QS. Al Kahfi (Penghuni-penghuni Gua) – surah 18 ayat 71 [QS. 18:71]

فَانۡطَلَقَا ٝ حَتّٰۤی اِذَا رَکِبَا فِی السَّفِیۡنَۃِ خَرَقَہَا ؕ قَالَ اَخَرَقۡتَہَا لِتُغۡرِقَ اَہۡلَہَا ۚ لَقَدۡ جِئۡتَ شَیۡئًا اِمۡرًا
Faanthalaqaa hatta idzaa rakibaa fiissafiinati kharaqahaa qaala akharaqtahaa litughriqa ahlahaa laqad ji-ata syai-an imran;

Maka berjalanlah keduanya, hingga tatkala keduanya menaiki perahu lalu Khidhr melobanginya.
Musa berkata:
“Mengapa kamu melobangi perahu itu akibatnya kamu menenggelamkan penumpangnya?”
Sesungguhnya kamu telah berbuat sesuatu kesalahan yang besar.
―QS. 18:71
Topik ▪ Kisah-kisah ▪ Kisah nabi Khidir as. ▪ Allah memiliki Sifat Kalam (berfirman)
18:71, 18 71, 18-71, Al Kahfi 71, AlKahfi 71, Al-Kahf 71

Tafsir surah Al Kahfi (18) ayat 71

Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. Al Kahfi (18) : 71. Oleh Kementrian Agama RI

Dalam ayat ini Allah mengisahkan, bahwa keduanya (Nabi Musa dan Al Khidir) telah berjalan di tepi pantai untuk mencari sebuah kapal, dan kemudian mendapatkannya.
Maka keduanya menaiki kapal itu dengan tidak membayar upahnya, karena para awak kapal sudah mengenal Al Khidir dan pembebasan upah itu sebagai penghormatan kepadanya.

Maka ketika kapal itu sedang melaju di laut dalam tiba-tiba Al Khidir mengambil kampak lalu melubangi dan merusakkan sekeping papan dinding.
Melihat kejadian seperti itu dengan serta merta Nabi Musa berkata kepada Al Khidir: “Mengapa kamu lubangi perahu itu?
Yang akibatnya dapat menenggelamkan seluruh penumpangnya yang tidak berdosa?
Sungguh kamu telah mendatangkan kerusakan yang dan tidak mensyukuri kebaikan hati para awak kapal yang telah mendatangkan kerusakan yang besar dan tidak mensyukuri kebaikan hati para awak kapal yang telah membebaskan dari sewaan kapal.” Kemudian Nabi Musa mengambil kainnya untuk menyumbat lubang itu.

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Mereka pun kemudian berjalan di tepi pantai lalu menemukan sebuah perahu dan menaikinya.
Tetapi hamba itu lalu membocorkan perahu itu di tengah perjalanan.
Musa tidak dapat menerima kelakuan itu, lalu bertanya, “Apa kamu sengaja membocorkan perahu ini untuk menenggelamkan penumpang- penumpangnya?
Jika demikian, kamu benar-benar telah melakukan sesuatu yang tak layak!”

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(Maka berjalanlah keduanya) menuruti pinggir pantai (hingga tatkala keduanya menaiki perahu) yang lewat pada keduanya (lalu Khidhir melubanginya) dengan cara mencabut satu keping atau dua keping papan yang ada pada bagian lambungnya dengan memakai kapak, sewaktu perahu telah sampai di tengah laut yang ombaknya besar (Musa berkata) kepada Khidir, (“Mengapa kamu melubangi perahu itu yang akibatnya kamu menenggelamkan penumpangnya?) menurut satu qiraat lafal Litughriqa dibaca Litaghraqa, dan lafal Ahlahaa dibaca Ahluhaa.

(Sesungguhnya kamu telah berbuat sesuatu kesalahan yang besar)” yakni kekeliruan yang sangat besar.

Menurut suatu riwayat disebutkan, bahwa air laut tidak masuk ke dalam perahu yang telah dilubanginya itu.

Tafsir al-Muyassar
Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:

Keduanya pun berjalan menyusuri pantai, lalu lewatlah sebuah perahu, dan keduanya meminta kepada para penumpangnya untuk ikut naik bersama mereka.
Ketika keduanya sudah naik, tiba-tiba Khidhir melepas satu papan dari perahu itu lalu melobanginya.
Maka Musa berkata kepadanya :
Apakah kamu melobangi perahu itu dengan maksud untuk menenggelamkan penumpangnya, padahal mereka telah membawa kita dengan tanpa ongkos??
Sungguh kamu telah melakukan perkara yang mungkar.

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Allah menceitakan perihal Musa dan temannya (yaitu Khidir), bahwa keduanya sepakat untuk berjalan bersama, dan Khidir telah menetapkan persyaratannya kepada Musa, yaitu tidak boleh menanyakan sesuatu urusan pun yang dianggap janggal, hingga ia sendirilah yang akan menceri­takan dan menerangkan semuanya kepada Musa.

Keduanya menaiki perahu itu, dalam keterangan yang lalu telah dise­butkan sebagaimana keduanya menaiki perahu.
Disebutkan bahwa para pemilik perahu yang ada di pantai itu telah mengenal Khidir.
Maka mereka membawa keduanya tanpa sepeser ongkos pun karena menghormati Khidir.
Ketika perahu yang mereka tumpangi itu mengarungi bahtera, Khidir bangkit dan melubangi perahu itu, lalu ia mengeluarkan sebuah papan yang ada di perahu itu untuk menambalnya.
Melihat hal itu Musa tidak dapat menahan dirinya lagi untuk bertanya seraya memprotesnya:

Mengapa kamu melubangi perahu itu yang akibatnya kamu menenggelamkan penumpangnya?
(Q.S. Al-Kahfi [18]: 71)

Lam yang ada dalam lafaz litugriqa ini adalah lamul ‘aqibah yang me­nunjukkan makna akibat, bukan lam ta’lil yang menunjukkan makna pe­nyebab atau kausalita.
Huruf lam ini sama dengan huruf lam yang ada di dalam perkataan seorang penyair:

Beranaklah yang akibatnya akan mati, dan bangunlah yang akibatnya akan runtuh.

Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

Sesungguhnya kamu telah berbuat sesuatu kesalahan yang be­sar.
(Q.S. Al-Kahfi [18]: 71)

Mujahid mengatakan bahwa makna yang dimaksud ialah sesuatu yang diingkari.
Qatadah mengatakan, yang dimaksud ialah sesuatu yang aneh.
Maka pada saat itu juga Khidir berkata kepada Musa, mengingatkan akan syarat yang telah disetujuinya:

Bukankah aku telah berkata bahwa sesungguhnya kamu sekali-kali tidak akan sabar bersama dengan aku.
(Q.S. Al-Kahfi [18]: 72)

Dengan kata lain, perbuatan ini sengaja saya lakukan, dan termasuk di antara perkara yang telah ku persyaratkan kepadamu bahwa kamu tidak boleh memprotesnya terhadapku.
Karena sesungguhnya kamu belum mempunyai pengetahuan yang cukup tentang hal ini, padahal perbuatan ini mengandung maslahat yang tidak kamu ketahui.

Musa berkata, “Janganlah kamu menghukum aku karena kealpaanku dan janganlah kamu membebani aku dengan sesuatu kesulitan dalam urusanku.” (Q.S. Al-Kahfi [18]: 73)

Yakni janganlah kamu mempersulit diriku, jangan pula kamu bersikap keras terhadapku.
Karena itulah seperti apa yang telah disebutkan dalam sebuah hadis dari Rasulullah ﷺ yang telah bersabda:

kekeliruan pertama yang dilakukan oleh Musa disebabkan kare­na kealpaannya.


Informasi Surah Al Kahfi (الكهف)
Surat ini terdiri atas 110 ayat, termasuk golongan surat-surat Makkiyyah.

Dinamai “Al Kahfi” artinya “Gua ” dan “Ashhabul Kahfi” yang artinya:
“Penghuni-penghuni gua”.
Kedua nama ini diambil dari cerita yang terdapat dalam surat ini pada ayat 9 sampai dengan 26, tentang bebe­rapa orang pemuda yang tidur dalam gua bertahun-tahun lamanya.

Selain cerita tersebut, ter­dapat pula beberapa buah cerita dalam surat ini, yang kesemuanya mengandung i’tibar dan pe­lajaran yang amat berguna bagi kehidupan manusia.
Banyak hadist-hadist Rasulullah ﷺ yang menyatakan keutamaan membaca surat ini.

Keimanan:

Kekuasaan Allah subhanahu wa ta’ala untuk memberi daya hidup pada manusia diluar hukum kebiasaan
dasar-dasar Tauhid serta keadilan Allah subhanahu wa ta’ala tidak berobah untuk se­lama-lamanya
kalimat-kalimat Allah (imu-Nya) amat luas sekali, meliputi segala sesuatu, sehingga manusia tidak mampu buat menulisnya
kepastian datangnya hari berbangkit
Al Qur’an adalah kitab suci yang isinya bersih dari kekacauan dan kepalsuan

Hukum:

Dasar hukum wakalah (berwakil)
larangan membangun tempat ibadah di atas kubur
hukum membaca “Insya Allah”
perbuatan salah yang dilakukan karena lupa adalah dima’afkan
kebolehan merusak suatu barang untuk menghindarkan bahaya yang lebih besar.

Kisah:

Cerita Ashabul kahfi
cerita dua orang laki-laki yang seorang kafir dan yang lain­nya mu’min
cerita Nabi Musa a.s. dengan Khidhr a.s.
cerita Dzulqarnain dengan Ya’juj dan Ma’juj.

Lain-lain:

Beberapa pelajaran yang dapat diambil dari cerita-cerita dalam surat ini antara lain tentang kekuatan iman kepada Allah subhanahu wa ta’ala serta ibadah yang ikhlas kepada­ Nya
kesungguhan seseorang dalam mencari guru (ilmu)
adab sopan-santun antara murid dengan guru
dan beberapa contoh tentang cara memimpin dan memerin­tah rakyat, serta perjuangan untuk mencapai kebahagiaan rakyat dan negara.

Audio

Qari Internasional

Q.S. Al-Kahfi (18) ayat 71 - Oleh Syekh Mishari Alafasy
Q.S. Al-Kahfi (18) ayat 71 - Oleh Syekh Sa'ad Al-Ghamidi
Q.S. Al-Kahfi (18) ayat 71 - Oleh Syekh Muhammad Ayyub

Murottal al-Qur'an & Terjemahan Indonesia
Q.S. Al-Kahfi - Oleh Syekh Misyari Rasyid Alafasy
Full ayat 1 sampai 110 & Terjemahan


Gambar



Statistik Q.S. 18:71
  • Rating RisalahMuslim

Ayat ini terdapat dalam surah Al Kahfi.

Surah Al-Kahf (bahasa Arab:الكهف, al-Kahf, "Gua") disebut juga Ashabul Kahf adalah surah ke-18 dalam Al-Qur'an.
Surah ini terdiri atas 110 ayat, termasuk golongan surah-surah Makkiyah.
Dinamai Al-Kahf dan Ashabul Kahf yang artinya Penghuni-Penghuni Gua.
Kedua nama ini diambil dari cerita yang terdapat dalam surah ini pada ayat 9 sampai dengan 26, tentang beberapa orang pemuda (The Seven Sleepers) yang tidur dalam gua bertahun-tahun lamanya.
Selain cerita tersebut, terdapat pula beberapa cerita dalam surat ini, yang kesemuanya mengandung pelajaran-pelajaran yang berguna untuk kehidupan manusia.
Terdapat beberapa hadits Rasulullah ﷺ yang menyatakan keutamaan membaca surah ini.

Dalam surat ini terdapat titik tengah Al-Qur'an yang membelah isi Al-Qur'an menjadi dua bagian.

Nomor Surah 18
Nama Surah Al Kahfi
Arab الكهف
Arti Penghuni-penghuni Gua
Nama lain Al-Hāila, Ashabul Khaf
(Penghuni-Penghuni Gua)
Tempat Turun Mekkah
Urutan Wahyu 69
Juz Juz 15 (1-74) sampai juz 16 (ayat 75-110)
Jumlah ruku' 0
Jumlah ayat 110
Jumlah kata 1589
Jumlah huruf 6550
Surah sebelumnya Surah Al-Isra'
Surah selanjutnya Surah Maryam
4.6
Ratingmu: 5 (1 orang)
Sending









Iklan

Video

Panggil Video Lainnya


Ikuti RisalahMuslim
               





Copied!

Email: [email protected]
Made with in Yogyakarta


Ikuti RisalahMuslim