Search
Exact matches only
Cari di judul
Cari di Arti & Tafsir
Search in comments
Search in excerpt
Filter by Custom Post Type
Filter berdasar surah
Pilih atau Semua
Abasa
Ad Dukhaan
Adh Dhuhaaa
Adz Dzaariyaat
Al 'Alaq
Al 'Ashr
Al A'laa
Al A'raaf
Al Aadiyaat
Al Ahqaaf
Al Ahzab
Al An 'aam
Al Anbiyaa
Al Anfaal
Al Ankabut
Al Balad
Al Baqarah
Al Bayyinah
Al Buruuj
Al Fajr
Al Falaq
Al Fath
Al Fatihah
Al Fiil
Al Furqaan
Al Ghaasyiyah
Al Haaqqah
Al Hadid
Al Hajj
Al Hasyr
Al Hijr
Al Hujurat
Al Humazah
Al Ikhlas
Al Infithar
Al Insaan
Al Insyiqaaq
Al Israa
Al Jaatsiyah
Al Jinn
Al Jumu'ah
Al Kaafiruun
Al Kahfi
Al Kautsar
Al Lahab
Al Lail
Al Ma'aarij
Al Maa'idah
Al Maa'un
Al Mu'min
Al Mu'minuun
Al Muddatstsir
Al Mujaadilah
Al Mulk
Al Mumtahanah
Al Munafiquun
Al Mursalat
Al Muthaffifin
Al Muzzammil
Al Qaari'ah
Al Qadr
Al Qalam
Al Qamar
Al Qashash
Al Qiyaamah
Al Waaqi'ah
Al Zalzalah
Alam Nasyrah
Ali Imran
An Naazi'at
An Nabaa
An Nahl
An Najm
An Naml
An Nas
An Nashr
An Nisaa'
An Nuur
Ar Ra'd
Ar Rahmaan
Ar Rum
As Sajdah
Ash Shaff
Ash Shaffaat
Asy Shyuura
Asy Syams
Asy Syu'araa
At Taghaabun
At Tahrim
At Takaatsur
At Takwir
At Taubah
At Tin
Ath Thaariq
Ath Thalaaq
Ath Thuur
Az Zukhruf
Az Zumar
Faathir
Fushshilat
Hud
Ibrahim
Luqman
Maryam
Muhammad
Nuh
Qaaf
Quraisy
Saba
Shaad
Thaa Haa
Yaa Siin
Yunus
Yusuf

💡 Ketik [nomer surah]-[nomer ayat], contoh: 2-255 atau albaqarah 255 atau ke www.risalahmuslim.id/2-255

Al Kahfi

Al Kahfi (Penghuni-penghuni Gua) surah 18 ayat 60


وَ اِذۡ قَالَ مُوۡسٰی لِفَتٰىہُ لَاۤ اَبۡرَحُ حَتّٰۤی اَبۡلُغَ مَجۡمَعَ الۡبَحۡرَیۡنِ اَوۡ اَمۡضِیَ حُقُبًا
Wa-idz qaala muusa lifataahu laa abrahu hatta ablugha majma’al bahraini au amdhiya huquban;

Dan (ingatlah) ketika Musa berkata kepada muridnya:
“Aku tidak akan berhenti (berjalan) sebelum sampai ke pertemuan dua buah lautan, atau aku akan berjalan sampai bertahun-tahun”.
―QS. 18:60
Topik ▪ Fir’aun menyiksa Bani Israel
18:60, 18 60, 18-60, Al Kahfi 60, AlKahfi 60, Al-Kahf 60
Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. Al Kahfi (18) : 60. Oleh Kementrian Agama RI

Dalam ayat ini Allah menceritakan betapa kerasnya hati Nabi Musa as untuk sampai ke suatu tempat bertemunya dua laut.
Berapa tahun dan sampai kapanpun perjalanannya itu harus ditempuh, tidak menjadi soal baginya, asal tempat itu diketemukan dan yang dicari didapat.

Adapun sebab Nabi Musa as demikian keras kemauannya untuk mencari tempat itu ialah karena beliau mendapat teguran dari perintah dan Allah, seperti yang diriwayatkan dalam hadis yang antara lain berbunyi sebagai berikut:

"Bahwasanya Musa as (pada suatu hari berhutbah di hadapan Bani Israil.
Kemudian ada orang bertanya kepada beliau: "Siapakah manusia yang paling alim.
Beliau menjawab: "Aku".
Maka Allah menegurnya karena dia tidak mengembalikan ilmu itu kepada Allah Taala.
Kemudian Allah mewahyukan kepadanya: "Aku mempunyai seorang hamba di tempat pertemuan dua laut yang lebih alim daripadamu".

(H.R.
Bukhari)

Dalam wahyu tersebut Allah menyuruh Nabi Musa agar menemui orang itu dengan membawa seekor ikan dalam kampil, dan di mana saja ikan itu lepas dan hilang di situlah tempatnya orang itu, maka berangkatlah Musa as pergi menemui orang yang disebutkan itu, dan dalam hadis tidak diterangkan di mana tempat itu.

Demikianlah kebulatan tekad yang dimiliki oleh seorang yang berhati dekat dengan Tuhannya.
Dengan tangkas dan giat ia melaksanakan seruan Nya.

Tentang siapakah yang dimaksud dengan Musa dalam ayat ini, siapa pula yang dimaksud dengan "fata" (muridnya) dan siapa yang berada di tempat pertemuan dua laut yang didatangi Musa itu?
Kebanyakan ulama berpendapat bahwa yang dimaksud Musa di sini ialah Nabi Musa bin Imran, Nabi baru Israil yang kepadanya diturunkan Allah kitab Taurat yang berisi syariat yang gemilang dan seorang Nabi yang mempunyai mukjizat-mukjizat yang luar biasa.
Alasan mereka antara lain: Bahwa Musa yang disebut-sebut dalam Alquran ialah Musa yang menerima Kitab Taurat itu.
Sehingga Musa di sinipun tentulah Musa yang membawa Taurat itu pula.
Sebab sekiranya Musa yang lain dimaksudkan di sini, tentulah ada penjelasannya.
Tetapi sebagian ahli hadis dan ahli sejarah mengikuti pendapat ahli kitab yang mengatakan bahwa Musa yang dimaksud di sini ialah Musa Ibnu Misya Ibnu Yusuf Ibnu Yakub.
Yaitu seorang Nabi yang diangkat sebelum Nabi Musa bin Imran.
Alasan mereka antara lain:

1.
Tidaklah masuk akal kalau yang dimaksud dengan Musa di sini ialah Nabi Musa bin Imran.
Sebab beliau adalah seorang Nabi Besar yang telah pernah berbicara langsung dengan Allah dan telah menerima kitab Taurat dari Allah dan telah dapat mengalahkan musuhnya dengan mukjizatnya yang luar biasa, bagaimana mungkin dapat diterima akal, seorang yang luar biasa seperti itu disuruh oleh Allah pergi menemui orang lain karena dia masih harus berguru kepada orang lain.

2.
Musa bin Imran Nabi orang Bani Israil itu setelah keluar dari Mesir dan pergi ke At Tih (Gurun Pasir Sinai) beliau tidak pernah meninggalkan Al Tih itu dan wafat beliaupun di sana.

Akan tetapi alasan-alasan mereka ini dapat dibantah.
Seseorang bagaimanapun tinggi ilmu pengetahuannya, tentu saja masih ada segi kelemahannya.
Nabi Musa tentu demikian pula halnya, tentu pula ada segi kekurangan dan kelemahannya dan pada segi itulah kelebihannya Nabi Khidir dari dia.
Dan inilah yang harus dipelajari oleh Nabi Musa daripadanya, yaitu hal-hal yang diceritakan Allah subhanahu wa ta'ala pada ayat-ayat berikut.

Tentang kepergiannya dari semenanjung Sinai boleh juga tidak diberitahukan kepada Bani Israil, dan Bani Israilpun menyangka kepergian Musa untuk munajat dengan Tuhan dan sekembalinya dari kepergiannya itu Nabi Musa tidak menceritakan peristiwanya dengan Khidir itu karena peristiwa-peristiwa itu boleh jadi mereka belum dapat memahaminya karena itu dipesankan kepada pemuda yang ikut bersama dengannya agar dirahasiakan.

Adapun pemuda yang menyertai Nabi Musa ini bernama Yusa' bin Nun bin Afratim Ibnu Yusuf as.
Dia sebagai pembantu dan muridnya.
Yusa' inilah yang memimpin Bani Israil yang memasuki Palestina di waktu Nabi Musa telah meninggal dunia.

Di dalam ayat ini Allah telah memberikan contoh tentang kesopanan menurut ajaran Islam.
Yaitu untuk memanggil bujangnya atau pembantu rumah tangganya dengan sebutan fata (pemuda) bagi bujang lelaki, dan fatat bagi pembantu perempuan.
Nabi Muhammad ﷺ pernah bersabda yang

Kalau salah seorang di antaramu memanggil pembantunya, hendaklah dengan sebutan fataya atau fataty" dan jangan memanggil dengan sebutan hambaku.

Adapun orang yang hendak dijumpai oleh Nabi Musa as bernama Balya bin Malkan.
Kebanyakan para ahli tafsir menjulukinya dengan sebutan Al Khidir.
Mereka juga berpendapat bahwa beliau seorang Nabi dengan alasan firman Allah subhanahu wa ta'ala:

"....yang telah Kami berikan kepadanya rahmat dari sisi Kami, dan yang telah Kami ajarkan kepadanya ilmu dari sisi Kami.
Musa berkata kepada Khidir: "Bolehkah aku mengikutimu supaya kamu mengajarkan ilmu yang benar di antara ilmu-ilmu yang telah diajarkan kepadamu?".

(Q.S.
Al Kahfi: 65-66)

Yang dimaksud dengan rahmat di sini ialah wahyu kenabian.
Sebab sambungan (akhir) ayat ini menyebutkan ramah itu langsung diajarkan dari sisi Allah tanpa perantara.
Padahal yang berhak menerima seperti itu hanyalah Nabi.
Lagi pula dalam ayat berikutnya disebutkan supaya (Nabi) Al Khidir mengajarkan ilmu yang benar kepada Nabi Musa Padahal tidak ada Nabi yang belajar kepada bukan Nabi.
Bahkan pada ayat 82 juga disebutkan:

Dan bukanlah aku (Al Khidir) melakukan itu menurut kemauanku sendiri.

Yaitu setelah Nabi Musa dan Yusa' mengikuti beliau, beliau melakukan aneh-aneh yang tidak masuk akal.
Tetapi, waktu Nabi Musa bertanya kepadanya, demikianlah jawabannya.
Ini berarti bahwa tindakan beliau itu adalah berdasarkan wahyu dari Allah, dan ini adalah suatu bukti yang kuat bagi kenabiannya.

Dari uraian-uraian di atas dapat diambil kesimpulan dan pelajaran bahwa rendah hati itu mempunyai nilai yang jauh lebih baik dari pada sombong.

Al Kahfi (18) ayat 60 - dibacakan oleh Shaykh Mishari Alafasy Al Kahfi (18) ayat 60 - dibacakan oleh Syaikh Sa'ad Al-Ghamidi Al Kahfi (18) ayat 60 - dibacakan oleh Syaikh Muhammad Ayyub

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Ilmu Allah tidak dapat diketahui oleh siapa pun.
Kendatipun demikian, Allah dapat memberikan sebagian ilmu-Nya kepada seorang nabi atau seorang yang saleh.
Ingatlah, wahai Muhammad, ketika Musa ibn 'Imran berkata kepada anak muda (pembantunya dan sekaligus juga muridnya), "Aku masih akan terus berjalan sampai batas pertemuan dua laut, atau berjalan dalam waktu panjang."

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(Dan) ingatlah (ketika Musa berkata) Nabi Musa adalah anak lelaki Imran (kepada muridnya) yang bernama Yusya bin Nun, ia selalu mengikutinya dan menjadi pelayannya serta mengambil ilmu daripadanya, ("Aku tidak akan berhenti) artinya, aku akan terus berjalan (sebelum sampai ke pertemuan dua buah lautan) tempat bertemunya Laut Romawi dan laut Persia dari sebelah Timurnya, yakni tempat bertemunya kedua lautan tersebut (atau aku akan berjalan sampai bertahun-tahun)" selama bertahun-tahun untuk mencapainya sekalipun jauh.

Tafsir al-Muyassar
Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:

Ingatlah ketika Musa berkata kepada pembantunya, Yusya” bin Nun :
Aku akan terus berjalan hingga mencapai pertemuan dua buah lautan, atau aku akan berjalan dalam waktu yang lama hingga bertemu seorang hamba yang shalih, agar aku bisa belajar darinya ilmu yang tidak aku miliki.

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Murid Nabi Musa ini adalah Yusya' ibnu Nun.
Latar belakang kisah ini bermula ketika diceritakan kepada Musa bahwa ada seorang hamba Allah yang tinggal di tempat bertemunya dua laut, dia memiliki ilmu yang tidak dimiliki oleh Musa.
Maka Musa berkeinginan untuk berangkat mene­muinya.
Untuk itulah Musa berkata kepada muridnya:

Aku tidak akan berhenti.

Maksudnya, aku akan terus berjalan.

...sebelum sampai ke pertemuan dua buah lautan.

Yakni di tempat tersebut yang padanya bertemu dua laut.

Qatadah dan lain-lainnya yang bukan hanya seorang mengatakan bahwa kedua laut tersebut adalah Laut Persia yang berada di sebelah timurnya, dan Laut Romawi yang berada di sebelah baratnya.

Muhammad ibnu Ka'b Al-Qurazi mengatakan, yang dimaksud dengan tempat bertemunya dua laut­an ini ialah yang berada di Tanjah, terletak di bagian paling ujung dari ne­geri Magrib (Maroko).
Hanya Allah yang lebih mengetahui tempat yang sebenarnya.

Firman Allah subhanahu wa ta'ala:

...atau aku akan berjalan sampai bertahun-tahun.

Yakni sekalipun saya harus berjalan bertahun-tahun.

Ibnu Jarir mengata­kan, sebagian dari kalangan ulama bahasa Arab mengatakan bahwa al-huqub menurut dialek Bani Qais artinya satu tahun.

Dan Ibnu Jarir te­lah meriwayatkan pula dari Abdullah ibnu Amr yang mengatakan bahwa al-huqub artinya delapan puluh tahun.

Mujahid mengatakan bahwa al-huqub artinya tujuh puluh musim gugur (tahun).

Ali ibnu Abu Talhah telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas sehubungan dengan firman-Nya:

...atau aku akan berjalan sampai bertahun-tahun.
Bahwa yang dimaksud dengan al-huqub ialah satu tahun.

Hal yang sa­ma telah dikatakan oleh Qatadah dan Ibnu Zaid.

Informasi Surah Al Kahfi (الكهف)
Surat ini terdiri atas 110 ayat, termasuk golongan surat-surat Makkiyyah.

Dinamai "Al Kahfi" artinya "Gua " dan "Ashhabul Kahfi" yang artinya:
"Penghuni-penghuni gua".
Kedua nama ini diambil dari cerita yang terdapat dalam surat ini pada ayat 9 sampai dengan 26, tentang bebe­rapa orang pemuda yang tidur dalam gua bertahun-tahun lamanya.

Selain cerita tersebut, ter­dapat pula beberapa buah cerita dalam surat ini, yang kesemuanya mengandung i'tibar dan pe­lajaran yang amat berguna bagi kehidupan manusia.
Banyak hadist-hadist Rasulullah ﷺ yang menyatakan keutamaan membaca surat ini.

Keimanan:

Kekuasaan Allah subhanahu wa ta'ala untuk memberi daya hidup pada manusia diluar hukum kebiasaan
dasar-dasar Tauhid serta keadilan Allah subhanahu wa ta'ala tidak berobah untuk se­lama-lamanya
kalimat-kalimat Allah (imu-Nya) amat luas sekali, meliputi segala sesuatu, sehingga manusia tidak mampu buat menulisnya
kepastian datangnya hari berbangkit
Al Qur'an adalah kitab suci yang isinya bersih dari kekacauan dan kepalsuan

Hukum:

Dasar hukum wakalah (berwakil)
larangan membangun tempat ibadah di atas kubur
hukum membaca "Insya Allah"
perbuatan salah yang dilakukan karena lupa adalah dima'afkan
kebolehan merusak suatu barang untuk menghindarkan bahaya yang lebih besar.

Kisah:

Cerita Ashabul kahfi
cerita dua orang laki-laki yang seorang kafir dan yang lain­nya mu'min
cerita Nabi Musa a.s. dengan Khidhr a.s.
cerita Dzulqarnain dengan Ya'juj dan Ma'juj.

Lain-lain:

Beberapa pelajaran yang dapat diambil dari cerita-cerita dalam surat ini antara lain tentang kekuatan iman kepada Allah subhanahu wa ta'ala serta ibadah yang ikhlas kepada­ Nya
kesungguhan seseorang dalam mencari guru (ilmu)
adab sopan-santun antara murid dengan guru
dan beberapa contoh tentang cara memimpin dan memerin­tah rakyat, serta perjuangan untuk mencapai kebahagiaan rakyat dan negara.


Gambar Kutipan Surah Al Kahfi Ayat 60 *beta

Surah Al Kahfi Ayat 60



Statistik
  • Rating RisalahMuslim

Surah Al Kahfi

Surah Al-Kahf (bahasa Arab:الكهف, al-Kahf, "Gua") disebut juga Ashabul Kahf adalah surah ke-18 dalam Al-Qur'an.
Surah ini terdiri atas 110 ayat, termasuk golongan surah-surah Makkiyah.
Dinamai Al-Kahf dan Ashabul Kahf yang artinya Penghuni-Penghuni Gua.
Kedua nama ini diambil dari cerita yang terdapat dalam surah ini pada ayat 9 sampai dengan 26, tentang beberapa orang pemuda (The Seven Sleepers) yang tidur dalam gua bertahun-tahun lamanya.
Selain cerita tersebut, terdapat pula beberapa cerita dalam surat ini, yang kesemuanya mengandung pelajaran-pelajaran yang berguna untuk kehidupan manusia.
Terdapat beberapa hadits Rasulullah ﷺ yang menyatakan keutamaan membaca surah ini.

Dalam surat ini terdapat titik tengah Al-Qur'an yang membelah isi Al-Qur'an menjadi dua bagian.

Nomor Surah 18
Nama Surah Al Kahfi
Arab الكهف
Arti Penghuni-penghuni Gua
Nama lain Al-Hāila, Ashabul Khaf
(Penghuni-Penghuni Gua)
Tempat Turun Mekkah
Urutan Wahyu 69
Juz Juz 15 (1-74) sampai juz 16 (ayat 75-110)
Jumlah ruku' 0
Jumlah ayat 110
Jumlah kata 1589
Jumlah huruf 6550
Surah sebelumnya Surah Al-Isra'
Surah selanjutnya Surah Maryam
4.7
Rating Pembaca: 4.9 (9 votes)
Sending








Anda perlu login mengelola Bookmark.

📖 Lihat Semua Bookmark-ku