QS. Al Lail (Malam) – surah 92 ayat 17 [QS. 92:17]

وَ سَیُجَنَّبُہَا الۡاَتۡقَی
Wasayujannabuhaal atqa;

Dan kelak akan dijauhkan orang yang paling takwa dari neraka itu,
―QS. 92:17
Topik ▪ Iman ▪ Keutamaan Iman ▪ Ayat yang berhubungan dengan Akhnas bin Syariq al Thaqofi
92:17, 92 17, 92-17, Al Lail 17, AlLail 17, Al-Lail 17

Tafsir surah Al Lail (92) ayat 17

Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. Al Lail (92) : 17. Oleh Kementrian Agama RI

Sebaliknya adalah orang yang takwa, yaitu orang yang memberikan kekayaannya untuk membantu orang lain untuk menyucikan dirinya.
Orang yang takwa itu akan terjauh dari neraka.
Contoh orang yang paling takwa adalah Abu Bakar as-siddiq yang telah menggunakan seluruh kekayaannya untuk memerdekakan orang-orang lemah dan perempuan-perempuan yang masuk Islam dan membantu mereka.

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Dan orang yang sangat takut untuk bersikap ingkar dan berbuat maksiat yang menafkahkan hartanya di jalan kebaikan untuk menyucikannya dari kotoran kekikiran akan dijauhkan dari api neraka.

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(Dan kelak akan dijauhkan dari neraka itu) dihindarkan daripadanya (orang yang bertakwa) demikian pula lafal Al-Atqaa, sekalipun menunjukkan makna Tafdhil, tetapi makna yang dimaksud adalah At-Taqiyyu, yakni orang yang bertakwa.

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

Dan kelak akan dijauhkan orang yang paling takwa dari neraka itu.
(Q.S. Al-Lail [92]: 17)

Yakni kelak akan dijauhkan dari neraka orang yang bertakwa dan orang yang paling bertakwa, kemudian dijelaskan oleh firman berikutnya siapa yang dimaksud dengan orang yang bertakwa itu:

(yaitu) yang menafkahkan hartanya (di jalan Allah) untuk membersihkannya.
(Q.S. Al-Lail [92]: 18)

Yaitu membelanjakan hartanya untuk jalan ketaatan kepada Tuhannya, untuk mensucikan dirinya, hartanya dan segala apa yang dikaruniakan oleh Allah kepadanya berupa agama dan dunia.

padahal tidak ada seorangpun memberikan suatu nikmat kepadanya yang harus dibalasnya.
(Q.S. Al-Lail [92]: 19)

Maksudnya, pembelanjaan yang dikeluarkannya itu bukanlah untuk membalas jasa kebaikan yang pernah diberikan oleh orang lain kepadanya, melainkan dia mengeluarkannya hanya semata-mata.

tetapi semata-mata karena mencari keridaan Tuhannya Yang Mahatinggi.
(Q.S. Al-Lail [92]: 20)

Yakni hanyalah semata-mata karena mengharapkan untuk dapat melihat Allah di negeri akhirat di dalam taman-taman surga.
Lalu disebutkan dalam firman berikutnya:

Dan kelak dia benar-benar mendapat kepuasan.
(Q.S. Al-Lail [92]: 21)

Artinya, orang yang menyandang sifat-sifat ini niscaya akan mendapat kepuasan.
Banyak kalangan ulama tafsir menyebutkan bahwa ayat-ayat ini diturunkan berkenaan dengan Abu Bakar As-siddiq r.a.
sehingga sebagian dari mereka ada yang meriwayatkannya sebagai suatu kesepakatan di kalangan ulama tafsir.

Dan memang tidak diragukan lagi dia termasuk ke dalamnya.
sebagaimana termasuk pula ke dalam pengertiannya seluruh umat ini bila ditinjau dari pengertian umumnya, mengingat lafaznya memakai lafaz yang mengandung pengertian umum, yaitu firman Allah subhanahu wa ta’ala:

Dan kelak akan dijauhkan orang yang paling takwa dari neraka itu, (yaitu orang) yang menafkahkan hartanya (di jalan Allah) untuk membersihkan dirinya, padahal tidak ada seorangpun memberikan suatu nikmat kepadanyayang harus dibalasnya.
(Q.S. Al-Lail [92]: 17-19)

Akan tetapi, Abu Bakar r.a.
merupakan orang yang diprioritaskan dari kalangan umat ini, dan dia adalah pendahulu mereka dalam menyandang sifat-sifat ini dan sifat-sifat terpuji lainnya.
Dia adalah seorang yang berpredikat siddiq, bertakwa, mulia, lagi dermawan, banyak membelanjakan hartanya di jalan ketaatan kepada Allah subhanahu wa ta’ala dan menolong Rasul-Nya.

Berapa banyak uang dinar dan dirham yang telah dibelanjakan Abu Bakar demi mengharapkan rida Tuhannya Yang Mahamulia, padahal tiada seorang pun yang berjasa baginya hingga perlu untuk ia balas jasanya itu dengan imbalan pemberian.
Bahkan kemurahan dan kebaikannya juga menyentuh para pemimpin, dan orang-orang yang terhormat dari kalangan berbagai kabilah.

Karena itulah Urwah ibnu Mas’ud pemimpin Bani Saqif ketika terjadi Perjanjian Hudaibiyah mengatakan kepada Abu Bakar, “Ingatlah, demi Allah, seandainya saja aku tidak teringat akan jasamu padaku yang masih belum terbalaskan, tentulah aku akan meladenimu,” tersebutlah bahwa Abu Bakar r.a.
bersikap kasar terhadapnya dalam menyambutnya.
Untuk itu apabila keadaan Abu Bakar sangat disegani di kalangan para penghulu orang Arab dan para pemimpinnya, maka terlebih lagi orang-orang yang selain mereka, lebih segan kepadanya karena kebaikan dan kedermawanannya.
Karena itulah maka disebutkan oleh firman-Nya:

Padahal tidak ada seorangpun memberikan suatu nikmat kepadanya yang harus dibalasnya, tetapi (dia memberikan itu semata-mata) karena mencari keridaan Tuhannya Yang Mahatinggi.
(Q.S. Al-Lail [92]: 19-20)

Di dalam hadis sahihain disebutkan bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda:

Barang siapa yang membelanjakan sepasang barang dijalan Allah, maka para malaikat penjaga surga memanggilnya, “Hai hamba Allah, inilah yang baik.” Maka Abu bakar bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah merupakan suatu keharusan bagi seseorang (yang masuk surga) dipanggil dari pintunya, dan apakah ada seseorang yang dipanggil dari semua pintu surga (untuk memasukinya)?”
Rasulullah ﷺ menjawab: Ya ada, dan aku berharap semoga engkau termasuk seseorang dari mereka (yang dipanggil masuk surga dari semua pintunya).


Kata Pilihan Dalam Surah Al Lail (92) Ayat 17

ATQAA
أَتْقَى

Lafaz ini adalah dalam bentuk isim at tafdil (superlatif), berasal dari at taqwa atau dari kata kerja waqaya yang bermakna menjaga, menghalang dari kesakitan, takut dan kuatir.

Ungkapan ma atqahu lilllaah maknanya “yang paling takut kepada Allah atau alangkah takutnya ia kepada Allah.”

Ia juga bermakna ketaatan dan ibadah, meninggalkan kemaksiatan dan kehinaan.

Al Qurtubi berkata,
“Lafaz atqaa bermakna al muttaqi atau al kha’if (yang takut) atau at ­taqiy seperti kata akbar yang bermakna kabir.”

Kata atqaa disebut dua kali di dalam Al Qur’an yaitu dalam surah:
-Al Lail (92), ayat 17,
-Al Hujurat (49), ayat 13.

Dalam surah Al Hujurat, Al Qurtubi berkata,
“Ayat ini menunjukkan ketakwaan adalah perkara yang dijaga di sisi Allah dan rasul Nya, bukan harta dan keturunan.”

ASy Syawkani berkata,
“Sesungguhnya perbedaan antara kamu adalah dengan takwa. Barang siapa yang memakainya, maka dia berhak dimuliakan dan lebih baik daripada orang yang tidak mernakainya.”

Adapun dalam surah Al Lail, lafaz atqaa mengandung makna takut, atau Abu Bakar, sebagaimana yang diriwayatkan dari Ibn ‘Abbas.

Ibn Katsir berkata,
“Para mufassir hampir sependapat ayat ini diturunkan kepada Abu Bakar sebagaimana pendapat Asy Syawkani.”

Al Wahidi meriwayatkan orang yang mendengar Ibn Az Zubair sedang ia berkhutbah di atas mimbar dan berkata,
Abu Bakar membeli hamba yang lemah, lalu membebaskannya, ayahnya berkata kepadanya, “Wahai anakku, sebaiknya engkau membeli siapa yang melindungi belakangmu. Beliau berkata,
“Aku tidak menginginkan sesiapa yang melindungi belakangku.” maka turunlah ayat di atas hingga akhirnya”

Kesimpulannya, lafaz atqaa mengandung dua maksud yang saling terkait.

Pertama, bermakna orang yang paling bertakwa sebagaimana pengertiannya dalam surah Al Hujurat.

Kedua, bermakna Abu Bakar, karena ayat itu diturunkan kepada Abu Bakar.

Walau bagaimanapun, kedua makna itu saling berkaitan, di mana Abu Bakar adalah seorang yang paling bertakwa dan jujur. Maka, makna umum dari lafaz itu ialah orang yang paling bertakwa.

Sumber : Kamus Al Qur’an, PTS Islamika SDN. BHD.Hal:83

Informasi Surah Al Lail (اليل)
Surat Al Lail terdiri atas 21 ayat, termasuk golongan surat-surat Makkiyyah diturunkan sesudah surat Al A’laa.

Surat ini dinamai “Al Lail” (malam), diambil dari perkataan “Al Lail” yang terdapat pada ayat pertama surat ini.

Keimanan:

Usaha manusia itu berlainan, karena itu balasannya berlainan pula
orang yang suka berderma, bertakwa dan membenarkan adanya pahala yang baik dimudahkan Allah baginya melakukan kebaikan yang membawa kepada kebahagiaan di akhirat, tetapi orang yang dimudahkan Allah baginya melakukan kejahatan-kejahatan yang membawa kepada kesengsaraan di akhirat, harta benda tidak akan memberi manfaat kepadanya
orang yang bakhil merasa dirinya cukup dan mendustakan adanya pahala yang baik.

Lain-lain:

Usaha manusia itu berlainan, karena itu balasannya berlainan pula
orang yang suka berderma, bertakwa dan membenarkan adanya pahala yang baik dimudahkan Allah baginya melakukan kebaikan yang membawa kepada kebahagiaan di akhirat, tetapi orang yang dimudahkan Allah baginya melakukan kejahatan-kejahatan yang membawa kepada kesengsaraan di akhirat, harta benda tidak akan memberi manfaat kepadanya
orang yang bakhil merasa dirinya cukup dan mendustakan adanya pahala yang baik.

Ayat-ayat dalam Surah Al Lail (21 ayat)

Audio

Qari Internasional

Q.S. Al-Lail (92) ayat 17 - Oleh Syekh Mishari Alafasy
Q.S. Al-Lail (92) ayat 17 - Oleh Syekh Sa'ad Al-Ghamidi
Q.S. Al-Lail (92) ayat 17 - Oleh Syekh Muhammad Ayyub

Q.S. Al-Lail (92) ayat 1-21 - Karissa Sakyakirti (Bahasa Indonesia)
Q.S. Al-Lail (92) ayat 1-21 - Karissa Sakyakirti (Bahasa Arab)

Murottal al-Qur'an & Terjemahan Indonesia
Q.S. Al-Lail - Oleh Syekh Misyari Rasyid Alafasy
Full ayat 1 sampai 21 & Terjemahan


Gambar



Statistik Q.S. 92:17
  • Rating RisalahMuslim

Ayat ini terdapat dalam surah Al Lail.

Surah Al-Lail (bahasa Arab:الّيل, al-Layl, "Malam") adalah surah ke-92 dalam al-Qur'an.
Surah ini terdiri atas 21 ayat, termasuk golongan surah Makkiyah, diturunkan sesudah Surah Al-A’la.
Surat ini dinamai Al Lail (malam), diambil dari perkataan Al Lail yang terdapat pada ayat pertama surat ini.

Nomor Surah 92
Nama Surah Al Lail
Arab اليل
Arti Malam
Nama lain -
Tempat Turun Mekkah
Urutan Wahyu 9
Juz Juz 30
Jumlah ruku' 1 ruku'
Jumlah ayat 21
Jumlah kata 71
Jumlah huruf 316
Surah sebelumnya Surah Asy-Syams
Surah selanjutnya Surah Ad-Duha
4.6
Ratingmu: 4.4 (20 orang)
Sending









Iklan

Video

Panggil Video Lainnya


Podcast

Ikuti RisalahMuslim
               





Copied!

Masukan & saran kirim ke email:
[email protected]

Made with in Yogyakarta