Search
Exact matches only
Cari di judul
Cari di Arti & Tafsir
Search in comments
Search in excerpt
Filter by Custom Post Type
Filter berdasar surah
Pilih atau Semua
Abasa
Ad Dukhaan
Adh Dhuhaaa
Adz Dzaariyaat
Al 'Alaq
Al 'Ashr
Al A'laa
Al A'raaf
Al Aadiyaat
Al Ahqaaf
Al Ahzab
Al An 'aam
Al Anbiyaa
Al Anfaal
Al Ankabut
Al Balad
Al Baqarah
Al Bayyinah
Al Buruuj
Al Fajr
Al Falaq
Al Fath
Al Fatihah
Al Fiil
Al Furqaan
Al Ghaasyiyah
Al Haaqqah
Al Hadid
Al Hajj
Al Hasyr
Al Hijr
Al Hujurat
Al Humazah
Al Ikhlas
Al Infithar
Al Insaan
Al Insyiqaaq
Al Israa
Al Jaatsiyah
Al Jinn
Al Jumu'ah
Al Kaafiruun
Al Kahfi
Al Kautsar
Al Lahab
Al Lail
Al Ma'aarij
Al Maa'idah
Al Maa'un
Al Mu'min
Al Mu'minuun
Al Muddatstsir
Al Mujaadilah
Al Mulk
Al Mumtahanah
Al Munafiquun
Al Mursalat
Al Muthaffifin
Al Muzzammil
Al Qaari'ah
Al Qadr
Al Qalam
Al Qamar
Al Qashash
Al Qiyaamah
Al Waaqi'ah
Al Zalzalah
Alam Nasyrah
Ali Imran
An Naazi'at
An Nabaa
An Nahl
An Najm
An Naml
An Nas
An Nashr
An Nisaa'
An Nuur
Ar Ra'd
Ar Rahmaan
Ar Rum
As Sajdah
Ash Shaff
Ash Shaffaat
Asy Shyuura
Asy Syams
Asy Syu'araa
At Taghaabun
At Tahrim
At Takaatsur
At Takwir
At Taubah
At Tin
Ath Thaariq
Ath Thalaaq
Ath Thuur
Az Zukhruf
Az Zumar
Faathir
Fushshilat
Hud
Ibrahim
Luqman
Maryam
Muhammad
Nuh
Qaaf
Quraisy
Saba
Shaad
Thaa Haa
Yaa Siin
Yunus
Yusuf

💡 Ketik [nomer surah]-[nomer ayat], contoh: 2-255 atau albaqarah 255 atau ke www.risalahmuslim.id/2-255

Al Kahfi

Al Kahfi (Penghuni-penghuni Gua) surah 18 ayat 16


وَ اِذِ اعۡتَزَلۡتُمُوۡہُمۡ وَمَا یَعۡبُدُوۡنَ اِلَّا اللّٰہَ فَاۡ وٗۤا اِلَی الۡکَہۡفِ یَنۡشُرۡ لَکُمۡ رَبُّکُمۡ مِّنۡ رَّحۡمَتِہٖ وَیُہَیِّیٔۡ لَکُمۡ مِّنۡ اَمۡرِکُمۡ مِّرۡفَقًا
Wa-idzii’tazaltumuuhum wamaa ya’buduuna ilaallaha fa’wuu ilal kahfi yansyur lakum rabbukum min rahmatihi wayuhai-yi-a lakum min amrikum mirfaqan;

Dan apabila kamu meninggalkan mereka dan apa yang mereka sembah selain Allah, maka carilah tempat berlindung ke dalam gua itu, niscaya Tuhanmu akan melimpahkan sebagian rahmat-Nya kepadamu dan menyediakan sesuatu yang berguna bagimu dalam urusan kamu.
―QS. 18:16
Topik ▪ Kisah-kisah ▪ Kisah Ashabul Kahfi ▪ Keingkaran dan kedurhakaan orang kafir
18:16, 18 16, 18-16, Al Kahfi 16, AlKahfi 16, Al-Kahf 16
Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. Al Kahfi (18) : 16. Oleh Kementrian Agama RI

Dalam ayat ini, Allah subhanahu wa ta'ala melanjutkan tentang percakapan mereka sama lain, berkata sebagian dari mereka ke yang lainnya: Bilamana kamu menjauhkan diri dari kaum dan kampung halamanmu lahir dan batin, serta menolak untuk mengikuti adat-istiadat mereka dan menyembah selain Allah, karena tindakan seperti demikian akan menimbulkan kemarahan mereka terhadap kamu, maka seharusnyalah kamu mencari tempat perlindungan ke dalam suatu gua.

Di tempat tersebut kamu dapat melakukan ibadah dengan tekun dan khusyuknya, terhindar dari gangguan kaummu dan bilamana kamu sudah menghambakan diri sepenuhnya kepada Allah, serta memohon pemeliharaannya, maka tentulah Dia akan mencurahkan rahmat Nya kepadamu.
Kamu tidak akan mati kelaparan atau kehausan dalam gua itu.
Allah subhanahu wa ta'ala akan memberikan jalan keluar kepadamu dalam urusan, baik dalam mengatasi kesukaran makan dan minum ataupun lainnya dan Allah akan melapangkan jalan beribadah dengan sempurna kepada Nya sehingga mencapai suatu kelezatan ibadah yang melebihi kelezatan lainnya".
Demikian mereka bercakap-cakap sesama mereka dan apa yang mereka ucapkan itu lahir dari keyakinan dan harapan mereka akan anugerah Allah dan berkat kepasrahan dan keimanan mereka yang sempurna kepada Nya.
Allah subhanahu wa ta'ala telah menggerakkan hati anak-anak remaja itu untuk menjadi orang-orang yang saleh, penghuni gua, yang kisah mereka akhirnya selalu dikenang dalam sejarah umat beragama.
Demikian pemuda-pemuda, selamanya hati mereka lebih suci dan lebih cinta kepada kebenaran, yaitu sifat yang amat baik diperlukan bagi seseorang pemimpin.

Berkata Ibnu 'Abbas:

"Tidaklah Allah mengutus seorang Nabi kecuali dia seorang pemuda, dan tiada diberikan ilmu kepada seorang alim, kecuali dia pemuda".

Kemudian beliau membaca potongan ayat-ayat tersebut sebagai berikut:

Mereka berkata: "Kami dengar ada seorang pemuda yang mencela berhala berhala ini, yang bernama Ibrahim".
(Q.S.
Al Anbiya: 60)

Dan Firman Allah subhanahu wa ta'ala:

"Dan (ingatlah) ketika Musa berkata kepada muridnya (pemuda)".
(Q.S.
Al Kahfi: 60)

Dan firman Allah subhanahu wa ta'ala:

Sesungguhnya mereka itu adalah pemuda-pemuda yang beriman kepada Tuhan mereka.
(Q.S.
Al Kahfi: 13)

Dapatlah dibenarkan anak-anak remaja pergi untuk hidup menyendiri seperti hidup di dalam gua, meninggalkan medan.
Bila ada pendapat yang mengatakan bahwa hidup uzlah (menyepi) berdasar ayat ini adalah disyariatkan dan dipandang sunat secara mutlak tanpa syarat maka pendapat itu adalah keliru.
Ayat ini menunjukkan ketabahan hidup menyepi di dalam gua dari ashabul Kahfi, bilamana seseorang diperkosa agamanya dan dituntut agar dia musyrik.
Al Gazali dalam kitabnya Al Ihya, menolak menggunakan ayat ini untuk dijadikan dalil bagi keutamaan hidup uzlah.
Berkata beliau "Ashabul Kahfi tidak menyepikan diri dari mereka sendiri, yakni satu sama lain.
Mereka seluruhnya adalah orang-orang yang beriman.
Mereka m menyepikan diri dari orang-orang kafir".
Jadi wajarlah kalau mereka beruzlah agar terpelihara dari keonaran orang-orang kafir dan raja yang hendak membunuh mereka.
Hidup menyepi dalam arti bersembunyi dari kejahatan dan kebatilan yang tidak dapat diperbaiki atau memperbaikinya adalah berbahaya maka uzlah semacam ini dibenarkan.
As-Suyuti dalam kitabnya Al-Iklil berpendapat bahwa dari ayat ini dapat dipahami, disyariatkan uzlah dan lari dari kelaliman dan tinggal dalam gua sewaktu rusaknya zaman.
Pendapat beliau ini perlu penjelasan.
Karena masih kabur.
Zaman manakah yang bersih dari kerusakan?
Sebenarnya yang terpaham dalam ayat ini ialah lari dari pemerkosaan terhadap hak hidup beragama.

Hidup uzlah karena frustasi dan keputusasaan dalam menghadapi kenyataan hidup tidaklah dibenarkan oleh agama.
Untuk memahami ayat ini, haruslah diperhatikan suasana di kala terjadinya peristiwa uzlahnya pemuda itu.
Mereka menyepi dengan melarikan diri ke dalam gua adalah karena mereka akan dibunuh oleh raja yang sewenang-wenang itu, dan suasana tidak mengizinkan atau memberi kesempatan untuk berjuang melawan kesewenang-wenangan raja itu, dan melahirkan keimanan mereka.

Di masa permulaan Islam Nabi menyuruh sahabat-sahabatnya berhijrah ke negeri Habasyah dan kemudian ke Madinah dan kemudian beliau sendiri hijrah ke Madinah ialah karena keganasan kaum musyrikin Quraisy, sedang kaum Muslimin tidak dapat berbuat apa-apa terhadap keganasan itu, karena mereka masih dalam keadaan lemah.
Terhadap Nabi khususnya mereka sudah bersiap hendak membunuhnya.
Rumah Nabi telah mereka kepung di malam hari, karena mereka hendak melaksanakan pembunuhan itu.

Karena kaum musyrikin itu telah mengadakan komplotan untuk membunuh Nabi, maka Tuhan memerintahkan agar Nabi berhijrah.
Atas dasar perintah itulah Nabi berhijrah, jadi bukan karena lari dari medan, menyendiri atau uzlah dan sebagainya.
Tetapi hidup uzlah dalam arti mengasingkan diri dari kemewahan hidup dan perbudakan harta dan hawa nafsu, lalu hidup sederhana di tengah-tengah masyarakat, sebagaimana yang diperlihatkan sahabat Nabi Abu Zar Al Gifari tidaklah tercela, bahkan dibenarkan oleh agama Islam.
Barkata Ibnu Kasir: "Abu Zar berpendapat bahwa tidaklah patut seseorang muslim memiliki harta melebihi dari persediaan makanannya sehari semalam, atau dari sesuatu yang dipergunakannya untuk berperang, atau dari suatu yang disediakannya untuk tamu.
Beliau berpegang kepada zahir ayat."

Firman Allah subhanahu wa ta'ala:

Dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak dan tidak menafkahkannya pada jalan Allah, maka beritahukanlah kepada mereka bahwa mereka akan mendapat siksa yang pedih.
(Q.S.
At Taubah: 34)

Beliau hidup dalam kesederhanaan karena tidak mau terlibat dalam kehidupan mewah yang mulai nampak pada zaman khalifah Usman ra.
Demikian contoh kehidupan uzlah yang terdapat di kalangan sahabat Rasulullah ﷺ

Al Kahfi (18) ayat 16 - dibacakan oleh Shaykh Mishari Alafasy Al Kahfi (18) ayat 16 - dibacakan oleh Syaikh Sa'ad Al-Ghamidi Al Kahfi (18) ayat 16 - dibacakan oleh Syaikh Muhammad Ayyub

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Selama kita memilih jalan mengasingkan diri dari kaum yang mengingkari dan menyekutukan Allah, kata sebagian mereka kepada yang lainnya, "maka berlindunglah di dalam sebuah gua demi keselamatan agama kalian.
Tuhan kalian pasti akan menurunkan karunia pengampunan dan memberikan kemudahan dengan menyediakan apa saja yang bermanfaat[1] bagi kalian untuk mempertahankan hidup.

[1] Sampai saat ini belum didapatkan suatu informasi akurat siapa sebenarnya penghuni gua itu, kapan dan di mana gua tersebut berada.
Namun demikian, akan dicoba paparkan di sini sedikit keterangan menyangkut kisah yang dituturkan ayat-ayat di atas.
Berangkat dari isyarat Al Quran yang menyatakan bahwa mereka adalah sekelompok pemuda yang beriman kepada Allah, dapat ditarik kesimpulan bahwa mereka tengah mengalami penindasan agama yang menyebabkan mereka mengasingkan diri ke dalam sebuah gua yang tersembunyi.
Sementara itu, sejarah kuno mencatat adanya beberapa masa penindasan agama di kawasan Timur Kuno yang terjadi dalam kurun waktu yang berbeda.
Dari beberapa peristiwa penindasan agama itu hanya ada dua masa yang kita anggap penting, yang salah satunya barangkali mempunyai kaitan dengan kisah penghuni gua ini.
Peristiwa pertama terjadi pada masa kekuasaan raja-raja Saluqi, saat kerajaan itu diperintah oleh Raja Antiogos IV yang bergelar Nabivanes (tahun 176-84 S.
M).
Pada saat penaklukan singgasana Suriah, Antiogos--yang juga dikenal sangat fanatik terhadap kebudayaan dan peradaban Yunani Kuno--mewajibkan kepada seluruh penganut Yahudi di Palestina, yang telah masuk dalam wilayah kekuasaan Suriah sejak 198 S.
M., untuk meninggalkan agama Yahudi dan menganut agama Yunani Kuno.
Antiogos mengotori tempat peribadatan Yahudi dengan meletakkan patung Zeus, Tuhan Yunani terbesar, di atas sebuah altar dan pada waktu-waktu tertentu mempersembahkan korban berupa babi bagi Zeus.
Terakhir, Antiogos membakar habis naskah Tawrat tanpa ada yang tersisa.
Berdasarkan bukti historis ini, dapat disimpulkan bahwa pemuda-pemuda itu adalah penganut agama Yahudi yang bertempat tinggal di Palestina, atau tepatnya di kota Yarussalem.
Dapat diperkirakan pula, bahwa peristiwa bangunnya mereka dari tidur panjang itu terjadi pada tahun 126 M.
setelah Romawi menguasai wilayah Timur, atau 445 tahun sebelum masa kelahiran Rasulullah ﷺ.
tahun 571 M.
Peristiwa penindasan agama yang sama terjadi pada zaman imperium Romawi, saat Kaisar Hadrianus berkuasa (tahun 117-138 M).
Kaisar Hadrianus memperlakukan orang-orang Yahudi sama persis seperti yang pernah dilakukan oleh Antiogos.
Pada tahun 132 M., pembesar-pembesar Yahudi mengeluarkan ultimatum bahwa seluruh rakyat Yahudi akan berontak melawan kekaisaran Romawi.
Mereka memukul mundur garnisun-garnisun Romawi di perbatasan dan berhasil merebut Yerussalem.
Peristiwa bersejarah ini diabadikan oleh orang-orang Yahudi dalam mata uang resmi mereka.
Selama tiga tahun penuh mereka dapat bertahan.
Terakhir, Hadrianus bergerak bersama pasukannya menumpas pemberontak-pemberontak Yahudi.
Palestina jatuh dan Yerussalem dapat direbut kembali.
Etnis Yahudi pun dibasmi dan pemimpin-pemimpin mereka dibunuh.
Orang-orang Yahudi yang masih hidup dijual di pasar-pasar sebagai budak.
Simbol- simbol agama Yahudi dihancurkan, ajaran dan hukum-hukum Yahudi dihapus.
Dari penuturan sejarah ini didapat kesimpulan yang sama bahwa para pemuda itu adalah penganut ajaran Yahudi.
Tempat tinggal mereka bisa jadi berada di kawasan Timur Kuno atau di Yerussalem sendiri.
Masih mengikuti alur sejarah ini, mereka diperkirakan bangun dari tidur panjang itu kurang lebih pada tahun 435 M., 30 tahun menjelang kelahiran Rasulullah ﷺ.
Tampaknya peristiwa pertama lebih mempunyai kaitan dengan kisah Ashhab al-Kahf karena penindasan mereka lebih sadis.
Adapun penindasan umat Kristiani tidak sesuai dengan kelahiran Nabi Muhammad ﷺ.

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(Dan apabila kamu meninggalkan mereka beserta apa yang mereka sembah selain Allah, maka carilah tempat berlindung ke dalam gua itu, niscaya Rabb kalian akan melimpahkan sebagian rahmat-Nya kepada kalian dan menyediakan sesuatu yang berguna bagi kalian dalam urusan kalian) Lafal mirfaqan dapat dibaca marfiqan artinya apa-apa yang menjadi keperluan kalian berupa makan siang dan makan malam.

Tafsir al-Muyassar
Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:

Ketika kalian berpisah dari kaum kalian dengan membawa agama kalian, dan meninggalkan sembahan-sembahan yang mereka sembah selain beribadah kepada Allah, maka berlindunglah ke dalam gua di sebuah bukit untuk beribadah kepada Rabb kalian semata, niscaya Rabb kalian akan meluaskan untuk kalian sebagian dari rahmat-Nya yang dapat menutupi kalian di dua negeri (dunia dan akhirat), dan memudahkan sebagian urusan kalian yang bermanfaat bagi kalian dalam kehidupan kalian, yaitu factor-faktor kehidupan.

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Setelah tekad mereka bulat untuk lari meninggalkan kaumnya, maka Allah subhanahu wa ta'ala memudahkan mereka melakukan demikian, seperti yang diki­sahkan dalam firman-Nya:

Dan apabila kalian meninggalkan mereka dan apa yang mereka sembah selain Allah.

Yakni bila kalian menentang mereka dan memisahkan diri dari mereka dalam hal beragama, maka pisahkanlah diri kalian dari rrereka.

...maka carilah tempat berlindung ke dalam gua itu.
niscaya Tuhan kalian akan melimpahkan sebagian rahmat-Nya.

Artinya, Tuhan kalian pasti akan melimpahkan rahmat-Nya kepada kalian dan menyembunyikan kalian dari kaum kalian.

...dan menyediakan bagi kalian dalam urusan kalian.

yang sedang kalian kerjakan.

...sesuatu yang berguna.

Yakni hal yang berguna dan bermanfaat bagi tujuan kalian.
Maka pada saat itulah mereka melarikan diri dari kaumnya dan berlindung di dalam sebuah gua.
Ketika kaum mereka merasa kehilangan mereka, raja mereka mencari-cari mereka.
Menurut suatu riwayat, si raja tidak berhasil mene­mukan mereka karena Allah menjadikan mata raja itu tidak dapat melihat mereka, seperti yang Dia lakukan kepada Nabi Muhammad ﷺ dan sahabat Abu Bakar As-Siddiq, saat keduanya bersembunyi di dalam gua Sur.
Orang-orang musyrik Quraisy datang mencari mereka berdua, tetapi mereka tidak dapat menemukan keduanya, padahal mereka mele­wati jalan yang dilalui keduanya.
Saat-itu Nabi ﷺ melihat ketakutan yang mencekam diri sahabat Abu Bakar melalui kata-katanya yang ber­ucap, "Wahai Rasulullah, seandainya seseorang dari mereka melihat ke arah tempat telapak kakinya, tentulah dia dapat melihat kita." Tetapi Rasulullah ﷺ bersabda:

Hai Abu Bakar, apakah yang mengkhawatirkanmu terhadap dua orang, sedangkan yang ketiganya adalah Allah?

Peristiwa itu disebutkan oleh Allah subhanahu wa ta'ala melalui firman-Nya:

Jikalau kalian tidak menolongnya (Muhammad), maka sesung­guhnya Allah telah menolongnya (yaitu) ketika orang-orang kafir (musyrikin Mekah) mengusirnya (dari Mekah), sedangkan dia salah seorang dari dua orang ketika keduanya berada da­lam gua, di waktu dia berkala kepada temannya, "Janganlah kamu berdukacita, sesungguhnya Allah beserta kita.” Maka Allah menurunkan ketenangan-Nya kepada (Muhammad) dan membantunya dengan tentara yang kalian tidak melihatnya, dan Allah menjadikan seruan orang-orang kafir itulah yang rendah.
Dan kalimat Allah itulah yang tinggi, Allah Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.
(At Taubah:40)

Kisah gua tempat Nabi ﷺ bersembunyi lebih mulia, lebih terhormat, lebih besar, dan lebih mengagumkan daripada kisah para pemuda penghuni gua itu.

Menurut suatu pendapat, kaum para pemuda itu dapat menemukan mereka, lalu mereka berdiri di depan pintu gua tempat para pemuda ber­sembunyi.
Kaum mereka berkata, "Kami tidak menginginkan menghu­kum mereka dengan hukuman yang lebih berat daripada apa yang mereka perbuat terhadap diri mereka sendiri." Kemudian raja mereka memerin­tahkan agar gua itu ditimbun dan ditutup pintunya agar mereka binasa di dalamnya.
Maka kaum para pemuda itu melaksanakan perintah rajanya.
Akan tetapi, pendapat ini perlu dipertimbangkan kebenarannya.
Hanya Allah-lah yang lebih mengetahui kebenarannya, karena sesungguhnya Allah telah menceritakan bahwa matahari dapat menyinari mereka mela­lui pintu gua di setiap pagi dan petang, seperti yang disebutkan di dalam ayat berikut.

Informasi Surah Al Kahfi (الكهف)
Surat ini terdiri atas 110 ayat, termasuk golongan surat-surat Makkiyyah.

Dinamai "Al Kahfi" artinya "Gua " dan "Ashhabul Kahfi" yang artinya:
"Penghuni-penghuni gua".
Kedua nama ini diambil dari cerita yang terdapat dalam surat ini pada ayat 9 sampai dengan 26, tentang bebe­rapa orang pemuda yang tidur dalam gua bertahun-tahun lamanya.

Selain cerita tersebut, ter­dapat pula beberapa buah cerita dalam surat ini, yang kesemuanya mengandung i'tibar dan pe­lajaran yang amat berguna bagi kehidupan manusia.
Banyak hadist-hadist Rasulullah ﷺ yang menyatakan keutamaan membaca surat ini.

Keimanan:

Kekuasaan Allah subhanahu wa ta'ala untuk memberi daya hidup pada manusia diluar hukum kebiasaan
dasar-dasar Tauhid serta keadilan Allah subhanahu wa ta'ala tidak berobah untuk se­lama-lamanya
kalimat-kalimat Allah (imu-Nya) amat luas sekali, meliputi segala sesuatu, sehingga manusia tidak mampu buat menulisnya
kepastian datangnya hari berbangkit
Al Qur'an adalah kitab suci yang isinya bersih dari kekacauan dan kepalsuan

Hukum:

Dasar hukum wakalah (berwakil)
larangan membangun tempat ibadah di atas kubur
hukum membaca "Insya Allah"
perbuatan salah yang dilakukan karena lupa adalah dima'afkan
kebolehan merusak suatu barang untuk menghindarkan bahaya yang lebih besar.

Kisah:

Cerita Ashabul kahfi
cerita dua orang laki-laki yang seorang kafir dan yang lain­nya mu'min
cerita Nabi Musa a.s. dengan Khidhr a.s.
cerita Dzulqarnain dengan Ya'juj dan Ma'juj.

Lain-lain:

Beberapa pelajaran yang dapat diambil dari cerita-cerita dalam surat ini antara lain tentang kekuatan iman kepada Allah subhanahu wa ta'ala serta ibadah yang ikhlas kepada­ Nya
kesungguhan seseorang dalam mencari guru (ilmu)
adab sopan-santun antara murid dengan guru
dan beberapa contoh tentang cara memimpin dan memerin­tah rakyat, serta perjuangan untuk mencapai kebahagiaan rakyat dan negara.


Gambar Kutipan Surah Al Kahfi Ayat 16 *beta

Surah Al Kahfi Ayat 16



Statistik
  • Rating RisalahMuslim

Surah Al Kahfi

Surah Al-Kahf (bahasa Arab:الكهف, al-Kahf, "Gua") disebut juga Ashabul Kahf adalah surah ke-18 dalam Al-Qur'an.
Surah ini terdiri atas 110 ayat, termasuk golongan surah-surah Makkiyah.
Dinamai Al-Kahf dan Ashabul Kahf yang artinya Penghuni-Penghuni Gua.
Kedua nama ini diambil dari cerita yang terdapat dalam surah ini pada ayat 9 sampai dengan 26, tentang beberapa orang pemuda (The Seven Sleepers) yang tidur dalam gua bertahun-tahun lamanya.
Selain cerita tersebut, terdapat pula beberapa cerita dalam surat ini, yang kesemuanya mengandung pelajaran-pelajaran yang berguna untuk kehidupan manusia.
Terdapat beberapa hadits Rasulullah ﷺ yang menyatakan keutamaan membaca surah ini.

Dalam surat ini terdapat titik tengah Al-Qur'an yang membelah isi Al-Qur'an menjadi dua bagian.

Nomor Surah18
Nama SurahAl Kahfi
Arabالكهف
ArtiPenghuni-penghuni Gua
Nama lainAl-Hāila, Ashabul Khaf
(Penghuni-Penghuni Gua)
Tempat TurunMekkah
Urutan Wahyu69
JuzJuz 15 (1-74) sampai juz 16 (ayat 75-110)
Jumlah ruku'0
Jumlah ayat110
Jumlah kata1589
Jumlah huruf6550
Surah sebelumnyaSurah Al-Isra'
Surah selanjutnyaSurah Maryam
4.5
Rating Pembaca: 4.5 (21 votes)
Sending