QS. Al Kahfi (Penghuni-penghuni Gua) – surah 18 ayat 15 [QS. 18:15]

ہٰۤؤُلَآءِ قَوۡمُنَا اتَّخَذُوۡا مِنۡ دُوۡنِہٖۤ اٰلِہَۃً ؕ لَوۡ لَا یَاۡتُوۡنَ عَلَیۡہِمۡ بِسُلۡطٰنٍۭ بَیِّنٍ ؕ فَمَنۡ اَظۡلَمُ مِمَّنِ افۡتَرٰی عَلَی اللّٰہِ کَذِبًا
Ha’ulaa-i qaumunaa-attakhadzuu min duunihi aalihatan laulaa ya’tuuna ‘alaihim bisulthaanin bai-yinin faman azhlamu mimmaniiftara ‘alallahi kadziban;

Kaum kami ini telah menjadikan selain Dia sebagai tuhan-tuhan (untuk disembah).
Mengapa mereka tidak mengemukakan alasan yang terang (tentang kepercayaan mereka)?
Siapakah yang lebih zalim daripada orang-orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah?
―QS. 18:15
Topik ▪ Kisah-kisah ▪ Kisah Ashabul Kahfi ▪ Hari kiamat datang tiba-tiba
18:15, 18 15, 18-15, Al Kahfi 15, AlKahfi 15, Al-Kahf 15

Tafsir surah Al Kahfi (18) ayat 15

Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. Al Kahfi (18) : 15. Oleh Kementrian Agama RI

Kemudian dalam ayat ini, Allah subhanahu wa ta’ala menceritakan percakapan pemuda-pemuda itu antara mereka sendiri.
Mereka mengatakan bahwa kaum mereka yang di bawah kekuasaan Decyanus itu meskipun mereka lebih tua, banyak pengalaman, namun mereka menyekutukan Tuhan juga tanpa mempergunakan akal pikiran mereka.
Mengapa mereka tidak mengemukakan atasan yang benar, atau bukti yang kuat dan jelas untuk memperkuat kebenaran apa yang mereka katakan dan percayai itu.
Pemuda-pemuda itu menyatakan bahwa kaum mereka itu sebenarnya berbuat sebagaimana anak-anak remaja itu, mereka telah menunjukkan bukti-bukti kebenaran agama yang mereka anut.

Selanjutnya anak-anak muda itu menyatakan bahwa tidak ada suatu kelaliman yang lebih besar kecuali kelaliman orang yang berbuat dusta terhadap Allah seperti: orang yang mengatakan Tuhan itu mempunyai sekutu.
Kaum mereka itu telah mempersamakan martabat berhala-berhala dengan martabat Tuhan yang tinggi, tetapi mereka tidak dapat memberikan atasan yang benar, pada hal suatu agama seharusnya berdasarkan kepercayaan atau hujah atau atasan yang benar.
Mereka mengada-adakan nama-nama untuk sebutan-sebutan untuk Tuhan itu, hanyalah menurut hawa nafsu mereka saja.

Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

Itu tidak lain hanyalah nama-nama yang kamu dan bapak-bapak kamu mengada-adakannya.
Allah tidak menurunkan suatu keteranganpun untuk (menyembah) nya.
Mereka tidak lain hanyalah mengikuti sangkaan sangkaan dan apa yang diingini oleh hawa nafsu mereka, dan sesungguhnya telah datang petunjuk mereka dari Tuhan mereka.

(Q.S. An-Najm [53]: 23)

Nama-nama yang diberikan kepada sekutu-sekutu Tuhan itu bermacam-macam seperti Al Lata, Al Manat, Al Uzza, yaitu nama-nama untuk berhala-berhala yang diberikan oleh orang-orang Arab jahiliah.
Atau nama lain seperti Tuhan putra, Sukma Sejati, dan lain-lain sebagainya, yang dikenal dalam kalangan bangsa-bangsa lain.

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Pemuda-pemuda yang beriman itu lalu saling bertutur, “Kaum kami itu telah mempertuhankan sesuatu selain Allah.
Mengapa mereka tidak mendatangkan bukti-bukti ketuhanan yang jelas bagi tuhan-tuhan yang mereka sembah selain Allah?
Sungguh, mereka benar-benar lalim dengan melakukan perbuatan itu.
Tidak ada yang lebih lalim daripada orang yang membuat kebohongan dengan menyandangkan sekutu bagi Allah.

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(Mereka) lafal ‘Haaulaa-i’ berkedudukan menjadi Mubtada (kaum kami ini) menjadi Athaf Bayan (telah menjadikan selain Dia sebagai tuhan-tuhan.

Mengapa tidak) (mereka mengemukakan atas perbuatan mereka itu) atas penyembahan yang mereka lakukan itu (alasan yang terang?) hujah yang jelas.

(Siapakah yang lebih zalim) maksudnya tidak ada seorang pun yang lebih zalim (daripada orang-orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah?) yaitu dengan menisbatkan sekutu kepada Allah subhanahu wa ta’ala Lalu sebagian di antara pemuda itu berkata kepada sebagian yang lain:

Tafsir al-Muyassar
Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:

Kemudian mereka berkata satu sama lain :
Mereka adalah kaum kami, mereka telah menjadikan selain Allah sebagai sembahan-sembahan.
Maka mengapa mereka tidak mengemukakan suatu alasan yang jelas tentang penyembahan mereka??
Sebab tidak ada seorang pun yang lebih zhalim daripada orang yang mengada-adakan dusta terhadap Allah dengan menisbatkan sekutu kepada-Nya dalam beribadah kepada-Nya.

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

Siapakah yang lebih zalim daripada orang-orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah?

Sebenarnya merekalah orang-orang yang aniaya lagi dusta dalam ucapan­nya yang demikian itu.

Alkisah, tatkala raja mereka diseru dan diajak oleh mereka untuk beriman kepada Allah, ia menolak dan bahkan mengancam serta mena­kut-nakuti mereka dengan mengeluarkan perintah agar pakaian tradisi kaum mereka dilucuti dari diri mereka.
Kemudian raja memberi mereka masa tangguh untuk memikirkan perihal mereka, barangkali saja mereka mau kembali kepada agama kaumnya.

Kesempatan ini merupakan belas kasihan dari Allah kepada mereka, yang kemudian mereka jadikan saat untuk melarikan diri dari raja mereka dengan membawa agama mereka agar selamat dari fitnah.

Memang sikap demikianlah yang diperintahkan oleh syariat di saat fitnah melanda manusia, yaitu hendaknya seseorang melarikan diri dari mereka demi menyelamatkan agamanya, seperti yang disebutkan di dalam sebuah hadis berikut ini:

Sudah dekat masanya akan terjadi harta yang paling baik bagi seseorang di antara kalian ialah ternak yang ia bawa menelu­suri lereng-lereng bukit dan tempat-tempat turunnya hujan, me­larikan diri dari fitnah demi menyelamatkan agamanya.

Dalam keadaan seperti itu disyariatkan mengisolasi diri dari manusia, la­in dari itu tidak, karena dengan begitu berarti memisahkan diri dari jamaah dan persatuan.


Kata Pilihan Dalam Surah Al Kahfi (18) Ayat 15

AALIHAH
ءَالِهَة

Lafaz ini adalah dalam bentuk jamak, mufradnya adalah al-ilah. Asalnya seperti wazan (bentuk kata) fi’al dan menjadi ism maf’ul atau bermakna ma’luh artinya yang dipertuhankan atau disembah.

Al ilah mengandung makna Allah dan setiap sesuatu yang dijadikan sembahan selainnya, maka ia adalah ilah (tuhan) bagi penyembahnya. Al aalihah juga bermakna al ashnaam (berhala-berhala) karena menurut keyakinan mereka ia patut disembah.

Lafaz aalihah disebut 34 kali di dalam Al Qur’an yaitu pada surah:
-Al An’aam (6), ayat 19, 74;
-Al A’raaf (7), ayat 127; 138,
-Hud (11), ayat 53, 54, 101;
-Al Israa (17), ayat 42;
-Al Kahfi (18), ayat 15;
-Maryam (19), ayat 46, 81;
-Al Anbiyaa (21), ayat 21, 22, 23, 24, 36, 59, 62, 68, 99;
-Al Furqaan (25), ayat 3, 42;
-Yaa Siin (36), ayat 23, 74;
-Ash Shaffat (37), ayat 36, 86, 91;
-Shad (38), ayat 5, 6;
-Az Zukhruf (43), ayat 45, 58;
-Al Ahqasf (46), ayat 22, 28;
-Nuh (71), ayat 23.

Dalam Tafsir Al Khazin, dalam surah Al An’aam dijelaskan makna aalihah ialah al ashnaam (berhala-berhala) yang mereka sembah. Dan dalam surah Al Anbiyaa ayat 21, beliau memberi makna tuhan-tuhan atau berhala-berhala yang dibuat dari batu dan anak sapi serta selain dari keduanya yang dibuat dari tembaga yang diambil dari bumi.

Begitu juga yang diriwayatkan dari Ibn Abbas bermakna ash ashnaam (berhala­ berhala atau tuhan-tuhan) yang mereka (orang musyrik) mengatakan ia anak-anak perempuan Allah. Sedangkan dalam surah Al Anbiyaa, ayat 22, beliau memberi makna tuhan-tuhan atau sembahan-sembahan yang ada di bumi dan di langit.

An Nasafi menafsirkan, aalihah yang terdapat dalam surah Al Anbiyaa, ayat 22, menghidupkan yang mati dan dari bumi adalah sifat bagi alihah karena alihah dijadikan dari perut bumi seperti emas, perak dan tembaga atau batu serta disembah di bumi.

Kesimpulannya, kata aalihah di dalam Al Qur’an ditujukan kepada berhala-berhala yang disembah.

Sumber : Kamus Al Qur’an, PTS Islamika SDN. BHD.Hal:44-45

Informasi Surah Al Kahfi (الكهف)
Surat ini terdiri atas 110 ayat, termasuk golongan surat-surat Makkiyyah.

Dinamai “Al Kahfi” artinya “Gua ” dan “Ashhabul Kahfi” yang artinya:
“Penghuni-penghuni gua”.
Kedua nama ini diambil dari cerita yang terdapat dalam surat ini pada ayat 9 sampai dengan 26, tentang bebe­rapa orang pemuda yang tidur dalam gua bertahun-tahun lamanya.

Selain cerita tersebut, ter­dapat pula beberapa buah cerita dalam surat ini, yang kesemuanya mengandung i’tibar dan pe­lajaran yang amat berguna bagi kehidupan manusia.
Banyak hadist-hadist Rasulullah ﷺ yang menyatakan keutamaan membaca surat ini.

Keimanan:

Kekuasaan Allah subhanahu wa ta’ala untuk memberi daya hidup pada manusia diluar hukum kebiasaan
dasar-dasar Tauhid serta keadilan Allah subhanahu wa ta’ala tidak berobah untuk se­lama-lamanya
kalimat-kalimat Allah (imu-Nya) amat luas sekali, meliputi segala sesuatu, sehingga manusia tidak mampu buat menulisnya
kepastian datangnya hari berbangkit
Al Qur’an adalah kitab suci yang isinya bersih dari kekacauan dan kepalsuan

Hukum:

Dasar hukum wakalah (berwakil)
larangan membangun tempat ibadah di atas kubur
hukum membaca “Insya Allah”
perbuatan salah yang dilakukan karena lupa adalah dima’afkan
kebolehan merusak suatu barang untuk menghindarkan bahaya yang lebih besar.

Kisah:

Cerita Ashabul kahfi
cerita dua orang laki-laki yang seorang kafir dan yang lain­nya mu’min
cerita Nabi Musa a.s. dengan Khidhr a.s.
cerita Dzulqarnain dengan Ya’juj dan Ma’juj.

Lain-lain:

Beberapa pelajaran yang dapat diambil dari cerita-cerita dalam surat ini antara lain tentang kekuatan iman kepada Allah subhanahu wa ta’ala serta ibadah yang ikhlas kepada­ Nya
kesungguhan seseorang dalam mencari guru (ilmu)
adab sopan-santun antara murid dengan guru
dan beberapa contoh tentang cara memimpin dan memerin­tah rakyat, serta perjuangan untuk mencapai kebahagiaan rakyat dan negara.

Audio

Qari Internasional

Q.S. Al-Kahfi (18) ayat 15 - Oleh Syekh Mishari Alafasy
Q.S. Al-Kahfi (18) ayat 15 - Oleh Syekh Sa'ad Al-Ghamidi
Q.S. Al-Kahfi (18) ayat 15 - Oleh Syekh Muhammad Ayyub

Murottal al-Qur'an & Terjemahan Indonesia
Q.S. Al-Kahfi - Oleh Syekh Misyari Rasyid Alafasy
Full ayat 1 sampai 110 & Terjemahan


Gambar



Statistik Q.S. 18:15
  • Rating RisalahMuslim

Ayat ini terdapat dalam surah Al Kahfi.

Surah Al-Kahf (bahasa Arab:الكهف, al-Kahf, "Gua") disebut juga Ashabul Kahf adalah surah ke-18 dalam Al-Qur'an.
Surah ini terdiri atas 110 ayat, termasuk golongan surah-surah Makkiyah.
Dinamai Al-Kahf dan Ashabul Kahf yang artinya Penghuni-Penghuni Gua.
Kedua nama ini diambil dari cerita yang terdapat dalam surah ini pada ayat 9 sampai dengan 26, tentang beberapa orang pemuda (The Seven Sleepers) yang tidur dalam gua bertahun-tahun lamanya.
Selain cerita tersebut, terdapat pula beberapa cerita dalam surat ini, yang kesemuanya mengandung pelajaran-pelajaran yang berguna untuk kehidupan manusia.
Terdapat beberapa hadits Rasulullah ﷺ yang menyatakan keutamaan membaca surah ini.

Dalam surat ini terdapat titik tengah Al-Qur'an yang membelah isi Al-Qur'an menjadi dua bagian.

Nomor Surah 18
Nama Surah Al Kahfi
Arab الكهف
Arti Penghuni-penghuni Gua
Nama lain Al-Hāila, Ashabul Khaf
(Penghuni-Penghuni Gua)
Tempat Turun Mekkah
Urutan Wahyu 69
Juz Juz 15 (1-74) sampai juz 16 (ayat 75-110)
Jumlah ruku' 0
Jumlah ayat 110
Jumlah kata 1589
Jumlah huruf 6550
Surah sebelumnya Surah Al-Isra'
Surah selanjutnya Surah Maryam
4.4
Ratingmu: 4.4 (20 orang)
Sending







Pembahasan ▪ al khaf 15 ▪ surah al kahfi jus

Iklan

Video

Panggil Video Lainnya


Podcast

Ikuti RisalahMuslim
               





Copied!

Masukan & saran kirim ke email:
[email protected]

Made with in Yogyakarta