Search
Generic filters
Filter by Custom Post Type
Filter berdasar surah
Pilih atau Semua
Abasa
Ad Dukhaan
Adh Dhuhaaa
Adz Dzaariyaat
Al 'Alaq
Al 'Ashr
Al A'laa
Al A'raaf
Al Aadiyaat
Al Ahqaaf
Al Ahzab
Al An 'aam
Al Anbiyaa
Al Anfaal
Al Ankabut
Al Balad
Al Baqarah
Al Bayyinah
Al Buruuj
Al Fajr
Al Falaq
Al Fath
Al Fatihah
Al Fiil
Al Furqaan
Al Ghaasyiyah
Al Haaqqah
Al Hadid
Al Hajj
Al Hasyr
Al Hijr
Al Hujurat
Al Humazah
Al Ikhlas
Al Infithar
Al Insaan
Al Insyiqaaq
Al Israa
Al Jaatsiyah
Al Jinn
Al Jumu'ah
Al Kaafiruun
Al Kahfi
Al Kautsar
Al Lahab
Al Lail
Al Ma'aarij
Al Maa'idah
Al Maa'un
Al Mu'min
Al Mu'minuun
Al Muddatstsir
Al Mujaadilah
Al Mulk
Al Mumtahanah
Al Munafiquun
Al Mursalat
Al Muthaffifin
Al Muzzammil
Al Qaari'ah
Al Qadr
Al Qalam
Al Qamar
Al Qashash
Al Qiyaamah
Al Waaqi'ah
Al Zalzalah
Alam Nasyrah
Ali Imran
An Naazi'at
An Nabaa
An Nahl
An Najm
An Naml
An Nas
An Nashr
An Nisaa'
An Nuur
Ar Ra'd
Ar Rahmaan
Ar Rum
As Sajdah
Ash Shaff
Ash Shaffaat
Asy Shyuura
Asy Syams
Asy Syu'araa
At Taghaabun
At Tahrim
At Takaatsur
At Takwir
At Taubah
At Tin
Ath Thaariq
Ath Thalaaq
Ath Thuur
Az Zukhruf
Az Zumar
Faathir
Fushshilat
Hud
Ibrahim
Luqman
Maryam
Muhammad
Nuh
Qaaf
Quraisy
Saba
Shaad
Thaa Haa
Yaa Siin
Yunus
Yusuf

💡 Langsung kunjungi https://risalahmuslim.id/2-255 atau cari dengan ketik nomer_surah:nomer_ayat. Contoh: 2:255

Al Kahfi

Al Kahfi (Penghuni-penghuni Gua) surah 18 ayat 50


وَ اِذۡ قُلۡنَا لِلۡمَلٰٓئِکَۃِ اسۡجُدُوۡا لِاٰدَمَ فَسَجَدُوۡۤا اِلَّاۤ اِبۡلِیۡسَ ؕ کَانَ مِنَ الۡجِنِّ فَفَسَقَ عَنۡ اَمۡرِ رَبِّہٖ ؕ اَفَتَتَّخِذُوۡنَہٗ وَ ذُرِّیَّتَہٗۤ اَوۡلِیَآءَ مِنۡ دُوۡنِیۡ وَ ہُمۡ لَکُمۡ عَدُوٌّ ؕ بِئۡسَ لِلظّٰلِمِیۡنَ بَدَلًا
Wa-idz qulnaa lilmalaa-ikatiisjuduu li-aadama fasajaduu ilaa ibliisa kaana minal jinni fafasaqa ‘an amri rabbihi afatattakhidzuunahu wadzurrii-yatahu auliyaa-a min duunii wahum lakum ‘aduu-wun bi-asa li-zhzhaalimiina badalaa;

Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat:
“Sujudlah kamu kepada Adam, maka sujudlah mereka kecuali Iblis.
Dia adalah dari golongan jin, maka ia mendurhakai perintah Tuhannya.
Patutkah kamu mengambil dia dan turanan-turunannya sebagai pemimpin selain daripada-Ku, sedang mereka adalah musuhmu?
Amat buruklah iblis itu sebagai pengganti (dari Allah) bagi orang-orang yang zalim.
―QS. 18:50
Topik ▪ Penciptaan ▪ Keangkuhan iblis dan perlawanannya ▪ Keingkaran dan kedurhakaan orang kafir
18:50, 18 50, 18-50, Al Kahfi 50, AlKahfi 50, Al-Kahf 50
Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. Al Kahfi (18) : 50. Oleh Kementrian Agama RI

Sesudah menerangkan nasib-nasib orang yang kafir dan berdosa pada hari kiamat, dan bahwa sumber dari kekafiran itu ialah kesombongan mereka, maka pada ayat ini Allah subhanahu wa ta'ala menerangkan kekafiran Iblis dan kedurhakaannya kepada perintah Tuhan yang juga disebabkan kesombongannya.
Seluruh malaikat taat kepada perintah Tuhan agar sujud kepada Adam, kecuali iblis dia menolak perintah itu.
Malaikat yang tabiatnya ialah taat kepada Allah termasuk makhluk gaib, tidak seorangpun yang mengetahui hakikatnya.
Menurut penjelasan Alquran malaikat itu ada golongan-golongannya.
Tiap-tiap golongan itu ada tugasnya masing-masing.
Menurut agama Islam, bahwa yang memberi ilham kepada manusia untuk cenderung kepada kebenaran dan kebaikan itu adalah malaikat, sebagaimana yang terjadi pad kisah Maryam as.

Sedangkan yang menggoda dan mengadakan was-was kepada manusia ialah setan.
Dia ingin mendorong manusia berbuat kejahatan, sebagaimana firman Allah subhanahu wa ta'ala:

Setan menjanjikan (menakut-nakuti) kamu dengan kemiskinan dan menyuruh kamu berbuat kejahatan (kikir).
(Q.S.
Al Baqarah: 268)

Malaikat dan setan keduanya adalah makhluk rohani.
Mereka punya hubungan dengan kehidupan kejiwaan manusia.
Bagaimana sifat hubungan itu tidaklah diketahui.
Dalam kegiatan jiwa manusia sering terjadi pertentangan atau perjuangan antara dua dorongan.
Ada dorongan menjurus kepada kebenaran dan kebaikan di satu pihak, dan ada pula dorongan menjurus kepada kebatilan dan kejahatan di pihak lain.
Kemudian terjadi proses memilih dalam jiwa manusia di antara dua golongan itu.
Pada taraf memilih di antara dua golongan inilah malaikat dan setan mengambil peranan.
Iman dan akal sesungguhnya merupakan kekuatan malaikat pada diri manusia.
Dengan kekuatan dorongan yang menuntun kepada jalan kebenaran dan jalan kebaikan.
Sedang keingkaran kepada Tuhan merupakan kekuatan setan pada diri manusia, dan kekuatan inilah yang mendorong manusia untuk memilih jalan kebatilan dan kejahatan.
Besar atau kecilnya masing masing kekuatan adalah relatif pada diri manusia.
Dua kekuatan itu sebagai disebutkan selalu bertentangan dalam diri manusia dan saling kalah mengalahkan.
Hanya dengan hidayah Allah-lah maka kekuatan iman pada seseorang manusia tidak terkalahkan oleh kekuatan setan, pada setiap saat dari hidupnya.
Semua malaikat sujud kepada Adam as sebagai penghormatan kepadanya.
Tetapi iblis enggan menaati perintah Tuhan agar sujud kepada Adam as, bahkan dia menyombongkan diri.
Apakah sebabnya iblis itu menyombongkan diri?
Siapakah iblis itu sebenarnya?
Sesungguhnya dia tidak mau sujud kepada Adam as, adalah karena dia berbeda dengan malaikat-malaikat.
Iblis dari golongan jin, yang tinggal bersama-sama dengan jutaan malaikat dan mempunyai sifat-sifat seperti malaikat, tetapi dia bukan golongan malaikat.
Sedangkan tabiat malaikat adalah taat dan patuh kepada Tuhan.

Demikian pula kejadiannya berbeda dengan kejadian malaikat.
Malaikat diciptakan dari cahaya, sedangkan jin diciptakan dari lidah api.

Firman Allah subhanahu wa ta'ala:

Dan Dia menciptakan jin dari nyala api.
(Q.S.
Ar Rahman: 5)

Sabda Rasulullah ﷺ:

Malaikat diciptakan dari cahaya, dan jin diciptakan dari lidah api.
(H.R.
Muslim dari Aisyah r.a.
Lihat Ibnu Kasir)

Menurut iblis unsur api lebih tinggi dari unsur tanah.
Karena Adam' dibuat dari unsur tanah, maka dia merasa hina bilamana disuruh sujud dan hormat kepada Adam as sebagai yang diceritakan Allah dalam firman-Nya:

"Apakah yang menghalangimu untuk bersujud (kepada Adam) di waktu Aku menyuruhmu?"
Menjawab Iblis: "Saya Lebih baik daripadanya; Engkau ciptakan saya dari api sedang dia Engkau ciptakan dari tanah".

(Q.S.
Al A'raf: 12)

Karena iblis tidak mau sujud kepada Adam maka dia menjadi fasik.
Artinya tidak taat kepada perintah Tuhan.
Keluarnya iblis dari ketaatan ini ada kemungkinan disebabkan isi perintah Tuhan tersebut berlawanan dengan jalan pikirannya.
Jadi dia hanya keberatan untuk sujud kepada Adam, bukanlah dia menentang Tuhan dalam segala Perintah-Nya hanya bakatnya suka membangkang dan selalu melakukan perlawanan sesuai dengan dasar kejadian dari lidah api.
Ada kemungkinan bahwa yang menyebabkan dia dipandang fasik ialah karena dia melawan perintah Tuhan.

Sesudah menjelaskan kefasikan iblis, Tuhan memperingatkan umat manusia agar mereka jangan sampai menempatkan iblis dan juga keturunannya sebagai pemimpin, karena mereka adalah musuh manusia dan musuh Tuhan.
Banyak riwayat riwayat, baik yang datang dari Nabi Muhammad ﷺ, maupun dari sahabat yang menunjukkan iblis dan keturunannya (setan) terus-menerus berkembang-biak dan melarang umat manusia mengikutinya.
Setan bertebaran di muka bumi ini untuk menggoda manusia.
Hanya manusia yang lalim yang tunduk kepada godaan setan dan menjadikan mereka sebagai pemimpin dan pelindung untuk mengatasi azab Allah.
Sungguh setan itu seburuk-buruk makhluk Allah maka dikatakan lalim ialah karena Allah subhanahu wa ta'ala telah menurunkan rahmat dan kenikmatan kepada mereka sejak Adam as, mereka tinggalkan dan mereka pilih pengarahan setan sebagai gantinya.

Al Kahfi (18) ayat 50 - dibacakan oleh Shaykh Mishari Alafasy Al Kahfi (18) ayat 50 - dibacakan oleh Syaikh Sa'ad Al-Ghamidi Al Kahfi (18) ayat 50 - dibacakan oleh Syaikh Muhammad Ayyub

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Wahai Rasul, ingatkan saat awal penciptaan diri mereka dari tanah.
Tidak ada yang patut mereka banggakan.
Tidak ada alasan yang membenarkan untuk tunduk kepada Iblis, musuh leluhur mereka, karena Iblis adalah dari golongan jin yang sombong dan membangkang kepada Allah.
Bagaimana kalian menjadikan Iblis dan keturunannya sebagai penolong selain Allah, setelah kalian mengerti bahwa Iblis itu adalah musuh kalian.
Alangkah buruknya perbuatan itu, perbuatan orang-orang yang menganiaya diri sendiri dan menuruti kemauan setan.

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(Dan ingatlah ketika) lafal Idz dinashabkan oleh lafal Udzkur yang tidak disebutkan (Kami berfirman kepada para Malaikat, "Sujudlah kalian kepada Adam)" dengan cara membungkukkan badan sebagai tanda penghormatan kepadanya, bukan dengan cara meletakkan kening (maka sujudlah mereka kecuali iblis, dia adalah segolongan dari jin) menurut suatu pendapat dikatakan bahwa iblis itu adalah sejenis malaikat.
Berdasarkan pengertian ini maka istitsnanya adalah Muttashil.
Menurut pendapat yang lain Istitsna ini adalah Munqathi'.
Berdasarkan pengertian ini maka iblis adalah biang jin, ia mempunyai keturunan yang telah disebutkan sebelumnya, sedangkan Malaikat tidak mempunyai keturunan (maka ia mendurhakai perintah Rabbnya) artinya, iblis itu membangkang tidak mau taat kepada-Nya, karena ia tidak mau bersujud kepada Nabi Adam.
(Patutkah Engkau mengambil dia dan turunan-turunannya) pembicaraan ini ditujukan kepada Nabi Adam dan keturunannya, dan Dhamir Ha pada dua tempat kembali kepada iblis (sebagai pemimpin selain daripada-Ku) yang kemudian kalian taati mereka (sedangkan mereka adalah musuh kalian?) menjadi musuh.
Lafal 'Aduwwun berkedudukan menjadi Hal karena bermakna A'daa-an.
(Amat buruklah iblis itu sebagai pengganti Allah bagi orang-orang yang lalim) yakni iblis dan keturunannya untuk ditaati sebagai pengganti taat kepada Allah.

Tafsir al-Muyassar
Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:

Ingatlah ketika Kami memerintahkan para malaikat bersujud kepada Adam, yakni sujud penghormatan untuknya bukan sujud ibadah.
Kami juga perintahkan Iblis sebagaimana yang diperintahkan kepada para malaikat.
Maka semua malaikat bersujud, tetapi Iblis yang berasal dari bangsa jin keluar dari ketaatan kepada Rabbnya, dan tidak mau bersujud karena sombong dan dengki.
Apakah kalian, wahai manusia, akan menjadikan dia dan anak keturunannya sebagai penolong bagi kalian yang kalian taati dan kalian tidak mematuhi-Ku padahal mereka adalah musuh kalian yang paling keras??
Amat buruklah ketaatan orang-orang yang zhalim kepada setan sebagai ganti ketaatan kepada ar-Rahman (Allah Yang Maha Pengasih).

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Allah subhanahu wa ta'ala berfirman, mengingatkan anak-anak Adam akan permusuhan iblis kepada mereka dan kepada kakek moyang mereka sebelum mereka, yaitu Nabi Adam 'alaihis salam Hal ini difirmankan oleh Allah subhanahu wa ta'ala seraya meng­ingatkan kepada sebagian dari mereka yang mengikuti iblis dan menentang Tuhan Yang Menciptakan dan Yang Melindunginya.
Padahal Dialah yang memulai menciptakannya, dan berkat kelembutan-Nya Dia memberinya rezeki dan makan.
Tetapi sesudah itu justru dia berpihak kepada iblis dan berbalik memusuhi Allah.
Untuk mengingatkan hal tersebut, Allah subhanahu wa ta'ala berfirman:

Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat.

Yakni kepada semua malaikat.
Penafsirannya sebagaimana yang telah disebutkan dalam permulaan surat Al-Baqarah:

Sujudlah kalian kepada Adam.

Yaitu sujud penghormatan dengan maksud sebagai pengakuan atas kele­bihan dan kemuliaan yang dimilikinya.
Hal yang sama telah disebutkan pula oleh Allah subhanahu wa ta'ala dalam ayat yang lain melalui firman-Nya:

Dan ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, "Sesungguhnya Aku akan menciptakan seorang manusia dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk.
Maka apabila Aku telah menyempurnakan kejadian­nya, dan telah meniupkan ke dalamnya roh (ciptaan)Ku, maka tunduklah kalian kepadanya dengan bersujud.
(Al Hijr:28-29)

Firman Allah subhanahu wa ta'ala:

...maka sujudlah mereka kecuali iblis.
Dia adalah dari golongan jin.

Yakni iblis itu berasal dari jin, karena sesungguhnya jin itu diciptakan dari nyala api, sedangkan para malaikat diciptakan dari cahaya.
Seperti yang telah disebutkan di dalam hadis sahih Muslim melalui Siti Aisyah r.a., dari Rasulullah ﷺ yang telah bersabda:

Malaikat diciptakan dari cahaya, iblis diciptakan dari nyala api, dan Adam diciptakan dari apa (tanah liat) yang telah digam­barkan kepada kalian.

Maka apabila saat kejadian telah tiba, masing-masing wadah dimasak berikut apa yang terkandung di dalamnya, lalu pada saat itu juga dibekalkan kepadanya wataknya.
Iblis dalam sikap dan sepak terjangnya mempunyai kesamaan dan kemiripan dengan para malaikat, ia melakukan ibadah dan ketaatan sama dengan para malaikat, karena itulah maka iblis dimasukkan ke dalam golongan malaikat saat menda­pat perintah dari Allah, tetapi iblis durhaka kepada-Nya karena menentang perintah-Nya.

Dan dalam ayat ini Allah subhanahu wa ta'ala menegaskan bahwa iblis itu sebagian dari makhluk jin, yakni diciptakan dari api.
Seperti yang disebutkan dalam ayat lain, melalui firman-Nya:

Aku lebih baik daripadanya, karena Engkau ciptakan aku dari api, sedangkan dia Engkau ciptakan dari tanah.
(Shaad:76)

Al-Hasan Al-Basri mengatakan bahwa iblis itu sama sekali bukan terma­suk golongan malaikat, dan sesungguhnya iblis itu adalah asalnya jin, se­bagaimana Adam adalah asal dari manusia.
Hal ini diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dengan sanad yang sahih bersumberkan dari Al-Hasan Al-Basri.

Ad-Dahhak telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas, bahwa pada asal mulanya iblis adalah segolongan dari kalangan malaikat yang disebut de­ngan panggilan jin.
Mereka diciptakan dari api yang sangat panas, yang hidupnya di kalangan para malaikat.,Nama iblis adalah Al-Haris, pada asal mulanya ia berada di dalam surga sebagai salah satu penjaganya.
Sedangkan para malaikat diciptakan dari cahaya yang berbeda dengan golongan jin tersebut.

Ad-Dahhak mengatakan bahwa jin yang disebutkan di dalam Al-Qur'an diciptakan dari nyala api, yaitu bagian yang paling atas dari api apabila menyala.
Ad-Dahhak telah meriwayatkan pula dari Ibnu Abbas, bahwa iblis di masa dahulu termasuk golongan para malaikat yang dimuliakan dan dihormati golongannya, dia ditugaskan untuk menjaga surga dan diberi kekuasaan di langit dan di bumi.
Dan termasuk di antara apa yang telah ditakdirkan oleh Allah ialah iblis mempunyai hati yang angkuh dan som­bong.
Ketika iblis melihat dirinya dihormati di kalangan penduduk langit, maka timbullah rasa takabur dalam hatinya yang tidak ada seorang pun mengetahuinya selain Allah subhanahu wa ta'ala Dan keangkuhan iblis itu baru tampak saat Allah memerintahkan kepadanya untuk bersujud kepada Adam, se­perti yang disebutkan oleh Allah subhanahu wa ta'ala dalam ayat yang lain melalui firman-Nya: ia enggan dan takabur (sombong) dan adalah ia termasuk go­longan orang-orang yang kafir.
(Al Baqarah:34)

Ibnu Abbas telah mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya:

Dia adalah dari golongan jin.
Yakni termasuk penjaga surga, seperti halnya dikatakan kepada sese­orang yang berasal dari Mekah Makki dan yang berasal dari Madinah Madani, dan yang berasal dari Kufah Kafi, serta yang berasal dari Basrah Basri.

Ibnu Juraij telah meriwayatkan hal yang semisal dari Ibnu Abbas.
Dengan kata lain, yang dimaksud dengan al-jinni di sini adalah dinisbatkan kepada al-jinan, bentuk jamak dari jannah (surga).

Sa'id ibnu Jubair telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas, bahwa iblis adalah salah satu penjaga surga, ia ditugaskan untuk mengatur urusan langit dan bumi (oleh Allah subhanahu wa ta'ala).
Hal ini telah diriwayatkan oleh Ibnu Jarir melalui hadis Al-A'masy, dari Habib ibnu Abu Sabit, dari Sa'id de­ngan sanad yang sama.
Sa'id ibnul Musayyab mengatakan bahwa iblis itu adalah pemimpin para malaikat yang ada di langit yang terdekat.

Ibnu Ishaq telah meriwayatkan dari Khallad ibnu Ata, dari Tawas, dari Ibnu Abbas yang mengatakan bahwa sebelum melakukan kedurha­kaan, iblis termasuk ke dalam golongan malaikat, namanya ialah Azajil.
Iblis termasuk penghuni bumi.
dan ia dari kalangan malaikat yang kerjanya paling keras dan paling banyak ilmunya.
Faktor inilah yang mendorongnya bersifat takabur dan sombong.
Iblis berasal dari suatu golongan makhluk jin.

Ibnu Juraij telah meriwayatkan dari Saleh maula Tauamah dan Syarik ibnu Abu Namir yang salah seorang atau kedua-duanya dari Ibnu Abbas yang mengatakan bahwa sesunguhnya di antara malaikat terdapat segolongan kaum dari jenis jin, dan iblis adalah sebagian dari mereka.
Iblis sering naik turun antara langit dan bumi, kemudian ia durhaka, maka Allah mengutuknya menjadi setan yang dirajam dan menjauhkannya dari rahmat-Nya.
Ibnu Abbas mengatakan, "Apabila dosa seseorang berkaitan dengan masalah kesombongan, maka tidak ditangguh-tangguhkan lagi (hukumannya), dan apabila dosa seseorang hanya berkaitan dengan mak­siat, maka masih ditangguhkan."

Dari Sa'id ibnu Jubair, disebutkan bahwa ia pernah mengatakan, "Iblis pada asal mulanya termasuk mereka yang bekerja di dalam surga."

Sehubungan dengan masalah iblis ini banyak sekali asar-asar yang diriwayatkan dari ulama Salaf, tetapi mayoritasnya bersumber dari nukilan-nukilan israiliyat.
Hanya Allah sajalah yang mengetahui kenyataan dari kebenaran sebagian besarnya.
Di antara berita israiliyat itu ada yang dipastikan kedustaannya karena bertentangan dengan pegangan yang ada pada kita.
Keterangan yang terdapat di dalam Al-Qur'an sudah cu­kup tanpa memerlukan lagi berita-berita terdahulu dari kaum Bani Israil tersebut, karena sesungguhnya berita-berita itu tidak terlepas dari peng­gantian, penambahan, dan pengurangan.
Mereka telah menuangkan ba­nyak hal lainnya ke dalam berita-berita tersebut, sedangkan di kalangan mereka (Bani Israil) tidak terdapat para penghafal yang benar-benar ahli.
yang dengan hafalannya itu mereka dapat terhindar dari penyimpang­an-penyimpangan yang dilakukan oleh orang-orang yang berlebihan dan kepalsuan yang dilakukan oleh orang-orang yang batil.
Lain halnya dengan apa yang dilakukan oleh umat ini (umat Nabi ﷺ), mereka memiliki para imam, para ulama, para pemimpin, orang-orang yang bertakwa, orang-orang yang berbakti, dan orang-orang yang pandai dari kalangan para cendikiawan yang kritis lagi mempunyai hafalan yang dapat dihandal­kan.
Mereka telah menghimpun dan mencatat hadis-hadis Nabi ﷺ dan menjelaskan ke-sahih-an, ke-hasan-an, dan ke-daif-annya.
Mereka menjelaskan hadis yang munkar, yang maudu' (buatan), yang matruk, dan yang mak'zub.
Bahkan mereka memperkenalkan orang-orang yang suka membuat-buat hadis palsu, orang-orang yang dusta, orang-orang yang tidak dikenal, dan lain sebagainya lengkap berikut predikatnya ma­sing-masing.
Semuanya itu dimaksudkan untuk memelihara keutuhan hadis Nabi ﷺ —penutup para rasul dan penghulu umat manusia— agar janganlah dinisbatkan kepada beliau suatu kedustaan, atau suatu hadis yang pada hakikatnya beliau tidak pernah mengatakannya.
Semoga Allah melimpahkan rida-Nya kepada mereka dan memberi mereka pahala yang memuaskan, serta menjadikan surga Firdaus tempat menetap mere­ka.
Dan Alhamdulillah Allah telah melakukannya.

Firman Allah subhanahu wa ta'ala:

Maka ia mendurhakai perintah Tuhannya.

Yakni keluar dari jalan ketaatan kepada Allah, karena makna fasik artinya ialah keluar atau menyimpang.
Dikatakan fasaqatir rutbah, kurma itu telah muncul dari mayangnya.
Dikatakan pula fasaqatil fa'ratu min Juhriha, tikus itu telah keluar dari liangnya untuk menimbulkan kerusakan dan kekotoran.

Kemudian Allah subhanahu wa ta'ala berfirman, menegur dan mencela orang yang mengikuti jejak iblis dan menaatinya:

Patutkah kamu mengambil dia dan turunan-turunannya sebagai pemimpin selain dari-Ku.
, hingga akhir ayat.

Yaitu menjadikan iblis sebagai pengganti dari Allah yang kalian taati.
Karena itulah dalam firman selanjutnya disebutkan:

Amat buruklah iblis itu sebagai pengganti (dari Allah) bagi orang-orang yang zalim.

Ungkapan ini sama pengertiannya dengan yang disebutkan oleh Allah subhanahu wa ta'ala —dalam firman-Nya sesudah menceritakan tentang hari kiamat dan kengerian-kengerian yang ada padanya serta tempat kembali kedua golongan, yaitu orang-orang yang berbahagia dan orang-orang yang cela­ka— dalam surat Yasin, yaitu:

Dan (dikatakan kepada orang-orang kafir), "Berpisahlah kalian (dari orang-orang mukmin) pada hari ini, hai orang-orang yang berbuat jahat.
(Yaa Siin:59)

Sampai dengan firman-Nya:

Maka apakah kalian tidak memikirkan?
(Yaa Siin:62)

Kata Pilihan Dalam Surah Al Kahfi (18) Ayat 50

ADAM
ءَادَم

Al Baidawi berkata Adam ialah nama 'ajam (bukan Arab) sama seperti Azir dan Salih. Ia diambil dari kata al udmah atau al admah yang bermakna uswah, yang bermakna menjadi tauladan. Atau dari adim al ardh yang berarti permukaan bumi atau tanah, sebagaimana yang diriwayatkan dari Rasulullah, di mana Allah menggenggam satu genggaman dari seluruh tanah yang mudah dan yang susah, maka dia menciptakan Adam daripadanya. Oleh karena itu, setelahnya datang keturunannya yang berbeda-beda. Atau dari al adam atau al admah yang bermakna mendamaikan, sama seperti perkataan Idris yang dipetik dari kata ad dars, Ya'qub dari al aqb dan iblis dari al iblas.

Allah menciptakan Adam dari bahagian­ bahagian yang berbeda-beda dan berbagai kemampuan. Ia telah mengetahui segala bentuk pengetahuan yang dapat diterima akal (al­ maqulat) maupun yang dapat disentuh atau diraba (albmahsusat)'

Al Khazin berpendapat, ia dinamakan Adam karena ia diciptakan dari tanah, dan ada yang mengatakan karena ia berwarna coklat, gelarannya ialah Abu Muhammad. Ada juga yang mengatakan, ia adalah Abul Basyar (bapak manusia).

Al Fayruz Abadi berpendapat, ia dinamakan Adam karena diciptakan dari admah al ardh atau bahagian dalam bumi yang paling baik, sebagaimana admah atau udmah mengandung makna tauladan, perantara kepada sesuatu, bahagian dalam kulit atau bahagian yang baik dari daging manusia dan juga permukaan bumi.

Nama Adam disebut 25 kali dalam Al­ Quran, yaitu pada surah :
-Al Baqarah (2), ayat 31, 33, 34, 35, 37;
-Ali Imran (3), ayat 33, 59;
-Al Maa'idah (5), ayat 27;
-Al A'raaf (7), ayat 11, 19, 26, 27, 31, 35, 172;
-Al Israa' (17), ayat 61, 70;
-Al Kahfi (18), ayat 50;
-Maryam (19), ayat 58;
-Thaa Haa (20), ayat 115, 116, 117, 120, 121;
-Yaa Siin (36), ayat 60.

Banyak kisah mengenai penciptaan Adam yang diambil dari kisah Isra'iliyyat, sedangkan Al Qur'an tidak memperincikan cerita penciptaannya. Hanya satu ayat yang menyinggung Adam diciptakan dari turaab sebagaimana yang terdapat pada surah Ali Imran, ayat 59.

Turab menurut kamus Al Munjid ialah al­ ardh atau bumi dan bahagian yang lembut daripadanya.

Kesimpulannya, Adam digelar sebagai Abuul Basyar dan beliau adalah hamba pilihan Allah, sebagaimana yang disebut dalam ayat Allah dalam surah Ali Imran.

Sumber : Kamus Al Qur'an, PTS Islamika SDN. BHD.Hal:18

Informasi Surah Al Kahfi (الكهف)
Surat ini terdiri atas 110 ayat, termasuk golongan surat-surat Makkiyyah.

Dinamai "Al Kahfi" artinya "Gua " dan "Ashhabul Kahfi" yang artinya:
"Penghuni-penghuni gua".
Kedua nama ini diambil dari cerita yang terdapat dalam surat ini pada ayat 9 sampai dengan 26, tentang bebe­rapa orang pemuda yang tidur dalam gua bertahun-tahun lamanya.

Selain cerita tersebut, ter­dapat pula beberapa buah cerita dalam surat ini, yang kesemuanya mengandung i'tibar dan pe­lajaran yang amat berguna bagi kehidupan manusia.
Banyak hadist-hadist Rasulullah ﷺ yang menyatakan keutamaan membaca surat ini.

Keimanan:

Kekuasaan Allah subhanahu wa ta'ala untuk memberi daya hidup pada manusia diluar hukum kebiasaan
dasar-dasar Tauhid serta keadilan Allah subhanahu wa ta'ala tidak berobah untuk se­lama-lamanya
kalimat-kalimat Allah (imu-Nya) amat luas sekali, meliputi segala sesuatu, sehingga manusia tidak mampu buat menulisnya
kepastian datangnya hari berbangkit
Al Qur'an adalah kitab suci yang isinya bersih dari kekacauan dan kepalsuan

Hukum:

Dasar hukum wakalah (berwakil)
larangan membangun tempat ibadah di atas kubur
hukum membaca "Insya Allah"
perbuatan salah yang dilakukan karena lupa adalah dima'afkan
kebolehan merusak suatu barang untuk menghindarkan bahaya yang lebih besar.

Kisah:

Cerita Ashabul kahfi
cerita dua orang laki-laki yang seorang kafir dan yang lain­nya mu'min
cerita Nabi Musa a.s. dengan Khidhr a.s.
cerita Dzulqarnain dengan Ya'juj dan Ma'juj.

Lain-lain:

Beberapa pelajaran yang dapat diambil dari cerita-cerita dalam surat ini antara lain tentang kekuatan iman kepada Allah subhanahu wa ta'ala serta ibadah yang ikhlas kepada­ Nya
kesungguhan seseorang dalam mencari guru (ilmu)
adab sopan-santun antara murid dengan guru
dan beberapa contoh tentang cara memimpin dan memerin­tah rakyat, serta perjuangan untuk mencapai kebahagiaan rakyat dan negara.


Gambar Kutipan Surah Al Kahfi Ayat 50 *beta

Surah Al Kahfi Ayat 50



Statistik
  • Rating RisalahMuslim

Surah Al Kahfi

Surah Al-Kahf (bahasa Arab:الكهف, al-Kahf, "Gua") disebut juga Ashabul Kahf adalah surah ke-18 dalam Al-Qur'an.
Surah ini terdiri atas 110 ayat, termasuk golongan surah-surah Makkiyah.
Dinamai Al-Kahf dan Ashabul Kahf yang artinya Penghuni-Penghuni Gua.
Kedua nama ini diambil dari cerita yang terdapat dalam surah ini pada ayat 9 sampai dengan 26, tentang beberapa orang pemuda (The Seven Sleepers) yang tidur dalam gua bertahun-tahun lamanya.
Selain cerita tersebut, terdapat pula beberapa cerita dalam surat ini, yang kesemuanya mengandung pelajaran-pelajaran yang berguna untuk kehidupan manusia.
Terdapat beberapa hadits Rasulullah ﷺ yang menyatakan keutamaan membaca surah ini.

Dalam surat ini terdapat titik tengah Al-Qur'an yang membelah isi Al-Qur'an menjadi dua bagian.

Nomor Surah18
Nama SurahAl Kahfi
Arabالكهف
ArtiPenghuni-penghuni Gua
Nama lainAl-Hāila, Ashabul Khaf
(Penghuni-Penghuni Gua)
Tempat TurunMekkah
Urutan Wahyu69
JuzJuz 15 (1-74) sampai juz 16 (ayat 75-110)
Jumlah ruku'0
Jumlah ayat110
Jumlah kata1589
Jumlah huruf6550
Surah sebelumnyaSurah Al-Isra'
Surah selanjutnyaSurah Maryam
4.9
Rating Pembaca: 4.7 (13 votes)
Sending







PEMBAHASAN ✔ al kahfi 50