Search
Exact matches only
Cari di judul
Cari di Arti & Tafsir
Search in comments
Search in excerpt
Filter by Custom Post Type
Filter berdasar surah
Pilih atau Semua
Abasa
Ad Dukhaan
Adh Dhuhaaa
Adz Dzaariyaat
Al 'Alaq
Al 'Ashr
Al A'laa
Al A'raaf
Al Aadiyaat
Al Ahqaaf
Al Ahzab
Al An 'aam
Al Anbiyaa
Al Anfaal
Al Ankabut
Al Balad
Al Baqarah
Al Bayyinah
Al Buruuj
Al Fajr
Al Falaq
Al Fath
Al Fatihah
Al Fiil
Al Furqaan
Al Ghaasyiyah
Al Haaqqah
Al Hadid
Al Hajj
Al Hasyr
Al Hijr
Al Hujurat
Al Humazah
Al Ikhlas
Al Infithar
Al Insaan
Al Insyiqaaq
Al Israa
Al Jaatsiyah
Al Jinn
Al Jumu'ah
Al Kaafiruun
Al Kahfi
Al Kautsar
Al Lahab
Al Lail
Al Ma'aarij
Al Maa'idah
Al Maa'un
Al Mu'min
Al Mu'minuun
Al Muddatstsir
Al Mujaadilah
Al Mulk
Al Mumtahanah
Al Munafiquun
Al Mursalat
Al Muthaffifin
Al Muzzammil
Al Qaari'ah
Al Qadr
Al Qalam
Al Qamar
Al Qashash
Al Qiyaamah
Al Waaqi'ah
Al Zalzalah
Alam Nasyrah
Ali Imran
An Naazi'at
An Nabaa
An Nahl
An Najm
An Naml
An Nas
An Nashr
An Nisaa'
An Nuur
Ar Ra'd
Ar Rahmaan
Ar Rum
As Sajdah
Ash Shaff
Ash Shaffaat
Asy Shyuura
Asy Syams
Asy Syu'araa
At Taghaabun
At Tahrim
At Takaatsur
At Takwir
At Taubah
At Tin
Ath Thaariq
Ath Thalaaq
Ath Thuur
Az Zukhruf
Az Zumar
Faathir
Fushshilat
Hud
Ibrahim
Luqman
Maryam
Muhammad
Nuh
Qaaf
Quraisy
Saba
Shaad
Thaa Haa
Yaa Siin
Yunus
Yusuf

💡 Ketik [nomer surah]-[nomer ayat], contoh: 2-255 atau albaqarah 255 atau ke www.risalahmuslim.id/2-255

Al Maa'idah

Al Maa’idah (Jamuan (hidangan makanan)) surah 5 ayat 2


یٰۤاَیُّہَا الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا لَا تُحِلُّوۡا شَعَآئِرَ اللّٰہِ وَ لَا الشَّہۡرَ الۡحَرَامَ وَ لَا الۡہَدۡیَ وَ لَا الۡقَلَآئِدَ وَ لَاۤ آٰمِّیۡنَ الۡبَیۡتَ الۡحَرَامَ یَبۡتَغُوۡنَ فَضۡلًا مِّنۡ رَّبِّہِمۡ وَ رِضۡوَانًا ؕ وَ اِذَا حَلَلۡتُمۡ فَاصۡطَادُوۡا ؕ وَ لَا یَجۡرِمَنَّکُمۡ شَنَاٰنُ قَوۡمٍ اَنۡ صَدُّوۡکُمۡ عَنِ الۡمَسۡجِدِ الۡحَرَامِ اَنۡ تَعۡتَدُوۡا ۘ وَ تَعَاوَنُوۡا عَلَی الۡبِرِّ وَ التَّقۡوٰی ۪ وَ لَا تَعَاوَنُوۡا عَلَی الۡاِثۡمِ وَ الۡعُدۡوَانِ ۪ وَ اتَّقُوا اللّٰہَ ؕ اِنَّ اللّٰہَ شَدِیۡدُ الۡعِقَابِ
Yaa ai-yuhaal-ladziina aamanuu laa tuhilluu sya’aa-irallahi walaasy-syahral haraama walaal hadya walaal qalaa-ida walaa aammiinal baital haraama yabtaghuuna fadhlaa min rabbihim waridhwaanan wa-idzaa halaltum faashthaaduu walaa yajrimannakum syanaaanu qaumin an shadduukum ‘anil masjidil haraami an ta’taduu wata’aawanuu ‘alal birri wattaqwa walaa ta’aawanuu ‘ala-itsmi wal ‘udwaani waattaquullaha innallaha syadiidul ‘iqaab(i);

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu melanggar syi’ar-syi’ar Allah, dan jangan melanggar kehormatan bulan-bulan haram, jangan (mengganggu) binatang-binatang had-ya, dan binatang-binatang qalaa-id, dan jangan (pula) mengganggu orang-orang yang mengunjungi Baitullah sedang mereka mencari kurnia dan keridhaan dari Tuhannya dan apabila kamu telah menyelesaikan ibadah haji, maka bolehlah berburu.
Dan janganlah sekali-kali kebencian(mu) kepada sesuatu kaum karena mereka menghalang-halangi kamu dari Masjidilharam, mendorongmu berbuat aniaya (kepada mereka).
Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran.
Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya.
―QS. 5:2
Topik ▪ Takwa ▪ Menyeru pada ketakwaan ▪ Sifat ahli neraka dan kejahatan mereka
5:2, 5 2, 5-2, Al Maa’idah 2, AlMaaidah 2, Al Maidah 2, AlMaidah 2, Al-Ma’idah 2
Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. Al Maa’idah (5) : 2. Oleh Kementrian Agama RI

Menurut riwayat Ibnu Juraij dari Ikrimah, Ia menceritakan bahwa seorang bernama Al Hutam Al Bakry datang ke Madinah dengan unta membawa bahan makanan.
Setelah dijualnya ia menjumpai Nabi, lalu berbaiat masuk Islam.
Setelah ia berpaling pergi, Nabi memperhatikannya seraya bersabda kepada para sahabatnya yang ada di situ, “Dia datang kepada saya dengan wajah orang yang berdusta dan berpaling pergi membelakangi saya seperti penipu”.
Sesudah itu setelah ia tiba di Yamamah, lalu Ia murtad dari Islam.
Sesudah itu pada bulan Zulkaidah, ia keluar lagi dengan untanya hendak menjual barang makanan ke Mekah.
Tatkala para sahabat Nabi mendengar ini, beberapa orang dari golongan Muhajirin dan Ansar, bersiap keluar untuk menghajarnya di tengah jalan, maka turunlah ayat yang kedua ini.
(Al-Qasimi, Mahasinut Ta’wil, juz 6, hal.
1976)

Pada ayat kedua ini Allah menerangkan kepada orang-orang yang beriman lima larangan penting yang tidak boleh dilanggar yaitu:

1.
Melanggar syiar-syiar Allah, yaitu segala amalan dan ketentuan-ketentuan yang ditetapkan Allah dalam ibadah haji dan lain-lainnya.

2.
Melanggar kehormatan bulan haram, yaitu bulan Zulkaidah, Zulhijah, Muharam dan Rajab, yang dilarang pada bulan-bulan tersebut berperang kecuali membela diri karena diserang.

3.
Mengganggu binatang-binatang had-ya, yaitu unta, lembu dan sejenisnya, kambing, biri-biri dan sejenisnya yang dihadiahkan kepada Kakbah untuk mendekatkan diri kepada Allah, disembelih di tanah haram dan dagingnya dihadiahkan kepada fakir miskin di sana.

4.
Qalaid-qalaid yaitu binatang-binatang had-ya, sudah dikalungi dengan tali, yang menunjukkan bahwa binatang itu dipersiapkan secara khusus untuk dihadiahkan kepada Kakbah.
Menurut pendapat yang lain, termasuk juga manusia-manusia yang memakai kalung yang menunjukkan bahwa dia hendak mengunjungi Kakbah yang tidak boleh diganggu, seperti yang dilakukan orang-orang Arab di zaman Jahiliah.

5.
Mengganggu orang-orang yang mengunjungi Baitullah yang mencari karunia (rezeki) Allah seperti berdagang dan mencari keridaan-Nya, yaitu mengerjakan haji dan umrah.
Semuanya tidak boleh dihalang-halangi.
Akan tetapi menurut Jumhur yang tidak boleh dihalang-halangi itu ialah orang-orang mukmin sedang orang-orang kafir tidak diperbolehkan lagi masuk tanah haram sesuai dengan firman Allah:

Hai Orang-orang yang beriman! Sesungguhnya orang yang musyrik itu najis, sebab itu janganlah mereka mendekati Masjidilharam sesudah tahun ini
(Q.S.
At Taubah: 28)

Selanjutnya Allah memberikan penjelasan lagi bahwa kalau sudah tahalul, artinya, sesudah selesai mengerjakan ibadah haji atau umrah, dibolehkan berburu di luar tanah haram sedang di tanah haram tetap tidak dibolehkan, karena Allah melarang mencabut tumbuh-tumbuhan dan mengganggu binatang buruannya.
Kemudian Allah melarang berbuat aniaya terhadap orang yang menghalang-halangi masuk Masjidilharam, seperti kaum musyrikin menghalang-halangi orang-orang mukmin mengerjakan umrah yang ditetapkan pada perdamaian Hudaibiah.
Kemudian pada bahagian terakhir ayat ini Allah mewajibkan kepada orang-orang mukmin tolong-menolong sesama mereka dalam berbuat kebaikan dan bertakwa.
Untuk kepentingan dan kebahagiaan mereka dilarang tolong menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran serta memerintahkan supaya tetap bertakwa kepada Allah agar dapat terhindar dari siksa-Nya yang sangat berat.

Al Maa'idah (5) ayat 2 - dibacakan oleh Shaykh Mishari Alafasy Al Maa'idah (5) ayat 2 - dibacakan oleh Syaikh Sa'ad Al-Ghamidi Al Maa'idah (5) ayat 2 - dibacakan oleh Syaikh Muhammad Ayyub

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian melanggar syiar-syiar Allah seperti manasik haji pada waktu ihram sebelum tahallul (‘berhalal’ dengan cara mencukur rambut) dan hukum-hukum syariat yang lainnya.
Jangan melanggar kehormatan bulan-bulan haram dengan mengobarkan api peperangan, dan jangan pula menghalangi binatang yang dikhususkan untuk dibawa ke Bayt Allah (Baitullah, Ka’bah) dengan merampas atau menghalanginya untuk sampai ke tempatnya.
Jangan melepas kalung-kalung yang ada pada leher binatang sebagai tanda bahwa binatang itu akan dibawa ke Bayt Allah untuk disembelih pada musim haji, dan jangan pula menghalangi orang-orang yang pergi ke Bayt Allah dengan maksud mencari karunia dan keridaan-Nya.
Jika kalian selesai melaksanakan ihram kemudian melakukan tahallul, maka kalian boleh berburu.
Janganlah kebencian kalian kepada kaum yang menghalangi kalian pergi ke al-Masjid al-Haram, mendorong kalian untuk memusuhi mereka.
Hendaknya kalian, wahai orang-orang Mukmin, saling menolong[1] alam berbuat baik dan dalam melaksanakan semua bentuk ketaatan dan jangan saling menolong dalam berbuat kemaksiatan dan melanggar ketentuan-ketentuan Allah.
Takutlah hukuman dan siksa Allah, karena siksa-Nya amat kejam bagi orang-orang yang menentang-Nya.

[1] Ayat ini menunjukkan bahwa Al Quran telah terlebih dahulu beberapa ratus tahun menganjurkan konsep kerjasama dalam kebaikan, dibanding semua undang-undang positif yang ada.

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu melanggar syiar-syiar Allah) jamak sya`iiratun, artinya upacara-upacara agama-Nya.
Melanggar yaitu dengan berburu di waktu ihram (dan jangan pula melanggar bulan haram) dengan melakukan peperangan padanya (dan jangan mengganggu binatang-binatang hadya) yakni hewan yang dihadiahkan buat tanah suci (serta binatang-binatang berkalung) jamak dari qilaadatun, artinya binatang yang diberi kalung dengan kayu-kayuan yang terdapat di tanah suci sebagai tanda agar ia aman, maka janganlah ada yang mengganggu baik hewan-hewan itu sendiri maupun para pemiliknya (jangan pula) kamu halalkan atau kamu ganggu (orang-orang yang berkunjung) atau menuju (Baitulharam) dengan memerangi mereka (sedangkan mereka mencari karunia) artinya rezeki (dari Tuhan mereka) dengan berniaga (dan keridaan) daripada-Nya di samping berkunjung ke Baitullah tidak seperti pengertian mereka yang salah itu.
Ayat ini dimansukh oleh ayat Bara`ah.
(Dan apabila kamu telah selesai) dari ihram (maka perintahlah berburu) perintah di sini berarti ibahah atau memperbolehkan (dan sekali-kali janganlah kamu terdorong oleh kebencian) dibaca syana-aanu atau syan-aanu berarti kebencian atau kemarahan (kepada suatu kaum disebabkan mereka telah menghalangi kamu dari Masjidilharam untuk berbuat aniaya) kepada mereka dengan pembunuhan dan sebagainya.
(Bertolong-tolonglah kamu dalam kebaikan) dalam mengerjakan yang dititahkan (dan ketakwaan) dengan meninggalkan apa-apa yang dilarang (dan janganlah kamu bertolong-tolongan) pada ta`aawanu dibuang salah satu di antara dua ta pada asalnya (dalam berbuat dosa) atau maksiat (dan pelanggaran) artinya melampaui batas-batas ajaran Allah.
(Dan bertakwalah kamu kepada Allah) takutlah kamu kepada azab siksa-Nya dengan menaati-Nya (sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya) bagi orang yang menentang-Nya.

Tafsir al-Muyassar
Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:

Wahai orang-orang yang membenarkan Allah dan Rasul-Nya dan mengamalkan syariat-Nya, jangan melanggar batasan-batasan dan rambu-rambu Allah.
Jangan membolehkan berperang di bulan-bulan haram, yaitu Dzul Qa dah, Dzul Hijjah, Muharram dan Rajab dan hal ini berlaku di awal Islam.
Jangan menghalalkan kehormatan hewan hadyu dan hewan yang sudah dikalungi darinya, di mana mereka meletakkan kalung, yaitu lilitan dari bulu kambing atau unta di leher hewan sebagai tanda bahwa hewan tersebut adalah hadyu,dan bahwa pembawanya ingin menunaikan ibadah haji.
Jangan memerangi orang-orang yang mendatangi Baitullah al-Haram yang mencari dari karunia Allah yang bisa memperbaiki kehidupan mereka dan mengundang ridha Rabb mereka.
Bila kalian telah ber tahallul dari ihram kalian, maka berburu menjadi halal bagi kalian.
Kebencianmu kepada suatu kaum hanya karena mereka pernah menghalang-halangimu dari Masjidil Haram (sebagaimana yang terjadi di Hudaibiyah) jangan membuatmu tidak berbuat adil terhadap mereka.
Wahai orang-orang mukmin, hendaknya kalian saling tolong menolong di antara kalian dalam melaksanakan kebaikan dan takwa kepada Allah, dan jangan kalian saling tolong-menolong dalam dosa dan kemaksiatan serta pelanggaran terhadap hukum-hukum Allah.
Jangan menyelisihi perintah Allah karena siksa-Nya keras.

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Ibnu Abbas mengatakan, yang dimaksud dengan syiar-syiar Allah ialah manasik haji.
Menurut Mujahid, Safa dan Marwah, serta hadyu dan budna termasuk syiar-syiar Allah.

Menurut pendapat lain, yang dimaksud dengan syiar-syiar Allah ialah semua yang diharamkan oleh Allah.
Dengan kata lain, janganlah kalian menghalalkan hal-hal yang diharamkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala.
Oleh karena itu, Allah subhanahu wa ta’ala.
berfirman:

…dan jangan melanggar kehormatan bulan-bulan haram.

Makna yang dimaksud ialah harus menghormatinya dan mengakui keagungannya, dan meninggalkan hal-hal yang dilarang oleh Allah melakukannya di masa-masa itu —misalnya memulai peperangan—dan lebih dikuatkan lagi melakukan hal-hal yang diharamkan.
Seperti pengertian yang terkandung di dalam ayat lain, yaitu firman-Nya:

Mereka bertanya kepadamu tentang berperang pada bulan ha­ram.
Katakanlah, “Berperang dalam bulan itu adalah dosa be­sar.” (Al Baqarah:217)

Allah subhanahu wa ta’ala.
telah berfirman:

Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah ialah dua belas bulan.
(At Taubah:36).
hingga akhir ayat.

Di dalum kitab Sahih Bukhari disebutkan dari Abu Bakrah, bahwa Rasulullah ﷺtelah bersabda dalam haji wada’:

Sesungguhnya zaman itu berputar sebagaimana keadaannya di hari Allah menciptakan langit dan bumi, satu tahun adalah dua bilas bulan, empat bulan di antaranya adalah bulan haram (su­ci) tiga (di antaranya) berturut-turut, yaitu Zul Qa’dah, Zul Hijjah, dan Muharram serta Rajab Mudar jatuh di antara bulan Jumada dan bulan Sya’ban.

Hal ini menunjukkan berlangsungnya status haram bulan-bulan haram tersebut sampai dengan akhir waktu (hari kiamat), seperti yang di­katakan oleh mazhab sejumlah ulama Salaf.

Ali ibnu Abu Talhah meriwayatkan dari Ibnu Abbas r.a.
sehu­bungan dengan makna firman-Nya:

…dan jangan melanggar kehormatan bulan-bulan haram.
Janganlah kalian menghalalkan perang padanya.

Hal yang sama telah dikatakan oleh Muqatil ibnu Hayyan dan Abdul Karim ibnu Malik Al-Jazari, dipilih oleh Ibnu Jarir.

Sedangkan jumhur ulama berpendapat bahwa hal tersebut telah di-mansukh, dan boleh memulai peperangan dalam bulan-bulan ha­ram.
Mereka mengatakan demikian berpegang kepada firman Allah subhanahu wa ta’ala.
yang mengatakan:

Apabila sudah habis bulan-bulan haram itu, maka bunuhlah orang-orang musyrik itu di mana saja kalian jumpai mereka.
(At Taubah:5)

Makna yang dimaksud ialah empat bulan yang berlaku itu.
Mereka mengatakan, tidak disebutkan adanya pengecualian antara bulan-bulan haram dan yang lainnya.

Imam Abu Ja’far meriwayatkan adanya kesepakatan perihal bah­wa Allah membolehkan memerangi orang-orang musyrik dalam bu­lan-bulan haram maupun bulan-bulan lainnya.
Abu Ja’far mengatakan bahwa mereka sepakat pula seandainya orang musyrik mengalungkan serat-serat pepohonan tanah suci pada lehernya atau kedua lengannya, maka hal tersebut bukan merupakan keamanan baginya dari pembu­nuhan, jika dia tidak terikat dengan perjanjian perlindungan atau ke­amanan dari kaum muslim.
Masalah ini memerlukan pembahasan yang lebih luas dan lebih panjang, tetapi tempatnya bukan pada kitab ini.

Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

…jangan (mengganggu) binatang-binatang hadya dan binatang-bi­natang qolaid.

Maksudnya, janganlah kalian tidak ber-ihda (berkurban) untuk Baitul­lah, karena sesungguhnya hal tersebut mengandung makna meng­agungkan syiar-syiar Allah, jangan pula kalian tidak memberinya kalungan sebagai tanda yang membedakannya dari ternak lainnya, agar hal ini diketahui bahwa ternak tersebut akan dikurbankan untuk Kabah.
Dengan demikian, maka orang-orang tidak berani mengganggu­nya.
Sekaligus mendorong orang yang melihatnya untuk melakukan hal yang semisal, karena sesungguhnya barang siapa yang menyeru­kan kepada jalan petunjuk, maka baginya pahala yang semisal dengan pahala orang-orang yang mengikutinya tanpa mengurangi pahala me­reka barang sedikit pun.

Untuk itulah ketika Rasulullah ﷺ melakukan haji, terlebih da­hulu beliau menginap di Zul Hulaifah, yaitu di lembah Aqiq.
Keesok­an harinya beliau menggilir semua istrinya yang saat itu ada sembilan orang.
Kemudian beliau mandi dan memakai wewangian, lalu salat dua rakaat Sesudah itu beliau memberi tanda kepada ternak hadyunya dan mengalunginya dengan kalungan tanda, lalu ber-ihlal (berih­ram) untuk haji dan umrah.
Saat itu ternak hadyu Nabi ﷺ terdiri atas ternak unta yang cukup banyak jumlahnya, mencapai enam puluh ekor, terdiri atas berbagai jenis dan warna yang semuanya baik.
Sela­ras dengan apa yang disebutkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala melalui firman-Nya:

Demikianlah (perintah Allah).
Dan barang siapa mengagungkan syiar-syiar Allah, maka sesungguhnya itu timbul dari ketakwaan hati.
(Al Hajj:32)

Menurut sebagian ulama Salaf, yang dimaksud dengan mengagung-kannya ialah memilihnya dari yang baik-baik dan yang gemuk-ge­muk.
Sahabat Ali ibnu Abu Talib r.a.
mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ telah memerintahkan kepada kami untuk memberikan tanda pa­da mata dan telinga (ternak hadyunya).
Demikianlah menurut riwayat ahlus sunan.

Muqatil ibnu Hayyan mengatakan sehubungan dengan makna fir­man-Nya: dan jangan (pula) binaiang-binaiang qalaid.
(Al Maidah:2), Dengan kata lain, janganlah kalian mengganggunya.
Disebutkan bah­wa dahulu ahli Jahiliah bila keluar dari tanah airnya di luar bulan-bu­lan haram, mereka mengalungi dirinya dengan bulu domba dan bulu unta, dan orang-orang musyrik Tanah Suci mengalungi dirinya dengan serat-serat pepohonan Tanah Suci.
Karena itu, mereka aman (ti­dak ada yang berani mengganggunya).
Demikianlah menurut apa yang diriwayatkan oleh Ibnu Abu Hatim.

Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Ammar, telah menceritakan kepada kami Sa’id ibnu Sulaiman.
Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abbad ibnul Awwam, dari Sufyan ibnu Husain, dari Al-Hakam, dari Mujahid, dari Ibnu Abbas r.a.
yang mengatakan bahwa telah di-mansukh dari surat Al-Maidah sebanyak dua ayat, yaitu ayat mengenai qalaid dan firman-Nya:

Jika mereka (orang Yahudi) datang kepadamu (untuk meminta putusan), maka puluskanlah (perkara itu) di antara mereka atau berpalinglah dari mereka.

Telah menceritakan kepada kami Al-Munzir ibnu Syazan, telah men­ceritakan kepada kami Zakaria ibnu Addi, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Abu Addi, dari Ibnu Auf yang mengatakan, “Aku pernah bertanya kepada Al-Hasan (Al-Basri), ‘Apakah ada se­suatu yang di-mansukh dari Al-Maidah?’ Al-Hasan menjawab, ‘Tidak ada’.”

Ata mengatakan bahwa dahulu mereka mengalungi (dirinya) de­ngan akar tumbuh-tumbuhan Tanah Suci, karenanya mereka aman.
Maka Allah melarang menebang (memotong) pepohonannya.
Hal yang sama dikatakan oleh Mutarrif ibnu Abdullah.

Firman Allah subhanahu wa ta’ala.:

…dan jangan (pula) mengganggu orang-orang yang mengunjungi Baitullah sedang mereka mencari karunia dan keridaan dari Tuhannya.

Artinya, janganlah kalian menghalalkan perang terhadap orang-orang yang mengunjungi Baitullah yang suci dan barang siapa yang mema­sukinya aman.
Jangan pula mengganggu orang yang mengunjunginya dengan tujuan mencari karunia Allah dan berharap mendapat rida­-Nya.
Jangan sekali-kali kalian mcnghalang-halanginya.
jangan men­cegahnya, jangan pula mengacaukannya.

Mujahid, Ata, Abul Aliyah, Mutarrif ibnu Abdullah.
dan Abdul­lah ibnu Ubaid ibnu Umair, Ar-Rabi’ ibnu Anas, Muqatil ibnu Hayyan, dan Qatadah serta lain-lainnya yang bukan hanya seorang telah mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya:

…sedang mereka mencari karunia Allah.
Makna yang dimaksud ialah berdagang.
Penafsiran ini sama dengan apa yang telah disebutkan sehubungan dengan firman-Nya:

Tidak ada dosa bagi kalian untuk mencari karunia (rezeki hasil perniagaan) dari Tuhan kalian.
(Al Baqarah:198)

Mengenai firman-Nya:

…dan keridaan (dari Tuhan kalian).
Menurut Ibnu Abbas, mereka mencari rida Allah melalui ibadah haji­nya.

Ikrimah, As-Saddi, dan Ibnu Jarir menyebutkan bahwa ayat ini diturunkan berkenaan dengan Al-Hatm ibnu Hindun Al-Bakri, dia pernah menyerang ternak milik orang-orang Madinah (merampok­nya), kemudian pada tahun berikutnya dia berumrah ke Baitullah.
Maka sebagian sahabat bermaksud menghadangnya di tengah jalan yang menuju ke Baitullah.
Lalu Allah subhanahu wa ta’ala.
menurunkan firman-Nya:

…dan jangan (pula) mengganggu orang-orang yang mengunjungi Baitullah sedang mereka mencari karunia dan keridaan dari Tuhannya.

Ibnu Jarir meriwayatkan adanya kesepakatan bahwa orang musyrik boleh dibunuh jika ia tidak mempunyai jaminan keamanan, sekalipun dia bertujuan mengunjungi Baitullah yang suci atau Baitul Maadis.
Hukum yang berkaitan dengan mereka (orang-orang musyrik) di-mansukh.
Orang yang bertujuan ke Baitullah dengan maksud untuk melakukan ke-mulhid-an, kemusyrikan, dan kekufuran jelas harus dilarang.
Allah subhanahu wa ta’ala.
telah berfirman:

Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya orang-orang yang musyrik itu najis, maka janganlah mereka mendekati Masjidil Haram sesudah tahun ini.
(At Taubah:28)

Karena itulah Rasulullah ﷺ pada tahun sembilan Hijriah ketika mengangkat Abu Bakar As-Siddiq sebagai amir jamaah haji menu­gaskan Ali, sebagai ganti dari Rasulullah ﷺ, untuk menyerukan di kalangan manusia agar Baitullah dibersihkan, dan sesudah tahun ini tidak boleh lagi ada orang musyrik melakukan haji, dan tidak boleh ada orang yang tawaf sambil telanjang bulat.

Ali ibnu Abu Talhah meriwayatkan dari Ibnu Abbas sehubungan dengan firman-Nya:

…dan jangan (pula) mengganggu orang-orang yang mengunjungi Baitullah.
Yaitu orang yang menuju ke Baitullah yang suci.
Dahulu orang-orang muslim dan orang-orang musyrik sama-sama melakukan haji, dan Allah subhanahu wa ta’ala.
melarang orang-orang mukmin mencegah seseorang dari kalangan mukmin atau orang kafir untuk sampai kepadanya.
Sesudah itu Allah subhanahu wa ta’ala.
menurunkan lagi Firman-Nya, yaitu:

Sesungguhnya orang-orang musyrik itu najis, maka janganlah mereka mendekati Masjidil Haram sesudah tahun ini.
(At Taubah:28)

Tidaklah pantas orang-orang musyrik itu memakmurkan masjid-masjidAllah.
(At Taubah:17)

Hanya yang memakmurkan masjid-masjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian.
(At Taubah:18)

Maka sejak itu orang-orang musyrik diusir dari Masjidil Haram.

Abdur Razzaq mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ma’mar, dari Qatadah sehubungan dengan makna firman-Nya:

…dan jangan mengganggu binatang-binatang qalaid dan jangan (pula) mengganggu orang-orang yang mengunjungi Baitullah.
Ayat ini telah di-mansukh.
Dahulu seseorang di zaman Jahiliah apabi­la keluar dari rumahnya dengan maksud melakukan haji, mereka me­makai kalung (qiladah, jamaknya qalaid) yang terbuat dari bagian po­hon Tanah Suci, maka tiada seorang pun yang berani mengganggu­nya.
Apabila ia pulang, ia memakai kalung dari (pintalan) bulu dom­ba, maka tiada seorang pun yang berani mengganggunya.
Pada masa itu orang musyrik tidak dihalang-halangi datang ke Baitullah.
Se­dangkan orang-orang muslim telah diperintahkan tidak boleh melaku­kan peperangan pada bulan-bulan haram, tidak boleh pula melakukan­nya di dekat Baitullah (Tanah Suci dalam waktu kapan pun).
Kemu­dian hal ini di-mansukh oleh firman-Nya: maka bunuhlah orang-orang musyrik itu di mana saja kalian jumpai mereka.
(At-Taubah 5)

Ibnu Jarir memilih pendapat yang mengatakan bahwa firman-Nya:

…dan jangan mengganggu binatang-binatang qalaid
Artinya, jika mereka (orang-orang musyrik) mengalungi dirinya de­ngan kalung yang terbuat dari sesuatu dari Tanah Suci, mereka harus diberi jaminan keamanan.
Ibnu Jarir mengatakan bahwa orang-orang Arab masih tetap mencela orang yang berani melanggar ketentuan tersebut Salah seorang penyair mereka mengatakan:

Mengapa kamu membunuh dua orang yang menuju ke Tanah Suci, padahal kamu tidak boleh mengganggunya,

keduanya lewat memakai kalung dari serat kayu pohon Tanah Suci yang dipintal.

Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

…dan apabila kalian telah menyelesaikan ibadah haji, maka boleh­lah berburu.

Jika kalian telah selesai dari ihram dan sudah ber-tahallul, maka Kami perbolehkan kalian mengerjakan hal-hal yang tadinya kalian di­larang sewaktu ihram, seperti berburu.
Hal ini merupakan perintah se­sudah larangan.
Menurut pendapat yang sahih lagi terbukti jeli dan mendalam, hukum mengenai hal ini dikembalikan kepada hukum se­mula sebelum ada larangan.
Jika sebelum ada larangan hukumnya wajib, maka dikembalikan menjadi wajib.
Jika sebelum ada larangan hukumnya sunat, maka dikembalikan menjadi sunat lagi, atau asalnya mubah, maka dikembalikan menjadi mubah.
Menurut orang yang ber­pendapat bahwa hukum hal ini wajib, berarti pendapatnya itu bertentangan dengan banyak ayat lainnya.
Mengenai pendapat orang yang mengatakan bahwa hukumnya adalah mubah (boleh), akhirnya diban­tah oleh ayat lain.
Sedangkan pendapat yang sesuai dengan dalil-dalil lainnya adalah pendapat yang kami sebutkan tadi, seperti yang dipilih oleh sebagian ulama Usul Fiqh.

Firman Allah subhanahu wa ta’ala.:

Dan jangan sekali-kali kebencian (kalian) kepada sesuatu kaum karena mereka menghalang-halangi kalian dari Masjidil Haram, mendorong kalian berbuat aniaya (kepada mereka).

Sebagian ulama qiraah membacanya as-saddukum, dengan harakat fat-hah pada alif-nya.
Maknanya sudah jelas karena berasal dari an (masdariyah), yakni: Jangan sekali-kali kebencian kalian terhadap suatu kaum yang dahulunya pernah menghalang-halangi kalian untuk sampai ke Masjidil Haram yang terjadi pada tahun perjanjian Hudaibiyah mendorong kalian melanggar hukum Allah terhadap mereka.

Lalu kalian mengadakan balas dendam terhadap mereka secara aniaya dan permusuhan.
Tetapi kalian harus tetap memutuskan apa yang di­perintahkan oleh Allah kepada kalian, yaitu bersikap adil dalam per­kara yang hak terhadap siapa pun.

Makna ayat ini sama dengan ayat lain yang pembahasannya akan diuraikan kemudian, yaitu firman-Nya:

Dan janganlah sekali-kali kebencian kalian terhadap sesuatu kaum mendorong kalian untuk berlaku tidak adil.
Berlaku adil­lah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa, (Al Maidah:8)

Maksudnya, jangan sekali-kali kebencian terhadap suatu kaum men­dorong kalian untuk meninggalkan norma-norma keadilan.
Sesung­guhnya keadilan itu wajib atas setiap orang terhadap siapa pun dalam segala keadaan.
Salah seorang ulama Salaf mengatakan, “Selama ka­mu memperlakukan orang yang durhaka kepada Allah terhadap diri­mu dengan perlakuan yang kamu landasi dengan taat kepada Allah dan selalu berlaku adil dalam menanganinya, niscaya langit dan bumi ini masih akan tetap tegak.”

Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami ayahku, telah menceritakan kepada kami Sahl ibnu Affan, telah men­ceritakan kepada kami Abdullah ibnu Ja’far, dari Zaid ibnu Aslam yang menceritakan bahwa dahulu Rasulullah ﷺ dan para sahabat­nya berada di Hudaibiyah ketika orang-orang musyrik menghalang-halangi mereka sampai ke Baitullah.
Peristiwa tersebut terasa amat berat bagi mereka.
Kemudian lewatlah kepada mereka sejumlah orang dari kalangan kaum musyrik —penduduk kawasan timur— dengan maksud akan melakukan umrah.
Sahabat-sahabat Nabi ﷺ berkata, “Kita halang-halangi mereka sebagaimana teman-teman mereka menghalang-halangi kita.” Lalu Allah subhanahu wa ta’ala.
menurunkan ayat ini.

Asy-syana-an artinya kebencian, menurut Ibnu Abbas dan lain-lainnya berakar dari kata syana-iuhu asynau-hu syana-anan, semua­nya di-harakat-i, wazan-nya sama dengan lafaz jamazan, darajah, raqalan yang berasal dari jamz, daraj, dan raql.

Ibnu Jarir mengatakan bahwa di antara orang-orang Arab ada yang menghapuskan harakat alif-nya hingga disebutkan menjadi sya-nan.
Akan tetapi, menurut saya tidak ada seorang pun yang saya ke­tahui memakai bacaan ini.
Termasuk ke dalam bacaan ini perkataan seorang penyair mereka yang mengatakan:

Tiadalah kehidupan ini melainkan apa yang kamu sukai dan kamu senangi, sekalipun dalam menjalaninya dicela dan dikecam oleh orang yang tidak suka.

Firman Allah subhanahu wa ta’ala.:

Dan Tolong- menolonglah kalian dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran.

Allah subhanahu wa ta’ala.
memerintahkan kepada hamba-hamba-Nya yang beriman untuk saling menolong dalam berbuat kebaikan —yaitu kebajikan— dan meninggalkan hal-hal yang mungkar: hai ini dinamakan ketakwa­an.
Allah subhanahu wa ta’ala.
melarang mereka bantu-membantu dalam kebatilan serta tolong-menolong dalam perbuatan dosa dan hal-hal yang diha­ramkan.

Ibnu Jarir mengatakan bahwa dosa itu ialah meninggalkan apa yang diperintahkan oleh Allah untuk dikerjakan.
Pelanggaran itu artinya melampaui apa yang digariskan oleh Allah dalam agama kalian, serta melupakan apa yang difardukan oleh Allah atas diri kalian dan atas diri orang lain.

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Hasyim.
telah menceritakan kepada kami Ubaidillah ibnu Abu Bakar ibnu Anas, dari kakeknya (yaitu Anas ibnu Malik) yang menceritakan bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda: Tolonglah saudaramu, baik dalam keadaan berbuat aniaya atau dianiaya.
Lalu ada yang bertanya, “Wahai Rasulullah, orang ini dapat kutolong jika ia dianiaya.
Tetapi bagaimanakah menolongnya jika dia berbuat aniaya?”
Maka Rasulullah ﷺ menjawab: Kamu cegah dan kamu halang-halangi dia dari perbuatan ani­aya, itulah cara menolongnya.

Hadis ini diriwayatkan oleh Imam Bukhari secara munfarid melalui hadis Hasyim dengan sanad yang sama dan lafaz yang semisal.

Ke­duanya mengetengahkan hadis ini melalui jalur Sabit, dari Anas yang menceritakan bahwa Rasulullah ﷺ telah bersabda:

“Tolonglah saudaramu, baik dia berbuat aniaya ataupun diani­aya.” Ditanyakan, “Wahai Rasulullah, orang ini dapat aku to­long bila dalam keadaan teraniaya, tetapi bagaimana menolong­nya jika dia berbuat aniaya?”
Rasulullah ﷺ menjawab, “Kamu cegah dia dari perbuatan aniaya, itulah cara kamu meno­longnya.”

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Yazid, telah menceritakan kepada kami Sufyan ibnu Sa’id, dari Al-A’masy, dari Yahya ibnu Wassab, dari seorang lelaki sahabat Nabi ﷺ yang mengatakan: Orang mukmin yang bergaul dengan manusia dan bersabar da­lam menghadapi gangguan mereka lebih besar pahalanya dari­pada orang mukmin yang tidak bergaul dengan manusia dan ti­dak sabar dalam menghadapi gangguan mereka.

Imam Ahmad meriwayatkannya pula di dalam kitab Musnad Abdul­lah ibnu Umar, telah menceritakan kepada kami Hajjaj, telah mence­ritakan kepada kami Syu’bah, dari Al-A’masy, dari Yahya ibnu Wassab, dari seorang syekh sahabat Nabi ﷺ yang mengatakan:

Orang mukmin yang bergaul dengan manusia dan sabar terhadap gangguan mereka lebih besar pahalanya daripada orang mukmin yang tidak bergaul dengan manusia dan tidak sabar terhadap gangguan mereka.

Imam Turmuzi meriwayatkan hal yang serupa melalui hadis Syu’bah, dan Ibnu Majah meriwayatkannya melalui jalur Ishaq ibnu Yusuf, ke­duanya dari Al-A’masy dengan lafaz yang sama.

Al-Hafiz Abu Bakar Al-Bazzar mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ibrahim ibnu Abdullah ibnu Muhammad Abu Syaibah Al-Kuti.
telah menceritakan kepada kami Bakr ibnu Abdur Rahman, telah menceritakan kepada kami Isa ibnul Mukhtar, dari Ibnu Abu Laila.
dari Fudail ibnu Amr, dari Abu Wa-il, dari Abdullah yang menceritakan bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda: Orang yang menunjukkan (orang lain) kepada perbuatan yang baik, sama (pahalanya) dengan pelaku kebaikan itu.

Kemudian Al-Bazzar mengatakan bahwa kami tidak mengetahuinya meriwayatkan hadis kecuali dalam sanad ini.

Menurut kami, hadis ini mempunyai syahid (bukti) dalam kitab sahih, yaitu:

Barang siapa yang mengajak ke jalan petunjuk, baginya pahala semisal dengan semua pahala orang-orang yang mengikutinya sampai hari kiamat, hal tersebut tanpa mengurangi pahala mere­ka barang sedikit pun.
Dan barang siapa yang mengajak kepada kesesalan, baginya dosa yang semisal dengan semua dosa orang-orang yang mengikutinya sampai hari kiamat: hal tersebut tanpa mengurangi dosa-dosa mereka barang sedikit pun.

Abul Qasim At-Tabrani mengatakan, telah menceritakan kepada kami Amr ibnu Ishaq ibnu Ibrahim ibnu Zuraiq Al-Himsi, telah mencerita­kan kepada kami ayahku, telah menceritakan kepada kami Anu ibnul Haris, dari Abdullah ibnu Salim, dari -Az-Zubaidi yang mengatakan, “Abbas ibnu Yunus pernah mengatakan bahwa Abul Hasan Namran ibnu Sakhr pernah menceritakan kepadanya bahwa Rasulullah ﷺ telah bersabda: ‘Barang siapa yang berjalan bersama orang yang zalim untuk membantunya, sedangkan dia mengetahui kezalimannya, maka sesungguhnya dia telah keluar dari Islam’.’

Asbabun Nuzul
Sebab-Sebab Diturunkannya Surah Al Maa’idah (5) Ayat 2

Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir yang bersumber dari ‘Ikrimah.
Hadits seperti ini diriwayatkan pula oleh as-Suddi bahwa al-Hathm bin Hind al Bakri datang ke Madinah membawa kafilah yang penuh dengan makanan, dan memperdagangkannya.
Kemudian ia menghadap Nabi ﷺ untuk masuk Islam dan berbaiat (bersumpah setia).
Setelah ia pulang, Nabi ﷺ bersabda kepada orang-orang yang ada pada waktu itu bahwa ia masuk ke sini dengan muka seorang penjahat dan pulang dengan punggung pengkhianat.
Dan sesudah sampai ke Yamamah, ia pun murtad dari agama Islam.
Pada suatu waktudi bulan Zulkaidah, ia (al-Hathm) berangkat membawa kafilah yang penuh dengan makanan menuju Mekah.
Ketika para shahabat Nabi mendengar berita kepergiannya ke Mekah, bersiaplah segolongan Muhajirin dan Anshar untuk mencegat kafilahnya.
Akan tetapi turunlah ayat ini (al-Maaidah: 2) yang melarang perang pada bulan haram.
Pasukan itupun tidak jadi mencegatnya.

Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim yang bersumber dari Zaid bin Aslam bahwa dengan terhalangnya Rasulullah ﷺ dan para shahabatnya mengerjakan umrah di Masjidil Haram di Mekah (yang menimbulkan perjanjian Hudaibiyyah di antara kaum Muslimin dan musyrikin), para shahabat Nabi merasa kesal karenanya.
Pada suatu hari lewatlah orang-orang musyrikin dari penduduk masyriq (timur) akan menjalankan umrah.
Berkatalah para shahabat Nabi ﷺ: “Mari kita cegat mereka sebagaimana mereka pernah mencegat shahabat-shahabat kita.” Maka Allah menurunkan ayat ini (al-Maa’idah: 2) sebagai larangan membalas dendam.

Sumber : Asbabun Nuzul-K.H.Q.Shaleh – H.A.A Dahlan dkk.

Kata Pilihan Dalam Surah Al Maa'idah (5) Ayat 2

SYANA AAN
شَنَـَٔان

Lafaz ini dalam bentuk mashdar dan ism fa’il jamak, mufradnya syani’, berasal dari kata syana’u-yasyna’u yang bermakna mernbencinya, memarahinya dan menjauhkannya.

Al Fayruz berkata syunia ar rajul adalah lalaki yang dimarahi.

Rajul masyna’ bermakna lelaki yan§ buruk perangainya.

Rajul syana’ah bermakna lelaki yang dibenci karena akhlaknya yang buruk.

Syana’aan disebut dua kali di dalam Al Qur’an, yaitu dalam surah Al Maa’ idah (5), ayat 2 dan 8 dan lafaz syaani’ disebut sekali dalam surah Al Kautsar (108), ayat 3.

Allah berfirman:

لَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَـَٔانُ قَوْمٍ عَلَىٰٓ أَلَّا تَعْدِلُوا۟

Lafaz syana’aan dihubungkan dengan lafaz qaum yang bermakna kaum atau golongan.

Az Zamakhsyari berkata,
syana’aan adalah sebab dan ia bermakna kebencian yang teramat.

Menurut pendapat Asy Syawkani, lafaz syana’aan bermakna kebencian atau kemarahan. Syunitar rajul maknanya apabila engkau membuat lelaki itu benci dan marah. Lafaz syana’aan di sini disandarkan kepada maf’ul (objek) yaitu qaum (golongan), maknanya kebencian kaum dari kamu dan bukan kebencian kaum bagi kamu.

Ibn Katsir menjelaskan tafsir ayat ini, “Janganlah kebencian suatu kaum kepadamu menjadi sebab kamu melampaui batas dalam menghukum dengan hukuman Allah” dan tidak berlaku adil sehingga menjadikan kamu orang yang zalim.

Kesimpulannya, lafaz syana’aan bermakna kebencian dan syana’aan qaum adalah kebencian suatu kaum.

Sumber : Kamus Al Qur’an, PTS Islamika SDN. BHD.Hal:311-312

Informasi Surah Al Maa'idah (المائدة)
Surat Al Maa-idah terdiri dari 120 ayat termasuk golongan surat Madaniyyah.
Sekalipun ada ayatnya yang turun di Mekah, namun ayat ini diturunkan sesudah Nabi Muhammad ﷺ hijrah ke Madinah, yaitu di waktu haji wadaa’

Surat ini dinamakan “Al Maa-idah” (hidangan), karena memuat kisah pengikut-pengikut setia Nabi ‘Isa ‘alaihis salam meminta kepada Nabi ‘Isa ‘alaihis salam, agar Allah menurunkan untuk mereka Al Maa-idah (hidangan makanan) dari langit (ayat 112).
Dan dinamakan dengan “Al Uqud” (perjan­jian), karena kata itu terdapat pada ayat pertama surat ini, di mana Allah menyuruh agar hamba­ hamba-Nya memenuhi janji prasetia terhadap Allah dan perjanjian-perjanjian yang mereka buat sesamanya.

Dinamakan juga “Al Munqidz” (yang menyelamatkan), karena akhir surat ini mengandung kisah tentang Nabi ‘Isa ‘alaihis salam penyelamat pengikut-pengikut setianya dari azab Allah.

Keimanan:

Bantahan terhadap orang-orang yang mempertuhankan Nabi ‘Isa a.s.

Hukum:

Keharusan memenuhi perjanjian
hukum melanggar syi’ar Allah
makanan yang di­halalkan dan yang diharamkan
hukum mengawini wanita ahli kitab
wudhu
tayammum
mandi
hukum membunuh orang
hukum mengacau dan mengganggu keamanan
hukum qishaas
hukum melanggar sumpah dan kafaaratnya
hukum khamar
berjudi
berkorban untuk berhala
mengundi nasib
hukum membunuh binatang waktu ihram
hukum persaksian dalam berwasiat.

Kisah:

Kisah-kisah Nabi Musa a.s. menyuruh kaumnya memasuki Palestina
kisah Habil dan Qabil, kisah-kisah tentang Nabi ‘Isa a.s

Lain-lain:

Keharusan bersikap lemah lembut terhadap sesama mu’min bersikap keras terhadap orang-orang kafir
penyempurnaan Agama Islam di zaman Nabi Muhammad ﷺ
keharusan jujur dan berlaku adil
sikap dalam menghadapi berita-berita bohong
akibat berteman akrab dengan orang yang bukan muslim
kutukan Allah terhadap orang-orang Yahudi
kewajiban rasul hanya menyampaikan agama
sikap Yahudi dan Nasrani terhadap orang Islam
Ka’bah sokoguru kehidupan manusia
peringat­an Allah supaya meninggalkan kebiasaan Arab Jahiliyah
larangan-larangan terhadap pertanyaan-pertanyaan yang mengakibatkan kesempitan dalam agama.


Gambar Kutipan Surah Al Maa’idah Ayat 2 *beta

Surah Al Maa'idah Ayat 2



Statistik
  • Rating RisalahMuslim

Surah Al Maa'idah

Surah Al-Ma'idah (bahasa Arab:المآئدة, al-Mā'idah, "Jamuan Hidangan") adalah surah ke-5 dalam Al-Qur'an.
Surah ini terdiri dari 120 ayat dan termasuk golongan surah Madaniyah.
Sekalipun ada ayat-ayatnya yang turun di Mekkah, namun ayat ini diturunkan sesudah Nabi Muhammad hijrah ke Madinah, yakni sewaktu peristiwa Haji Wada'.
Surah ini dinamakan Al-Ma'idah (hidangan) karena memuat kisah para pengikut setia nabi Isa meminta kepada nabi Isa agar Allah menurunkan untuk mereka Al-Ma'idah (hidangan makanan) dari langit (ayat 112).
Selain itu, Surah Al-Ma'idah juga disebut Al-Uqud (perjanjian), karena kata itu terdapat pada ayat pertama surah ini, di mana Allah menyuruh agar hamba-hamba-Nya memenuhi janji terhadap Allah maupun perjanjian-perjanjian yang mereka buat terhadap sesamanya.
Dinamakan juga Al-Munqidz (yang menyelamatkan), sebab pada bagian akhir surah ini memuat kesaksian Isa Al-Masih terhadap kaum pengikutnya.

Nomor Surah5
Nama SurahAl Maa'idah
Arabالمائدة
ArtiJamuan (hidangan makanan)
Nama lainAl-'Uqud (bermakna perjanjian dan kesepakatan) dan Al-Munqidz (bermakna yang menyelamatkan).
Tempat TurunMadinah
Urutan Wahyu112
JuzJuz 6 (ayat 1-82), juz 7 (ayat 83-120)
Jumlah ruku'0
Jumlah ayat120
Jumlah kata2842
Jumlah huruf12207
Surah sebelumnyaSurah An-Nisa'
Surah selanjutnyaSurah Al-An'am
4.8
Rating Pembaca: 4.8 (20 votes)
Sending







Anda perlu login mengelola Bookmark.

📖 Lihat Semua Bookmark-ku