QS. Al Ma’aarij (Tempat naik) – surah 70 ayat 4 [QS. 70:4]

تَعۡرُجُ الۡمَلٰٓئِکَۃُ وَ الرُّوۡحُ اِلَیۡہِ فِیۡ یَوۡمٍ کَانَ مِقۡدَارُہٗ خَمۡسِیۡنَ اَلۡفَ سَنَۃٍ ۚ
Ta’rujul malaa-ikatu warruuhu ilaihi fii yaumin kaana miqdaaruhu khamsiina alfa sanatin;

Malaikat-malaikat dan Jibril naik (menghadap) kepada Tuhan dalam sehari yang kadarnya limapuluh ribu tahun.
―QS. 70:4
Topik ▪ Lupa hafalan Al Qur’an (sebagian atau seluruhnya)
70:4, 70 4, 70-4, Al Ma’aarij 4, AlMaaarij 4, AlMarij 4, Al Maarij 4, AlMaarij 4

Tafsir surah Al Ma'aarij (70) ayat 4

Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. Al Ma’aarij (70) : 4. Oleh Kementrian Agama RI

Malaikat-malaikat dan Jibril menghadap Allah memakan waktu yang sangat singkat dan jika dilakukan manusia akan memakan waktu lima puluh ribu tahun.
Angka 50.000 tahun yang disebutkan dalam ayat ini bukanlah bilangan yang sebenarnya, tetapi untuk menerangkan bahwa Arasy Allah itu sangat jauh dan tinggi, tidak akan dapat dicapai oleh hamba-hamba-Nya yang mana pun.
Di sini ada beberapa makhluk Tuhan yang lain yang berbeda-beda tingkat dan kemampuannya.
Dalam firman Allah yang lain, diterangkan bahwa Dia mengatur urusan dari langit ke bumi dalam suatu saat yang kadarnya sama dengan seribu tahun menurut perhitungan manusia:

Dia mengatur segala urusan dari langit ke bumi, kemudian (urusan) itu naik kepada-Nya dalam satu hari yang kadarnya (lamanya) adalah seribu tahun menurut perhitunganmu.
(Q.S. As-Sajdah [32]: 5)

Sebenarnya persoalan berapa lama umur dunia ini, dan berapa lama waktu yang diperlukan malaikat naik kepada Allah kemudian turun kembali ke dunia ini melaksanakan perintah-perintah-Nya, termasuk perkara gaib.
Hanya Allah yang mengetahuinya dengan pasti.
Bagi kita sebagai hamba Allah, cukup percaya bahwa ada azab Allah yang akan ditimpakan kepada yang mereka yang mengingkari hari Kiamat.

Dalam Surah Az-Zariyat: 7, Allah bersumpah demi langit yang mem­punyai jalan-jalan.
Jalan-jalan ini secara ilmiah, dapat ditafsirkan sebagai wormhole, yakni jalan pintas yang menghubungkan satu tempat dengan tempat lain di jagad raya ini.

Kemudian Allah menegaskan dalam Surah Al-Ma’arij: 4 bahwa Ia memiliki ma’arij, di mana malaikat-malaikat dan Jibril naik (menghadap) kepada Tuhan dalam sehari yang kadarnya lima puluh ribu tahun.
Seperti telah dijelaskan dalam penafsiran Surah Az-Zariyat: 7 bahwa dalam teori fisika relativitas umum, dikenal mengenai mekanisme pemendekan jarak yang sangat jauh menjadi hanya beberapa meter saja yang saat ini oleh para ilmuwan disebut sebagai wormhole (lubang cacing).
Jalan-jalan itu boleh jadi adalah ma’arij, di mana Allah memperinci lebih jauh bahwa para malaikat dan Jibril naik menghadap Allah melalui jalan tersebut dan digambarkan bahwa mereka naik dalam sehari yang kadarnya lima puluh ribu tahun.
Meski belum satu pun para ahli fisika menggunakannya, dalam wormhole kita bergerak tanpa membutuhkan energi.
Begitu kita masuk ke dalamnya, medan gaya berat menarik kita dan tahu-tahu kita telah terlempar ke suatu tempat yang lain.
Dalam wormhole, arloji kita bergerak lebih lambat dan tongkat yang kebetulan kita bawa juga memendek.
Namun, begitu keluar semua kembali seperti sediakala termasuk jam dan tongkat yang kita bawa.
Siapa saja melewati ma’arij ini akan mengalami pemanjangan (dilation) waktu yakni sehari yang kadarnya lima puluh ribu tahun di bumi.
Hal ini bukan berarti berapa lama kita melalui ma’arij, tetapi jika kita melalui jalan ini kita akan menjadi lebih tua dengan perbandingan tersebut.
Perjalanan Rasulullah dalam peristiwa Isra’ Mi’raj, boleh jadi melewati mekanisme pemendekan jarak sehingga jarak yang demikian jauhnya ditempuh Rasulullah hanya dalam bilangan jam.
Ketika Rasulullah menceritakan peristiwa yang dialaminya, orang-orang kafir jelas tidak mempercayainya.
Padahal itu adalah tanda-tanda kebesaran Allah.
Menarik disimak dalam Surah Al-Hijr: 13-15:

Mereka tidak beriman kepadanya (Al-Qur’an) padahal telah berlalu sunatullah terhadap orang-orang terdahulu.
Dan kalau Kami bukakan kepada mereka salah satu pintu langit, lalu mereka terus menerus naik ke atasnya, tentulah mereka berkata, “Sesungguhnya pandangan kamilah yang dikaburkan, bahkan kami adalah orang yang terkena sihir.”

(Q.S. Al-Hijr [15]: 13-15)

Dengan demikian, Allah menyatakan bahwa bagi mereka yang tidak beriman, sampai seandainya pintu langit dibuka dan mereka melaluinya, mereka akan tetap berdalih bahwa itu sebuah ilusi.
Sub¥anallah, Allah memberikan gambaran bagaimana mengatur makhluk-Nya.
Para malaikat lalu lalang dari satu tempat ke tempat dengan menggunakan jalan khusus yang disebut ma’arij, dan Rasulullah, Sang Kekasih Allah, mendapat kesempatan melalui ma’arij-jalan istimewa- tersebut pada suatu malam yang sangat mengguncangkan, yakni Isra’ Mi’raj.

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Para malaikat dan Jibril naik ke hadapan-Nya dalam sehari yang lamanya lima puluh ribu tahun dalam hitungan tahun dunia.

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(Naiklah) dapat dibaca ta`ruju dan ya`ruju (malaikat-malaikat dan Jibril) Malaikat Jibril (kepada-Nya) kepada tempat turun bagi perintah-Nya di langit (dalam sehari) lafal fii yaumin bertaalluq kepada lafal yang tidak disebutkan, azab menimpa orang-orang kafir pada hari kiamat (yang kadarnya lima puluh ribu tahun) ini menurut apa yang dirasakan oleh orang kafir, karena penderitaan dan kesengsaraan yang mereka temui di hari itu.

Adapun orang yang beriman merasakan hal itu amat pendek, bahkan lebih pendek daripada satu kali salat fardu yang dilakukan sewaktu di dunia.

Demikianlah menurut keterangan yang disebutkan di dalam hadis.

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

Malaikat-malaikat dan Jibril naik (menghadap) kepada Tuhan.
(Q.S. Al-Ma’aarij [70]: 4)

Abdur Razzaq meriwayatkan dari Ma’mar, dari Qatadah, bahwa ta’ruju artinya naik.
Adapun ruh, menurut Abu Saleh mereka adalah makhluk Allah yang mirip dengan manusia, tetapi mereka bukan manusia.
Menurut kami, dapat pula ditakwilkan bahwa makna yang dimaksud adalah Malaikat Jibril.

Dengan demikian, berarti ungkapan ini termasuk ke dalam bab ” ‘Ataf Khas kepada ‘Am.” Dapat pula ditakwilkan dengan pengertian isim jenis dari arwah Bani Adam, karena sesungguhnya arwah Bani Adam itu apabila dicabut dari jasadnya, ia naik ke langit, sebagaimana yang ditunjukkan oleh hadis Al-Barra, dan hadis yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad, Imam Abu Daud, Imam Nasai, dan Imam Ibnu Majah melalui Al-Minhal, dari Zazan, dari Al-Barra secara marfu’.
Hadisnya cukup panjang menerangkan tentang pencabutan roh yang baik.
Antara Lain disebutkan di dalamnya:

Maka terus-menerus malaikat membawanya naik dari suatu langit ke langit lain, hingga sampailah ia di langit yang padanya ada Allah.

Hanya Allah-lah Yang Maha Mengetahui tentang kesahihan hadis ini.
Sebagian perawinya masih diperbincangkan kesahihannya, tetapi hadis ini terkenal dan mempunyai syahid (bukti) yang menguatkannya dalam hadis Abu Hurairah terdahulu yang diketengahkan melalui riwayat Imam Ahmad, Imam Turmuzi, dan Imam Ibnu Majah melalui jalur ibnu Abud Dunia, dari Muhammad ibnu Amr ibnu Ata, dari Sa’id ibnu Yasar, dari Abu Hurairah.
Sanad hadis ini dengan syarat Jamaah, kami telah mengetengahkan teksnya dalam tafsir firman Allah subhanahu wa ta’ala:

Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh itu dalam kehidupan di dunia dan di akhirat; dan Allah menyesatkan orang-orang yang zalim dan memperbuat apa yang Dia kehendaki.
(Q.S. Ibrahim [14]: 27)

Adapun firman Allah subhanahu wa ta’ala:

dalam sehari yang kadarnya lima puluh ribu tahun.
(Q.S. Al-Ma’aarij [70]: 4)

Ada empat pendapat sehubungan dengan makna ayat ini.
Pendapat pertama mengatakan bahwa makna yang dimaksud ialah perjalanan antara ‘ Arasy yang besar sampai dasar yang paling bawah, yaitu dasar dari bumi lapis ketujuh; perjalanan ini memerlukan waktu lima puluh ribu tahun.
Ini menggambarkan tentang ketinggian ‘Arasy bila diukur dari titik sumbu yang berada di bagian tengah bumi lapis ketujuh.
Demikain pula luasnya ‘Arasy dari satu sisi ke sisi yang lainnya sama dengan perjalanan lima puluh ribu tahun.
Dan bahwa ‘Arasy itu dari yaqut merah, sebagaimana yang disebutkan oleh Ibnu Abu Syaibah di dalam kitab Sifatul ‘Arasy.

Ibnu Abu Hatim sehubungan dengan ayat ini mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ahmad ibnu Salamah, telah menceritakan kepada kami Ishaq ibnu Ibrahim, telah menceritakan kepada kami Hakkam, dari Amr ibnu Ma’mar ibnu Ma’ruf, dari Laits, dari Mujahid, dari Ibnu Abbas sehubungan dengan makna firman-Nya: dalam sehari yang kadarnya lima puluh ribu tahun.
(Q.S. Al-Ma’aarij [70]: 4) Maksudnya, batas terakhirnya dari bagian bumi yang paling bawah sampai kepada bagian yang tertinggi dari langit yang ketujuh adalah jarak perjalanan lima puluh ribu tahun.

dalam sehari yang kadarnya lima puluh ribu tahun.
(Q.S. Al-Ma’aarij [70]: 4)

Yakni saat perintah itu diturunkan dari langit ke bumi, dan dari bumi naik ke langit dalam sehari, hal tersebut menempuh perjalanan yang kadarnya sama dengan lima puluh ribu tahun, karena jarak antara langit dan bumi kadarnya lima puluh ribu tahun perjalanan.
Ibnu Jarir telah meriwayatkan hal ini dari Ibnu Humaid, dari Hakkam ibnu Salim, dari Amr ibnu Ma’ruf, dari Lais, dari Mujahid yang dinilai sebagai perkataan Mujahid, dan tidak disebutkan dari Ibnu Abbas.

Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami ayahku, telah menceritakan kepada kami Ali ibnu Muhammad At-Tanafisi, telah menceritakan kepada kami Ibrahim ibnu Mansur, telah menceritakan kepada kami Nuh AL-Ma’ruf, dari Abdul Wahhab ibnu Mujahid, dari ayahnya, dari Ibnu Abbas yang mengatakan bahwa ketebalan setiap lapis bumi sama dengan perjalanan lima ratus tahun perjalanan, dan jarak antara satu lapis bumi ke lapis bumi lainnya sama dengan perjalanan lima ratus tahun, maka jumlah keseluruhannya adalah tujuh ribu tahun.
Ketebalan tiap-tiap langit sama dengan lima ratus tahun perjalanan, dan jarak antara satu langit ke langit yang lainnya sama dengan lima ratus tahun, berarti keseluruhannya sama dengan empat belas ribu tahun perjalanan.
Dan jarak antara langit yang ketujuh sampai ke ‘Arasy sama dengan perjalanan tiga puluh enam ribu tahun.
Maka yang demikian itu disebutkan oleh firman-Nya: dalam sehari yang kadarnya lima puluh ribu tahun.
(Q.S. Al-Ma’aarij [70]: 4)

Pendapat yang kedua mengatakan bahwa makna yang dimaksud ialah lamanya usia dunia ini sejak diciptakan oleh Allah hingga hari kiamat nanti.
Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abu Zar’ah, telah menceritakan kepada kami Ibrahim ibnu Musa, telah menceritakan kepada kami Ibnu Abu Za’idah, dari Ibnu Juraij, dari Mujahid sehubungan dengan makna firman-Nya: dalam sehari yang kadarnya lima puluh ribu tahun.
(Q.S. Al-Ma’aarij [70]: 4) Bahwa dunia ini usianya adalah lima puluh ribu tahun.
Dan masa lima puluh ribu tahun itu dinamakan oleh Allah subhanahu wa ta’ala dengan sebutan satu hari.
Malaikat-malaikat dan Jibril naik (menghadap) kepada Tuhan dalam sehari.
(Q.S. Al-Ma’aarij [70]: 4) Menurutnya hari dunia.

Abdur Razzaq mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ma’mar, dari Ibnu Abu Najih, dari Mujahid, dari Al-Hakam ibnu Aban, dari Ikrimah sehubungan dengan firman-Nya: dalam sehari yang kadarnya limapuluh ribu tahun.
(Q.S. Al-Ma’aarij [70]: 4) Bahwa dunia ini sejak dari permulaan hingga akhirnya berusia lima puluh ribu tahun; tiada seorang pun yang mengetahui berapa lama usia dunia telah berlalu dan tinggal berapa lama usia dunia kecuali hanya Allah subhanahu wa ta’ala

Pendapat yang ketiga mengatakan bahwa hari tersebut merupakan hari yang memisahkan antara dunia dan akhirat, tetapi pendapat ini garib sekali.

Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ahmad ibnu Muhammad ibnu Yahya ibnu Sa’id Al-Qattan, telah menceritakan kepada kami Bahlul ibnul Muwarraq, telah menceritakan kepada kami Musa ibnu Ubaidah, telah menceritakan kepadaku Muhammad ibnu Ka’b sehubungan dengan firman-Nya: dalam sehari yang kadarnya limapuluh ribu tahun.
(Q.S. Al-Ma’aarij [70]: 4) Bahwa hari tersebut adalah hari yang memisahkan antara dunia dan akhirat.

Pendapat yang keempat mengatakan bahwa makna yang dimaksud adalah hari kiamat.
ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ahmad ibnu Sinan Al-Wasiti, telah menceritakan kepada kami Abdur Rahman ibnu Mahdi, dari Israil, dari Sammak, dari Ikrimah, dari Ibnu Abbas sehubungan dengan makna firman-Nya: dalam sehari yang kadarnya limapuluh ribu tahun.
(Q.S. Al-Ma’aarij [70]: 4) Yaitu hari kiamat.
Sanadnya sahih.

As-Sauri telah meriwayatkan dari Sammak ibnu Harb, dari Ikrimah sehubungan dengan firman-Nya: dalam sehari yang kadarnya limapuluh ribu tahun.
(Q.S. Al-Ma’aarij [70]: 4) Maksudnya, hari kiamat.

Hal yang sama telah dikatakan oleh Ad-Dahhak dan Ibnu Zaid.
Ali ibnu Abu Talhah telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas sehubungan dengan makna firman-Nya: Malaikat-malaikat dan Jibril naik (menghadap) kepada Tuhan dalam sehari yang kadarnya limapuluh ribu tahun.
(Q.S. Al-Ma’aarij [70]: 4) Yakni hari kiamat.

Allah subhanahu wa ta’ala telah menjadikannya selama itu bagi orang-orang kafir, yaitu lima puluh ribu tahun.
Hal yang semakna telah disebutkan pula oleh hadis-hadis yang menerangkannya.

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Al-Hasan ibnu Musa, telah menceritakan kepada kami Ibnu Lahi’ah, telah menceritakan kepada kami Darij, dari Abul Haisam, dari Abu Sa’id yang mengatakan bahwa pernah dikatakan kepada Rasulullah ﷺ: dalam sehari yang kadarnya limapuluh ribu tahun.
(Q.S. Al-Ma’aarij [70]: 4) Bahwa alangkah panjangnya hari tersebut.
Maka Rasulullah ﷺ bersabda: Demi Tuhan yang jiwaku berada di dalam genggaman kekuasaan-Nya, sesungguhnya hari itu benar-benar diringankan bagi orang mukmin, sehingga jaraknya lebih cepat daripada suatu salat fardu yang pernah dikerjakannya di dunia.

Ibnu Jarir meriwayatkannya dari Yunus, dari Ibnu Wahb, dari Amr ibnul Haris, dari Darij dengan sanad yang sama.
Hanya saja Darij dan gurunya (yaitu Abul Haisam) kedua-keduanya berpredikat dhaif, hanya Allah-lah Yang Maha Mengetahui.

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Ja’far, telah menceritakan kepada kami Syu’bah, dari Qatadah, dari Abu Umar Al-Adani yang menceritakan bahwa ketika ia berada bersama Abu Hurairah r.a., tiba-tiba lewatlah seorang lelaki dari kalangan Bani Amir ibnu Sa’sa’ah.
Maka dikatakan kepada Abu Hurairah, “Ini adalah seorang Amiri yang paling banyak hartanya.” Maka Abu Hurairah berkata, “Panggillah dia agar menghadap kepadaku!” Lalu Abu Hurairah berkata kepadanya, “Menurut berita yang sampai kepadaku, engkau ini adalah seorang yang banyak memiliki harta.” Lelaki dari Bani Amir menjawab, “Benar, demi Allah, sesungguhnya aku memiliki seratus ekor unta berbulu merah, dan seratus ekor unta lainnya yang berbulu kelabu,” hingga ia menyebutkan berbagai warna unta lainnya, dan sejumlah banyak budak yang beraneka ragam serta ternak kuda yang banyak.
Maka Abu Hurairah berkata, “Hati-hatilah kamu terhadap tapak kaki unta dan tapak kaki ternak lainnya.” Abu Hurairah mengulang-ulang perkataannya ini sehingga roman muka lelaki Bani Amir itu berubah.
Maka lelaki itu bertanya, “Hai Abu Hurairah, mengapa demikian?”
Abu Hurairah menjawab, bahwa ia telah mendengar Rasulullah ﷺ bersabda, “Barang siapa yang mempunyai ternak unta, lalu ia tidak menunaikan hak yang ada pada ternak untanya itu ketika masa kering dan suburnya.” Kami bertanya, “Wahai Rasulullah ﷺ, apakah yang dimaksud dengan masa kering dan masa suburnya?”
Rasulullah ﷺ menjawab: Dalam keadaan mudah dan sulitnya.
Karena sesungguhnya ternak unta itu akan datang di hari kiamat dalam keadaan paling subur lagi paling banyak, dan paling gemuk lagi paling galak, hingga bilangan mereka memenuhi lembah yang luas.
Lalu ternak unta itu menginjak-injak dia dengan tapak kakinya.
Apabila gelombang yang terakhir telah melewatinya, maka dimulai lagi dengan gelombang yang pertamanya dalam sehari yang kadarnya limapuluh ribu tahun, hingga peradilan di antara manusia telah diselesaikan, lalu diperlihatkan kepadanya jalan yang akan ditempuhnya.
Dan apabila ia mempunyai ternak sapi yang tidak ia tunaikan haknya di masa mudah dan masa sulitnya, maka ternak sapinya itu akan datang di hari kiamat dalam keadaan paling subur lagi banyak jumlahnya, dan paling gemuk lagi paling galak, hingga jumlahnya memenuhi lembah yang luas.
Lalu ternak sapi itu menginjak-injaknya dengan kaki mereka dan bagi sapi yang bertanduk menandukinya dengan tanduknya, tiada seekor pun darinya yang tanduknya melengkung ke belakang dan tiada pula yang patah tanduknya.
Apabila gelombang yang terakhir telah melewatinya, maka dikembalikan lagi kepadanya gelombang pertama dalam suatu hari yang kadarnya limapuluh ribu tahun, hingga peradilan di antara manusia telah diselesaikan, lalu diperlihatkan kepadanya jalan yang akan ditempuhnya.
Dan apabila dia mempunyai ternak kambing yang tidak ia tunaikan haknya, maka kelak di hari kiamat ternak kambingnya itu datang dalam keadaan paling subur, paling gemuk dan paling galak, hingga jumlahnya memenuhi lembah yang luas.
Lalu masing-masing kambing menginjak-injaknya dengan kaki mereka dan bagi kambing yang bertanduk menandukinya dengan tanduknya, tiada seekor pun darinya yang bertanduk melengkung ke belakang dan tiada pula yang patah tanduknya.
Apabila gelombang yang terakhir telah melaluinya, maka dikembalikan lagi kepadanya gelombang yang pertama dalam sehari yang kadarnya lima puluh ribu tahun.
Hingga peradilan di antara manusia diselesaikan, lalu diperlihatkan kepadanya jalan yang akan ditempuhnya.
Maka Al-‘Amiri bertanya, “Wahai Abu Hurairah, apakah hak ternak unta itu?”
Abu Hurairah menjawab, “Hendaknya engkau memberikan unta yang baik, dan menyedekahkan unta yang deras air susunya, dan yang punggungnya tidak dikendarai, dan hendaknya engkau memberi minum ternak unta serta mengawinkan pejantannya.”

Imam Abu Daud meriwayatkan hadis ini melalui Syu’bah dan Imam Nasai melalui Sa’id ibnu Abu Arubah, keduanya dari Qatadah dengan sanad yang sama.

Jalur lain.

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abu Kamil, telah menceritakan kepada kami Hammad, dari Sahl ibnu Abu Saleh, dari ayahnya, dari Abu Hurairah r.a.
yang mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda: Tidaklah seseorang memiliki harta simpanan yang tidak ia tunaikan hak (zakat)nya, melainkan hartanya itu akan dijadikan lempengan-lempengan yang dipanggang di neraka Jahanam, lalu disetrikakan pada kening, lambung, dan punggungnya, hingga Allah menyelesaikan keputusan (peradilan)-Nya di antara hamba-hamba-Nya dalam sehari yang kadarnya lima puluh ribu tahun menurut perhitungan kalian.
Kemudian ia melihat jalan yang akan ditempuhnya, adakalanya ke surga dan adakalanya ke neraka.

Hadis selanjutnya menyebutkan perihal ternak kambing dan ternak unta, seperti hadis yang di atas.
Dan dalam riwayat ini disebutkan:

Kuda itu mempunyai tiga akibat, adakalanya bagi seseorang membawa pahala, adakalanya bagi seseorang menjadi penutup, dan adakalanya bagi seseorang mengakibatkan dosa.
hingga akhir hadis.

Imam Muslim meriwayatkannya secara munfarid tanpa Imam Bukhari di dalam kitab sahihnya dengan lengkap melalui hadis Suhail, dari ayahnya, dari Abu Hurairah.
Dan untuk perincian jalur-jalur dan lafaz-lafaz hadis ini terdapat di dalam kitab zakat dari ilmu fiqih.

Tujuan utama pengemukaan hadis ini dalam tafsir ini ialah karena di dalam hadis terdapat kalimat yang mengatakan:

Hingga Allah menyelesaikan keputusan (peradilan)-Nya di antara hamba-hamba-Nya dalam sehari yang kadarnya lima puluh ribu tahun.

Ibnu Jarir telah meriwayatkan dari Ya’qub, dari Ibnu Aliyyah dan Abdul Wahhab, dari Ayyub, dari Ibnu Abu Mulaikah yang mengatakan bahwa pernah-seseorang bertanya kepada Ibnu Abbas tentang makna firman Allah subhanahu wa ta’ala: dalam sehari yang kadarnya lima puluh ribu tahun.
(Q.S. Al-Ma’aarij [70]: 4)

Maka Ibnu Abbas menjawab, “Tiada suatu hari yang kadarnya sama dengan lima puluh ribu tahun.” Lelaki itu merasa direndahkan, lalu ia berkata, “‘Sesungguhnya aku bertanya kepadamu tiada lain agar engkau menceritakan hadis yang menerangkannya.” Maka Ibnu Abbas menjawab, “Keduanya (hari dunia dan hari akhirat) adalah kedua jenis hari yang disebutkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala Allah lebih mengetahui tentang keduanya, dan aku tidak suka bila mengatakan tentang Kitabullah dengan hal yang tidak kuketahui.”


Informasi Surah Al Ma'aarij (المعارج)
Surat ini terdiri atas 44 ayat, termasuk golongan surat-surat Makkiyyah, diturunkan sesudah surat Al Haaqqah.

Perkataan “Al Ma’aarij” yang menjadi nama bagi surat ini adalah kata jamak dari ”Mi’raj”,
diambil dari perkataan Al Ma’aarij yang terdapat pada ayat 3, yang artinya menurut bahasa “tempat naik”.
Sedang para ahli tafsir memberi arti berrnacam-macam, di antaranya ialah “langit”,
ni’mat karunia dan derajat atau tingkatan yang diberikan Allah subhanahu wa ta’ala kepada ahli surga.

Keimanan:

Perintah bersabar kepada Nabi Muhammad ﷺ dalam menghadapi ejekan-ejekan dan keingkaran orang-orang kafir,
kejadian-kejadian pada hari kiamat
azab Allah tak dapat dihindarkan dengan tebusan apapun,
sifat-sifat manusia yang mendorongnya ke api neraka
amal-amal perbuatan yang dapat membawa manusia ke martabat yang tinggi
peringatan Allah akan mengganti kaum yang durhaka dengan kaum yang lebih baik.

Ayat-ayat dalam Surah Al Ma'aarij (44 ayat)

Audio

Qari Internasional

Q.S. Al-Ma'aarij (70) ayat 4 - Oleh Syekh Mishari Alafasy
Q.S. Al-Ma'aarij (70) ayat 4 - Oleh Syekh Sa'ad Al-Ghamidi
Q.S. Al-Ma'aarij (70) ayat 4 - Oleh Syekh Muhammad Ayyub

Q.S. Al-Ma'arij (70) ayat 1-44 - Wirda Mansur (Bahasa Indonesia)
Q.S. Al-Ma'arij (70) ayat 1-44 - Wirda Mansur (Bahasa Arab)

Murottal al-Qur'an & Terjemahan Indonesia
Q.S. Al-Ma'aarij - Oleh Syekh Misyari Rasyid Alafasy
Full ayat 1 sampai 44 & Terjemahan


Gambar



Statistik Q.S. 70:4
  • Rating RisalahMuslim

Ayat ini terdapat dalam surah Al Ma'aarij.

Surah Al-Ma'arij (Arab: المعارج , "Tempat-Tempat Naik") adalah surah ke-70 dalam al-Qur'an.
Surah ini tergolong surah Makkiyah yang terdiri atas 44 ayat.
Dinamakan Al Ma’aarij yang berarti tempat naik diambil dari perkataan Al Ma’aarij yang terdapat pada ayat ke 3 surat ini.
Para ahli tafsir memberikan beberapa penafsiran mengenai hal ini di antaranya langit, nikmat karunia dan derajat atau tingkatan yang diberikan Allah s.w.t kepada ahli surga.

Nomor Surah 70
Nama Surah Al Ma'aarij
Arab المعارج
Arti Tempat naik
Nama lain Sa'ala dan Waqi', Sa'ala sailun
Tempat Turun Mekkah
Urutan Wahyu 79
Juz Juz 28
Jumlah ruku' 2 ruku'
Jumlah ayat 44
Jumlah kata 217
Jumlah huruf 972
Surah sebelumnya Surah Al-Haqqah
Surah selanjutnya Surah Nuh
4.6
Ratingmu: 4.4 (10 orang)
Sending

URL singkat: risalahmuslim.id/70-4







Pembahasan ▪ tafsir al maarij 4

Iklan

Video

Panggil Video Lainnya


Ikuti RisalahMuslim
               





Copied!

Masukan & saran kirim ke email:
[email protected]

Made with in Yogyakarta