QS. Al Kahfi (Penghuni-penghuni Gua) – surah 18 ayat 76 [QS. 18:76]

قَالَ اِنۡ سَاَلۡتُکَ عَنۡ شَیۡءٍۭ بَعۡدَہَا فَلَا تُصٰحِبۡنِیۡ ۚ قَدۡ بَلَغۡتَ مِنۡ لَّدُنِّیۡ عُذۡرًا
Qaala in saaltuka ‘an syai-in ba’dahaa falaa tushaahibnii qad balaghta min ladunnii ‘udzran;

Musa berkata:
“Jika aku bertanya kepadamu tentang sesuatu sesudah (kali) ini, maka janganlah kamu memperbolehkan aku menyertaimu, sesungguhnya kamu sudah cukup memberikan uzur padaku”.
―QS. 18:76
Topik ▪ Kisah-kisah ▪ Kisah nabi Khidir as. ▪ Hanya Allah yang mendatangkan manfaat dan marabahaya
18:76, 18 76, 18-76, Al Kahfi 76, AlKahfi 76, Al-Kahf 76

Tafsir surah Al Kahfi (18) ayat 76

Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. Al Kahfi (18) : 76. Oleh Kementrian Agama RI

Musa berkata: “Kalau sekiranya aku bertanya lagi kepadamu tentang suatu perbuatanmu yang aneh-aneh itu yang telah aku saksikan karena aku ingin mengetahui hikmahnya bukan untuk sekadar bertanya saja, maka jika aku bertanya lagi sesudah kali ini, maka janganlah kamu mengizinkan aku lagi, karena kamu sudah cukup memberikan maaf kepadaku.
Inilah kata-kata Musa yang penuh dengan penyesalan yang terpaksa beliau mengakuinya dan menginsafinya.

Diriwayatkan dalam suatu hadis yang sahih bahwa Nabi Muhammad ﷺ bersabda tentang keadaan Nabi Musa itu sebagai berikut: Semoga Allah memberi rahmat kepada kita dan kepada Musa.
Seandainya beliau sabar, tentu beliau banyak menyaksikan keajaiban tentang ilmu hakikat, akan tetapi karena beliau merasa malu untuk menghadapi celaan lagi maka beliau berkata: “Kalau sekiranya aku bertanya lagi kepadamu tentang sesuatu sesudah kali ini, maka janganlah kamu memperbolehkan aku menyertaimu.
Sesungguhnya kamu sudah cukup memberi maaf kepadaku”.

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Musa menjawab, “Kalau aku masih bertanya lagi setelah ini nanti, tinggalkanlah aku.
Jangan kau temani aku.
Kamu telah sampai pada batas alasan boleh meninggalkan aku.”

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

Oleh sebab itu maka (berkatalah Musa, “Jika aku bertanya kepadamu tentang sesuatu sesudah ini) sesudah kali ini (maka janganlah kamu menemani aku lagi) artinya janganlah kamu mengikuti aku lagi (sesungguhnya kamu telah cukup memberikan kepadaku) dapat dibaca Ladunii atau Ladunnii, artinya dari pihakku (udzur”) alasan agar aku berpisah denganmu.

Tafsir al-Muyassar
Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:

Musa berkata kepadanya :
Jika aku bertanya kepadamu tentang sesuatu sesudah kali ini, maka tinggalkanlah aku dan jangan perbolehkan aku menyertaimu lagi.
Sungguh kamu sudah cukup memberikan uzur berkenaan dengan urusanku, dan kamu tidak melalaikan hal itu; yaitu kamu telah menyampaikan kepadaku bahwa aku tidak akan sangggup bersabar bersamamu.

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

Khidir berkata, “Bukankah sudah kukatakan kepadamu bahwa sesungguhnya kamu tidak akan dapat sabar bersamaku.”

Jawaban ini merupakan pengukuhan terhadap syarat pertama yang telah diajukan.
Karena itulah Musa mengatakan:

Jika aku bertanya kepadamu tentang sesuatu sesudah (kali ) ini.

Yakni sesudah kali ini jika saya menanyakan sesuatu lagi kepadamu.

…maka janganlah kamu memperbolehkan aku menyertaimu, sesungguhnya kamu sudah cukup memberikan uzur kepadaku.

Maksudnya, saya sudah memberi maaf kepadamu, dan itu sudah cukup.

Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abdullah ibnu Ziyad, telah menceritakan kepada kami Hajjaj ibnu Muhammad, dari Hamzah Az-Zayyat, dari Abu Ishaq, dari Sa’id ibnu Jubair, dari Ibnu Abbas, dari Ubay ibnu Ka’b yang mengatakan bahwa Nabi ﷺ apabila menyebut seseorang, lalu beliau berdoa untuknya, maka doanya itu dimulainya untuk dirinya sendiri.
Dan pada suatu hari Nabi ﷺ bersabda: Semoga rahmat Allah terlimpahkan untuk kita dan untuk Musa, seandainya dia tetap bersama temannya itu, tentulah dia akan banyak menyaksikan hal-hal yang menakjubkan.
Akan tetapi, sangat disayangkan Musa mengatakan, “Jika aku bertanya kepadamu tentang sesuatu sesudah (kali) ini, maka janganlah kamu memperbolehkan aku menyertaimu, sesungguhnya kamu sudah cukup memberikan uzur kepadaku.”


Informasi Surah Al Kahfi (الكهف)
Surat ini terdiri atas 110 ayat, termasuk golongan surat-surat Makkiyyah.

Dinamai “Al Kahfi” artinya “Gua ” dan “Ashhabul Kahfi” yang artinya:
“Penghuni-penghuni gua”.
Kedua nama ini diambil dari cerita yang terdapat dalam surat ini pada ayat 9 sampai dengan 26, tentang bebe­rapa orang pemuda yang tidur dalam gua bertahun-tahun lamanya.

Selain cerita tersebut, ter­dapat pula beberapa buah cerita dalam surat ini, yang kesemuanya mengandung i’tibar dan pe­lajaran yang amat berguna bagi kehidupan manusia.
Banyak hadist-hadist Rasulullah ﷺ yang menyatakan keutamaan membaca surat ini.

Keimanan:

Kekuasaan Allah subhanahu wa ta’ala untuk memberi daya hidup pada manusia diluar hukum kebiasaan
dasar-dasar Tauhid serta keadilan Allah subhanahu wa ta’ala tidak berobah untuk se­lama-lamanya
kalimat-kalimat Allah (imu-Nya) amat luas sekali, meliputi segala sesuatu, sehingga manusia tidak mampu buat menulisnya
kepastian datangnya hari berbangkit
Al Qur’an adalah kitab suci yang isinya bersih dari kekacauan dan kepalsuan

Hukum:

Dasar hukum wakalah (berwakil)
larangan membangun tempat ibadah di atas kubur
hukum membaca “Insya Allah”
perbuatan salah yang dilakukan karena lupa adalah dima’afkan
kebolehan merusak suatu barang untuk menghindarkan bahaya yang lebih besar.

Kisah:

Cerita Ashabul kahfi
cerita dua orang laki-laki yang seorang kafir dan yang lain­nya mu’min
cerita Nabi Musa a.s. dengan Khidhr a.s.
cerita Dzulqarnain dengan Ya’juj dan Ma’juj.

Lain-lain:

Beberapa pelajaran yang dapat diambil dari cerita-cerita dalam surat ini antara lain tentang kekuatan iman kepada Allah subhanahu wa ta’ala serta ibadah yang ikhlas kepada­ Nya
kesungguhan seseorang dalam mencari guru (ilmu)
adab sopan-santun antara murid dengan guru
dan beberapa contoh tentang cara memimpin dan memerin­tah rakyat, serta perjuangan untuk mencapai kebahagiaan rakyat dan negara.

Audio

Qari Internasional

Q.S. Al-Kahfi (18) ayat 76 - Oleh Syekh Mishari Alafasy
Q.S. Al-Kahfi (18) ayat 76 - Oleh Syekh Sa'ad Al-Ghamidi
Q.S. Al-Kahfi (18) ayat 76 - Oleh Syekh Muhammad Ayyub

Murottal al-Qur'an & Terjemahan Indonesia
Q.S. Al-Kahfi - Oleh Syekh Misyari Rasyid Alafasy
Full ayat 1 sampai 110 & Terjemahan


Gambar



Statistik Q.S. 18:76
  • Rating RisalahMuslim

Ayat ini terdapat dalam surah Al Kahfi.

Surah Al-Kahf (bahasa Arab:الكهف, al-Kahf, "Gua") disebut juga Ashabul Kahf adalah surah ke-18 dalam Al-Qur'an.
Surah ini terdiri atas 110 ayat, termasuk golongan surah-surah Makkiyah.
Dinamai Al-Kahf dan Ashabul Kahf yang artinya Penghuni-Penghuni Gua.
Kedua nama ini diambil dari cerita yang terdapat dalam surah ini pada ayat 9 sampai dengan 26, tentang beberapa orang pemuda (The Seven Sleepers) yang tidur dalam gua bertahun-tahun lamanya.
Selain cerita tersebut, terdapat pula beberapa cerita dalam surat ini, yang kesemuanya mengandung pelajaran-pelajaran yang berguna untuk kehidupan manusia.
Terdapat beberapa hadits Rasulullah ﷺ yang menyatakan keutamaan membaca surah ini.

Dalam surat ini terdapat titik tengah Al-Qur'an yang membelah isi Al-Qur'an menjadi dua bagian.

Nomor Surah18
Nama SurahAl Kahfi
Arabالكهف
ArtiPenghuni-penghuni Gua
Nama lainAl-Hāila, Ashabul Khaf
(Penghuni-Penghuni Gua)
Tempat TurunMekkah
Urutan Wahyu69
JuzJuz 15 (1-74) sampai juz 16 (ayat 75-110)
Jumlah ruku'0
Jumlah ayat110
Jumlah kata1589
Jumlah huruf6550
Surah sebelumnyaSurah Al-Isra'
Surah selanjutnyaSurah Maryam
4.5
Ratingmu: 4.9 (11 orang)
Sending









Video

Panggil Video Lainnya

RisalahMuslim di  





Email: [email protected]
Made with in Yogyakarta