Search
Exact matches only
Cari di judul
Cari di Arti & Tafsir
Search in comments
Search in excerpt
Filter by Custom Post Type
Filter berdasar surah
Pilih atau Semua
Abasa
Ad Dukhaan
Adh Dhuhaaa
Adz Dzaariyaat
Al 'Alaq
Al 'Ashr
Al A'laa
Al A'raaf
Al Aadiyaat
Al Ahqaaf
Al Ahzab
Al An 'aam
Al Anbiyaa
Al Anfaal
Al Ankabut
Al Balad
Al Baqarah
Al Bayyinah
Al Buruuj
Al Fajr
Al Falaq
Al Fath
Al Fatihah
Al Fiil
Al Furqaan
Al Ghaasyiyah
Al Haaqqah
Al Hadid
Al Hajj
Al Hasyr
Al Hijr
Al Hujurat
Al Humazah
Al Ikhlas
Al Infithar
Al Insaan
Al Insyiqaaq
Al Israa
Al Jaatsiyah
Al Jinn
Al Jumu'ah
Al Kaafiruun
Al Kahfi
Al Kautsar
Al Lahab
Al Lail
Al Ma'aarij
Al Maa'idah
Al Maa'un
Al Mu'min
Al Mu'minuun
Al Muddatstsir
Al Mujaadilah
Al Mulk
Al Mumtahanah
Al Munafiquun
Al Mursalat
Al Muthaffifin
Al Muzzammil
Al Qaari'ah
Al Qadr
Al Qalam
Al Qamar
Al Qashash
Al Qiyaamah
Al Waaqi'ah
Al Zalzalah
Alam Nasyrah
Ali Imran
An Naazi'at
An Nabaa
An Nahl
An Najm
An Naml
An Nas
An Nashr
An Nisaa'
An Nuur
Ar Ra'd
Ar Rahmaan
Ar Rum
As Sajdah
Ash Shaff
Ash Shaffaat
Asy Shyuura
Asy Syams
Asy Syu'araa
At Taghaabun
At Tahrim
At Takaatsur
At Takwir
At Taubah
At Tin
Ath Thaariq
Ath Thalaaq
Ath Thuur
Az Zukhruf
Az Zumar
Faathir
Fushshilat
Hud
Ibrahim
Luqman
Maryam
Muhammad
Nuh
Qaaf
Quraisy
Saba
Shaad
Thaa Haa
Yaa Siin
Yunus
Yusuf

💡 Ketik [nomer surah]-[nomer ayat], contoh: 2-255 atau albaqarah 255 atau ke www.risalahmuslim.id/2-255

Al Maa'idah

Al Maa’idah (Jamuan (hidangan makanan)) surah 5 ayat 67


یٰۤاَیُّہَا الرَّسُوۡلُ بَلِّغۡ مَاۤ اُنۡزِلَ اِلَیۡکَ مِنۡ رَّبِّکَ ؕ وَ اِنۡ لَّمۡ تَفۡعَلۡ فَمَا بَلَّغۡتَ رِسَالَتَہٗ ؕ وَ اللّٰہُ یَعۡصِمُکَ مِنَ النَّاسِ ؕ اِنَّ اللّٰہَ لَا یَہۡدِی الۡقَوۡمَ الۡکٰفِرِیۡنَ
Yaa ai-yuhaarrasuulu balligh maa unzila ilaika min rabbika wa-in lam taf’al famaa ballaghta risaalatahu wallahu ya’shimuka minannaasi innallaha laa yahdiil qaumal kaafiriin(a);

Hai Rasul, sampaikanlah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu.
Dan jika tidak kamu kerjakan (apa yang diperintahkan itu, berarti) kamu tidak menyampaikan amanat-Nya.
Allah memelihara kamu dari (gangguan) manusia.
Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir.
―QS. 5:67
Topik ▪ Iman ▪ Hidayah (petunjuk) dari Allah ▪ Takut kepada Allah
5:67, 5 67, 5-67, Al Maa’idah 67, AlMaaidah 67, Al Maidah 67, AlMaidah 67, Al-Ma’idah 67
Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. Al Maa’idah (5) : 67. Oleh Kementrian Agama RI

Ayat ini memerintahkan kepada Nabi Muhammad supaya menyampaikan apa yang telah diturunkan kepadanya tanpa menghiraukan besarnya tantangan di kalangan Ahli Kitab, orang musyrik dan orang-orang fasik.

Ayat ini menganjurkan kepada Nabi Muhammad agar tidak perlu takut menghadapi gangguan dari mereka dalam membentangkan rahasia dan keburukan tingkah laku mereka itu karena Allah menjamin akan memelihara Nabi Muhammad dari gangguan, baik masa sebelum hijrah oleh kafir Quraisy maupun sesudah hijrah oleh orang Yahudi.
Apa yang telah diturunkan oleh Allah kepada Muhammad adalah amanat yang wajib disampaikan seluruhnya kepada manusia.
Menyampaikan sebagian saja dari amanat-Nya dianggap sama dengan tidak menyampaikan sama sekali.

Demikianlah kerasnya peringatan Allah kepada Muhammad.
Hal tersebut menunjukkan bahwa tugas menyampaikan amanat adalah kewajiban Rasul.
Tugas penyampaian tersebut tidak boleh ditunda meskipun penundaan itu dilakukan untuk menunggu kesanggupan manusia untuk menerimanya, karena masa penundaan itu dapat dianggap sebagai suatu tindakan penyembunyian terhadap amanat Allah.

Ancaman terhadap penyembunyian sebagian amanat Allah sama kerasnya dengan ancaman terhadap sikap sesesorang yang beriman kepada sebagian rasul saja dan beriman kepada sebagian ayat Al-Qur’an saja.
Meskipun seorang rasul bersifat maksum yakni terpelihara dari sifat tidak menyampaikan, namun ayat ini menegaskan bahwa tugas menyampaikan amanat adalah kewajiban yang tidak dapat ditawar-tawar atau ditunda-tunda meskipun menyangkut pribadi Rasul sendiri seperti halnya yang kemudian terjadi antara Zainab binti Jahsy dengan Nabi Muhammad sebagaimana yang diuraikan dalam Al-Ahzab: 37 : “Dan (ingatlah) ketika engkau (Muhammad) berkata kepada orang yang telah diberi nikmat oleh Allah dan engkau (juga) telah memberi nikmat kepadanya, “pertahankanlah terus istrimu dan bertakwalah kepada Allah”,
sedang engkau menyembunyikan di dalam hatimu apa yang akan dinyatakan oleh Allah, dan engkau takut kepada manusia padahal Allah lebih berhak engkau takuti.
(Al-Ahzab:37).

Dalam hubungan ini Aisyah dan Anas berkata, “Kalaulah kiranya Nabi Muhammad akan menyembunyikan sesuatu dalam Al-Qur’an, tentu ayat inilah yang disembunyikannya.” Dari keterangan ‘Aisyah dan Anas ini jelaslah peristiwa yang kemudian terjadi antara Zainab binti Jahsy dengan Zaid ialah perceraian yang berkelanjutan dengan berlakunya kehendak Allah yaitu menikahkan Zainab dengan Nabi Muhammad.
Hal tersebut tidak dikemukakan oleh Nabi Muhammad kepada Zaid ketika ia mengadukan peristiwanya kepada Nabi Muhammad pada hal beliau sudah mengetahuinya dengan perantaraan wahyu.
Nabi Muhammad ﷺ, menyembunyikan hal-hal yang diketahuinya sesuai dengan kesopanan disamping menghindarkan tuduhan-tuduhan yang dilancarkan oleh golongan orang-orang munafik.
Meskipun demikian Nabi Muhammad masih juga menerima kritik Allah seperti diketahui pada ayat dalam surah al-Ahzab tersebut.

Tegasnya, ayat 67 ini mengancam orang-orang yang menyembunyikan amanat Allah sebagaimana tersebut dalam firman-Nya: “Sungguh, orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah Kami turunkan berupa keterangan-keterangan dan petunjuk, setelah Kami jelaskan kepada manusia dalam Kitab (Al-Qur’an), mereka itulah yang dilaknat Allah dan dilaknat (pula) oleh mereka yang melaknat.” (Al-Baqarah:159).

Sejalan dengan ancaman Al-Qur’an ini, Nabi Muhammad bersabda mengingatkan orang-orang yang menyembunyikan ilmu pengetahuan: Barang siapa ditanya tentang sesuatu ilmu pengetahuan lalu disembunyikannya maka ia akan dikekang pada hari Kiamat dengan kekangan dari api neraka.
(Riwayat Abu Daud, at-Tirmidzi dari Abu Hurairah).

Selanjutnya akhir ayat ini menegaskan bahwa Allah tidak akan memberi petunjuk kepada orang-orang kafir yang mengganggu Nabi Muhammad dan pekerjaan mereka itu pastilah sia-sia karena Allah tetap melindungi Nabi-Nya dan tetap akan meninggikan kalimat-Nya.

Al Maa'idah (5) ayat 67 - dibacakan oleh Shaykh Mishari Alafasy Al Maa'idah (5) ayat 67 - dibacakan oleh Syaikh Sa'ad Al-Ghamidi Al Maa'idah (5) ayat 67 - dibacakan oleh Syaikh Muhammad Ayyub

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Wahai utusan Allah, berikanlah kabar kepada manusia akan apa-apa yang telah diwahyukan Tuhan kepadamu.
Ajaklah mereka untuk mengikutinya.
Jangan takut disakiti oleh seseorang.
Bila kamu takut, maka berarti kamu tidak menyampaikan risalah Allah.
Sebab, kamu telah diperintahkan untuk menyampaikannya kepada semua.
Allah akan memelihara kamu dari gangguan orang-orang kafir.
Sebab, sudah merupakan ketentuan Allah yang berlaku bahwa kebatilan tidak akan mengalahkan kebenaran.
Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk orang-orang kafir kepada jalan yang lurus.

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(Hai rasul, sampaikanlah) semua (yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu) dan janganlah kamu sembunyikan sesuatu pun daripadanya karena takut akan mendapatkan hal-hal yang tidak diinginkan (dan jika tidak kamu lakukan) tidak kamu sampaikan semua yang diturunkan padamu itu (berarti kamu tidak menyampaikan risalah-Nya) risalah dengan tunggal atau jamak karena menyembunyikan sebagian berarti menyembunyikan semuanya.
(Dan Allah memelihara kamu dari manusia) agar tidak sampai membunuhmu.
Pada mulanya Rasulullah ﷺ itu dikawal sampai turun ayat ini, lalu sabdanya, “Pergilah karena sesungguhnya Allah memeliharaku!” Riwayat Hakim.
(Sesungguhnya Allah tidak memberikan bimbingan kepada kaum yang kafir.)

Tafsir al-Muyassar
Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:

Wahai Rasul, sampaikanlah wahyu Allah yang telah Dia turunkan kepadamu dari Rabb-mu.
Bila kamu melalaikan dalam menyampaikan lalu kamu menyembunyikan sesuatu darinya maka kamu belum menyampaikan risalah Rabb-mu.
Rasulullah telah menyampaikan risalah Rabb-nya dengan sempurna.
Barangsiapa menuduh beliau telah menyembunyikan sesuatu dari apa yang diturunkan kepadanya, maka dia telah berdusta besar atas nama Allah dan Rasul-Nya.
Allah menjagamu dan menolongmu atas musuh-musuhmu.
Tugasmu hanya menyampaikan.
Sesungguhnya Allah tidak akan membimbing ke jalan kebaikan siapa yang menyimpang dari jalan kebenaran, dan mengingkari apa yang kamu bawa dari Rabb-mu.

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Allah subhanahu wa ta’ala.
berfirman seraya ber-khitab kepada hamba dan Rasul-Nya —yaitu Nabi Muhammad ﷺ— dengan menyebut kedudukannya sebagai seorang rasul.
Allah memerintahkan kepadanya untuk menyam­paikan semua yang diutuskan oleh Allah melaluinya, dan Rasulullah ﷺ telah menjalankan perintah tersebut serta menunaikannya dengan sempurna.

Imam Bukhari mengatakan sehubungan dengan tafsir ayat ini, bahwa telah menceritakan kepada kami Muhammad ibuu Yusuf, telah menceritakan kepada kami Sufyan, dari Ismail, dari Asy-Sya’bi, dari Masruq, dari Siti Aisyah r.a.
yang mengatakan, “Barang siapa yang mengatakan bahwa Muhammad menyembunyikan sesuatu dari apa yang diturunkan oleh Allah kepadanya, sesungguhnya dia telah berdusta,” seraya membacakan firman-Nya: Hai Rasul, sampaikanlah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu.
(Al Maidah:67).
hingga akhir ayat.

Demikianlah bunyi riwayat ini secara ringkas dalam kitab ini.

Imam Bukhari dan Imam Muslim telah mengetengahkannya di berbagai tempat dalam kitab Sahih masing-masing secara panjang lebar.

Hal yang sama telah diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Kitabul Iman.
Imam Turmuzi dan Imam Nasai di dalam kitab tafsir dari kitab Sunnan-nya.
telah meriwayatkannya melalui berbagai jalur, dari Amir Asy-Sya’bi, dari Masruq ibnul Ajda’, dari Siti Aisyah r.a.

Di dalam kitab Sahihain, dari Siti Aisyah r.a.
disebutkan bahwa ia pernah mengatakan,

“Seandainya Muhammad ﷺ menyembunyikan sesuatu dari Al-Qur’an, niscaya dia akan menyembunyikan ayat ini,” yaitu firman-Nya: sedangkan kamu menyembunyikan di dalam hatimu apa yang Allah akan menyatakannya, dan kamu takut kepada manusia, sedangkan Allah-lah yang lebih berhak untuk kamu takuti.
(Al Ahzab : 37)

Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ahmad ibnu Mansur Ar-Ramadi, telah menceritakan kepada kami Sa’id ibnu Sulaiman, telah menceritakan kepada kami Abbad, dari Harun ibnu Antrah, dari ayahnya yang menceritakan bahwa ketika ia berada di hadapan Ibnu Abbas, tiba-tiba datanglah seorang lelaki.
Kemudian lelaki itu berkata, “Sesungguhnya banyak orang yang berdatangan kepada kami.
Mereka menceritakan kepada kami bahwa pada kalian terdapat sesuatu yang belum pernah Rasulullah ﷺ jelaskan kepada orang lain.” Maka Ibnu Abbas menjawab, “Bukankah kamu ketahui bahwa Allah subhanahu wa ta’ala.
telah berfirman: Hai Rasul, sampaikanlah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu.
(Al Maidah:67) Demi Allah, Rasulullah ﷺ tidak mewariskan kepada kami (ahlul bait) sesuatu hal yang disembunyikan.”

Sanad asar ini berpredikat jayyid.

Hal yang sama disebutkan di dalam kitab Sahih Bukhari melalui riwayat Abu Juhaifah, yaitu Wahb ibnu Abdullah As-Sawa-i, yang menceritakan bahwa ia pernah bertanya kepada Khalifah Ali ibnu Abu Talib r.a., “Apakah di kalangan kalian (ahlul bait) terdapat sesuatu dari wahyu yang tidak terdapat di dalam Al-Qur’an?”
Maka Khalifah Ali r.a.
menjawab, “Tidak, demi Tuhan yang menumbuhkan biji-bijian dan yang menciptakan manusia, kecuali hanya pemahaman yang diberi­kan oleh Allah kepada seseorang mengenai Al-Qur’an dan apa yang terdapat di dalam lembaran ini.” Aku bertanya, “Apakah yang terdapat di dalam lembaran ini?”
Khalifah Ali ibnu Abu Talib r.a.
menjawab, “Masalah aql (diat), mem­bebaskan tawanan, dan seorang muslim tidak boleh dihukum mati karena membunuh seorang kafir.”

Imam Bukhari mengatakan bahwa Az-Zuhri pernah berkata, “Risalah adalah dari Allah, dan Rasul berkewajiban menyampaikannya, sedangkan kita diwajibkan menerimanya.
Umatnya telah menyaksikan bahwa beliau ﷺ telah menyampaikan risalah dan menunaikan amanat Tuhannya, serta menyampaikan kepada mereka dalam perayaan yang paling besar melalui khotbahnya, yaitu pada haji wada’.
Saat itu di tempat tersebut terdapat kurang lebih empat puluh ribu orang dari kalangan sahabat-sahabatnya.”

Di dalam kitab Sahih Muslim disebutkan dari Jabir ibnu Abdullah, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda dalam khotbah haji wada’nya:

Hai manusia, sesungguhnya kalian akan ditanyai mengenai diriku, maka apakah yang akan kalian katakan?
Mereka menjawab, “Kami bersaksi bahwa engkau telah menunaikan risalah dan menyampaikan amanat serta menasihati umat.” Maka Rasulullah ﷺ mengangkat jari telunjuknya ke langit, lalu menun­jukkannya kepada mereka seraya bersabda: Ya Allah apakah aku telah menyampaikan?

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ibnu Namir, telah menceritakan kepada kami Fudail (yakni ibnu Gazwan), dari Ikrimah, dari Ibnu Abbas yang telah menceritakan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda dalam haji wada’, “Hai manusia hari apakah sekarang?”
Mereka menjawab, “Hari yang suci.” Rasulullah ﷺ bersabda, “Negeri apakah ini?”
Mereka menjawab, “Negeri (kota) yang suci.” Rasulullah ﷺ bertanya, “Bulan apakah sekarang?”
Mereka menjawab, “Bulan suci.” Maka Rasulullah ﷺ bersabda: Maka sesungguhnya harta kalian, darah kalian, dan kehormatan kalian diharamkan atas kalian sebagaimana haramnya hari kalian sekarang ini di negeri kalian ini dan dalam bulan kalian ini.
Rasulullah ﷺ mengulangi ucapan ini berkali-kali, lalu mengangkat telunjuknya ke (arah) langit dan bersabda: Ya Allah, apakah aku telah menyampaikan?
Ucapan ini diulangnya berkali-kali.
Ibnu Abbas mengatakan, “Demi Allah, hal ini merupakan wasiat yang beliau tunjukkan kepada Tuhannya, yakni beliau ﷺ menitipkan umatnya kepada Allah subhanahu wa ta’ala.” Kemudian Rasulullah ﷺ bersabda: Ingatlah, hendaklah orang yang hadir menyampaikannya kepada orang yang tidak hadir.
Janganlah kalian kembali menjadi kufur sesudahku, sebagian dari kalian memukul leher sebagian yang lainnya.

Imam Bukhari telah meriwayatkan dari Ali ibnul Madini, dari Yahya ibnu Sa’id, dari Fudail ibnu Gazwan dengan sanad yang sama dan lafaz yang semisal.

Firman Allah subhanahu wa ta’ala.

…jika tidak kamu kerjakan (apa yang diperintahkan itu, berarti) kamu tidak menyampaikan amanat-Nya.

Yakni jika engkau tidak menyampaikannya kepada manusia apa yang telah Aku perintahkan untuk menyampaikannya, berarti engkau tidak menyampaikan risalah yang dipercayakan Allah kepadamu.
Dengan kata lain dapat disebutkan bahwa telah diketahui konsekuensi hal tersebut seandainya terjadi.

Ali ibnu Abu Talhah meriwayatkan dari Ibnu Abbas sehubungan dengan makna firman-Nya: tidak kamu kerjakan (apa yang diperintahkan itu, berarti) kamu tidak menyampaikan amanat-Nya.
(Al Maidah:67) Yaitu jika engkau sembunyikan barang suatu ayat yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu, berarti engkau tidak menyampaikan risalah-Nya.

Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami ayahku, telah menceritakan kepada kami Qubaihah ibnu Uqbah, telah menceritakan kepada kami Sufyan, dari seorang laki-laki, dari Mujahid yang mengatakan bahwa ketika diturunkan firman-Nya: Hai Rasul, sampaikanlah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu.
(Al Maidah:67) Nabi Muhammad berkata, “Ya Tuhanku, apakah yang harus aku perbuat, sedangkan aku sendirian, tentu mereka akan mengeroyokku.” Maka tu­runlah firman-Nya: Jika tidak kamu kerjakan (apa yang diperintahkan itu, berarti) kamu tidak menyampaikan amanat-Nya.
(Al Maidah:67)

Ibnu Jarir meriwayatkannya melalui jalur Sufyan As-Sauri dengan sanad yang sama.

Firman Allah subhanahu wa ta’ala.

Allah memelihara kamu dari (gangguan) manusia.

Yakni sampaikanlah olehmu risalah-Ku, dan Aku akan memeliharamu, menolongmu, dan mendukungmu serta memenangkanmu atas mereka.
Karena itu kalian jangan takut dan jangan pula bersedih hati, karena tiada seorang pun dari mereka dapat menyentuhmu dengan keburukan yang menyakitkanmu.
Sebelum ayat ini diturunkan, Nabi ﷺ selalu dikawal.

Seperti yang disebutkan oleh Imam Ahmad, telah menceritakan kepada kami Yazid, telah menceritakan kepada kami Yahya yang mengatakan bahwa ia pernah mendengar Abdullah ibnu Amir ibnu Rabi’ah menceritakan, “Siti Aisyah pernah bercerita bahwa di suatu malam Rasulullah ﷺ begadang, sedangkan Siti Aisyah r.a.
berada di sisinya.
Siti Aisyah bertanya, ‘Apakah gerangan yang membuatmu gelisah, wahai Rasulullah ﷺ?’ Maka Rasulullah bersabda: Mudah-mudahan ada seorang lelaki saleh dari sahabatku yang mau menjagaku malam ini’.” Siti Aisyah melanjutkan kisahnya, “Ketika kami berdua dalam keadaan demikian, tiba-tiba aku (Siti Aisyah) mendengar suara senjata, maka Rasulullah ﷺ bertanya, ‘Siapakah orang ini?’ Seseorang menjawab, ‘Saya Sa’d ibdu Malik.’ Rasulullah ﷺ bertanya, ‘Apa yang sedang kamu lakukan?’ Sa’d menjawab, ‘Aku datang untuk menjagamu, wahai Rasulullah’.” Siti Aisyah melanjutkan kisahnya, “Tidak lama kemudian aku mendengar suara tidur Rasulullah ﷺ”

Imam Bukhari dan Imam Muslim mengetengahkannya melalui jalur Yahya ibnu Sa’id Al-Ansari dengan lafaz yang sama.

Menurut suatu lafaz, Rasulullah ﷺ begadang di suatu malam, yaitu setibanya di Madinah sesudah hijrahnya dan sesudah mencampuri Siti Aisyah r.a.
Hal ini terjadi pada tahun dua Hijriah.

Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ibrahim ibnu Marzuq Al-Basri yang tinggal di Mesir, telah menceritakan kepada kami Muslim ibnu Ibrahim, telah menceritakan kepada kami Al-Haris ibnu Ubaid (yakni Abu Qudamah), dari Al- Jariri, dari Abdullah ibnu Syaqiq, dari Siti Aisyah yang menceritakan bahwa Nabi ﷺ selalu dikawal dan dijaga sebelum ayat ini diturunkan, yaitu firman-Nya: Allah memelihara kamu dari (gangguan) manusia.
(Al Maidah:67) Siti Aisyah melanjutkan kisahnya, “Setelah itu Rasulullah ﷺ mengeluarkan kepala dari kemahnya dan bersabda: Hai manusia, bubarlah kalian, sesungguhnya Allah subhanahu wa ta’ala.
telah menjaga diri kami”

Hal yang sama telah diriwayatkan oleh Imam Turmuzi melalui Abdu ibnu Humaid dan Nasr ibnu Ali Al-Jahdami, keduanya dari Muslim ibnu Ibrahim dengan sanad yang sama.
Kemudian Imam Turmuzi mengatakan bahwa hadis ini garib.

Juga telah diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dan Imam Hakim di dalam kitab Mustadrak-nya melalui jalur Muslim ibnu Ibrahim dengan sanad yang sama, kemudian Imam Hakim mengatakan bahwa sanad hadis ini sahih, tetapi keduanya (Bukhari dan Muslim) tidak mengetengahkannya.

Telah diriwayatkan pula oleh Sa’id ibnu Mansur, dari Al-Haris ibnu Ubaid Abu Qudamah Al-Ayadi, dari Al-Jariri, dari Abdullah ibnu Syaqiq, dari Siti Aisyah dengan lafaz yang sama.

Imam Turmuzi mengatakan, sebagian dari mereka ada yang meriwayatkan hadis ini dari Al-Jariri, dari Ibnu Syaqiq yang telah menceritakan bahwa pada mulanya Nabi ﷺ selalu dikawal sebelum ayat ini diturunkan.
Tetapi di dalam riwayat ini tidak disebutkan nama Siti Aisyah.
Menurut hemat kami, demikian pula yang diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dari jalur Ismail ibnu Ulayyah, dan Ibnu Murdawaih melalui jalur Wuhaib, keduanya dari Al-Jariri, dari Abdullah ibnu Syaqiq secara mursal.
Hadis ini telah diriwayatkan secara mursal melalui Sa’id ibnu Jubair dan Muhammad ibnu Ka’b Al-Qurazi.
Keduanya diriwayatkan oleh Ibnu Jarir.
Ar-Rabi’ ibnu Anas, dan ibnu Murdawaih.

Ibnu Murdawaih mengatakan, telah menceritakan kepada kami Sulaiman Ibnu Ahmad, telah menceritakan kepada kami Ahmad ibnu Rasyidin Al-Masri, telah menceritakan kepada kami Khalid ibnu Abdus Salam As-Sadfi, telah menceritakan kepada kami Al-Fadl ibnul Mukhtai, dari Abdullah ibnu Mauhib, dari Ismah ibnu Malik Al-Katmi yang menceritakan bahwa kami selalu mengawal Rasulullah ﷺ di malam hari hingga turun firman-Nya: Allah memelihara kamu dari (gangguan) manusia.
(Al Maidah:67).
Setelah ayat ini diturunkan, pengawalan pun dibubarkan.

Telah menceritakan kepada kami Sulaiman ibnu Ahmad, telah menceritakan kepada kami Ahmad ibnu Muhammad ibnu Ahmad Abu Nasr Al-Katib Al-Bagdadi, telah menceritakan kepada kami Kardus ibnu Muhammad Al-Wasiti, telah menceritakan kepada kami Ya’la ibnu Abdur Rahman, dari Fudail ibnu Marzuq, dari Atiyyah.
dari Abu Sa’id Al-khudri yang menceritakan bahwa Al- Abbas —paman Rasulullah ﷺ—termasuk salah seorang yang ikut mengawal Nabi ﷺ Setelah ayat ini diturunkan, yaitu firman-Nya: Allah memelihara kamu dari (gangguan) manusia.
(Al Maidah:67) maka Rasulullah ﷺ meninggalkan penjagaan, yakni tidak mau dikawal lagi.

Telah menceritakan kepada kami Ali ibnu Abu Hamid Al-Madini, telah menceritakan kepada kami Ahmad ibnu Muhammad ibnu Sa’id, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Mufaddal ibnu Ibrahim Al-Asy’ari, telah menceritakan kepada kami ayahku, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Mu’awiyah ibnu Ammar, telah menceritakan kepada kami ayahku, bahwa ia pernah mendengar Abuz Zubair Al-Makki menceritakan hadis berikut dari Jabir ibnu Abdullah yang mengatakan bahwa dahulu apabila Rasulullah ﷺ keluar, maka Abu Talib mengirimkan seseorang untuk menjaganya, hingga turun firman-Nya: Allah memelihara kamu dari (gangguan) manusia.
(Al Maidah:67).
Setelah ayat ini diturunkan dan Abu Talib mengutus seseorang untuk menjaga Rasulullah ﷺ, maka Rasulullah ﷺ bersabda: Hai paman, sesungguhnya Allah telah menjaga diriku (dari gangguan manusia), maka sekarang aku tidak memerlukan lagi penjaga (pengawal pribadi) yang engkau kirimkan.

Hadis ini garib, dan di dalamnya terdapat hal yang tidak dapat diterima, mengingat ayat ini adalah Madaniyah: sedangkan pengertian hadis menunjukkan kejadiannya berlangsung dalam periode Makkiyyah.

Sulaiman ibnu Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Ahmad ibnu Ibrahim, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Yahya, telah menceritakan kepada kami Abu Kuraib, telah menceritakan kepada kami Abdul Majid Al-Hammani, dari An-Nadr, dari Ikrimah, dari Ibnu Abbas yang menceritakan bahwa dahulu Rasulullah ﷺ selalu dikawal.
Abu Taliblah yang selalu mengirimkan beberapa orang lelaki dari kalangan Bani Hasyim untuk mengawal dan menjaga Nabi ﷺ setiap harinya hingga turun kepada Nabi ﷺ firman Allah subhanahu wa ta’ala.
yang mengatakan: Hai Rasul, sampaikanlah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu Dan jika tidak kamu kerjakan (apa yang diperintahkan itu, berarti) kamu tidak menyampaikan amanatnya.
Allah memelihara kamu dari (gangguan) manusia.
(Al Maidah:67).
Ibnu Abbas melanjutkan kisahnya, “Lalu paman Nabi ﷺ bermaksud mengirimkan orang-orang untuk mengawal Nabi ﷺ Maka Nabi ﷺ bersabda: Sesungguhnya Allah telah memelihara diriku dari (gangguan) jin Dan manusia.

Imam Tabrani meriwayatkannya dari Ya’qub ibnu Gailan Al-Ammani.
dari Abu Kuraib dengan sanad yang sama.

Hadis ini pun berpredikat garib, karena pendapat yang benar ialah yang mengatakan bahwa ayat ini adalah Madaniyah, bahkan ayat ini termasuk salah satu dari ayat-ayat yang paling akhir diturunkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala.

Termasuk pemeliharaan Allah subhanahu wa ta’ala.
kepada Rasul-Nya ialah Allah menjaga Rasulullah ﷺ dari perlakuan jahat penduduk Mekah, para pemimpinnya, orang-orangnya yang dengki dan yang menentang beliau, serta para hartawannya yang selalu memusuhi dan membenci beliau, selalu memeranginya siang dan malam.
Allah memelihara diri Nabi ﷺ dari ulah jahat mereka dengan berbagai sarana yang diciptakan oleh-Nya melalui kekuasaan dan kebijaksanaan-Nya yang besar.

Pada permulaan masa risalah Nabi ﷺ, Allah memelihara beliau melalui pamannya, yaitu Abu Talib, mengingat Abu Talib adalah seorang pemimpin yang besar lagi ditaati di kalangan orang-orang Quraisy.
Allah menciptakan rasa cinta secara naluri kepada Rasulullah ﷺ di dalam kalbu Abu Talib, tetapi bukan cinta secara syar’i.
Seandainya Abu Talib adalah orang yang telah masuk Islam, niscaya orang-orang kafir dan para pembesar Mekah berani mengganggu Nabi ﷺ Akan tetapi, karena antara Abu Talib dan mereka terjalin kekufuran yang sama, maka mereka menghormati dan segan kepadanya.

Setelah paman Nabi ﷺ —yaitu Abu Talib— meninggal dunia, orang-orang musyrik baru dapat menimpakan sedikit gangguan yang menyakitkan terhadap diri Nabi ﷺ Tetapi tidak lama kemudian Allah membentuk kaum Ansar yang menolongnya, mereka berbaiat kepadanya untuk Islam serta meminta kepada beliau agar pindah ke negeri mereka, yaitu Madinah.

Setelah Nabi ﷺ tiba di Madinah, maka orang-orang Ansar membela Nabi ﷺ dari gangguan dan serangan segala bangsa.
Setiap kali seseorang dari kaum musyrik dan kaum Ahli Kitab melancarkan tipu muslihat jahat terhadap diri beliau ﷺ, maka Allah menangkal tipu daya mereka dan mengembalikan tipu muslihat itu kepada perencananya sendiri.

Orang Yahudi pernah melancarkan tipu muslihat terhadap diri Nabi ﷺ melalui sihirnya, tetapi Allah memelihara diri Nabi ﷺ dari keja­hatan sihir mereka, dan diturunkan-Nya kepada Nabi ﷺ dua surat mu’awwizah sebagai obat untuk menangkal penyakit itu.

Dan ketika seorang Yahudi meracuni masakan kaki (kikil) kambing yang mereka kirimkan kepadanya di Khaibar, Allah memberitahukan hal itu kepada Nabi ﷺ dan memelihara diri Nabi ﷺ dari racun tersebut.

Hal-hal seperti itu banyak sekali terjadi, kisahnya panjang bila dituturkan, antara lain ialah apa yang disebutkan oleh ulama tafsir dalam pembahasan ayat ini.

Abu Ja’far ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepada kami Al-Haris, telah menceritakan kepada kami Abdul Aziz, telah mencerita­kan kepada kami Abu Ma’syar, dari Muhammad ibnu Ka’b Al-Qurazi dan lain-lainnya yang menceritakan bahwa Rasulullah ﷺ apabila turun di suatu tempat, maka para sahabatnya memilihkan buatnya sebuah pohon yang rindang, lalu beliau ﷺ merebahkan diri beristirahat di bawahnya.
Dan ketika beliau ﷺ dalam keadaan demikian, datanglah seorang lelaki Arab Badui, lalu mencabut pedangnya, kemudian ber­kata “Siapakah yang melindungi dirimu dariku?”
Nabi ﷺ menjawab, “Allah subhanahu wa ta’ala.” Maka tangan orang Badui itu gemetar sehingga pedang terjatuh dari tangannya, lalu kepala orang Badui itu dipukulkan ke pohon hingga pecah dan otaknya berhamburan.
Kemudian Allah subhanahu wa ta’ala.
menurun­kan firman-Nya

Allah memelihara kamu dari (gangguan) manusia.

Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abu Sa’id Ahmad ibnu Muhammad ibnu Yahya ibnu Sa’id Al-Qattan.
telah menceritakan kepada kami Zaid ibnul Hubab, telah menceritakan kepada kami Musa ibnu Ubaidah, telah menceritakan kepadaku Zaid ibnu Aslam, dari Jabir ibnu Abdullah Al-Ansari yang menceritakan bahwa ketika Rasulullah ﷺ berperang melawan Bani Anmar, beliau turun istirahat di Zatur Riqa’, yaitu di daerah Nakhl yang tinggi.
Ketika beliau sedang duduk di pinggir sebuah sumur seraya menjulurkan kedua kakinya (ke dalam sumur itu), berkatalah Al-Haris dari kalangan Bani Najjar .
Aku benar-benar akan membunuh Muhammad maka teman-temannya berkata kepadanya, “Bagaimanakah cara kamu membunuh dia?”
Al-Haris berkata, “Aku akan katakan kepadanya, ‘Berikanlah pedangmu kepadaku* Apabila dia telah memberikan pedangnya kepada­ku, maka aku akan membunuhnya dengan pedang itu.

Al-Haris datang kepada Nabi ﷺ dan berkata, “Hai Muhammad, berikanlah pedangmu kepadaku, aku akan melihat-lihatnya dengan menghunusnya.” Maka Nabi ﷺ memberikan pedangnya kepada Al-Haris.
Tetapi setelah Al-Haris menerimanya dan menghunusnya, tiba-tiba tangan Al-Haris gemetar hingga pedang itu terjatuh dari tangannya Maka Rasulullah ﷺ bersabda: Allah menghalang-halangi antara kamu dan apa yang kamu inginkan.
Lalu Allah subhanahu wa ta’ala.
menurunkan firman-Nya:

Hai Rasul, sampaikanlah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu.
Dan jika tidak kamu kerjakan (apa yang diperintahkan itu, berarti) kamu tidak menyampaikan amanat-Nya.
Allah memelihara kamu dari (gangguan) manusia.

Bila ditinjau dari segi konteksnya, hadis ini berpredikat garib.
Kisah Gauras ibnul Haris ini terkenal di dalam kitab Sahih.

Abu Bakar ibnu Murdawaih mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abu Amr ibnu Ahmad ibnu Muhammad ibnu Ibrahim, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Abdul Wahhab, telah men­ceritakan kepada kami Adam, telah menceritakan kepada kami Hammad ibnu Salamah, dari Muhammad ibnu Amr, dari Abu Salamah, dari Abu Hurairah yang menceritakan: Bila kami menemani Rasulullah ﷺ dalam suatu perjalanan, kami mencarikan sebuah pohon yang paling besar dan paling rindang untuknya, lalu beliau turun istirahat di bawahnya.
Pada suatu hari beliau ﷺ turun di bawah sebuah pohon, kemudian beliau gantungkan pedangnya pada pohon tersebut.
Lalu datanglah seorang lelaki dan mengambil pedang itu, kemudian lelaki itu berkata, “Hai Muhammad, siapakah yang akan melindungimu dariku?”
Nabi ﷺ bersabda: Allahlah yang akan melindungiku darimu.
Sekarang letakkanlah pedang itu, maka seketika itu juga dia langsung meletakkan pedangnya.
Maka Allah subhanahu wa ta’ala.
menurunkan firman-Nya:

Allah memelihara kamu dari (gangguan) manusia.

Hal yang sama telah diriwayatkan oleh Abu Hatim ibnu Hibban di dalam kitab Shahih-nya, dari Abdullah ibnu Muhammad, dari Ishaq Ibnu Ibrahim, dari Al-Muammal ibnu Ismail, dari Hammad ibnu Salamah dengan sanad yang sama

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Ja’far, telah menceritakan kepada kami Syu’bah, ia pernah mendengar Aba Israil —yakni Al-Jusyami— mengatakan bahwa ia pernah mendengar Ja’dah —yakni Ibnu Khalid ibnus Summah Al-Jusyami r.a.
—menceritakan hadis berikut, bahwa ia pernah mendengar sebuah kisah mengenai Nabi ﷺ Ketika beliau ﷺ melihat seorang lelaki yang gemuk, Nabi ﷺ menunjuk ke arah perutnya dan bersabda: Seandainya ini bukan di bagian ini, niscaya lebih baik darimu.
Pernah pula didatangkan kepada Nabi ﷺ seorang lelaki lain, lalu dikatakan kepada Nabi ﷺ bahwa orang ini bermaksud membunuhnya.
Maka Nabi ﷺ bersabda: Jangan takut, seandainya kamu bermaksud melakukan niatmu itu, Allah tidak akan membiarkanmu dapat menguasai diriku.

Firman Allah subhanahu wa ta’ala.:

Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir.

Yakni sampaikanlah (risalah ini) olehmu, dan Allah-lah yang akan memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya dan Dia akan menyesatkan siapa yang dikehendaki-Nya.
Perihalnya sama dengan makna yang terkandung di dalam ayat lainnya, yaitu firman Allah subhanahu wa ta’ala.:

Bukanlah kewajibanmu menjadikan mereka mendapat petunjuk, akan tetapi Allah-lah yang memberi petunjuk (memberi taufik) siapa yang dikehendaki-Nya.
(Al Baqarah:272)

karena sesungguhnya tugasmu hanya menyampaikan saja, sedang­kan Kamilah yang menghisab amalan mereka.
(Ar Ra’du:40)

Hadits Shahih Yang Berhubungan Dengan Surah Al Maa'idah (5) ayat 67
Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Yusuf Telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Isma’il dari Asy Sya’bi dari Masruq dari Aisyah radliallahu anhu dia berkata,
“Siapapun yang berkata bahwa Muhammad shallallahu alaihi wasallam menyembunyikan sebagian dari yang telah diwahyukan kepadanya, maka dia telah berdusta. Karena Allah telah berfirman: Wahai Rasul, sampaikanlah apa yang telah diturunkan kepadamu dari Rabbmu.. (Al Maidah: 67).

Shahih Bukhari, Kitab Tafsir Al Qur’an – Nomor Hadits: 4246

Informasi Surah Al Maa'idah (المائدة)
Surat Al Maa-idah terdiri dari 120 ayat termasuk golongan surat Madaniyyah.
Sekalipun ada ayatnya yang turun di Mekah, namun ayat ini diturunkan sesudah Nabi Muhammad ﷺ hijrah ke Madinah, yaitu di waktu haji wadaa’

Surat ini dinamakan “Al Maa-idah” (hidangan), karena memuat kisah pengikut-pengikut setia Nabi ‘Isa ‘alaihis salam meminta kepada Nabi ‘Isa ‘alaihis salam, agar Allah menurunkan untuk mereka Al Maa-idah (hidangan makanan) dari langit (ayat 112).
Dan dinamakan dengan “Al Uqud” (perjan­jian), karena kata itu terdapat pada ayat pertama surat ini, di mana Allah menyuruh agar hamba­ hamba-Nya memenuhi janji prasetia terhadap Allah dan perjanjian-perjanjian yang mereka buat sesamanya.

Dinamakan juga “Al Munqidz” (yang menyelamatkan), karena akhir surat ini mengandung kisah tentang Nabi ‘Isa ‘alaihis salam penyelamat pengikut-pengikut setianya dari azab Allah.

Keimanan:

Bantahan terhadap orang-orang yang mempertuhankan Nabi ‘Isa a.s.

Hukum:

Keharusan memenuhi perjanjian
hukum melanggar syi’ar Allah
makanan yang di­halalkan dan yang diharamkan
hukum mengawini wanita ahli kitab
wudhu
tayammum
mandi
hukum membunuh orang
hukum mengacau dan mengganggu keamanan
hukum qishaas
hukum melanggar sumpah dan kafaaratnya
hukum khamar
berjudi
berkorban untuk berhala
mengundi nasib
hukum membunuh binatang waktu ihram
hukum persaksian dalam berwasiat.

Kisah:

Kisah-kisah Nabi Musa a.s. menyuruh kaumnya memasuki Palestina
kisah Habil dan Qabil, kisah-kisah tentang Nabi ‘Isa a.s

Lain-lain:

Keharusan bersikap lemah lembut terhadap sesama mu’min bersikap keras terhadap orang-orang kafir
penyempurnaan Agama Islam di zaman Nabi Muhammad ﷺ
keharusan jujur dan berlaku adil
sikap dalam menghadapi berita-berita bohong
akibat berteman akrab dengan orang yang bukan muslim
kutukan Allah terhadap orang-orang Yahudi
kewajiban rasul hanya menyampaikan agama
sikap Yahudi dan Nasrani terhadap orang Islam
Ka’bah sokoguru kehidupan manusia
peringat­an Allah supaya meninggalkan kebiasaan Arab Jahiliyah
larangan-larangan terhadap pertanyaan-pertanyaan yang mengakibatkan kesempitan dalam agama.


Gambar Kutipan Surah Al Maa’idah Ayat 67 *beta

Surah Al Maa'idah Ayat 67



Statistik
  • Rating RisalahMuslim

Surah Al Maa'idah

Surah Al-Ma'idah (bahasa Arab:المآئدة, al-Mā'idah, "Jamuan Hidangan") adalah surah ke-5 dalam Al-Qur'an.
Surah ini terdiri dari 120 ayat dan termasuk golongan surah Madaniyah.
Sekalipun ada ayat-ayatnya yang turun di Mekkah, namun ayat ini diturunkan sesudah Nabi Muhammad hijrah ke Madinah, yakni sewaktu peristiwa Haji Wada'.
Surah ini dinamakan Al-Ma'idah (hidangan) karena memuat kisah para pengikut setia nabi Isa meminta kepada nabi Isa agar Allah menurunkan untuk mereka Al-Ma'idah (hidangan makanan) dari langit (ayat 112).
Selain itu, Surah Al-Ma'idah juga disebut Al-Uqud (perjanjian), karena kata itu terdapat pada ayat pertama surah ini, di mana Allah menyuruh agar hamba-hamba-Nya memenuhi janji terhadap Allah maupun perjanjian-perjanjian yang mereka buat terhadap sesamanya.
Dinamakan juga Al-Munqidz (yang menyelamatkan), sebab pada bagian akhir surah ini memuat kesaksian Isa Al-Masih terhadap kaum pengikutnya.

Nomor Surah5
Nama SurahAl Maa'idah
Arabالمائدة
ArtiJamuan (hidangan makanan)
Nama lainAl-'Uqud (bermakna perjanjian dan kesepakatan) dan Al-Munqidz (bermakna yang menyelamatkan).
Tempat TurunMadinah
Urutan Wahyu112
JuzJuz 6 (ayat 1-82), juz 7 (ayat 83-120)
Jumlah ruku'0
Jumlah ayat120
Jumlah kata2842
Jumlah huruf12207
Surah sebelumnyaSurah An-Nisa'
Surah selanjutnyaSurah Al-An'am
4.7
Rating Pembaca: 4.9 (15 votes)
Sending







Anda perlu login mengelola Bookmark.

📖 Lihat Semua Bookmark-ku