Search
Exact matches only
Cari di judul
Cari di Arti & Tafsir
Search in comments
Search in excerpt
Filter by Custom Post Type
Filter berdasar surah
Pilih atau Semua
Abasa
Ad Dukhaan
Adh Dhuhaaa
Adz Dzaariyaat
Al 'Alaq
Al 'Ashr
Al A'laa
Al A'raaf
Al Aadiyaat
Al Ahqaaf
Al Ahzab
Al An 'aam
Al Anbiyaa
Al Anfaal
Al Ankabut
Al Balad
Al Baqarah
Al Bayyinah
Al Buruuj
Al Fajr
Al Falaq
Al Fath
Al Fatihah
Al Fiil
Al Furqaan
Al Ghaasyiyah
Al Haaqqah
Al Hadid
Al Hajj
Al Hasyr
Al Hijr
Al Hujurat
Al Humazah
Al Ikhlas
Al Infithar
Al Insaan
Al Insyiqaaq
Al Israa
Al Jaatsiyah
Al Jinn
Al Jumu'ah
Al Kaafiruun
Al Kahfi
Al Kautsar
Al Lahab
Al Lail
Al Ma'aarij
Al Maa'idah
Al Maa'un
Al Mu'min
Al Mu'minuun
Al Muddatstsir
Al Mujaadilah
Al Mulk
Al Mumtahanah
Al Munafiquun
Al Mursalat
Al Muthaffifin
Al Muzzammil
Al Qaari'ah
Al Qadr
Al Qalam
Al Qamar
Al Qashash
Al Qiyaamah
Al Waaqi'ah
Al Zalzalah
Alam Nasyrah
Ali Imran
An Naazi'at
An Nabaa
An Nahl
An Najm
An Naml
An Nas
An Nashr
An Nisaa'
An Nuur
Ar Ra'd
Ar Rahmaan
Ar Rum
As Sajdah
Ash Shaff
Ash Shaffaat
Asy Shyuura
Asy Syams
Asy Syu'araa
At Taghaabun
At Tahrim
At Takaatsur
At Takwir
At Taubah
At Tin
Ath Thaariq
Ath Thalaaq
Ath Thuur
Az Zukhruf
Az Zumar
Faathir
Fushshilat
Hud
Ibrahim
Luqman
Maryam
Muhammad
Nuh
Qaaf
Quraisy
Saba
Shaad
Thaa Haa
Yaa Siin
Yunus
Yusuf

💡 Ketik [nomer surah]-[nomer ayat], contoh: 2-255 atau albaqarah 255 atau ke www.risalahmuslim.id/2-255

Al Kahfi

Al Kahfi (Penghuni-penghuni Gua) surah 18 ayat 22


سَیَقُوۡلُوۡنَ ثَلٰثَۃٌ رَّابِعُہُمۡ کَلۡبُہُمۡ ۚ وَ یَقُوۡلُوۡنَ خَمۡسَۃٌ سَادِسُہُمۡ کَلۡبُہُمۡ رَجۡمًۢا بِالۡغَیۡبِ ۚ وَ یَقُوۡلُوۡنَ سَبۡعَۃٌ وَّ ثَامِنُہُمۡ کَلۡبُہُمۡ ؕ قُلۡ رَّبِّیۡۤ اَعۡلَمُ بِعِدَّتِہِمۡ مَّا یَعۡلَمُہُمۡ اِلَّا قَلِیۡلٌ ۬۟ فَلَا تُمَارِ فِیۡہِمۡ اِلَّا مِرَآءً ظَاہِرًا ۪ وَّ لَا تَسۡتَفۡتِ فِیۡہِمۡ مِّنۡہُمۡ اَحَدًا
Sayaquuluuna tsalaatsatun raabi’uhum kalbuhum wayaquuluuna khamsatun saadisuhum kalbuhum rajman bil ghaibi wayaquuluuna sab’atun watsaaminuhum kalbuhum qul rabbii a’lamu bi’iddatihim maa ya’lamuhum ilaa qaliilun falaa tumaari fiihim ilaa miraa-an zhaahiran walaa tastafti fiihim minhum ahadan;

Nanti (ada orang yang akan) mengatakan (jumlah mereka) adalah tiga orang yang keempat adalah anjingnya, dan (yang lain) mengatakan:
“(jumlah mereka) adalah lima orang yang keenam adalah anjing nya”,
sebagai terkaan terhadap barang yang gaib, dan (yang lain lagi) mengatakan:
“(jumlah mereka) tujuh orang, yang ke delapan adalah anjingnya”.
Katakanlah:
“Tuhanku lebih mengetahui jumlah mereka, tidak ada orang yang mengetahui (bilangan) mereka kecuali sedikit”.
Karena itu janganlah kamu (Muhammad) bertengkar tentang hal mereka, kecuali pertengkaran lahir saja dan jangan kamu menanyakan tentang mereka (pemuda-pemuda itu) kepada seorangpun di antara mereka.
―QS. 18:22
Topik ▪ Kisah-kisah ▪ Kisah Ashabul Kahfi ▪ Kekuasaan Allah
18:22, 18 22, 18-22, Al Kahfi 22, AlKahfi 22, Al-Kahf 22
Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. Al Kahfi (18) : 22. Oleh Kementrian Agama RI

Sesudah selesai menceritakan kisah Ashabul Kahfi, maka dalam ayat ini Allah subhanahu wa ta'ala menjelaskan perselisihan pendapat yang terjadi pada masa Rasulullah ﷺ mengenai cerita ini.
Mereka yang berselisih itu di antara ahli tafsir ada yang mengatakan orang-orang Yahudi ada pula yang mengatakan orang-orang Nasrani yang hidup pada zaman Rasulullah ﷺ Menurut riwayat, beberapa orang Nasrani dari Najran memperbincangkan dengan Rasulullah ﷺ tentang jumlah Ashabul Kahfi itu.
Berkata orang Nasrani dari aliran "malkaniah" mereka itu berjumlah tiga orang, yang ke empat adalah anjingnya." Berkata orang Nasrani dari aliran "Ya'qubiyah": Mereka itu berjumlah lima orang yang ke enam adalah anjingnya.
Sedangkan golongan Nasturiyah mengatakan: "mereka itu tujuh orang yang ke delapan anjingnya".
Dalam hal ini Allah berfirman bahwa mereka mengatakan tiga atau lima orang itu hanyalah sebagai rabaan semata-mata, yakni tidak disertai dengan pengetahuan, seperti melemparkan batu pada malam hari ke suatu sasaran yang tidak tampak oleh mata.
Tetapi Tuhan tidak menyatakan terhadap orang yang mengatakan tujuh orang sebagai rabaan yang tidak menentu.
Oleh karena itu menurut Ibnu 'Abbas, pendapat yang mengatakan: Mereka itu tujuh orang dan yang kedelapan adalah anjingnya, inilah yang benar.
Sebab Allah subhanahu wa ta'ala menyatakan kedua pendapat sebelumnya sebagai rabaan yang tidak menentu.
Maka hal ini menunjukkan bahwa perkataan yang ke tiga itulah yang benar dan menunjukkan bahwa ucapan itu berdasarkan pengetahuan, keyakinan dan kemantapan iman.

Adapun nama-nama yang tujuh yang bermacam-macam pengucapannya tidak ada yang dapat dipegangi, karena bukan nama Arab; demikian kata Al Hafiz Ibnu Hajar dalam sejarah Bukhari.
Dalam tafsir Ibnu Kasir disebutkan nama-nama mereka sebagai berikut: Maksalmina (yang tertua), Tamlikha, (yang ke dua), Martunus, Birunus, Dominus, Yatbunus, Falyastatyunus dan nama anjingnya Hamran atau Qitmir.
Kemudian Allah subhanahu wa ta'ala memerintahkan Rasul Nya untuk mengemukakan kepada mereka yang berselisih tentang jumlah pemuda penghuni gua itu bahwa Allah subhanahu wa ta'ala lebih mengetahui jumlah mereka itu.
Tidaklah perlu banyak memperbincangkan hal yang serupa tanpa pengetahuan, lebih baik menyerahkannya kepada Tuhan.
Bilamana Tuhan memberitahukan kepada rasul Nya tentang hal itu, tentulah Rasul akan menyampaikannya pula kepada umatnya sepanjang ada manfaatnya untuk kehidupan mereka dunia dan akhirat.
Jika hal itu didiamkan seharusnya umatnya mendiamkan diri pula dan tidak perlu membuang-buang tenaga untuk memikirnya.

Tetapi kemudian Tuhan menegaskan, "Tidaklah ada orang yang mengetahui jumlah mereka kecuali sedikit".
Di sini Tuhan mengisyaratkan adanya segelintir manusia yang diberi Allah ilmu untuk mengetahui keadaan yang sebenarnya tentang penghuni-penghuni gua itu.
Siapakah yang sedikit itu?
Ibnu Abbas seorang sahabat yang masih muda pada zamannya dipandang tokoh ilmiah di segala bidang mengatakan bahwa dia termasuk yang sedikit itu.
Ahli-ahli sejarah, ahli-ahli ilmu purbakala, mungkin dimasukkan ke dalam golongan yang kecil itu bilamana mereka dengan kegiatan penelitiannya memperoleh fakta-fakta sejarah tentang umat masa lampau, kemungkinan pula termasuk golongan kecil itu.
Tetapi yang terpenting untuk umat Islam dari penonjolan ini bukanlah mencari keterangan tentang jumlah pemuda-pemuda itu, melainkan bagaimana iktibar dan pelajaran yang bermanfaat untuk membina iman dan takwa kepada Allah subhanahu wa ta'ala

Allah subhanahu wa ta'ala melarang Nabi Muhammad dalam dua hal; Pertama tidak boleh memperdebatkan lagi dengan orang-orang Nasrani tentang pemuda-pemuda itu, dan kedua tidak boleh meminta keterangan mengenai pemuda-pemuda itu kepada mereka.
Pada larangan pertama, Nabi diperintahkan oleh Tuhan untuk menjauhi perdebatan dengan orang-orang Nasrani mengenai hal ihwal pemuda penghuni gua itu, kecuali dengan suatu perdebatan yang ringan dan santai.
Cukuplah sekiranya Rasul menyampaikan cerita mereka itu sebagaimana yang diwahyukan Allah tanpa menyalahkan keterangan mereka mengenai bilangan penghuni gua itu tidak pula membodoh-bodohkan mereka mengenal Cerita itu sendiri.
Karena cara demikian itu tidak ada faedahnya.
Tujuan pokok cerita itu sendiri ialah memberi suri teladan dan pengajaran serta keyakinan akan kepastian terjadinya hari kiamat.

Di lain surat dengan maksud yang sama Allah berfirman:

Dan janganlah kamu berdebat dengan Ahli Kitab melainkan dengan cara yang paling baik, kecuali dengan orang-orang lalim antara mereka.
(Q.S.
Al Ankabut: 46)

Pada larangan kedua: Allah subhanahu wa ta'ala memerintahkan kepada Nabi ﷺ agar tidak meminta keterangan, tentang pemuda-pemuda itu kepada orang-orang Nasrani disebabkan mereka itu sungguh-sungguh juga tidak punya dasar pengetahuan tentang itu.
Mereka secara rabaan tanpa dalil yang kuat.

Al Kahfi (18) ayat 22 - dibacakan oleh Shaykh Mishari Alafasy Al Kahfi (18) ayat 22 - dibacakan oleh Syaikh Sa'ad Al-Ghamidi Al Kahfi (18) ayat 22 - dibacakan oleh Syaikh Muhammad Ayyub

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Orang-orang dari kalangan Ahl al-Kitab yang menelusuri kisah itu akan mengatakan, "Mereka berjumlah tiga orang, empat dengan anjingnya." Yang lain mengatakan, "Mereka berjumlah lima orang, yang keenam anjingnya." Semua itu tidak lebih dari dugaan-dugaaan yang tidak beralasan.
Yang lain lagi mengatakan, "Mereka berjumlah tujuh orang, delapan dengan anjingnya." Katakan kepada orang-orang yang berselisih pendapat itu, "Tuhanku--dengan ilmu-Nya yang berada di atas segalanya--Mahatahu tentang jumlah mereka.
Dan hanya orang-orang yang diberitahu oleh Allah saja yang mengetahui berapa jumlah mereka sebenarnya.
Maka janganlah kamu mendebat mereka mengenai pemuda-pemuda itu kecuali dengan cara yang halus dan jelas, tanpa memaksa mereka untuk menerima argumentasi tertentu, karena mereka tidak akan pernah merasa puas.
Dan jangan pernah bertanya kepada salah seorang dari mereka tentang pemuda-pemuda itu, karena telah datang kepadamu kebenaran yang tidak perlu diragukan."

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(Nanti mereka akan mengatakan) yaitu orang-orang yang berselisih pendapat di zaman Nabi ﷺ tentang bilangan para pemuda itu.
Atau dengan kata lain sebagian di antara mereka mengatakan bahwa jumlah mereka ada (tiga orang yang keempat adalah anjingnya dan yang lain mengatakan) sebagian yang lain daripada mereka (lima orang dan yang keenam adalah anjingnya) kedua pendapat tersebut dikatakan oleh orang-orang Nasrani dari Najran (sebagai terkaan terhadap barang yang gaib) hanya berlandaskan kepada dugaan belaka tanpa bukti yang nyata, kedua pendapat tersebut hanyalah main terka saja.
Lafal Rajman dinashabkan karena menjadi Maf'ul Lah, artinya:
sebagai terkaan mereka terhadap barang yang gaib (dan yang lain lagi mengatakan) yakni orang-orang Mukmin (Jumlah mereka, tujuh orang, yang kedelapan adalah anjingnya) Jumlah ayat ini berkedudukan menjadi Mubtada, sedangkan Khabarnya adalah Sifat daripada lafal Sab'atun, dengan ditambahi huruf Wawu sesudahnya.
Menurut pendapat yang lain, berkedudukan menjadi Taukid, atau menunjukkan tentang menempelnya sifat kepada Maushufnya.
Dan disifatinya kedua pendapat yang tadi dengan istilah Ar-Rajmi yakni terkaan, berbeda dengan pendapat yang ketiga sekarang ini, hal ini menunjukkan bahwa pendapat yang ketiga ini adalah pendapat yang sahih dan dibenarkan (Katakanlah, "Rabbku lebih mengetahui jumlah mereka, tidak ada orang yang mengetahui bilangan mereka kecuali sedikit") Sahabat Ibnu Abbas r.a.
mengatakan, "Saya adalah salah seorang daripada orang-orang yang sedikit itu." Selanjutnya ia menuturkan bahwa jumlah mereka ada tujuh orang.
(Karena itu janganlah kamu bertengkar) yakni memperdebatkan (tentang hal mereka, kecuali pertengkaran yang lahir saja) daripada sebagian apa yang diturunkan kepadamu (dan jangan kamu menanyakan tentangnya) maksudnya kamu meminta penjelasan tentang Ashkabul Kahfi itu (dari mereka) mempertanyakan kepada sebagian daripada orang-orang ahli kitab, yaitu orang-orang Yahudi (seseorang pun) pada suatu ketika penduduk Mekah menanyakan tentang kisah Ashhabul Kahfi itu.
Lalu Nabi ﷺ menjawab, "Saya akan menceritakannya kepada kalian besok",
tanpa memakai kata Insya Allah, maka turunlah firman-Nya:

Tafsir al-Muyassar
Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:

Kelak sebagian orang yang larut dalam pembicaraan tentang perihal mereka, yaitu Ahli Kitab, akan mengatakan :
Mereka berjumlah tiga orang, yang keempat dari mereka adalah anjing mereka.
Golongan yang lain mengatakan :
Mereka berjumlah lima orang, yang keenam dari mereka adalah anjing mereka.
Perkataan kedua golongan itu hanyalah terkaan tanpa bukti.
Golongan yang ketiga mengatakan :
Mereka berjumlah tujuh orang, dan yang kedelapan dari mereka adalah anjing mereka.
Katakanlah wahai Rasul :
Rabbbkulah yang lebih mengetahui jumlah mereka.
Tidak ada orang yang mengetahui jumlah mereka kecuali sedikit dari makhluk-Nya.
Karena itu, janganlah kamu berbantah-bantahan dengan Ahli Kitab tentang jumlah mereka, kecuali pembantahan secara lahiriahnya saja, bukan secara mendalam, dengan menceritakan kepada mereka wahyu yang telah disampaikan kepadamu itu saja.
Jangan bertanya kepada mereka tentang jumlah mereka dan ihwal mereka, karena mereka tidak mengetahui hal itu.

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Allah subhanahu wa ta'ala berfirman menceritakan tentang perselisihan pendapat di ka­langan orang-orang sehubungan dengan kisah para peronda penghuni gua itu.
Pendapat mereka ada tiga, hal ini menunjukkan bahwa tidak ada pendapat yang keempat, dan bahwa pendapat yang pertama dan yang kedua adalah lemah, sebab disebutkan oleh firman-Nya:

...sebagai terkaan terhadap barang yang gaib.

Yakni pendapat yang tidak berlandaskan kepada pengetahuan.
Perihalnya sama dengan seseorang yang membidikkan anak panahnya ke arah yang tidak diketahuinya, maka sesungguhnya lemparan panahnya itu tidak akan mengenai sasaran, dan jika mengenai sasaran, maka hanya karena kebe­tulan.

Kemudian Allah subhanahu wa ta'ala menyebutkan pendapat yang ketiga, lalu tidak memberi komentar terhadapnya atau secara tidak langsung sebagai pe­ngakuan akan kebenarannya.
Untuk itu Allah subhanahu wa ta'ala berfirman:

...yang kedelapan adalah anjingnya.

Hal ini menunjukkan kebenaran pendapat yang ketiga, dan bahwa memang itulah kenyataannya.

Firman Allah subhanahu wa ta'ala:

Katakanlah, "Tuhanku lebih mengetahui jumlah mereka.

Suatu petunjuk yang menyatakan bahwa hal yang terbaik dalam mengha­dapi masalah seperti ini ialah mengembalikan pengetahuan tentangnya kepada Allah subhanahu wa ta'ala, karena tidak perlu kita mendalami hal seperti ini tan­pa pengetahuan.
Tetapi jika Allah memberitahukan kepada kita suatu pengetahuan mengenainya, maka kita mengatakannya, jika tidak, kita hentikan langkah sampai di situ.

Firman Allah subhanahu wa ta'ala:

...tidak ada yang mengetahui jumlah (bilangan) mereka kecuali sedikit.

Artinya, hanya sedikit orang yang mengetahui bilangan mereka yang se­benarnya.

Qatadah mengatakan, Ibnu Abbas pernah berkata bahwa dirinya termasuk golongan orang yang sedikit itu yang dikecualikan oleh Allah dalam ayat ini, jumlah mereka adalah tujuh orang.

Hal yang sama telah diriwayatkan oleh Ibnu Jarir, dari Ata Al-Khurrasani, dari Ibnu Abbas, bahwa Ibnu Abbas pernah mengatakan, "Saya termasuk orang yang di­kecualikan oleh Allah subhanahu wa ta'ala" Ibnu Abbas mengatakan pula bahwa jumlah mereka ada tujuh orang.

Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ibnu Basysyar, telah menceritakan kepada kami Abdur Rahman, telah menceritakan kepada kami Israil, dari Sammak, dari Ikrimah, dari Ibnu Abbas sehu­bungan dengan makna firman-Nya:

...tidak ada yang mengetahui jumlah (bilangan) mereka kecuali sedikit.
Ibnu Abbas mengatakan, "Saya termasuk sedikit orang itu, jumlah mereka ada tujuh orang."

Semua riwayat ini disandarkan kepada Ibnu Abbas secara sahih, bahwa jumlah mereka ada tujuh orang (yakni para pemuda penghuni gua itu).
Pendapat yang dikemukakan oleh Ibnu Abbas ini sesuai dengan apa yang telah kita sebutkan di atas.

Muhammad ibnu Ishaq ibnu Yasar telah meriwayatkan dari Abdullah ibnu Abu Nujaih, dari Mujahid yang mengatakan, "Sesungguhnya saya telah mendapat kisah bahwa di antara para pemuda penghuni gua itu terdapat orang yang masih muda sekali usianya." Ibnu Abbas mengatakan bahwa sepanjang siang dan malam mereka selalu menyembah Allah se­raya menangis, dan memohon pertolongan kepada Allah.
Jumlah mereka ada delapan orang.
Orang yang tertua di antara mereka bernama Makslimina, dialah yang diajak bicara oleh raja.
Lalu Yamlikha, Martunus, Kastunus, Bairunus, Danimus, Yatbunus, dan Qalusy.
Demikianlah menurut yang terdapat di dalam riwayat Ibnu Ishaq, dan pendapat ini mempunyai takwil bahwa ini adalah perkataan Ibnu Ishaq dan orang-orang yang ada antara dia dan Ibnu Abbas.
Karena sesungguhnya pendapat yang benar dari Ibnu Abbas ialah yang mengatakan bahwa jumlah mereka ada tujuh orang.
Hal inilah yang sesuai dengan makna lahiriah ayat.

Dalam pembahasan yang lalu telah disebutkan dari Sya'b Al-Juba-i bahwa nama anjing mereka adalah Hamran.
Sehubungan dengan penye­butan nama mereka dengan nama-nama tersebut, juga nama anjing mere­ka, kebenarannya masih perlu dipertimbangkan.
Hanya Allah-lah yang mengetahui kebenarannya.
Karena sesungguhnya sumber berita menge­nai hal ini kebanyakan berasal dari kaum Ahli Kitab.
Sedangkan Allah subhanahu wa ta'ala telah berfirman:

Karena itu, janganlah kamu (Muhammad) bertengkar tentang hal mereka, kecuali pertengkaran lahir saja.

Maksudnya, debatlah mereka dengan debat yang ringan dan mudah, ka­rena sesungguhnya mengetahui hal tersebut dengan pengetahuan yang sebenarnya tidak banyak mengandung manfaat.

...dan jangan kamu menanyakan tentang mereka (pemuda-pemuda itu) kepada seorang pun di antara mereka.

Karena sesungguhnya pada hakikatnya mereka tidak mempunyai penge­tahuan tentang hal tersebut kecuali apa yang mereka katakan dari diri mereka sendiri, sebagai terkaan terhadap barang yang gaib, yakni tanpa bersandarkan kepada pendapat orang yang dipelihara dari kesalahan.
Dan sesungguhnya telah datang kepadamu Muhammad, berita yang hak yang tiada keraguan dan kebimbangan padanya.
Maka itulah yang harus engkau pegang dan engkau prioritaskan daripada pendapat yang dikata­kan oleh kitab-kitab terdahulu dan pendapat orang-orangnya.

Informasi Surah Al Kahfi (الكهف)
Surat ini terdiri atas 110 ayat, termasuk golongan surat-surat Makkiyyah.

Dinamai "Al Kahfi" artinya "Gua " dan "Ashhabul Kahfi" yang artinya:
"Penghuni-penghuni gua".
Kedua nama ini diambil dari cerita yang terdapat dalam surat ini pada ayat 9 sampai dengan 26, tentang bebe­rapa orang pemuda yang tidur dalam gua bertahun-tahun lamanya.

Selain cerita tersebut, ter­dapat pula beberapa buah cerita dalam surat ini, yang kesemuanya mengandung i'tibar dan pe­lajaran yang amat berguna bagi kehidupan manusia.
Banyak hadist-hadist Rasulullah ﷺ yang menyatakan keutamaan membaca surat ini.

Keimanan:

Kekuasaan Allah subhanahu wa ta'ala untuk memberi daya hidup pada manusia diluar hukum kebiasaan
dasar-dasar Tauhid serta keadilan Allah subhanahu wa ta'ala tidak berobah untuk se­lama-lamanya
kalimat-kalimat Allah (imu-Nya) amat luas sekali, meliputi segala sesuatu, sehingga manusia tidak mampu buat menulisnya
kepastian datangnya hari berbangkit
Al Qur'an adalah kitab suci yang isinya bersih dari kekacauan dan kepalsuan

Hukum:

Dasar hukum wakalah (berwakil)
larangan membangun tempat ibadah di atas kubur
hukum membaca "Insya Allah"
perbuatan salah yang dilakukan karena lupa adalah dima'afkan
kebolehan merusak suatu barang untuk menghindarkan bahaya yang lebih besar.

Kisah:

Cerita Ashabul kahfi
cerita dua orang laki-laki yang seorang kafir dan yang lain­nya mu'min
cerita Nabi Musa a.s. dengan Khidhr a.s.
cerita Dzulqarnain dengan Ya'juj dan Ma'juj.

Lain-lain:

Beberapa pelajaran yang dapat diambil dari cerita-cerita dalam surat ini antara lain tentang kekuatan iman kepada Allah subhanahu wa ta'ala serta ibadah yang ikhlas kepada­ Nya
kesungguhan seseorang dalam mencari guru (ilmu)
adab sopan-santun antara murid dengan guru
dan beberapa contoh tentang cara memimpin dan memerin­tah rakyat, serta perjuangan untuk mencapai kebahagiaan rakyat dan negara.


Gambar Kutipan Surah Al Kahfi Ayat 22 *beta

Surah Al Kahfi Ayat 22



Statistik
  • Rating RisalahMuslim

Surah Al Kahfi

Surah Al-Kahf (bahasa Arab:الكهف, al-Kahf, "Gua") disebut juga Ashabul Kahf adalah surah ke-18 dalam Al-Qur'an.
Surah ini terdiri atas 110 ayat, termasuk golongan surah-surah Makkiyah.
Dinamai Al-Kahf dan Ashabul Kahf yang artinya Penghuni-Penghuni Gua.
Kedua nama ini diambil dari cerita yang terdapat dalam surah ini pada ayat 9 sampai dengan 26, tentang beberapa orang pemuda (The Seven Sleepers) yang tidur dalam gua bertahun-tahun lamanya.
Selain cerita tersebut, terdapat pula beberapa cerita dalam surat ini, yang kesemuanya mengandung pelajaran-pelajaran yang berguna untuk kehidupan manusia.
Terdapat beberapa hadits Rasulullah ﷺ yang menyatakan keutamaan membaca surah ini.

Dalam surat ini terdapat titik tengah Al-Qur'an yang membelah isi Al-Qur'an menjadi dua bagian.

Nomor Surah 18
Nama Surah Al Kahfi
Arab الكهف
Arti Penghuni-penghuni Gua
Nama lain Al-Hāila, Ashabul Khaf
(Penghuni-Penghuni Gua)
Tempat Turun Mekkah
Urutan Wahyu 69
Juz Juz 15 (1-74) sampai juz 16 (ayat 75-110)
Jumlah ruku' 0
Jumlah ayat 110
Jumlah kata 1589
Jumlah huruf 6550
Surah sebelumnya Surah Al-Isra'
Surah selanjutnya Surah Maryam
4.5
Rating Pembaca: 4.3 (13 votes)
Sending







✔ surat alkahfi 22

Anda perlu login mengelola Bookmark.

📖 Lihat Semua Bookmark-ku