QS. Al Ma’aarij (Tempat naik) – surah 70 ayat 43 [QS. 70:43]

یَوۡمَ یَخۡرُجُوۡنَ مِنَ الۡاَجۡدَاثِ سِرَاعًا کَاَنَّہُمۡ اِلٰی نُصُبٍ یُّوۡفِضُوۡنَ
Yauma yakhrujuuna minal ajdaatsi siraa’an kaannahum ila nushubin yuufidhuun(a);

(yaitu) pada hari mereka keluar dari kubur dengan cepat seakan-akan mereka pergi dengan segera kepada berhala-berhala (sewaktu di dunia),
―QS. 70:43
Topik ▪ Hari Kebangkitan ▪ Manusia dibangkitkan dari kubur ▪ Azab orang kafir
70:43, 70 43, 70-43, Al Ma’aarij 43, AlMaaarij 43, AlMarij 43, Al Maarij 43, AlMaarij 43

Tafsir surah Al Ma'aarij (70) ayat 43

Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. Al Ma’aarij (70) : 43. Oleh Kementrian Agama RI

Pada hari Kiamat itu, mereka dihidupkan kembali dan dibangkitkan dari kubur.
Mereka datang dengan tergesa-gesa untuk memenuhi panggilan yang memanggil mereka waktu itu dengan harapan panggilan itu berisi sesuatu yang menyenangkan.
Mereka datang tergesa-gesa sebagaimana ketika mereka datang untuk menyembah berhala mereka dulu waktu di dunia.

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Yaitu hari ketika mereka bergegas keluar dari kubur mereka menuju ke arah seseorang yang memanggil.
Mereka seolah bersegera menuju sesuatu selain Allah yang disembahnya di dunia.
Saat itu pandangan mereka tertunduk.
Mereka tidak mampu mengangkatnya.
Mereka dipenuhi oleh kehinaan.
Dahulu mereka pernah dijanjikan dengan datangnya hari ini, tetapi mereka mendustakannya.

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(Yaitu pada hari mereka keluar dari kubur) dari tempat-tempat mereka dikubur (dengan cepat) menuju ke padang Mahsyar tempat mereka dihimpunkan (seakan-akan mereka pergi kepada berhala-berhala) menurut suatu qiraat dibaca nushubin, artinya sesuatu yang dibangun untuk pertanda atau tugu, yang dimaksud adalah berhala-berhala (dengan cepatnya) mereka pergi dengan cepat seakan-akan pergi kepada berhala-berhala mereka.

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Selanjutnya Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

Maka biarkanlah mereka.
(Q.S. Al-Ma’aarij [70]: 42)

Yaitu biarkanlah mereka, hai Muhammad.

tenggelam (dalam kebatilan) dan bermain-main.
(Q.S. Al-Ma’aarij [70]: 42)

Maksudnya, biarkanlah mereka dalam kedustaan, kekafiran, dan keingkarannya.

sampai mereka menjumpai hari yang diancamkan kepada mereka.
(Q.S. Al-Ma’aarij [70]: 42)

Yakni kelak mereka akan mengetahui akibat dari perbuatannya dan akan merasakan buah dari sepak terjangnya.

(yaitu) pada hari mereka keluar dari kubur dengan cepat seakan-akan mereka pergi dengan segera kepada berhala-berhala (sewaktu di dunia).(Q.S. Al-Ma’aarij [70]: 43)

Yaitu mereka bangkit dari kuburnya masing-masing, apabila Tuhan Yang Mahasuci lagi Mahatinggi memanggil mereka untuk menjalani hisab di mauqif (tempat pemberhentian).
Mereka bangkit dengan cepat seakan-akan mereka pergi dengan segera kepada berhala-berhala sembahannya.
Ibnu Abbas, Mujahid, Ad-Dahhak mengatakan bahwa makna nusuh ialah ‘alam alias berhala-berhala.
Abul Aliyah dan Yahya ibnu Abu Kasir mengatakan, makna yang dimaksud ialah sebagaimana mereka pergi dengan segera ke tujuannya.

Jumhur ulama ada yang membacanya nasbin yang bermakna mansub, artinya berhala yang dipancangkan.
Sedangkan Al-Hasan AL-Basri membacanya nusub yang artinya berhala sembahan mereka.
Seakan-akan langkah mereka yang cepat menuju ke mauqif sama dengan langkah mereka saat di dunia bila menuju ke tempat sembahan-sembahan mereka, mereka pergi bergegas untuk mencapainya, siapa yang paling dahulu dari mereka yang mengusapnya.
Pendapat ini diriwayatkan dari Mujahid, Yahya ibnu Abu Kasir, Muslim Al-Batin, Qatadah, Ad-Dahhak, Ar-Rabi’ ibnu Anas, Abu Saleh, Asim ibnu Bahdalah, Ibnu Zaid, dan lain-lainnya.

Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

dalam keadaan mereka menekurkan pandangannya.
(Q.S. Al-Ma’aarij [70]: 44)

Yakni menundukkan pandangan mata mereka.

(serta) diliputi kehinaan.
(Q.S. Al-Ma’aarij [70]: 44)

Hal ini sebagai pembalasan atas kesombongan mereka sewaktu di dunia, karena mereka tidak mau taat kepada Allah subhanahu wa ta’ala

Itulah hari yang dahulunya diancamkan kepada mereka.
(Q.S. Al-Ma’aarij [70]: 44)


Kata Pilihan Dalam Surah Al Ma'aarij (70) Ayat 43

AJDAATS
أَجْدَاث

Ajdaats adalah jamak dari kata al jadats yang bermakna al qabr (kubur) Dalam hadits

nubawwi uhum ajdaatsa hum

Artinya, “kami turunkan mereka ke dalam kubur-kubur mereka.” Sedangkan makna al­ jadatsah ialah bunyi tapak kaki kuda atau kasut atau kunyahan daging.

Ajduts adalah bentuk jamak dari al ­jadats juga. Ia disebut seperti itu karena mengisyaratkan nama tempat.

Lafaz ajdaats disebut tiga kali di dalam Al Qur’an yaitu dalam surah:
-Yaa Siin (36), ayat 51;
-Al Qamar (54), ayat 7;
-Al Ma’arij (70), ayat 43.

Dalam surah Yaa Siin diterangkan, ketika sangkakala ditiupkan, mereka yang mati keluar dari kubur-kubur mereka dengan berjalan cepat.

Al Qurtubi berkata,
makna ajdaats dalam surah Al Qamar ialah al qubur (kubur-kubur). Begitu juga penafsiran lafaz ajdaats dalam surah Al Maa’arij.”

Ibn Qutaibah mengatakan, makna ajdaats ialah al qubur (kubur-kubur).”

At Tabari menafsirkan lafaz ini sebagai para penghuni kubur. Untuk menyebut mereka itu digunakan dua istilah, ahlal ­aliyah (penghuni peringkat yang lebih tinggi) dinamakan dengan menggunakan huruf al tsa pada akhir kata itu, yaitu jadats. Sedangkan ahlal safilah (penghuni yang lebih rendah) disebut dengan menggunakan huruf al fa’ diakhirnya, yaitu jadaf.

Ibn Abbas dan Qatadah berpendapat, makna ajdaats ialah al qubur (kubur-kubur).

Sumber : Kamus Al Qur’an, PTS Islamika SDN. BHD.Hal:37

Informasi Surah Al Ma'aarij (المعارج)
Surat ini terdiri atas 44 ayat, termasuk golongan surat-surat Makkiyyah, diturunkan sesudah surat Al Haaqqah.

Perkataan “Al Ma’aarij” yang menjadi nama bagi surat ini adalah kata jamak dari ”Mi’raj”,
diambil dari perkataan Al Ma’aarij yang terdapat pada ayat 3, yang artinya menurut bahasa “tempat naik”.
Sedang para ahli tafsir memberi arti berrnacam-macam, di antaranya ialah “langit”,
ni’mat karunia dan derajat atau tingkatan yang diberikan Allah subhanahu wa ta’ala kepada ahli surga.

Keimanan:

Perintah bersabar kepada Nabi Muhammad ﷺ dalam menghadapi ejekan-ejekan dan keingkaran orang-orang kafir,
kejadian-kejadian pada hari kiamat
azab Allah tak dapat dihindarkan dengan tebusan apapun,
sifat-sifat manusia yang mendorongnya ke api neraka
amal-amal perbuatan yang dapat membawa manusia ke martabat yang tinggi
peringatan Allah akan mengganti kaum yang durhaka dengan kaum yang lebih baik.

Ayat-ayat dalam Surah Al Ma'aarij (44 ayat)

Audio

Qari Internasional

Q.S. Al-Ma'aarij (70) ayat 43 - Oleh Syekh Mishari Alafasy
Q.S. Al-Ma'aarij (70) ayat 43 - Oleh Syekh Sa'ad Al-Ghamidi
Q.S. Al-Ma'aarij (70) ayat 43 - Oleh Syekh Muhammad Ayyub

Q.S. Al-Ma'arij (70) ayat 1-44 - Wirda Mansur (Bahasa Indonesia)
Q.S. Al-Ma'arij (70) ayat 1-44 - Wirda Mansur (Bahasa Arab)

Murottal al-Qur'an & Terjemahan Indonesia
Q.S. Al-Ma'aarij - Oleh Syekh Misyari Rasyid Alafasy
Full ayat 1 sampai 44 & Terjemahan


Gambar



Statistik Q.S. 70:43
  • Rating RisalahMuslim

Ayat ini terdapat dalam surah Al Ma'aarij.

Surah Al-Ma'arij (Arab: المعارج , "Tempat-Tempat Naik") adalah surah ke-70 dalam al-Qur'an.
Surah ini tergolong surah Makkiyah yang terdiri atas 44 ayat.
Dinamakan Al Ma’aarij yang berarti tempat naik diambil dari perkataan Al Ma’aarij yang terdapat pada ayat ke 3 surat ini.
Para ahli tafsir memberikan beberapa penafsiran mengenai hal ini di antaranya langit, nikmat karunia dan derajat atau tingkatan yang diberikan Allah s.w.t kepada ahli surga.

Nomor Surah 70
Nama Surah Al Ma'aarij
Arab المعارج
Arti Tempat naik
Nama lain Sa'ala dan Waqi', Sa'ala sailun
Tempat Turun Mekkah
Urutan Wahyu 79
Juz Juz 28
Jumlah ruku' 2 ruku'
Jumlah ayat 44
Jumlah kata 217
Jumlah huruf 972
Surah sebelumnya Surah Al-Haqqah
Surah selanjutnya Surah Nuh
4.9
Ratingmu: 4.3 (21 orang)
Sending









Iklan

Video

Panggil Video Lainnya


Ikuti RisalahMuslim
               





Copied!

Masukan & saran kirim ke email:
[email protected]

Made with in Yogyakarta