Search
Exact matches only
Cari di judul
Cari di Arti & Tafsir
Search in comments
Search in excerpt
Filter by Custom Post Type
Filter berdasar surah
Pilih atau Semua
Abasa
Ad Dukhaan
Adh Dhuhaaa
Adz Dzaariyaat
Al 'Alaq
Al 'Ashr
Al A'laa
Al A'raaf
Al Aadiyaat
Al Ahqaaf
Al Ahzab
Al An 'aam
Al Anbiyaa
Al Anfaal
Al Ankabut
Al Balad
Al Baqarah
Al Bayyinah
Al Buruuj
Al Fajr
Al Falaq
Al Fath
Al Fatihah
Al Fiil
Al Furqaan
Al Ghaasyiyah
Al Haaqqah
Al Hadid
Al Hajj
Al Hasyr
Al Hijr
Al Hujurat
Al Humazah
Al Ikhlas
Al Infithar
Al Insaan
Al Insyiqaaq
Al Israa
Al Jaatsiyah
Al Jinn
Al Jumu'ah
Al Kaafiruun
Al Kahfi
Al Kautsar
Al Lahab
Al Lail
Al Ma'aarij
Al Maa'idah
Al Maa'un
Al Mu'min
Al Mu'minuun
Al Muddatstsir
Al Mujaadilah
Al Mulk
Al Mumtahanah
Al Munafiquun
Al Mursalat
Al Muthaffifin
Al Muzzammil
Al Qaari'ah
Al Qadr
Al Qalam
Al Qamar
Al Qashash
Al Qiyaamah
Al Waaqi'ah
Al Zalzalah
Alam Nasyrah
Ali Imran
An Naazi'at
An Nabaa
An Nahl
An Najm
An Naml
An Nas
An Nashr
An Nisaa'
An Nuur
Ar Ra'd
Ar Rahmaan
Ar Rum
As Sajdah
Ash Shaff
Ash Shaffaat
Asy Shyuura
Asy Syams
Asy Syu'araa
At Taghaabun
At Tahrim
At Takaatsur
At Takwir
At Taubah
At Tin
Ath Thaariq
Ath Thalaaq
Ath Thuur
Az Zukhruf
Az Zumar
Faathir
Fushshilat
Hud
Ibrahim
Luqman
Maryam
Muhammad
Nuh
Qaaf
Quraisy
Saba
Shaad
Thaa Haa
Yaa Siin
Yunus
Yusuf

💡 Ketik [nomer surah]-[nomer ayat], contoh: 2-255 atau albaqarah 255 atau ke www.risalahmuslim.id/2-255

Al Maa'idah

Al Maa’idah (Jamuan (hidangan makanan)) surah 5 ayat 4


یَسۡـَٔلُوۡنَکَ مَاذَاۤ اُحِلَّ لَہُمۡ ؕ قُلۡ اُحِلَّ لَکُمُ الطَّیِّبٰتُ ۙ وَ مَا عَلَّمۡتُمۡ مِّنَ الۡجَوَارِحِ مُکَلِّبِیۡنَ تُعَلِّمُوۡنَہُنَّ مِمَّا عَلَّمَکُمُ اللّٰہُ ۫ فَکُلُوۡا مِمَّاۤ اَمۡسَکۡنَ عَلَیۡکُمۡ وَ اذۡکُرُوا اسۡمَ اللّٰہِ عَلَیۡہِ ۪ وَ اتَّقُوا اللّٰہَ ؕ اِنَّ اللّٰہَ سَرِیۡعُ الۡحِسَابِ
Yasaluunaka maadzaa uhilla lahum qul uhilla lakumuth-thai-yibaatu wamaa ‘allamtum minal jawaarihi mukallibiina tu’allimuunahunna mimmaa ‘allamakumullahu fakuluu mimmaa amsakna ‘alaikum waadzkuruuusmallahi ‘alaihi waattaquullaha innallaha sarii’ul hisaab(i);

Mereka menanyakan kepadamu:
“Apakah yang dihalalkan bagi mereka?”.
Katakanlah:
“Dihalalkan bagimu yang baik-baik dan (buruan yang ditangkap) oleh binatang buas yang telah kamu ajar dengan melatih nya untuk berburu, kamu mengajarnya menurut apa yang telah diajarkan Allah kepadamu.
Maka makanlah dari apa yang ditangkapnya untukmu, dan sebutlah nama Allah atas binatang buas itu (waktu melepaskannya).
Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah amat cepat hisab-Nya.
―QS. 5:4
Topik ▪ Takwa ▪ Menyeru pada ketakwaan ▪ Burung-burungan yang disebut dalam Al Qur’an
5:4, 5 4, 5-4, Al Maa’idah 4, AlMaaidah 4, Al Maidah 4, AlMaidah 4, Al-Ma’idah 4
Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. Al Maa’idah (5) : 4. Oleh Kementrian Agama RI

Ayat ini menerangkan dua macam makanan yang dihalalkan yaitu:

1.
Makanan yang baik-baik, yaitu semua jenis makanan yang menimbulkan selera untuk memakannya dan tidak ada nas yang mengharamkan memakannya.
Adapun yang sudah ada ketentuan haramnya, maka harus dipatuhi ketentuan itu seperti sabda Rasulullah ﷺ:

Rasulullah ﷺ melarang memakan setiap binatang yang bertaring dan binatang buas dan setiap yang berkuku tajam dari unggas.
(H.R.
Ahmad, Muslim dan Ashabus Sunan)

2.
Binatang buruan yang ditangkap oleh binatang-binatang pemburu yang cukup terlatih sehingga buruannya itu apabila dikuasainya, langsung dibawa kepada tuannya dan tidak akan dimakannya kecuali kalau diberi oleh tuannya.
Apabila binatang pemburu itu memakan buruannya tanpa diberikan oleh tuannya, maka buruannya itu haram dimakan seperti haramnya bangkai.

Selanjutnya Allah menerangkan bahwa hasil buruan binatang yang cukup terlatih itu boleh dimakan apabila pada saat melepaskan binatang, Si pemburu membaca basmalah.

Hukum membaca basmalah ini wajib menurut sebagian ulama seperti Abu Hanifah dan menurut sebagian lagi seperti Syafi’i hukumnya sunah.

Kemudian pada akhir ayat ini Allah memerintahkan supaya tetap bertakwa, yaitu mematuhi semua perintah dan menjauhi larangan-Nya karena Allah sangat cepat menghitung semua amal pekerjaan hamba-Nya, tanpa ada yang tertinggal dan tersembunyi bagi-Nya.

Al Maa'idah (5) ayat 4 - dibacakan oleh Shaykh Mishari Alafasy Al Maa'idah (5) ayat 4 - dibacakan oleh Syaikh Sa'ad Al-Ghamidi Al Maa'idah (5) ayat 4 - dibacakan oleh Syaikh Muhammad Ayyub

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Orang-orang Mukmin bertanya kepadamu, Muhammad, mengenai makanan dan lain-lain yang dihalalkan untuk mereka.
Katakan kepada mereka, “Allah menghalalkan semua yang baik menurut akal yang sehat, dan hewan buruan yang ditangkap oleh binatang buas yang telah kalian latih sesuai dengan apa yang diajarkan Allah kepada kalian.
Makanlah dari apa yang ditangkap oleh binatang itu untuk kalian, dan sebutlah nama Allah ketika menyembelihnya.
Bertakwalah kepada Allah dengan melaksanakan apa yang disyariatkan kepada kalian dan jangan melanggar perintah-Nya.
Sesungguhnya Allah amat cepat perhitungan-Nya.

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(Mereka menanyakan kepadamu) hai Muhammad (Apakah yang dihalalkan bagi mereka) di antara makanan.
(Katakanlah, “Dihalalkan bagimu yang baik-baik) yang enak-enak atau yang halal (dan) hasil buruan (dari binatang-binatang buas yang telah kamu ajar) seperti anjing, serigala dan burung (dengan melatihnya berburu) hal dari kallabtal kalba pakai tasydid pada lam, artinya biasa kamu lepas berburu (kamu ajar mereka itu) hal dari dhamir mukallibiina, artinya kamu latih mereka itu (menurut apa yang diajarkan Allah kepadamu) tentang cara berburu (maka makanlah apa-apa yang ditangkapnya untukmu) mereka membunuh buruan tanpa memakannya.
Berbeda halnya dengan yang tidak terlatih, maka tangkapannya itu tidak halal.
Sebagai ciri-cirinya bila dilepas ia berangkat dan bila dicegah ia berhenti serta ditahannya buruan itu dan tidak dimakannya.
Sekurang-kurangnya untuk mengetahui hal itu dibutuhkan pengamatan sebanyak tiga kali.
Jika buruan itu dimakannya, berarti tidak ditangkapnya untuk tuannya, maka tidak halal dimakan sebagaimana tercantum dalam kedua hadis sahih Bukhari dan Muslim.
Dalam hadis itu juga disebutkan bahwa hasil panahan jika dilepas dengan menyebut nama Allah, maka sama dengan hasil buruan dari binatang pemburu yang telah dilatih.
(Dan sebutlah nama Allah atasnya) ketika melepasnya (serta bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah amat cepat perhitungan-Nya.”)

Tafsir al-Muyassar
Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:

Sahabat-sahabatmu bertanya kepadamu wahai Nabi, apa yang dihalalkan bagi mereka untuk mereka makan?
Katakan kepada mereka :
dihalalkan bagi kalian yang baik-baik dan hasil buruan dari hewan buas yang bertaring berupa anjing, singa, rajawali, dan lainnya yang mungkin dilatih yang telah kalian latih untuk menangkap hewan buruan bagi kalian dari apa yang Allah ajarkan kepada kalian.
Makanlah apa yang ia tangkap untuk kalian dan sebutlah nama Allah saat melepasnya untuk menangkap buruan.
Takutlah kalian kepada Allah dalam perkara yang Dia perintahkan kepada kalian dan dalam perkara yang Dia melarang kalian darinya.
Sesungguhnya Allah Mahacepat hisab-Nya.

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Setelah Allah menyebutkan hal-hal yang diharamkan-Nya pada ayat sebelumnya, yaitu berupa segala sesuatu yang buruk lagi membahaya­kan tubuh atau agama, atau kedua-duanya (tubuh dan agama) orang yang bersangkutan, dan Allah mcngccualikan apa-apa yang dikccuali-kan-Nya bila keadaan darurat.
Seperti yang disebut di dalam firman-Nya:

padahal sesungguhnya Allah telah menjelaskan kepada kalian apa yang diharamkan-Nya atas kalian, kecuali apa yang terpak­sa kalian memakannya.
(Al An’am:119)

Firman Allah subhanahu wa ta’ala.:

Mereka bertanya kepadamu, “Apakah yang dihalalkan bagi mereka?”
Katakanlah, “Dihalalkan bagi kalian yang baik-baik.”

Perihalnya sama dengan apa yang disebut di dalam surat Al-A’raf dalam kaitan menyebutkan sifat Nabi Muhammad ﷺ, bahwa Allah menghalalkan bagi mereka yang baik-baik dan mengharamkan atas mereka yang buruk-buruk.

Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abu Zar’ah, telah menceritakan kepada kami Yahya ibnu Abdullah ibnu Abu Bukair, telah menceritakan kepadaku Abdullah ibnu Luhai’ah, telah menceritakan kepadaku Ala ibnu Dinar, dari Sa’id ibnu Jubair, bahwa Addi ibnu Hatim dan Zaid ibnu Muhalhal yang kedua­nya berasal dari Tai bertanya kepada Rasulullah ﷺ Untuk itu me­reka berdua berkata, “Wahai Rasulullah, Allah telah mengharamkan bangkai, apakah yang dihalalkan bagi kami darinya?”
Maka turunlah firman-Nya: Mereka menanyakan kepadamu.”Apakah yang dihalalkan bagi mereka?”
Katakanlah, “Dihalalkan bagi kalian yang baik-baik.” (Al Maidah:4)

Menurut Sa’id, makna yang dimaksud ialah sembelihan yang halal lagi baik untuk mereka.
Menurut Muqatil, yang dimaksud dengan tayyibat ialah segala sesuatu yang dihalalkan untuk mereka memper­olehnya, berupa berbagai macam rezeki.

Az-Zuhri pernah ditanya mengenai meminum air seni untuk ber­obat, maka ia menjawab, “Air seni bukan termasuk tayyibat.” Demi­kianlah apa yang diriwayatkan oleh Ibnu Abu Hatim.

Ibnu Wahb mengatakan bahwa Imam Malik pernah ditanya me­ngenai menjual burung pemangsa, ia menjawab bahwa burung itu bu­kan termasuk burung yang halal.

Firman Allah subhanahu wa ta’ala.:

…dan (buruan yang ditangkap) oleh binatang buas yang telah kali­an ajar dengan melatihnya untuk berburu.

Yaitu dihalalkan bagi kalian hewan-hewan sembelihan yang disebut nama Allah ketika menyembelihnya, rezeki-rezeki yang baik, dihalal­kan pula bagi kalian hewan yang kalian tangkap melalui binatang pemburu, seperti anjing pemburu, macan tutul pemburu, burung falcon (elang), dan lain-lainnya yang serupa.
Sebagaimana yang dikata­kan oleh mazhab jumhur ulama dari kalangan sahabat, tabi’in, dan para imam.
Di antara mereka yang mengatakan demikian ialah Ali ib­nu Abu Talhah yang meriwayatkan dari Ibnu Abbas sehubungan de­ngan makna firman-Nya:

…Dan (buruan yang ditangkap) oleh binatang buas yang telah kali­an ajar dengan melatihnya untuk berburu.

Hewan-hewan tersebut adalah anjing-anjing pemburu yang telah di­latih, dan burung elang serta burung pemangsa lainnya yang telah di­latih untuk berburu.
Kesimpulannya ialah jawarih artinya hewan-he­wan pemangsa, seperti anjing, macan tutul, burung elang, dan lain sebagainya yang serupa.

Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah diriwayatkan dari Sa’id ibnu Ju­bair hal yang semisal.
Ibnu Jarir menukilnya dari Ad-Dahhak dan As-Saddi.
Kemudian Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepada kami Hannad, telah menceritakan kepada kami Ibnu Abu Zaidah, te­lah menceritakan kepada kami Ibnu Juraij, dari Nafi’, dari Ibnu Umar yang mengatakan bahwa hewan yang diburu oleh burung pemangsa dan lain-lainnya termasuk ke dalam jenis burung pemburu, maka apa yang kamu jumpai adalah untukmu dan apa yang tidak sempat kamu temui janganlah kamu memakannya.

Menurut kami, apa yang diriwayatkan dari jumhur ulama yaitu bahwa berburu dengan burung pemangsa sama dengan memakai an­jing pemburu, karena burung pemburu menangkap mangsanya dengan cakarnya, sama halnya dengan anjing sehingga tidak ada bedanya.
Pendapat inilah yang dikatakan oleh mazhab Imam yang empat dan lain-lainnya.
Pendapat ini dipilih oleh Ibnu Jarir yang menguatkannya dengan hadis yang diriwayatkan:

dari Hannad, telah menceritakan ke­pada kami Isa ibnu Yunus, dari Mujalid, dari Asy-Sya’bi, dari Addi ibnu Hatim yang menceritakan hadis berikut: Aku pernah bertanya kepada Rasulullah ﷺ tentang tangkapan burung elang, maka beliau ﷺ menjawab, “Apa yang ditangkap untukmu, makanlah.”

Imam Ahmad mengecualikan berburu dengan memakai anjing hitam, karena menurut Imam Ahmad anjing hitam termasuk hewan yang wa­jib dibunuh dan tidak boleh dipelihara.

Di dalam kitab Sahih Muslim disebutkan sebuah hadis melalui sahabat Abu Bakar, bahwa Rasulul­lah ﷺ pernah bersabda:

“Keledai, wanita, dan anjing hitam dapat memutuskan salat.” Lalu aku (Abu Bakar) bertanya, “Apakah bedanya antara anjing merah dan anjing hitam?”
Rasulullah ﷺ menjawab, “Anjing hitam adalah setan.”

Di dalam hadis lain disebutkan bahwa Rasulullah ﷺ pernah meme­rintahkan membunuh anjing, kemudian beliau ﷺ bersabda:

Apakah gerangan yang menimpa mereka dan anjing-anjing itu, bunuhlah oleh kalian setiap anjing yang hitam pekat dari anjing-anjing itu.

Hewan-hewan yang biasa dipakai berburu itu dinamakan jawarih, berasal dari kata al-jurh yang artinya al-kasbu (penghasilan), seperti yang dikatakan oleh orang-orang Arab Fulanun jaraha ahlahu khairan,” yang artinya: si Fulan menghasilkan kebaikan bagi keluarganya.
Mereka mengatakan, “Fulanun la jariha lah,'”‘ yang artinya: si Fulan tidak mempunyai penghasilan (mata pencaharian).

Allah subhanahu wa ta’ala.
telah berfirman:

Dan Dia mengetahui apa yang kalian kerjakan pada siang hari.
(Al An’am:60)

Yakni mengetahui apa yang kalian hasilkan berupa kebaikan dan ke­burukan.

Mengenai penyebab turunnya ayat ini disebutkan oleh sebuah ha­dis yang diriwayatkan oleh Imam Ibnu Abu Hatim:

telah mencerita­kan kepada kami Hajjaj ibnu Hamzah, telah menceritakan kepada kami Zaid ibnu Habbab, telah menceritakan kepadaku Musa ibnu Ubaidah, telah menceritakan kepadaku Aban ibnu Saleh, dari Al-Qa’qa’ ibnu Hakim, dari Salma Ummu Rafi’, dari Abu Rafi’ maula Rasulullah ﷺ, bahwa Rasulullah ﷺ pernah memerintahkan un­tuk membunuh anjing-anjing (hitam), maka anjing-anjing itu dibunuh.
Lalu orang-orang datang kepadanya dan bertanya, “Wahai Rasulullah, mana sajakah yang dihalalkan dari jenis ini yang engkau perintahkan agar dibunuh?”
Rasulullah ﷺ diam, dan Allah menurunkan firman-Nya: Mereka bertanya kepadamu, “Apakah yang dihalalkan bagi me­reka?”
Katakanlah, “Dihalalkan bagi kalian yang baik-baik, dan (buruan yang ditangkap) oleh binatang pemburu yang telah kalian ajar dengan melatihnya untuk berburu” (Al Maidah:4), hingga akhir ayat.
Maka Nabi ﷺ bersabda: Apabila seseorang lelaki melepaskan anjing (pemburu)nya.
lalu ia mengucapkan tasmiyah (bismillah) dan anjing itu menangkap buruan untuknya, maka hendaklah ia memakannya selagi anjing itu tidak memakannya.

Masih dalam bab yang sama:

Ibnu Jarir meriwayatkan dari Abu Kuraib, dari Zaid ibnul Habbab berikut sanadnya, dari Abu Rafi’ yang menceritakan bahwa Malaikat Jibril datang kepada Nabi Saw,, lalu meminta izin untuk masuk.
Ia diizinkan masuk (tetapi tidak mau juga masuki, maka Nabi ﷺ bersabda, “Saya telah memberimu izin ma­suk, wahai utusan Allah.” Malaikat Jibril menjawab, “Tetapi kami (para malaikat) tidak mau masuk ke dalam suatu rumah yang ada anjingnnya.” Abu Rafi” mengatakan, “Lalu Nabi ﷺ memerintahkan kepada­ku membunuh semua anjing yang ada di Madinah, hingga aku sampai pada seorang wanita yang memiliki seekor anjing.
Saat itu anjingnya sedang menggonggong, maka wanita itu meninggalkan anjingnya ka­rena tidak tega melihatnya dibunuh.
Kemudian aku (Abu Rafi’) datang kepada Rasulullah ﷺ dan kuceritakan hal itu kepadanya, tetapi beliau ﷺ tetap memerintah­kan kepadaku untuk membunuhnya.
Maka aku kembali lagi kepada wanita itu dan membunuh anjingnya.” Kemudian mereka datang dan bertanya, “Wahai Rasulullah, apa sajakah yang dihalalkan bagi kami dari jenis hewan ini yang engkau perintahkan agar semuanya dibunuh?”
Rasulullah ﷺ diam, dan Allah menurunkan firman-Nya:

Mereka menanyakan kepadamu, “Apakah yang dihalalkan bagi mereka?”
Katakanlah, “Dihalalkan bagi kalian yang baik-baik dan (binatang buruan yang ditangkap) oleh binatang pemangsa yang telah kalian ajar dengan melatihnya untuk berburu.”

Imam Hakim meriwayatkannya di dalam kitab Mustadrak melalui jalur Muhammad ibnu Ishaq, dari Aban ibnu Saleh dengan lafaz yang sama, dan Imam Hakim mengatakan bahwa hadis ini sahih, tetapi ke­duanya tidak mengetengahkannya.

Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepada kami Al-Qasim, telah menceritakan kepada kami Al-Husain, telah mencerita­kan kepada kami Hajjaj, dari Ibnu Juraij, dari Ikrimah, bahwa Rasu­lullah ﷺ mengutus Abu Rafi’ untuk membunuh semua anjing hing­ga sampai di Awali (daerah Madinah yang tinggi).
Maka datanglah Asim ibnu Addi, Sa’d ibnu Ktiais’amah dan Uwaim ibnu Sa’idah, lalu mereka bertanya, “Apakah yang dihalalkan bagi kami, wahai Rasulul­lah?”
Maka turunlah ayat ini.

Imam Hakim meriwayatkannya melalui jalur Sammak, dari Ik­rimah, dan hal yang sama dikatakan oleh Muhammad ibnu Ka’b Al-Qurazi dalam penyebab turunnya ayat ini, yaitu berkenaan dengan pembunuhan terhadap anjing.

Firman Allah subhanahu wa ta’ala.:

…dengan melatihnya untuk berburu.

Lafaz ayat ini dapat dikatakan sebagai hal dari damir yang terkan­dung di dalam firman-Nya:

…yang telah kalian ajari

Dengan demikian, berarti ia menjadi hal dari fa’il.
Dapat pula diarti­kan sebagai hal dari maf’ul yaitu lafaz al-jawarih.
yakni binatang pemangsa yang telah kalian ajari saat kalian menggunakannya untuk menerkam hewan buruan kalian.
Pengertian ini menunjukkan bahwa hewan pemburu tersebut membunuh mangsanya dengan taring dan cakar kukunya.
Dalam keadaan demikian, berarti dapat disimpulkan bahwa hewan pemburu bila membunuh binatang buruannya dengan menabraknya atau menindihinya dengan berat tubuhnya, hukumnya tidak halal, seperti yang dikatakan oleh salah satu pendapat dari Imam Syafii dan segolongan ulama.
Karena itulah dalam ayat Selanjutnya disebutkan:

kalian mengajarnya menurut apa yang telah diajarkan Allah ke­pada kalian.
(Al Maidah:4)

Dengan kata lain, apabila dilepaskan oleh tuannya, ia langsung mem­buru mangsanya, dan apabila diperintahkan untuk mengintipnya sebelum menerkamnya, maka ia menuruti tuannya, apabila menangkap hewan buruannya, ia menahan dirinya untuk tuannya hingga tuannya datang kepadanya, dan ia tidak berani menangkapnya, lalu ia makan sendiri.
Karena itulah disebutkan oleh firman Allah subhanahu wa ta’ala selanjutnya:

Maka makanlah dari apa yang ditangkapnya untuk kalian, dan sebutlah nama Allah atas binatang buas itu (waktu melepasnya).

Bilamana binatang pemburu telah diajari dan menangkap mangsanya untuk tuannya, sedangkan si tuan telah membaca asma Allah ketika melepasnya, maka hewan buruan itu halal, sekalipun telah dibunuh­nya, menurut kesepakatan ulama.

Di dalam sunnah terdapat keterangan yang menunjukkan penger­tian yang sama dengan makna ayat ini, seperti yang disebut di dalam kitab Sahihain dari Addi ibnu Hatim yang telah menceritakan:

Aku bertanya, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku melepaskan anjing pemburu yang telah dilatih dan aku menyebutkan asma Allah.” Rasulullah ﷺ menjawab, “Apabila kamu melepaskan anjing terlatihmu dan kamu sebut asma Allah, maka makanlah selagi anjingmu itu menangkap hewan buruan untukmu.”Aku ber­tanya, “Sekalipun hewan buruan itu telah dibunuhnya?”
Rasu­lullah ﷺ bersabda, “Sekalipun telah dibunuhnya selagi tidak ditemani oleh anjing lain yang bukan dari anjing-anjingmu, karena sesungguhnya kamu hanya membaca tasmiyah untuk an­jingmu, bukan membacanya untuk anjing lain.” Aku bertanya ke­padanya, “Sesungguhnya aku melempar hewan buruan dengan tombak dan mengenainya.” Rasulullah ﷺ menjawab, “Jika kamu melemparnya dengan tombak dan tombak itu menembus tubuhnya, maka makanlah.
Tetapi jika yang mengenainya ialah bagian sampingnya (tengahnya), sesungguhnya hewan buruan itu mati karena terpukul, jangan kamu makan.”

Menurut lafaz lain yang juga dari keduanya (Imam Bukhari dan Imam Muslim) disebutkan seperti berikut:

Jika kamu melepaskan anjing pemburumu, bacalah asma Allah, dan jika ia menangkap hewan buruannya untukmu, lalu kamu jumpai masih hidup, sembelihlah hewan buruan itu.
Jika kamu menjumpainya telah mati dan anjingmu tidak memakannya, ma­kanlah, karena sesungguhnya terkaman anjingmu itu merupakan sembelihannya.

Menurut riwayat lain yang ada pada Imam Bukhari dan Imam Mus­lim disebutkan seperti berikut:

Dan jika anjingmu itu memakannya, maka janganlah kamu ma­kan, karena sesungguhnya aku merasa khawatir bila anjingmu itu menangkapnya untuk dirinya sendiri.

Inilah yang dijadikan dalil oleh jumhur ulama, dan hal inilah yang dikatakan oleh mazhab Syafii menurut qaul yang sahih.
Yaitu apabila anjing pemburu memakan sebagian dari hewan buruannya, maka hewan buruan itu haram secara mutlak.
Dalam hal ini mereka tidak memberikan keterangan yang rinci, sama dengan makna yang ada da­lam hadis.

Tetapi diriwayatkan dari segolongan ulama Salaf bahwa mereka mengatakan tidak haram sama sekali.

Asar-asar yang menyangkut masalah ini

Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepada kami Hannad dan Waki’, dari Syu’bah, dari Qatadah, dari Sa’id ibnul Musayyab yang menceritakan bahwa Salman Al-Farisi pernah mengatakan, “Makanlah, sekalipun anjing pemburu itu memakan dua pertiga hewan buruannya,” bilamana memang anjing itu memakan sebagian darinya.

Hal yang sama diriwayatkan oleh Sa’id ibnu Abu Arubah dan Umar ibnu Amir dari Qatadah.
Hal yang sama diriwayatkan pula oleh Muhammad ibnu Zaid, dari Sa’id ibnul Musayyab, dari Salman.

Ibnu Jarir meriwayatkannya dari Mujahid ibnu Musa, dari Yazid, dari Humaid, dari Bakar ibnu Abdullah Al-Muzanni dan Al-Qasim, bahwa Salman pernah mengatakan, “Apabila anjing pemburu mema­kannya, kamu boleh memakannya, sekalipun ia memakan dua pertiga­nya”

Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepada kami Yunus ibnu Abdul A’la, telah menceritakan kepada kami Ibnu Wahb, telah menceritakan kepadaku Makhramah ibnu Bukair, dari ayahnya, dari Humaid ibnu Malik ibnu Khaisam Ad-Du-ali, bahwa ia pernah ber­tanya kepada Sa’d ibnu Abu Waqqas tentang hewan buruan yang dimakan sebagiannya oleh anjing pemburu.
Maka Sa’d ibnu Abu Waqqas men­jawab, “Makanlah olehmu, sekalipun tiada yang tersisa darinya ke­cuali hanya sepotong daging.”

Syu’bah meriwayatkannya dari Abdu Rabbih ibnu Sa’id, dari Bukair ibnul Asyaj, dari Sa’id ibnul Musayyab, dari Sa’d ibnu Abu Waqqas yang mengatakan, “Makanlah (hewan buruan itu), sekalipun anjing pemburu telah memakan dua pertiganya.”

Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ibnul Musanna, telah menceritakan kepada kami Abdul A’la, telah mence­ritakan kepada kami Daud, dari Amir ibnu Abu Hurairah yang me­ngatakan, “Apabila kamu melepas anjing pemburumu, lalu anjing pemburumu memakan sebagian dari hewan tangkapannya, maka ka­mu tetap boleh memakannya, sekalipun anjing pemburu telah mema­kan dua pertiganya dan yang tersisa adalah sepertiganya.”

Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepada kami Muham­mad ibnu Abdul A’la, telah menceritakan kepada kami Al-Mu’tamir, bahwa ia pernah mendengar Abdullah, dan telah menceritakan kepada kami Hannad, telah menceritakan kepada kami Abdah, dari Ubaidil­lah ibnu Umar, dari Nafi’, dari Abdullah ibnu Umar yang mengata­kan, “Apabila kamu melepas anjing terlatihmu dan kamu sebutkan nama Allah (ketika melepaskannya), maka makanlah olehmu selagi anjing itu menangkap buruannya untukmu, baik ia memakannya atau­pun tidak memakannya,”

Hal yang sama diriwayatkan oleh Ubaidillah ibnu Umar dan ibnu Abu Zi-b serta lain-lainnya yang bukan hanya seorang, dari Nafi’.

Asar-asar di atas terbukti bersumber dari Salman, Sa’d ibnu Abu Waqqas, Abu Hurairah, dan Ibnu Umar.
Hal yang sama diriwayatkan dari Ali dan Ibnu Abbas.
Tetapi menurut asar yang dari Ata dan Al-Hasan Al-Basri, masalah ini masih diperselisihkan.
Pendapat inilah yang dikatakan oleh Az-Zuhri, Rabi’ah, dan Imam Malik.
Imam Syafii menurut qaul qadim-nya.
mengatakan masalah ini, tetapi dalam qaul jadid-nya.
hanya mengisyaratkannya saja.

Telah diriwayatkan melalui jalur Salman Al-Farisi secara marfu’.
Untuk itu Ibnu Jarir mengatakan:

telah menceritakan kepada kami Imran ibnu Bakkar Al-Kala’i, telah menceritakan kepada kami Abdul Aziz ibnu Musa Al-Lahuni, telah menceritakan kepada kami Muham­mad ibnu Dinar (yaitu At-Taji), dari Abu Iyas Mu’awiyah ibnu Qurrah, dari Sa’id ibnul Musayyab, dari Salman Al-Farisi.
dari Rasulul­lah ﷺ yang telah bersabda: Apabila seseorang lelaki melepaskan anjingnya terhadap hewan buruan, lalu dapat ditangkapnya dan dimakan sebagiannya.
ma­ka hendaklah dia memakan yang sisanya.

Kemudian Ibnu Jarir mengatakan bahwa dalam sanad hadis ini masih perlu ada yang dipertimbangkan.
Sa’id tidak dikenal pernah mendengar dari Salman Al-Farisi, tetapi orang-orang yang siqah meriwayatkannya dari kalam yang tidak marfu’.

Apa yang dikatakan oleh Ibnu Jarir ini memang benar, tetapi diri­wayatkan makna yang sama secara marfu’ melalui jalur-jalur lainnya.

Imam Abu Daud mengatakan, telah menceritakan kepada kami Mu­hammad ibnu Minhal Ad-Darir (yang tuna netra), telah menceritakan kepada kami Yazid ibnu Zurai’, telah menceritakan kepada kami Habib Al-Mu’allim, dari Amr ibnu Syu’aib, dari ayahnya, dari kakek­nya, bahwa seorang Badui yang dikenal dengan nama Abu Sa’labah pernah bertanya, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku mempunyai anjing yang terlatih untuk berburu, maka berilah aku fatwa mengenai hasil buruannya.” Maka Nabi ﷺ menjawab melalui sabdanya: Jika kamu mempunyai anjing yang terlatih, maka makanlah apa yang ditangkapnya untukmu.
Abu Sa’labah bertanya lagi, “Baik sempat disembelih, tidak sempat disembelih, dan sekalipun anjing itu memakan sebagiannya.” Nabi ﷺ menjawab: Ya, sekalipun anjing itu memakan sebagiannya.
Abu Sa’labah bertanya lagi, “Wahai Rasulullah, berilah aku fatwa mengenai berburu dengan panahku.” Rasulullah ﷺ menjawab: Makanlah apa yang dihasilkan oleh anak panahmu.
Abu Sa’labah berkata, “Baik dalam keadaan sempat disembelih atau­pun tidak sempat disembelih?”
Nabi ﷺ bersabda: Dan sekalipun hilang dari pencarianmu selagi masih belum membusuk atau kamu menemukan padanya bekas anak panah se­lain anak panahmu.
Abu Sa’labah bertanya, “Berilah daku fatwa mengenai wadah milik orang-orang Majusi jika kami terpaksa memakainya.” Nabi ﷺ ber­sabda: Cucilah terlebih dahulu, lalu makanlah padanya.

Demikianlah menurut riwayat yang diketengahkan oleh Imam Abu Daud.

Imam Nasai mengetengahkannya —demikian pula Imam Abu Daud— melalui jalur Yunus ibnu Saif, dari Abu Idris Al-Khaulani, dari Abu Sa’labah yang menceritakan bahwa Rasulullah ﷺ telah bersabda:

Apabila kamu melepaskan anjingmu dan kamu sebutkan nama Allah, maka makanlah, sekalipun anjingmu telah memakan se­bagiannya, dan makan pulalah apa yang berhasil kamu tarik de­ngan tanganmu.

Sanad kedua hadis ini jayyid (baik).

As-Sauri meriwayatkan dari Sammak ibnu Harb, dari Addi yang menceritakan bahwa Rasulullah ﷺ telah bersabda:

Apa yang ditangkap oleh anjing terlatihmu untuk kamu, makan- Abu Salabah bertanya, “Sekalipun anjing itu memakannya?”
Nabi Saw menjawab.”Ya.”

Abdul Malik ibnu Habib meriwayatkan, telah menceritakan ke­pada kami Asad ibnu Musa, dari Ibnu Abu Zaidah, dari Asy-Sya’bi, dari Addi hal yang semisal.

Semua asar yang telah disebutkan di atas menunjukkan bahwa dimaafkan memakan hasil buruan anjing pem­buru, sekalipun anjing telah memakan sebagiannya.

Asar-asar ini dijadikan dalil oleh orang-orang yang berpendapat tidak haram hasil buruan yang dimakan oleh anjing pemburunya atau hewan pemburu lainnya, seperti dalam keterangan di atas dari orang-orang yang kami ketengahkan pendapatnya.

Tetapi ulama lainnya bersikap pertengahan.
Untuk itu mereka mengatakan, “Jika anjing pemburu memakan hewan tangkapannya se­habis menangkapnya, maka hal ini diharamkan,” karena berdasarkan hadis Addi ibnu Hatim yang disebutkan di atas, juga karena Illat (pe­nyebab) yang diisyaratkan oleh Nabi ﷺ melalui sabdanya:

Dan jika anjingmu memakannya, maka janganlah kamu makan, karena sesungguhnya aku merasa khawatir bila anjingmu itu me­nangkapnya untuk dirinya sendiri.

Jika anjing tersebut menangkapnya, kemudian menunggu-nunggu tuannya dan tidak kunjung datang, hingga ia lama menunggu dan lapar, lalu ia makan sebagian tangkapannya karena lapar.
Maka dalam keadaan seperti ini tidak mempengaruhi kehalalannya, dan bukan ter­masuk yang diharamkan.
Mereka mendasari pendapatnya dengan ha­dis Abu Sa’labah Al-Khusyani.
Pemisahan atau rincian ini dinilai cu­kup baik, menggabungkan makna di antara kedua hadis yang sahih tadi.
Sehingga Al-Ustaz Abul Ma’ali Al-Juwaini dalam kitab Nihayah-nya mengatakan, “Seandainya saja masalah ini dirincikan secara mendetail seperti ini.” Memang Allah telah mengabulkan apa yang dicita-citakannya.
Pendapat yang rinci ini ternyata dikatakan oleh se­jumlah sahabat.

Ulama lainnya sehubungan dengan masalah ini mempunyai pen­dapat yang keempat, yaitu memisahkan antara anjing pemburu yang memakan, hukumnya haram berdasarkan hadis Addi ibnu Hatim, dan antara burung pemangsa dan lain-lainnya yang sejenis yang makan, hukumnya tidak haram, karena burung tidak dapat diajari dan tidak akan mengerti kecuali hanya memakan hewan buruannya.

Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abu Ku­raib, telah menceritakan kepada kami Asbat ibnu Muhammad, telah menceritakan kepada kami Abu Ishaq Asy-Syaibani, dari Hammad, dari Ibrahim, dari Ibnu Abbas, bahwa ia mengatakan sehubungan de­ngan masalah burung pemburu yang dilepaskan untuk memburu buru­annya, ternyata ia membunuhnya, maka hasil buruannya boleh dima­kan.
Sesungguhnya anjing itu jika kamu pukul, maka ia tidak mau memakannya, tetapi mengajari burung pemburu untuk kembali kepa­da pemiliknya (tuannya) bukan dengan cara memukulnya.
Karena itu, bila burung pemburu memakan sebagian dari tangkapannya dan telah mencabuti bulu hewan buruannya, maka hewan buruannya masih bo­leh dimakan.
Demikianlah menurut pendapat Ibrahim An-Nakha’i, Asy-Sya’bi, dan Hammad ibnu Abu Sulaiman.

Mereka mengatakan demikian berdalilkan sebuah hadis yang di­riwayatkan oleh Ibnu Abu Hatim, yaitu:

telah menceritakan kepada kami Abu Sa’id, telah menceritakan kepada kami Al-Muharibi, telah menceritakan kepada kami Mujalid, dari Asy-Sya’bi, dari Addi ibnu Hatim yang menceritakan bahwa ia pernah bertanya kepada Rasulul­lah ﷺ,”Wahai Rasulullah, sesungguhnya kami adalah suatu kaum yang biasa berburu dengan memakai anjing dan elang pemburu, apa­kah yang dihalalkan untuk kami darinya?”
Rasulullah ﷺ menja­wab: Dihalalkan bagi kalian buruan yang ditangkap oleh binatang pe­mangsa yang telah kalian ajar dengan melatihnya untuk berbu­ru: kalian mengajarnya menurut apa yang telah diajarkan Allah kepada kalian.
Maka makanlah dari apa yang ditangkapnya un­tuk kalian, dan sebutlah nama Allah atas binatang pemangsa itu (waktu melepasnya).
Kemudian Rasulullah ﷺ bersabda pula: Dan anjing pemburu yang kamu lepaskan dengan menyebut nama Allah atas anjing itu (ketika melepasnya), maka makanlah olehmu hewan tangkapannya yang ditangkap untukmu.
Aku (Addi ibnu Hatim) bertanya, “Sekalipun hewan tangkapannya itu telah membunuhnya.” Rasulullah ﷺ bersabda: Sekalipun telah membunuhnya selagi ia tidak memakannya.
Aku bertanya, “Wahai Rasulullah, bagaimanakah jika anjing-anjing kami dicampur dengan anjing-anjing lainnya (dalam perburuan itu)?”
Rasulullah ﷺ menjawab melalui sabdanya: Jangan kamu makan (hasil tangkapannya) sebelum kamu menge­tahui bahwa anjingmulah yang menangkapnya.
Aku bertanya, “Sesungguhnya kami adalah suatu kaum yang biasa berburu dengan memakai anak panah, maka apakah yang dihalalkan bagi kami?”
Rasulullah ﷺ menjawab: Selagi kamu membacakan nama Allah atasnya dan panahmu me­nembusnya, maka makanlah.

Segi penyimpulan dalil yang dilakukan oleh mereka ialah bahwa da­lam berburu disyaratkan memakai anjing pemburu, hendaknya anjing tidak memakan hasil tangkapannya, hal ini tidak disyaratkan dalam berburu memakai burung elang.
Hal ini menunjukkan adanya per­bedaan di antara keduanya dalam masalah hukum.

Firman Allah subhanahu wa ta’ala.:

Maka makanlah dari apa yang ditangkapnya untuk kalian, dan sebutlah nama Allah atas binatang buas itu (waktu melepasnya).

Membaca bismillah dilakukan sewaktu melepasnya, seperti apa yang dikatakan oleh Nabi ﷺ kepada Addi ibnu Hatim melalui sabdanya, yaitu:

Apabila kamu lepas anjing terlatihmu dan kamu sebut asma Allah, maka makanlan apa yang ditangkapnya untukmu.

Di dalam hadis Abu Sa’labah yang diketengahkan di dalam kitab Sahihain disebutkan pula:

Apabila kamu melepas anjingmu, maka sebutlah asma Allah, dan apabila kamu melepas anak panahmu, sebutlah asma Allah.

Karena itulah sebagian dari para imam —seperti Imam Ahmad— me­nurut pendapat yang masyhur darinya mensyaratkan bacaan tasmiyah (bismillah) waktu melepas anjing pemburu dan anak panahnya, berda­sarkan ayat dan hadis ini.
Pendapat yang sama dikatakan oleh jumhur ulama menurut qaul yang masyhur dari mereka, yaitu makna yang di­maksud dari ayat ini ialah perintah membaca bismillah sewaktu melepasnya.
Demikianlah menurut As-Saddi dan lain-lainnya.

Ali ibnu Abu Talhah meriwayatkan dari Ibnu Abbas sehubungan dengan firman-Nya: dan sebutlah nama Allah atas binatang buas itu (waktu melepas­nya).
(Al-Maidah, 4), Bahwa apabila kamu melepas hewan pemangsamu, ucapkanlah bis­millah.
Tetapi jika kamu lupa membacanya, maka tidak ada dosa atas dirimu (tidak apa-apa).

Sebagian ulama mengatakan bahwa makna yang dimaksud dari ayat ini ialah perintah membaca bismillah sewaktu hendak makan.
Seperti yang disebutkan di dalam hadis Sahihain,

bahwa Rasulullah ﷺ mengajari anak tirinya, yaitu Umar ibnu Abu Salamah.
Untuk itu beliau ﷺ bersabda: Sebutlah asma Allah, dan makanlah dengan tangan kananmu serta makanlah (makanan) yang dekat denganmu.

Di dalam kitab Sahih Bukhari disebutkan:

dari Siti Aisyah r.a bahwa mereka pernah bertanya, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya ada suatu kaum yang baru masuk Islam datang kepada kami dengan membawa dua jenis daging, tanpa kami ketahui apakah mereka menyebut nama Allah (ketika menyembelihnya) atau tidak.” Rasulullah ﷺ bersab­da: Sebutlah nama Allah oleh kalian sendiri, lalu makanlah.

Hadis lain diriwayatkan oleh Imam Ahmad.

Disebutkan bahwa telah menceritakan kepada kami Yazid, telah menceritakan kepada kami Hisyam, dari Badil, dari Abdullah ibnu Ubaid ibnu Umair, dari Siti Aisyah, bahwa Rasulullah ﷺ makan bersama enam orang sahabat­nya, lalu datanglah seorang Arab Badui yang langsung ikut makan se­banyak dua suap.
Maka Nabi ﷺ bersabda: Ingatlah, sesungguhnya andaikata dia membaca nama Allah, nis­caya makanan ini cukup buat kalian.
Maka apabila seseorang di antara kalian memakan makanan, hendaklah ia menyebut nama Allah.
Jika ia lupa menyebut nama Allah pada permulaannya, hendaklah ia membaca, “Bismillahi awwalahu wa akhirahu” (Dengan menyebut asma Allah pada permulaan dan akhirnya).

Hal yang sama diriwayatkan oleh Ibnu Majah, dari Abu Bakar ibnu Abu Syaibah, dari Yazid ibnu Harun dengan lafaz yang sama.

Hadis ini munqati’ (terputus) antara Abdullah ibnu Ubaid ibnu Umair dan Siti Aisyah, karena sesungguhnya dia belum pernah men­dengar dari Siti Aisyah hadis ini.
Sebagai buktinya ialah sebuah riwa­yat yang diketengahkan oleh Imam Ahmad.

Disebutkan bahwa telah menceritakan kepada kami Abdul Wahhab, telah menceritakan ke­pada kami Hisyam (yakni Ibnu Abu Abdullah Ad-Dustuwai’), dari Badil, dari Abdullah ibnu Ubaid ibnu Umair, bahwa ada seorang wa­nita dari kalangan mereka yang dikenal dengan nama Ummu Kalsum telah menceritakan kepadanya dari Siti Aisyah, bahwa Rasulullah ﷺ makan bersama enam orang sahabatnya.
Lalu datanglah seorang Arab Badui yang sedang lapar, maka orang Badui itu langsung ikut makan sebanyak dua suap.
Nabi ﷺ bersabda: Ingatlah, sesungguhnya andaikata dia menyebut nama Allah, nis­caya (makanan ini) cukup bagi kalian.
Karena itu, apabila sese­orang di antara kalian makan, hendaklah terlebih dahulu menye­ru: nama Allah.
Dan jika ia lupa menyebut-Nya pada permulaan makan, hendaklah ia mengucapkan, “Dengan menyebut nama Allah pada permulaan makan dan akhirnya.”

Hadis diriwayatkan pula oleh Imam Ahmad, Imam Abu Daud, Imam Turmuzi.
dan Imam Nasai melalui berbagai jalur dari Hisyam Ad-Dustuwai’ dengan lafaz yang sama.
Imam Turmuzi mengatakan bah­wa hadis ini hasan sahih.

Hadis lain diriwayatkan oleh Imam Ahmad.

Dikatakan bahwa te­lah menceritakan kepada kami Ali ibnu Abdullah, telah menceritakan kepada kami Yahya ibnu Sa’id, telah menceritakan kepada kami Jabir ibnu Subh, telah menceritakan kepadaku Al-Musanna ibnu Abdur Rahman Al-Khuza’i yang berguru kepada Wasit.
Dia selalu meng­ucapkan bismillah pada permulaan makan, dan pada akhir suapannya dia mengucapkan bismillahi awwalahu wa akhirahu (Dengan menye­but nama Allah pada permulaan makan dan kesudahannya).
Maka aku (Jabir ibnu Subh) bertanya kepadanya.”Sesungguhnya kamu mem­baca bismillah pada permulaan makanmu, tetapi mengapa engkau se­sudah makan mengucapkan kalimat bismillahi awwalahu wa akhira­hu?”
Al-Musanna ibnu Abdur Rahman menjawab, “Aku akan men­ceritakan kepadamu bahwa kakekku (yaitu Umayyah ibnu Makhsyi, salah seorang sahabat Nabi ﷺ) pernah kudengar menceritakan ha­dis berikut, bahwa ada seorang lelaki sedang makan, ketika itu Nabi ﷺ melihatnya, dan lelaki itu tidak membaca bismillah, hingga pada akhir suapannya dia baru mengucapkan, “Dengan nama Allah pada permulaan makan dan kesudahannya.
Maka Nabi ﷺ bersabda: ‘Demi Allah, setan masih terus makan bersamanya hingga ia membaca tasmiyah (bismillah).
maka tidak ada suatu makanan pun yang ada dalam perut setan me

Kata Pilihan Dalam Surah Al Maa'idah (5) Ayat 4

JAWAARIH
جَوَارِح

Lafaz jawariih adalah bentuk jamak dari jaarihah artinya binatang pemburu seperti burung, anjing atau singa. Binatang-binatang itu dinamakan dengan jawaarih karena ia melukai binatang-binatang yang diburu untuk tuannya.

Lafaz jawaarih disebut sekali saja di dalam Al Qur’an yaitu dalam surah Al Maa’idah (5) ayat 4. Ayat ini menerangkan binatang yang halal dimakan yaitu buruan yang berhasil ditangkap oleh binatang pemburu (al jawaarih) seperti anjing, burung atau binatang pemburu lainnya dengan syarat binatang itu sudah terlatih dan ketika melepaskannya mengucapkan “Basmalah”.

Sebagian ahli Fikih menetapkan beberapa syarat untuk anjing yang memburu binatang sehingga binatang yang ditangkapnya halal dimakan. Syarat-syarat itu adalah :

-Binatang itu sudah terlatih dan ia datang apabila dipanggil dan mematuhi semua perintah tuannya.
-Binatang yang diburu itu tidak dimakan oleh anjing pemburu.
-Sewaktu melepaskan anjing pemburu hendaklah mengucapkan “Basmalah”.
-Orang yang melepaskan anjing pemburu harus orang muslim.

Adapula ahli Fikih yang mensyaratkan anjing pemburu itu bukanlah anjing hitam. Namun sebagian syarat-syarat ini ada perbedaan pendapat dikalangan fuqaha yang keterangannya terdapat dalam kitab-kitab fikih.

Sumber : Kamus Al Qur’an, PTS Islamika SDN. BHD.Hal:150-151

Informasi Surah Al Maa'idah (المائدة)
Surat Al Maa-idah terdiri dari 120 ayat termasuk golongan surat Madaniyyah.
Sekalipun ada ayatnya yang turun di Mekah, namun ayat ini diturunkan sesudah Nabi Muhammad ﷺ hijrah ke Madinah, yaitu di waktu haji wadaa’

Surat ini dinamakan “Al Maa-idah” (hidangan), karena memuat kisah pengikut-pengikut setia Nabi ‘Isa ‘alaihis salam meminta kepada Nabi ‘Isa ‘alaihis salam, agar Allah menurunkan untuk mereka Al Maa-idah (hidangan makanan) dari langit (ayat 112).
Dan dinamakan dengan “Al Uqud” (perjan­jian), karena kata itu terdapat pada ayat pertama surat ini, di mana Allah menyuruh agar hamba­ hamba-Nya memenuhi janji prasetia terhadap Allah dan perjanjian-perjanjian yang mereka buat sesamanya.

Dinamakan juga “Al Munqidz” (yang menyelamatkan), karena akhir surat ini mengandung kisah tentang Nabi ‘Isa ‘alaihis salam penyelamat pengikut-pengikut setianya dari azab Allah.

Keimanan:

Bantahan terhadap orang-orang yang mempertuhankan Nabi ‘Isa a.s.

Hukum:

Keharusan memenuhi perjanjian
hukum melanggar syi’ar Allah
makanan yang di­halalkan dan yang diharamkan
hukum mengawini wanita ahli kitab
wudhu
tayammum
mandi
hukum membunuh orang
hukum mengacau dan mengganggu keamanan
hukum qishaas
hukum melanggar sumpah dan kafaaratnya
hukum khamar
berjudi
berkorban untuk berhala
mengundi nasib
hukum membunuh binatang waktu ihram
hukum persaksian dalam berwasiat.

Kisah:

Kisah-kisah Nabi Musa a.s. menyuruh kaumnya memasuki Palestina
kisah Habil dan Qabil, kisah-kisah tentang Nabi ‘Isa a.s

Lain-lain:

Keharusan bersikap lemah lembut terhadap sesama mu’min bersikap keras terhadap orang-orang kafir
penyempurnaan Agama Islam di zaman Nabi Muhammad ﷺ
keharusan jujur dan berlaku adil
sikap dalam menghadapi berita-berita bohong
akibat berteman akrab dengan orang yang bukan muslim
kutukan Allah terhadap orang-orang Yahudi
kewajiban rasul hanya menyampaikan agama
sikap Yahudi dan Nasrani terhadap orang Islam
Ka’bah sokoguru kehidupan manusia
peringat­an Allah supaya meninggalkan kebiasaan Arab Jahiliyah
larangan-larangan terhadap pertanyaan-pertanyaan yang mengakibatkan kesempitan dalam agama.


Gambar Kutipan Surah Al Maa’idah Ayat 4 *beta

Surah Al Maa'idah Ayat 4



Statistik
  • Rating RisalahMuslim

Surah Al Maa'idah

Surah Al-Ma'idah (bahasa Arab:المآئدة, al-Mā'idah, "Jamuan Hidangan") adalah surah ke-5 dalam Al-Qur'an.
Surah ini terdiri dari 120 ayat dan termasuk golongan surah Madaniyah.
Sekalipun ada ayat-ayatnya yang turun di Mekkah, namun ayat ini diturunkan sesudah Nabi Muhammad hijrah ke Madinah, yakni sewaktu peristiwa Haji Wada'.
Surah ini dinamakan Al-Ma'idah (hidangan) karena memuat kisah para pengikut setia nabi Isa meminta kepada nabi Isa agar Allah menurunkan untuk mereka Al-Ma'idah (hidangan makanan) dari langit (ayat 112).
Selain itu, Surah Al-Ma'idah juga disebut Al-Uqud (perjanjian), karena kata itu terdapat pada ayat pertama surah ini, di mana Allah menyuruh agar hamba-hamba-Nya memenuhi janji terhadap Allah maupun perjanjian-perjanjian yang mereka buat terhadap sesamanya.
Dinamakan juga Al-Munqidz (yang menyelamatkan), sebab pada bagian akhir surah ini memuat kesaksian Isa Al-Masih terhadap kaum pengikutnya.

Nomor Surah5
Nama SurahAl Maa'idah
Arabالمائدة
ArtiJamuan (hidangan makanan)
Nama lainAl-'Uqud (bermakna perjanjian dan kesepakatan) dan Al-Munqidz (bermakna yang menyelamatkan).
Tempat TurunMadinah
Urutan Wahyu112
JuzJuz 6 (ayat 1-82), juz 7 (ayat 83-120)
Jumlah ruku'0
Jumlah ayat120
Jumlah kata2842
Jumlah huruf12207
Surah sebelumnyaSurah An-Nisa'
Surah selanjutnyaSurah Al-An'am
4.4
Rating Pembaca: 4.2 (8 votes)
Sending







Anda perlu login mengelola Bookmark.

📖 Lihat Semua Bookmark-ku