dan pelaku maksiat

۞ QS. 5:99 • Keluasan ilmu Allah

۞ QS. 5:101 • Ampunan Allah yang luas • Al Halim (Maha Penyabar) • Al ‘Afwu (Maha Pemaaf) • Al Ghafur (Maha Pengampun) • Melenyapkan kesusahan orang muslim

۞ QS. 5:102 • Keingkaran dan kedurhakaan orang kafir

۞ QS. 5:103 • Mendustai Allah

۞ QS. 5:104 • Keingkaran dan kedurhakaan orang kafir

۞ QS. 5:105 • Sikap orang mukmin terhadap fitnah • Kebenaran hari penghimpunan

۞ QS. 5:106 • Wasiat mayit

۞ QS. 5:108 • Allah menggerakkan hati manusia • Hidayah (petunjuk) dari Allah

۞ QS. 5:109 • Allah memiliki kunci alam ghaib • Keluasan ilmu Allah • Allamul Ghuyub (Maha Mengetahui alam gaib) • Kebenaran hari penghimpunan • Setiap makhluk ditanya pada hari penghimpunan

۞ QS. 5:110 • Peranan dan tugas Jibril

۞ QS. 5:111 • Kewajiban beriman pada para rasul

۞ QS. 5:112 Ar Rabb (Tuhan)

۞ QS. 5:114 • Meminta dengan menyebut nama Allah • Ar Rabb (Tuhan) • Al Razzaq (Maha Pemberi rezeki)

۞ QS. 5:115 • Ancaman bagi orang kafir dan pelaku maksiat

۞ QS. 5:116 • Para utusan Allah pun tidak mengetahui alam ghaib • Keluasan ilmu Allah • Allamul Ghuyub (Maha Mengetahui alam gaib)

۞ QS. 5:117 Tauhid RububiyyahAr Rabb (Tuhan) • Al Raqib (Maha Pengawas) • Al Syahid (Maha Menyaksikan) •

۞ QS. 5:118 Al Hakim (Maha Bijaksana) • Al ‘Aziz (Maha Mulia)

۞ QS. 5:119 • Keabadian surga • Sifat surga dan kenikmatannya • Perbuatan baik adalah penyebab masuk surga • Keutamaan iman • Amal shaleh sebagai pintu kebaikan

۞ QS. 5:120 • Kepatuhan segala sesuatu pada Allah Ta’ala • Segala sesuatu milik Allah • Kekuasaan Allah • Al Qadiir (Maha Penguasa) •

Ayat Pilihan

Dan telah Kami perintahkan kepada Ibrahim & Ismail:
“Bersihkanlah rumah-Ku untuk orang-orang yang thawaf,
yang itikaf,
yang ruku & yang sujud”
QS. Al-Baqarah [2]: 125

Dan Dialah Allah (yang disembah),
baik di langit maupun di bumi,
Dia mengetahui apa yang kamu rahasiakan & apa yang kamu lahirkan & mengetahui (pula) apa yang kamu usahakan.
QS. Al-An’am [6]: 3

Dirikanlah salat dari sesudah matahari tergelincir sampai gelap malam & (dirikanlah pula salat) subuh.
Sesungguhnya salat subuh itu disaksikan (oleh malaikat).
QS. Al-Isra’ [17]: 78

Ketika para (utusan) sampai kepada Sulaiman, Sulaiman berkata,
“Apakah kamu akan memberi harta kepadaku? Apa yang Allah berikan kepadaku lebih baik daripada apa yang Allah berikan kepadamu; tetapi kamu merasa bangga dengan hadiahmu.”
QS. An-Naml [27]: 36

Hadits Shahih

Podcast

Doa

Soal & Pertanyaan

There is no question

Soal Lainnya

Pendidikan Agama Islam #9

Arti hadits maudhu’ adalah … Pengertian ijtihad menurut istilah adalah … Orang yang memiliki kemampuan untuk melakukan infefensi hukum-hukum syariat dari sumber-sumber yang terpercaya disebut dengan … Berdasarkan bahasa, ijma artinya adalah … Era ketidaktahuan juga disebut zaman …

Pendidikan Agama Islam #10

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menerima wahyu pertama di … Wahyu pertama yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam terkandung dalam surah … Sejak wahyu di Surah Al Muddasir : 1-7, Rasullullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mulai berkhotbah. Awalnya nabi melakukan dakwah kepada … Khotbah Nabi Muhammad saat masih di Mekah, difokuskan langsung pada esensi-esensi utama, yaitu … … Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkhotbah di kota Mekah kurang lebih selama …

Pendidikan Agama Islam #25

Surah Al-Insyirah terdiri dari … ayat.Surah Al-Insyirah diawali dengan lafal … أَلَمْ dalam surah Al-Insyirah berarti …وَوَضَعْنَا عَنْكَ وِزْرَكَ Ayat diatas terdapat dalam Alquran surah Al-Insyirah ayat …Surah Al-Insyirah turun sesudah surah …

Kamus

mubalig

Apa itu mubalig? mu.ba.lig (1) orang yang menyiarkan (menyampaikan) ajaran agama Islam; mendengarkan ceramah agama oleh para mubalig; juru dakwah; (2) orang yang mengumandangkan takbir dan tahmid (da...

aliran kepercayaan

Apa itu aliran kepercayaan? alir.an kepercayaan paham yang mengakui adanya Tuhan Yang Maha Esa, tetapi tidak termasuk atau tidak berdasarkan ajaran salah satu dari kelima agama yang resmi (Islam, Kato...

syuriah

Apa itu syuriah? syu.ri.ah legislatif … •