QS. Al Kahfi (Penghuni-penghuni Gua) – surah 18 ayat 86 [QS. 18:86]

حَتّٰۤی اِذَا بَلَغَ مَغۡرِبَ الشَّمۡسِ وَجَدَہَا تَغۡرُبُ فِیۡ عَیۡنٍ حَمِئَۃٍ وَّ وَجَدَ عِنۡدَہَا قَوۡمًا ۬ؕ قُلۡنَا یٰذَا الۡقَرۡنَیۡنِ اِمَّاۤ اَنۡ تُعَذِّبَ وَ اِمَّاۤ اَنۡ تَتَّخِذَ فِیۡہِمۡ حُسۡنًا
Hatta idzaa balagha maghribasy-syamsi wajadahaa taghrubu fii ‘ainin hami-atin wawajada ‘indahaa qauman qulnaa yaa dzaal qarnaini immaa an tu’adz-dziba wa-immaa an tattakhidza fiihim husnan;

Hingga apabila dia telah sampai ketempat terbenam matahari, dia melihat matahari terbenam di dalam laut yang berlumpur hitam, dan dia mendapati di situ segolongan umat.
Kami berkata:
“Hai Dzulkarnain, kamu boleh menyiksa atau boleh berbuat kebaikan terhadap mereka.
―QS. 18:86
Topik ▪ Kisah-kisah ▪ Kisah Zulqarnain ▪ Sifat ahli neraka dan kejahatan mereka
18:86, 18 86, 18-86, Al Kahfi 86, AlKahfi 86, Al-Kahf 86

Tafsir surah Al Kahfi (18) ayat 86

Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. Al Kahfi (18) : 86. Oleh Kementrian Agama RI

Ayat ini menjelaskan bahwa Zulkarnain menempuh jalan ke arah Barat.
Setelah dia menempuh jalan itu, maka sampailah ia ke ujung bumi sebelah barat di mana kelihatan matahari terbenam seolah-olah masuk ke dalam lautan Atlantik.
Di mana dia melihat matahari terbenam di dalam laut yang tampak kehitam-hitaman seperti lumpur.
Dia telah melalui negeri Tunis dan Maroko dan sampailah ke pantai Afrika sebelah barat, dan di sana menjumpai beberapa kaum kafir.
Allah telah menyuruhnya untuk memilih di antara dua hal, yaitu menyiksa mereka dengan pertumpahan darah atau mengajak mereka supaya beriman kepada Allah.
Yang demikian ini dijelaskan dalam firman Allah yang disampaikan kepada Zulkarnain secara ilham.
Zulkarnain disuruh supaya membunuh mereka jika mereka tidak mau mengakui Keesaan Allah dan tidak mau tunduk kepada ajakannya, atau mengajarkan kepada mereka petunjuk-petunjuk sehingga mereka mengenal hukum dan syariat agama dengan penuh keyakinan.

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Ia berjalan ke arah barat sampai tiba di suatu tempat yang sangat jauh.
Ia melihat matahari terbenam di suatu tempat mata air yang berair panas dan mengandung tanah hitam.
Di dekat mata air itu, Dzu al-Qarnain mendapatkan suatu kaum yang kafir.
Kemudian Allah memberikan ilham kepadanya untuk mengambil salah satu dari dua sikap dalam menghadapi mereka:
mengajak mereka beriman–suatu hal yang baik jika mereka menerimanya–atau memerangi mereka jika tidak memenuhi seruan orang yang mengajak beriman.

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(Hingga apabila dia telah sampai ke tempat terbenamnya matahari) tempat matahari terbenam (dia melihat matahari terbenam di dalam laut yang berlumpur hitam) pengertian terbenamnya matahari di dalam laut hanyalah berdasarkan pandangan mata saja, karena sesungguhnya matahari jauh lebih besar daripada dunia atau bumi (dan dia mendapati di situ) di laut itu (segolongan umat) yang kafir (Kami berkata, “Hai Zulkarnain!) dengan melalui ilham (Kamu boleh menyiksa) kaum itu dengan cara membunuh mereka (atau boleh berbuat kebaikan terhadap mereka)” dengan hanya menawan mereka.

Tafsir al-Muyassar
Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:

Hingga ketika Dzulqarnain sampai ke tempat terbenam matahari, dia melihat matahari, menurut pandangan mata, seakan ia terbenam di mata air panas yang berlumpur hitam, dan dia mendapati suatu kaum di tempat terbenamnya itu.
Kami berkata :
Hai Dzulqarnain, kamu boleh menyiksa mereka dengan pembunuhan atau selainnya, jika mereka tetap tidak mengakui keesaan Allah.
Atau kamu boleh berbuat kebaikan kepada mereka, dengan mengajarkan kebenaran dan menunjukkan jalan yang lurus kepada mereka.

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

Hingga apabila dia telah sampai ke tempat terbenamnya matahari.

Artinya, Zulqarnain menempuh suatu jalan hingga sampailah perjalanan­nya itu ke ufuk barat bagian bumi, yakni belahan bumi yang ada di barat.
Adapun pengertian yang menjurus ke arah bahwa dia sampai ke tempat terbenamnya matahari yang ada di langit, maka hal ini mustahil.
Sedangkan apa yang disebut-sebut oleh para pendongeng dan tukang cerita yang menyebutkan bahwaZulqarnain berjalan selama suatu masa di bumi, sedangkan matahari terbenam di belakangnya, kisah ini adalah dongeng belaka, tidak ada kenyataannya.
Kebanyakan kisah tersebut bersumber dari mitos atau dongengan kaum Ahli Kitab yang penuh dengan hal-hal yang mungkar dan kedustaan.

Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

…dia melihat matahari terbenam di dalam laut yang berlumpur hitam.

Yakni menurut pandangan matanya ia melihat matahari tenggelam di lautan.
Demikianlah halnya setiap orang yang sampai di suatu pantai, akan melihat seakan-akan terbenam di dalamnya.
Padahal matahari itu sendiri tidak pernah meninggalkan garis edar yang telah ditetapkan baginya

Hami-ah berakar dari kata al-hama-ah menurut salah satu di antara dua qiraat (dialek) mengenainya, artinya lumpur hitam, seperti pengertian yang terdapat di dalam firman-Nya:

Sesungguhnya Aku akan menciptakan seorang manusia dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk.
(Al Hijr:28)

Yaitu tanah liat yang halus, seperti yang telah diterangkan dalam babnya.

Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepadaku Yunus, telah menceritakan kepada kami Ibnu Wabh, telah menceritakan kepada kami Nafi’ ibnu Na’im, ia pernah mendengar Abdur Rahman Al-A’raj berkata bahwa Ibnu Abbas pernah mengatakan sehubungan dengan makna ayat ini, bahwa makna ayat ini ialah matahari itu terbenam di dalam laut yang berlumpur hitam.
Kemudian ia menafsirkannya, bahwa air laut itu berwarna hitam.

Nafi’ mengatakan bahwa Ka’b Al-Ahbar pernah ditanya tentang makna ayat ini.
Maka dia menjawab, “Kalian (orang Arab) lebih mengetahui tentang Al-Qur’an daripada diriku.
Tetapi aku menjumpai keterangan di dalam kitab (terdahulu) ku, bahwa matahari itu terbenam ke dalam lumpur yang berwarna hitam.” Hal yang sama telah diriwayatkan bukan hanya oleh seorang saja dari Ibnu Abbas.
Pendapat inilah yang dipegang oleh Mujahid dan lain-lainnya yang bukan hanya seorang.

Abu Daud At-Tayalisi mengatakan telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Dinar, dari Sa’ad ibnu Aus, dari Musadda’, dari Ibnu Abbas, dari Ubay ibnu Ka’b, bahwa Nabi ﷺ membacakan ayat ini kepadanya dengan bunyi Hami-ah.

Ali ibnu AbuTalhah telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas, bahwa Zulqarnain melihat matahari itu terbenam di dalam laut yang airnya panas.
Hal yang sama telah dikatakan oleh Al-Hasan Al-Basri.

Ibnu Jarir mengatakan, hal yang benar ialah bahwa kedua pendapat tersebut bersumber dari dua qiraat yang terkenal, yakni Hami-ah dan Hamiyah, mana saja yang dipilih bacaannya benar.

Menurut pendapat kami, kedua pendapat tidak bertentangan dari segi maknanya, karena air laut itu bisa jadi airnya panas mengingat berada di dekat panas matahari saat tenggelamnya, sebab sinar matahari langsung mengenainya tanpa penghalang.
Makna hami-ah ialah di dalam air laut yang berlumpur hitam.
Sama seperti yang dikatakan oleh Ka’bul Ahbar dan lain-lainnya.

Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnul Musanna, telah menceritakan kepada kami Yazid ibnu Harun, telah menceritakan kepada kami Al-Awwam, telah menceritakan kepadaku seorang bekas budak Abdullah ibnu Amr, dari Abdullah yang telah mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ memandang ke arah matahari yang sedang terbenam, lalu bersabda: Tenggelam di dalam api Allah yang sangat panas, seandainya tidak dikendalikan oleh perintah Allah, tentulah panas matahari ini dapat membakar semua yang ada di permukaan bumi.

Hadis ini telah diriwayatkan pula oleh Imam Ahmad Yazid ibnu Harun, tetapi kesahihan predikat marfu’ hadis ini masih diragukan.
Barangkali hal ini bersumber dari perkataan Abdullah ibnu Amr yang berasal dari kedua teman wanitanya yang ia jumpai dalam perang Yarmuk.
Hanya Allah-lah yang mengetahui kebenarannya.

Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Hajjaj ibnu Hamzah, telah menceritakan kepada kami Muhammad (yakni Ibnu Bisyr), telah menceritakan kepada kami Amr ibnu Maimun, telah menceritakan kepada kami Ibnu Hadir, Ibnu Abbas pernah menceritakan kepadanya bahwa Mu’awiyah ibnu Abu Sufyan membaca suatu ayat dalam surat Al-Kahfi, yaitu firman-Nya dengan bacaan berikut:

…terbenam di dalam laut yang panas (airnya).
Maka Ibnu Abbas berkata kepada Mu’awiyah, “Kami membacanya hanya dengan bacaan hami-ah (bukan Hamiyah).” Hami-ah artinya berlumpur hitam, sedangkan hamiyah berarti yang panas airnya.
Mu’awiyah bertanya kepada Abdullah ibnu ‘Amr, “Bagaimanakah menurut bacaanmu?”
Abdullah ibnu ‘Amr menjawab, “Saya membacanya seperti bacaanmu.”

Ibnu Abbas melanjutkan kisahnya, bahwa lalu ia berkata kepada Mu’awiyah, “Al-Qur’an diturunkan di dalam rumahku.” Maka ia mengirimkan utusan kepada Ka’b untuk menanyakan, “Di manakah matahari terbenam menurut berita yang kamu jumpai di dalam kitab Taurat?”
Ka’b menjawabnya, “Tanyakanlah kepada ahli bahasa Arab, karena sesungguhnya mereka lebih mengetahui maknanya.
Tetapi sesungguhnya saya menjumpai keterangan di dalam kitab Taurat, bahwa matahari terbenam di dalam laut yang berlumpur.” Seraya mengisyaratkan tangannya ke arah ufuk barat.”

Ibnu Hadir berkata (kepada Ibnu Abbas), “Seandainya aku berada di sisimu (saat itu), tentulah aku akan memberikan keterangan kepadamu yang menambah informasi buatmu tentang makna hami-ah.” Ibnu Abbas bertanya, “Kalau begitu, apakah informasimu itu?”.

Ibnu Hadir berkata bahwa menurut syair peninggalan zaman dahulu dari kaum Tubba’ yang menceritakan kisah Zulqarnain, seorang raja yang berilmu lagi disiplin dengan ilmu pengetahuannya, disebutkan:

Dia telah mencapai belahan timur dan barat dengan menempuh semua jalan menuju kesuksesannya dengan bijaksana dan kebaikan.

Maka ia menyaksikan matahari tenggelam di belahan barat, matahari tenggelam di laut yang berlumpur hitam lagi panas.

Ibnu Abbas bertanya, “Apakah yang dimaksud dengan khalab?”
Ibnu Hadir menjawab, “Tanah liat atau lumpur.” Ibnu Abbas bertanya,”Apakah yang dimaksud dengan satin?”
Ibnu Hadir menjawab, “Panas.” Ibnu Abbas bertanya,”Apakah yang dimaksud dengan hurmud?’.
Ibnu Hadir menjawab,”Berwarna hitam.”

Maka Ibnu Abbas memanggil seorang lelaki atau seorang pemuda, lalu berkata, “Catatlah apa yang dikatakan oleh lelaki ini (Ibnu Hadir).”

Sa’id ibnu Jubair mengatakan bahwa ketika Ibnu Abbas sedang membaca surat Al-Kahfi, yaitu sampai pada firman-Nya: dia melihat matahari tenggelam di dalam laut yang berlumpur hitam.
(Al Kahfi:86) Maka Ka’b berkata, “Demi Tuhan yang jiwa Ka’b ini berada di dalam genggaman kekuasaan-Nya, aku belum pernah mendengar seseorang mem­bacanya seperti apa yang diturunkan di dalam kitab Taurat selain dari Ibnu Abbas.
Karena sesungguhnya kami menjumpainya di dalam kitab Taurat disebutkan bahwa matahari tenggelam di dalam lumpur yang hitam.”

Abu Ya’la Al-Mausuli mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ishaq ibnu Israil, telah menceritakan kepada kami Hisyam ibnu Yusuf yang telah mengatakan sehubungan dengan pendapat Ibnu Juraij tentang makna firman-Nya:

…dan dia mendapati di situ segolongan umat.
Kaum itu tinggal di sebuah kota yang memiliki dua ribu pintu, seandainya tidak ada suara penghuni tempat itu, tentulah manusia dapat mendengar suara gemuruh matahari saat tenggelamnya (di lumpur hitam itu).

Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

…dan dia mendapati di situ segolongan umat.

Yakni segolongan umat manusia, yang menurut sahibul hikayat disebutkan bahwa mereka adalah umat yang besar dari kalangan Bani Adam.

Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

…Kami berkata, “Hai Zulkarnain, kamu boleh menyiksa atau boleh berbuat kebaikan terhadap mereka.”

Dengan kata lain, Allah subhanahu wa ta’ala telah menjadikan Zulqarnain menang atas mereka, berkuasa atas mereka, dan mereka tunduk patuh di bawah kekuasaannya.
Jika Zulqarnain menghendaki mereka dibunuh, ia dapat membunuh atau menahan mereka.
Dan jika dia menghendaki mereka dibebaskan atau dengan tebusan, ia dapat melakukannya pula menurut apa yang dikehendakinya.
Dan ternyata prinsip keadilan dan imannya yang mendalam dapat diketahui melalui sikapnya yang adil dan bijaksana terhadap mereka, seperti yang disebutkan oleh firman-Nya:

Adapun orang yang aniaya.
(Al Kahfi:87)

Yaitu orang yang tetap dalam kekafiran dan kemusyrikannya terhadap Tuhannya.


Informasi Surah Al Kahfi (الكهف)
Surat ini terdiri atas 110 ayat, termasuk golongan surat-surat Makkiyyah.

Dinamai “Al Kahfi” artinya “Gua ” dan “Ashhabul Kahfi” yang artinya:
“Penghuni-penghuni gua”.
Kedua nama ini diambil dari cerita yang terdapat dalam surat ini pada ayat 9 sampai dengan 26, tentang bebe­rapa orang pemuda yang tidur dalam gua bertahun-tahun lamanya.

Selain cerita tersebut, ter­dapat pula beberapa buah cerita dalam surat ini, yang kesemuanya mengandung i’tibar dan pe­lajaran yang amat berguna bagi kehidupan manusia.
Banyak hadist-hadist Rasulullah ﷺ yang menyatakan keutamaan membaca surat ini.

Keimanan:

Kekuasaan Allah subhanahu wa ta’ala untuk memberi daya hidup pada manusia diluar hukum kebiasaan
dasar-dasar Tauhid serta keadilan Allah subhanahu wa ta’ala tidak berobah untuk se­lama-lamanya
kalimat-kalimat Allah (imu-Nya) amat luas sekali, meliputi segala sesuatu, sehingga manusia tidak mampu buat menulisnya
kepastian datangnya hari berbangkit
Al Qur’an adalah kitab suci yang isinya bersih dari kekacauan dan kepalsuan

Hukum:

Dasar hukum wakalah (berwakil)
larangan membangun tempat ibadah di atas kubur
hukum membaca “Insya Allah”
perbuatan salah yang dilakukan karena lupa adalah dima’afkan
kebolehan merusak suatu barang untuk menghindarkan bahaya yang lebih besar.

Kisah:

Cerita Ashabul kahfi
cerita dua orang laki-laki yang seorang kafir dan yang lain­nya mu’min
cerita Nabi Musa a.s. dengan Khidhr a.s.
cerita Dzulqarnain dengan Ya’juj dan Ma’juj.

Lain-lain:

Beberapa pelajaran yang dapat diambil dari cerita-cerita dalam surat ini antara lain tentang kekuatan iman kepada Allah subhanahu wa ta’ala serta ibadah yang ikhlas kepada­ Nya
kesungguhan seseorang dalam mencari guru (ilmu)
adab sopan-santun antara murid dengan guru
dan beberapa contoh tentang cara memimpin dan memerin­tah rakyat, serta perjuangan untuk mencapai kebahagiaan rakyat dan negara.

Audio

Qari Internasional

Q.S. Al-Kahfi (18) ayat 86 - Oleh Syekh Mishari Alafasy
Q.S. Al-Kahfi (18) ayat 86 - Oleh Syekh Sa'ad Al-Ghamidi
Q.S. Al-Kahfi (18) ayat 86 - Oleh Syekh Muhammad Ayyub

Murottal al-Qur'an & Terjemahan Indonesia
Q.S. Al-Kahfi - Oleh Syekh Misyari Rasyid Alafasy
Full ayat 1 sampai 110 & Terjemahan


Gambar



Statistik Q.S. 18:86
  • Rating RisalahMuslim

Ayat ini terdapat dalam surah Al Kahfi.

Surah Al-Kahf (bahasa Arab:الكهف, al-Kahf, "Gua") disebut juga Ashabul Kahf adalah surah ke-18 dalam Al-Qur'an.
Surah ini terdiri atas 110 ayat, termasuk golongan surah-surah Makkiyah.
Dinamai Al-Kahf dan Ashabul Kahf yang artinya Penghuni-Penghuni Gua.
Kedua nama ini diambil dari cerita yang terdapat dalam surah ini pada ayat 9 sampai dengan 26, tentang beberapa orang pemuda (The Seven Sleepers) yang tidur dalam gua bertahun-tahun lamanya.
Selain cerita tersebut, terdapat pula beberapa cerita dalam surat ini, yang kesemuanya mengandung pelajaran-pelajaran yang berguna untuk kehidupan manusia.
Terdapat beberapa hadits Rasulullah ﷺ yang menyatakan keutamaan membaca surah ini.

Dalam surat ini terdapat titik tengah Al-Qur'an yang membelah isi Al-Qur'an menjadi dua bagian.

Nomor Surah18
Nama SurahAl Kahfi
Arabالكهف
ArtiPenghuni-penghuni Gua
Nama lainAl-Hāila, Ashabul Khaf
(Penghuni-Penghuni Gua)
Tempat TurunMekkah
Urutan Wahyu69
JuzJuz 15 (1-74) sampai juz 16 (ayat 75-110)
Jumlah ruku'0
Jumlah ayat110
Jumlah kata1589
Jumlah huruf6550
Surah sebelumnyaSurah Al-Isra'
Surah selanjutnyaSurah Maryam
4.9
Ratingmu: 4.3 (21 orang)
Sending







Pembahasan ▪ Quran surah 18 ayat 86 ▪ surah q18 ayat 86

Video

Panggil Video Lainnya

RisalahMuslim di